• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II MANUSIA DAN KEBUDAYAAN MANGGARAI

2.7 Kesenian

2.7.1 Nyanyian Daerah

Nyanyian daerah (folksong) di Wae Codi sering kali dinyanyikan oleh kaum pria dengan irama titi nada yang khas dan frekuensi suara yang kuat. Nyanyian itu biasanya berisi nasihat ataupun ungkapan suatu pengharapan. Hampir semua nyanyian itu terdengar mirip satu sama lain, akan tetapi liriknya berbeda-beda. Dalam suatu pesta adat, nyanyian tersebut dinyanyikan salah seorang, kemudian setelah dijawab oleh para hadirin, nyanyian itu dinyanyikan bersama-sama.

Sebagaimana dalam pesta adat yang lain, masyarakat Wae Codi me-nyanyikan ongko dalam upacara pênti/syukuran panen, yang me ngandung makna kebersamaan. Dalam lagu tersebut tersirat makna bahwa dalam upacara pênti semua suku yang ada di Kampung Purang bersama-sama mensyukuri nikmat yang sudah diberikan Tuhan kepada mereka. Lain halnya dengan lagu Gesar agu Mõri yang bertujuan untuk memohon kepada Tuhan agar menjaga masyarakat dari segala macam pengaruh kuasa roh jahat.

2.7.2 Atraksi Caci

Informan kami yang juga pegiat atraksi caci, LR (55 tahun) menyatakan bahwa di dalam rangkaian atraksi caci terdapat nyanyian daerah yang dinyanyikan minimal tiga kali selama atraksi. Pertama, dinyanyikan sebelum atraksi dimulai, kedua, dinyanyikan ketika dalam atraksi itu sudah ada peserta yang terkena cambukan, dan ketiga, dinyanyikan sebagai penutup atraksi. Durasi nyanyian itu cukup panjang, sekitar enam menit.

Selama berada di lokasi penelitian, kami belum pernah menyaksikan atraksi caci yang diselenggarakan oleh lembaga kesenian Wae Codi. Kelompok seni caci Desa Wae Codi terdiri atas para remaja pria. Mereka hanya akan berlatih ketika ada latihan untuk acara besar. Sementara informan kami, sejak masa remaja lebih sering mengikuti kelompok atraksi caci di luar Desa Wae Codi, untuk mengikuti perlombaan caci. Beliau menunjukkan aksesoris caci milik pribadi yang wajib dimiliki oleh setiap pemain, berupa celana panjang putih, sarung songké, ikat pinggang berbandul kerincingan, bulu-bulu yang dipasang di pinggang belakang, dan topi kulit kerbau. Cambuk rotan, perisai, dan alat musik pengiring atraksi (gong dan gendang) menjadi milik kelompok seni caci, seperti tampak pada gambar 2.9 di bawah ini.

Gambar 2.9 Atraksi caci.

Sumber: http://www.orangflores.com/tarian-caci.html

Pernah terjadi dalam suatu perlombaan, pemain caci dari kelompok lawan terkena cambukan rotan hingga tak sadarkan diri. Namun demikian, tidak ada tuntutan dari pihak yang menjadi korban cambukan tersebut. Informan pun pernah terkena cambukan, tetapi tidak parah, hanya memar-memar dan berdarah35. Konon luka itu sembuh setelah ditangani tetua kelompok caci hanya dengan mantra, tanpa disertai obat.

Atraksi caci dimaknai sebagai simbol pertobatan manusia dalam hidup, sebagaimana menyimbolkan orang Manggarai dalam mengendalikan emosi. Pasalnya, meski saling mencambuk dan biasanya bakal terluka, sopan santun dalam gerakan di arena, ucapan, dan hormat kepada lawan selalu dijaga oleh para pemain. Semua itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi orang Manggarai. Melalui semua ritual tersebut, mereka ditempa untuk selalu bersyukur dan saling menjaga ketenangan batin, serta keharmonisan antarwarga Manggarai36.

Caci berasal dari dua kata, yaitu “ca” yang berarti “satu” dan “ci”

yang berarti “uji”. Jadi, caci bermakna “ujian satu lawan satu untuk mem-buktikan siapa yang benar dan siapa yang salah”. Tak heran jika atraksi ini selalu dibawakan oleh dua penari yang bergantian dalam dua regu yang berbeda37.

Namun, ada pemaknaan yang berbeda dari yang tertulis di atas. Pemaknaan ini berasal dari kisah anonim yang menceritakan dua orang kakak beradik berjalan melewati hutan padang rumput dengan seekor kerbau yang mereka pelihara. Konon, si adik terperosok ke dalam sebuah lubang yang dalam sehingga sang kakak panik mencari apa pun yang bisa digunakan untuk menarik adiknya. Sayang, tak satu pun dapat membantu upayanya, kecuali ia harus menyembelih kerbaunya dan menggunakan ku-litnya untuk menarik sang adik. Itulah yang akhirnya ia lakukan, dan si adik terselamatkan. Untuk merayakannya, mereka menciptakan atraksi caci un-tuk memperingati rasa kasih sayang di antara keduanya. Makna cerita ini mempertegas bahwa caci bukanlah atraksi saling unjuk kekuatan atau ke-cekatan, melainkan atraksi yang menggambarkan keakraban dan persau-daraan. Atraksi ini menggambarkan suka cita masyarakat Manggarai38.

Meskipun kami tidak dapat menyaksikan atraksi caci selama tinggal di Wae Codi, kami sering mendapat ajakan untuk mengikuti goyang pesta adat atau ja’i. Dalam acara pesta sekolah ataupun pesta pernikahan, ja’i selalu menyertai sebagai penutup pesta. Gerakannya cukup sederhana dan bahkan terkesan monoton. Musik pengiring yang digunakan bukan lagi berasal dari alat musik tradisional, melainkan dari electone (instrumen modern) dengan genre musik semacam disco dan hip-hop.

36 Sumber: http://vinadigm.wordpress.com/artikel-artikel-lepas/tentang-caci-tarian-rakyat-mangga-rai/

37 Sumber: http://www.indonesia.travel/id/destination/106/taman-nasional-komodo/article/194/ tari-caci-menyaksikan-keseruan-tarian-perang-khas-manggarai

2.7.3 Kerajinan Tangan

Beberapa orang di antara kaum perempuan Wae Codi menekuni kerajinan tenun songké. Mereka menggunakan peralatan tenun yang terbuat dari kayu, namun membuat motif secara manual dengan menjelujurkan benang warna satu per satu dan mengikatnya pada setiap akhir motif (Gambar 2.10). Warna dasar kain tenun adalah warna hitam, yang melambangkan keabadian, keteguhan, dan kepasrahan bahwa semua manusia pada akhirnya akan kembali kepada Yang Mahakuasa. Motif yang terdapat pada seulas kain songké beraneka macam, seperti motif ranggõng (laba-laba), ju’i (garis batas), ntala (bintang), wéla runu (bunga runu), dan wéla kawõng (bunga kawõng).

Gambar 2.10 Seorang perempuan sedang menenun (pandé dêdang) dan kain songké yang sudah selesai ditenun, tetapi belum dijahit menjadi sarung.

Kain tenun songké pada umumnya dijahit menjadi sarung yang ukurannya lebih besar daripada ukuran sarung produksi pabrik. Harga sebuah sarung songké sekitar Rp400.000,00, bahkan dapat lebih mahal lagi. Bagi kami, harga sarung itu setara dengan tingkat kesulitan dalam proses pembuatannya. Sebuah sarung songké dapat diselesaikan paling cepat tiga minggu, jika tanpa diselingi kesibukan lainnya.

Seperti sebuah kewajiban yang tersirat, setiap orang Manggarai harus mempunyai sarung songké yang mesti dikenakan untuk mengikuti acara-acara adat atau acara keagamaan. Anak-anak mulai mengenakan sarung songké saat acara sambut baru39. Para perempuan mengenakan sarung songké dengan pakaian atasan semacam baju kebaya, tidak lagi 39 Acara sambut baru merupakan acara penerimaan hosti/komuni pertama pada seorang anak dalam

mengenakan baju bodo seperti yang disebutkan sebagai pakaian adat Manggarai. Sementara para laki-laki mengenakan sarung songké dengan pakaian atasan berupa kemeja atau bahkan jas, dilengkapi juga dengan peci tenun bermotif.

Aksesoris yang melekat pada tubuh perempuan Wae Codi pada umumnya berupa cincin (kawin) yang berwarna silver. Jarang kami temui perempuan yang mengenakan aksesoris lengkap dalam aktivitas kesehariannya. Saat menghadiri suatu pesta, beberapa di antara mereka mengenakan aksesoris lengkap yang tidak berwarna gold ataupun silver, tetapi cenderung bercorak warna-warni. Hal-hal yang berhubungan dengan aesthetic (perawatan tubuh/kecantikan) sepertinya kurang mereka perhatikan.

Dokumen terkait