SISTEM MEDIS TRADISIONAL
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Pengobatan sistem medis tradisional di Indonesia telah berkembang sejak lama, sehingga merupakan kebutuhan sebagian besar masyarakat. Sejalan dengan pekembangan tersebut semakin banyak pula muncul jenis-jenis pengobatan tradisional. Khususnya di kota Medan, banyak terdapat sistem medis tradisional yang mana terdiri dari akupuntur, pijat refleksi dan dukun patah tulang. Khususnya pada masyarakat Karo yang mempunyai banyak cara-cara pengobatan tradisional. Sampai sekarang pun sistem medis tradisional tiu masih ada yaitu
kuning, erpangir dan patah tulang. Kuning ini dapat menyembuhkan penyakit
seperti bisul, gatal-gatal, dan untuk memperoleh keturunan. Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan kuning adalah tepung dan ramuan yang berkhasiat sebagai obat yaitu akar, batang, daun, buang dan bunga. Erpangir adalah pensucian diri dengan cara berlimau atau mencuci kepala dengan menggunakan ramuan dari berbagai macam jenis jeruk dicampur dengan lau meciho (air putih/bersih) di sungai lau oleh guru sibaso. Pembuatan pangir disertai dengan pengucapan doa dan mantra. Begitu juga halnya dengan pengobatan tradisional patah tulang yang masih digunakan dalam mencapai kesehatan.
Pengobatan tradisional yang akan diteliti adalah pengobatan tradisional patah tulang. Pengobatan patah tulang ini pun memiliki berbagai macam merek. Dukun patah tulang tersebut yaitu pergendangan, guru singa, kem-kem dan
95
malumta. Malumta adalah salah satu unsur penyembuh tradisional yang berada di
Kota Medan yang mempunyai kemampuan menyembuhkan segala jenis patah tulang. Sistem medis tradisional ini juga merupakan pengobatan yang digunakan untuk memperoleh kesembuhan.
Berdirinya malumta ini diawali dengan seseorang Bapak yang lahir di Pakpak dan besar di Kota Medan, yang biasa dipanggil Bapak Angkat. Pada tahun 1985 s/d 1990 Bapak Angkat pergi belajar ke Tanah Karo lebih tepatnya di Tigalingga. Tujuannya untuk mendapatkan dan mengetahui cara-cara pengobatan patah tulang yang baik dan benar. Setelah beberapa tahun dia belajar dan menimba ilmu tersebut sampai dia benar-benar mahir dan akhirnya memutuskan untuk membuat prakteknya sendiri yang berada di Kelurahan Pangkalan Masyhur, Kecamatan Medan Johor. Sampai sekarang masih tetap ada dan masih banyak pasien yang datang untuk berobat.
Bahkan malumta ini sudah mempunyai cabang-cabang yaitu di Simpang limun, P. Brayan, Karya Cilincing, bahkan sudah ada yang di luar kota seperti di Pekanbaru, Siantar dan lain-lain. Yang mengobati di sini adalah anak-anak didik dari guru malumta yang telah mengikuti proses belajar selama 5 tahun sampai benar-benar mahir. Murid-murid ini sendiri mempunyai criteria yaitu harus berjenis kelamin pria, usia 20 s/d 25 tahun dan harus beragama Islam. Murid-murid tersebut pun membuka praktek milik mereka sendiri, tetapi harus memakai merek yang sama yaitu malumta. Sampai sekarang para murid tersebut masih tetap membuka usaha pengobatan tradisional patah tulang tersebut.
96
Salah satu hal yang menarik perhatian pasien adalah guru malumta tersebut bisa menentukan seberapa lama pasien akan sembuh. Proses pengobatannya pun cukup sederhana. Pada proses pengobatan pada malumta alat-alat yang digunakan pada pasien adalah perban putih, kapas, cairan pembersih,
splak/bidai. Hal pertama yang dilakukan adalah guru malumta memeriksa terlebih
dahulu bagian tubuh yang patah, misalnya jika patah tulang patah pada pergelangan tangan guru malumta melakukan pijatan, setelah pijatan selesai maka pasien akan diberi perintah untuk mengangkat air yang ada pada ember yang telah disediakan.
Setelah pemeriksaan keadaan tulang maka akan dilakukan reposisi tulang, diistirahatkan hingga tulang menyatu setelah itu terapi terhadap bagian tubuh yang direposisi. Saat-saat ini adalah saat yang paling rawan karena ini adalah saat penyatuan tulang. Pada proses ini guru malumta membutuhkan konsentrasi yang penuh agar saat mereposisi tidak terjadi kesalahan yang fatal. Tetapi jika patah tulangnya lebih serius dari patah tulang biasa, misalnya patah tulang yang disertai remuk pengobatannya lebih serius. bisa saja harus menjalani pengeleman tulang dan las tulang. Pengeleman tulang dilakukan agar tulang-tulang tetap menyatu dan tidak bergeser. Sedangkan las tulang itu adalah obat-obat dalam yang harus diminum berupa campuran alkohol, telur dan ramuan tumbuh-tumbuhan yang telah diracik oleh guru malumta.
Pengobatan tradisional ini juga mempunyai pantangan-pantangan yang harus dipatuhi yaitu tidak boleh bersetubuh, dilarang mengkonsumsi daging anjing, dilarang mengkonsumsi daging babi dan tidak boleh mengkonsumsi es.
97
Jika pasien tidak mematuhi peraturan-peraturan yang telah dibuat tersebut maka proses kesembuhan akan lama, gatal-gatal dan bisa saja cacad pada bagian tubuh yang patah. Selama proses pengobatan pasien harus menjalani aturan tersebut kalau ingin sembuh cepat dan kondisi yang baik. Sembuh yang diharapkan setiap pasien ada bermacam-macam, ada yang ingin sembuh seutuhnya seperti biasa dan ada juga asal sembuh saja dalam arti tidak patah selamanya yang penting sembuh.
Malumta sendiri mengatakan sembuh yang akan diperoleh adalah benar-benar
sembuh dan tidak ada cacad.
Dalam memperoleh kesembuhan juga perlu ada interaksi antara penyembuh, pasien dan keluarga pasien. Dengan interaksi yang erat sangat membantu proses pengobatan. Ada suatu anggapan bahwa dalam menangani suatu penyakit atau proses penyembuhan penyakit sangat diperlukan suatu kedekatan atau keakraban antara satu dengan yang lainnya. Keakraban hubungan yang ditandai dengan bentuk-bentuk interaksi yang bersifat inheren.
Faktor-faktor masyarakat memilih pengobatan tradisional adalah biaya pengobatan yg terjangkau, waktu, resiko infeksi dan amputasi sangat kecil atau bisa dihindarkan. Faktor lain yang sangat mempengaruhi adalah faktor lingkungan. Ternyata faktor lingkungan juga salah satu faktor untuk mendorong pasien untuk pergi berobat kepada pengobatan alternatif. Faktor lingkungan ini berupa pengalaman sendiri atau dari mulut ke mulut. Faktor tersebut sangat berpengaruh saat memilih pengobatan mana yang baik dan benar untuk kita laksanakan. Sehingga setiap orang berhak memilih apakah mengikuti saran dari lingkungannya atau meyakini pengobatan yang telah dipikirkannya sendiri tanpa
98
ada paksaan dari pihak manapun. sebab masyarakat berhak merasakan dapat merasakan kesembuhan dari setiap penyakit yang diderita oleh masing-masing individu.
5.2 Saran
Saran yang perlu diuraikan di sini berupa harapan yang disampaikan kepada pihak-pihak yang berkaitan dengan pengobatan tradisional khususnya penyembuh ataupun guru malumta, sebaiknya menggunakan tenaga medis dalam menangani penyakit patah tulang agar pengobatannya lebih efektif dan dapat mengembangkan pengetahuan tentang ramuan-ramuan patah tulang agar dapat menarik minat masyarakat untuk datang berobat ke pengobatan tradisional patah tulang tersebut.
99