• Tidak ada hasil yang ditemukan

KESIMPULAN DAN SARAN

Dalam dokumen m 2 BUDIDAYA PEMBESARAN IKAN LELE (Halaman 53-66)

KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan

a. Secara umum usaha budidaya ikan lele mempunyai prospek pasar yang cerah. Dengan adanya peluang pasar yang masih terbuka tersebut maka usaha budidaya ikan lele merupakan sebuah usaha yang masih sangat menjanjikan.

b. Kendala yang dihadapi oleh petani/pembudidaya ikan lele terutama adalah masih banyak petani yang belum mampu melakukan pengolahan pasca panen akibat kurangnya pengetahuan dan teknologi. Hal lain yang masih menjadi kendala adalah belum mampunya petani dalam menjalin networking langsung kepada konsumen/pelanggan khususnya pelanggan besar dalam rangka untuk menjamin kontinuitas pasar. Petani juga masih lemah dalam menjalin komunikasi dengan komunitas pasar yang ada. Padahal hal tersebut sangat bermanfaat untuk mendapatkan akses informasi yang sempurna tentang kondisi pasar, baik dalam hal harga maupun besarnya permintaan pasar.

c. Selama ini pemberian kredit untuk pengembangan usaha budidaya ikan lele di Kabupaten Sleman sudah dilakukan oleh beberapa perbankan/lembaga keuangan lainnya, meskipun bank-bank tersebut belum memiliki skema pinjaman khusus untuk usaha budidaya ikan lele. Pinjaman yang dapat diberikan oleh perbankan untuk usaha ini dapat berupa kredit investasi maupun kredit modal kerja dengan tingkat bunga berkisar 21 persen.

d. Hasil analisis Laba Rugi menunjukkan bahwa bahwa usaha budidaya pembesaran ikan lele mampu menghasilkan keuntungan bersih sebesar Rp 28.915.417,- dengan profit margin sebesar 12,79%.

e. Hasil analisis kelayakan usaha menunjukkan bahwa usaha budidaya pembesaran ikan lele memiliki nilai IRR yang cukup tinggi yaitu sebesar 36,54% yang mengimplikasikan bahwa proyek ini layak untuk dijalankan sampai tingkat suku bunga mencapai 36,54%. Nilai Net B/C Ratio usaha ini juga lebih besar daripada 1, yaitu sebesar 1,25; karena Net B/C Ratio > 1 maka usaha ini layak untuk dilaksanakan. Net Present Value juga bernilai positif, yaitu Rp21.364.677,- sehingga proyek layak dilaksanakan.

f. Berdasarkan analisis sensitivitas Skenario 1 (dengan asumsi terjadi penurunan pendapatan sampai 4 persen), usaha ini masih layak untuk dilaksanakan karena nilai IRR yang masih lebih besar daripada tingkat suku bunga yaitu sebesar 22,95%, nilai NPV yang masih positif yaitu

Kesimpulan dan Saran

sebesar Rp2.608.021,- dan nilai Net B/C Ratio yang masih lebih besar daripada 1 yaitu sebesar 1,03. Akan tetapi pada saat penerimaan/pendapatan turun sebesar 5 persen, usaha ini sudah tidak layak untuk dilaksanakan lagi. Hal ini karena nilai IRR-nya sudah dibawah tingkat suku

bunga yang ditetapkan yaitu sebesar 19,43%, nilai NPV-nya sudah negatif yaitu sebesar - Rp2.081.144,- dan nilai Net B/C Ratio-nya lebih kecil daripada 1 yaitu sebesar 0,98.

g. Berdasarkan analisis sensitivitas Skenario 2, yaitu dengan asumsi terjadi kenaikan biaya operasional sampai 6 persen usaha ini masih layak untuk dilaksanakan karena nilai IRR yang masih lebih besar daripada tingkat suku bunga yaitu sebesar 21,31%, nilai NPV yang masih positif yaitu sebesar Rp409.651,- dan nilai Net B/C Ratio yang masih lebih besar daripada atau sama dengan 1 yaitu sebesar 1,00. Akan tetapi pada saat biaya operasional meningkat sebesar 7 persen, usaha ini sudah tidak layak untuk dilaksanakan lagi. Hal ini karena nilai IRR-nya sudah dibawah tingkat suku bunga yang ditetapkan yaitu sebesar 18,67%, nilai NPV-nya sudah negatif yaitu sebesar – Rp3.082.853,- dan nilai Net B/C Ratio-nya lebih kecil daripada 1 yaitu sebesar 0,96.

h. Berdasarkan analisis sensitivitas Skenario 3, yaitu adanya penurunan pendapatan dan kenaikan biaya operasional secara bersama-sama dengan persentase sebesar 2 persen, usaha ini masih layak untuk dilaksanakan. Hal ini karena nilai IRR yang masih lebih besar daripada tingkat suku bunga yaitu sebesar 24,72%, nilai NPV yang masih positif yaitu sebesar Rp5.001.340,- dan nilai Net B/C Ratio yang masih lebih besar daripada 1 yaitu sebesar 1,06. Namun pada saat terjadi penurunan pendapatan dan kenaikan biaya operasional secara bersama-sama dengan persentase sebesar 3 persen, usaha ini sudah tidak layak untuk dilaksanakan lagi. Hal ini karena nilai IRR-nya sudah dibawah tingkat suku bunga yang ditetapkan yaitu sebesar 18,60%, nilai NPV-nya sudah negatif yaitu sebesar – Rp3.180.328,- dan nilai Net B/C Ratio-nya lebih kecil daripada 1 yaitu sebesar 0,96.

i. Usaha budidaya ikan lele memberikan dampak positif terhadap kehidupan ekonomi masyarakat dalam bentuk penyerapan tenaga kerja/mengurangi pengangguran, meningkatkan pendapatan petani pembudidaya ikan lele maupun pelaku usaha yang terlibat secara tidak langsung seperti pedagang pengentas ikan, usaha pemancingan, rumah makan khas ikan, usaha pasokan pupuk kandang (peternak) dan pupuk buatan (penyedia sarana produksi perikanan), pengangkutan serta para penyedia jasa lainnya yang berkaitan dengan adanya usaha budidaya ikan lele. Disamping itu, usaha budidaya ini juga berdampak positif terhadap kehidupan sosial masyarakat serta berkontribusi positif terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) bagi pemerintah daerah setempat.

j. Secara umum usaha budidaya ikan lele sebagai suatu kegiatan produksi tidak menghasilkan pencemaran/limbah yang berbahaya bagi lingkungan sekitarnya baik secara fisik, kimiawi maupun biologi.

7.2 Saran

a. Budidaya ikan lele yang saat ini dikembangkan akan lebih baik apabila diintegrasikan dengan usaha lain (sistem longyam, minapadi atau aquaponik). Hal ini karena secara ekonomi akan lebih menguntungkan dan dalam pemanfaatan pakan lebih efisien. Dengan sistem ini, satu lahan digunakan untuk dua jenis usaha sekaligus. Selain itu pembudidaya akan mempunyai jenis pendapatan yang lebih bervariasi sehingga jika terjadi penurunan atau kegagalan pada salah satu komoditi, komoditi yang lain bisa saling menutupi.

b. Untuk lebih meningkatkan efisiensi, produktivitas serta kualitas hasil budidaya, pembudidaya perlu lebih ditingkatkan kesadaran, pengetahuan, serta pemahamannya terhadap teknologi. Disamping itu juga selalu ditingkatkan kemampuan manajerialnya termasuk pula akses terhadap sumber-sumber permodalan yang mudah dan murah, diversifikasi komoditi produk olahan/pasca panen, penguasaan terhadap pasar serta promosi.

c. Pemerintah melalui instansi terkait perlu lebih meningkatkan sosialisasi master plan pembangunan sektor perikanan yang terintegrasi, koordinasi dan sinergi antar institusi terkait, penyusunan kebijakan/perencanaan, regulasi serta pengawasan yang berpihak kepada petani, promosi investasi/ pemasaran, peningkatan partisipasi stakeholders yang terdiri dari para pembudidaya ikan, pengusaha perikanan, ilmuwan, penyuluh, aparat keamanan dan birokrat, penyediaan fasilitas pendukung yang terdiri dari fasilitas fisik dan kelembagaan yang meliputi kelembagaan keuangan, asuransi, LSM, lembaga pemasaran, asosiasi serta perumusan kebijakan yang mendukung strategi lanjutan seperti distribusi, pemasaran, serta menjamin ketersediaan benih dan induk.

Kesimpulan dan Saran

Lampiran 1. Proyeksi Pendapatan dan Biaya Budidaya Pembesaran Ikan Lele

No Uraian Tahun 0 Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3

1 Pendapatan - Penjualan 226.100.000 226.100.000 226.100.000 Jumlah Pendapatan 226.100.000 226.100.000 226.100.000 2 Pengeluaran Investasi Biaya Prasarana

Sewa lahan (3 tahun) 2.250.000

Kolam tembok 22.500.000 Gudang/pondok jaga 3.750.000 Pagar batako 11.700.000 Jaringan pipa 1.200.000 Pasang listrik 900 w 750.000 Perijinan 300.000

Total Biaya Prasarana 42.450.000

Biaya Peralatan Pompa air 300.000 Saring Ikan 60.000 Jala 450.000 Drum 600.000 Ember besar 240.000 Timbangan 300.000

Total Biaya Peralatan 1.950.000 Total Biaya Investasi 44.400.000

3 Biaya operasional Biaya Tenaga Kerja

Gaji Pengelola 9.000.000 9.000.000 9.000.000 9.000.000 Upah pekerja 7.200.000 7.200.000 7.200.000 7.200.000

Total Biaya Tenaga Kerja 16.200.000 16.200.000 16.200.000 16.200.000 Biaya Bahan

Benih 35.000.000 35.000.000 35.000.000 35.000.000 Pakan/pellet 113.050.000 113.050.000 113.050.000 113.050.000 Pupuk, kapur, obat-obatan 1.750.000 1.750.000 1.750.000 1.750.000

Total Biaya Bahan 149.800.000 149.800.000 149.800.000 149.800.000

Biaya listrik 1.800.000 1.800.000 1.800.000 1.800.000 Biaya Pemeliharaan 600.000 600.000 600.000 600.000

Jumlah Biaya Operasional 168.400.000 168.400.000 168.400.000 168.400.000 Jumlah Pengeluaran 212.800.000 168.400.000 168.400.000 168.400.000 Surplus/Defisit (212.800.000) 57.700.000 57.700.000 57.700.000

Rata-rata surplus

Per tahun (9.925.000)

Per bulan (827.083)

Lampiran 2. Proyeksi Laba Rugi Usaha

No Uraian Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3

1 Pendapatan 226.100.000 226.100.000 226.100.000 2 Pengeluaran a. Biaya Operasional 168.400.000 168.400.000 168.400.000 b. Penyusutan 14.800.000 14.800.000 14.800.000 c. Bunga 8.881.863 3.354.050 1.178.450 Total pengeluaran 192.081.863 186.554.050 184.378.450

Laba sebelum pajak 34.018.138 39.545.950 41.721.550

- Pajak (15%) 5.102.721 5.931.893 6.258.233 3 Laba rugi 28.915.417 33.614.058 35.463.318

Lampiran

Lampiran 3. Proyeksi Arus Kas dan Perhitungan Kelayakan Proyek 0 1 2 3 1 Inflow a. Pendapatan 226.100.000 226.100.000 226.100.000 b. Dana sendiri 25.950.000 c. Kredit investasi 31.080.000 d. Kredit modal kerja 29.470.000

Jumlah 86.500.000 226.100.000 226.100.000 226.100.000

Inflow untuk IRR 226.100.000 226.100.000 226.100.000 2 Outflow

a. Biaya investasi 44.400.000 b. Biaya modal kerja 42.100.000

c. Biaya operasional 168.400.000 168.400.000 168.400.000 d. Angsuran pokok 39.830.000 10.360.000 10.360.000 e. Biaya bunga bank 8.881.863 3.354.050 1.178.450 f. Pajak 5.102.721 5.931.893 6.258.233

Jumlah 86.500.000 222.214.583 188.045.943 186.196.683

Outflow untuk IRR 86.500.000 173.502.721 174.331.893 174.658.233 3 Total cashflow 3.885.417 38.054.058 39.903.318 4 Kumulatif cashflow 3.885.417 41.939.474 81.842.792 5 Cash untuk IRR (86.500.000) 52.597.279 51.768.108 51.441.768

PERHITUNGAN NPV, IRR & NET B/C RATIO:

DF 21% 1 0,826 0,683 0,564

Discounted cashflow (86.500.000) 43.468.826 35.358.314 29.037.537 Kumulatif PV CF (86.500.000) (43.031.174) (7.672.860) 21.364.677

Kriteria Kelayakan Nilai Kesimpulan

NPV Rp21.364.677 Layak

IRR 36,54% Layak

Net B/C Ratio 1,25 Layak

No Uraian Tahun

Lampiran 4. Analisis Kelayakan Usaha Akibat Pendapatan Turun 4% 0 1 2 3 1 Inflow a. Pendapatan 217.056.000 217.056.000 217.056.000 b. Dana sendiri 25.950.000 c. Kredit investasi 31.080.000 d. Kredit modal kerja 29.470.000

Jumlah 86.500.000 217.056.000 217.056.000 217.056.000

Inflow untuk IRR 217.056.000 217.056.000 217.056.000 2 Outflow

a. Biaya investasi 44.400.000 b. Biaya modal kerja 42.100.000

c. Biaya operasional 168.400.000 168.400.000 168.400.000 d. Angsuran pokok 39.830.000 10.360.000 10.360.000 e. Biaya bunga bank 8.881.863 3.354.050 1.178.450 f. Pajak 5.102.721 5.931.893 6.258.233

Jumlah 86.500.000 222.214.583 188.045.943 186.196.683

Outflow untuk IRR 86.500.000 173.502.721 174.331.893 174.658.233 3 Total cashflow (5.158.583) 29.010.058 30.859.318 4 Kumulatif cashflow (5.158.583) 23.851.474 54.710.792 5 Cash untuk IRR (86.500.000) 43.553.279 42.724.108 42.397.768

PERHITUNGAN NPV, IRR & NET B/C RATIO:

DF 21% 1 0,826 0,683 0,564

Discounted cashflow (86.500.000) 35.994.446 29.181.140 23.932.434 Kumulatif PV CF (86.500.000) (50.505.554) (21.324.414) 2.608.021

Kriteria Kelayakan Nilai Kesimpulan

NPV Rp2.608.021 Layak

IRR 22,95% Layak

Net B/C Ratio 1,03 Layak

Lampiran 5. Analisis Kelayakan Usaha Akibat Pendapatan Turun 5% 0 1 2 3 1 Inflow a. Pendapatan 214.795.000 214.795.000 214.795.000 b. Dana sendiri 25.950.000 c. Kredit investasi 31.080.000 d. Kredit modal kerja 29.470.000

Jumlah 86.500.000 214.795.000 214.795.000 214.795.000

Inflow untuk IRR 214.795.000 214.795.000 214.795.000 2 Outflow

a. Biaya investasi 44.400.000 b. Biaya modal kerja 42.100.000

c. Biaya operasional 168.400.000 168.400.000 168.400.000 d. Angsuran pokok 39.830.000 10.360.000 10.360.000 e. Biaya bunga bank 8.881.863 3.354.050 1.178.450 f. Pajak 5.102.721 5.931.893 6.258.233

Jumlah 86.500.000 222.214.583 188.045.943 186.196.683

Outflow untuk IRR 86.500.000 173.502.721 174.331.893 174.658.233 3 Total cashflow (7.419.583) 26.749.058 28.598.318 4 Kumulatif cashflow (7.419.583) 19.329.474 47.927.792 5 Cash untuk IRR (86.500.000) 41.292.279 40.463.108 40.136.768

PERHITUNGAN NPV, IRR & NET B/C RATIO:

DF 21% 1 0,826 0,683 0,564

Discounted cashflow (86.500.000) 34.125.851 27.636.847 22.656.159 Kumulatif PV CF (86.500.000) (52.374.149) (24.737.302) (2.081.144)

Kriteria Kelayakan Nilai Kesimpulan

NPV (Rp2.081.144)Tidak Layak

IRR 19,43% Tidak Layak

Net B/C Ratio 0,98 Tidak Layak

No Uraian Tahun

Lampiran 6. Analisis Kelayakan Usaha Akibat Kenaikan Biaya Operasional 6% 0 1 2 3 1 Inflow a. Pendapatan 226.100.000 226.100.000 226.100.000 b. Dana sendiri 25.950.000 c. Kredit investasi 31.080.000 d. Kredit modal kerja 29.470.000

Jumlah 86.500.000 226.100.000 226.100.000 226.100.000

Inflow untuk IRR 226.100.000 226.100.000 226.100.000 2 Outflow

a. Biaya investasi 44.400.000 b. Biaya modal kerja 42.100.000

c. Biaya operasional 178.504.000 178.504.000 178.504.000 d. Angsuran pokok 39.830.000 10.360.000 10.360.000 e. Biaya bunga bank 8.881.863 3.354.050 1.178.450 f. Pajak 5.102.721 5.931.893 6.258.233

Jumlah 86.500.000 232.318.583 198.149.943 196.300.683

Outflow untuk IRR 86.500.000 183.606.721 184.435.893 184.762.233 3 Total cashflow (6.218.583) 27.950.058 29.799.318 4 Kumulatif cashflow (6.218.583) 21.731.474 51.530.792 5 Cash untuk IRR (86.500.000) 42.493.279 41.664.108 41.337.768

PERHITUNGAN NPV, IRR & NET B/C RATIO:

DF 21% 1 0,826 0,683 0,564

Discounted cashflow (86.500.000) 35.118.413 28.457.146 23.334.092 Kumulatif PV CF (86.500.000) (51.381.587) (22.924.441) 409.651

Kriteria Kelayakan Nilai Kesimpulan

NPV Rp409.651 Layak

IRR 21,31% Layak

Net B/C Ratio 1,00 Layak

Lampiran

Lampiran 7. Analisis Kelayakan Usaha Akibat Kenaikan Biaya Operasional 7% 0 1 2 3 1 Inflow a. Pendapatan 226.100.000 226.100.000 226.100.000 b. Dana sendiri 25.950.000 c. Kredit investasi 31.080.000 d. Kredit modal kerja 29.470.000

Jumlah 86.500.000 226.100.000 226.100.000 226.100.000

Inflow untuk IRR 226.100.000 226.100.000 226.100.000 2 Outflow

a. Biaya investasi 44.400.000 b. Biaya modal kerja 42.100.000

c. Biaya operasional 180.188.000 180.188.000 180.188.000 d. Angsuran pokok 39.830.000 10.360.000 10.360.000 e. Biaya bunga bank 8.881.863 3.354.050 1.178.450 f. Pajak 5.102.721 5.931.893 6.258.233

Jumlah 86.500.000 234.002.583 199.833.943 197.984.683

Outflow untuk IRR 86.500.000 185.290.721 186.119.893 186.446.233 3 Total cashflow (7.902.583) 26.266.058 28.115.318 4 Kumulatif cashflow (7.902.583) 18.363.474 46.478.792 5 Cash untuk IRR (86.500.000) 40.809.279 39.980.108 39.653.768

PERHITUNGAN NPV, IRR & NET B/C RATIO:

DF 21% 1 0,826 0,683 0,564

Discounted cashflow (86.500.000) 33.726.677 27.306.951 22.383.518 Kumulatif PV CF (86.500.000) (52.773.323) (25.466.371) (3.082.853)

Kriteria Kelayakan Nilai Kesimpulan

NPV (Rp3.082.853)Tidak Layak

IRR 18,67% Tidak Layak

Net B/C Ratio 0,96 Tidak Layak

No Uraian Tahun

Lampiran 8. Analisis Kelayakan Usaha Akibat Perubahan Pendapatan dan Biaya Operasional 2%

0 1 2 3

1 Inflow

a. Pendapatan 221.578.000 221.578.000 221.578.000 b. Dana sendiri 25.950.000

c. Kredit investasi 31.080.000 d. Kredit modal kerja 29.470.000

Jumlah 86.500.000 221.578.000 221.578.000 221.578.000

Inflow untuk IRR 221.578.000 221.578.000 221.578.000 2 Outflow

a. Biaya investasi 44.400.000 b. Biaya modal kerja 42.100.000

c. Biaya operasional 171.768.000 171.768.000 171.768.000 d. Angsuran pokok 39.830.000 10.360.000 10.360.000 e. Biaya bunga bank 8.881.863 3.354.050 1.178.450 f. Pajak 5.102.721 5.931.893 6.258.233

Jumlah 86.500.000 225.582.583 191.413.943 189.564.683

Outflow untuk IRR 86.500.000 176.870.721 177.699.893 178.026.233 3 Total cashflow (4.004.583) 30.164.058 32.013.318 4 Kumulatif cashflow (4.004.583) 26.159.474 58.172.792 5 Cash untuk IRR (86.500.000) 44.707.279 43.878.108 43.551.768

PERHITUNGAN NPV, IRR & NET B/C RATIO:

DF 21% 1 0,826 0,683 0,564

Discounted cashflow (86.500.000) 36.948.165 29.969.338 24.583.837 Kumulatif PV CF (86.500.000) (49.551.835) (19.582.497) 5.001.340

Kriteria Kelayakan Nilai Kesimpulan

NPV Rp5.001.340 Layak

IRR 24,72% Layak

Net B/C Ratio 1,06 Layak

Lampiran 9. Analisis Kelayakan Usaha Akibat Perubahan Pendapatan dan Biaya Operasional 3%

0 1 2 3

1 Inflow

a. Pendapatan 219.317.000 219.317.000 219.317.000 b. Dana sendiri 25.950.000

c. Kredit investasi 31.080.000 d. Kredit modal kerja 29.470.000

Jumlah 86.500.000 219.317.000 219.317.000 219.317.000

Inflow untuk IRR 219.317.000 219.317.000 219.317.000 2 Outflow

a. Biaya investasi 44.400.000 b. Biaya modal kerja 42.100.000

c. Biaya operasional 173.452.000 173.452.000 173.452.000 d. Angsuran pokok 39.830.000 10.360.000 10.360.000 e. Biaya bunga bank 8.881.863 3.354.050 1.178.450 f. Pajak 5.102.721 5.931.893 6.258.233

Jumlah 86.500.000 227.266.583 193.097.943 191.248.683

Outflow untuk IRR 86.500.000 178.554.721 179.383.893 179.710.233 3 Total cashflow (7.949.583) 26.219.058 28.068.318 4 Kumulatif cashflow (7.949.583) 18.269.474 46.337.792 5 Cash untuk IRR (86.500.000) 40.762.279 39.933.108 39.606.768

PERHITUNGAN NPV, IRR & NET B/C RATIO:

DF 21% 1 0,826 0,683 0,564

Discounted cashflow (86.500.000) 33.687.834 27.274.850 22.356.988 Kumulatif PV CF (86.500.000) (52.812.166) (25.537.316) (3.180.328)

Kriteria Kelayakan Nilai Kesimpulan

NPV (Rp3.180.328)Tidak Layak

IRR 18,60% Tidak Layak

Net B/C Ratio 0,96 Tidak Layak

Lampiran

Lampiran 10. Rumus Perhitungan

1. Menghitung Jumlah Angsuran

Angsuran kredit terdiri dari angsuran pokok ditambah dengan pembayaran bunga pada periode angsuran. Jumlah angsuran pokok tetap setiap bulannya. Sedangkan jumlah ansguran bunga tergantung sistem menurun atau flat.

Cicilan Pokok = Jumlah pinjaman/periode angsuran (n) Bunga x % menurun = i% x jumlah (sisa) pinjaman

Bunga x %flat = i% x jumlah pinjaman/periode angsuran (n) Jumlah angsuran = Cicilan Pokok + Bunga

2. Menghitung Jumlah Penyusutan (Depresiasi) dengan Metode Garis Lurus tanpa Nilai Sisa

Penyusutan = Nilai investasi dibagi dengan Umur Ekonomis

3. Menghitung Net Present Value (NPV)

Kriteria NPV menghitung selisih antara nilai sekarang investasi dengan nilai sekarang penerimaan-penerimaan kas bersih (operational maupun terminal cash flow) di masa yang akan datang. Apabila nilai sekarang penerimaan-penerimaan kas bersih di masa yang akan datang lebih besar daripada nilai sekarang investasi (NPV positif), maka proyek ini dikatakan menguntungkan sehingga diterima. Sedangkan apabila lebih kecil (NPV negatif), maka proyek ditolak karena dinilai tidak menguntungkan.

Perhitungan NPV dapat dinyatakan dalam formula berikut:

   T t t i Ct Bt NPV 0 (1 ) dimana:

Bt = manfaat yang dihasilkan dari suatu proyek pada tahun t Ct = biaya proyek yang bersangkutan pada tahun t

t = umur ekonomis I = suku bunga

4. Menghitung Internal Rate of Return (IRR)

Metode ini digunakan untuk mencari tingkat bunga yang menyamakan nilai sekarang dari arus kas yang diharapkan di masa yang akan datang atau penerimaan kas dengan pengeluaran investasi.

Perhitungan IRR dapat dinyatakan dalam formula berikut: n CFt

Io = 

t=1 (1 + IRR)t

Dimana:

t = tahun ke n = jumlah tahun Io = nilai investasi awal CFt = arus kas bersih IRR = tingkat bunga yang dicari nilainya

Kriteria penilaiannya adalah jika IRR yang diperoleh nilainya lebih besar daripada rate of return yang disyaratkan maka investasi dinyatakan dapat diterima. Sebaliknya apabila IRR yang diperoleh nilainya lebih kecil daripada rate of return yang disyaratkan maka investasi dinyatakan tidak layak

Analisa kelayakan yang digunakan hanya berupa Net Present Value (NPV) serta Internal Rate of Return (IRR) yang dihitung dari proyeksi arus kas. Untuk menghitung besarnya NPV serta IRR digunakan kaidah yang berlaku, yaitu :

- Nilai penyusutan tidak dihitung

- Nilai angsuran pokok dan bunga pinjaman tidak dihitung

- Cash inflow atau penerimaan pada tahun terakhir ditambah dengan salvage value dari nilai sisa harta tetap serta nilai modal kerja awal.

Contoh perhitungan NPV dan IRR dengan program Microsoft Excel adalah sebagai berikut

a. Menyusun tabel cashflow dari proyeksi arus kas yang ada, misalnya:

A B C D E F G

1 Uraian Th.0 Th.1 Th.2 Th.3 Th.4 Th.5 2 Cash inflow 0 7.000 8.000 9.000 9.500 9.500 3 Cash outflow 10.000 4.000 4.500 5.000 6.500 7.000 4 Net Cash flow -10.000 3.000 3.500 4.000 3.000 2.500 5 Akumulasi -10.000 -7.000 -3.500 500 3.500 6.000

Lampiran

b. Untuk mencari nilai NPV, maka diketik =NPV(0.2,b4:g4) kemudian tekan enter di keyboard (angka 0.2 berarti tingkat sukubunga adalah 20%. Dari contoh ini akan diperoleh NPV = - Rp.252,65. Hal ini menunjukkan bahwa dengan tingkat sukubunga 20% atau 0.2 diperoleh NPV negatif, berarti proyek tidak layak jika diberi kredit dengan tingkat sukubunga 20%. Apabila tingkat sukubunga diganti dengan 0.15 atau 15%, maka diperoleh NPV= Rp.733.45 (positif, berarti proyek layak jika tingkat sukubunga kredit 15%).

c. Untuk mencari nilai IRR, maka diketik =IRR(b4:g4) kemudian tekan enter, hasil yang diperoleh IRR = 18,59%. Hal ini berarti tingkat sukubunga kredit yang bisa diberikan kepada proyek maksimum adalah 18,59% pertahun.

d. Untuk mengontrol hasil IRR tersebut benar atau salah bisa digunakan rumus NPV di atas dengan merubah angka 0.2 dengan 0.1859. Jika hasil NPV = 0 (atau mendekati 0, mengingat adanya pembulatan nilai IRR), maka berarti nilai IRR yang diperoleh sudah benar.

5. Mengitung Benefit Cost Ratio (B/C Ratio)

B/CR adalah perbandingan nilai sekarang dengan faktor diskonto tertentu antara arus pendapatan dengan arus pembiayan proyek. Rasio manfaat biaya ini memberikan sinyal sampai seberapa besar setiap satu tupiah yang diinvestasikan mampu memberikan manfaat. Manfaat biaya dihitung sebagai berikut:

Rumus B/C Ratio =

 

 

  t t i C t i B 1 1 1 / 1 1 / 1

Bila nilai B/C > 1 maka proyek layak diklaksanakan. Namun bila nilai B?C kurang dari satu maka proyek tidak layak dilaksanakan

6. Menghitung Net B/C Ratio

Net B/C ratio adalah perbandingan sedemikian rupa sehingga pembilangnya terdiri atas present value total dari benefit bersih dalam tahun dimana benefit bersih itu bersifat positif. Sedangkan penyebut terdiri dari present value total dari benefit bersih dalam tahun dimana benefit itu bersifat negatif. Cara menghitung Net B/C dapat menggunakan rumus

Net B/C Ratio =

t CNegatif B t CPositif B NPV NPV 1 1 Keterangan :

Net B/C Ratio = Nilai bersih benefit cost ratio NPVB-C Positif = Net Present Value positif NPVB-C Negatif = Net Present Value negatif

Hasil perhitungan Net B/C dapat diterjemahkan sebagai berikut:  Apabila nilai Net B/C > 1, maka poyek dapat dilaksanakan  Apabila nilai Net B/C < 1, maka poyek tidak dapat dilaksanakan

7. Menghitung Titik Impas (Break Even Poin)

BEP adalah suatu kondisi pada saat tingkat produksi atau besarnya pendapatan sama dengan besarnya pengeluaran proyek sehingga pada saat itu proyek tidak mengalami keuntungan ataupun kerugian. Perhitungan BEP dapat dilakukan dengan beberapa cara :

 Titik Impas Rupiah

Biaya Tetap BEP (Rp) =

1 - Total Biaya Variabel Hasil Penjualan

 Titik Impas Satuan

Titik Impas (Rp) BEP (Satuan) =

Harga Satuan

 Titik Impas (Rp/Satuan produk) berdasarkan :  Biaya Variabel

Total Biaya variabel BEP (Satuan) =

Lampiran

 Biaya Total

Total Biaya tetap + Total biaya variabel Biaya Total =

Total Produksi

Bila biaya variabel dan biaya tetap tidak dapat dipisahkan, maka perhitungan titik impas yang digunakan proinsip total pendapatan = total pengeluaran.

Titik Impas (Rp)

 BEP (Satuan) = x Total Produksi Harga Satuan

Dalam dokumen m 2 BUDIDAYA PEMBESARAN IKAN LELE (Halaman 53-66)

Dokumen terkait