TENGGARA BARAT
BAB 6. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Berdasarkan hasil analisis dan pengamatan secara empiris maka dapat dikemukakan simpulan dan rekomendasi berikut ini.
6.1
a. Dampak perubahan iklim di Pulau Lombok sudah dialami dan dirasakan oleh masyarakat yang diindikasikan oleh bergesernya musim tanam dan panen padi, adanya bahaya gagal tanam di beberapa lahan sawah tadah hujan dan lahan sawah ½ irigasi di beberapa kecamatan di Kabupaten Lombok Tengah dan Kabupaten Lombok Timur terutama pada musim tanam tahun 2006 dan tahun 2007.
b. Sektor pertanian di Pulau Lombok NTB rentan terhadap dampak perubahan iklim global yang diindikasikan oleh adanya bahaya (hazard) gagal tanam akibat kekeringan, gagal premordial dan gagal pencapaian kuantitas dan kualitas produksi akibat kekeringan dan perubahan variabilitas iklim berupa frekuensi dan kuantitas curah hujan yang berlebihan pada saat menjelang panen.
c. Berdasarkan hasil analisis tipe penggunaan lahan untuk pertanian maka daerah-daerah yang rentan terhadap kekeringan adalah Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara, Kecamatan Sekotong dan Sekotong Tengah, Kecamatan Pringgabaya dan Kecamatan Sembalia Kabupaten Lombok Timur, serta beberapa Kecamatan di Kabupaten Lombok Tengah yakni Kecamatan Pujut, Kecamatan Praya dan Kecamatan Praya Barat.
d. Secara spasial, areal-areal persawahan yang sangat rentan terhadap kekeringan berdasarkan hasil analisis tentang sebaran curah hujan di Pulau Lombok adalah Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara, Kecamatan Sambelia, Kecamatan Pringgabaya, Kecamatan Sembalun, beberapa desa di Kecamatan Swela, Kecamatan Keruak, Kecamatan Jerowaru, Kecamatan Sakra Kabupaten Lombok Timur, dan sebagian
127 besar lahan tadah hujan di Kabupaten Lombok tengah seperti kecamatan Pujut, Kecamatan Praya, Kecamatan Praya Barat dan Praya Barat Daya. Sedangkan areal-areal persawahan yang berstatus rentan berdasarkan sebaran curah hujan adalah Kecamatan Praya Tengah dan Kecamatan Praya Timur Kabupaten Lombok Tengah, Kecamatan Sakra
e. Jumlah kecamatan yang persentase masyarakat pra sejahtera dan kurang sejahtera di Pulau Lombok yang < 56.94% jauh lebih sedikit, sedangkan persentase masyarakat pra sejahtera dan kurang sejahtera 69.49% ke atas adalah yang paling banyak dan diperkirakan sangat rentan terhadap perubahan iklim karena rendahnya kemampuan untuk beradaptasi. Masyarakat pra sejahtera dan kurang sejahtera tersebut tersebar :
1) Di Kabupaten Lombok Utara adalah Kecamatan Bayan dan Tanjung.
2) Di Kabupaten Lombok Timur adalah Kecamatan Sembalun, Wanasaba, Sembalun, Sembelia, Wanasaba, Aikmel, Keruak.
3) Di Kabupaten Lombok Tengah adalah Kecamatan Pujut, Kecamatan Praya Barat dan Praya Barat Daya, Kecamatan Batu Keliang, Kecamatan Praya Tengah dan Praya Timur.
4) Kecamatan-kecamatan yang persentase masyarakat pra sejahtera (miskin) antara 56.94% - 69.49% adalah Kecamatan Pemenang, Kecamatan Sekotong, Kecamatan Lembar, Kecamatan Gerung, Kecamatan Jonggat, Kecamatan Praya dan janapria, Kecamatan Masbagik, Kecamatan Sukamulia Gangga Kabupaten Lombok Utara, Kecamatan Swela Lombok Timur, Kecamatan Praya Tengah dan Praya Timur Kabupaten lombok Tengah.
5) Kecamatan-kecamatan yang persentase masyarakat pra sejahtera (miskin) antara < 56.94% adalah Kecamatan Kayangan, Gangga Kabupaten Lombok Utara, Kecamatan Swela Lombok Timur, Kecamatan Praya Tengah dan Praya Timur Kabupaten lombok Tengah.
128 6.2
a) Untuk memperkuat pelaksanaan progran mitigasi dan adaptasi di Pulau Lombok maka melalui penyusunan Grand Design Strategy maka perlu memperhatikan unsur-unsur pada prinsip-prinsip pengelolaan lingkungan terpadu yakni (1) Koordinasi, (2) Kolaborasi, (3) Partisipasi / Keterlibatan (kemauan, kemampuan, kesempatan atau peluang), (4) Keterwakilan (representatif), (5) Daya dukung (Carrying Capacity), (6) Pemerataan (Equity), (7) Skala Prioritas, (8) Keberlanjutan (sustainable) sumberdaya alam pertanian dalam aspek lingkungan, sosial budaya dan ekonomi.
Kebijakan
b) Adaptasi tidak hanya difokuskan pada upaya mengatasi perubahan biofisik lingkungan, tetapi termasuk pula peningkatan kemampuan kelembagaan dan pengembangan ketahanan sosial-ekonomi masyarakat miskin untuk memperkuat kemampuan bertahan (resilience) dan mengurangi tingkat kerentanan. Oleh karena itu perlu memperkuat kemampuan masyarakat miskin dengan melakukan pemberdayaan, memfasilitasi pembuatan embung untuk panen air pada musim hujan di daerah tadah hujan, memfasilitasi dalam renovasi embung yang mengalami pendangkalan (sedimentasi).
c) Untuk memperkaya daya iklim yang sangat bermanfaat untuk prediksi dan peramalan cuaca setiap mulai musim tanam maka diharapkan agar BMG berkolaborasi dengan Dinas Pertanian untuk mengkoordinir petugas pengamat dan pencatatan curah hujan di setiap stasiun secara rutin.
d) Perlu mengembangkan Sekolah Lapang Iklim (SLI) di Pulau Lombok dengan mengadopsi keberhasilan Sekolah lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) dengan tetap memadukannya dengan pelestarian kearifan lokal. Di pedesaan masih banyak terdapat pengetahuan warisan leluhur tentang pengetahuan peramalan keadaan curah hujan yang dimiliki oleh masyarakat yang perlu digali dan dipelajari secara ilmiah.
129 e) Kajian terpadu dan multi lokasi tentang perubahan jadwal tanam dan
pola tanam di setiap daerah irigasi untuk daerah hulu, Tengah dan hilir perlu dilakukan dengan berkolaborasi dan melibatkan lembaga penelitian dan perguruan tinggi. Kajian ini dilakukan berdasarkan durasi dan rentang waktu curah hujan yang umumnya terjadi antara November – Februari/Maret setiap tahun. Berdasarkan hasil kajian ini digunakan sebagai dasar melakukan komando jadwal mulai musim tanam tiap awal musim tanam, mengatur pola tanam yang lebih adaptif dengan perubahan iklim untuk mencegah bahaya penurunan kualitas dan kuantitas produksi.
f) Perlu memfasilitasi dan mendorong petani di daerah lahan sawah yang rentan terhadap dampak perubahan iklim seperti daerah lahan tadah hujan Lombok Tengah untuk melakukan diversifikasi tanaman pangan pada musim hujan, yakni dengan membagi lahan sawah secara proporsional untuk tanaman padi dan tanaman sayuran dan/atau palawija yang bernilai ekonomi tinggi. Misalnya di Kecamatan Jonggat dan Kecamatan Pringgarata adalah 1/4 bagian untuk kacang tanah, ¾ untuk padi) karena lahan sawah di daerah ini rentan terhadap penurunan produksi padi akibat variabilitas iklim. Secara vegetatif, pertumbuhan tanaman padi di kecamatan ini sangat baik mulai dari umur 15 hari, masa premordial sampai pembungaan, namun pertengahan sampai akhir Februari, yakni saat padi melakukan penyerbukan sering terjadi frekuensi dan curah hujan yang sangat beerlebihan sehingga mengganggu penyerbukan. Demikian juga halnya di daerah tadah hujan di Kabupaten Lombok Tengah, perlu melakukan diversifikasi tanaman pada musim hujan.
g) Perlu secara rutin informasi kapasitas dan debit air sungai sebagai sumber air irigasi kepada Dinas Pertanian Tanaman Pangan. Perlu juga informasi potensi curah hujan setiap tahun dari BMG dengan lebih mengaktifkan fungsi stasiun pengukuran curah hujan.
h) Mengolah limbah pertanian menjadi pupuk organik dan pencegahan pembakaran jerami. Mewujudkan upaya untuk memanfaatkan limbah
130 pertanian menjadi pupuk organik merupakan salah satu strategi adaptasi yang memerlukan inovasi teknologi.
i) Perlu memperhatikan skala prioritas dalam mengimplementasikan aksi adaptasi karena tujuan adaptasi selalu terkait dengan sasaran pembangunan yang telah dituangkan dalam RPJM Daerah dan RPJPN karena perubahan iklim tidak hanya sering berdampak pada sektor pertanian, tetapi sering juga berdampak pada banyak sektor lainnya.
j) Selain melakukan pembangunan saluran irigasi untuk memperluas areal tanam dengan menambah jangkauan distribusi air irigasi, perlu juga pembangunan saluran drainase untuk mengatasi bahaya banjir pada daerah-daerah yang potensial terkena bahaya (hazard) pada saat menjelang panen padi akibat frekuensi dan intensitas curah hujan yang sangat berlebihan.
k) Perlu mendorong petani untuk membuat embung-embung kecil (water-pond) pada areal sawah milik petani untuk panen air hujan (Water harvesting) mengingat lama musim hujan yang relatif singkat.
Pembuatan embung untuk panen air hujan dilakukan pada daerah-daerah yang rentan terhadap kekeringan seperti beberapa di Kecamatan Pujut, Kecamatan Praya dan Kecamatan Praya.
l) Perlu membantu masyarakat miskin dalam meningkatkan kapasitas beradaptasi melalui penguatan ekonomi pedesaan.
m) Perlu mengkampanyekan penanaman padi dengan sistem Gogorancah Tanpa Olah Tanah (TOT) di daerah-daerah bersawah tadah hujan dan sistem penanaman padi hemat air yang dikenal dengan nama sistem Padi SRI (System Rice Intensification) yang telah diuji coba di daerah yang rentan terhadap defisit air irigasi. Pengembangan penanaman padi dengan sistem ini perlu disertai dengan uji coba penemuan varitas yang tahan lama kekeringan dan berumur genjah.
n) Perlu pengembangan dan pemanfaatan irigasi dengan air tanah dalam di Lombok Selatan dengan mengadopsi teknologi irigasi air tanah
131 dalam (Ground Water) yang sedang dikembangkan di Desa Akar-Akar Kecamatan Bayan untuk irigasi jagung.
o) Perlu menggalakkan secara luas penanaman tanaman albasia (turi) di pematang sawah daerah tadah hujan untuk konservasi lahan karena tanaman albasia selain bermanfaat untuk makanan ternak, dapat juga bermanfaat untuk pupuk hijau.