Dari 43 jenis makanan yang dianalisis, residu pestisida ditemukan pada lima jenis bahan makanan, yaitu; sawi hijau, ketimun, tomat merah, apel dan cabai.
Paparan semua jenis residu pestisida kecuali klordan, endrin dan dikrotofos, pada rerata pengonsumsi di setiap kelompok umur berada di bawah nilai ADI, baik hasil perhitungan nilai bawah maupun nilai atas. Artinya paparan pestisida populasi Indonesia masih dibawah ambang yang dapat menimbulkan masalah kesehatan. Masih ditemukan residu pestisida jenis organoklorin dan organofosfat yang telah dilarang sejak lama.
Nilai atas paparan klordan pada 95 persentil pengonsumsi umur di bawah 12 tahun berada di atas nilai ADI. Nilai atas paparan endrin pada rerata pengonsumsi di semua kelompok umur berada di atas nilai ADI. Nilai atas paparan residu dikrotofos baik pada rerata maupun 95 persentil populasi di semua kelompok umur berada di atas nilai ADI.
Dari 227 jenis bahan makanan yang dilakukan analisis, logam berat timbal yang paling banyak ditemukan di dalam bahan makanan, kemudian kadmium, arsen dan total merkuri. Terdapat 102 jenis makanan mengandung timbal yang tersebar di seluruh kelompok makanan, dan 81 jenis makanan mengandung kadmium pada kelompok serealia, polong-polongan dan kacang, sayuran, ikan, susu, gula dan konfeksioneri, bumbu, minuman dan air.
Paparan timbal berpotensi menyebabkan 2,93 – 5,07 % anak balita memiliki IQ dibawah 70, dan memiliki resiko relatif sebesar 1.01 – 1.4 menyebabkan penyakit jantung ishemik dan strok pada orang dewasa. Kontributor utama paparan Pb adalah air minum. Paparan kadmium pada rerata dan 95 persentil populasi masih di bawah standar kesehatan. Paparan arsen pada rerata pengonsumsi masih dibawah nilai Bench Mark Dose Levelyang menyebabkan peningkatan 0,5% kejadian kanker paru. Paparan total merkuri dan metil merkuri pasa rerata populasi masih dibawah standar
kesehatan, namun untuk metil merkuri ada potensi melebihi karena ketidakpastian pengukuran yang cukup tinggi.
Bahan tambahan pangan (BTP) dianalisis pada 56 jenis bahan makanan olahan. Kontributor BTP sakarin adalah es krim dan minuman teh cair instan. Kontributor BTP siklamat adalah produk ekstrusi, roti, krupuk aci, es krim, jus buah serbuk, minuman coklat, minuman teh, dan jus buah cair jus buah instan. Kontributor BTP benzoat adalah roti, mi instan, mi basah, tahu, bakso daging sapi, kecap manis, minuman teh, us buah cair dan minuman berkarbonasi. Makanan olahan yang merupakan kontributor BTP tartrazin adalah produk ekstrusi, mi instan, wafer, mi basah, mi kering, biskuit, kerupuk aci, tahu, susu bubuk dan jus buah serbuk.
Paparan BTP sakarin, siklamat, benzoat dan tartrazin pada rerata dan 95 persentil pengonsumsi masih dibawah standar kesehatan. Perlu dicermati bahan makanan yang tidak dianjurkan menggunakan BTP, namun terdeteksi di dalam analisis.
Dari 88 jenis makanan yang termasuk dalam 8 kelompok makanan yang diperiksa terdapat 24 jenis sampel yang mengandung aflatoksin B1, 8 jenis makanan mengandung aflatoksin B2 dan G1, dan 3 jenis sampel yang mengandung aflatoksin G2. Tiga diantara jenis makanan tersebut yaitu nasi jagung, kacang tanah dan kacang hijau mengandung aflatoksin B1, B2, G1 dan G2. Kelompok bahan makanan yang terkontaminasi aflatoksin ini adalah: (a) Kelompok serealia, terutama jagung atau produk olahannya, produk ekstrusi, serta tepung terigu dan produk olahannya seperti mi dan wafer; (b) Kelompok polong-polongan dan kacang seperti kacang tanah, kacang hijau dan produk olahan kedelai sepetri tempe dan tahu; (c) Kelompok bumbu, dimana jenis bahan makanan yang terkontaminasi dalah bawang merah dan cabai; (d) olahan umbi-umbian yaitu kerupuk aci; dan (e) Kelompok minuman, yaitu minuman cokelat. Aflatoksin B1 maupun aflatoksin yang lain (B2, G1 dan G2) tidak ditemukan pada kelompok daging, minyak atau lemak dan produk olahannya. Dari 11 jenis makanan yang termasuk dalam kelompok susu dan produk olahannya terdapat 4 jenis bahan makanan yang mengandung aflatoksin M1, yaitu susu dan produk olehannya. Sampai saat ini belum ada batasan paparan yang dapat ditoleransi, namun aflatoksin memiliki potensi sebagi pencetus kanker.
aflatoksin berpotensi menyebabkan 0,29 – 1,90 kejadian kanker hati setiap 100.000 populasi Indonesia. Makanan sebagai kontributor utama paparan aflatoksin B1, B2, G1 dan G2 adalah pada kelompok serealia dan olahannya, dan kelompok polong- polongan, kacang dan olahannya.
Paparan mineral pada rerata pengonsumsi di setiap kelompok usia masih dibawah batas atas yang tidak menyebabkan dampak kesehatan, namun paparan magnesium, natrium dan iodium pada 95 persentil pengonsumsi di semua kelompok umur sudah melebihi batas atas yang diperbolehkan. Paparan tembaga, magnesium dan selenium pada rerata pengonsumsi masih dibawah batas atas yang tidak menyebabkan dampak kesehatan, namun paparannya pada 95 persentil pengonsumsi sudah melebihi batas atas.
Makanan kontributor utama paparan tembaga adalah air minum, sedangkan kontributor utama magnesium dan selenium adalah ikan air laut. Paparan kalsium, besi dan mangan pada rerata pengonsumsi masih di bawah batas atas kesehatan, sehingga dalam batas aman. Paparan iodium dan natrium pada rerata pengonsumsi berada di bawah batas atas, namun paparannya pada 95 persentil pengonsumsi telah melebihi batas tertinggi yang diizinkan. Makanan kontributor utama paparan iodium dan natrium adalah garam.
V. SARAN
1. Penyehatan dan pengendalian lingkungan untuk mengurangi cemaran logam berat dan aflatoksin perlu dilakukan lebih intensif. Untuk mengurangi tingkat paparan timbal perlu upaya yang ditujukan pada kontributor utama cemaran, yaitu air minum, antara lain dengan penggunaan pipa air minum berkualitas baik untuk keperluan aliran bahan baku air minum ataupun di industri-industri pengolahan air minum dalam kemasan. Untuk mengurangi cemaran aflatoksin perlu dilakukan perbaikan proses pasca panen terutama pada bahan makanan segar dan olahan jagung dan kacang-kacangan.
2. Perlu ada upaya pengurangan konsumsi natrium pada semua kelompok umur dengan cara mengurangi konsumsi garam di rumah tangga. Di samping itu perlu dilakukan sosialisasi tentang bahaya konsumsi natrium yang berlebihan.
3. Suplementasi iodium saat ini harus ditargetkan untuk kelompok yang membutuhkan, sudah kurang tepat menggunakan program fortifikasi garam yang dikonsumsi masyarakat luas, agar tidak menimbulkan konsumsi iodium yang berlebihan pada kelompok yang sudah cukup.
PENGARAH
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya dan Pelayanan Kesehatan
Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Upaya Kesehatan Masyarakat Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan
Kepala Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional Kepala Balai Besar Litbang Vektor dan Reservoir Penyakit
TIM PENULIS Dr. Siswanto, MHP., DTM. Dr. Ir. Dewi Permaesih, M.Kes
Drs. Almasyhuri, Apt., M.Si Dr. Nelis Imanningsih, STP., M.Sc
Nunung Nurjanah, SP., M.Si Dr. Efriwati, M.Si Dra. HeruYuniati, M.Si
Fifi Retiaty, SKM Ema Sahara, S.Si
Dra. Asri Sulistijowati S, Apt., M.Sc Ade Nugraheni Herawati, STP
Dra. Dian Sundari Rousmala Dewi, SP., M.Si dr. Dianne Adha, M.Biomed Dra. Ani Isnawati, Apt., M.Kes Dra. Mariana Raini, Apt., M.Kes
Dra. Sukmayati Alegantina Rosa Adelina, Apt., S.Si., M.Si Arifayu Addiena Kurniati, S.Si Dra. Daroham Mutiatikum, Apt., M.Si
Maratu Soleha, Apt., M.Biotech Nanang Yunanto, Apt., M.Si
N. Nia Kurniawati, A.Md Yusma, S.Si Laela Salamah Enday Yunidar Winarsih, SKM Nurul Aini, Apt
Kelik Muhammad Arifin, S.Sos Dana Iskandar
Ariben Andika
drh. Rita Marleta Dewi, M.Kes Indri Rooslamiati, S.Si., Apt., M.Sc
Max Bobby Hutabarat, SE
Dr. Dwi Hapsari Tjandrarini, SKM., M.Kes
EDITOR
Prof. Dr. Nuri Andarwulan, M.Si Atmarita, MPH., Dr.PH
LAYOUT
Joni Pahridi, SE., MIP. Ahdiyat Firmana, S.Sn Eka Sri Setyaningsih. Feby Ariansyah, SKM