BAB IV PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA DALAM
2. Kesengajaan (Dolus)
Sebagian besar tindak pidana mempunyai unsur kesengajaan atau opzet, bukan unsur culpa. Ini layak karena biasanya yang pantas mendapat hukuman pidana itu adalah orang yang melakukan sesuatu dengan sengaja.
Dalam pergaulan hidup kemasyarakatan sehari-hari, seseorang dengan suatu perbuatan sering mengakibatkan sekedar kerusakan, kalau ia akan menghindarkan diri dari suatu celaan, hampir selalu berkata, “Saya tidak sengaja”.
Biasanya, apabila kerusakan itu dimaafkan oleh pihak yang menderita kerugian.
Artinya, tidak dikenai hukuman apa pun.
61 Mahrus Ali, Op.Cit, Hal.156
62 Sudarto, Op.Cit, Hal.85
Kesengajaan ini harus mengenaike tiga unsur dari tindak pidana, yaitu ke-1 : perbuatan yang dilarang; ke-2 :akibat yang menjadi pokok alasan diadakan larangan itu, dan ke-3 : bahwa perbuatan itu melanggar hukum.
Biasanya diajarkan bahwa kesengajaan (opzet) itu tiga macam, yaitu:
a. Kesengajaan yang bersifat tujuan (Oogmerk)
Bahwa dengan kesengajaan yang bersifat tujuan (Oogmerk) si pelaku dapat dipertanggungjawabkan mudah dapat dimengerti khalayak ramai. Maka, apabila kesengajaan semacam ini ada pada suatu tindak pidana, tidak ada yang menyangkal bahwa si pelaku pantas dikenai hukuman pidana. Ini lebih tampak apabila dikemukakan bahwa dengan adanya kesengajaan yang bersifat tujuan ini, dapat dikatakan bahwa si pelaku benar-benar menghendaki mencapai akibat yang menjadi pokok alasan diadakan ancaman hukuman pidana (constitutief gevold).
Ada yang mengatakan bahwa yang dapat dikehendakai adalah hanya perbuatannya, bukan akibatnya. Akibat ini oleh si pelaku hanya dapat dibayangkan atau digambarkan akan terjadi (voorstellen). Dengan demikian, secara dialektik timbul dua teori yang bertentangan satu sama lain, yaitu (a) teori kehendak (Wilstheorie) dan (b) teori bayangan (Voorstellingstheorie).
Teori kehendak menganggap kesengajaan (opzet) ada apabila perbuatan dan akibat suatu tindak pidana dikehendakki oleh si pelaku. Teori membayangkan menganggap kesengajaan apabila si pelaku pada waktu mulai melakukan perbuatan ada banyangan yang terang bahwa akibat yang bersangkutan akan tercapai, dan maka dari itu ia menyesuaikan perbuatannya dengan akibat itu.
Menurut teori kehendak (Wilstheorie) melakukan tindak pidana pembunuhan dengan sengaja oleh karena si pelaku itu menhendaki matinya orang lain itu.
Menurut teori bayangan (Voorstellingstheorie) si pelaku ini dapat dikatakan melakukan tindak pidana pembunuhan dengan sengaja karena ia, pada waktu menembak, mempunyai bayangan atau gambaran dalam pikirannya bahwa orang yang ditembak itu akan meninggal dunia sebagai akibat tembakan itu, dan kemudian si pelaku menyesuaikan perbuatannya berupa menembak dengan akibat yang dibayangkan itu.
b. Kesengajaan secara keinsyafan kepastian (Opzet bij zekerheids-bewustzeinj)
Kesengajaan semacam ini ada apabila si pelaku dengan perbuatannya tidak bertujuan untuk mencapai akibat yang menjadi dasar dari delict, tapi ia tahu benar akibat itu pasti akan mengikuti perbuatan itu. Kalau ini terjadi, maka teori kehendak (Wilstheorie) menganggap akibat tersebut juga dikehendaki oleh pelaku, maka kini juga ada kesengajaan. Menurut teori bayangan (Voorstellingstheorie), keadaan ini sama dengan kesengajaan berupa tujuan (Oogmerk) karena dalam keduanya tentang akibat tidak dapat dikatakan ada kehendak si pelaku, melainkan hanya bayangan atau gambaran dalam gagasan pelaku, bahwa akibat itu pasti akan terjadi. Maka, juga kini ada kesengajaan.
Oleh para penulis Belanda sebagai contoh selalu disebutkan peristiwa
“Thomas van Bremerhaven” yaitu perbuatan seseorang berupa memasukkan dalam suatu kapal laut, yang akan berlayar dilaut, suatu mesin yang akan meledak apabila kapal itu sudah ada ditengah laut. Dengan peledakan tersebut kapal akan hancur, dan kalau ini terjadi, maka pemilik kapal akan menerima uang asuransi dari perusahaan asuransi. Dalam merancangkan kehendak ini, si pelaku dianggapa tahu benar bahwa apabila kapal hancur, para anak kapal dan penumpang lainnya
akan tenggelang dilaut dan akan mati semua. Dengan demikian, meskipun kematian orang-orang ini tidak masuk tujuan si pelaku (Oogmerk), namun kini toh dianggap ada kesengajaan si pelaku itu, dan maka dari itu si pelaku dapat dipersalahkan melakukan tindak pidana pembunuhan.
c. Kesengajaan secara keinsyafan kemungkinan
Lain hal dengan kesegajaan yang terang-terangan tidak disertai bayangan suatu kepastian akan terjadi akibat yang bersangkutan, tetapi hanya dibayangkan suatu kemungkinan belaka akan akibat itu.
Kini, ternya tidak ada persamaan pendapat di antara para sarjana hukum Belanda. Menurut Van Hattum dan Hazewinkel-Suringa, terdapat dua penulis Belanda, yaitu Van Dijck dan Pompe, yang mengatakan bahwa dengan hanya ada keinsyafan kemungkinan, tidak ada kesengajaan, tetapi hanya mungkin ada culpa atau kurang hati-hati. Kalau masih dapat dikatakan bahwa kesengajaan secara keinsyafan kepastian praktis sama atau hampir sama dengan kesengajaan sebagai tujuan (oogmerk), maka sudah terang kesengajaan secara keinsyafan kemungkinan tidaklah sama dengan dua macam kesengajaan yang lain itu, tetapi hanya disamakan atau dianggap seolah-olah sama. Teorinya adalah sebagai berikut: Apabila dalam gagasan si pelaku hanya ada bayangan kemungkinan belaka, akan terjadi akibat yang bersangkutan tanpa dituju, maka harus ditinjau seandainya ada bayangan kepastian, tidak hanya kemungkinan, maka apakah perbuatan toh akan dilakukan si pelaku. Kalau hal ini terjadi, maka dapat dikatakan bahwa kalau perlu akibat yang terang tidak dikehendaki dan hanya mungkin akan terjadi itu, akan dipikul pertanggungjawabannya oleh si pelaku jika
akibat kemudian toh terjadi. Menurut Hazewinkel-Suringa (halaman 84) ini adalah formula dari penulis-Frank.
Saya Tanya, bagaiman dapat ditentukan isi batiniah si pelaku yang sangat rumit ini, secara perumpamaan belaka. Dan, kalau ini toh boleh ditentukan oleh seseorang hakim, ada kekhawatiran bahwa terlalu muda diadakan ketentuan ini sehingga mungkin sekali suatu hubungan kesalahan (schuldverband) yang sebetulnya hanya merupakan culpa atau kekurang berhati-hati, dianggap sedah merupakan kesengajaan.
Mengigat kekhawatiran ini, maka seorang hakim harus sangat berhati-hati dalam hal ini. Jika dalam suatu pasal suatu perbuatan hanya dilarang apabila dilakukan dengan sengaja, seperti halnya dengan pasal 406 KUHP tentang merusak barang orang lain, maka hanya ada dua alternatif. Jika kesengjaan dianggap ada, orang akan dihukum; jika tidak ada, orang itu sama sekali tidak dihukum. Lain halnya apabila ada tiga alternatif, yaitu perbuatan dengan sengaja, dihukum; dan perbuatan itu dengan culpa dihukum juga, tentunya dengan hukuman ringan; dan perbuatan tanpa kesengajaan dan tanpa culpa, tidak dihukum.
Misalnya, dalam hal mengakibatkan matinya orang lain, jika ada kesengajaan berlaku pasal 338 KUHP dengan hukuman penjara setinggi-tingginya 15 tahun: kalau hanya ada culpa, berlaku pasal 359 KUHP dengan hukuman setinggi-tingginya 5 tahun penjara.63
3. Alasan Penghapusan Pidana
63 Wirjono Prodjodikoro, Asas-Asas Hukum Pidana Di Indonesia, Bandung: PT Refika Aditama, 2003, Hal.65-70.
Para penulis hukum pidana telah mengemukakan berbagai bentuk perbedaan alasan penghapus pidana dengan bertitik tolak dari kriteria-kriteria tertentu. Beberapa macam perbedaan yang paling umum yakni sebagai berikut:
a. Alasan pembenar dan alasan pemaaf
Salash satu perbedaan dari alasan penghapus pidana ialah antara rechtsvaardigingsgronden dan schulduitsluitingsgronden. Dalam bahasa Indonesia, Moeljatno menerjemmahkan rechtsvaardigingsgronden sebagai alasan pembenar, sedangkan schulduitsluitingsgronden diterjemahkan sebagai alasan pemaaf.
Mengenai ukuran apakah digunakan untuk membedakan kedua alasan penghapus pidana tersebut, menurut E. Utrecht adalah sebagai berikut:
Rechtsvaardigingsgronden (alsan-alasan yang membenarkan) itu menghapuskan wederrechtelijkheid dan schulduitsluitingsgronden (alasan-alasan yang menghilangkan kesalahan dalam arti kata luas) hanya menghilangkan pertanggungjawaban (toerekenbaarheid) pembuat atas peristiwa yang diadakannya. Umum direrima pendapat bahwa Rechtsvaardigingsgronden menghapuskan suatu peristiwa pidan, yaitu kelakuan yang bersangkutan bukan suatu peristiwa pidana, biarpun sesuai dengan lukisan suatu kelakuan tertentu yang dilarang dalam undang-undang pidana, sedangkan dalam hal schulduitsluitingsgronden kelakuan yang bersangkutan tetap suatu peristiwa pidana, tetapi tidak dapat dipertanggungjawabkan (teogerekend) kepada pembuat.
Menurut E. Utrecht, Rechtsvaardigingsgronden menghapuskan sifat melawan hukum sehingga peristiwa yang bersangkutan bukan lagi suatu peristiwa
pidana; sedangkan schulduitsluitingsgronden menghilangkan kesalahan sehingga kelakuan yang bersangkutan tetap merupakan peristiwa pidana, hanya pembuatnya tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Menurut Moeljatno, sebagaimana telah dikutipkan dibagian depan, alasan pembenar merupakan alasan yang menghapuskan sifat melawan hukumnya perbuatan, sehingga apa yang dilakukan oleh terdakwa lalu menjadi perbuatan yang patut dan benar; sedangkan alasan pemaaf adalah alasan di mana perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa tetap bersifat melawan hukum jadi tetap merupakan perbuatan pidana, tetapi dia tidak dipidana karena tidak ada kesalahan.
Tentang Pasal-pasal mana dari alasan-alasan penghapus pidana yang terdapat dalam Buku I Bab III KUHPidana yang digolongkan sebagai alasan pembenar dan mana yang digolongkan sebagai alasan pemaaf, dijelaskan oleh Moeljatno bahwa biasanya yang dipandang orang sebagai alasan pembenar adalah Pasal-pasal 49 ayat (1) mengenai pembelaan terpaksa (noodweer), pasal 50 mengenai melaksanakan ketentuan undang-undang , Pasal 51 ayat (1) tentang melaksanakan perintah dari pihak atasan; sedangkan yang dianggap sebagai alasan pemaaf adalah Pasal 49 ayat (2) tentang pembalaan yang melampaui batas, Pasal 51 ayat (2) tentang perintah jabatan tanpa wewenag. Tentang Pasal 48, yang dinamakan daya paksa (overmacht) hingga sekarang belum ada kesatuan pendapat. Ada yang mengatakan daya paksa ini sebagai alasan pembenar ada pula yang mengatakan bahwa ini adalah alasan pemaaf. Disamping ini ada pendapat yang ketiga, yaitu yang mengatakan, bahwa dalam pasal 48 itu mungkin ada alasan pembenar dan mungkin pula alasan pemaaf.
Sebagaimana yang dikatakan Moeljatno, perbedaan yang tajam antara para ahli hukum pidana hanyalah berkenaan dengan daya paksa (overmacht) saja.64
b. Penyebab dari dalam dan penyebab dari luar
Dalam risalah penjelasan (memorie van toelichting) terhadap rancangan KUHP Belanda telah diadakan pembedaan alasan penghapus pidana sebai terdiri atas:
1. Ontoerekenbaarheid yang disebabkan oleh hal-hal dari dalam (inwendige oorzaken),
2. Ontoerekenbaarheid yang disebabkan oleh hal-hal dari luar (uitwendige oorzaken)
Yang dimaksudkan dengan kata-kata tidak dapat dipertanggungkan karena sebab-sebab dari dalam (inwendige) adalah sebab-sebab yang terletak pada orangnya itu sendiri. Pasal 44 KUHPid. Dalam pasal 44 tersebut ditentukan bahwa seseorang tidak dapat dipertanggungkan atas perbuatannya apabila jiwanya cacat dalam pertumbuhan atau terganggu karena penyakit.
Sedangkan yang dimaksudkan dengan tidak dapat dipertanggungkan karena sebab-sebab dari luar (uitwendige) adalah sebab-sebab yang terletak di luar diri si pelaku. Risalah penjelasan menggolongkan ke dalam sebab-sebab dari luar ini hal-hal yang ditentukan dalam pasal 48 sampai dengan pasal 51 KUHPid.
Kebanyakan dari para penulis hukum pidana tidak menyetujui pembedaan sebagaimana yang dilakukan dalam risalah penjelasan tersebut. Menurut
64 Frans Maramis, Hukum Pidana Umum dan Tertulis Di Indonesia, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, Hal.134.
Moeljatno misalnya menulis mengenai pembedaan dalam risalah penjelasan sebagai berikut:
a. Alasan-alasan yang terdapat dalam batin terdakwa, yaitu terdapat dalam pasal 44 KUHP.
b. Alasan-alasan yang dari luar, yaitu pasal-pasal 48-51 KUHP.
Tapi dalam teori pembagian secara dilakukan M.v.T ini dalam teori tak ada yang memakainya, sebab tidak tepat, yaitu diantara alasan-alasan yang diluar ada yang lebih tepat jika dimasukkkan dalam alasan-alasan yang terdapat dalam batin terdakwa.
Jadi, sebagaimana dikemukakan oleh Moeljatno, jika risalah penjelasan menggolongkan pasal 48 sampai dengan pasal 51 KUHPid ke dalam kelompok sebab dari luar (uitwendige), sebenarnya ada di antara pasal-pasal tersebut yang lebih tepat jika digolongkan sebagai sebab dari dalam, yakni yang berasal dari dalam batin si terdakwa sendiri.65
4. Kesalahan
Mengenai pengertian kesalahan (schuld), oleh D. Simons dikatakan bahwa kesalahan adalah keadaan psikis pelaku dan hubungannya dengan perbuatan yang dilakukan yang sedemikian rupa, sehingga berdasarkan keadaan psikis tersebut pelaku dapat dicela atas perbuatannya.
Bagian-bagian dari pengertian kesalahan menurut D. Simons, yaitu: (1) adanya keadaan psikis tertentu dari pelaku, (2) adanya hubungan yang sedemikian rupa antara keadaan psikis tersebut dengan perbuatan yang dilakukan, dan (3) berdasrkan keadaan psikis tersebut pelaku dapat dicela atas perbuatannya.
65 Ibid, Hal. 136.
Pengertian kesalahan (schuld) disini digunakan dalam arti luas. Dalam KUHPid ada juga digunakan istilah schuld ini dalam arti sempit, yaitu dalam arti kealpaan sebagaimana dapat dilihat dalam rumusan bahasa Belanda dari pasal 359 dan 360.66
a. Kesalahan pisikologis dan kesalahan normatif
Istilah kesalahan dapat digunakan dalam arti pisikologis dan normatif.
Kesalahan pisikologis adalah kesalahan dari sudut keadaan pisikologis yang sesungguhnya dari seseorang atau apa yang sesungguhnya yang dipikirkannya, amat sukar untuk diketahui. Hal ini sebagaimana diungkapkan dalam peribahasa umum: dalamya lautan bisa diselam, dalamnya hati siapa yang tahu.
Kesalahan normatif adalah kesalahan dari sudut pandang orang lain terhadap pelaku. Kesalahan normatif merupakan kesalahan dari sudut norma-norma hukum pidana, yaitu kesalahan dalam arti kesengajaan dan kealpaan. Dari peristiwa konkrit yang terjadi, orang lain menilai menurut ukuran pada umumnya apakah pada pelaku terdapat kesalahan dalam arti kesengajaan dan kealpaan ini.67
b. Unsur-unsur kesalahan
Menurut para ahli hukum pidana, kesalahan (schuld) ini terbentuk dari adanya sejumlah unsur. Padaumumnya dikemukakan bahwa kesalahan (schuld) terdiri atas tiga unsur, yaitu:
1. Kemampuan bertanggungjawab (toerekeningsvatbaarheid) dari pelaku;
66 Ibid, Hal. 114.
67 Ibid, Hal. 115.
2. Sikap batin tertentu dari pelaku sehubungan dengan perbuatannya yang berupa adanya kesengajaan atau kealpaan; dan
3. Tidak ada alasan yang menghapuskan kesalahan atau menghapuskan pertanggungjawaban pidana pada diri pelaku.68
5. Kemampuan Bertanggung Jawab (toerekeningvatsbarheid)
Tiaap orang dipandang sehat jiwanya dan karenanya juga mampu bertanggungjawab sampai dibuktikan sebaliknya. Ini merupakan suatu asas dalam hukum pidana. Kemampuan bertanggungjawab juga tidak merupakan unsure tertulis dari suatu pasal tindak pidana sehingga tidak perlu dibuktikan. Apabila kesehatan jiwa seseorang diragukan barulah dilakukan pemeriksaan oleh ahli pisikiatri, dengan kemungkinan diberikannya keterangan bahwa yang bersangkutan tidak mampu bertanggungjawab (vide lebih lanjut 8.1.).
Beberapa pendapat tentang pengertian kemampuan bertanggungjawab, yaitu:
1. G.A. van Hamel menyatakan bahwa yang dimaksudkan dengan toerekeningsvatbaarheid (kemampuan bertanggungjawab) adalah suatu keadaan normalitas psikis dan kemahiran, yang membawa tiga macam kemampuan (kecakapan), yaitu: (1) mampu untuk dapat mengerti makna dan akibat sungguh-sungguh dari perbuatan-perbuatan sendiri; (2) mampu untuk menginsyafi bahwa perbuatan-perbuatan itu bertentangan dengan ketertiban masyarakat; (3) mampu untuk menentukan kehendak berbuat.
68 Ibid, Hal.116.
2. D. Simons memberikan pendapatnya bahwa mampu bertanggungjawab (toerekeningsvatbaarheid) adalah, (a) jika orang mampu menginsyafi perbuatannya yang bersifat melawan hukum; dan (b) sesuai dengan penginsyafan itu dapat menentukan kehendaknya.
H.B Vos, sebagaimana dikutip dari Utrech, memberikan komentar terhadap pendapat dari D. Simons ini sebagai berikut
Pendapat Simons ini agak sesuai dengan pendapat Memorie van Toelichting. Memorie van Toelichting hanya melihat dua halo rang dapat menerima adanya ontoerekeningsvatbaarheid (tidak toerekeningsvatbaar-heid dari pembuat), yaitu:
a. Dalam hal membuat tidak diberi kemerdekaan memilih antara berbuat atau tidak berbuat apa yang oleh undang-undang dilarang atau diperintah-dengan kata lain dalam hal perbuatan yang dipaksa;
b. Dalam hal pembuat ada di dalam suatu keadaan tertentu sehingga ia tidak dapat menginsyafi bahwa perbuatannya bertentangan dengan hukum dan ia tidak mengerti akibat perbuatannya itu (nafsu patologis (pathologische drift), gila, pikiran tersesat, dan sebagainya.
3. W.P.J. Pompe menyatakan bahwa unsur-unsur kemampuan bertanggungjawab adalah:
a. Suatu kemampuan berpikir (psychis) pada pembuat yang memungkinkan pembuat menguasai pikirannya dan menentukan kehendaknya,
b. Dan oleh sebab itu, pembuat dapat mengerti makna dan akibat kelakuannya,
c. Dan oleh sebab itu pula, pembuat dapat menentukan kekhendaknya sesuai dengan pendapatnya (tentang makna dan akibat kelakuannya).
Dari pengertian-pengertian yang dikutipkan di atas dapat dilihat bahwa suatu kemampuan bertanggungjawab (toerekeningsvatbaarheid) merupakan kemampian psikis tertentu yang harus dimiliki seseorang untuk dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya.69
B. Pertanggungjawaban Pidana Dalam Menyelanggarakan Kegiatan Penyiaran Tanpa Izin Penyelenggaraan Penyiaran Berdasrkan Putusan PN Sungailiat No.378/Pid.B/2013/PN.SGT
1. Kasus Posisi
Bahwa ia Terdakwa Wayudi alias Yudi bin Usmanto, pada kurun waktu antara bulan September 2011 sampai dengan hari jumat tanggal 11 januari 2013 atau setidak-tidaknya dari tahun 2013 sampai bulan januari 2013, bertempat di dalam sebuah rumah yang terletak Gang Olahraga Desa Air Mesu Kecamtan Pangkalan Baru Kabupaten Bangka Tengah atau setikdak-tidaknya pada tempat tertentu yang masih terrmasuk dalam daerah hukum Pengadilan Negeri Sungailiat, telah menyelenggarakan kegiatanpenyiaran tanpa izin penyelanggaraan penyiaran, perbuatan mana dilakukan oleh Terdakwa dengan cara-cara sebagai berikut:
69 Ibid, Hal.116-118.
Bahwa sebelumnya Terdakwa berniata untuk melakukan Kegiatan Penyiaran berlangganan, untuk keperluan dimaksud maka Terdakwa menyiapakan peralatan berupa 1 (satu) unit parabola satelit berikut dengan 19 (Sembilan belas) unit receiver masing-masing 3 (tiga) unit merk Tanaka, 2 (dua) unit merk Dizipa, 5 (lima) unit merk Goldsat, dan 5 (enam) unit merk Goldstar, Peralatan mana ditempatkan Terdakwa dalam sebuah rumah yang terletak di Gang Olahraga Desa Air Mesu Kecmatan Pangkalan Baru Kabupaten Bangka Tengah.selain dari peralatan tersebut, Terdakwa juga menyiapkan peralatan lainnya antara lain berupa 20 (dua puluh) unit Modulator merk Falcom, 1 (satu) unit Passive Combiner merk Falcom, 1 (satu) unit Amplifier merk Falcom, 1 (satu) unit Power Supply, Kabel RG 6 Sling, 7 (tujuh) unit Couper dan 3 (tiga) unit Spliter. Setelah peralatan untuk penyiaran dimksud telah siap pada sekitar bulan September 2011, maka selanjutnya Terdakwa menawarkan kepada masyarakat umum yang berdiam di lingkungan Gang Olahraga Desa Air Mesu Kecamatan Pangkalan Baru Kabupaten Bngka Tengah, untuk berlangganan kegiatan penyiaran yang dilakukan Terdakwa dengan dipungut bianya pemasangan sebesar Rp. 200.000,- (dua ratus ribu rupiah) dan inyuran bulanan sebesar Rp. 40.000,- (empat puluh ribu rupiah) untuk 19 (Sembilan belas) channel yakni indosiar, mnc tv, metro tv, sctv, rctt, globam tv, tv one, trans tv, trans 7, antv, rodja tv, tvri, spce toon, b channel, lsb in, arena, fox movies, net geo wild, dan cartoon network. Dari penawaran yang dilakukan Terdakwa tersebut telah berhasil mendapatkan pelanggan sebanyak kurang lebih 137 (seratus tiga puluh tujuh) pelanggan.
Bahwa sekalipun pada hari selasa tanggal 29 mei 2012 Terdakwa melakukan kerjasama operasional dengan saksi Zulkifli Ershad Ra selaku
Direktur PT. Pesona Visual Mandiri dalam bidang layanan siaran TV Kabel, namun selain karena izin penyiaran yang dimiliki PT. Persona Visual Mandiri baru sebatas izin Prinsip Penyelenggaraan Penyiaran dari Menteri Komunikasi dan informatika RI dengan Nomor 44 Tahun 2013, izin yang dimiliki PT. Persona Visual Mandiri itupun baru dikeluarkan pada tanggal 31 januari 2013, sehingga dengan demikian kerjasama operasional dalam bidang layanan siaaran TV kabel antara Terdakwa dengan PT. Persona Visual Mandiri tidak dapat dijadikan dasar untuk kegiatan penyiaran berlangganan yang dilakukan Terdakwa.
Akhirnya kegiatan penyiaran berlangganan yang disselanggarakan oleh Terdakwa tersebut diketahui oleh Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Babel, hingga akhirnya pada hari kamis tanggal 10 Januari 2013 sekitar pukul 12.15 WIB oleh saksi Mohammad Ridwan bin Ali Mustafa selaku ketua KPID Babel, kegiatan penyiaran berlangganan tersebut dilaporkan ke kepolisian Daerah Kepulauan Bangka Belitung.
2. Dakwaan
Bahwa terdakwa diajukan kepersidangan oleh Jaksa Penuntut Umum didakwa berdasarkan surat dakwaan sebagai berikut:
Pasal 33 ayat (1) Undang-Undang Nomor 32 tahun 2002
Sebelum menyelenggarakan kegiatannya lembaga penyiaran wajib memperoleh izin penyelenggaraan penyiaran.
Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2005 pasal 4 ayat (1)
Sebelum menyelenggarakan kegiatan, Lembaga Penyiaran Berlangganan wajip memperoleh izin penyelenggaraan penyiaran.
Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan di ancam pidana dalam pasal 58 huruf b undang-undang RI Nomor 32 Tahun 2002
Pasal 58:
Dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) untuk penyiaran radio dan dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) untuk penyiaran televisi, setiap orang yang:
a. melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1);
b. melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (1);
c. melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (4);
d. melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 ayat (3).
3. Tuntutan
Setelah mendengar pembacaan tuntutan pidana yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum yang pada pokoknya sebagai berikut:
1. Menyatakan terdakwa Wahyudi Als. Yudi Bin Usmanto terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “Tanpa izin Menyelenggarakan Kegiatan Penyiaran” melanggar Pasal 58 hurup b Undang-Undang RI Nomor 32 Tahun2002 sebagaimana Dakwaan Penuntut Umum;
2. Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa Wahyudi Als. Yudi Bin Usmanto dengan pidana penjara selama 6 (enam) bulan dan Pidana Denda sebesar Rp. 25.000.000,- (dua puluh lima juta rupiah) ;subsider 3 (tiga) bulan kurungan ;
3. Menyatakan barang bukti berupa:
1 (satu) unit parabola satelit;
19 (Sembilan belas) unit receiver masing-masing 3 (tiga) unit merk Tharuman, 1 (satu) unit merk Skynindo, 1 (satu) unit
merk Matrix, 1 (satu) unit merk Tanaka, 2 (dua) unit merk Dizipa, 5 (lima) unit merk Goldsat, dan 6 (enam) unit merk Goldstar;
20 (dua puluh) unit modulator merk Falcom;
1 (satu) unit Passive combiner merk Falcom;
1 (satu) unit Amplifier merk falcom, dan
1 (satu) unit Power Supply;
Dirampas untuk Negara;
4. Menetapkan supaya Terdakwa dibebani membayar biaya perkara sebesar Rp. 5.000,- (lima ribu rupiah);
5. Putusan Hakim
MENGADILI :
1. Menyatakan Terdakwa Wahyudi Als Yudi Bin Usmanto telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana Tanpa Izin Menyelenggarakan Kegiatan Penyiaran Televisi;
2. Menjatuhkan pidana oleh karena itu terhadap Terdakwa dengan pidana penjara selama 3 (tiga) bulan, dengan ketentuan pidana tersebut tidak perlu dijalani kecuali dikemudian hari ada perintah lain dalam Putusan Hakim oleh karena Terpidana sebelum lewat masa percobaan 6 (enam) bulan telah melakukan perbuatan yang dapat dihukum;
3. Menjatuhkan pula pidana berupa denda sebesar Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah) dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama 2 (dua) bulan;
4. Menetapkan barang bukti berupa:
1. 1 (satu) unit parabola satelit;
2. 19 (Sembilan belas) unit receiver masing-masing 3 (tiga) unit merk Thruman, 1 (satu) unit merk Skynindo, 1 (satu) unit merk Matrix, 1 (satu) unit merk Tanaka, 2 (dua) unit merk Dizipa, 5 (lima) unit merk Goldsat,dan 6 (unit) merk Goldstar;
3. 20 (dua puluh) unit modulator merk Falcom;
4. 1 (satu) unit Passive merk Falcom;
5. 1 (satu) unit Amplifier merk falcom, dan 6. 1 (satu) unit Power Supply;
Dirampas untuk Negara;
Membebankan Terdakwa untuk membayar biaya perkara sebesar Rp.
5.000,- (lima ribu rupiah) ; 6. Analisis Putusan
a.) Dakwaan
Dakwaan merupakan dasar penting dalam hukum acara pidana, karena
Dakwaan merupakan dasar penting dalam hukum acara pidana, karena