Daftar Pustaka Lampiran-lampiran
BAB II
LATAR BELAKANG TERBENTUKNYA KONSEP KONSENSUS WASHINGTON
Pada bab ini, dipaparkan mengenai terbentuknya konsep Konsensus Washington. Bab ini terdiri dari Tiga bagian. Bagian pertama menjelaskan tentang proses terbentuknya IMF (International Monetary Fund). Bagian kedua Pandangan Konsensus Washington menurut Joseph Stiglitz dan John Wiliamson.Pada Bagian ketiga menjelaskan tentang peranan Indonesia di WTO (World Trading Organization) dan GATS (General Agreement on Trade in Services).
A. Proses Terbentuknya IMF dan World Bank
Dalam buku IMF (Apakah Dana Moneter Internasional Itu?IMF 2003:1-8) dijelaskan mengenai IMF. IMF merupakan merupakan salah satu badan khusus pada Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang didirikan berdasarkan perjanjian internasional pada tahun 1945 untuk membantu perekonomian dunia.Dengan markas besarnya berlokasi di Washington, D.C., IMF saat ini memiliki anggota sebanyak 184 negara. Pada tanggal 22 Juli 1944 melalui konfrensi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang diselenggarakan di Bretton Woods, New Hampshire Amerika Serikat sepakat untuk IMF. Pada dekade 1930, kegiatan ekonomi di sejumlah negara industri utama melemah, negara-negara industri tersebut berusaha untuk mempertahankan ekonomi mereka masing-masing dengan cara meningkatkan hambatan untuk import; tetapi kegiatan ini mempercepat jatuhnya
perdagangan dunia, tingkat output, dan kesempatan kerja. Tujuan dibentuknya IMF pada saat itu dilakukan untuk menghindari terulangnya kejadian great depression (depresi besar) pada tahun 1930, maka 45 anggota sepakat untuk menyetujui kerangka ekonomi ini.
Negara-negara yang bergabung dengan IMF antara tahun 1945 dan 1971 setuju untuk menjaga nilai tukar mereka (pada dasarnya nilai tukar mata uang mereka dalam nilai dolar A.S., dan, dalam hal ini Amerika Serikat, nilai dolar A.S. dalam nilai emas) ditetapkan pada tingkat yang dapat disesuaikan, tetapi penyesuaian hanya untuk mengoreksi “ketidakseimbangan fundamental” dalam neraca pembayaran dan dengan persetujuan IMF. Ini kemudian disebut sistem nilai tukar Bretton Woods yang berlaku sampai tahun 1971 ketika pemerintah A.S. menangguhkan konvertibilitas dolar A.S. (dan cadangan dolar yang dipegang oleh pemerintah lain) menjadi emas. Sejak itu, anggota IMF sudah bebas memilih setiap bentuk pengaturan nilai tukar yang mereka inginkan (kecuali meman- cangkan nilai mata uang mereka pada emas): sejumlah negara sekarang mengizinkan mata uang mereka mengambang dengan bebas, sejumlah negara memancangkan mata uang mereka terhadap mata uang lain atau sekelompok mata uang, sejumlah negara lainnya mengadopsi mata uang negara lain sebagai mata uang mereka sendiri, dan sejumlah negara berpartisipasi dalam blok mata uang. Pada waktu yang sama ketika IMF diciptakan, Bank Internasional untuk Rekonstruksi dan Pembangunan (International Bank forReconstruction and Development—IBRD), lebih umum dikenal sebagai Bank Dunia, didirikan untuk
mempromosikan pembangunan ekonomi jangka panjang, termasuk melalui pembiayaan proyek infrastruktur, seperti pembangunan jalan dan meningkatkan suplai air. IMF dan Kelompok Bank Dunia—yang termasuk Korporasi Pembiayaan Internasional (International Finance Corporation— IFC) dan Asosiasi Pembangunan Internasional (InternationalDevelopment Association— IDA) saling melengkapi pekerjaan masing-masing.Sementara perhatian IMF terutama pada kinerja ekonomi makro, dan pada kebijakan makro ekonomi dan sekor keuangan, Bank Dunia terutama menangani pembangunan jangka panjang dan isu-isu pengurangan kemiskinan.Kegiatannya termasuk memberikan pinjaman kepada negara-negara berkembang dan negara-negara yang berada dalam transisi, pembiayaan proyek infrastruktur, reformasi sektor ekonomi khusus, dan reformasi struktural yang lebih luas.
IMF, sebaliknya, tidak menyediakan pembiayaan untuk sektor atau proyek khusus tetapi sebagai dukungan umum terhadap neraca pembayaran maupun cadangan devisa suatu negara sementara negara tersebut sedang mengambil langkah kebijakan untuk mengatasi kesulitannya. Ketika IMF dan Bank Dunia didirikan, suatu organisasi untuk mempromosikan liberalisasi perdagangan dunia juga dipikirkan, tetapi baru tahun 1995 Organisasai Perdagangan Dunia (World Trade Organization—WTO) dibentuk. Diselang tahun-tahun tersebut, isu-isu perdagangan diselesaikann melalui Perjanjian Umum Tarif dan Perdagangan (GeneralAgreement on Tariffs and Trade—GATT).
B. Pandangan Konsensus Washington John Wiliamson
Dalam pidato doktoralnya Mochtar Mas’oed menjelaskan awal
perkembangan Konsensus Washington, berawal dari kebijakan ekonomi yang dilakukan Presiden Ronald Reagen bersama-sama dengan Perdana Menteri Inggris Margareth Thatcher mulai menjalankan revolusi neo-liberal di Inggris. Lalu pada saat Ronald Reagan menjadi Presiden AS, gerakan “revolusioner” Perdana Menteri itu ditanggapi dengan gerakan serupa di AS, sehingga muncul julukan
Reagan-Thatcherism; yang kemudian juga didukung oleh Kanselir Jerman Helmut Kohl. Dengan dukungan kuat dari ketiga negara yang ber-pengaruh besar ini, neo-liberalisme menyebar ke seluruh dunia mela-lui berbagai lembaga internasional, terutama yang bobot pengaruh keanggotannya ditentukan oleh besarnya sumbangan pendanaannya, seperti the International Monetary Fund (IMF) dan the World Bank (Bank Dunia). Dengan kata lain, “neo-liberalisme” telah menjadi COWDOG (common wisdom of the dominant group) (Mohtar Mas’oed 2002:8-9). Washington Consensus dipicu oleh pengalaman negara-negara Amerika Latin pada dekade 1980an. Saat itu mekanisme pasar di wilayah tersebut tidak berfungsi dengan baik akibat kebijakan-kebijakan pemerintah yang kacau. PDB terus merosot selama tiga tahun berturut-turut, defisit anggaran meleset tajam hingga mencapai tingkat 5-10 persen dari PDB2, sementara pengeluaran pemerintah digunakan untuk mesubsidi sektor negara tidak efisien. Diterapkannya kontrol yang ketat terhadap impor serta dorongan yang minim pada ekspor menghadapkan perusahaan pada insentif yang terbatas untuk meningkatkan
defisit dibiayai melalui pinjaman termasuk pinjaman luar negeri besar-besaran. Dorongan untuk mendaur ulang petrodollars di kalangan perbankan internasional saat itu serta rendahnya tingkat suku bunga riil membuat “meminjam” menjadi aktivitas yang sangat menarik bahkan untuk investasi dengan tingkat kembalian yang rendah. Hanya saja, setelah dekade 1980an, melonjaknya tingkat suku bunga riil di Amerika Serikat membatasi berlajutnya pinjaman, meningkatkan beban pembayaran bunga dan memaksa banyak negara terus menerus mencetak uang untuk membiayai kesenjangan antara tingginya belanja publik yang terus berlangsung (serta diperparah oleh membumbungnya pembayaran bunga pinjaman) dengan basis pajak yang terus mengerut. Hasil akhirnya adalah inflasi yang sangat tinggi dan tidak terkendali. Kondisi ini menyebabkan perilaku ekonomi lebih terarah pada upaya untuk melindungi nilai (value) daripada bagi aktivitas investasi produktif. Mekanisme harga kemudian kehilangan fungsi utamanya untuk menyampaikan informasi.
Konsensus Washington bermula ketika John Wiliamson Istilah "Konsensus Washington" diciptakan pada tahun 1989. Penggunaan perrtama Istilah tersebut terdapat pada latar belakang makalah, makalah tersebut digunakan pada Peterson Institute for International Economics diselenggarakan dalam rangka untuk memeriksa sejauh mana ide-ide lama pembangunan ekonomi yang telah diatur kebijakan ekonomi Amerika Latin sejak tahun 1950 yang yang tersingkir oleh seperangkat gagasan yang telah lama diterima sebagai tepat dalam OECD (Organization for Economic Co-operation and development). Dalam rangkauntuk mencoba dan memastikan bahwa latar belakang makalah untuk
konferensi menggunakan seperangka tmasalah, saya membuat daftar sepuluh kebijakan yang saya pikir lebih atau kurangsemua orang di Washington akan setuju guna membantu Latin Amerika, dan diberi label"Konsensus Washington" (John Wiliamson, A Short History of the Washington Consensus 2004:1)
John Wiliamson menyebutkan pengistilahan Konsensus Washington awalnya tidak ditulis sebagai kebijakan pembangunan (The Washington Consensus as Policy Prescription for Development 2004:1-2) tetapi sebagai saran untuk kebijakan pembangunan di Amerika latin. Lebih lanjut John Wiliamson menyatakan formulasi Konsensus Washington telah digunakan dalam tiga cara yang berbeda yakni;
1. Konsensus Washington merupakan saran atau formulasi reformasi sepuluh kebijakan untuk memperbaiki kondisi ekonomi di Amerika Latin, namun terjadi persengkongkolan untuk menglobalkan formulasi tersebut.
2. Saran Konsensus Washington oleh AS melalui IMF dan World Bank digunakan sebagai formulasi umum guna membantu perekonomian negara berkembang.
3. Kritikus memandang kebijakan Wiliamson sebagai agen neoliberalisme yang tercantum dalam Konsensus Washington.
Dari ketiga cara tersebut John Willimson berpandangan cara-cara IMF-lah yang telah banyak berubah dari tujuan Bretton Woods System sehingga mempermainkan krisis di Asia dengan metode Amerika Latin.
C. Peran Indonesia di WTO dan GATS.
World Trade Organization (WTO) atau Organisasi Perdagangan Dunia merupakan satu satunya badan internasional yang secara khusus mengatur masalah perdagangan antar negara. Indonesia masuk menjadi anggota WTO ditandai dengan ratifikasi “Agreement Establising the World TradeOrganization”
melalui Undang-Undang No.7 Tahun 1994 tanggal 2 Nopember 1994.Dan resmi menjadi anggota WTO tahun 1995 ( Dani Setiawan Liberalisasi Pendidikan dan WTO 2004:2). Sistem perdagangan multilateral WTO diatur melalui suatu persetujuan yang berisi aturan-aturan dasar perdagangan internasional sebagai hasil perundingan yang telah ditandatangani oleh negara-negara anggota. Persetujuan tersebut merupakan kontrak antar negara-anggota yang mengikat pemerintah untuk mematuhinya dalam pelaksanaan kebijakan perdagangannya.
WTO secara resmi berdiri pada tanggal 1 Januari 1995. Persetujuan umum mengenai tarif dan perdagangan telah membuat aturan-aturan untuk sistem ini. Sejak tahun 1947-1994 sistem GATT memuat peraturan-peraturan mengenai perdagangan dunia dan menghasilkan pertumbuhan perdagangan internasional tertinggi. Hampir setengah abad teks legal GATT masih tetap sama sebagaimana pada tahun 1947 dengan beberapa penambahan diantaranya bentuk persetujuan disepakati oleh beberapa negara saja dan upaya-upaya pengurangan tarif. Masalah-masalah perdagangan diselesaikan melalui serangkaian perundingan
multilateral yang dikenal dengan nama “Putaran Perdagangan” (Trade Round)”, sebagai upaya untuk mendorong liberalisasi perdagangan internasional.
Sebagai upaya mewujudkan cita-cita perbaikan ekonomi dunia yang hancur akibat perang dunia ke II. Amerika Serikat mempelopori di selenggarakannya konfresi internasional diadakan di Bretton Woods, New Hampsire, AS pada tangga 22 Juli 1947. Konfrensi yang kemudian di kenal dengan konfrensi Bretton woods di hadiri oleh 44 perwakilan negara. pertemuan selama 22 negara tersebut akhirnya melakukan Havana Charter yang berisikan perjanjian Internasional Monetary Fund (IMF), namun karena kongres AS sebagai inisiator International Trade Organization (ITO) gagal mencapai kesepakatan tentang bentuk organisasi dan sistem operasi ITO, maka pembentukan ITO pun dibubarkan dan kemudian sebagai gantinya di bentuk
General on Tarif and Trade (GATT) pada 1947. (Hatta, 2006: 53-56).
Dalam perkembangannya, GATT telah melakukan beberapa perundingan pertama di lakukan di Geneva, Switzerland (1947), kemudian Annency (France 1948) Torguay, Switzerland (1950), Geneva Switzerland (1956), Dillon round, Geneva (1960-1961), Kenedy round, Geneva (1964-1967), Tokyo round, Geneva (1973-1979) dan terakhir Uruguay Round Marrakesh (1986-1994). Perundingan terakhir inilah yang dianggap salah satu perundingan yang paling menentukan perkembangan GATT di masa yang akan datang. Putaran Uruguay merupakan yang menghasilkan persetujuan untuk membentuk sebuah organisasi perdagangan yang di sebut World Trade Organization (WTO) (Cano, Guiomar Alonso, dkk. (eds), 2005: 38-39).
C.1 Ratifikasi Indonesia dalam GATS di bidang pendidikan.
GATS (General Agreement on Trade and Service) adalah kesepakatan multilateral dan berkekuatan hukum yang mengatur tentang perdagangan jasa internasional. Perjanjian ini mengatur 12 sektor jasa termasuk jasa pendidikan, khususnya pendidikan tinggi. Ada empat metode penyediaan pendidikan oleh asing yaitu: (i) cross border supply, (ii) consumption abroad, (iii) commercial presence, (iv) presence of natural person (Antisipasi Rencana Ratifikasi GATS, UGM : 2005)
Ratifikasi adalah (ra.ti.fi.ka.si n) pengesahan suatu dokumen negara oleh parlemen, khususnya penegesahan undang-undang, perjanjian antar negara, dan persetujuan hukum internasional (KBBI. 2008-1147). Konsekuensi dari komitmen Indonesia masuk menjadi anggota WTO sejak tahun 1994 (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1994 Tentang Pengesahan Agreement Establishing The World Trade Organization), telah diikuti dengan kesertaan dalam menandatangani GATS (General Agreement on Trade in Services). Pengaturan mengenai GATS terdapat dalam Annex 1b dalam Piagam WTO, dan merupakan bagian tak terpisahkan dari WTO. Oleh Karena itu, lingkup keberlakuan dari GATS tersebut mencakup negara-negara anggotanya dari seluruh dunia. Khususnya ASEAN, memandang perlu untuk mengambil sikap mengenai kerjasama di bidang jasa, terutama dalam menghadapi
perdagangan di bidang jasa yang semakin global, khususnya setelah Perundingan putaran Uruguay berhasil memasukkan perdagangan jasa dalam agenda perundingannya yang bermuara pada disepakatinya GATS (Integrasi Ekonomi ASEAN dibidang Jasa, 2009) Kemudian dalam Uruguay round yang ditandatangani pada tahun 1994 menjadi Undang-Undang No.7 Tahun 1994 tanggal 2 Nopember 1994 memberikan waktu kepada Indonesia untuk melaksanakan kebijkan pendidikan dalam aturan GATS yang mengatur liberalisasi perdagangan pada 12 sektor, dimana perjanjian tersebut menetapkan pendidikan sebagai salah satu bentuk pelayanan sektor publik yang harus diprivatisasi. Arah liberalisasi pendidikan sejalan dengan logika ekonomi kapitalisme dengan menjadikan pendidikan sebagai barang komersial (Komoditi). Klasifikasi sektor jasa menurut GATS tersebut ada 12 yaitu :
”Business services, Communication services, Construction and related engineering services, Distribution services, Education services, Environmental services, Financial services, Health related and social services, Tourism and travel related services, Recreational, cultural and sporting services, Transportational services, and Other services not included elsewhere.”
Perjanjian tersebut mengatur tata cara perdagangan barang, jasa, dantrade related intellectual property rights (TRIPS) atau hak atas kepemilikan intelektual yang terkait dengan perdagangan. Dalam bidang jasa, yang masuk sebagai obyek pengaturan WTO adalah semua komoditas jasa, tanpa terkecuali bidang pendidikan. Liberalisasi (Kapitalisasi) pendidikan sejatinya merupakan kepentingan kelas pemodal dengan
orientasi surplus value. Praktek liberalisasi akan menghilangkan tanggung jawab Negara dengan menyerahkan pendidikan kepasar, karena dunia pendidikan merupakan ladang bisnis yang sangat menjanjikan (Victor Nalle 2011:561-560).
Sejak putaran Doha di Qatar tahun 2000, Indonesia sudah berkomitmen dalam GATS dibidang pendidikan hal ini ditandai dengan diundangkannya UU Sisdiknas Tahun 2003 atau UU No.20 Tahun 2003. Namun dengan dimakzulkan UU Sisdiknas tersebut oleh Mahkamah Konstitusi maka saat ini UU tersebut tidak berlaku lagi (Sofian Efendi.
GATS: Neo-imprialisme modern dalam Pendidkan 2005:3). Jadi secara tidak langsung segala kesepakatan yang terjadi didalam GATS haruslah dipatuhi dan dijalankan dengan cara meratifikasi perjanjian tersebut menjadi sebuah Undag-Undang, khususnya dalam bahasan skripsi ini adalah Undang-Undang Perguruan Tinggi.
BAB III
KEBIJAKAN PENDIDIKAN DI INDONESIA SEBELUM DAN SESUDAH RATIFIKASI GATS
Pada bab ini menjelaskan tentang Kebijakan pendidikan tinggi yang telah dilaksanakan oleh pemerintah dimulai dari Undang-undang nomor 22 tahun 1961 tentang perguruan tinggi hinga Undang-Undang Pendidikan Tinggi No.12 tahun 2012.
A. Kebijakan pendidikan tinggi menurut Undang-Undang nomor 22tahun 1961 tentang perguruan tinggi. serta UU No.2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Kebijakan mengenai pendidikan tinggi di Era Orde Lama telah ada dengan di Undangkannya UU nomor 22 tahun 1961 tentang pendidikan tinggi. Didalam UU tersebut terdapat sepuluh bab untuk lebih jelasnya dapat dilihat didalam tabel 1.1 UU No.22 Tahun 1961 berikut ini;
No Bab Pasal Penjelasan
1 BAB I 1-5 Ketentuan umum, seperti; Arti perguruan tinggi, Tujuan, Kebebasan Ilmiah dan Mimbar serta kebebasan berorganisasi.
2 BAB II 6-8 Bentuk, tugas dan susunan perguruan tinggi 3 BAB III 9-10 Tingkat dan susunan pelajar, ujian dan gelar
4 BAB IV 11-16 Kelengkapan Perguruan Tinggi
5 BAB V 17 Kemahasiswaan dalam Perguruan Tinggi 6 BAB VI 18-21 Definisi Perguruan Tinggi
7 BAB VII 22-30 Perguruan Tinggi Swasta 8 BAB VIII 31-34 Ketentuan Lain
9 BAB IX 36-36 Ketentuan Peralihan
10 BAB X 37 Penutup
Sumber : diolah dari UU No.22 Tahun 1961
Kebijakan mengenai pendidikan tinggi pada masa Orde Lama sangat dipengaruhi oleh pengaruh politik Manipol Usdek. Bahkan dapat dikatakan bahwa pemerintah sadar benar akan posisi pendidikan sebagai mekanisme rekayasa sosial, budaya.ekonomi dan politik karena itu tujuan pendidikan nasional serta upaya pendidikan tak mungkin dilepaskan dari konsep Manipol Usdek. Pancasila-Manipol/Usdek adalah Moral dan Falsafah Hidup BangsaIndonesia serta merupakan manifesto persatuan Bangsa dan Wilayah Indonesia, demikian pula merupakan perasan kesatuan jiwa sebagai Weltanschaung Bangsa Indonesia dalam penghidupan Nasional sebagai landasan bagi semua pelaksanaan Pendidikan Nasional adalah Pancasila-Manipol/Usdek. Dengan demikian, Pancasila-Manipol/Usdek harus menjiwai semua segi Pendidikan Nasional (Pasal 1, Penetapan Presiden Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 1965 Tentang Pokok-Pokok Sistem Pendidikan Nasional Pancasila)
Pada pasal 1 UU No. Tahun 1961 dijelaskan mengenai Perguruan Tinggi adalah lembaga ilmiah yang mempunyai tugas menyelenggarakan pendidikan dan
pengajaran di atas perguruan tingkat menengah, dan yang memberikan pendidikan dan pengajaran berdasarkan kebudayaan kebangsaan Indonesia dan dengan cara ilmiah. Dari penjelasan mengenai UU No. 22 Tahun 1961 yang merupakan Undang-undang pertama Pendidikan Tinggi di Indonesia masih memerlukan beberapa penyempurnaan sehingga pada pemerintahan orde baru disempurnakan melalui UU No.2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Penyempurnaan pada UU No. 22 tahun 1961 tertuang dalam UU No.2 tahun 1989 tentang sistim pendidikan nasional yang kali ini mengikuti GBHN (Garis Besar Haluan Negara). Pada UU ini terdapat 20 Bab dan 59 pasal yang merupakan penyempurnaan UU sebelumnya, berikut tabel 1.2 UU No.2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional;
No Bab Pasal Penjelasan
1 BAB I 1 Ketentuan umum, pendidikan nasional 2 BAB II 2-4 Dasar, Fungsi Dan Tujuan
3 BAB III 5-8 Hak Warga Negara Untuk Memperoleh Pendidikan
4 BAB IV 9-11 Satuan, Jalur Dan Jenis Pendidikan 5 BAB V 12-22 Jenjang Pendidikan
6 BAB VI 23-26 Peserta Didik
7 BAB VII 27-32 Tenaga Kependidikan 8 BAB VIII 33-36 Sumber Daya Pendidikan
10 BAB X 40 Hari Belajar Dan Libur Sekolah 11 BAB XI 41-42 Bahasa Pengantar
12 BAB XII 43-46 Penilaian
13 BAB XIII 47 Peranserta Masyarakat
14 BAB XIV 48 Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional 15 BAB XV 49-51 Pengelolaan
16 BAB XVI 52-53 Pengawasan
17 BAB XVII 54 Ketentuan Lain-Lain 18 BAB
XVIII
55-56 Ketentuan Pidana
19 BAB XIX 57 Ketentuan Peralihan 20 BAB XX 58-59 Ketentuan Penutup
(Sumber :UU No.2 Tahun 1989)
Dari lima puluh bab dan lima puluh sembilan pasal tersebut, undang-undang tentang sisdiknas ini mencerminkan tentang kebijakan politik orde baru yang berhaluan Pancasila dan GBHN yang ditetapkan oleh Presiden, hal ini terlihat melalui pasal 2 UU No.2 Tahun 1989 tentang sisdiknas.
Menurut peraturan UU No. 2/1989 tentang Sisdiknas yakni Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang; Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan yang berdasarkan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945;
Sistem pendidikan nasional adalah satu keseluruhan yang terpadu dari semua satuan dan kegiatan pendidikan yang berkaitan satu dengan lainnya untuk mengusahakan tercapainya tujuan pendidikan nasional; Jenis pendidikan adalah pendidikan yang dikelompokkan sesuai dengan sifat dan kekhususan tujuannya; Jenjang pendidikan adalah suatu tahap dalam pendidikan berkelanjutan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan para peserta didik serta keluasan dan kedalaman bahan pengajaran; Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu;Tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dalam penyelenggaraan pendidikan; Tenaga pendidik adalah anggota masyarakat yang bertugas membimbing, mengajar dan/atau melatih peserta didik; Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran sertacara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar; Sumber daya pendidikan adalah pendukung dan penunjang pelaksanaan pendidikan yang terwujud sebagai tenaga, dana, sarana dan prasarana yang tersedia atau diadakan dan didayagunakan oleh keluarga, masyarakat, peserta didik dan Pemerintah, baik sendiri-sendiri maupun bersamasama;Warga negara adalah warga negara Republik Indonesia;Menteri adalah Menteri yang bertanggung jawab atas bidang pendidikan nasional (UU No. 2/1989).
Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) dijelaskan mengenai arti kata globalisasi yakni :globalisasi (/glo·ba·li·sa·si/ ) proses masuknya ke ruang lingkup dunia (Kamus Besar bahasa Indonesia 2008:455).
Pada dalam buku Stiglitz yang diterjemahkan dan diberi judul Washington Konsensus: Arah Menuju Jurang Kemiskinan yang diterjemahkan oleh Darmawan Triwibowo. Di dalam buku ini, Stiglitz Menjelaskan mengenai kesalahan-kesalahan penerapan resep Konsensus Washington di negara-negara berkembang, yang justru membawa negara-negara berkembang pada kesengsaraan. Selanjutnya dalam buku Globalization and Its Discontent. Buku tersebut mendapat respon dari seluruh dunia karena mengkritik secara tajam Kebijakan Konsensus Washington beserta lembaga-lembaga donor yang terkait didalamnya. Stiglitz berpandangan bahwa dia meyakini globalisasi yaitu penghapusan hambatan-hambatan terhadap perdagangan bebas dan integrasi ekonomi yang semakin kuat dapat menjadi suatu kekuatan yang kekal dan berpotensi untuk memakmurkan setiap orang di dunia, khususnya orang-orang miskin. Tetapi dia juga percaya bahwa jika memang demikian keadaannya, pengelolaan globalisasi selama ini, termasuk berbagai perjanjian perdagangan internasional yang telah memainkan peranan besar dalam menghapuskan hambatan-hambatan tersebut dan kebijakan-kebijakan yang diterapkan pada negara-negara berkembang dalam proses globalisasi, perlu dipertimbangkan kembali secara radikal (Stiglitz 2003:ix-x).
Stiglitz melanjutkan bahwa pentingnya memandang permasalahan secara adil dengan mengesampingkan ideologi serta melihat pada bukti-bukti sebelum membuat keputusan mengenai tindakan apa yang terbaik. Sayangnya, meskipun
tidak mengherankan, ketika dia berada di Gedung Putih dan Bank Dunia, dia melihat banyak keputusan dibuat seringkali karena pertimbangan ideologi dan politik. Akibatnya banyak tindakan salah arah yang dilakukan, tindakan yang tidak memecahkan masalah yang ada, tetapi yang sesuai dengan kepentingan atau keyakinan dari orang-orang yang berkuasa. Dengan mengutip Pierre Bourdieu, Stiglitz mengatakan mengenai perlunya para politisi berperilaku layaknya akademisi serta terlibat dalam perdebatan ilmiah yang berdasarkan pada fakta-fakta dan bukti-bukti yang kuat. Sayangnya, hal sebaliknyalah yang justru amat sering terjadi. Ketika para akademisi terlibat dalam pembuatan kebijakan, rekomendasi-rekomendasinya menjadi bernilai politis dan mulai membengkokkan bukti agar sesuai dengan kehendak mereka yang berkuasa (Stiglitz2003:x).
Menurut buku Making Globalization Work melihat persoalan globalisasi secara lebih meluas berikut strategi-strategi praktis yang dapat diacu bagi seluruh pengambil kebijakan di seluruh dunia. Lebih lanjut Stiglitz menuliskan keyakinnya bahwa warga negara yang memilki informasi yang lebih baik mungkin untuk memberikan perhatian terhadap penyalahgunaan perusahaan dan kepentingan keuangan tertentu yang menguasai proses globalisasi, bahwa masyarakat umum di negara industri maju dan negara-negara berkembang memiliki kepentingan yang sama dalam mewujudkan globalisasi keyakinannya