• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kesesuan Lokasi Pengembangan HTR

Dalam dokumen Desain Pembangunan Hutan Tanaman Rakyat (1) (Halaman 75-84)

BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Kesesuan Lokasi Pengembangan HTR

Dengan dasar bahwa persyaratan areal untuk bisa dijadikan areal pengembangan Hutan Tanaman Rakyat (HTR) menurut Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.55/Menhut-II/2011 adalah areal

tersebut harus berada di kawasan hutan produksi yang tidak produktif dan tidak dibebani hak.

Maka dipenelitian ini pada tahap untuk membuat kesesuain lokasi pengembangan HTR dilakukan dengan analisis spasial dengan mengekstraksi peta kawasan hutan produksi, untuk membentuk unit lahan dan membuat kelas kesesuain lahan untuk arahan penggunaan HTR. Hal tersebut didapatkan dari hasil analisis pada peta penggunaan Lahan, Aksesibilitas, dan Kelas Lereng yang berfokus pada areal HPT Kabupaten Barru. Beberapa parameter tersebut di beri bobot dengan mengunakan Skala likert. Variabel – variabel yang akan berdampak positive atau memberikan daya dukung yang baik bagi pengembangan HTR akan diberi bobot tertinggi dan begitu pula sebaliknya jika parameter tersebut tidak mendukung kearah pengembangan HTR akan diberi bobot terendah.

Dari hasil analisis spasial terhadap klasifikasi kelas bobot terhadap kesesuain pengembangan HTR tersebut didapatkan masing masing luasan kelas seperti yang ada pada Tabel 13.

Tabel 13. Kelas Kesesuain Pengembangan HTR

Kelas Luas (ha) %

Sesuai 1.095,0 6.5

Agak Sesuai 6.373,2 37.8

Tidak Sesuai 9.388,7 55.7

Masing-masing luas yang didapatkan dari hasil analisis spasial ialah kelas “Sesuai” seluas 1.095,0 ha atau sebesar 6.5% dari total luasan HPT di Kabupaten Barru. “Agak Sesuai” sebesar 6.373,2 ha atau sebesar 37.8% dan yang dikategorikan “Tidak Sesuai” sebesar 9.388,7 atau sebesar 55.7%. Sedangkan sebaran kelas tersebut dapat dilihat pada Gambar 7.

Pada Gambar 7 tersebut dapat dijelaskan bahwa pada kelas “Tidak Sesuai” memiliki faktor-faktor pembatas berdasarkan variabel penyusunnya, seperti jarak yang cukup jauh dari pemukiman terdekat, didominasi kelerengan yang cukup curam, dan areal yang masih berhutan. Dari hasil analisis yang telah dilakukan maka pada areal tersebut direkomendasikan untuk dihindari dalam pembangunan hutan tanaman rakyat karena akan menyebabkan pengelolaan hutan yang tidak optimal.

Gambar 7. Peta Kelas Kesesuain Pengembangan HTR

Pada kelas “Sesuai” dimaksudkan adalah areal yang layak dapat dikembangakan HTR berdasarkan variabel penyusunnya. Sehingga areal tersebut merupakan areal yang prioritas atau direkomendasikan untuk pembangunan hutan tanaman rakyat untuk terciptanya pengelolaannya yang optimal. Sedangkan pada kelas “Agak Sesuai” merupakan areal yang dapat dikembangkan tetapi dengan beberapa

kondisi tertentu agar dari segi pengelolaannya dapat berjalan dengan optimal.

Kondisi-kondisi tertentu yang dimaksudkan pada kelas “Agak Sesuai” ialah, pada beberapa areal yang ditemukan pada kelas lereng 25% hingga >45% dapat ditanami tanaman-tanaman yang berakar dalam sehingga mengidarkan dari erosi dan longsor, memperpendek jarak tanam, atau mengindari areal tersebut jika kemiringan lereng cukup tinggi dan bervegateasi rapat. Untuk kondisi areal yang cukup jauh dari pemukiman masyarakat, akan sangat terbantu bila kondisi jalan tersebut baik dan memiliki kendaraan yang dapat digunakan. B. Penyusunan Kelas Kesesuain Lahan untuk Kebutuhan HTR

1. Penyusunan Karakteristik Lahan

Penyusunan karekteristik lahan dengan cara penetapan satuan peta lahan (SPL). Setiap SPL akan menggambarkan karakteristik lahan yang merupakan gabungan dari sifat-sifat lahan dan lingkungannya diperoleh dari data yang tertera pada legenda peta tanah dan uraiannya, peta/data iklim dan peta topografi/elevasi. Karakteristik lahan diuraikan pada setiap satuan peta tanah (SPT) dari peta tanah, yang meliputi: bentuk wilayah/lereng, drainase tanah, kedalaman tanah, PH tanah, KTK. Data iklim terdiri dari curah hujan rata-rata tahunan dan jumlah bulan kering, serta suhu udara diperoleh dari stasiun pengamat iklim yang tergambar pada peta landsystem. Secara sistimatik dapat dilihat pada Gambar 8.

Gambar 8. Bagan Penyusunan Karakteristik Lahan

Dari hasil overlay dan analisis spasial yang dilakukan maka dapat dilihat beberapa karakteristik lahan pada setiap SPL yang berada di kawasan Hutan Produksi Terbatas Kabupaten Barru. Dari setiap SPL tersebutlah yang digunakan untuk menyamakan persyaratan beberapa jenis tanaman untuk kebutuhan pembagunan HTR di kabupaten barru Karekterisitik lahan pada setiap SPL dibuat dengan tingkatan pada tingkat semi detail disajikan pada Tabel Karekteristik lahan pada Setiap Satuan Peta Lahan (SPL) yang dapat dilihat dalam lampiran.

2. Penyusunan persyaratan tumbuh tanaman/penggunaan lahan (LURs) PERSYARATA N TANAMAN Data/Peta Iklim Curah Hujan Temperatur Data/Peta Tanah Lereng Karakteristik Tanah Data/Topografi Relief Elevasi KARAKTERISTIK LAHAN KESESUAIN LAHAN UNTUK KOMODITAS PRIORITAS LAHAN

Persyaratan tumbuh dapat diperoleh dari berbagai referensi, seperti pada Djaenudin et al. (2003). Sedangkan untuk pemilihan jenis tanaman sendiri yang dijadikan bahan untuk mencocokan dengan karakteristik lahan pada setiap SPL adalah hasil dari wawancara yang dilakukan dilapangan dan masukan peneliti terhadap beberapa kayu komersil. Jenis-jenis tanaman tersebut dapat dilihat pada Tabel14. Proses Kesesuain Lahan (Matching)

Gambar 9 & Tabel 15 memperlihatkan hasil matching antara karakteristik lahan dan persayaratan tumbuh beberapa tanaman yang berpotensi dikembangkan di HPT Kabupaten Barru. Secara umum Tanaman Jati dapat tumbuh diseluruh wilayah tersebut dengan kelas yang mendominasi ialah kelas kesesuaian lahan S2 untuk tanaman Jati.

Tabel14. Daftar Jenis tanaman yang berpontesi dikembangkan N

o. TanamanJenis PemilihJumlah Persentase % Ranking

2 Sengon 7 15.5 4 3 Jati lokal 13 28.8 1 4 Aren 4 8.8 5 5 Kemiri 11 24.4 2 Jangka Pendek 1 Jagung 15 33.3 1 2 Kacang Tanah 8 17.7 2 3 Lombok 6 13.3 4 4 Rumput gajah 6 13.3 3 5 Jahe 5 11.1 5

Gambar 9. Peta Kesesuaian Lahan HPT Kab.Barru

Untuk tanaman sengon sendiri, berdasarkan hasil analisis spasial dan proses matching yang telah dilakukan, maka didapatkan jenis sengon merupakan tanaman yang paling baik dikembangkan karena dapat tumbuh diseluruh areal HPT dan didominasi pada kelas kesesuaian lahan S1 untuk tanaman sengon tersebut. Hal serupa sama dengan tanaman semusim rumput

gajah, karena rumput gajah dapat tumbuh pada seluruh wilayah HPT di Kabupaten Barru. Dari Hasil analisis juga didapatkan rumput gajah sangat sesuai ditanam pada hampir seluruh wilayah tersebut.

Gambar 9 & Tabel 15 juga menjelaskan bahwa ada beberapa areal yang memiliki kendala pembatas terhadap tumbuhnya suatu tanaman. Kendala pembatas tersebut seperti kurangnya unsur hara yang tersedia, Kedalaman tanah dibawah 50 cm sehingga menyulitkan perakaran tanaman yang mebutuhkan lebih dari itu, kondisi lereng yang sangat curam diatas 45% pada beberapa areal, dan kekurangan unsur hara.

C. Evaluasi Kondisi Eksisting HTR terhadap Kesesuian Lahan

Dalam dokumen Desain Pembangunan Hutan Tanaman Rakyat (1) (Halaman 75-84)

Dokumen terkait