• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERTUMBUHAN KREDIT

8 KESIMPULAN DAN SARAN

8.1 Kesimpulan

Kredit perbankan Indonesia merupakan growth accelerating factor pada perekonomian nasional melalui sektor riil sebagai transmission channel. Terdapat bi-direction causality antara kredit perbankan dengan pertumbuhan ekonomi nasional, yaitu bahwa kredit perbankan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi berpengaruh terhadap credit depth. Kredit perbankan memberikan kontribusi 6,5% pada keragaman pertumbuhan ekonomi. Kontribusi kredit perbankan tersebut menjelaskan bahwa kredit perbankan berperan sebagai source of economic growth dan akselerator pada pertumbuhan ekonomi Indonesia. Lebih lanjut, kredit perbankan berpengaruh positip mereduksi pengangguran dan kemiskinan yang berimplikasi kepada terciptanya kesejahteraan masyarakat yang lebih tinggi. Hal ini berarti bahwa dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat yang tercermin dari penurunan tingkat pengangguran dan kemiskinan, maka pada proses perencanaan pembangunan nasional, kredit perbankan adalah endogenous variable.

Estimasi model VAR menjelaskan, terdapat trade-off antara credit depth pada periode t dan pertumbuhan ekonomi pada periode t dengan pertumbuhan ekonomi pada periode t-1. Trade-off pada estimasi model ini berperan untuk menghindari overheated economy dan credit crunch melalui credit rationing secara otomatis. Hal ini berdampak positif bagi perekonomian Indonesia karena terpenuhinya financial stability dalam kerangka macro-prudential.

Inflasi, BI rate dan funds rate merupakan faktor penting yang harus dikendalikan agar kredit perbankan berperan sebagai stimulus perekonomian nasional. Terdapat bi-direction causality antara credit depth dengan inflasi, antara credit depth dengan BI rate, dan antara credit depth dengan funds rate. Lebih lanjut, terdapat trade-off antara credit depth dengan inflasi, antara credit depth dengan BI rate, dan antara credit depth dengan funds rate. Bersama dengan NPL, inflasi, BI rate dan funds rate merupakan faktor kendala pada maksimisasi credit depth.

Berdasarkan penggunaan kredit (kredit modal kerja, kredit investasi dan kredit konsumsi) pengaruh yang nyata adalah pada variabel kredit investasi dan kredit konsumsi. Kredit investasi berpengaruh positif sedangkan kredit konsumsi berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Lebih lanjut, kredit investasi mampu menurunkan pengangguran secara signifikan. Peningkatan kredit investasi 1 basis poin menurunkan pengangguran 0,5 basis poin.

Hal yang berbeda terjadi pada kredit modal kerja yang peruntukannya adalah pada pembiayaan current assets di sektor riil. Meskipun kredit modal kerja tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi tetapi kredit modal kerja berperan untuk memelihara tingkat likiditas korporat melalui pembiayaan atas account receivable dan inventories sedemikian rupa sehingga cash flow management korporat berjalan lancar.

Sementara itu, kredit konsumsi berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Kredit konsumsi mengandalkan pembayaran atas kredit berdasarkan disposable income. Pada tingkat pendapatan yang tetap, kredit konsumsi akan

menurunkan konsumsi di masa yang akan datang karena penurunan propensity to consume dan propensity to save secara bersamaan dan berpengaruh negatif pada pertumbuhan ekonomi. Kredit konsumsi tidak bersifat sebagai multiplier effect pada pertumbuhan ekonomi.

Berdasarkan sektor ekonomi kredit, pertumbuhan ekonomi tidak tergantung pada credit depth tetapi pada komposisi kredit berdasarkan sektor ekonomi terhadap total kredit perbankan. Pengaruh kredit ke sektor pertanian, perindustrian, perdagangan dan jasa terhadap total kredit perbankan adalah signifikan, sedangkan kredit ke sektor pertambangan tidak signifikan. Meskipun kredit ke sektor pertanian signifikan, tetapi pengaruhnya negatif. Lebih lanjut, pengaruh sektor ekonomi GDP terutama yang bersifat produktif yaitu pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan, pertambangan dan penggalian, industri pengolahan, listrik gas dan air bersih, bangunan, perdagangan, hotel dan restoran, pengangkutan dan komunikasi terhadap pertumbuhan ekonomi perkapita adalah positif dan signifikan. Hal ini berimplikasi bahwa meskipun terdapat pengaruh negatif yang signifikan dari kredit sektor pertanian dan pengaruh negatif yang tidak signifikan dari kredit sektor pertambangan terhadap pertumbuhan ekonomi riil perkapita, hal ini dapat diinterpretasikan bahwa komposisi kredit sektor pertanian dan kredit sektor pertambangan terhadap total kredit perbankan tidak cukup kuat untuk memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi riil perkapita. Dibutuhkan komposisi kredit sektor pertanian dan kredit sektor pertambangan yang lebih besar agar kontribusinya signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Berhubung kredit investasi berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi maka kredit investasi yang ditujukan pada sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan, pertambangan dan penggalian, industri pengolahan, bangunan, perdagangan, hotel dan restoran, pengangkutan dan komunikasi merupakan sources of economic growth melalui perannya untuk memperbesar capital di sektor-sektor tersebut.

Berdasarkan aspek regional, terdapat beberapa provinsi yang secara signifikan memiliki hubungan kausal yaitu kredit perbankan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, demikian pula sebaliknya bahwa pertumbuhan ekonomi mempengaruhi secara signifikan kredit perbankan. Meskipun demikian, terjadi ketidakpastian hubungan kausal antara kredit perbankan dan pertumbuhan ekonomi pada provinsi, baik dengan kategori tingkat credit depth rendah maupun tinggi. Ketidakpastian hubungan kausalitas bukan berarti bahwa tidak terdapat pengaruh dari kredit perbankan terhadap pertumbuhan ekonomi dan tidak terdapat pengaruh dari pertumbuhan ekonomi terhadap kredit perbankan.

Hal ini diinterpretasikan bahwa tetap saja terdapat bi-direction causality antara kredit perbankan terhadap pertumbuhan ekonomi, karena secara nasional (yang merupakan aggregat dari kinerja regional) terdapat hubungan kausalitas antara kedua variabel tersebut. Interpretasi ini sejalan dengan estimasi panel data analysis yang menjelaskan bahwa kenaikan 1 basis poin pada kredit perbankan akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi regional 0,03 basis poin. Ketidakpastian hubungan kausalitas yang terjadi merupakan signal bahwa baik kredit perbankan maupun pertumbuhan ekonomi regional tidak cukup kuat untuk menghasilkan hubungan kausalitas. Kredit perbankan merupakan source of regional economic growth, sehingga diperlukan kredit perbankan yang lebih tinggi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, dan sebaliknya, dibutuhkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi untuk mendorong kredit perbankan.

Kredit perbankan secara signifikan akan mereduksi tingkat kemiskinan di masing-masing provinsi, tetapi terdapat ketidakpastian hubungan antara credit depth, pertumbuhan ekonomi regional dan kemiskinan di masing-masing provinsi. Beberapa provinsi dengan high credit depth dan pertumbuhan ekonomi sangat cepat ternyata berada pada kategori tingkat kemiskinan yang tinggi. Namun demikian, karena berdasarkan estimasi model dengan panel data analysis, baik secara nasional maupun regional dijelaskan bahwa tingkat kemiskinan akan menurun jika terjadi kenaikan kredit pada periode sebelumnya, maka gambaran hubungan credit depth, pertumbuhan ekonomi regional dan kemiskinan tersebut di atas menjadi signal bahwa baik credit depth maupun pertumbuhan ekonomi regional belum cukup kuat untuk menurunkan tingkat kemiskinan. Implikasinya adalah diperlukan credit depth dan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi terutama pada provinsi dengan kategori tingkat kemiskinan tinggi.

Dalam hal BPD sebagai bank yang dimiliki oleh pemerintah provinsi, kabupaten dan kota, peran BPD pada perekonomian regional tergolong masih sangat rendah. Rata-rata LDR dari BPD berada di bawah LDR perbankan nasional pada periode 2001-2014. Penempatan pada SBI yang tergolong tinggi serta BPD yang lebih berorientasi pada kredit konsumsi mengindikasikan bahwa BPD kurang memiliki kemampuan untuk melakukan peran intermediasi serta kontribusinya pada pertumbuhan ekonomi regional masih rendah. Berdasarkan estimasi model yang diperoleh tentang pengaruh kredit menurut penggunaan terhadap pertumbuhan ekonomi, meskipun pengaruh kredit konsumsi signifikan tetapi pengaruhnya negatif. Peran kredit dari BPD untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi regional masih sangat rendah karena seharusnya portofolio kredit investasi yang perlu ditingkatkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi regional yang pada akhirnya berpengaruh positif untuk mereduksi pengangguran dan kemiskinan.

Perbankan Indonesia menghadapi situasi ketatnya kompetisi dalam hal penghimpunan DPK dalam bentuk perang suku bunga yang menjadikan cost of loanable funds meningkat dan berdampak pada tingginya suku bunga kredit. Situasi yang terjadi di perbankan ini mengindikasikan bahwa transmission mechanism melalui credit channel dibatasi oleh kinerja perbankan itu sendiri atau didefinisikan sebagai bank view. Bank view yang terjadi di perbankan Indonesia berbeda dengan bank lending channel karena pembatasan pemberian kredit perbankan bukan sepenuhnya bersumber dari bank sentral tetapi terutama pada performa bank itu sendiri. Di samping itu, karena faktor NPL menjadi prioritas perbankan maka faktor balance sheet channel tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan bagi perbankan untuk menjalankan perannya pada monetary transmission mechanism. Oleh karena itu, faktor kesehatan bank dan balance sheet channel menjadi elemen penting pada bank view.

Terdapat trade-off antara peran otoritas moneter yang dimiliki BI terhadap perannya sebagai pengendali moneter dalam kerangka stabilitas nilai mata uang, stabilitas harga dan inflasi dengan bank view merupakan faktor penghambat efektifitas dari setiap kebijakan moneter. Situasi ini dapat diminimalisir dengan menambah peran BI untuk mengendalikan bank view sehingga terjadi keseimbangan yang optimum yaitu bahwa perbankan tidak menjadi lebih buruk keadaannya (worse-off) meskipun peran BI menjadi lebih besar (better-off). Keseimbangan baru (Pareto efficient) yang dihasilkan akan berdampak pada

keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang didukung oleh perbankan yang sehat. Sebagai fungsi utama untuk stabilitas nilai tukar untuk mendukung pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat, BI akan memiliki kemampuan yang lebih baik karena memiliki kewenangan yang mewajibkan perbankan secara mandatory untuk secara simultan mengimplementasikan kebijakan moneter di tatanan operasional sebagai credit channel.

8.2 Implikasi Kebijakan

Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang mampu mereduksi pengangguran dan kemiskinan, kredit investasi merupakan source of economic growth, sedemikian rupa sehingga kredit investasi yang ditujukan pada sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan, pertambangan dan penggalian, industri pengolahan, bangunan, perdagangan, hotel dan restoran, pengangkutan dan komunikasi perlu menjadi prioritas utama bagi perbankan.

Lebih lanjut, diperlukan enrichment peran BI yang secara kelembagaan dilaksanakan perbankan secara mandatory agar peran yang dimiliki tersebut secara nyata berdampak pada perekonomian Indonesia, yaitu, (i) penetapan BI rate, (ii) komposisi kredit menurut penggunaan dan sektor ekonomi, dan (iii) tingkat kesehatan bank. Melalui tambahan regulasi yang bersifat mandatory tersebut, arah kebijakan moneter BI yang dituangkan dalam Undang-Undang yaitu kebijakan moneter yang berkelanjutan, konsisten dan transparan yang dapat dijadikan sebagai acuan yang pasti dan jelas bagi dunia usaha dan masyarakat luas dapat diarahkan tanpa adanya policy bias akibat time-lag. Di samping itu, melalui otoritasnya sebagai pemegang saham pengendali, Kantor Kementerian BUMN memiliki hak untuk mewajibkan ketiga bank BUMN secara mandatory untuk (i) merespon secara langsung BI rate sebagai basis pada penetapan suku bunga kredit dan DPK, (ii) menentukan komposisi kredit baik dalam hal penggunaan maupun sektor ekonomi yang selaras dengan arah kebijakan pembangunan nasional, dan (iii) menentukan alokasi kredit dengan skim khusus untuk meningkatkan pemerataan.

Berdasarkan perspektif regional, hubungan credit depth, pertumbuhan ekonomi regional dan kemiskinan, diperlukan kebijakan :

1. Bagi provinsi yang ditemukan adanya uni-direction causality antara credit depth dengan pertumbuhan ekonomi, diperlukan kebijakan fiskal yang mengarah pada peningkatan belanja pemerintah daerah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pada akhirnya meningkatkan credit depth dan financial deepening

2. Bagi provinsi yang ditemukan adanya uni-direction causality antara credit depth dengan pertumbuhan ekonomi, diperlukan kebijakan perbankan yang lebih ekspansif untuk mengalokasikan kreditnya ke sektor riil untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi bersama-sama dengan belanja modal pemerintah daerah

3. Bagi provinsi dengan ketidakpastian hubungan kausal antara credit depth dengan pertumbuhan ekonomi, diperlukan kebijakan paralel yaitu fiskal yang mengarah pada peningkatan belanja pemerintah daerah dan kebijakan perbankan yang lebih ekspansif untuk mengalokasikan kreditnya ke sektor riil

4. Bagi provinsi yang high credit depth, pertumbuhan ekonomi sangat cepat dan tingkat kemiskinan rendah, diperlukan kebijakan perbankan dan kebijakan fiskal yang saling mendukung sehingga pertumbuhan ekonomi dan financial deepening tetap berkelanjutan dan menghasilkan tingkat kesejahteraan yang semakin baik

5. Bagi provinsi yang high credit depth, pertumbuhan ekonomi sangat cepat namun tingkat kemiskinan tinggi, diperlukan kebijakan perbankan yang berorientasi kepada pemberian kredit investasi ke sektor ekonomi unggulan di provinsi tersebut

6. Bagi provinsi yang low credit depth, pertumbuhan ekonomi sangat cepat dan tingkat kemiskinan rendah, diperlukan dukungan pemerintah daerah untuk melaksanakan pembangunan provinsi berbasis perbankan sehingga perbankan di provinsi tersebut semakin berkembang dan pada akhirnya secara bersama-sama mampu menjaga tingkat kemiskinan yang rendah

7. Pemerintah provinsi, kabupaten dan kota melakukan intervensi pada BPD agar Rencana Bisnis Bank (RBB) selaras dengan arah kebijakan pembangunan provinsi, kabupaten dan kota

8. Mengarahkan alokasi kredit BPD ke penggunaan investasi untuk menambah kapital di sektor-sektor ekonomi unggulan di masing-masing provinsi, kabupaten kota

9. Meningkatkan financial development BPD dalam rangka menciptakan interkoneksi bisnis antarkabupaten dan antarkota di dalam provinsi 10.Pemerintah provinsi, kabupaten dan kota tidak membebani BPD dengan

penempatan dana transfer dari pusat dengan jangka waktu yang lama yang berakibat kepada penempatan idle fund di BPD ke SBI

11.Pemerintah provinsi, kabupaten dan kota perlu melakukan intervensi untuk mendorong BPD bersinergi dengan bank BUMN, BUSN, joint venture banks dan foreign banks pada pembangunan regional dengan pola kerjasama yang terintegrasi (syndicate banking)

8.3 Saran Penelitian Lanjutan

Pada perspektif nasional, di samping institusi perbankan, pasar modal merupakan elemen penting lainnya di bidang keuangan menjadi alternatif yang perannya cukup besar pada intermediasi, yang menyediakan kapitaldan likiditas ke sektor riil. Sementara itu, berdasarkan perspektif regional, seluruh provinsi memiliki Bank Pembangunan Daerah (BPD). Beberapa provinsi memiliki BPD secara penuh sedangkan beberapa provinsi hasil pemekaran, memiliki BPD secara bersama-sama dengan provinsi induknya. Lebih lanjut, masing-masing provinsi di Indonesia memiliki potensi ekonomi unggulan sebagai economic driver pada pertumbuhan ekonomi regional. Oleh karena itu, disarankan untuk melakukan penelitian lanjutan tentang :

1. Peran pasar modal terhadap perekonomian Indonesia 2. Peran BPD terhadap perekonomian Indonesia

3. Peran kredit perbankan menurut penggunaan dan sektor ekonomi pada perekonomian regional