4.3 Pembahasan Hasil
4.3.1 Keselamatan Lalu Lintas
Di dalam substansi pelayanan Keselamatan Lalu Lintas terdapat 5 (lima) kriteria yaitu Sarana Pengaturan Lalu Lintas, Penerangan Jalan Umum Wilayah Perkotaan, Pagar Rumija, Penanganan Kecelakaan, serta Pengamanan dan Penegakan Hukum. Hasil evaluasi dan peninjauan terhadap masing-masing kriteria tersebut adalah sebagai berikut :
a.Pada kriteria Sarana Pengaturan Lalu Lintas, terdapat 4 (empat) unsur penting yang menjadi acuan untuk dinilai atau dievaluasi, yaitu Perambuan, Marka Jalan, Guide Post/Reflektor, dan Patok km. Berdasarkan hasil rekapitulasi pemenuhan SPM dari BPJT, seluruh elemen dalam kriteria Sarana Pengaturan Lalu Lintas ini sudah 100% memenuhi SPM seperti ditampilkan pada Tabel 4.9 berikut.
Tabel 4.11 Rekapitulasi Pemenuhan SPM Kriteria Sarana Pengaturan Lalin
Tahun Semester
Keselamatan Lalu Lintas Sarana Pengaturan Lalin Perambuan (%) Marka Jalan (%) Guide Post/ Reflektor (%) Patok km (%) 2010 1 100 100 100 100 2 100 100 100 100 2011 1 100 100 100 100 2 100 100 100 100 2012 1 100 100 100 100 2 100 100 100 100
Sumber : Rekapitulasi Pemenuhan SPM Jalan Tol dari BPJT
Uraian mengenai pemenuhan kriteria Sarana Pengaturan Lalu Lintas di jalan tol Jakarta-Tangerang adalah sebagai berikut :
• Di sepanjang ruas tol Jakarta-Tangerang, Perambuan dinilai sudah mencapai 100%. Hal ini dibuktikan dengan berbagai jenis rambu yang sudah terpasang di titik-titik tertentu dan dalam kondisi yang baik sebagai peringatan atau larangan bagi pengguna jalan tol. Rambu-rambu yang dimaksud di atas meliputi Rambu-rambu petunjuk, Rambu-rambu peringatan, rambu perintah, rambu larangan, rambu sementara, dan papan tambahan sesuai dengan Tata Cara Pemasangan Rambu dan Marka Jalan Perkotaan NO. 01/P/BNKT/1991 yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Bina Marga dan Direktorat Pembinaan Jalan Kota. Berikut adalah hasil peninjauan perambuan di lapangan berupa foto-foto dokumentasi pribadi.
Gambar 4.26 Rambu Informasi Operator Jalan Tol
Rambu Informasi pada Gambar 4.26 berguna bagi para pengguna jalan tol untuk mengetahui operator jalan tol sebagai BUJT yang bertanggung jawab sepanjang ruas tol tersebut (tercantum panjang kilometernya) serta nomor telepon operator tersebut yang dapat dihubungi dalam keadaan darurat tertentu. Tol Jakarta-Tangerang ini dioperasikan oleh PT Jasa Marga (Persero) Tbk.
Gambar 4.27 Rambu Petunjuk Arah/Jurusan
Rambu Petunjuk Arah/Jurusan seperti pada Gambar 4.27 sangat penting untuk menginformasikan kepada pengguna jalan tol mengenai arah/jurusan dari setiap lajur di titik tertentu. Rambu arah/jurusan ini biasanya dipasang setiap mendekati gerbang keluar/exit tol atau lajur yang memisah.
Gambar 4.28 Rambu Peruntukkan Lajur
Gambar 4.28 merupakan salah satu contoh rambu peruntukkan lajur yang ada di jalan tol Jakarta-Tangerang. Rambu ini berguna untuk menginformasikan pengguna jalan tol mengenai peruntukkan masing-masing lajur yang ada di sepanjang ruas tol. Lajur paling kiri (sisi dalam) merupakan bahu jalan dan hanya boleh digunakan untuk kondisi darurat, sedangkan lajur paling kanan (sisi luar) hanya digunakan untuk mendahului.
Gambar 4.29 Rambu Batas Kecepatan
Rambu batas kecepatan seperti pada Gambar 4.29 sangat penting untuk memperingatkan pengguna jalan tol mengenai kecepatan minimum dan maksimum kendaraan di ruas tol tersebut. Hal ini berkaitan dengan
kondisi permukaan jalan tol yang berbeda-beda, sehingga kecepatan kendaraan yang diperbolehkan juga harus disesuaikan untuk menghindari resiko terjadinya kecelakaan.
Gambar 4.30 Papan Tambahan Informasi Jarak Gerbang Tol
Gambar 4.30 adalah contoh rambu berupa papan tambahan yang menginformasikan dan memperingatkan pengguna jalan tol bahwa mendekati gerbang tol, sehingga dihimbau untuk mengurangi kecepatan kendaraan.
Gambar 4.31 Rambu Sementara
Gambar 4.31 menunjukkan salah satu rambu sementara yang dipasang menjelang lokasi konstruksi pelebaran jalan. Rambu ini digunakan
untuk memperingatkan pengguna jalan tol agar berhati-hati atau waspada dalam mengemudikan kendaraannya karena mendekati lokasi pekerjaan konstruksi jalan yang umumnya mengganggu kelancaran lalu lintas.
Gambar 4.32 Rambu Perintah dan Larangan
Rambu perintah dan larangan seperti contoh pada Gambar 4.32 merupakan rambu yang berguna untuk mengatur lalu lintas di jalan tol agar dapat berjalan dengan sebagaimana mestinya. Rambu perintah dapat berupa perintah untuk mengambil lajur tertentu, sedangkan rambu larangan dapat berupa larangan bagi kendaraan tertentu memasuki gardu tol khusus, larangan berhenti di sepanjang jalan tol, larangan menaikkan dan menurunkan penumpang, dan lain sebagainya.
• Pada kriteria Marka Jalan, berdasarkan peninjauan di lapangan terlihat bahwa seluruh ruas jalan sudah memiliki marka jalan 100% dan dalam kondisi baik. Marka Jalan yang ditinjau meliputi tanda garis membujur, tanda garis melintang, dan tanda garis lainnya berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 27 Tahun 1988 tentang Tanda Permukaan Jalan. Berikut adalah hasil peninjauan di lapangan berupa foto-foto dokumentasi pribadi.
Gambar 4.33 Marka Jalan Garis Membujur
Marka jalan garis membujur seperti pada Gambar 4.33 di atas berfungsi untuk membagi lajur sehingga kendaraan dapat menjaga posisinya sesuai dengan peruntukkan lajurnya.
Gambar 4.34 Tanda Garis Melintang
Tanda garis melintang seperti pada Gambar 4.34 di atas juga berfungsi sebagai rumble strips yang berguna untuk membatasi kecepatan kendaraan saat mendekati gerbang tol. Pada salah satu contoh di atas, tanda garis melintang terlihat sudah mulai memudar dan hilang seperti bagian yang dilingkari berwarna merah. Adanya garis-garis melintang ini sangat penting dan perlu diperhatikan kondisinya agar tetap optimal dalam memberikan peringatan atau mengarahkan pengguna jalan tol.
Gambar 4.35 Petunjuk Jalur Memisah
Gambar 4.35 menunjukkan salah satu contoh marka yang berguna untuk memperingati pengguna jalan tol yang mendekati pemisahan jalur sekaligus mengarahkan untuk memasuki lajur yang memisah tersebut. • Guide Post/Reflektor di sepanjang ruas tol Jakarta-Tangerang dinilai
sudah 100% memenuhi SPM walaupun ada segmen kecil tertentu yang tidak terpasang Guide Post. Untuk Guide Post/Reflektor yang sudah terpasang memiliki reflektifitas > 80% sehingga masih memenuhi SPM. Berikut merupakan hasil tinjauan Guide Post/Reflektor di lapangan berupa foto-foto dokumentasi pribadi.
Gambar 4.36 Guide Post/Reflektor Tepi Jalan
Guide Post/Reflektor di tepi/bahu jalan (sisi kiri) seperti pada Gambar
4.36 dipasang setiap jarak tertentu dan berwarna merah. Guide Post/Reflektor ini berguna untuk mengarahkan pengguna jalan tol
Gambar 4.37 Guide Post/Reflektor Median Jalan
Guide Post/Reflektor median jalan dipasang pada setiap jarak tertentu
dan berwarna kuning untuk mengarahkan pengguna jalan khususnya pada malam hari sehingga pengguna jalan tol dapat mewaspadai tepi jalan untuk menghindari kecelakaan.
Gambar 4.38 Segmen Tanpa Guide Post/Reflektor
Gambar 4.38 di atas menunjukkan sebuah segmen jalan di ruas tol Jakarta-Tangerang yang tidak memiliki Guide Post/Reflektor (yang dilingkari berwarna merah). Hal ini akan sangat membahayakan pengguna jalan tol khususnya pada kondisi gelap atau malam hari.
Gambar 4.39 Reflektifitas Guide Post/Reflektor pada Malam Hari Pada malam hari, Guide Post/Reflektor yang terpasang di jalan tol Jakarta-Tangerang memiliki tingkat reflektifitas yang cukup baik seperti contoh pada Gambar 4.39, sehingga dapat terlihat dengan mudah ketika memantulkan cahaya lampu kendaraan.
• Untuk elemen Patok km di sepanjang ruas tol Jakarta-Tangerang dinilai sudah 100% memenuhi SPM. Hal ini berdasarkan peninjauan di lapangan dimana Patok km sudah terpasang pada median jalan dengan interval 200 m hingga 1 km. Hasil peninjauan dalam bentuk foto dokumentasi pribadi dapat dilihat pada gambar berikut.
Kriteria lainnya yang ada di dalam substansi pelayanan Keselamatan Lalu Lintas yakni Penerangan Jalan Umum, Pagar Rumija, Penanganan Kecelakaan, serta Pengamanan dan Penegakan Hukum. Hasil rekapitulasi pemenuhan SPM dari BPJT menilai keseluruhan kriteria ini sudah 100% memenuhi SPM dalam 3 tahun terakhir, kecuali Pagar Rumija yang di semester pertama tahun 2010 masih belum 100% memenuhi. Data tersebut di atas dapat dilihat pada Tabel 4.12 berikut.
Tabel 4.12 Rekapitulasi Pemenuhan SPM Substansi Pelayanan Keselamatan
Tahun Semester
Keselamatan Lalu Lintas
PJU (%)
Pagar Rumija
(%)
Penanganan Kecelakaan Pengamanan
dan Penegakan Hukum (%) Korban Kecelakaan (%) Kendaraan Kecelakaan (%) 2010 1 100 80 100 100 100 2 100 100 100 100 100 2011 1 100 100 100 100 100 2 100 100 100 100 100 2012 1 100 100 100 100 100 2 100 100 100 100 100
Sumber : Rekapitulasi Pemenuhan SPM Jalan Tol dari BPJT
b.Penerangan Jalan Umum Wilayah Perkotaan
Pada kriteria Penerangan Jalan Umum (PJU) wilayah Perkotaan di ruas tol Jakarta-Tangerang, berdasarkan peninjauan di lapangan dinilai belum 100% memenuhi SPM dikarenakan ada beberapa segmen yang tidak terpasang PJU seperti di kilometer 8 dan 14. Pada segmen yang sudah terpasang, terdapat 2 (dua) jenis PJU yaitu lengan tunggal dan lengan ganda yang dipasang menerus/kontinyu dan semua lampu yang ada menyala 100%. Berikut adalah hasil tinjauan terhadap PJU di lapangan berupa foto-foto dokumentasi pribadi.
Gambar 4.41 PJU Lengan Ganda pada Ruas Dua Arah
Gambar 4.42 PJU Menyala 100%
Seluruh PJU yang terpasang di ruas tol Jakarta-Tangerang menyala 100% pada malam hari sehingga berfungsi dengan baik sebagaimana mestinya. Penerangan di segmen jalan yang gelap pada malam hari sangat penting untuk menjaga jarak pandang pengendara sehingga dapat menghindari resiko terjadinya kecelakaan.
c.Pagar Rumija
Penempatan Pagar Rumija (ruang milik jalan) di sepanjang ruas tol Jakarta-Tangerang dinilai sudah 100% memenuhi SPM jalan tol berdasarkan data rekapitulasi pemenuhan SPM dari BPJT.
Gambar 4.43 Grafik Pencapaian Pagar Rumija Periode 2010-2012 (Sumber : Rekapitulasi Pemenuhan SPM Jalan Tol dari BPJT)
Meskipun demikian, berdasarkan peninjauan di lapangan, ada beberapa segmen kecil yang belum terpasang pagar sebagai pembatas ruang milik jalan. Berikut adalah hasil peninjauan di ruas tol Jakarta-Tangerang dalam bentuk foto-foto dokumentasi pribadi.
Gambar 4.44 Kondisi Pagar Rumaja
Gambar 4.44 merupakan contoh pagar rumaja yang terpasang di jalan tol Jakarta-Tangerang. Pagar ini berfungsi untuk membedakan fungsi/manfaat ruas jalan, yaitu jalan tol dengan jalan non-tol di yang bersebelahan langsung untuk mengurangi resiko kecelakaan lalu lintas yang fatal.
Gambar 4.45 Segmen Jalan Tanpa Pagar Rumija
Pada Gambar 4.45 ditunjukkan salah satu contoh segmen jalan di ruas tol Jakarta-Tangerang yang tidak memiliki pagar rumija di bahu jalan tol (dilingkari berwarna merah). Segmen jalan ini akan sangat rentan mengakibatkan kecelakaan yang lebih fatal apabila kendaraan keluar jalur. Selain itu akan sangat membahayakan apabila ada pejalan kaki yang memasuki jalan tol.
d.Penanganan Kecelakaan
Dari segi penanganan kecelakaan, di ruas tol Jakarta-Tangerang sudah disiapkan unit pertolongan untuk menangani korban maupun kendaraan yang mengalami kecelakaan di dalam ruas tol. Untuk penanganan korban kecelakaan telah disiapkan unit ambulans dan kendaraan rescue yang akan mengevakuasi korban secara gratis ke rumah sakit rujukan, sedangkan untuk kendaraan yang mengalami kecelakaan telah disiapkan kendaraan derek (Gambar 4.46) yang akan melakukan penderekan gratis sampai ke pool derek (masih di dalam jalan tol). Dengan kata lain, jalan tol Jakarta-Tangerang sudah memenuhi kriteria Penanganan Kecelakaan sesuai SPM.
Gambar 4.46 Kendaraan Derek e.Pengamanan dan Penegakan Hukum
Untuk memastikan pengamanan dan penegakan hukum di jalan tol Jakarta-Tangerang, sudah disiapkan Polisi Patroli Jalan Raya (PJR) yang siap dihubungi 24 jam. Selain PJR, ada juga Patroli Jalan Tol yang diturunkan oleh operator yakni PT Jasa Marga (Persero). Kegiatan Patroli secara rutin dilakukan setiap hari pada jam-jam dan lokasi-lokasi tertentu untuk mengantisipasi pelanggaran hukum yang dilakukan baik oleh pengguna jalan maupun pejalan kaki di sepanjang ruas tol Jakarta-Tangerang.