• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kesejahteraan Sosial Masyarakat Tionghoa Benteng.

Keadaan Masyarakat Tionghoa Benteng Sebelum SBKR

III.2 Kesejahteraan Sosial Masyarakat Tionghoa Benteng.

Di Tangerang pada 3 Juni tahun 1946, terjadi kerusuhan anti Tionghoa. Banyak sumber yang mengatakan peristiwa tersebut, menggambarkan seolah Tangerang sudah merupakan bukan tempat yang aman lagi bagi masyarakat Tionghoa pada waktu itu. Ini disebabkan adanya dugaan pemberontakan masyarakat Tionghoa terhadap Pemerintah Republik Indonesia, juga mendukung sekutu dan Nederlandsch Indie Civil Administratie (NICA). 16

Diwaktoe pergolakan politiek di Indonesia sedang hebatnja sekarang, kita pendoedoek Tionghoa haroes berlakoe hati-hati Terdapat sebuah isu yang cukup mengejutkan pada masa itu, yaitu seorang keturunan Tionghoa yang merupakan anggota dari NICA, menurunkan bendera merah putih dan mengibarkan bendera Belanda di kantor Kabupaten. Menurut beberapa saksi pada saat itu, termasuk Kepala Staf Umum Tentara Belanda Buurman van Vreeden, mengatakan bahwa yang melakukan aksi tersebut adalah seorang Tentara Belanda pribumi yang mirip dengan orang Tionghoa. Hal ini menimbulkan kemarahan pemuda-pemuda di Tangerang dan pecah kerusuhan. Bahkan ada beberapa orang keturunan Tionghoa yang dibunuh, hanya karena dugaan merupakan mata-mata Belanda. Keadaan yang cukup mencekam ini, makin panas setelah terbitnya surat terbuka dari Chung Hwa Hui yang pro Belanda di harian-harian Jakarta. Isi dari surat terbuka tersebut adalah:

16 Shinta Agustin, “Kerusuhan Anti Cina Di Tangerang Tahun 1946” dalam Skripsi, Bandung: Universitas Padjadjaran, 2011, hal. 55.

dalam segala tindakan, pertboetan dan omongan, djangan sampe menimboelkan perasaan antipathie dari lain-lain fihak yang bisa berakibat membahajakan djiwa dan harta bendanja orang-orang Tionghoa di segala tempat. Kita orang djangan tjoema tahoe akan keselamatan kita jang berdiam di Djakarta, tapi kita haroes pikir djoega akan keselamatannja orang-orang Tionghoa jang tinggal ditempat-tempat ketjil sebelah dalam negeri!.

17

17 Ibid., hal. 61.

Sejak awal Maret 1946, penguasa Belanda telah merekrut orang-orang Tionghoa untuk dijadikan polisi militer dan tentara cadangan. Pada 3 Juni 1946, terjadi pembantaian terhadap orang-orang dari etnis Tionghoa di Tangerang. Pembantaian ini terjadi di sebelah barat sungai Cisadane, banyak masyarakat Tionghoa Benteng yang dibantai ditempat tersebut. Mayat-mayat mereka ditumpuk begitu saja, harta benda mereka dijarah. Daerah-daerah yang banyak mengalami pembantaian tersebut adalah Desa Panggang (Cilogok), Mauk, Serpong, Krawang, Rawa Cina, Bayur, Sepatan, Karawaci, Kampung Karet, dan Cihuni. Menurut laporan yang beredar, ada 28 kali pembakaran rumah-rumah orang Tionghoa termasuk penghuninya di daerah Tangerang. Menurut laporan yang diterima oleh Palang Merah Jang Seng Ie (Palang Merah bentukan etnis Tionghoa Indonesia), 653 masyarakat Tionghoa Benteng di daerah Tangerang telah dibunuh, laporan ini sudah termasuk 136 perempuan dan 36 anak-anak. Sebanyak 1.268 rumah etnis Tionghoa dibakar habis dan 236 lainnya dirusak. Diperkirakan 25.000 orang mengungsi. Pada tanggal 11 Juni 1946, banyak etnis Tionghoa mengumumkan sebagai hari Duka Cita. Dikemudian hari, muncul dugaan ini semua sudah direncanakan Belanda, untuk mengadu domba masyarakat etnis Tionghoa dengan masyarakat pribumi Indonesia. Tragedi ini

menyebabkan banyak masyarakat Tionghoa Benteng yang lari dan mengungsi ke Jakarta. 18

Keempat wilayah tersebut mempunyai alasan tersendiri, terhindar dari kerusuhan sosial. Panongan, Cengkong, dan Kosambi telah menyewa para jawara untuk membarikade diri dari serangan luar. Hal ini sudah lama berlangsung lama dari nenek moyang mereka. Sedangkan daerah Neglasari rasa aman didapatkan dari masyarakat pribumi yang berada di wilayah tersebut. Perbauran antara masyarakat pribumi dan masyarakat keturunan Tionghoa di wilayah ini cukup baik. Sehingga daerah Neglasari menjadi simbol kerukunan etnis Tionghoa dan pribumi dari masa pemerintahan kolonial Belanda.

Menurut Arie Novrie Purnama, seorang pengamat Tionghoa Benteng dan mantan camat di Panongan mengungkapkan masih banyak desa yang di huni masyarakat Tionghoa Benteng yang terlindung saat itu dari pengaruh buruk kerusuhan yang termasuk kerusuhan sosial itu. Walau pun sebagian besar masyarakat Tionghoa Benteng pasca kerusuhan mengalami kemerosotan dalam pemenuhan kesejahteraan sosialnya akibat trauma. Ada sekitar 4 kecamatan berisi sebagian besar masyarakat Tionghoa Benteng yang tidak mendapat pengaruh buruk sosial dalam kerusuhan yaitu Panongan, Cengkong, Kosambi, dan Neglasari. Masyarakat Tionghoa Benteng yang berasal dari Mauk atau pantai utara Tangerang, banyak yang melarikan diri ke 4 kecamatan tersebut.

Masyarakat Tionghoa Benteng pada masa pasca kerusuhan, banyak mendirikan rumah di tanah pengungsiannya. Rumah yang dibangun kebanyakan

bersifat 19

PAT merupakan sayap militer bentukan CHH , yang juga merupakan bentukan tuan tanah Tionghoa yang membentuk tentara sendiri. Baik PAT dan para tuan tanah tersebut mempunyai tujuan yang sama yaitu, membentuk negara

Knock Down. Mereka yang mengungsi masih merasa khawatir, dan

juga belum merasa aman membangun rumah di tanah pengungsian. Pembangunan rumah yang dilakukan knock down ini, dengan harapan bisa dipindahkan ke tanah asal mereka jika keadaan telah aman. Jika kondisi sudah dirasa aman bagi masyarakat Tionghoa Benteng yang mengungsi, maka mereka akan membongkar rumahnya dan memindahkannya ke daerah mereka tinggal. Semua sampai sekarang ini, rumah kebaya sistem knock down bisa disaksikan hampir di setiap kampung di Panongan, Cikupa, Rajeg, dan desa-desa yang berisi masyarakat Tionghoa Benteng yang lainnya. Setelah kerusuhan tersebut pada 28 Agustus 1947, Chung Hua Hwi (CHH) membentuk Pao An Tui (PAT) dibantu oleh Belanda.

20

19 Knock Down merupakan sistem pembangunan rumah bongkar pasang. Bisa di analogikan seperti lego yang bisa disusun berdasarkan bentuk sketsa rumah, dan juga bisa dibongkar sekaligus dipindahkan.

Capitanate of Tangerang yang didukung oleh pihak Belanda. Sumber ini pun sampai sekarang masih menjadi sebuah misteri. Informasi yang beredar lagi mengatakan bahwa Laskar Hitam, milisi Islam keturunan Arab yang berusaha melawan Belanda, mengobarkan perang suci terhadap Belanda dan pendukungnya. Jika PAT Tangerang bertujuan membentuk Capitanate of Tangerang, maka Laskar Hitam bertujuan membentuk negara Islam Indonesia. Laskar Hitam inilah yang akan menjadi cikal bakal dari DI/TII. Sekitar 600 orang

terbantai di Tangerang, sedangkan lainnya mengungsi ke gedung Sin Ming Hui di Jl. Gajah Mada, Tangerang. Selain di Tangerang, banyak juga terjadi pembantaian etnis Tionghoa karena pemberontakan PAT di seluruh Indonesia. Bagi kejadian pembantaian di Tangerang, salah satu tokoh Tionghoa sekaligus pendiri Partai Tionghoa Indonesia (PTI), Liem Koen Hian menolak untuk menyalahkan Republik.

Pada dasarnya PAT dibentuk untuk melindungi masyarakat etnis Tionghoa , pasca kerusuhan yang terjadi pada tahun 1946. Tapi bantuan Belanda pada sayap militer ini membuat PAT tidak mampu lagi bersifat netral, bahkan cenderung memihak Belanda. Selain itu PAT banyak juga beranggotakan orang-orang etnis Tionghoa yang sanak saudaranya terbantai dalam pembantaian etnis Tionghoa tahun 1946. Ini menyebabkan banyak dari anggota PAT yang dendam terhadap orang-orang pribumi Indonesia.

Masyarakat Tionghoa Benteng pada pasca kemerdekaan mempunyai tingkat kelayakan hidup yang sederhana pada masa itu. Terutama di daerah Tangerang, yang notabene merupakan daerah pinggiran Ibu Kota dan merupakan salah satu penopang perekonomian Ibu Kota. Pada masa itu, masyarakat Tionghoa Benteng masih leluasa dalam kegiatannya. Belum ada aturan yang membatasi mereka dalam pergerakan kesejahteraan sosialnya. Status Dwi kewarganegaraan yang disandang juga banyak menjamin kehidupan masyarakat Tionghoa di Indonesia atau di Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Hal ini mulai berdampak dan membangun sistem sosial yang mulai majemuk dalam kehidupan masyarakat Tangerang. Hak pendidikan yang didapat cukup mampu untuk masyarakat

Tionghoa Benteng menyekolahkan anak-anaknya walau pun hanya sekadar sekolah rakyat.

Tragedi percobaan pemberontakan yang dilakukan PKI pada tahun 1965, membawa perubahan yang cukup berarti bagi masyarakat Tionghoa, terutama masyarakat Tionghoa Benteng. Perjanjian Dwi Kewarganegaraan yang dilakukan oleh Indonesia dengan Tiongkok dibatalkan pada tahun 1969, karena pemberontakan komunis telah membuat hubungan bilateral Indonesia dengan Tiongkok menjadi dingin. Hal ini berdampak pada seluruh masyarakat Tionghoa di Indonesia tak terkecuali masyarakat Tionghoa Benteng. Masyarakat Tionghoa yang memegang surat Dwi Kewarganegaraan menjadi tidak mempunyai kewarganegaraan, sehingga berdampak pada tingkat sosial mereka dalam lingkungan masyarakat. Hal ini berdampak pada susahnya mendapatkan pendidikan dan beratnya masyarakat Tionghoa dalam hal mengurus administrasi pada bagian birokrasi. Selain itu diskriminasi rasial juga membuat masyarakat Tionghoa merasa terancam. Masyarakat Tionghoa Benteng juga tidak terkecuali mendapatkan hal yang sama.

Kegiatan ekonomi yang bisa dikatakan kurang dan susahnya dalam urusan administrasi di berbagai aspek pasca pemberontakan PKI, membuat masyarakat Tionghoa Benteng semakin terpuruk. Pada rentang waktu 1965 sampai 1966 terjadi banyak perburuan terhadap para anggota PKI dan simpatisannya, semua golongan dan elemen masyarakat dicurigai bahkan tidak terkecuali etnis Tionghoa di Indonesia. Etnis Tionghoa banyak dicurigai karena ada dugaan kuat mereka telah mengikuti ideologi yang dianut oleh tanah leluhur mereka di Tiongkok, yaitu

komunis. Masyarakat Tionghoa Benteng juga merupakan komunitas masyarakat Tionghoa yang dicurigai, banyak dugaan bahwa masyarakat Tionghoa Benteng mempunyai banyak anggota yang masuk ke dalam PKI. Dampaknya banyak dari masyarakat Tionghoa Benteng itu yang ditangkap karena dugaan sebagai anggota atau pun simpatisan PKI. Bahkan para anggota Partai Nasional Indonesia (PNI), yang berasal dari masyarakat Tionghoa Benteng juga ditangkap karena diduga sebagai anggota PNI aliran kiri.

Ketakutan dan rasa terancam masyarakat Tionghoa Benteng tidak hanya disitu, dicabutnya kewarganegaraan semakin menyulitkan mereka dalam menjalankan pemenuhan kebutuhan hidup. Sulitnya mendapatkan pendidikan bahkan untuk akta kelahiran, menjadi beban yang harus dipikul masyarakat Tionghoa Benteng. Bahkan dalam hal pengurusan hak milik tanah, tidak sedikit dari mereka yang merasa pengurusan tanahnya diperlambat. Hal ini membuat banyak tanah punya masyarakat Tionghoa Benteng menjadi tanah sengketa. Kesejahteraan yang tadinya dimiliki oleh komunitas ini, secara perlahan mulai menghilang.