• Tidak ada hasil yang ditemukan

MINYAK SAWIT DUNIA

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN

8.1. Kesimpulan

Dari uraian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan berdasarkan masing- masing tujuan penelitian sebagai berikut.

1. Pajak ekspor merupakan salah satu instrumen kebijakan yang efektif mengontrol harga minyak goreng domestik. Pengenaan pajak ekspor berpengaruh negatif terhadap volume ekspor CPO Indonesia dan berdampak positif dalam meningkatkan ketersediaan bahan baku CPO untuk industri minyak goreng. Selanjutnya dengan bertambahnya bahan baku CPO sebagai input bagi industri minyak goreng, maka penawaran minyak goreng domestik meningkat. Peningkatan produksi tersebut mempengaruhi stabilitas harga minyak goreng sawit domestik. Pengenaan pajak ekspor menurunkan daya saing ekspor Indonesia dan berdampak negatif bagi produsen, karena petani menerima harga yang lebih rendah (sejalan dengan Reed, 2000 dan Obade et al., 2009) dan berdampak pada penurunan luas areal produktif (sejalan dengan Susila, 2004) serta penurunan produksi CPO domestik. Dengan demikian, hasil penelitian menunjukkan bahwa pajak ekspor berdampak negatif terhadap industri hulu kelapa sawit Indonesia. Hal ini penting ditekankan khususnya dampaknya bagi jangka panjang bagi sub sistem hulu agribisnis kelapa sawit Indonesia, dimana pola kepemilikan terbesar kelapa sawit Indonesia saat ini adalah perkebunan rakyat dan 68 persen diantaranya adalah petani swadana (independent farmer).

pengembangan areal produktif bagi petani sawit. Pengembangan areal produktif meliputi pertambaan luas areal dan juga perbaikan pengelolaan tanaman yang ada sehingga mampu menghasilkan dengan baik. Dengan semakin meningkatnya luas areal tanam produktif maka produksi CPO domestik akan meningkat. Kegiatan investasi di sektor hulu juga dipengaruhi oleh peubah suku bunga. Penurunan suku bunga akan mendorong pertumbuhan areal tanam kelapa sawit Indonesia.

CPO merupakan komoditas strategis nasional dan memiliki orientasi ekspor yang sangat kuat, untuk memenuhi permintaan minyak sawit di pasar dunia. Hasil penelitian menunjukkan:

a. Perilaku ekspor CPO Indonesia maupun Malaysia dipengaruhi oleh faktor permintaan CPO dunia, baik konsumsi maupun impor CPO dunia (world demand pull factor) dan Indonesia memiliki prospek yang baik di masa mendatang karena laju permintaan CPO dunia lebih besar dari laju penawaran. Excess demand di pasar global tersebut merupakan faktor yang menyebabkan peningkatan harga CPO di pasar global. Peningkatan harga CPO dunia akan mendorong peningkatan produksi dan ekspor CPO di negara produsen;

b. Perilaku impor RRC, India dan Uni Eropa menunjukkan bahwa peubah produk domestik bruto memiliki pengaruh yang kuat dan dominan dalam permintaan impor CPO masing-masing Negara. Disamping itu, permintaan impor CPO bersifat income elastic¸ dimana pendapatan per kapita berpengaruh positif terhadap permintaan impor CPO di negara yang bersangkutan;

(impor CPO dunia) dan penawaran CPO (ekspor CPO dunia) di pasar internasional. Harga CPO dunia memiliki pengaruh positif terhadap peubah harga CPO di pasar domestik, sementara itu peubah harga CPO di pasar domestik memiliki dampak yang luas bagi industri hulu dan hilir kelapa sawit Indonesia. Peningkatan harga CPO domestik akan mendorong perkembangan industri hulu kelapa sawit Indonesia.

3. Peningkatan impor CPO di pasar dunia merupakan pengaruh eksternal yang paling dominan mempengaruhi industri kelapa sawit Indonesia. Peningkatan ekspor CPO domestik berdampak negatif terhadap ketersediaan bahan baku CPO di pasar domestik, dan kebijakan pajak ekspor efektif mengatasi permasalahan di sektor hilir dan mampu menstabilkan (menurunkan) harga minyak goreng domestik. Namun kebijakan pajak ekspor tidak mampu merangsang tumbuhnya perluasan areal produktif di sektor hulu, sementara kenaikan permintaan impor CPO dunia berpengaruh positif terhadap harga CPO dunia dan hal ini merangsang pertumbuhan areal produktif kelapa sawit Indonesia dan juga meningkatkan produksi CPO domestik. Bila kedua pengaruh eksternal dan internal dilihat secara bersamaan, maka ditemukan bahwa salah satu penyebab tidak efektifnya kebijakan ekspor terhadap industri hulu kelapa sawit Indonesia adalah karena terdapat distorsi harga yang menghambat dampak positif dari kenaikan harga CPO dunia kepada harga CPO di pasar domestik. Jika distorsi harga ini dapat diatasi, maka meningkatnya permintaan CPO di pasar dunia akan merangsang peningkatan produksi CPO di pasar domestik, sehingga kebijakan pajak ekspor mampu memenuhi kebutuhan domestik dan sekaligus berdampak positif bagi

pengembangan industri hulu kelapa sawit Indonesia.

8.2. Saran

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan pajak ekspor efektif menahan laju ekspor CPO Indonesia, dan sekaligus mampu mengatasi gejolak harga minyak goreng di dalam negeri. Namun peningkatan pajak ekspor berdampak negatif terhadap daya saing ekspor CPO Indonesia, sehingga meningkatnya permintaan CPO di pasar dunia akan dimanfaatkan oleh Negara Malaysia. Disamping itu, pengenaan pajak ekspor menambah kesejahteraan konsumen dan menurunkan kesejahteraan produsen. Oleh sebab itu, hasil penelitian ini menyarankan:

1. agar penerimaan pemerintah dari pajak ekspor dialokasikan pada pengembangan industri hulu, khususnya untuk memperbaiki produktivitas kelapa sawit Indonesia, sehingga kelebihan permintaan domestik maupun pasar global dapat diseimbangkan dengan peningkatan produksi CPO domestik;

2. agar pemerintah mengatasi distorsi harga CPO domestik, sehingga dampak positif kenaikan harga CPO di pasar dunia dapat ditransmisikan dengan baik pada peningkatan harga CPO hingga ke level petani. Dengan semakin sedikitnya distorsi harga, maka peningkatan harga di pasar domestik akan mendorong laju pengembangan industri hulu kelapa sawit domestik.

3. agar melakukan kebijakan pada supply side dalam pengembangan industri kelapa sawit Indonesia. Industri kelapa sawit domestik merupakan sebuah sistem agribisnis yang memiliki keterkaitan satu sama lain dari sub-sistem hulu hingga sub-sistem hilir. Kebijakan pajak ekspor tidak dapat menjawab seluruh permasalahan kelapa sawit domestik, oleh sebab itu, dengan kebijakan

pengembangan supply side masalah global excess demand CPO dapat teratasi dengan baik.

8.3. Saran Penelitian Lanjutan

1. Minyak sawit merupakan salah satu sumber minyak nabati di pasar dunia komoditas minyak sawit terkait erat dengan sumber-sumber minyak nabati lainnya. Untuk itu penelitian tentang CPO agar mengikutsertakan sumber- sumber minyak nabati lainnya, antara lain minyak kedele, minyak bunga matahari dan minyak lobak.

2. Permintaan CPO dunia rata-rata meningkat 9.66 persen per tahun dan mempengaruhi kenaikan harga CPO dunia 1.69 persen per tahun. Artinya permintaan CPO memiliki trend yang positif dan komoditas ini memiliki peran yang sangat penting di masa mendatang, bukan hanya untuk memenuhi permintaan CPO untuk konsumsi pangan (edible oil) tetapi juga untuk memenuhi permintaan CPO untuk energi, yakni bahan baku untuk biodiesel. Oleh sebab itu, penelitian CPO perlu dikaitkan dengan permintaan energi khususnya biodiesel yang menggunakan bahan baku minyak sawit.

3. Fenomena pasar CPO baik di pasar domestik dan global telah mendorong banyak penelitian kelapa sawit pada aspek perdagangan internasional, sedangkan penelitian di sektor hulu relatif menjadi tertinggal. Untuk itu, saran penelitian lanjutan juga perlu mengkaji berbagai aspek penting di sektor hulu, untuk memberikan masukan bagi supply side policy dalam perkelapasawitan di Indonesia.

Dokumen terkait