• Tidak ada hasil yang ditemukan

KESIMPULAN DAN SARAN

Dalam dokumen MELINDA RAKHMAWATI A (Halaman 66-81)

6.1.Kesimpulan

1. Penutupan lahan di Kabupaten Mamuju Utara berjumlah 12 jenis yang pada umumnya didominasi oleh hutan, perkebunan dan kebun campuran. Sedangkan mangrove, semak belukar, tegalan/ladang, sawah, tubuh air, rawa, tanah terbuka, tambak/empang dan pemukiman relatif lebih sedikit.

2. Indeks vegetasi NDVI memiliki korelasi yang paling tinggi dengan biomassa dinilai dari besarnya R² dari persamaan yang dihasilkan yaitu sebesar 60%, baik dari penutupan vegetasi alami maupun non alami Dengan demikian indeks vegetasi NDVI merupakan indeks yang paling baik digunakan untuk mengestimasi biomassa di Kabupaten Mamuju Utara pada berbagai penutupan lahan.

3. Jumlah nilai estimasi biomassa atas permukaan di Kabupaten Mamuju Utara pada vegetasi alami: hutan primer 104,1 ton/ha, mangrove 79,0 ton/ha, semak belukar 36,0 ton/ha dan pada vegetasi non alami: perkebunan 66,1 ton/ha, kebun campuran 65,1 ton/ha, tegalan 52,1 ton/ha, sawah 5,6 ton/ha.

6.2.Saran

1. Perlu penambahan data sampling biomassa di lapang yang lebih representatif berdasarkan jenis tanaman dengan umur tertentu.

DAFTAR PUSTAKA

Algifari (2000). Analisa Regresi. (Edisi 2). Yogyakarta: BPEE Yogyakarta.

Agus, F. 2007. Potensi dan emisi karbon di lahan gambut. Dalam Bunga Rampai Konservasi Tanah dan Air, Seminar MKTI-2 Tahun 2007. MKTI. Bogor. Aminudin. 2008. Kajian potensi cadangan karbon pada pengusahaan hutan rakyat

(studi kasus: hutan rakyat Dengok, kecamatan Playen, kabupaten Gunung Kidul). Tesis. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Ardiansyah, Muhammad, Upik Rosalina, Rizaldi Boer. 2005. Estimasi Biomassa dan Stok Karbon Atas Permukaan dengan Menggunakan Integrasi Teknologi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografi. LPPM-IPB. Bogor.

Asyisanti. 2004. Potensi karbon di atas permukaan tanah pada hutan rakyat (studi kasus di Desa Karyasari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat). Sripksi. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Australian Greenhouse Office. 1999. National Carbon Accounting System, Methods for Estimating Woody Biomass. Technical Report No. 3, Commonwealth of Australia.

Bakri. 2009. Analisis vegetasi dan pendugaan cadangan karbon tersimpan pada pohon di hutan Taman Wisata. Taman Wisata Alam Taman Eden, Desa Sionggan Utara Kecamatan Lumban Julu Kabupaten Toba Samosir. [Tesis]. Sekolah Pascasarjana. Universitas Sumatera Utara.

Budi, Chandra. 2000. Model Penduga Biomassa dan Indeks Luas Daun Menggunakan Data Landsat Thematic Mapper (TM) dan Spot Multispektral (XS) Di Hutan Mangrove (Studi Kasus Segara Anakan, Cilacap). [Thesis]. Program Pascasarjana IPB. Bogor.

Brown, Sandra, 1997. Estimating Biomass and Biomass Change of Tropical Forests: a Primer. (FAO Forestry Paper - 134). FAO, Rome.

Boone, R. B., K. A. Galvin, dkk. 2000. Generalizing El Nino effects upon Maasai livestock using hierarchical clusters of vegetation patterns. Photogrammetric Engineering & Remote Sensing 66(6): 737-744.

Carolita, I., I Made P., Y. Erowati, dan Asikin A. 1995. Monitoring Keadaan Hutan dengan Menggunakan Data NOAA AVHRR di DaerahKalimantan Barat dan Sebagian Kalimantan Timur. Warta LAPAN volume 43 Hal 32-42. Jakarta.

Cesylia, L. 2009. Cadangan Karbon pada Pertanian Karet (Hevea brasiliensis) di Perkebunan Karet Bojong Datar PTP Nusantara VIII Kabupaten Pandeglang Banten. [Tesis]. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Clark III, A. 1979. Suggested procedures for measuring tree biomass and

reporting free prediction equations. Proc. For. Inventory Workshop, SAF-IUFRO. Ft. Collins, Colorado: 615-628.

Danoedoro, P. 1996, Pengolahan Citra Digital, Fakultas Geografi, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Dharmawan, I. W. S. dan C. A. Siregar. 2008. Teknik evaluasi kandungan karbon hutan mangrove Rhizophora mucronata. Pusat Penelitian Hutan dan Konservasi Alam. Bogor. Manuskrip.

Dharmawan, I. W. S. dan C. A. Siregar. 2009. Karbon tanah dan pendugaan karbon tegakan Avicennia marina (Forsk.) Vierh. di BKPH Ciasem, Purwakarta. Jurnal Penelitian Hutan Vol. 4, 2008. Pusat Penelitian Hutan dan Konservasi Alam. Bogor.

Dharmawan, I. W. S., I. Samsoedin dan C. A. Siregar. 2010. Dinamika potensi biomasa karbon pada lanskap hutan bekas tebangan. Jurnal Penelitian Hutan. Pusat Penelitian Hutan dan Konservasi Alam. Bogor. Manuskrip. De Gier, A., 2003. A new approach to woody biomass assessment in woodlands

and shrublands. In: P. Roy (Ed), Geoinformatics for Tropical Ecosystems, India, pp. 161-198.

Forestian, 2011. Estimasi Biomassa dan Kerapatan Vegetasi Mangrove Menggunakan Data Landsat ETM+ (Studi di Hutan Lindung dan Hutan Produksi Tetap Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Propinsi Jawa Barat). [Skripsi]. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Gintings, A. Ng. 1997. Pendugaan biomasa karbon pada berbagai tipe hutan tanaman. Kerjasama JIFPRO dan Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam. Bogor.

Haryadi. 2005. Kajian Potensi Cadangan karbon pada Pertanaman Teh (Camelia sinensis (L) O. Kuntze) dan Berbagai Tipe Penggunaan Lahan di Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor. [Tesis]. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Hiratsuka, M., T. Toma, R. Diana, D. Hardriyanto and Y. Morikawa. 2006.

Biomass Recovery of Naturally Regenerated Vegetation after the 1998 Forest Fire in East Kalimantan, Indonesia. JARQ 40 (3), 277 – 282 (2006). Hitchcock III, H.C. & J.P. McDonnell, 1979. Biomass measurement: a synthesis

of the literature. Proc. For. Inventory Workshop, SAF-IUFRO. Ft. Collins, Colorado: 544-595.

Heiskanen, 2006. Biomass Ecv Report. www.fao.org/GTOS/doc/ECVs/T12-biomass-standards-report-v01.doc

Huete, A. R. 1998. A soil adjusted vegetation index (SAVI). Remote Sensing of Environment 25: 295-309.

Irawan, D.J. 2009. Pendugaan kandungan karbon pada tegakan jati tidak terbakar dan npasca kebakaran permukaan di KPH Malang Perum Perhutani Unit II Jawa Timur. Skripsi Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Isdiyantoro. 2007. Pendugaan Cadangan Karbon Pohon pada Ruang Terbuka

Hijau (RTH) Kota di Kodya Jakarta Timur Menggunakan Citra Landsat. Tesis. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Kementrian Lingkungan Hidup. 2010. Laporan Kegiatan Perhitungan Karbon Berdasarkan Tipe Tutupan Lahan di Daerah Kabupaten Mamuju Utara Provinsi Sulawesi Barat. Jakarta.

Kurniawan, S. Cahyo, P. Widianto. Thoha, M. T. Zulkarnain. Estimasi Karbon Tersimpan di Lahan-lahan Pertanian di DAS Konto, Jawa Timur.

Langi, Y.A.R. 2007. Model Penduga Biomasa dan Karbon pada Tegakan Hutan Rakyat Cempaka (Elmerrillia ovalis) dan Wasian (Elmerrillia celebica) di Kabupaten Minahasa Sulawesi Utara. Tesis. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Lillesand, T.M., dan R.W. Kiefer. 1997. Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra. Gadjah Mada University press. Yogyakarta.

Lu, D., Mausel, P., Brondizio, E. and Moran, E., 2004. Relationships between forest stand parameters and Landsat TM spectral responses in the Brazilian Amazon Basin. Forest Ecology and Management.

Muzahid, H.A. 2008. Potensi simpanan karbon di hutan alam tropika Indonesia. [Skripsi]. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Nandini, R., Widiana, I.W. dan A. Gustiani. 2009. Analisis cadangan karbon pada berbagai system agroforestri tradisionil di Nusa Tenggara Barat. Balai Penelitian Kehutanan Mataram. Manuskrip.

Orientasari AT. 2005. Pendugaan Biomassa dengan Data Penginderaan Jauh (Studi Kasus Areal Hutan Tanaman Industri PT. Winakarya Sakti Jambi). [Skipsi]. Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Parresol, R., 1999. Assessing Tree and Stand Biomass: A Review with Examples and Critical Comparisons. Forest Science, 45: 573-593.

Prasetyo A. 2010. Pendugaan Perubahan Cadangan Karbon di Tambling Wildlife Nature Conservation Taman Nasional Bukit Barisan Selatan [Skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

Rahayu, S., B. Lusiana dan M. V. Noordwijk. 2006. Pendugaan cadangan karbon di atas permukaan tanah pada berbagai sistem penggunaan lahan di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur. ICRAF. Bogor.

Rochmayanto, Y. 2009. Perubahan kandungan karbon dan nilai ekonominya pada konservasi hutan rawa gambut menjadi hutan tanaman industry pulp. [Tesis]. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Rusolono, T. 2006. Model Pendugaan Persediaan karbon Tegakan Agroforestry untuk Pengelolaan Hutan Milik Melalui Skema Perdagangan Karbon. Disertasi. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Samsoedin, I., I. W. S. Dharmawan dan C. A. Siregar. 2009. Potensi biomasa karbon pada hutan alam dan hutan bekas tebangan setelah 30 tahun di Hutan Penelitian Malinau, Kalimantan Timur. Jurnal Penelitian Hutan Vol. 6, 2009. Pusat Penelitian Hutan dan Konservasi Alam. Bogor.

Senseman, Gary M. Tweddale, Scott A. Anderson, Alan B. And Bagley, Calvin F., 1996. Correlation of Land Condition Trend Analysis (LCTA) Rangeland Cover Measures to Satellite- Imagery-Derived Vegetation Indices.

Schowengerdt Robert A. 1997. Remote sensing, models, and methods for image processing. Academic Press.

Sitompul, S.M.. 2003. Potensi Produksi dan Pengembangan Teknologi Kedelai dan Jagung Dalam Sistem Agroforestri. Laporan Penelitian Hibah Bersaing. Univ. Brawijaya. Malang.

Setiawan, A. 2007. Nilai konservasi keanekaragaman dan rosot karbon pada ruang terbuka hijau kota: Studi kasus pada ruang terbuka hijau kota Bandar Lampung. Disertasi. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. Sorel, D. 2007. Potensi sistem agroforestry untuk kegiatan proyek karbon

kehutanan di Kabupaten Limapuluh Kota Sumatera Barat. [Tesis]. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Sutaryo, D. 2009. Perhitungan Biomassa, sebuah pengantar untuk studi karbon dan perdagangan karbon. Bogor: Wetlands International Indonesia Programme.

Yulianti, N. 2009. Cadangan karbon lahan gambut dari agroekosistem kelapa sawit PTPN IV Ajamu, Kabupaten Labuhan Batu, Sumatera Utara. Tesis. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Yuly. 2003. Prospek pengelolaan agroforestry untuk tujuan perdagangan karbon di desa Karacak, Kecamatan Leuwiliang,Kabipaten Bogor. [Skripsi]. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Lampiran 1. Perhitungan indeks vegetasi berdasarkan hasil intepretasi penutupan lahan di Kabupaten Mamuju Utara.

Penutupan Lahan Warna di Citra NDVI Rata-rata Median Hp gelap 0,70 sedang 0,72 total 0,71 Mgv gelap 0,46 sedang 0,71 total 0,58 Sb cerah 0,43 sedang 0,39 total 0,41 Kb Hijau Tua 0,71 Hijau Muda 0,71 total 0,71 Kc kasar 0,61 halus 0,62 total 0,61 Tg cerah 0,61 Sw gelap 0,40 sedang 0,28 total 0,34

Lampiran 2. Simpanan Biomassa di Atas Permukaan Tanah pada Beberapa Kelas Hutan Alam

No Tipe Hutan Simpanan Biomassa di

Atas Permukaan Tanah (ton/ha)

Sumber

Keterangan

1 Hutan alam dipterokarpa 405,84-528,40 1. Dharmawan dan Siregar (2009); 1. Metode destructive sampling di areal kerja IUPHHK-HA PT.

Sarpatim, Sampit, Kalimantan Tengah dengan nilai DBH 7,0 – 70,0 cm; persamaan allometrik biomasa di atas permukaan tanah Y =

0,0112(DBH)2,6878

2. Samsoedin et al. (2009) 2. Metode persamaan allometrik Chaves biomasa di atas

permukaan tanah Y = 0,0509 x ρ x DBH² x T pada Hutan Penelitian Malinau, Kalimantan Timur dengan nilai DBH 7,0 – 70,0 cm.

2 Hutan lindung 413,72 Noor’an (2007) Metode persamaan allometrik Brown biomasa di atas permukaan

tanah Y = 38,4908 – 11,7883 x DBH + 1,1926 x DBH2 di Hutan Lindung Sungai Wain, Kalimantan Timur dengan nilai DBH 5,0 – 40,0 cm.

3 Hutan sekunder bekas

kebakaran hutan

110,6 Hiratsuka et al. (2006) Metode destructive sampling di Hutan Pendidikan Bukit Soeharto,

Kalimantan Timur bekas kebakaran hutan setelah 2 tahun sampai dengan 5 tahun dengan nilai diameter 2,3 – 5,9 cm; persamaan

allometrik Y = 1.49 × 10−1(D)2,09.

4 Hutan mangrove sekunder 108,2-365,0 Dharmawan dan Siregar(2009),

Dharmawan dan Siregar (2008)

Metode destructive sampling pada tegakan Avicennia marina dan

Rhizophora mucronata di BKPH Ciasem, KPH Purwakarta, Jawa

Barat dengan nilai DBH 5,5 – 35,5 cm; persamaan allometrik biomasa di atas permukaan tanah

Y = 0.2064 (𝐷𝐵𝐻)2,34

5 Hutan sekunder bekas

tebangan

343,6-498,2 1. Dharmawan et al. (2010) 1. Metode persamaan allometrik Chaves biomasa di atas

permukaan tanah Y = 0,0509 x ρ x DBH2 x T pada Hutan Penelitian Malinau, Kalimantan Timur dengan nilai DBH 7,0 – 70,0 cm pada umur bekas tebangan setelah 5 tahun – 30 tahun

2. Rahayu et al. (2006) 2. Metode persamaan allometrik Ketterings biomasa di atas

permukaan tanah Y = 0,11ρ D2,62 pada berbagai lanskap

penggunaan lahan di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur

6 Hutan alam primer dataran

rendah

460,20-525,40 Samsoedin et al. (2009) Metode persamaan allometrik Chaves biomasa di atas permukaan

tanah Y = 0,0509 x ρ x DBH² x T pada Hutan Penelitian Malinau, Kalimantan Timur dengan nilai DBH 7,0 – 70,0 cm

7 Hutan alam primer dataran

tinggi

206,32 Dharmawan (2010) Metode persamaan allometrik biomasa di atas permukaan tanah Y

= 0.1728 DBH2,2234 pada hutan primer Gunung Gede Pangrango

Seksi Wilayah Nagrak, Sukabumi, Jawa Barat; nilai DBH 5,6 – 119,0 cm

tinggi = 0.1728 (DBH)2,2234 pada hutan sekunder agathis umur 40 tahun dan campuran jenis lainnya di wilayah Gunung Gede Pangrango Seksi Wilayah Nagrak, Sukabumi, Jawa Barat; nilai DBH 5,5 – 83,0 cm.

9 Hutan sekunder dataran

tinggi

78,96 Dharmawan (2010) Metode persamaan allometrik biomasa di atas permukaan tanah Y

= 0.1728 (DBH)2,2234 pada hutan sekunder agathis umur 17 tahun

dan campuran jenis lainnya di wilayah Gunung Gede Pangrango Seksi Wilayah Nagrak, Sukabumi, Jawa Barat; nilai DBH 1,7 – 37,5 cm

10 Hutan gambut 400 Agus (2007) Rataan dari semua tipe hutan gambut di Indonesia, menggunakan

perbandingan berbagai studi literatur yang ada.

11 Hutan alam gambut bekas

tebangan dan sekunder

Bekas tebangan (252,02) Sekunder (166,98)

Rochmayanto (2009) Penetapan massa karbon dilakukan berdasarkan kelas diameter dan

jumlah pohon dari masing-masing kelas diameter berbeda-beda. Lokasi : di Kabupaten Pelawan, Riau.

Lampiran 3. Simpanan Biomassa di Atas Permukaan Tanah pada Hutan Tanaman

No Tipe Hutan

Simpanan Biomassa di Atas Permukaan Tanah (ton/ha)

Sumber

Keterangan 1 Hutan tanaman Swietenia

macrophylla

128,2 Gintings (1997) Metode destructive sampling pada hutan tanaman

S. macrophylla umur 16 tahun - 20 tahun di Hutan

Tanaman Benakat, Sumatera Selatan 2 Hutan tanaman Acacia

mangium

182,4 Gintings (1997) Metode destructive sampling pada hutan tanaman

A. mangium umur 6 tahun di Hutan Tanaman Benakat,

Sumatera Selatan 3 Hutan tanaman Peronema

canescens

71,4-143,6 Gintings (1997) Metode destructive sampling pada hutan tanaman

P. canescens umur 10 – 25 tahun di Hutan Tanaman

Benakat, Sumatera Selatan dan Stasiun Penelitian Hutan Tanjungan, Lampung

4 Hutan tanaman Schima

wallichii

148,8 Gintings (1997) Metode destructive sampling pada hutan tanaman

S. wallichii umur 25 tahun di Stasiun Penelitian Hutan Tanjungan, Lampung

5 Hutan tanaman Aleurites

moluccana

138,2-354,4 Gintings (1997); Siregar

dan Dharmawan (2008)

Metode destructive sampling pada hutan tanaman

A. moluccana umur 25 tahun di Stasiun Penelitian Hutan

Tanjungan, Lampung; metode destructive sampling pada hutan tanaman A. moluccana umur 15 tahun di Kecamatan Kutacane, Kabupaten Aceh Tenggara dengan persamaan allometrik biomasa di atas permukaan tanah Y = 0,0486

(DBH)2,5016

6 Hutan tanaman Pinus merkusii

149,2-435 Gintings (1997) Metode destructive sampling pada hutan tanaman

P. merkusii umur 14 – 24 tahun di Hutan Tanaman di Jawa

Timur dan Jawa Barat 7 Hutan tanaman

Paraserianthes falcataria

225,6-245,4 Gintings (1997); Siregar

dan Dharmawan (2006)

Metode destructive sampling pada hutan tanaman

P. falcataria umur 8 – 18 tahun di Hutan Tanaman di Jawa

Timur dan Jawa Barat 8 Hutan tanaman Agathis

loranthifolia

246,8 Siregar dan Dharmawan

(2007)

Metode destructive sampling pada hutan tanaman

A. loranthifolia umur 40 tahun di Hutan Tanaman Agathis,

Baturaden, Kabupaten Purwokerto, Jawa Tengah;

persamaan allometrik biomasa di atas permukaan tanah Y

= 0,3406 (DBH)2,0467

9 Tegakan Jati tidak terbakar

dan pasca kebakaran

permukaan di KPH

Malang, Perum Perhutani Unit II Jawa Timur

Potensi biomassa di atas permukaan lahan:

Tegakan pasca

kebakaran (297,3) Tegakan tidak terbakar (242,7).

10 Hutan Tanamn Acacia crassicarpa (HTI PT. Sebangun Bumi Andalas Woodbased Industries)

Metode konversi

biomassa: rata-rata

potensi serapan biomassa menurut kelas umur (1-8 th) dari bagian akar, batang, cabang dan daun: 128,28 ton/ha

Adiriono (2009) Persamaan allometrik untuk pendugaan biomassa dan

pendugaan karbon:

1. Hubungan Dbh dengan biomassa pohon, model

berbentuk power dengan persamaan WT=0,165D2,399 2.

Hubungan Dbh dengan karbon pohon (metode konversi biomassa), model berbentuk power dengan persamaan

CT=0,083D2,399

Model hubungan allometrik antara Dbh dengan simpanan karbon masing-masing komponen pohon dan total pohon:

Karbon akar: CR=0,012D2,415

Karbon batang: CS=0,009D2,997

Karbon cabang: CB=0,067D1,810

Karbon Daun: CL=0,200D1,154

Karbon pohon: CT=0,08D2,339

Persamaan allometrik, model hubungan umur dengan simpanan karbon tegakan:

C(ton/ha) = 11,823 U1,120 (R²=0,956)

11 Hutan Tanamn Acacia

crassicarpa (HTI PT.

Sebangun Bumi Andalas Woodbased Industries)

Metode Karbonasi: rata-rata

potensi serapan biomassa menurut kelas umur (1-8 th)

dari bagian akar, batang, cabang dan daun: 91,28 ton/ha

Adiriono (2009) Persamaan allometrik untuk pendugaan biomassa

dan pendugaan karbon:

1. Hubungan Dbh dengan biomassa pohon, model berbentuk power dengan persamaan

WT=0,165D2,339

2. Hubungan Dbh dengan karbon pohon (metode konversi biomassa), model berbentuk power

dengan persamaan CT=0,083D2,339

Model hubungan allometrik antara Dbh dengan seimpanan karbon masing-masing komponen pohon dan total pohon:

Karbon akar: CR=0,011D2,377 Karbon batang: CS=0,010D2,837 Karbon cabang: CB=0,070D1,670 Karbon Daun: CL=e1,965-11,134/D Karbon pohon: CT=0,081D2,297

Persamaan allometrik, model hubungan umur dengan simpanan karbon tegakan:

C(ton/ha) = e4,503-2,559/u

12 Hutan tanaman Acacia

mangium

Kandungan karbon pada berat kering biomassa adalah

50%, dan jumlah karbon diperkirakan sekitar 3.02

Heriansyah, 2003 Data kandungan karbon diperoleh dari biomassa

total. Persamaan allometrik biomassa total y=0.0528x1.3612

Koefisien korelasi 99.19%. Biomassa total A. mangium umur 10 th 82.24 ton/ha yang terdiri

C/ ha/tahun.

atas biomassa pohon 78.46 ton/ha dan biomassa tanaman bawah 3.78 ton/ha.

13 Hutan tanaman Acacia

mangium di PT. Perhutani,

Bogor

Acacia mangium umur 3

th

221,94 ton /ha

Acacia mangium umur 5 th

353,68 ton /ha

Acacia mangium umur 8 th

466,16 ton /ha

Acacia mangium umur 10 th 561,78 ton /ha

Heriansyah & Siregar, 2002

Lampiran 4. Simpanan Biomassa di Atas Permukaan Tanah pada Hutan Rakyat dan Tegakan Agroforestri

No Tipe Hutan Simpanan Biomassa di Atas

Permukaan Tanah (ton/ha)

Sumber

Keterangan

1 Hutan Rakyat Desa

Dengok, Kecamatan Playen Kabupaten Gunung Kidul

Jati (98) Non Jati (34,66)

Aminudin (2008) Destruktif/sampling sebanyak ±15 pohon, model alometrik

Brown dan metode yang dikembangkan oleh Katterings et.

al. (2001): Biomass = 0,11 D2,62 untuk tanaman jati,

persamaan alometrik Brown (1997) untuk tanaman mahoni dan lainnya, metode destruktif untuk tumbuhan bawah dan serasah

2 Hutan Rakyat, Desa

Karyasari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat

26,5-385,6 ton/ha Asyisanti (2004) Penetapan massa karbon dilakukan berdasarkan kelas umur

0,5 tahun sampai 7,5 tahun (pohon kayu Afrika sebagai tanaman pokok)

3 Hutan Rakyat, Desa

Karyasari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat

Potensi biiomassa tegakan: 19,86-384,66 ton/ha

Asyisanti (2004) Penetapan massa karbon dilakukan berdasarkan kelas umur

0,5 tahun sampai 7,5 tahun dan dibagi antara pohon (didominasi oleh pohon afrika (Maesopsis eminii) dan tanaman buah-buahan: rambutan (Nephelium lappaceum)) dan non pohon (kopi (Coffea spp))

4 Tegakan Agroforestri Agroforestri pola tegakan murni

(30,8-160,4)

Agroforestri pola kebun-campuran (20,8-147,6) Pohon hidup untuk agroforestri tegakan murni (26,8-152,2) untuk agroforestri kebun campuran (kebun campuran 17 – 141,6)

Tanaman kopi agroforestri tegakan murni (9-24)

agroforestri kebun campuran (4-19,4)

Rusolono, 2006 1. Model pendekatan yang menggunakan peubah kerapatan

tegakan dan luas bidang dasar tegakan melalui pengukuran individu pohon dalam areal tertentu atau melalui pendekatan dengan point sampling, memberikan tingkat ketelitian yang paling baik untuk pendugaan persediaan karbon tegakan. 2. Pendekatan dimensi tegakan

3. Pendekatan fungsi pertumbuhan

5 Agroforestri di Desa Karacak, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor Umur tanaman 15 th: 21,31; 40 th: 80,78 Yuly (2003)

Lampiran 5. Simpanan Biomassa di Atas Permukaan Tanah pada Kawasan Non Hutan

No Tipe Hutan

Umur (tahun) Simpanan Biomassa

di Atas Permukaan Tanah (ton/ha)

Sumber

Keterangan

1 Savana/padang rumput

a. Jambi N/A 12 Prasetyo (2000) dalam Muzahid (2008)

b. Indonesia N/A 20 Peace (2007) dalam Muzahid (2008)

2 Semak belukar

a. Jambi N/A 30 Prasetyo (2000) dalam Muzahid (2008)

b. Nunukan N/A 38,8 Lusiana (2005) dalam Muzahid (2008)

3 Agroforestry

a. Desa Pecekelan N/A 90,8 Rusolono (2006) Agroforestry murni

b. Desa Kertayasa N/A 82,2 Rusolono (2006) Agroforestry pola kebun campuran

c. Lampung 13 70 Roshetko (2002) dalam Rusulono (2006) Agroforestry, didominasi oleh jenis

penghasil non kayu d. Kawasan TN. Gunung Halimun 5 10 15 20 10,2 17,8 32,6 41,4

Haryadi (2005) Tanaman teh (Camelia sinensis)

f. PTPN IV Ajamu, Kab.Labuan Batu, Sumatera Utara 9 11 13 17 18 23,76 26,14 24,98 32,86 29,76

Yulianti (2009) Agroekosistem kelapa sawit di

lahan gambut

g. Lombok Timur N/A 247,76

150,18 23,06 160,74 184,58 7,1

Nandini (2009) Kebun hutan

Budidaya lorong Wanatani Kebun Rau

Pemberaan dgn turi

h. Lombok Barat N/A 461,78

236,8 533,28 223,12 21,6 Kebun hutan Budidaya lorong Wanatani Kebun Pemberaan dgn turi i. Lombok Utara 257,48 166 218,84 315,86 117,22 17,36 Kebun hutan Budidaya lorong Wanatani Kebun Rau Pemberaan dgn tur

j. Lombok Tengah 207,56 270,94 48,76 192,68 76,12 31 Kebun hutan Budidaya lorong Wanatani Kebun Rau Pemberaan dgn turi k. Pulau Sumbawa 127,42 197,62 114,88 34,22 Kebun Hutan Wanatani Kebon Rau l. Sumbawa Barat 208,66 265,08 275,26 317,64 15 Kebun Hutan Budidaya Lorong Wanatani Kebon Rau m. Leuwiliang, Jabar 15 20 25 30 35 38 40 50 55 40,66 64,86 67,44 66,08 179,32 199,82 185,56 445,16 140,3

Yuli (2003) Kebun campuran

n. Sumatera Barat N/A 198

227,7

Sorel (2007) Kemiri, durian, cengkeh, kayu

manis, alpuket . Karet dan coklat o. Desa Tareran, Kab.

Minahasa, Sulawesi Utara

35 28,84 Langi (2007) Hutan rakyat campuran

p. Nunukan, Kaltim 20 (max) 182 Tomich et al (1998) dalam Asyisanti

(2004)

Monokultur kelapa sawit

q. N/A 25 (max) 194 Monokultur karet

r. Pandeglang, Banten 25 78,26 Cesylia (2009) Perkebunan karet, metoda

perhitungan dengan fixed karbon

s. Desa Karyasari, Bogor 0,5

1,5 2,5 3,5 4,5 31,12 73,16 97,2 117,78 126,88

Asyisanti (2004) Hutan rakyat didominasi Maesopsis

7,5 389,94

4 Hutan Kota

Hutan kota Jalur hijau jalan Jalur hijau sungai Jalur hijau pantai (Bandar Lampung)

Taman Wisata Alam

Taman Eden (Toba

Samosir, Sumatera Utara)

N/A 49,4 32,86 34,8 19,12 10,64 Setiawan (2007) Bakri (2009) 1 jenis pohon 1 jenis pohon 1 jenis pohon 1 jenis pohon 1 jenis tanaman

5 Ruang Terbuka Hijau

Jakarta Timur 1986

1992 2001 2005

(Tahun pengambilan data)

369,94 324,1 363,6 367,42

Isdiyantoro (2007) RTH terdiri dari taman dan jalur

hijau.

Pendugaan karbon dengan Citra Landsat MSS, 5TM, 7 ETM dan 7ETM+ SCLOff Aquisisi

Dalam dokumen MELINDA RAKHMAWATI A (Halaman 66-81)

Dokumen terkait