F. Sistematika Pembahasan
2. Kesamaan Kesempatan Kerja
1) Pengertian Kesamaan Kesempatan Kerja
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas mengartikan kesamaan kesempatan sebagai suatu keadaan yang memberikan kesempatan dan/atau akses kepada Penyandang Disabilitas untuk menyalurkan potensi di segala aspek penyelenggaraan negara dan masyarakat.44 Sehingga kesamaan kesempatan kerja memiliki arti keadaan dimana penyandang disabilitas memperoleh kesempatan yang sama dalam aspek pekerjaan. Dengan diterapkannya kesamaan kesempatan ini
41 Kosasih, 11
42 Ahmad, 6.
43 Sabariah, 22.
44 Setneg RI, UU No. 8 Tahun 2016, pasal 1 ayat (2).
diharapkan penyandang disabilitas dapat terhindar dari segala bentuk tindak diskriminasi, serta dapat mencapai inklusivitas.
Kata “inclusion” berarti melibatkan atau mengajak, dan kata
“exclusion”, yang berarti mengecualikan atau memisahkan, adalah lawan kata dari inklusi. Dengan menerima dan melibatkan orang-orang dari berbagai kemampuan, status, keadaan, latar belakang, kebangsaan, budaya, dan kategori lainnya, inklusi digunakan untuk menciptakan, mengembangkan, dan menumbuhkan suasana yang ramah bagi semua orang.45 Menjadi inklusif memerlukan mengadopsi berbagai sudut pandang dalam artian kita menempatkan diri pada berbagai sudut pandang. Salah satu cara untuk menciptakan harmoni dalam hidup dan meningkatkan keindahannya adalah melalui inklusivitas.46 Jika kita telah mencapai inklusivitas, maka diskriminasi dalam berbagai aspek kehidupan akan terhindarkan.
Diskriminasi Penyandang Disabilitas di Dunia Kerja.
Diskriminasi adalah perilaku negatif yang tidak dapat dibenarkan yang ditujukan terhadap suatu kelompok atau anggotanya.47 Makna diskriminasi menurut Theodorson ialah perlakuan yang tidak setara terhadap orang, kelompok, atau individu berdasarkan sesuatu, biasanya kualitas kategoris atau pembeda, seperti ras, etnis, agama,
45 Septy Nurfadhillah, Mengenal Pendidikan Inklusi di Sekolah Dasar (Sukabumi: CV Jejak, 2021), 67.
46 Umi Salmah, Notulensi Workshop Nasional “Pembentukan Masyarakat Inklusi 4.0”, Jember, 29 Agustus 2022.
47 Yeni Widyastuti, Psikologi Sosial (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2014), 79.
atau keanggotaan kelas sosial.48 Dari penjabaran tersebut, diskriminasi mengacu pada perilaku mayoritas yang mendominasi terhadap minoritas yang lemah, dan kegiatan ini dianggap tidak bermoral dan tidak demokratis. Berdasarkan hal tersebut, dapat ditentukan bahwa diskriminasi terhadap penyandang disabilitas di dunia kerja merupakan tindakan diferensiasi negatif yang terkesan merendahkan hak penyandang disabilitas atas kesempatan yang sama di tempat kerja.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan mengatur bahwa pengusaha wajib melakukan perlindungan terhadap pekerja penyandang disabilitas berdasarkan jenis dan derajat disabilitasnya.49 Begitu pula terkait pelatihan kerja bagi tenaga kerja penyandang disabilitas harus dilaksanakan memperhatikan jenis, derajat disabilitas, serta kemampuan tenaga kerja yang bersangkutan.50 Selanjutnya, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 menjelaskan hak penyandang disabilitas di dunia kerja secara khusus pada Pasal 11, adapun bunyi dari pasal tersebut ialah sebagai berikut:
“Hak pekerjaan, kewirausahaan, dan koperasi untuk Penyandang Disabilitas meliputi hak:
a. memperoleh pekerjaan yang diselenggarakan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, atau swasta tanpa Diskriminasi;
48 Rudiansyah, Tipologi dan Makna Simbolis Rumah Tjong A Fie (Yogyakarta : Histokultura, 2016), 36.
49 Sekretariat Negara Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, pasal 67 ayat (1).
50 Setneg RI, UU No. 13 Tahun 2003, pasal 19.
b. memperoleh upah yang sama dengan tenaga kerja yang bukan Penyandang Disabilitas dalam jenis pekerjaan dan tanggung jawab yang sama;
c. memperoleh Akomodasi yang Layak dalam pekerjaan;
d. tidak diberhentikan karena alasan disabilitas;
e. mendapatkan program kembali bekerja;
f. penempatan kerja yang adil, proporsional, dan bermartabat;
g. memperoleh kesempatan dalam mengembangkan jenjang karier serta segala hak normatif yang melekat di dalamnya;
dan
h. memajukan usaha, memiliki pekerjaan sendiri, wiraswasta, pengembangan koperasi, dan memulai usaha sendiri.
Penjelasan huruf e: Yang dimaksud dengan “program kembali bekerja” adalah rangkaian tata laksana penanganan kasus kecelakaan kerja maupun penyakit akibat kerja melalui pelayanan kesehatan, rehabilitasi, dan pelatihan agar pekerja dapat kembali bekerja.”51
Bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab bersama kita sebagai masyarakat, untuk memastikan bahwa penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang sama di dunia kerja. Perlu juga upaya dari penyandang disabilitas itu sendiri, karena untuk mengubah kondisi hidup seseorang memerlukan upaya dari dalam, sebagaimana Allah SWT nyatakan dalam ayat berikut.
َو ِهْيَدَي ِنْيَب ْْۢنِ م ٌتٰبِ قَعُم ٗهَل َ هاللّٰ َّنِاۗ ِ هاللّٰ ِرْمَا ْنِم ٗهَن ْوُظَفْحَي ٖهِفْلَخ ْنِم
م ْوَقِب ُ هاللّٰ َدا َرَا ْٓاَذِا َو ْۗمِهِسُفْنَاِب اَم ا ْو ُرِ يَغُي ىهتَح م ْوَقِب اَم ُرِ يَغُي َلْ
لا َّو ْنِم ٖهِن ْوُد ْنِ م ْمُهَل اَم َوۚ ٗهَل َّد َرَم َلََف اًء ْۤوُس
-١١
Artinya: “Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya.
Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum
51 Setneg RI, UU No. 8 Tahun 2016, pasal 11.
mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”52 (Ar-Ra’d [13]: 11)
Keadaan suatu kaum tidak akan berubah kecuali mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri, menurut Surah Ar-Ra'd ayat 11; perubahan itu terjadi berdasarkan hubungan sebab akibat mengapa perubahan itu terjadi, sehingga dapat dikatakan bahwa perubahan pada suatu kondisi tertentu bukanlah sesuatu yang diterima begitu saja. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa suatu perubahan membutuhkan kerja, usaha, dan perjuangan.53
2) Tantangan Penyandang Disabilitas
Penyandang disabilitas secara umum memiliki tantangan yang mereka hadapi di luar keterbatasan fisik, mental, atau intelektual mereka.54 Berikut penjelasannya:
a) Masalah sudut pandang. Ada dua perspektif tentang penyandang disabilitas: mistik dan naif. Pandangan mistik berpendapat bahwa disabilitas adalah anugerah dari Tuhan, dan manusia hanya dapat menerimanya. Sedangkan pandangan naif berpendapat bahwa disabilitas disebabkan oleh infeksi, penyakit,
52 Kemenag RI, 250.
53 Waryono Abdul Ghafur et al., Interkoneksi Islam dan Kesejahteraan Sosial: Teori, Pendekatan, dan Studi Kasus (Yogyakarta: Samudra Biru, 2012), 137.
54 Lembaga Bahtsul Masail PBNU, Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), dan Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) Unibraw, Pengantar untuk Fiqih Penguatan Penyandang Disabilitas Ed. Sarmidi Husna (Jakarta : Lembaga Bahtsul Masail PBNU, 2018), v-x.
bawaan, kecelakaan, atau penuaan. Kedua sudut pandang ini memperlakukan penyandang disabilitas dengan dasar belas kasihan, yang dapat menimbulkan stigma negatif, di mana mereka dianggap tidak dapat menjalankan tugas-tugas kesehariannya layaknya orang pada umumnya.55 Sesungguhnya,
“belas kasihan” merupakan paradigma lama, di mana saat ini sifat pendekatan terhadap penyandang disabilitas ialah dengan dasar Hak Asasi Manusia.56
b) Sikap dan perlakuan terkait disabilitas. Disabilitas sering dipandang sebagai aib atau kemalangan, dan akibatnya, penyandang disabilitas umumnya dijauhi. Penyandang disabilitas diperlakukan secara berbeda, berdasarkan asumsi atau prasangka bahwa mereka tidak dapat melakukan aktivitas yang dapat dilakukan orang lain. Akibat prasangka tersebut, mereka mengalami berbagai bentuk diskriminasi.57
c) Pelayanan publik yang dapat diakses oleh penyandang disabilitas masih terbatas. Meskipun pemerintah telah menetapkan peraturan perundang-undangan untuk melindungi hak-hak penyandang disabilitas, namun pelayanan dan fasilitas publik yang ramah disabilitas masih sedikit. Layanan dasar, seperti pendidikan dan perawatan kesehatan, belum terpenuhi
55 Lembaga Bahtsul Masail PBNU, v-vii.
56 Akhmad Sholeh, Aksesibilitas Penyandang Disabilitas terhadap Perguruan Tinggi;
Studi Kasus di Empat Perguruan Tinggi Negeri di Yogyakarta (Yogyakarta: LkiS Pelangi Aksara, 2016), 23.
57 Lembaga Bahtsul Masail PBNU, vii-viii.
dengan optimal.58 Hal ini terjadi karena masyarakat dan penyelenggara pelayanan publik secara keseluruhan masih belum banyak yang mengetahui dan memahami peraturan perundang-undangan tersebut.59
d) Peluang pekerjaan bagi penyandang disabilitas terbatas. Banyak perusahaan pemerintah dan swasta menolak mempekerjakan penyandang disabilitas. Hal tersebut mengakibatkan mereka tidak mempunyai mata pencaharian, sehingga dengan mau atau tidak mereka menggantungkan hidupnya kepada orang lain dan menghalangi mereka untuk mengembangkan kehidupan mereka dan memenuhi kebutuhan mereka.60
e) Hambatan dalam menjalankan kegiatan keagamaan. Terbatasnya jumlah rumah ibadah yang ramah disabilitas membuat penyandang disabilitas sulit menjalankan hak beragamanya.61 3) Strategi Kebijakan Sosial
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 secara tegas menyatakan bahwa kesetaraan penyandang disabilitas di semua elemen penghidupan merupakan salah satu strategi kebijakan sosial. Strategi pemerintah untuk mencapai kesetaraan adalah sebagai berikut:62
58 Lembaga Bahtsul Masail PBNU, viii.
59 Haryanto dan Haris Iriyanto, Pelayanan Publik bagi Penyandang Disabilias (Malang:
Media Nusa Creative, 2021), 67.
60 Lembaga Bahtsul Masail PBNU, ix.
61 Lembaga Bahtsul Masail PBNU, ix-x.
62 Lembaga Bahtsul Masail PBNU, 31.
a) Mendukung peningkatan advokasi terhadap peraturan dan kebijakan layanan publik dan program yang inklusif di tingkat pusat maupun daerah.
b) Menjadikan sarana lingkungan seperti fasilitas dan pelayanan umum yang ramah disabilitas serta prasarana lingkungan berupa kelengkapan dasar fisik yang inklusif.
c) Mendukung penyandang disabilitas untuk mengembangkan potensi mereka sebagai upaya peningkatan ekonomi mereka melalui pelatihan kerja, peluang kerja, serta pendanaan usaha melalui bantuan sosial dan jaminan sosial.
d) Menyosialisasikan lingkungan yang ramah disabilitas kepada masyarakat, selain sosialisasi juga dilakukan edukasi agar masyarakat memiliki cara pandang dan sikap yang positif kepada penyandang disabilitas.
4) Permasalahan Pendayagunaan Tenaga Kerja Penyandang Disabilitas
Pekerja dengan disabilitas menghadapi sejumlah tantangan di tempat kerja, yaitu sebagai berikut:
a. Terdapatnya kesenjangan yang cukup besar antara kesempatan kerja dengan besarnya jumlah angkatan kerja
b. Sikap masyarakat banyak yang masih meremehkan kemampuan kerja penyandang disabilitas
c. Regulasi pemerintah, realitasnya belum seperti yang diharapkan.
d. Secara internal ditinjau dari kondisi fisik penyandang disabilitas, mereka memang memiliki hambatan mobilitas sehingga perlu upaya modifikasi dan adaptasi dalam proses kerjanya.63
Berikut bentuk perlindungan bagi tenaga kerja penyandang disabilitas untuk menjamin hak-haknya di bidang ketenagakerjaan:64
d. Menerapkan sistem kuota penyandang disabilitas di dunia kerja.
e. Mewajibkan pemberi kerja untuk menciptakan lingkungan kerja yang memiliki aksesibilitas dan inklusif.
f. Pemberi kerja dituntut untuk berlaku adil dan tidak diskriminatif.
g. Memberikan insentif kepada perusahaan swasta.
h. Membentuk Unit Layanan Disabilitas di Daerah. Unit Layanan Disabilitas (ULD) diharapkan menjadi pihak ketiga antara penyandang disabilitas dengan penyedia kerja. Berikut gambaran peran pihak ketiga tersebut:
63 Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan dan Perlindungan Sosial, 54.
64 Wiraputra, 34-45.
Gambar 2.2
Diagram peran pihak ketiga dalam menjembatani permintaan dan penawaran tenaga kerja dengan disabilitas, 202165
Berikut alasan mengapa pihak ketiga dikatakan penting dalam bidang ketenagakerjaan bagi penyandang disabilitas:66
a. Mayoritas penyandang disabilitas mencari kerja atau mendapatkan referensi kerja melalui teman atau keluarga yang sudah bekerja. Dengan adanya pihak ketiga tersebut dapat menjadi jembatan serta media informasi bagi penyandang disabilitas terkait ketenagakerjaan.
b. Pemahaman yang kurang dari perusahaan tentang rekrutmen tenaga kerja penyandang disabilitas. Pihak ketiga dapat
65 Tendy Gunawan dan Jahen F. Rezki, Pemetaan Pekerja dengan Disabilitas di Indonesia (Saran dan Rekomendasi Kebijakan) Jakarta: International Labour Organization, 2022), 16.
66 Gunawan, 15.
berperan sebagai pemberi pemahaman dan informasi terkait hal tersebut selama proses rekrutmen berlangsung.
c. Keterampilan yang tidak sesuai. Pihak ketiga dapat memberikan usulan kepada pihak yang mengadakan pelatihan kerja terhadap disabilitas terkait pelatihan atau keterampilan yang sedang dibutuhkan pangsa pasar.
d. Kesulitan perusahaan dalam mencari calon pekerja dengan disabilitas dapat dijembatani dengan berjejaring dengan organisasi penyandang disabilitas yang mempunyai jaringan pada komunitas dan mempunyai kapasitas untuk mendukung baik perusahaan maupun pencari kerja
e. Peran pemerintah dalam memberikan dukungan, pemahaman yang tepat, dan insentif melalui berbagai kebijakan dan program menjadi penting untuk mendukung usaha yang lebih besar dalam memberikan kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas.
5) Penyaluran Tenaga Kerja Penyandang Disabilitas
Terdapat tiga pola penyaluran tenaga kerja penyandang disabilitas yang kita kenal di Indonesia, yakni:67
a. Penyaluran secara terbuka (open employment), yaitu penyaluran kerja pada instansi pemerintah maupun swasta, serta perusahaan-perusahaan.
67 Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan dan Perlindungan Sosial, 54.
b. Penyaluran secara terlindung (sheltered employment), yaitu penyaluran pada fasilitas-fasilitas kerja seperti Kelompok Usaha Bersama (KUBE/KUB) yang dibentuk oleh pemerintah.
c. Kembali ke keluarga, jenis penyaluran yang dilakukan karena penyandang disabilitas sulit disalurkan melalui sistem open maupun sheltered employment. Biasanya penyandang disabilitas mental/tuna grahita gradasi sedang dan berat (embisil dan idiot) yang menggunakan jenis penyaluran ini.