BAB IV : HUBUNGAN KETENTUAN DAFTAR NEGATIF INVESTASI
B. Kesepakatan Perdagangan Internasional Terkait dengan Kegiatan
penanaman modal, akan tetapi terdapat setidaknya dua kesepakatan yang terkait langsung dengan peraturan penanaman modal, yakni Agreement on Trade Related Investment Measures dan Agreement on Trade in Service, yang kemudian menghasilkan kesepakatan Domestic Regulations.145
145Asmin Nasution, Transparansi Dalam Penanaman Modal, (Medan: Pustaka Bangsa Press, 2008), hal. 15
1. Agreement on Trade Related Invesment Measures (Agreement on TRIMs) Pada prinsipnya kesepakatan ini mengatur larangan performance requirement
yang tidak konsisten dengan Article XI GATT (quantitative restriction) dalam peraturan penanaman modal. Agreement on TRIMs tidak mengatur dengan tegas bentuk performance requirement yang tidak konsisten dengan Article III dan Article
XI GATT. Direktur Jenderal GATT kemudian merumuskan illustrative list dari
agreement berisi bentuk-bentuk performance requirement yang tidak konsisten dengan Article III.4 dan XI.1 GATT sebagai berikut:146
1. Persyaratan penanaman modal yang tidak sejalan dengan keharusan perlakuan sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal III.4 GATT 1994:
a. pembelian atau penggunaan produk-produk yang berasal dari dalam negeri atau dari sumber dalam negeri lainnya dirinci menurut produk-produk tertentu, volume atau nilai barang produk, atau menurut perbandingan dari volume atau nilai produksi lokal; atau
b. pembelian atau penggunaan produk impor oleh perusahaan dibatasi sampai jumlah tertentu dikaitkan dengan volume atau nilai produksi lokal yang diekspor.
2. Persyaratan penanaman modal yang tidak sejalan dengan keharusan penghapusan pembatasan kuantitatif, sebagaimana diatur dalam Pasal XI ayat (1) GATT 1994:
146
a. impor produk yang dipakai dalam proses produksi atau terkait dengan produksi lokalnya secara umum atau senilai produk yang diekspor oleh perusahaan yang bersangkutan;
b. impor produk yang dipakai dalam atau terkait produksi lokal dengan membatasi aksesnya terhadap devisa luar negeri sampai jumlah yang terkait dengan dengan devisa yang dimasukkan oleh perusahaan yang bersangkutan; c. ekspor atau penjualan untuk ekspor apakah dirinci menurut produk-produk
khusus, menurut volume atau nilai produk-produk atau menurut perbandingan volume atau nilai dari produksi lokal perusahaan yang bersangkutan”.
Agreement on TRIMs tidak melarang semua bentuk performance requirement
yang dipersyaratkkan dalam penanaman modal, tetapi hanya bentuk-bentuk persyaratan tertentu saja yang dapat menghambat perdagangan barang internasional.
Performance requirement lain seperti persyaratan tenaga kerja, bidang usaha, komposisi kepemilikan saham asing, alih teknologi, insentif investasi, divestasi, dan nasionalisasi belum tersentuh oleh agreement tersebut.147
2. General Agreement on Trade in Services (GATS)
GATS terkait dengan peraturan penanaman modal, karena salah satu modus perdagangan jasa dilakukan dengan cara kehadiran komersial (commercial presence) pemasok jasa ke negara host country. GATS tidak secara tegas menyebutkan bentuk-bentuk kebijakan penanaman modal yang bertentangan dengan prinsip perlakuan
nasional. Article II GATS menetapkan bahwa setiap negara anggota harus dengan segera dan tanpa syarat memberikan perlakuan yang tidak berbeda (no less favourable) kepada jasa-jasa dari negara lain dibandingkan dengan perlakuan yang diberikan kepada pemasok jasa dari negara lainnya.148
Komitmen liberalisasi penanaman modal sektor jasa dalam sistem GATT bersifat progresif. Pengakuan terhadap kewajiban perlakuan nasional tidak menyebabkan negara-negara wajib memberikan perlakuan terhadap pemasok jasa asing identik dengan perlakuan yang mereka berikan kepada pemasok jasa domestik. Karena perlakuan sama ini tidak berlaku secara luas, akan tetapi pada sektor-sektor usaha beserta syarat-syarat yang dalam daftar komitmen positive list. Penerapan kewajiban perlakuan sama terhadap pemasok jasa dari semua negara berdasarkan
most favoured nation dan national treatment, masih dimungkinkan untuk menyimpang berdasarkan Article II, Excemption GATS, dengan ketentuan harus dimuat dalam Specific of Commitment (SoC) dan berlaku dalam jangka waktu paling lama 10 Tahun dan direview setiap 5 tahun.149
Dengan demikian, komitmen yang diterapkan secara awal ditentukan secara bertahap masing-masing negara dalam positive list dan negara tersebut menentukan sejauh mana keterbukaan yang akan diberikan yang dilakukan melalui proses negoisasi. Apabila suatu negara telah membuka suatu sektor, maka prinsip MFN harus diberlakukan. Dengan pendekatan ini sebenarnya dalam keadaan-keadaan
148
Ibid., hal. 122.
tertentu masih dapat dilakukan perbedaan antara pelaku penanaman modal asing dengan lokal/nasional.150
3. Domestic Regulations
Domestic Regulations adalah peraturan perundang-undangan nasional yang berisikan antara lain ketentuan-ketentuan umum GATS, untuk mengatur ketentuan-ketentuan administratif maupun prosedural terkait sektor-sektor jasa yang telah dinyatakan dalam Specific of Commitment. Domestic Regulations juga dapat memuat ketentuan-ketentuan tentang Qualifications Requirements and Procedures, Technical Standard dan Licensing Procedure and Requirement.151
Negara-negara anggota World Trade Organization (WTO) menyadari bahwa
Domestic Regulations tersebut dapat saja muncul atau dipergunakan sebagai hambatan-hambatan dalam perdagangan jasa. Oleh karena itu, dalam Article VI: 4 GATS menetapkan bahwa untuk menjamin agar tindakan yang terkait dengan persyaratan dan prosedur, standar lisensi dan persyaratan perijinan bukan digunakan sebagai hambatan perdagangan. Dewan Perdagangan Jasa harus, melalui lembaga-lembaga tertentu yang mungkin dibentuk, menetapkan ketentuan-ketentuan (disiplin)
150Ibid.
151Bismar Nasution, “Penerapan Good Governance Dalam Menyambut Domestic
Regulations WTO”, Disampaikan pada Acara Diskusi Mengenai Domestic Regulations-WTO, yang diadakan oleh Bank Indonesia, tanggal 21 Juni 2007, Jakarta, hal. 1-2.
yang diperlukan. Ketentuan-ketentuan tersebut ditujukan untk memastikan bahwa peryaratan-persyaratan yang ditentukan oleh suatu negara-negara peserta:152
a. Didasarkan pada kriteria yang objektif dan transparan, misalnya kesanggupan dan kemampuan untuk menyediakan jasa;
b. Tidak lebih berat daripada yang semestinya untuk menjamin kualitas jasa-jasa; c. Dalam hal prosedur perijinan, bukan merupakan hambatan dalam supply
jasa-jasa.
C. Hubungan Ketentuan Daftar Negatif Investasi dengan Kesepakatan Perdagangan Internasional
Suatu perjanjian perdagangan internasional mengikat berdasarkan kesepakatan para pihak yang membuatnya. Oleh karena itu, sebagaimana halnya perjanjian internasional pada umumnya, perjanjian perdagangan internasional pun hanya akan mengikat suatu negara apabila negara tersebut sepakat untuk menandatangani dan meratifikasinya.153
Masuknya Indonesia sebagai anggota WTO berdasarkan UU Nomor 7 Tahun 1994 membawa konsekwensi hukum berupa kewajiban untuk menyesuaikan peraturan perundang-undangan nasionalnya dengan kesepakatan-kesepakatan WTO
152
Ibid., hal. 2.
153
yang telah diratifikasi dan menjamin bahwa peraturan perundang-undangan nasional yang telah disesuaikan tersebut dapat dilaksanakan.154
Meskipun WTO tidak mengatur secara komprehensif kesepakatan bidang penanaman modal, akan tetapi terdapat setidaknya dua kesepakatan yang terkait langsung dengan peraturan penanaman modal, yakni Agreement on Trade Related Measures dan Agreement on Trade in Services yang kemudian menghasilkan kesepakatan Domestic Regulations.155
Terkait kedua agreement tersebut, maka yang perlu diperhatikan adalah ketentuan mengenai syarat-syarat penanaman modal yang diterapkan oleh Pemerintah Indonesia dalam berbagai peraturan penanaman modal. Jangan sampai syarat-syarat penanaman modal tersebut bertentangan dengan Agreement on TRIMs, GATS serta
Domestic Regulations.156
Indonesia pada saat ini telah memiliki sebuah undang-undang penanaman modal yang baru dengan diundangkannya UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UU PM) pada tanggal 29 Maret 2007. UU ini disusun dengan memperhatikan perubahan perekonomian global dan keikutsertaan Indonesia dalam berbagai kerja sama internasional, sehingga perlu didorong terciptanya iklim penanaman modal yang kondusif, promotif, memberikan kepastian hukum, keadilan dan efisien dengan tetap mengacu pada kepentingan ekonomi nasional. Setidaknya ada tiga hal penting yang diperintahkan dalam konsideran UU ini, yakni: (1). tujuan
154Asmin Nasution, op. cit., hal. 14-15.
155
Ibid., hal. 15.
yang ingin dicapai dalam penataan penanaman modal adalah kepentingan ekonomi nasional, (2). terciptanya iklim penanaman modal yang kondusif dan berkepastian hukum, (3). harmonisasi peraturan penanaman modal dengan perubahan perekonomian global dan kewajiban internasional Indonesia dalam berbagai kerjasama internasional dengan tetap mengacu kepada kedaulatan politik dan ekonomi nasional.157
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal dibangun atas pendekatan yang sama dengan undang-undang penanaman modal di negara sedang berkembang pada umumnya. Undang-Undang ini memberi kesempatan yang lebih luas kepada investor asing (sebagian besar orang menyebutnya “sangat liberal”) dan menjamin adanya perlakuan sama antara penanaman modal asing dengan penanaman modal dalam negeri dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional. Artinya, undang-undang ini tetap membuka ruang yang luas bagi pemerintah untuk menetapkan persyaratan-persyaratan tertentu kepada penanaman modal asing untuk menjaga kepentingan nasional. Landasan filosofis dari UU ini juga menegaskan bahwa pelaksanaan penanaman modal tetap menjunjung tinggi kedaulatan politik Negara Kesatuan Republik Indonesia .158
Dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal perlakuan sama bagi penanam modal asing (PMA) dan penanam modal dalam negeri (PMDN) dijadikan sebagai kebijakan dasar penanaman modal di Indonesia. Hal
157Hendrik Budi Untung, op. cit., hal. 112.
158
Mahmul Siregar, “UUPM dan Penyelesaian Sengketa PerdaganganInternasional dalam Kegiatan Penanaman Modal”, Jurnal Hukum Bisnis. Volume 26/No. 4/Tahun 2007.
tersebut dapat kita lihat dalam Pasal 4 ayat (2), dimana dikatakan: “Dalam menetapkan kebijakan dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pemerintah memberi perlakuan sama bagi penanam modal dalam negeri dan penanam modal asing dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional.”159
Namun apabila dicermati secara menyeluruh sebenarnya Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal tidaklah memberikan perlakuan yang benar-benar sama antara PMA dan PMDN. Hal tersebut dapat kita lihat dalam penerapan syarat penanaman modal dalam hal bidang usaha.
Dalam Pasal 12 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, disebutkan:160
1. Semua bidang usaha atau jenis usaha terbuka bagi kegiatan penanaman modal, kecuali bidang usaha atau jenis usaha yang dinyatakan tertutup dan terbuka dengan persyaratan.
2. Bidang usaha yang tertutup bagi penanaman modal asing adalah: a. produksi senjata, mesiu, alat peledak, dan peralatan perang; dan
b. bidang usaha yang secara eksplisit dinyatakan tertutup berdasarkan undang-undang.
3. Pemerintah berdasarkan Peraturan Presiden menetapkan bidang usaha yang tertutup untuk penanaman modal, baik asing maupun dalam negeri, dengan
159
Undang-Undang Penanaman Modal, op. cit., Psl. 4 ayat (2).
berdasarkan kriteria kesehatan, moral, kebudayaan, lingkungan hidup, pertahanan dan keamanan nasional, serta kepentingan nasional lainnya.
4. Kriteria dan persyaratan bidang usaha yang tertutup dan terbuka dengan persyaratan serta daftar bidang usaha yang tertutup dan yang terbuka dengan persyaratan masing-masing akan diatur dengan Peraturan Presiden.
5. Pemerintah menetapkan bidang usaha yang terbuka dengan persyaratan berdasarkan kriteria kepentingan nasional, yaitu perlindungan sumber daya alam, perlindungan, pengembangan usaha mikro, kecil, menengah dan koperasi, pengawasan produksi dan distribusi, peningkatan kapasitas teknologi, partisipasi modal dalam negeri, serta kerja sama dengan badan usaha yang ditunjuk Pemerintah.
Sebagai tindak lanjut terhadap Pasal 12 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2010 tentang Daftar Bidang Usaha Yang Tertutup dan Bidang Usaha Yang Terbuka Dengan Persyaratan Di Bidang Penanaman Modal (Perpres Nomor 36 Tahun 2010) yang selanjutnya disebut dengan Daftar Negatif Investasi (DNI).
Berkaitan dengan pengaturan DNI, pemerintah juga telah mengeluarkan pengaturan mengenai kriteria dan persyaratan bidang usaha yaitu Peraturan Presiden Nomor 76 Tahun 2007 tentang Kriteria dan Persyaratan Penyusunan Bidang Usaha
yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka Dengan Persyaratan Di Bidang Penanaman Modal (Perpres Nomor 76 Tahun 2007).
Adapun hubungan ketentuan Daftar Negatif Investasi (DNI) yang merupakan peraturan pelaksana dari Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal dengan kesepakatan perdagangan internasional, yakni terletak pada kewajiban Indonesia untuk menyesuaikan setiap peraturan perundang-undangan nasionalnya dengan kesepakatan-kesepakatan yang ada dalam WTO. Dimana dengan adanya kewajiban tersebut maka persyaratan-persyaratan yang ada dalam Daftar Negatif Investasi (DNI) harus lah sesuai dan tidak boleh bertentangan dengan kesepakatan-kesepakatan yang ada dalam WTO.
Apabila dilihat kesepakatan-kesepakatan perdagangan internasional yang ada dalam WTO tidak ada satu ketentuan pun yang melarang pemerintah negara penerima modal (host country) untuk menerapkan pembatasan bidang usaha dalam kebijakan penanaman modalnya. Yang perlu mendapat perhatian adalah persyaratan-persyaratan dalam bidang usaha yang dibuka untuk penanaman modal tidak boleh melanggar komitmen liberalisasi yang disetujui oleh pemerintah negara penerima modal (host country) dalam rangka persetujuan WTO.
Dan bila dilihat persyaratan yang ada dalam Daftar Negatif Investasi (DNI) yang dimuat dalam Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2010 dan dalam Peraturan Presiden yang sebelumnya yakni Peraturan Presiden Nomor 77 Tahun 2007 dan Perpres Nomor 111 Tahun 2007 dapat dikatakan bahwa persyaratan- persyaratan ada
di dalamnya secara umum masih harmonis dengan ketentuan-ketentuan perdagangan internasional yang ada, baik itu TRIMs, GATS, dan Domestic Regulations.
Agreement on TRIMs melarang performance requirement yang tidak konsisten dengan Article III dan XI GATT. Tetapi tidak melarang persyaratan penanaman modal lainnya seperti kewajiban joint venture, pembatasan pemilikan saham asing, kemitraan dengan UKMK, alih teknologi dan persyaratan-persyaratan berkenaan dengan upaya melindungi lingkungan hidup. Persyaratan-persyaratan yang demikian termasuk pada non-cross border issues yang pelaksanaannya tergantung pada kebutuhan pembangunan ekonomi negara host country.161
Sedangkan menurut GATS pemberlakuan persyaratan yang dilakukan oleh
host country pada fase entryappropal (perusahaan belum berdiri) tidak bertentangan dengan GATS, oleh karena itu kebijakan Daftar Negatif Investasi (DNI) dapat dikatakan tidaklah bertentangan, karena pemberlakuan persyaratan yang ada dalam Daftar Negatif Investasi (DNI) dilakukan pada saat perusahaan belum berdiri.
Dan dalam hubungannya dengan Domestic Regulations, Daftar Negatif Investasi (DNI) dapat dikatakan tidak bertentangan. Karena Daftar Negatif Investasi tidak bertentangan dengan apa yang diatur dalam Article VI: 4 GATS.
161
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari hasil pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Lahirnya Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal dapat dikatakan merupakan suatu kemajuan besar dalam kegiatan penanaman modal asing secara langsung (foreign direct investment) di Indonesia. Berbagai pengaturan penting yang terkait erat dengan upaya peningkatan investasi asing dari sisi pemerintah dan kepastian berinvestasi dari sisi penanam modal/ investor, seperti; bentuk badan usaha dalam melaksanakan penanaman modal, asas dan tujuan penanaman modal, bidang usaha yang boleh dimasukin bagi kegiatan penanaman modal asing, perizinan, pemberian fasilitas, hak dan kewajiban penanam modal, serta cara penyelesaian sengketa telah diatur di dalamnya. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 juga memuat kebijakan dasar yang menjamin pemberian perlakuan yang sama bagi penanam modal asing (PMA) dan penanam modal dalam negeri (PMDN).
2. Kebijakan Daftar Negatif Investasi (DNI) tidak dapat diberlakukan terhadap penanaman modal asing yang dilakukan melalui Pasar Modal, karena Daftar
Negatif Investasi (DNI) merupakan peraturan pelaksana dari Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal dan hanya berlaku terhadap kegiatan penanaman modal asing yang dilakukan secara langsung (foreign direct investment). Hal tersebut telah dipertegas pula dalam Pasal 4 Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2010 tentang Daftar Bidang Usaha Yang Tertutup dan Bidang Usaha Yang Terbuka Dengan Persyaratan Di Bidang Penanaman Modal.
3. Kebijakan Daftar Negatif Investasi (DNI) dapat dikatakan tidak bertentangan dengan kesepakatan-kesepakatan perdagangan internasional, seperti TRIMs,
GATS, dan Domestic Regulations. Karena tidak ada satu pun ketentuan yang ada dalam World Trade Organization (WTO) yang melarang pemerintah host country
untuk menerapkan pembatasan bidang usaha dalam kebijakan penanaman modalnya. Selain itu, persyaratan-persyaratan yang termuat dalam Daftar Negatif Investasi (DNI) juga tidak bertentangan dengan Article III dan XI GATT dan
Agreement on TRIMs sama sekali tidak melarang persyaratan penanaman modal seperti kewajiban joint venture, pembatasan pemilikan saham asing, kemitraan dengan UKMK, alih teknologi serta persyaratan-persyaratan lainnya yang berkenaan dengan upaya melindungi lingkungan hidup seperti persyaratan yang ada di dalam Daftar Negatif Investasi (DNI). Persyaratan-persyaratan yang termuat dalam Daftar Negatif Investasi (DNI) termasuk kategori pada fase entry appropal (perusahaan belum berdiri) dan penerapan persyaratan yang demikian sama sekali tidak bertentangan dengan GATS. Dan dalam hubungannya dengan
Domestic Regulations, Daftar Negatif Investasi (DNI) dapat dikatakan telah sesuai dengan apa yang diatur Article VI: 4 GATS.
B. Saran
Dalam hubungan dengan pembahasan skripsi tentang Tinjauan Yuridis Mengenai Kebijakan Daftar Negatif Investasi Dalam Kegiatan Penanaman Modal di Indonesia, dengan ini disampaikan beberapa saran sebagai berikut:
1. Di dalam penciptaan iklim penanaman modal yang berdaya saing hendaknya pemerintah Indonesia juga tetap memperhatikan kepentingan nasional melalui kebijakan-kebijakan penanaman modal yang diterbitkannya;
2. Selain itu pemerintah juga hendaknya harus secara cermat dan jelas menjelaskan makna dari aturan hukum yang ada agar tidak terjadi perbedaan penafsiran, sehingga dengan demikian kepastian hukum dapat terlaksana sesuai dengan apa yang diharapkan.
BAB II
POKOK-POKOK PENGATURAN PENANAMAN MODAL ASING SECARA LANGSUNG (FOREIGN DIRECT INVESTMENT) DI INDONESIA A. Pengertian, Bentuk-bentuk dan Manfaat Penanaman Modal Asing Secara
Langsung (Foreign Direct Investment) di Indonesia
1. Pengertian penanaman modal asing secara langsung (foreign direct investment)
Dikalangan masyarakat, kata investasi memiliki pengertian yang lebih luas karena dapat mencakup baik investasi langsung (direct investment) maupun investasi tidak langsung (portfolio investment), sedangkan kata penanaman modal lebih mempunyai konotasi kepada investasi langsung. Penanaman modal baik langsung atau tidak langsung memiliki unsur-unsur, adanya motif untuk meningkatkan atau setidak-tidaknya mempertahankan nilai modalnya.23
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal sebenarnya sudah membedakan secara tegas antara investasi langsung (direct investment) dan investasi tidak langsung (portfolio investment). Hal ini dapat dilihat dalam penjelasan Pasal 2 undang-undang tersebut, dimana dikatakan: “yang dimaksud dengan penanaman modal di semua sektor di wilayah negara Republik Indonesia adalah penanaman modal langsung dan tidak termasuk penanaman modal tidak langsung atau portofolio.”
23
Ida Bagus Rahmdi Supancana, Kerangka Hukum dan Kebijakan Investasi Langsung di Indonesia,(Jakarta: PT. Ghalia Indonesia, 2006), hal. 1.
Investasi secara langsung selalu dikaitkan adanya keterlibatan secara langsung dari pemilik modal dalam kegiatan pengelolaan modal.24 Dalam penanaman modal secara langsung, pihak investor langsung terlibat dalam kegiatan pengelolaan usaha dan bertanggung jawab secara langsung apabila terjadi suatu kerugian.25
Penanaman modal asing secara langsung menurut Organization For Economic Cooperation (OEEC) memberikan rumusan bahwa direct investment is meant acquisition of sufficient interest in an under taking to ensure its control bythe investor (suatu bentuk penanaman modal asing dimana penanam modal diberi keleluasaan penguasaan dan penyelenggaraan pimpinan dalam perusahaan dimana modalnya ditanam, dalam arti bahwa penanam modal mempunyai penguasaan atas modalnya).26
Penanaman modal asing secara langsung juga memberikan pengertian bahwa bagi pemodal asing yang ingin menanamkan modalnya secara langsung, maka secara fisik pemodal asing hadir dalam menjalankan usahanya. Dengan hadirnya atau tepatnya dengan didirikannya badan usaha yang berstatus sebagai penanaman modal asing , maka badan usaha tersebut harus tunduk pada ketentuan hukum di Indonesia.
24Dhaniswara K. Harjono, Hukum Penanaman Modal: Tinjauan terhadap Pemberlakuan UU No.25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal, (Jakarta: PT. Raharja Grafindo Persada, 2007), hal. 12.
25
N. Rosyidah Rakhmawati, Hukum Penanaman Modaldi Indonesia DalamMenghadapi Era Global, (Malang: Bayumedia Publishing, 2003), hal. 11.
26
Hulaman Panjaitan dan Anner Sianipar, Hukum Penanaman Modal Asing, (Jakarta: CV. Indhill Co, 2008), hal. 41.
Pengertian yang agak luas dari foriegn direct investment terdapat pada
Encyclopedia of Public International Law yang merumuskan foreign direct investment sebagai berikut:
“ A transfer of funds or materials from one country (called capital exporting country) to another country (called host country) in return for a direct participation in the earnings of that enterprise.”27
Menurut Munir Fuady, penanaman modal asing secara langsung dilihat dalam arti sempit. Yang dimaksudkan adalah model penanaman asing yang dilakukan dengan mana pihak asing atau perusahaan asing membeli langsung (tanpa lewat pasar modal) saham perusahaan nasional atau mendirikan perusahaan baru, baik lewat Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) atau lewat departemen lain.28
2. Bentuk-bentuk penanaman modal asing secara langsung
Dalam Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal telah ditentukan secara jelas tentang bentuk hukum perusahaan penanaman modal asing. Penanaman modal asing wajib dalam bentuk perseroan terbatas. Secara lengkap, bunyi Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman modal:
27Sentosa Sembiring, op. cit., hal. 3.
28
Munir Fuady, Pengantar Hukum Bisnis: Menata Bisnis Modern di Era Global, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2008), hal. 67.
“penanaman modal asing wajib dalam bentuk perseroan terbatas berdasarkan hukum Indonesia dan berkedudukan di wilayah negara Republik Indonesia, kecuali ditentukan lain oleh undang-undang.”29
Unsur yang melekat dalam ketentuan ini meliputi:30
1. bentuk hukum dari perusahaan penanaman modal asing adalah perseroan terbatas (PT);
2. didasarkan pada hukum Indonesia;
3. berkedudukan di wilayah Negara Republik Indonesia.
Penanaman modal asing di Indonesia dapat dilakukan oleh pihak asing/perorangan atau badan hukum ke dalam suatu perusahaan yang seratus persen diusahakan oleh pihak asing atau dengan menggabungkan modal asing itu dengan modal nasional.
Menurut Ismail Suny ada 3 (tiga) macam kerjasama antara modal asing dengan modal nasional berdasarkan undang-undang penanaman modal asing No. 1 Tahun 1967 yaitu joint venture, joint enterprise dan kontrak karya.31 Dalam hal joint venture para pihak tidak membentuk badan hukum yang baru, akan tetapi kerjasama