• Tidak ada hasil yang ditemukan

JUMLAH Jenis HTI

VII. KESIMPULAN DAN SARAN

7.1. Kesimpulan

Berdasarkan analisis terhadap hasil kajian dan pembahasan yang dilakukan serta berpedoman kepada tujuan kajian ini, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1. Pembangunan industri pulp berbasis pada hutan tanaman industri pulp di Kabupaten Pelalawan pada tingkat suku bunga pinjaman 15 persen layak untuk dikembangkan karena memberikan NPV positif, IRR lebih besar dari tingkat suku bunga bank dan Net BIC lebih besar dari I. Perhitungan kelayakan usaha hutan tanaman industri memberikan nilai NPV sebesar Rp. 128.684.000.000,-, IRR sebesar 17,06 persen dan Net BIC sebesar 1,29.

Perhitungan kelayakan usaha industri pulp memberikan nilai NPV sebesar Rp.6.768.597.000.000,-, IRR sebesar 31,37 persen dan Net BIC sebesar 139.

2. Pembangunan industri pulp berbasis pada hutan tanaman industri di Kabupaten Pelalawan menunjukkan kurang sensitif terhadap perubahan- perubahan biaya produksi dan perubahan harga jual. Peningkatan biaya produksi hutan tanaman industri sebesar 10 persen atau penurunan harga jual kyayu sebesar 10 persen, menunjukkan investasi pembangunan hutan tanaman industri pulp masih layak untuk diusahakan. Selanjutnya peningkatan biaya produksi industri pulp sebesar 10 persen atau penurunan harga jual pulp sebesar 10 persen, menunjukkan investasi pembangunan industri pulp masih layak untuk diusahakan.

3. Pembangunan hutan tanaman industri dan operasional industri pulp di Kabupaten Pelalawan telah mampu menyerap tenaga kerja langsung sebanyak 22.929 orang. Dengan asumsi satu tenaga kerja memiliki anggota keluarga sebanyak 3 orang; maka pengusahaan industri pulp berbasis pada hutan tanaman akan mampu menghidupi 9 1.7 16 j iwa.

4. Pungutanliuran kehutanan di Kabupaten Pelalawan selama periode 2001 - 2004 telah memberikan penerimaan terhadap keuangan negara berupa PSDH dan DR sebesar Rp 165.310.644.973,- dan US$.31.438.388,40. Disamping itu total PDRB sektor kehutanan dan industri kehutanan menyumbang sebesar

Rp.401.302.860.000 atau setara dengan 40,78 persen dari total PDRB Kabupaten Pelalawan.

5. Pembangunan industri pulp berbasis hutan tanaman industri di Kabupaten Pelalawan harus dilakukan dengan melakukan ekstensifikasi areal hutan tanaman industri menjadi 47.620 hektar per tahun dan intensifikasi berupa peningkatan potensi tegakan di atas 189 meter kubik per hektar; baik hutan tanaman industri mauptin hutan tanaman rakyat, yang disertai dengan restrukturisasi industri pulp.

6. Untuk terwujudkannya pembangunan industri pulp bsrbasis pada hutan tanaman industri perlu dilakukan alternatif strategi berupa pengembangan produktivitas hutan tanaman industri, pengembangan produktivitas industri pulp serta pengembangan kawasan sentra produksi hutan tanaman industri.

Selain itu perlu pula dilakukan penguatan daya saing industri pulp dengan penciptaan produksi bersih dan bersertifikasi ekolabel, disertai dengan pemberdayaan masyarakat. Namun ha1 yang tidak kalah penting adalah pencegahan kebakaran hutan dan lahan dengan pengawasan dan pengendalian yang ketat serta stabilitas politik dan keamanan.

7.2. Saran

1. Pengembangkan produktivitas industri pulp pada tingkat kapasitas produksi sangat ditentukan oleh daya dukung bahan baku yang lestari dari hutan tanaman industri. Oleh karena itu perlu dilakukan penambahan luas areal konsesi netto menjadi 380.960 hektar. Selain itu perlu pula dikembangkan jenis-jenis tanaman yang memiliki potensi tegakan diatas 189 meter kubik per

hektar.

2. Sektor kehutanan di Kabupatcn Pelalawan memberikan peran yang cukup besar terhadap PDRB, oleh karena itu harus dijadikan sektor basis didalam pembangunan daerah kabupaten dan dijaga kelestarian fungsi hutannya sehingga dapat berfungsi ekonomi, ekologi dan sosial. Selain itu perlu dilakukan penyesuaian terhadap tarif PSDH kayu bahan baku serpih dari 1 persen menjadi 10 persen dari harga pasar, sehingga penerimaan ncgara dan daerah dari dana perimbangan PSDH meningkat menjadi 10 kali lipat.

3. Agar tercipta har~nonisasi antara perusahaan dengan masyarakat di sekitar industri atau lokasi hutan tanaman industri perlu dikembangkan sistem pengelolaan hutan tanaman industri bersama-sama dengan masyarakat setempat dengan pola kelompok tani hutan tanaman industri. Selain memberikan lapangan pekerjaan kepada masyarakat setempat, juga akan tercipta sistem pengamanan aset hutan tanaman oleh kelompok tani dari berbagai gangguan baik o!eh manusia maupun hama tanaman,

DAFTAR PUSTAKA

Apif, M. 2002. Strategi Pengembangan Industri Pulp Berbasis Hutan Tanaman Industri Pulp Pada Kawasan Sentra Produksi di Provinsi Riau. Tesis Program Studi Magister Manajemen Agribisnis Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor

APKI, 2003. Indonesian Pulp and Paper Directory 2003. Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia. Jakarta.

Arsydd, L. 1999. Ekonomi Pembangunan, edisi ke 4. Yogyakarta. Bagian Penerbitan Sekolah Tinggi Ekonomi YKPN.

Barr, C. 2001. The Political Economy of Fiber and Finance in Indonesia's Pulp and Paper Industries. Center for International Forestry Research (CIFOR). Bogor.

Barrow, M. 1996. Statistics for Economics Accounting and Business Studies.

Second Edition. Longman London and New York.

Bank Indonesia, 2002. Perkembangan Ekonomi dan Keuangan Propinsi Riau.

Bank Indonesia Pekanbaru. Pekanbaru.

Blakely, E. J. -1994. Planning Local Economic Development : Theory and Practice. Sage Publications, California-London-New Delhi.

BPS, 2000. Pelalawan Dalam Angka Tahun 2000. Kerjasama Badan Pusat Statistik Kabupaten Pelalawan dengan Badan Perencanaan Pembangunan Kabupaten Pelalawan. Pangkalan Kerinci.

BPS, 2001a. Riau Dalam Angka 2001. Kerjasama Badan Pusat Statistik Propinsi Riau dengan BAPPEDA Propinsi Riau. Pekanbaru

BPS, 2001b. Pendapatan Regional KabupatenIKota Se-Propinsi RIau Menurut Lapangan Usaha 1993 - 2000. Badan Pusat Statistik ~ r o ~ i n s i Riau.

Pekanbaru.

BPS, 2001c. Pelalawan Dalam Angka Tahun 2001. Kerjasama Badan Pusat Statistik Kabupaten Pelalawan dengan Badan Perencanaan Pembangunan Kabupaten Pelalawan. Pangkalan Kerinci.

BPS, 2002. Statistik Kesejahteraan Rakyat Propinsi Riau 2001 (Susenas 2001).

Badan Pusat Statistik Propinsi Riau. Pekanbaru.

BPS, 2003. Pelalawan Dalam Angka Tahun 2003. Kerjasama Badan Pusat Statistik Kabupaten Pelalawan dengan Badan Perencanaan Pe~nbangunan Kabupaten Pelalawan. Pangkalan Kerinci.

Center for International Forestry Research, 2004. Generating Economic Growth, Rural Livelihoods, and Environmental Benefits from Indonesia's Forests: A Summary of Issues and Policy Options. Prefared by CIFOR for The Worid Bank. Bogor

David, F. R. 2002. Manajemen Strategis : Konsep (Edisi Ketujuh). Alih bahasa Alexander Sindoro. Prehallindo, Jakarta.

Departemen Kehutanan 2005a. Rencana Strategis Departemen Kehutanan Tahun 2005-2009. Jakarta.

Departemen Kehiltanan, 2005b. Kebijakan Pembangunan Hutan Tanaman dan Dukungan Research and Development : Keynote Paper Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan pada Workshop Sehari Dalam Rangka Identifikasi Kebutuhan Riset di Bidang Hutan Tanaman, 19 Juli 2005 di Yogyakarta. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman, Yogyakarta.

Dinas Kehutanan Provinsi Riau, 2004. Master Plan Kehutanan Provinsi Riau.

Kerjasama Dinas Kehutanan Provinsi Riau dengan CV. Dwi T e h n i ~ Consultant. Pekanbaru

Hardian, Y. 2000. Hutanku Sayang, Hutanku Malang. Majalah Kehutanan Indonesia Edisi 10 Tahun IIISeptember 2000. Jakarta.

Harian Kompas, 2003. Otonomi : Kabupaten Pelalawan, Selasa, 13 Mei 2003.

Jakarta.

Ibnusantosa, G. 2000. Prospek dan Tantangan Pengembangan Industri Pulp dan Kertas Indonesia Dalam Era Ekolabeling dan Otonomi Daerah.

Prosiding Seminar Prospek dan Tantangan Pengembangan Agribisnis Pulp dan Kertas Dalam Era Ekolabeling dan Otonomi Daerah. Pusat Studi Pembangunan Institut Pertanian Bogor.

Iskandar, U., Ngadiono dan Agung Nugraha. 2003. Hutan Tanaman Industri : Di Persimpangan Jalan. Cetakan Perhma. Ariveo Press, Jakarta.

Iskandar, U. 2005. Hutan Tanaman Industri : Skenario Masa Depan Kehutanan Indonesia. Cetakan Pertama. Diterbitkan oleh PT. Musi Hutan Persada.

Kartodihardjo, H. 2000. Membangun Daya Saing Industri Pulp dan Kertas:

Masalah Pasokan Bahan Baku Kayu. Prosiding Seminar Prospek dan Tantangan Pengembangan Agribisnis Pulp dan Kertas dalam Era Ekolabeling dan Otonomi Daerah. Pusat Studi Pembangunan IPB.

Bogor.

Kuncoro, M. 2004. Otonomi dan Pembangunan Daerah : Reformasi Perencanaan, Strategi dan Peluang. Percetakan Erlangga. Jakarta.

Kusumawati, S.A. 2001. Kajian Industri Pengolahan Kayu Hulu (IPKH) Dalam Rangka Penyelamatan Hutan Alam di Provinsi Riau. Tesis Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor

Manan, S. 1997. Hutan Riinbawan dan Masyarakat. Institut Pertanian Bogor Press.

Maturana, J. 2005. Biaya dan Manfaat Ekonomi dari Pengalokasian Lahan Hutan untuk Pengembangan Hutan Tanamar, Industri di Indonesia. CIFOR Working Paper No. 30 (i). Bogor.

Prakosa, PA. 1996. Reiicana Kcbijakan Kehutziian. Aditya Media. Yogyakarta.

PT. Riau Andalan Pulp and Paper, 2001. Suplisi Studi Kelayakan Hak Pengusahaan Hutan Tanaman PT. Riau Andalan Pulp and Paper Kabupaten Kampar, Bengkalis, Siak, Pelalawan, Kuantan Singingi dan Indragiri Hulu Provinsi Riau. Jakarta

PT. Riau Andalan Pulp and Paper, 2005. Rencana Pemenuhan Bahan Baku Industri Tahun 2005. Pekanbaru.

Rahardjo, D. 1990. Transformasi Pertanian, Industri dan Kesempatan Kerja.

Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Rivaie, E. H. 1979. Beberapa Aspek Pengaruh Pabrik Semen terhadap Masyarakat Setempat di Kecamatan Citeureup. Penerbit Erlangga, Jakarta.

Saragih, B dan Sipayung, T. 2000. Membangun Daya Saing Agribisnis Pulp dan Kertas Dalam Era Ekolabeling dan Otonomi Daerah. Prosiding Seminar Prospek dan Tantangan Pengembangan Agribisnis Pulp dan Kertas dalam Era Ekolabeling dan Otonomi Daerah. Pusat Studi Pembangunan Institut Pertanian Bogor. Bogor

Sarijanto, T. 2001. Kehutanan Menjawab Krisis. Grafika Citra Adijaya. Jakarta Simangunsong, B. C. 2003. The Economic Value of Indonesia's Natural

Production Forest. Indonesian Working Group on Forest Finance.

Jakarta.

Soeharto, I. 1997. Manajemen Proyek : Dari Konseptual Sampai Operasional.

Cetakan Ketiga. Penerbit Erlangga. Jakarta.

Soekartawi. 1997. Agribisnis : Teori dan Aplikasinya. Raja Grafindo Persada.

Jakarta

Sudirno, 2005. Potret Kehutanan Provinsi Riau : Kini dan Akan Datang. Makalah pada Lokakarya Penanaman Meranti diantara Tanaman Kelapa Sawit tanggal 23 Juli 2005 di Pekanbaru. Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Indragiri-Rokan. Pekanbaru.

Suhendang, E. 1992. Satu Pilihan Mengenai Model Pengelolaan Hutan Tanaman Industri. Lokakarya Konservasi Biodiversity di Hutan Produksi, Kerjasama Departemen Kehutanan dengan Fakultas Kehutanan IPB, tanggal 29-30 April 1992. Bogor

Sukardji, U. 2000. Pajak Pertambahan Nilai. Edisi : Revisi cetakan ketiga. PT.

Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Sukirno, S. 1985. Ekonomi Pembangunan: Proses, Masalah dan Dasar Kebijaksanaan. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan Bima Grafika. Jakarta.

Sukirno, S. 1997. Pengantar Teori Maiuoekonomi. Edisi kedua. P'l. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Sunderlin, W.D. dan I.A.P. Resosudarmo, 1997. Laju dan Penyebab Deforestasi di Indonesia : Penelaahan Kerancuan dan Penyelesaiannya. Occasional Paper No. 9 (1): CIFOR. Bogor.

Sunderlin, W.D, 1999. Policy reviews : Between Danger and Opportu~~ity : Indonesia and Forest in A Era of Economic Crisis and Political Change.

Society and Natural Resources 12 (6) : 559-570. Philadelphia : Taylor and Francis.

Suryohadikusumo, Dj. 2000. Hutan Tanaman Berpotensi Besar. Seminar Prospek dan Tantangan Pengembangan Agribisnis Pulp dan Kertas dalam Era Ekolabeling dan Otonomi Daerah, 4 Juli 2000. Pusat Studi Pembangunan IPB. Bogor

Tarumingkeng, C, R. 2000. Budidaya Tanaman Kayu Pulp. Prosiding Seminar Prospek dan Tantangan Pengembangan Agribisnis Pulp dan Kertas dalam Era Ekolabeling dan Otonomi Daerah, 4 Juli 2000. Pusat Studi Pembangunan IPB. Bogor

Todaro, M. P. 1999. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga (Edisi Keenam).

Jilid I. Alih Bahasa oleh Drs. Haris Munandar, MA. Penerbit Erlangga.

Jakarta.

Yudohusodo, S. 2001. Harapan Petani Terhadap Otonomi Daerah. Agrimedia Volume 6 Nomor 3, Februari 2001.

Dokumen terkait