• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dari pemaparan dan analisis di dalam bab-bab sebelumnya maka penulis menyimpulkan beberapa hal yang berkaitan dengan Tingkat Partisipasi Masyarakat Kelurahan Titi Rante di dalam Pilkada Kota Medan tahun 2005 dan Pilkada Provinsi Sumatera Utara Tahun 2008, sebagai Berikut :

1. Bahwa tingkat partisipasi masyarakat di dalam dua pentas politik lokal mengalami penurunan dari angka kuantitas pemilih. Pada Pemilu 2004 persentase pemilih mencapai 85 %, sedangkan pada Pilkada Kota Medan angka kuantitas pesentase pemilih hanya mencapai 46 % dan pada Pilkada Provinsi Sumatera Utara hanya mencapai angka 39 % dari Jumlah Pemilih yang terdaftar. Dapat disimpulkan bahwa tingkat partisipasi politik di dalam dua pentas politik lokal, partisipasi masyarakat Kelurahan Titi Rante adalah rendah.

2. Rendahnya tingkat partisipasi masyarakat kelurahan Titi Rante dipengaruhi oleh berbagai hal yakni, tingkat kesadaran politik yang rendah menyebabkan pemikiran kritis tentang pelaksanaan dan minat untuk berpartisipasi sangat rendah, tingkat perekonomian yang belum sejahtera menyebabkan derajat kepercayan masyarakat terhadap pemimpin daerah yang mampu memperbaiki permasalahan ekonomi masyarakat sangat rendah dan membuat masyarakat cenderung untuk menjatuhkan pilihannya untuk tidak menggunakan hak suaranya.

3. Kegagalan partai politik dalam mempengaruhi dan memberikan kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam ruang politik, yang pada akhirnya memberikan kesenjangan politik antara masyarakat dengan partai politik. Dan beredar asumsi mendasar di dalam massyarakat bahwa partai politik dan berbagai simbolitasnya hanya hadir untuk sebuah kekuasaan bukan mensejahterahkan masyarakat, hal ini sangat menekan dan membuat apatiisme di tengah masyarakat kelurahan Titi Rante.

4. Tidak berjalannya pengembangan isu-isu strategis yang berkenaan langsung dengan kepentingan kebanyakan masyarakat. Tingkat kejenuhan masyarakat yang sampai diambang batas melihat realita sosial politik yang ada mendorong masyarakat tidak menjatuhkan atau menggunakan hak politiknya, karena melihat kandidat pemimpin yang dihadirkan dalam pentas politik lokal tidak memiliki cukup kemampuan untuk menjawab dan melahirkan kebijakan yang mendorong kesejahteraan rakyat.

5. Kinerja KPUD di tingkat Pilkada Kota Medan tahun 2005 dan Pilkada Provinsi Sumatera Utara tahun 2008 yang belum maksimal dalam melakukan kampanye agressif dalam mendorong minat individu pemilih khususnya masyarakat kelurahan Titi Rante. Berbagai bentuk kampanye tentang pelaksanaan Pilkada baik melalui media cetak dan selebaran, maupun spanduk di lingkungan Kelurahan Titi Rante yang dilaksanakan oleh KPUD belum terasa maksimal. Hal ini juga menciptakan ketidaktahuan ataupun kebingungan masyarakat akan tujuan dan misi dari pelaksanaan Pilkada dalam menentukan Kepemimpinan daerah.

2. Rekomendasi

Dari kesimpulan yang dipaparkan diatas, maka penulis yang melakukan penelitian ini merekomendasikan beberapa hal yang berkaitan erat dengan rendahnya tingkat partisipasi politik masyarakat kelurahan Titi Rante. Adapun beberapa rekomendasi tersebut adalah sebagai berikut :

1. Perlu adanya sebuah identifikasi masyarakat Kelurahan Titi Rante yang lebih jauh dan mendalam, untuk melihat dan observasi mendalam mengenai seberapa jauh motif pendidikan dan ekonomi mempengaruhi minat masyarakat Kelurahan Titi Rante untuk menggunakan hak politiknya dan membuat pilihan politiknya. Hal ini juga berguna untuk melihat fenomena berkembangnya Golongan Putih (Golput) di tengah berlangsungnya berbagai bentuk Pilkada Langsung di daerah-daerah di Indonesia. Karena menurut pemaparan diatas angka mereka yang tidak menggunakan hak suaranya pada Pilkada Sumatera Utara tahun 2008 mencapai persentase yang mengkhawatirkan yaitu 61 % dari jumlah pemilih terdaftar.

2. Perlu dilakukannya observasi mendalam mengenai variabel-variabel yang mempengaruhi seseorang atau sekelompok orang untuk menggunakan hak suaranya; yang menyangkut sosial etnik, agama, ideologi, perencanaan ekonomi, kedaulataan politik masyarakat dan berbagai variabel lainnya. Untuk melihat kecenderungan terus menurunnya angka kuantitas dan kualitas dukungan masyarakat dalam momentum politik nasional dan lokal. Diharapkan kedepannya para pelaksana dan peserta di dalam Pemilu

dan Pilkada dapat memformulasikan kebijakan yang mendorong untuk tumbuh dan berkembangnya angka partisipasi di tengah masyarakat.

3. Perlu adanya tindakan-tindakan politik untuk melihat fenomena ‘golput’ sebagai peristiwa yang mengkhawatirkan terhadap kedaulatan dan kemandirian politik, jika dilihat dari sebuah sinergitas hubungan dan pola-pola kekuasaan antara mereka yang memiliki kekuasaan dan masyarakat yang diikat dan diatur oleh kekuasaan tersebut. Diharapkan dengan adanya formulasi kebijakan yang dihadirkan baik dari sisi partai politik, pemerintah, peserta Pemilu dan Pilkada, penyelenggara Pemilu dan Pilkada, akademisi, serta masyarakat secara luas dapat melakukan upaya pembentukan kesadaran akan kedaulatan politik dan pemikiran kritis terhadap pentas politik lokal dan nasional, yang mendorong masyarakat memiliki motif rasional dalam menggunakan hak politiknya.

Daftar Pustaka

Almond, Gabriel, The Civic Culture, Princeton: Princeton University Press, 1963.

Budiardjo, Miriam, Partisipasi dan Partai Politik, PT. Garamedia, Jakarta, 1982.

Boleong, L., Metode Penelitian Kualitatif. PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2002.

Castles, Lance, Pemilu Dalam Konteks Komparatif dan Historis, Pustaka Widyatama, Jogyakarta, 2004.

Chillcote, Ronald. Teori Perbandingan Politik, Penelusuran Paradigma. PT Rajagrafindo Persada, Jakarta, 2003.

Chimad, Tatang, Kritik Terhadap Pemilihan Langsung, Pustaka Widyatama, Jogyakarta, 2004.

Dahl, Robert, Dilema Demokrasi Pluralis, Rajalawi Press, Jakarta, 1982. Edwin, Donni, Pilkada Langsung :Demokratisasi Daerah dan Mitos Good Governance, Patner Ship, Jakarta, 2005.

H. Nawawi, Metode penelitian bidang sosial, Gadjah Mada University Pers, Jogyakarta, 1995.

Haris, S., Menggugat Pemilihan Umum Orde Baru, Sebuah Bunga Rampai. Yayasan Obor Indonesia dan PPW-LIPI, Jakarta, 1998.

Hutington, Samuel, Partispasi Politik di Negara Berkembang, Rineka Cipta, Jakarta, 1999.

Khoirudin, Partai Politik dan Agenda Transisi Demokrasi, Pustaka Fajar, Jogyakarta, 2004.

Liddle, R. William, Partisipasi dan Partai Politik, Grafitti Press, Jakarta, 1992.

Macridis, Roy, Perbandingan Ilmu Politik,, Penerbit Erlangga, Jakarta, 1992.

Mahfud M, Hukum dan PilarPilar Demokrasi, Gama Media, Jogyakarta, 1999.

Porwantana, Undang-Undang Partai Politik, Pustaka Widya Utama, Jogyakarta, 2003.

Prihatmoko, Joko, Pemilihan Kepala Daerah Langsung Filosofi Sistem dan Probleme Penerapan di Indonesia, Pustaka Pelajar, Jogyakarta, 2005.

Sastroadmodjo, Sudijono, Perilaku Politik, IKIP Press, Semarang, 1995. Schorder, Peter, Strategi Politik, Frederich Ndauman Stifung,1998.

Shonfield, Andrew, Kapitalisme Modern, Terjemahan dari Modern Capitalism, London; Oxford University, 1965.

Singarimbun, M., Metodologi penelitian survey. LP3ES, Jakarta.

Sitepu, Antonius, Sistem Politik Indonesia, Pustaka Bangsa Press, Medan, 2006.

Rahman, A., Sistem Politik Indonesia, Graha Ilmu, Jogyakarta, 2007. Rudi, May, Studi Strategi , Dalam Transformasi System Internasional Pasca Perang Dingin, Refika Aditama, Bandung, 2002.

Venus, Antar, Manajemen Kampanye Panduan Teoritis dan Praktis dalam Mengefektifkan Kampanye Komunikasi, Simbiosa Rekatama, Bandung, 2004.

Dokumen terkait