• Tidak ada hasil yang ditemukan

SIMPULAN DAN SARAN

5.1.5 Kesesuaian sebagai Bahan Ajar

Aspek dari nilai-nilai budaya dalam cerita tersebut pada dasarnya dapat dijadikan sebagai bahan ajar dan sesuai untuk pengajaran pada siswa/siswi SMP. Sebab tingkat keterbacaan nilai-nilai budaya tersebut mencapai 69,29%. Ini berarti

Dengan demikian peran dan bimbingan guru dalam pembelajaran hampir tidak diperlukan lagi.

Isi struktur dalam cerita tersebut berdasarkan pengukuran hanya mencapai 34,99%. Dengan hasil tersebut bermakna cerita itu untuk dijadikan bahan ajar cukup sulit dan memerlukan banyak bimbingan serta peran guru dalam membimbing siswa untuk memahami isi cerita. Dengan demikian, isi struktur dikategorikan pada frustration level.

Pada aspek kebahasaan tingkat keterbacaan mencapai 80,95%. Pada dasarnya cerita tersebut dapat dijadikan sebagai bahan ajar dan sesuai untuk pengajaran sebab tingkat keterbacaan cukup tinggi. Dengan demikian, peran dan bimbingan guru dalam pembelajaran hampir tidak diperlukan lagi karena dapat dikategorikan bahan ajar yang mudah, yaitu pada tahap independent level.

5.2 Saran

Pada dasarnya untuk peningkatan kualitas pembelajaran apresiasi sastra, sekolah perlu menyediakan dan memberikan fasilitas yang memadai berupa penyediaan sumber bacaan sastra terutama karya sastra lama. Sebab pada umumnya diperpustakaan sekolah hampir tidak ditemukan bahkan tidak ada sama sekali buku karya sastra terutama syair. Padahal fasilitas seperti buku-buku karya sastra dari sekolah sangat menunjang akan keberhasilan pembelajaran apresiasi sastra terutama mengenai pembelajaran sastra lama, yaitu pada pokok bahasan atau materi syair. Padahal Syair Abdul Muluk sudah diteliti melalui kajian Filologi

Untuk itu, sebenarnya permasalahan ini tidak hanya sekolah yang bertanggung jawab namun pemerintah juga turut memegang peranan yang cukup besar untuk pendidikan umumnya dan pengajaran apresiasi sastra khususnya.

Selain itu untuk menentukan sumber bahan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan situasi para siswa/siswi, guru yang mengajarkan apresiasi sastra perlu bahkan harus memiliki gambaran mengenai tingkat keterbacaan bahan tersebut. Selanjutnya agar bahan ajar tersebut tercapai atau terserap oleh siswa sebagai peserta pembelajar maka mengenai tingkat keterbacaan nilai-nilai budaya, isi struktur, maupun kebahasaan yang terkandung di dalam bahan ajar (karya sastra) harus mendapat perhatian. Jika telah diketahui oleh pengajar maka secara tidak langsung akan berusaha membimbing para siswa dalam pembelajaran dengan semaksimal mungkin.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Ghazali, Abu Hamid. 2002. Etika Islami Bimbingan Awal Menuju Hidayat Ilahi. (Terjemahan Abdullah Zakiy Al-Kaaf). Bandung: Pustaka Setia. Aji, Antonius W.T. 2004. ”Keterbacaan Isi, Kebahasaan, dan Nilai Budaya di

dalam Cerita Pendek oleh Siswa SMA”. Bandung: Tesis UPI tidak Diterbitkan.

Aminuddin. 2004. Pengantar Apresiasi Karya sastra. Bandung: Sinar Baru. Badan Standar Nasional Pendidikan. 2007. Model Silabus dan Rencana

Pelaksanaan Pembelajaran. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Dikdasmen.

Budisantoso,dkk.. 1986. Masyarakat Melayu Riau dan Kebudayaannya. Pekanbaru: Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Riau

Badudu, J.S. Tanpa tahun. Sari Kesusastraan Indonesia. Tanpa tempat terbit: Tanpa Penerbit.

Badudu, J.S. 1984. Sari Kesusastraan Indonesia 1. Bandung: Pustaka Prima. Badudu, J.S 1984. Sari Kesusastraan Indonesia 2. Bandung: Pustaka Prima. Barid, St. Baroroh, dkk. 1985. Memahami Hikayat. Jakarta: Pusat Pembinaaan

dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Braginsky, V. I. 1998. Yang Indah, Berfaedah dan Kamal Sejarah Sastra Melayu

dalam Abad 7-19. Jakarta: INIS.

Braginsky, V. I. 1993. Tasawuf dan Sastra Melayu: Kajian dan Teks-teks. Jakarta: RUL.

Chaer, Abdul. 1995. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Djajasudarma, Fatimah. 1993. Semantik 1 Pengantar ke Arah Ilmu Makna. Bandung: PT Eresco.

Djajasudarma, Fatimah. 1993. Semantik 2 Pemahaman Ilmu Makna. Bandung: PT Eresco.

Damono, S.D. 1984. Sosiologi Sastra Pengantar Ringkas. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Danandjaja, James. 1994. Folklor Indonesia Ilmu Gosip, Dongeng dan Lain-lain. Jakarta: Pustaka Utama Grafiri.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Nasional. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Depdiknas. 2003. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Pelajaran Bahasa Indonesia SMP dan MTs. Jakarta: Departeman Pendidikan Nasional. Djamaris, Edwar. 1993. Menggali Khazanah Sastra Melayu Klasik. Jakarta: Balai

Pustaka.

Djamaris, Edwar.2002. Pengantar Sastra Rakyat Minangkabau. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Djahiri, A Kosasih. 1989.Teknik Pengembangan Program Pengajaran Pendidikan Nilai Moral. Bandung:Lab. PMPKn FPIPS IKIP Bandung.

Emeis, M. G. 1949. Bunga Rampai Melaju Kuno. Jakarta: J. B. Wolter- Groningen.

Endraswara, Suwardi. 2005. Metode dan Teori Pengajaran Sastra Berwawasan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Yogyakarta: Buana Pustaka.

Esten, M. 2000. Kesusastraan Pengantar Teori dan Sejarah. Bandung: Angkasa. Fang, Liaw Yock. 1993. Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik 1. Jakarta:

Erlangga.

Fang, Liaw Yock. 1993. Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik 2. Jakarta: Erlangga.

Faruk. 2005. Pengantar Sosiologi Sastra dari Strukturalisme Genetik sampai Post-Modernisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Guillot, Claude dan Ludvik Kalus. 2007. Batu Nisan Hamzah Fansuri. (Terjemahan Rita Parasman). Bogor: Grafika Mardi Yuana.

Hadi, Abdul. 2001. Tasawuf yang Tertindas Kajian Hermeneutik terhadap Karya-karya Hamzah Fansuri. Jakarta: Paramadina.

Haryati, Mimin. 2007. Model dan Teknik Penilaian pada Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Gaung Persada Press.

http//www.melayuonline.com. uraian syair, [27 September 2007]. http://www.riaulingga.com, [30 Nopember 27].

Haryono, Eko. 2005. “Integrasi Nilai Moral Pada Karya Seni Rupa”. (Tinjauan Deskriptif Analisis Nilai-nilai Moral pada Lukisan Karya Popo Iskandar). Bandung: Tesis UPI tidak Diterbitkan

Hendrayani, Eulis. 2003. “Kajian Nilai Budaya dalam Buku Kumpulan Puisi Karya Rendra” (Tinjauan Deskriftif-Analitis terhadap Puisi-puisi Karya Rendra untuk Kepentingan Penyusunan Model Bahan Pembelajaran Puisi di SMA). Bandung: Tesis UPI tidak Diterbitkan.

Hooykaas, C. 1951. Perintis Sastra. Terjemahan Rathoel Amar Gelar Datoek Besar. Jakarta: J. B. Wolter- Groningen.

Ikram, Achdiati. 1997. Filologi Nusantara. Jakarta: PT AKA.

Iskandar, Teuku. 1996. Kesusasteraan Klasik Melayu Sepanjang Abad. Jakarta: Libra.

Isman, Muhammad. 1999. “Syair Nasuha: Sebuah Kajian Filologi”. Bandung: Tesis Unpad tidak Diterbitkan.

Jamin dan Tasat. 1978. Syair Anggun Cik Tunggal. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Jaruki, Muhammad. 1999. Syair Sari Baniyan (Syair Selendang Delima). Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Karim, Maizar. 1994. “Syair Abdul Muluk: Kajian Filologi”. Bandung: Tesis Unpad tidak Diterbitkan.

Keraf, Gorys. 1991. Tatabahasa Indonesia. Flores: Nusa Indah.

Koentjaraningrat. 1977. Metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: Gramedia.

Koentjaraningrat. 1990. Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia.

Kosasih. 1999. “Nilai-nilai Moral Dalam Karya Sastra Melayu Klasik Islam” (Analisis Deskriptif terhadap Hikayat Raja Khaibar, Hikayat Raja Saif Zulyazan, dan Hikayat Mariam Zanariah dan Nurdin Masri). Bandung: Tesis UPI tidak Diterbitkan.

Mahayana, Maman S. 2005. Jawaban Sastra Indonesia Sebuah Orientasi Kritik. Jakarta: Bening Publishing.

Munawar, Tuti. 1978. Syair Bidasari (Transliterasi). Jakarta: Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Muzakki, Akhmad. 2006. Kesusastraan Arab Pengantar Teori dan Terapan. Jogjakarta: Ar-Ruzz M.

Nurgiyantoro, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Gadjah Mada University Press.

Rahmanto, B. 1988. Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Kanisius. Ramlan, M. 1987. Morfologi Suatu Tinjauan Deskriptif. Yogyakarta: CV

Karyono.

Rasjid, Harun .1980. Syair Alam Kubur. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Ratna, Nyoman Kutha. 2007a. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra: dari Strukturalisme hingga Postrukturalisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Ratna, Nyoman Kutha. 2007b. Sastra dan Cultural Studies: Representasi Fiksi

dan Fakta. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ratna, Nyoman Kutha. 2003. Paradigma Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Robson, S. O. 1994. Prinsip-prinsip Filologi Indonesia. Terjemahan Kentjanawati Gunawan. Jakarta: RUL.

Rosidi, Ajip. 1994. Sastera dan Budaya Kedaerahan dalam Keindonesiaan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Rusyana, Yus. 1984. Bahasa dan Sastra dalam Gamitan Pendidikan. Bandung: CV Diponegoro.

Rusyana, Yus. 1982. Metode Pengajaran Sastra. Bandung: Gunung Larang. Rusyana, Yus. 1979. Novel Sunda Sebelum Perang. Jakarta: Pusat Pembinaan dan

Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Rusyana, Yus. 1999. “Sastra Klasik Milik Bangsa Indonesia”. Jakarta: Dimuat dalam surat kabar Media Indonesia (30 Desember 1999).

Rusyana, Yus. 2000. “Memperlakukan Sastra Berbahasa Indonesia dan Sastra Berbahasa Daerah Sebagai Sastra Milik Nasional” . Makalah Pertemuan Ilmiah Nasional XI Himpunan Sarjana- Kesustraan Indonesia. Solo. Rusyana, Yus. 2002. “Naskah Nusantara Dalam Pendidikan Kesastraan Di

Indonesia”. Makalah Seminar Internasional Bahasa dan Sastra Indonesia dengan Dewan Bahasa dan Pustaka, Malaysia. Bogor.

2007. Panduan Lengkap KTSP (KurikulumTingkat Satuan Pendidikan). Yogyakarta: Pustaka Yustisia.

Sardjono, Partini. 1992. Pengantar Pengkajian Sastra. Bandung: Pustaka Wina. Syamsiar, Sitti. 1989. Syair Abdul Muluk. Pekanbaru: Departemen Pendidikan dan

Kebudayaan Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara Bagian Proyek dan Pengkajian Kebudayaan Melayu.

Semi, M. Atar. 1990. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa. Semi, M. Atar. 1998. Anatomi Sastra. Padang: Angkasa Raya.

Sham, Abu Hassan. 1995. Syair-syair Melayu Riau. Kuala Lumpur: Malindo Printers Sdh. Bhd.

Siswanto, Wahyudi. 2008. Pengantara Teori Sastra. Jakarta: Gramedia.

Soeratno, Siti Chamamah.1997. “Naskah Lama dan Relevansinya dengan Masa Kini Satu Tinjauan dari Sisi Pragmatis”. Kumpulan Makalah simposium Tradisi Tulis Indonesia dengan Perpustakaan Nasional, UI dan Yayasan Lontar, Jakarta.

Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

Sugiarto, Eko. 2002. Mengenal Pantun dan Puisi Lama. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.

Sugiyono. 2007. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: CV Alfabeta. Suseno, Tusiran. 2008. Mari Berpantun. Depok: Yayasan Panggung Melayu. Suparjo, Nursinah. 1963. Kesusasteraan Indonesia. Djakarta: Tunas Mekar

Murni.

Suyitno. 1985. Teknik Pengajaran Apresiaasi Sastra dan Kemampuan Bahasa. Yogyakarta: PT Hanindita.

Teew, A. 1980. Sastra Baru Indonesia 1. Flores: Nusa Indah.

Teew, A. 1988. Sastra Baru Indonesia 1. Jakarta: PT Girimukti Pasaka. Teew, A. 1989. Sastra Baru Indonesia II. Bandung: PT Karya Nusantara.

Trisnahada. 2006. “Implementasi Pendidikan Nilai dalam Pembelajaran Sains di Madrasah Tsanawiyah”. Bandung: Tesis UPI tidak Diterbitkan.

Universitas Pendidikan Indonesia. 2007. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Bandung: UPI.

2007. UUD ’45 dan Amandemennya. Bandung: Fokusmedia. Parera, J.D. 2004. Teori Semantik. Jakarta: Erlangga.

Pradopo, Rachmat Djoko. 2005. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gajah Gadjah Mada University Press.

Wellek, R. dan Waren, A. 1993. Teori Kesusastraan. Di Indonesiakan oleh Melani Budiyatna. Jakarta: Gramedia.

Dokumen terkait