BAB
7
KAJIAN FISKAL REGIONAL |
Tahun 2021108
7.1. Kesimpulan
Dari hal-hal yang sudah di bahas pada bab diatas, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
1) Pembangunan di Provinsi Jambi dapat dikatakan cukup baik. Hal ini terlihat dari inflasi yang sangat terjaga, PDRB yang kembali tumbuh, Gini Ratio yang semakin mendekati target, dan Nilai Tukar Petani yang semakin baik;
2) Indikator Ekonomi Makro di Provinsi Jambi cukup menggembirakan. Ekonomi tumbuh 3,66% dari tahun lalu yang menunjukkan recovery berjalan dengan baik meskipun sedikit melambat dari triwulan lalu. Tingkat inflasi juga sangat terjaga Sementara tingkat suku bunga masih ditetapkan rendah untuk mendongkrak roda perekonomian agar tingkat konsumsi dapat lebih meningkat.
Kinerja rupiah di tahun ini termasuk sangat baik bahkan jauh mengungguli negara-negara lain di regional asia tenggara;
3) Indikator kesejahteraan juga sudah membaik. Hal ini terlihat dari IPM yang tumbuh dan tingkat pengangguran juga menurun. Hal ini semakin diperkuat dengan tingkat kesejahteraan petani yang semakin meningkat. Kemiskinan memang masih harus menjadi perhatian Pemerintah karena tingkat kemiskinan masih cukup tinggi meskipun sudah turun dari tahun lalu. Selain itu tingkat ketimpangannya juga tetap harus diperbaiki meskipun sudah turun dari tahun lalu.
Dengan membaiknya indikator-indikator tersebut berarti juga menjadi pertanda bahwa kebijakan dan bantuan yang diberikan oleh Pemerintah efektif;
4) Kinerja APBN pada tahun ini cukup menggembirakan. Kenaikan harga CPO dan Batubara di pasar global turut mendongkrak penerimaan perpajakan sehingga mampu memperoleh catatan tertinggi dalam 3 tahun terakhir. Capaian ini bahkan lebih baik dari tahun 2019 sebelum pandemi terjadi. Sementara untuk PNBP juga mengalami kenaikan yang tidak kalah besar;
5) Sementara itu, disisi belanja juga menghasilkan kinerja yang cukup baik. Hal ini terlihat dari Belanja Pegawai dan Belanja Modal yang tumbuh. Namun sayangnya capaian Belanja Barang turun meskipun capaian realisasinya lebih baik dari tahun lalu;
6) Kinerja yang baik pada APBN ternyata juga diikuti dengan kinerja yang baik pula oleh APBD. Hal ini terlihat dari capaian pendapatan daerah yang naik. Peningkatan ini salah satunya disebabkan peningkatan dari sisi PAD mengalami pertumbuhan. Sementara pendapatan yang turun adalah pendapatan lain-lain yang disebabkan berkurangnya penerimaan hibah yang tahun lalu cukup besar untuk penanganan COVID-19;
7) Peningkatan pada pendapatan ini juga diikuti peningkatan dari sisi realisasi belanja daerah.
Belanja daerah naik meskipun belanja pegawai turun pada tahun ini. Hal ini karena Belanja Modal yang sebelumnya turun kini sudah mulai membaik dan naik. Untungnya lagi, pertumbuhan pada belanja barang, hibah, bagi hasil dan belanja bantuan keuangan cukup menggembirakan;
8) Tahun ini APBD kembali surplus yang lebih besar dari tahun lalu. Ditambah lagi pembiayaan netto yang positif sehingga mencatat SILPA cukup besar. Jumlah SILPA yang cukup besar ini perlu menjadi perhatian untuk menggenjot belanja daerah kedepan agar lebih optimal dan menjadi motor penggerak roda perekonomian di daerah;
9) Dengan kondisi fiskal yang membaik tersebut, Pemerintah sudah seharusnya lebih serius mengembangkan sektor unggulan dan potensial di daerah. Sektor unggulan tersebut adalah sektor Pertanian, Kehutanan & Perikanan, Sektor Pertambangan & Penggalian serta Sektor Jasa
Pendidikan. Sementara itu, Sektor Usaha Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang serta Sektor Informasi dan Komunikasi merupakan sektor yang potensial untuk dikembangkan di Provinsi Jambi. Dengan memiliki peta potensi dan sektor unggulan ini, tentunya diharapkan belanja fiskal ke depan diarahkan untuk mendukung infrastruktur serta sarana prasarana terkait yang dapat semakin mendorong sektor tersebut untuk semakin tumbuh.
Bahkan jika direncanakan dengan baik, bukan tidak mungkin sektor unggulan ini akan menjadi sektor yang khas dari Provinsi Jambi sehingga semakin memperbesar peran Provinsi Jambi di regional Sumatera kedepan;
10) Berdasarkan hasil analisis untuk tahun 2021 ini, sebagian besar arah kebijakan dan belanja fiskal di tahun ini sudah sejalan dengan Prioritas Nasional baik antara belanja K/L dengan DAK Fisik, DAK Non Fisik maupun Dana Desa. Namun hal yang perlu menjadi catatan adalah masih cukup tinggi inefisiensi belanja khususnya berkaitan dengan pengembangan jalan di Provinsi Jambi yang terkesan sangat boros dalam perbaikan jalan. Hal ini perlu diperhatikan mengingat pengembangan jalan merupakan isu penting dan serius untuk diperhatikan karena merupakan faktor penting dalam pengembangan ekonomi ke depan;
11) Kebijakan fiskal yang telah dilaksanakan oleh Pemerintah pusat dan daerah mampu meningkatkan pertumbuhan angka indeks pembentuk IPM;
12) Belanja Pemerintah pada fungsi kesehatan berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan indeks kesehatan;
13) Belanja Pemerintah pada fungsi pendidikan berpengaruh positif namun tidak secara langsung meningkatkan indeks pendidikan;
14) Belanja Pemerintah pada fungsi ekonomi berpengaruh positif namun tidak secara langsung meningkatkan indeks ekonomi.
7.2. Rekomendasi
Beberapa hal yang dapat kami rekomendasikan untuk lebih mengoptimalkan APBN dan APBD kedepan antara lain:
a) Mempercepat realisasi belanja APBN dan APBD dimana realisasi belanja Pemerintah menjadi penggerak utama roda perekonomian yang melambat akibat pandemi COVID 19;
b) Menggunakan alternatif pembiayaan daerah. Salah satu dari beberapa alternatif pembiayaan berupa skema pinjaman daerah. Sebagai contoh adalah pinjaman daerah Pemkot Jambi ke PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI), yang digunakan untuk rehabilitasi terminal, rumah sakit, jalur pedestrian dan pipa air minum. Hal ini terbukti efektif meningkatkan angka IPM Kota Jambi melebihi IPM Provinsi bahkan diatas angka IPM Nasional;
c) Kerja sama antar daerah. Hasil diskusi dengan pihak pemda diperoleh informasi bahwa untuk meningkatkan konektivitas di tengah terbatasnya kapasitas fiskal daerah dengan melakukan kerja sama antar daerah. Sebagai contoh adalah pembangunan akses darat jalan lintas kabupaten, yaitu Tanjung Jabung Timur-Tanjung Jabung Barat-Indra Giri Hilir Prov Riau. Dengan terpangkasnya jarak dan waktu tempuh tentu akan membuat lalu lintas orang dan barang lebih efisien, membentuk sentra ekonomi baru untuk pertumbuhan ekonomi yang lebih baik;
KAJIAN FISKAL REGIONAL |
Tahun 2021110
d) Harmonisasi kebijakan fiskal RPJMN dan RPJMD. Koordinasi arah pembangunan yang jelas dan terukur, oleh Pemerintah pusat dan daerah merupakan hal yang mutlak diperlukan untuk mendukung pembangunan ekonomi daerah. Pembangunan Pelabuhan Ujung Jabung di Kab.
Tanjung Jabung Timur merupakan praktik harmonisasi program pusat dan daerah. Fisik pelabuhan dibangun oleh Kemenhub, Jembatan penghubung dibangun oleh Kemen PUPR, sedangkan jalan akses pelabuhan dibangun oleh pemda. Dengan terbukanya konektivitas jalan dan pelabuhan diharapkan mampu untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi serta meningkatkan angka IPM Kab. Tanjung Jabung Timur dan Tanjung Jabung Barat yang masih berstatus IPM “sedang”;
e) Optimalisasi Pendapatan Asli Daerah. Alternatif optimalisasi PAD antara lain: mengoptimalkan sektor unggulan dan potensial daerah. Antara lain: sektor pariwisata di Kab. Kerinci, sektor pertanian: di Sungai Penuh, Batanghari, Bungo, Tebo, dan Merangin sektor perdagangan di Muaro Jambi, sektor kehutanan di Tanjung Jabung Barat dan Timur, Sektor pertambangan di Kab.
Sarolangun. Langkah strategis yang lain adalah melakukan digitalisasi transaksi ekonomi di daerah (contoh: pembayaran retribusi, pajak daerah, pajak kendaraan).