• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Tinjauan Teoritis Tentang Film 1. Pengertian Film

Film adalah gambar hidup, juga sering disebut movie. Film, secara kolektif, sering disebut sinema. Sinema itu sendiri bersumber dari kata kinematik atau gerak. Film juga sebenarnya merupakan lapisan-lapisan cairan selulosa, biasa di kenal di dunia para sineas sebagai seluloid. Pengertian secara harafiah film (sinema) adalah Cinemathographie yang berasal dari Cinema + tho = phytos (cahaya) + graphie = grhap (tulisan = gambar = citra), jadi pengertiannya adalah melukis gerak dengan cahaya. Agar kita dapat melukis gerak dengan cahaya, kita harus menggunakan alat khusus, yang biasa kita sebut dengan kamera.5

Definisi Film Menurut UU 8/1992, adalah karya cipta seni dan budaya yang merupakan media komunikasi massa pandang-dengar yang dibuat berdasarkan asas sinematografi dengan direkam pada pita seluloid, pita video, piringan video, dan/atau bahan hasil penemuan teknologi lainnya dalam segala bentuk, jenis, dan ukuran melalui proses kimiawi, proses elektronik, atau proses lainnya, dengan

5

David Summerton, “Definisi Film” artikel ini diakses pada 11 Mei 2011 dari Ayanona. Tumblr.com.

atau tanpa suara, yang dapat dipertunjukkan dan/atau ditayangkan dengan sistem Proyeksi mekanik, eletronik, dan/atau lainnya.6

Secara material film terdiri atau dibangun oleh gambar-gambar dan bukan oleh seluloid. Gambar-gambar ini menimbulkan ilusi yang kuat sekali pada kita bahwa apa yang diproyeksilkan pada layar sungguh-sungguh kenyataan. Ini disebabkan karena gambar-gambar itu berbeda dengan gambar-gambar seni lukis misalnya, tapi merupakan gambar-gambar mekanis (dibuat oleh dan dengan suatu mekanik: fototustel, kamera film ).7

Film lahir di kurun waktu seni, terutama seni lukis meninggalkan naturalisme dan realisme. Impresionalisme di bidang seni rupa telah memulai perjalanan pasti ke arah pemberian bentuk abstrak pada seni rakyat.8

Fotografi dan film mengambil jurus yang bertentangan. Kenyataan malah direproduksi dengan mirip sekali,termasuk gerak yang oleh seni rupa tidak dapat ditiru.film mengambil tontonan massa, tempatnya bukan di galeri atau museum, tetapi di lapangan, di sebuah tenda (sekarang bioskop).9

Media film memiliki keampuhan yang besar untuk mempengaruhi publik. Medium ini dapat menyajikan gambar-gambar atau peragaan gerak, termasuk suara. Teknologi baru yang hampir sejenis dengan film adalah kaset video dengan piringan laser (laser disc). Teknologi baru

6

David Summerton, “Definisi Film” artikel ini diakses pada 11 Mei 2011 dariAyanona. Tumblr.com.

7

D.A. Peransi, Film/Media/Seni, (Jakarta: FFTV-IKJ Press, 2005), cet. 1, h.146.

8

Ibid, h.28.

9

mempunyai sifat praktis karena dengan menghubungkan melalui monitor televisi dirumah-rumah, kemudian muncul gambar dan sekaligus suaranya. Film dapat dikategorikan menjadi beberapa macam sebagai berikut: 10

a. Film Berita (news reel) b. Film Dokumenter c. Film Cerita (story film) d. Film Kartun

e. Film Iklan (orientasi bisnis)

2. Sejarah dan Perkembangan Film

Pada penghujung abad XIX, teknologi pembuatan film, gambar yang bisa bergerak, ditemukan di Perancis, Inggris dan Amerika. Pada waktu itu, negeri Nusantara ini masih merupakan jajahan Belanda dengan nama Nederlands Indie atau dalam bahasa Pribumi disebut Hindia Belanda. Sejak 1900, tontonan film mulai bisa disaksikan oleh masyarakat di kota-kota besar Hindia Belanda.11

Teknologi film atau motion picture bekerja berdasarkan proses kimiawi seperti fotografi. Medium ini dikembangkan pada 1880-an dan 1890-an. Pada 1930-an bioskop sudah ada di mana-mana menayangkan talkies.12 Pada dasarnya tontonan bergerak sudah ada sejak lama. Tanggal 24 April 1894, The New York Times memberitakan dahsyatnya sambutan publik terhadap film layar lebar pertama yang ditayangkan

10

YS. Gunadi dan Djony Heffan, Himpunan Istilah Komunikasi, (Jakarta: PT Grasindo, 1998), h. 11-12.

11

Misbach Yusran Biran, Sejarah Film 1900-1950: Bikin Film di Jawa, (Jakarta: Komunitas Bambu, 2009), h. 1.

12

yakni tentang dua gadis pirang yang memperagakan tarian payung. Film pertama ditayangkan di AS pada tanggal 23 April 1896 di kota New York.13

Sejarah film pertama terjadi di Prancis, tepatnya pada 28 Desember 1895, ketika Lumiere bersaudara telah membuat dunia „terkejut‟. Mereka telah melakukan pemutaran film pertama kalinya di depan publik, yakni di Cafe de Paris. Film-film buatan Lumiere yang diputar pada pertunjukan pertama itu adalah tentang para laki-laki dan wanita pekerja di Pabrik Lumiere, kedatangan kereta api di Stasiun la Ciotat, bayi yang sedang makan siang dan kapal-kapal yang meninggalkan pelabuhan. Salah satu kejadian unik, yaitu saat dipertunjukan lokomotif yang kelihatannya menuju ke arah penonton, banyak yang lari ke bawah bangku. Teknologi temuan Lumiere ini kemudian mendunia dengan cepat karenajuga didukung oleh teknologi proyektor berfilm 2 ¾ inci yang lebih unggul keluaran The American Biograph, yang diciptakan Herman Casler pada 1896. Maka sejak pertunjukan di cafe de Paris itulah, kata Louis Lumiere, lahirlah ekspresi I have been to a movie !14

Perubahan dalam industri perfilman, jelas nampak pada teknologi yang digunakan. Jika pada awalnya, film berupa gambar hitam putih, bisu dan sangat cepat, kemudian berkembang hingga sesuai dengan sistem pengelihatan mata kita, berwarna dan dengan segala macam

13

William L. Rivers, jay W. Jensen, dan Theodore Peterson, Media Massa dan Masyarakat Modern, Edisi kedua, (Terj.) oleh Haris Munandar dan Dudy Priatna. (Jakarta: Prenada Media, 2004), cet. 2, h.198.

14

Misbach Yusran Biran, Sejarah Film 1900-1950: Bikin Film di Jawa, (Jakarta: Komunitas Bambu, 2009), h. xv.

efek-efek yang membuat film lebih dramatis dan terlihat lebih nyata.

Isu yang cukup menarik dibicarakan mengenai industri film adalah persaingannya dengan televisi. Untuk menyaingi televisi, film diproduksi dengan layar lebih lebar, waktu putar lebih lama dan biaya yang lebih besar untuk menghasilkan kualitas yang lebih baik.

Sejarah perfilman di Indonesia secara ringkas sebagai berikut: 15 a. Film pertama dibuat di Kota Bandung, tahun 1926 oleh Davis,

berjudul Lely Van Java.

b. Film Euis Atjih produksi Krueger Corporation tahun 1927/1928. c. Film cerita Loetoeng Kasarung, Si Lorat dan Pereh. Namun,

sampai tahun 1930 film-film di Indonesia masih bisu, tanpa efek suara.

d. Film Terang Bulan merupakan film bicara pertama yang dibintangi oleh Roekiah dan Raden Mochtar, atas cerita naskah garapan Saerun.

e. Tahun 1941 berlangsung Perang Asia Timur raya. Perfilman di Indonesia diambil alih oleh Jepang.

f. Tahun 1950-an perkembangan film di Indonesia cukup cerah sampai sekarang ini.

15

YS. Gunadi dan Djony Heffan, Himpunan Istilah Komunikasi, (Jakarta: PT Grasindo, 1998), h. 11-12.

3. Jenis dan klasifikasi Film

a. Jenis-Jenis Film

Jika dilihat dari isinya, film dibedakan menjadi jenis film fiksi dan non fiksi. Sebagai contoh, untuk film non fiksi adalah film dokumenter yang menjelaskan tentang dokumentasi sebuah kejadian alam, flora, fauna maupun manusia. Adapun penjelasan dari jenis-jenis film itu sebagai berikut:

1) Film Dokumenter adalah film yang menyajikan fakta berhubungan dengan orang-orang, tokoh, peristiwa, dan lokasi yang nyata. Film dokumenter dapat digunakan untuk berbagai macam maksud dan tujuan seperti informasi atau berita, biografi, pengetahuan, pendidikan, sosial, politik (propaganda), dan lain sebagainya.

2) Film fiksi adalah film yang menggunakan cerita rekaan di luar kejadian nyata, terkait oleh plot, dan memiliki konsep pengadegaan yang telah dirancang sejak awal. Struktur cerita film juga terikat hokum kausalitas. Cerita fiksi juga seringkali diangkat dari kejadian nyata dengan menggunakan beberapa cuplikan rekaman gambar dari peristiwa aslinya (fiksi-dokumenter).

3) Film Eksperimental merupakan film yang berstruktur namun tidak berplot. Film ini tidak bercerita tentang apapun

(anti-naratif) dan semua adegannya menentang logika sebab-akibat (anti-rasionalitas).16

b. Klasifikasi Film

Menurut Himawan Pratista dalam buku Memahami Film-nya, metode yang paling mudah dan sering digunakan untuk mengklasifikasi film adalah berdasarkan genre, yaitu klasifikasi dari sekelompok film yang memiliki karakter atau pola sama (khas) sebagai berikut17:

1) Aksi, yaitu film yang berhubungan dengan adegan-adegan aksi fisik seru, menegangkan, berbahaya, dan nonstop dengan tempo cerita yang cepat.

2) Drama, yaitu film yang kisahnya seringkali menggugah emosi, dramatik, dan mampu menguras air mata penontonnya. Tema umumnya mengangkat isu-isu sosial, seperti kekerasan, ketidakadilan, masalah kejiwaan, penyakit, dan sebagainya.

3) Epik sejarah, yaitu film dengan tema periode masa silam (sejarah) dengan latar sebuah kerajaan, peristiwa, atau tokoh besar yan menjadi mitos, legenda, atau kisah biblical.

4) Fantasi, yaitu film yang berhubungan dengan tempat, peristiwa dan karakter yangtidak nyata, dengan menggunakan unsur magis, mitos, imajinasi, halusional, serta alam mimpi.

16

Himawan Pratista, Memahami Film, (Yogyakarta: Homerian Pustaka, 2008), cet. 1, h. 4-8.

17

5) Fiksi Ilmiah, yaitu film yang berhubungan dengan teknologi dan kekuatan di luar jangkauan teknlogi masa kini yang artificial.

6) Horror, yaitu film yang berhubungan dengan dimensi spiritual atau sisi gelap manusia.

7) Komedi, yaitu jenis film yang tujuannya menghibur dan memancing tawa penonton.

8) Kriminal dan Gangster, yaitu film yang berhubungan dengan aksi-aksi kriinal dengan mengambil kisah kehidupan tokoh kriminal besar yang diinspirasi dari kisah nyata.

9) Musikal, yaitu film yang mengkombinasikan unsur musik, lagu, tari (dansa), serta gerak (koreografi).

10) Petualangan, yaitu film yang berkisah tentang perjalanan, eksplorasi, atau ekspedisi ke suatu wilayah asing yang belum pernah tersentuh.

11) Perang, yaitu film yang mengangkat tema ketakutan serta teroe yang ditimbulkan oleh aksi perang dengan memperlihatkan kegigihan, dan perjuangan.

12) Western, yaitu film dengan tema seputar konflik antara pihak baik dan jahat berisi aksi tembak-menembak, aksi berkuda, dan aksi duel.

4. Unsur-Unsur Pembentuk Film18

Film secara umum dapat dibagi atas dua unsur pembentuk, yakni unsur naratif dan unsur sinematik. Kedua unsur tersebut saling berinteraksi dan berkesinambungan satu dengan yang lainnya. Unsur naratif adalah bahan (materi) yang akan diolah, berhubungan dengan aspek cerita atau tema film, terdiri dari unsur-unsur seperti: tokoh, masalah, lokasi, dan waktu. Sedangkan unsur sinematik adalah cara (gaya) untuk mengolahnya. Sementara unsur sinematik atau gaya sinematik merupakan aspek-aspek teknis pembentuk film.

Unsur sinematik terdiri dari empat elemen pokok, yakni: a) Mise-en-scene, yaitu segala hal yang berada di depan kamera. b) Sinematografi, yaitu perlakuan terhadap kamera dan filmnya serta

hubungan kamera dengan obyek yang diambil.

c) Editing, yakni transisi sebuah gambar (shot) ke gambar (shot) lainnya.

d) Suara, yakni segala hal dalam film yang mampu kita tangkap melalui indera pendengaran.

Film juga mengandung unsur-unsur dramatik. Unsur dramatik dalam istilah lain disebut dramaturgi, yakni unsur-unsur yang dibutuhkan untuk melahirkan gerak dramatik pada cerita atau pada pikiran penontonnya, antara lain: konflik, suspense, curiosity, dan surprise. Konflik merupakan suatu pertentangan yang terjadi dalam sebuah film misalnya, pertentangan antar tokoh. Suspense merupakan

18

Himawan Pratista, Memahami Film, (Yogyakarta: Homerian Pustaka, 2008), cet. 1, h. 1-2.

ketegangan yang dapat menggiring penonton ikut berdebar menantikan adegan selanjutnya. Curiosity merupakan rasa ingin tahu atau penasaran penonto terhadap jalannya cerita sehinga penonton terus mengikuti alur film sampai selesai. Surprise adalah kejutan. Kejutan ini biasanya digunakan pada alur film yang sulit ditebak. 19

5. Struktur Film20

Esensi dari struktur film terletak pada pengaturan berbagai unit cerita atau ide sedemikian rupasehingga mudah dipahami. Struktur adalah blueprint; kerangka desain yang menyatukan berbagai unsur film dan merepresentasikan jalan pikiran dari pembuat film. Struktur terdapat dalam semua bentuk karya seni. Pada film ia mengikat aksi (action) dan ide menjadi satu kesatuan yang utuh.

Struktur yang baik adalah struktur yang sederhana tapi penuh relief. Struktur yang sederhana berhubungan dengan kontinyuitas fisik, yaitu: anak dilahirkan, hidup sebagai orang dewasa, kemudian mati. Ini mengandaikan adanya permulaan, pengembangan dan akhir. Variasi dari urutan ini banyak sekali, misalnya suatu akhir dapat dijadikan permulaan dalam hal kilas balik flashback umpamanya.

19

Elizabeth Lutters, Kunci Sukses menulis Skenario, (Jakarta: Grasindo.2004), cet. 3, h.100-103.

20

Penyusunan pikiran dan perasaan si seniman film ditentukan oleh faktor-faktor:

a. Keutuhan: Semua unsur dalam film mesti bertalian dengan subyek utamanya, harus menjaga bagian dari keseluruhan. Arti dan maknanya ditentukan pertaliannya dengan keseluruhan karya. b. Ketergabungan: Unsur atau unit yang satu harus memiliki

hubungan dengan unit atauunsur berikutnya, sedemikian rupa sehingga hubungan itu bukan saja logis akan tetapi juga hubungan yang membangun. Ini berarti bahwa urutan unsur ini harus menunjukkan perkembangan yang menuju suatu kesimpulan. Faktor ketergabungan ini tergantung lagi pada sebab, akibat dan kemungkinan.

c. Tekaan: Berhubungan dengan atau menentukan posisi dari unit-unit pertama dan sampingan, hubungan yang satu terhadap yang lain. Tekanan menentukan juga proporsi dari unit-unit itu sehingga menjadi jelas nilai dari berbagai unit tersebut.

d. Interes: Berhubungan dengan “isi” dari setiap unit. Pilihan ini yang tepat untuk menjadikan unit-unit itu saling berhubungan dengan jalinan subordinat dan menjadfi suatu kesatuan karya yang utuh.

Struktur film terdiri dari struktur lahiriah dan struktur batiniah. Dalam struktur lahiriah, terdapat unsur-unsur atau unit-unit yang membangun yaitu :

a. shot; dapat dirumuskan sebagai peristiwa yang direkam oleh film tanpa interupsi.

b. scene terbentuk apabila beberapa shot disusun secara berarti dan menimbulkan suatu pengertian yang lebih luas tapi utuh. Adegan dapat kita sebut juga premis minor. Banyaknya shot, panjang pendeknya shot dalam sebuah adegan akan menentukan ritme dari adegan itu. Selain shot dan scene, adapula

c. sequence atau babak; babak terbentuk apabila beberapa adegan disusun secara berarti dan logis. Babak memiliki ritme permulaan, pengembangan dan akhir.

d. totalitas; Dalam hubungan ini sudah jelas merupakan nilai yang muncul dari seluruh urutan shot, adegan dan sekwens, yaitu tema.

Struktur batiniah ditentukan oleh sejumlah faktor: 1. Eksposisi: keterangan tempat, waktu dan perwatakan.

2. Point of Attack atau serangan awal: menggambarkan tentang konfrontasi awal dari kekuatan-kekuatan yang saling bertentangan.

3. Komplikasi: segi-segi yang menarik dari watak-watak tokoh-tokohnya.

4. Discovery atau penemuan: memberikan informasi-informasi baru tentang tokoh-tokohnya sementara cerita berlangsung terus, munculnya kejadian-kejadian.

5. Reversal atau pembalikan: terjadi komplikasi-komplikasi baru 6. Konflik: pertentangan-pertentangan batin yang menguasai

tokoh-tokoh.

7. Rising action atau tanjakan aksi: bagian cerita yang mengungkapkan pengembangan plot utama, mulai dari point of attack sampai klimaks.

8. Krisis: meramalkan suatu perkembangan baru.

9. Klimaks: puncak paling tinggi dari semua ketegangan dan intensitas.

10. Falling action atau surutnya aksi: klimaks menurun dan menuju kesimpulan.

11. Kesimpulan: dalam tahap ini semua pertanyaan dijawab, masalah-masalah utama dan sampingan dipecahkan dan diatasi.

6. Film Suatu Medium Ekspresi dan Komunikasi21

Film merupakan suatu medium yang relatif baru di dalam kebudayaan umat manusia, dibandingkan dengan medium seperti tulisan dan bahasa.

Ernest Cassier (An Essay on Man dan Die Philosophie der Syimbolischen Formen) merumuskan manusia sebagai “animal

21

syimbolicum”, yang berbeda dengan binatang, berkomunikasi dengan lambang-lambang dan perlambangan. Bahasa adalah salah satu lambang bunyi yang arbitrer yang diciptakannya. Itu sebabnya orang Indonesia dan Inggris mempunyai bunyi yang berbeda untuk melambangkan fakta yang sama.

Komunikasi antara dua orang yang lahir dari masyarakat bahasa yang berbeda akan sulit dilakukan apabila yang satu tudak mengenal bahasa yang lainnya.

Sejak fotografi ditemukan abad yang lalu, dan didasarkan atas fotografi film dikembangkan, maka bertambah lagi medium ekspresi dan komunikasi antar manusia.

Tetapi berbeda dengan bahasa yang mempergunakan unsurebunyi untuk mengekspresikan arti dan bersifat lebih abstrak, film mempergunakan rekaman optik dari kenyataan. Film merekam secara persis sekali kenyataan yang pernah ada di depan kamera dan kenyataan itu (melalui film) tampil di depan kita yang melihatnya sebagai kenyataan optik.

Dengan menganggap bahwa apa yang ada dilayar sungguh-sungguh kenyataan maka pada penonton sebenarnya terjadi ilusi. Ilusi bahwa yang ia lihat benar-benar kenyataan.

Di dalam kondisi demikian itu terjadi beberapa proses identifikasi pada penonton. Pertama, adalah identifikasi optik.Penonton melihat kenyataan sebagaimana kenyataan itu dilihat oleh lensa (optik) kamera. Kedua, adalah identifikasi emosional. Disini penonton secara emosional

mempertautkan dirinya dengan bayangan-bayangan dari kenyataan yang ia lihat di layar. Ketiga, adalah identifikasi imajiner. Di sini penonton mengidentifikasikan dirinya dengan salah satu tokoh atau beberapa tokoh di dalam film yang ditontonnya.

Film mempunyai daya magis yang kuat sekali, tentu tergantung pada baik-buruknya film yang dibuat.

Film adalah suatu medium yang memungkinkan manusia terlibat secara ekstensial dengan kenyataan-kenyataan imajiner. Terlibat secara eksistensial berarti bahwa terjadi suatu hubungan yang dialektis antara dirinya dan kenyataan memang imajiner itu.

Film pada dasarnya menceritakan suatu perkembangan psikologis dari tokoh-tokohnya, bukan seperti film dokumenter yang bertolak dari konsep dan ide. Perkembangan psikologis itu dituang ke dalam suatu plot cerita yang mengenal permulaan, pengembangan cerita dan klimaks. Di dalam garris plot itulah protagonis dan antagonisnya dipertemukan dan dipertentangkan.

Konflik antara protagonis dan antagonis tentunya merupakan konflik antara nilai-nilai yang menjadi dasar masing-masing. Nilai itu bisa bersumber pada pribadi atau pada kelompok dimana pribadi itu berada. Itu sebabnya konflik-konflik di dalam cerita film bisa juga merupakan konflik antara berbagai kelompok dan kepentingan, latar belakang sosial, ekonomi, budaya dan sejarah.

Sering pula di dalam film Indonesia, ketidakmampuan dramaturgi pembuat filmnya menyebabkan film itu menawarkan kenyataan-kenyataan serta penyelesaiannya yang tidak masuk akal.

7. Teknik Pengambilan Gambar

a. Sinematrogafi

Dalam sebuah produksi film ketika seluruh aspek mise-en-scene telah tersedia dan sebuah adegan telah siap untuk diambil gambarnya, maka pada tahap inilah unsur sinematografi mulai berperan. Sinematografi secara umum dapat dibagi menjadi tiga aspek, yakni kamera dan film, framing, serta durasi gambar. Kamera dan film mencakup teknik-teknik yang dapat dilakukan melalui kamera dan stok filmnya, seperti warna, penggunaan lensa, kecepatan gerak gambar, dan sebagainya.

Sama seperti teknik dalam pemotretan, pada kamera juga menggunakan teknik framing dalam pengambilan gambarnya. Framing adalah meletakkan objek sebagai foreground untuk membuat bingkai yang bertujuan memberi kesan ruang tiga dimensi.22

22

Yannes Irwan Mahendra, Dari Hobi jadi Profesional, (Yogyakarta: Andi, 2010), ed. 1, h. 55.

Berikut ini adalah salah satu aspek framing yang terdapat dalam sinematografi, yakni jarak kamera terhadap obyek (type of shot), yaitu:23

1) Extreme long shot, merupakan jarak kamera yan paling jauh dari objeknya. Teknik ini umumnya untuk menggambarkan sebuah objek yang sangat jauh atau panorama yang luas. 2) Long shot, pada teknik ini memperlihatkan tubuh fisik

manusia yang tampak jelas namun latar belakang masih dominan.

3) Medium long shot, pada teknik ini manusia terlihat dari bawah lutut sampai ke atas.

4) Medium shot, pada jarak ini memperlihatkan tubuh manusia dari pinggang ke atas.

5) Medium close-up, pada jarak ini memperlihatkan manusia dari dada ke atas. Adegan percakapan normal biasanya mengunakan jarak ini.

6) Close-up, umumnya memperlihatkan wajah, kaki, atau sebuah obyek kecil lainnya. Teknik ini mampu memperlihatkan ekspresi wajah secara jelas serta gestur yang mendetil.

7) Extreme close-up,teknik ini mampu memperlihatkan lebih detil bagian dari wajah, seperti telinga, mata, hidung, dan lainnya atau bagian dari sebuah obyek.

23

Himawan Pratista, Memahami Film, (Yogyakarta: Homerian Pustaka, 2008), cet. 1, h. 104-106.

b. Sudut Pengambilan gambar

Ada beberapa tehnik pengambilan gambar yang biasa di gunakan diantaranya:

Bird Eye View

Ini merupakan sudut pengambilan gambar yang dilakukan di atas,seperti burung terbang yang melihat ke bawah. Efek yang tampak, subjek terlihat menjadi rendah, pendek dan kecil. Manfaatnya untuk menyajikan suatu lokasi atau pemandangan24. Biasanya untuk mengambil gambar dengan sudut ini dilakukan dari atas gedung ataupun dengan helikopter.

High Angle

Ini merupakan sudut pengambilan gambar yang tepat diatas objek, pengambilan gambar seperti ini memiliki arti yang dramatik yaitu kecil atau kerdil.

Low Angle

Ini merupakan sudut Pengambilan gambar yang diambil dari bawah si objek, sudut pengambilan gambar ini merupakan kebalikan dari high angle. Efek yang timbul adalah distorsi perspektif yang secara teknis dapat menurunkan kualitas gambar. Bagi yang kreatif, hal ini dimanfaatkan untuk menimbulkan efek khusus. Kesan efek ini adalah menimbulkan sosok pribadi yang besar, tinggi, kokoh, dan berwibawa, juga angkuh25.

24

Yannes Irwan Mahendra, Dari Hobi jadi Profesional,(Yogyakarta: Andi, 2010), ed. 1, h. 49.

25

Eye Level

Ini merupakan sudut pengambilan gambar sebatas mata posisi berdiri. Sudut pengambilan gambar ini merupakan posisi yang paling umum. Objek sejajar dengan mata, tidak menimbulkan kesan khusus yang terlihat menonjol26.

Frog Level

Ini merupakan sudut pengambilan gambar yang diambil sejajar dengan permukaan tempat objek berdiri, seolah-olah memperlihatkan objek menjadi sangat besar.27

B. Tinjauan Teoritis Semiotik 1. Konsep Semiotik

Semiotika sebagai suatu model dari ilmu pengetahuan sosial memahami dunia sebagai sistem hubungan yang memiliki unit dasar yang disebut dengan „tanda‟. Dengan demikian, semiotik mempelajari hakikat tentang keberadaan suatu tanda.28

Secara sederhana semiotika adalah ilmu tentang tanda-tanda.

Dalam dokumen Analisis semiotik fil biola tak berdawai (Halaman 20-98)

Dokumen terkait