• Tidak ada hasil yang ditemukan

KESIMPULAN DAN SARAN

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA Perancangan dan Im (Halaman 23-200)

BAB 2

LANDASAN TEORI

Bab ini akan dibahas mengenai landasan teori yang digunakan dalam melakukan penelitian, yaitu teori mengenai data spasial, teori mengenai data warehouse, teori mengenai Data, Informasi, dan Knowledge, teori mengenai metode dan teknik yang dapat dipakai dalam membantu perancangan data warehouse spasial. Disamping itu juga terdapat kajian mengenai hasil-hasil penelitian sebelumnya yang terkait dengan tema penelitian.

2. 1 Data, Informasi, dan Knowledge

Menurut Bellinger, Castro, & Mills (2004), definisi data adalah fakta atau pernyataan mengenai suatu kejadian tanpa terkait dengan hal lainnya. Informasi adalah pemahaman mengenai hubungan dari beberapa sebab dan akibat yang mungkin terjadi. Knowledge adalah pola yang menghubungkan dan umumnya menyediakan prediktabilitas tingkat tinggi apa yang dijelaskan atau apa yang akan terjadi berikutnya.

Menurut Rob dan Coronel (2009), data merepresentasikan apa yang dikumpulkan organisasi pada basisdata operasional. Infomasi merepresentasikan data yang telah diolah dan diproses. Knowledge

merepresentasikan informasi yang sangat spesialisasi, sehingga dapat disimpulkan bahwa knowledge merupakan ekstraksi dari data, diilustrasikan pada piramid Gambar 2.1.

2. 2 Bencana

Berdasarkan Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, dijelaskan definisi – definisi terkait bencana.

 Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

 Bencana Alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.

 Bencana Nonalam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit.

 Bencana Sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat, dan teror.

Jenis – jenis bencana alam dijelaskan lebih rinci pada Peraturan Kepala BNPB No. 8 Tahun 2011 tentang Standarisasi Data Kebencanaan.

 Gempa Bumi adalah getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan bumi yang disebabkan oleh tumbukan antar lempeng bumi, patahan aktif, akitivitas gunung api atau runtuhan batuan.

 Tsunami berasal dari bahasa Jepang yang berarti gelombang ombak lautan (“tsu” berarti lautan, “nami” berarti gelombang ombak). Tsunami adalah serangkaian gelombang ombak laut raksasa yang timbul karena adanya pergeseran di dasar laut akibat gempa bumi.

 Letusan gunung api adalahbagian dari aktivitas vulkanik yang dikenal dengan istilah “erupsi”. Bahaya letusan gunung api dapat berupa awan

panas, lontaran material (pijar), hujan abu lebat, lava, gas racun, tsunami dan banjir lahar.

 Banjir adalah peristiwa atau keadaan dimana terendamnya suatu daerah atau daratan karena volume air yang meningkat.

 Banjir bandang adalah banjir yang datang secara tiba-tiba dengan debit air yang besar yang disebabkan terbendungnya aliran sungai pada alur sungai.

 Kekeringan adalah ketersediaan air yang jauh di bawah kebutuhan air untuk kebutuhan hidup, pertanian, kegiatan ekonomi dan lingkungan. Adapun yang dimaksud kekeringan di bidang pertanian adalah kekeringan yang terjadi di lahan pertanian yang ada tanaman (padi, jagung, kedelai dan lain-lain) yang sedang dibudidayakan.

 Angin puting beliung adalah angin kencang yang datang secara tiba-tiba, mempunyai pusat, bergerak melingkar menyerupai spiral dengan kecepatan 40-50 km/jam hingga menyentuh permukaan bumi dan akan hilang dalam waktu singkat (3-5 menit).

 Tanah Longsor adalah salah satu jenis gerakan massa tanah atau batuan, ataupun percampuran keduanya, menuruni atau keluar lereng akibat terganggunya kestabilan tanah atau batuan penyusun lereng.

 Kerusuhan adalah suatu gerakan massal yang bersifat merusak tatanan dan tata tertib sosial yang ada, yang dipicu oleh kecemburuan sosial, budaya dan ekonomi yang biasanya dikemas sebagai pertentangan antar suku, agama, ras (SARA)

 Aksi Teror adalah aksi yang dilakukan oleh setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan sehingga menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat masal, dengan cara merampas kemerdekaan sehingga mengakibatkan hilangnya nyawa dan harta benda, mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik internasional.

 Kecelakaan Industri adalah kecelakaan yang disebabkan oleh dua faktor, yaitu perilaku kerja yang berbahaya (unsafe human act) dan kondisi yang berbahaya (unsafe conditions). Adapun jenis kecelakaan yang terjadi sangat bergantung pada macam industrinya, misalnya bahan dan peralatan kerja yang dipergunakan, proses kerja, kondisi tempat kerja, bahkan pekerja yang terlibat di dalamnya

 Gelombang Pasang adalah gelombang tinggi yang ditimbulkan karena efek terjadinya siklon tropis di sekitar wilayah Indonesia dan berpotensi kuat menimbulkan bencana alam. Indonesia bukan daerah lintasan siklon tropis tetapi keberadaan siklon tropis akan memberikan pengaruh kuat terjadinya angin kencang, gelombang tinggi disertai hujan deras.

Manajemen bencana memiliki tujuan untuk mengurangi, atau mencegah, potensi kehilangan dari bencana, menjamin bantuan yang cepat dan tepat bagi korban bencana dan mendapatkan pemulihan yang cepat dan efektif (Warfield, 2008). Siklus manajemen bencana menggambarkan bagaimana proses berjalan yang dilakukan pemerintah, bisnis, masyarakat untuk mengurangi dampak bencana, reaksi cepat yang dilakukan setelah terjadi bencana, dan tahapan yang dilakukan untuk pemulihan bencana. Siklus manajemen bencana dapat dilihat pada Gambar 2.2.

Siklus manajemen bencana terdiri dari empat fase, yaitu:

1. Mitigasi (Mitigation), untuk meminimalkan efek bencana. Contohnya pembangunan kode atau zona, analisis kerentanan, edukasi kebencanaan.

2. Persiapan (Preparedness), untuk merencanakan bagaimana merespon bencana. Contohnya Rencana persiapan, pelatihan tanggap darurat, sistem peringatan.

3. Respon (Response), usaha untuk meminimalkan bahaya yang ditimbulkan oleh bencana. Contohnya pencarian dan penyelamatan, pertolongan darurat.

4. Pemulihan (Recovery), mengembalikan kondisi kembali ke normal. Contohnya tempat penampungan sementara, bantuan, perawatan medis.

2. 3 Data Spasial

Berdasarkan Undang-Undang No. 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial, dijelaskan definisi – definisi sebagai berikut:

 Spasial adalah aspek keruangan suatu objek atau kejadian yang mencakup lokasi, letak, dan posisinya.

 Geospasial atau ruang kebumian adalah aspek keruangan yang menunjukkan lokasi, letak, dan posisi suatu objek atau kejadian yang berada di bawah, pada, atau di atas permukaan bumi yang dinyatakan dalam sistem koordinat tertentu.

 Data Geospasial yang selanjutnya disingkat DG adalah data tentang lokasi geografis, dimensi atau ukuran, dan/atau karakteristik objek alam dan/atau buatan manusia yang berada di bawah, pada, atau di atas permukaan bumi.

 Informasi Geospasial yang selanjutnya disingkat IG adalah DG yang sudah diolah sehingga dapat digunakan sebagai alat bantu dalam perumusan kebijakan, pengambilan keputusan, dan/atau pelaksanaan kegiatan yang berhubungan dengan ruang kebumian.

 Informasi Geospasial Dasar yang selanjutnya disingkat IGD adalah IG yang berisi tentang objek yang dapat dilihat secara langsung atau diukur dari kenampakan fisik di muka bumi dan yang tidak berubah dalam waktu yang relatif lama. IGD meliputi jaring kontrol geodesi dan peta dasar.

 Informasi Geospasial Tematik yang selanjutnya disingkat IGT adalah IG yang menggambarkan satu atau lebih tema tertentu yang dibuat mengacu pada IGD.

Data spasial umumnya disebut data bereferensi geografis atau data geospasial. Data spasial adalah data yang dapat ditampilkan, dimanipulasi dan dianalisis oleh cara atribut spasial yang menunjukkan lokasi pada atau dekat permukaan Bumi (Yeung & Hall, 2007). Atribut spasial menyediakan bentuk dari pasangan koordinat sehingga posisi dan bentuk dari fitur spasial dapat diukur dan ditampilkan secara grafis. Data spasial memiliki dua hal penting:

 Data spasial bereferensi pada keruangan geografis, yang artinya data didaftarkan pada sistem koordinat geografis yang diterima mengelilingi area permukaan bumi, sehingga data dari sumber yang berbeda dapat saling bereferensi dan terintegrasi secara spasial.

 Data spasial direpresentasikan pada berbagai skala geografis dan pada saat data direkam secara relatif pada skala kecil, juga merepresentasikan area yang luas pada permukaan bumi, maka data tersebut harus digeneralisasi dan disimbolisasi.

Data spasial dikumpulkan dan disimpan dalam dua bentuk dasar yaitu raster dan vektor, dijelaskan pada Gambar 2.3.

Gambar 2. 3 Jenis Data Spasial (Yeung & Hall, 2007)

Elemen dasar dari data spasial dalam bentuk vektor adalah objek geografi yang diidentifikasikan sebagai representasi fitur atau fenomena dunia nyata dalam bentuk titik (points), garis (lines), dan area (polygons). Data vektor dapat disimpan sebagai bagian dari dasar topografi yang memiliki fungsi menyediakan kerangka referensi spasial untuk koleksi data dan analisis. 2.3.1 Data Vektor

Data vektor adalah objek geografi dengan elemen dasar berupa titik (points), garis (lines), dan area (polygons). Setiap elemen pada sebuah model vektor digambarkan secara matematis dan berdasarkan titik-titik yang didefinisikan oleh kordinat kartesian. Adapun model penyimpanan data vektor yang didefinisikan yaitu spaghetti model,

topological model, dan simpel features. Spaghetti model adalah model penyimpanan sederhana yang menyimpan data dengan cara yang tidak terstruktur. Model ini hanya menyimpan nama objek dan koordinatnya, sedangkan informasi topologi tidak disimpan karena tiap objek tidak saling berhubungan dan konsistensi tidak dapat diverifikasi. Topological model adalah model yang memiliki node

dan edge. Suatu node adalah satu titik yang menghubungkan satu atau beberapa arc. Suatu edge adalah garis yang terdiri dari node awal dan

topological mengandung informasi tiap objek beserta keterkaitannya dengan objek lain, dan tidak terjadi redundan data geometri. The Open Geospatial Consortium (OGC) - organisasi internasional yang mengembangkan standar konten dan layanan geospasial - mendefinisikan suatu standar penyimpanan dijital data geografi dengan atribut spasial seperti halnya atribut non-spasial yang disebut

Simpel Features. Adapun kelebihan dari data vektor adalah jumlah data yang kecil, mudah untuk diperbaharui, struktur data logical, atribut dikombinasikan dengan objek, memelihara kualitas setelah interasksi (misalnya, scalling), dan lebih canggih dalam analisis spasial. Kekurangan dari data vektor adalah data kontinu tidak direpresentasikan secara efektif, analisis spasial dan filtering pada poligon sulit dilakukan, memerlukan manual editing yang banyak untuk mendapatkan kualitas yang bagus, selalu memperkenalkan batas yang keras (hard boundaries), dan tidak dapat memberikan model pada sesuatu yang belum pasti. Contoh data vektor yaitu format CAD, jaringan jalan atau sungai, peta kadaster, kartografi (Neumann, Freimark, & Wehrle, 2010). Data vektor diilustrasikan pada Gambar 2.4.

Gambar 2. 4 Visualisasi data vektor (Neumann, Freimark, & Wehrle, 2010)

2.3.2 Data Raster

Data raster adalah data geografis yang didiskretisasi dengan jarak yang sama dan dikuantisasi pada tiap-tiap sel raster. Sel raster sering juga disebut sebagai pixel (elemen gambar). Setiap pixel dapat menyimpan nilai data kedalaman warna dari raster image atau raster

geodata set. Nilai data ini dapat mewakili satu nilai warna, kedalaman, ukuran atau nilai tematik lainnya, misalnya indeks dari kelas tutupan lahan. Sel raster biasanya diatur dalam sebuah matriks (baris dan kolom). Pada Gambar 2.5, mengilustrasikan bagaimana satu nilai warna data raster disimpan dalam pixel.

Gambar 2. 5 Visualisasi data raster dalam pixel (Neumann, Freimark, & Wehrle, 2010)

Adapun kelebihan menggunakan struktur data raster yaitu struktur data sederhana, mudah untuk dihasilkan, workflow dan analisis mudah. Kekurangan menggunakan struktur data raster yaitu struktur data non-adaptive, cenderung menghasilkan ukuran file yang sangat besar karena bergantung pada resolusi, pengaturan sel biasanya acak dan tidak memperhatikan batasan, interaksi terbatas dan algoritma analisis masih primitif. Contoh data raster yaitu foto, fotogrametri dan penginderaan jauh, gambar hasil scan peta, terrain modelling, analisis penutup lahan, pemodelan dan analisis hidrologi, pemodelan dan analisis permukaan (Neumann, Freimark, & Wehrle, 2010).

2.3.3 Klasifikasi Fungsional Data Spasial

Data spasial berdasarkan fungsinya diklasifikasikan menjadi empat kategori (Yeung & Hall, 2007), dapat dilihat pada Gambar 2.6, yaitu:

Base Map Data Layers. Meliputi Jaring Kontrol Geodesi (Survey) yang membentuk kerangkan referensi spasial untuk semua data dalam basisdata dan berbagai jenis data dasar topografi yang digunakan untuk menyediakan referensi

geografi yang dibutuhkan dalam mengumpulkan, menganalisa, menampilkan data solusi aplikasi dan bisnis.

Framework Data Layers. Terdiri dari tiga layer yang berhubungan dalam referensi geografis aktifitas manusia pada permukaan bumi, yaitu layer persil (parcel) yang menyediakan kerangka untuk pengembangan lahan dan aplikasi adminsitrasi lahan, layer fasilitas yang menyediakan dasar bagi manajemen fasilitas dalam utilitas umum dan manajemen sumberdaya, dan layer alamat (address) yang digunakan untuk mendukung berbagai lahan dan aplikasi sumberdaya yang memerlukan penggunaan alamat kewarganegaraan dan pos.

Application Data Layers. Meliputi banyak kumpulan data spasial yang dikumpulkan dan digunakan untuk aplikasi basisdata yang berbedadalam lahan dan manajemen sumberdaya yang menggunakan peta dasar dan kerangka layer data sebagai basis referensi geografi.

Business Solution Layers. Meliputi kumpulan layer data spasial termasuk kerangka dan layer aplikasi data beserta turunannya. Data tersebut dapat mendukung fungsi operasional dan pengambilan keputusan departemen atau divisi dalam suatu organisasi.

Gambar 2. 6 Klasifikasi Fungsional Data Spasial (Yeung & Hall, 2007)

2.3.4 Objek Spasial (Spatial Object)

Sebuah Objek Spasial (Spatial Object) sesuai dengan entitas dunia nyata dimana aplikasi dibutuhkan untuk menyimpan karakteristik spasial. Objek Spasial terdiri dari komponen deskriptif (konvensional) dan komponen spasial. Komponen deskriptif direpresentasikan menggunakan tipe data konvensional, seperti

integer, string, dan date, mengandung karakteristik umum dari objek spasial. Sebagai contoh, suatu objek negara dapat digambarkan oleh nama, penduduk, luas wilayah, dan aktifitas utama. Komponen Spasial meliputi berbagai jenis data spasial seperti titik (point), garis (line), atau permukaan (Malinowski dan Zimanyi, 2008).

2.3.5 Spatial Data Types

Menurut Malinowski dan Zimanyi (2008), Spatial data types

adalah tipe data yang menyediakan fenomena dari representasi fitur geometri. Beberapa tipe data spasial yang mendukung fitur dua

(zero-dimensional) yang menunjukkan lokasi tunggal dalam keruangan. Garis (Line), merepresentasikan geometri 1 dimensi ( one-dimensional) yang menunjukkan himpunan titik terhubung yang didefiniskan oleh satu atau lebih persamaan linear. Line biasanya digunakan untu merepresentasikan jalan pada jaringan jalan. Salah satu spesialisasi dari line adalah OrientedLine. OrientedLine memiliki titik awal dan titik akhir yang semantik (memiliki arah dari titik awal ke titik akhir). OrientedLine biasanya digunakan untuk merepresentasikan sungai pada jaringan hidrografi. Permukaan (Surface), merepresentasikan geometri dua dimensi yang menunjukkan himpunan titik-titik yang terhubung yang terletak dalam suatu batas yang dibentuk dari satu atau lebih garis tertutup yang terpisah. SimpleSurface merepresentasikan permukaan tanpa lubang, sebagai contoh danau dapat direpresentasikan sebagai permukaan ataupun SimpleSurface bergantung pada apakah danau tersebut memiliki pulau didalamnya atau tidak. SimpleGeo, merupakan generalisasi dari tipe point, line, dan surface. SimpleGeo biasa digunakan untuk merepresentasikan negara. PointSet biasanya digunakan untuk merepresentasikan perumahan dalam suatu kota.

LineSet biasanya digunakan untuk merepresentasikan jaringan jalan.

OrientedLineSet adalah spesialisasi LineSet, biasanya digunakan untuk merepresentasikan sungai dan anak sungai. SurfaceSet dan

SimpleSurfaceSet merepresentasikan wilayah administratif.

ComplexGeo merupakan generalisasi dari PointSet, LineSet, OrientedLineSet, SurfaceSet, dan SimpleSurfaceSet, biasanya digunakan untuk merepresentasikan sistem perairan yang terdiri dari sungai, danau, dan waduk. Geo adalah tipe data spasial yang paling umum yang merupakan generalisasi dari SimpleGeo dan ComplexGeo. Tipe data dapat dilihat pada Gambar 2.7.

Gambar 2. 7 Spatial Data Types (Malinowski dan Zimanyi, 2008). 2.3.6 Sistem Referensi Spasial (Spatial Reference System)

Menurut Malinowski dan Zimanyi (2008), lokasi-lokasi dalam geometri tertentu disajikan dengan memperhatikan beberapa koordinat bidang datar yang disebut sistem referensi spasial. Terdapat berbagai jenis sistem referensi spasial yang dapat digunakan, antara lain

Universal Transverse Mercator coordinate system, dan koordinat geografis.

2.3.7 Topological Relationships

Topological Relationships adalah hubungan yang memiliki keterkaitan dengan batasan spasial pada geometri dari entitas terkait. Beberapa contoh topological relationships yaitu meets dimana dua geometri saling berpotongan, overlaps dimana dua geometri saling tumpang tindih, contains/inside dimana salah satu geometri berada dalam geometri lainnya dan batasan-batasannya tidak berpotongan,

covers/coveredBy dimana salah satu geometri menutupi geometri lainnya, crosses dimana dua geometri saling berpotongan dan dimensi dari yang berpotongan lebih kecil dari dimensi terbesar geometri (Malinowski dan Zimanyi, 2008). Contoh Topological relationships

Gambar 2. 8 Contoh Topological Relationships (Malinowski dan Zimanyi, 2008)

2.3.8 Katalog Fitur Dataset Fundamental

Katalog fitur dataset fundamental adalah katalog yang memuat definisi-definisi dan deskripsi-deskripsi tipe fitur, atribut fitur, dan asosiasi fitur yang terjadi dalam satu atau lebih kumpulan data geografis, serta dengan operasi-operasi fitur yang dapat diterapkan. Tujuan penyusunan katalog fitur dataset fundamental adalah untuk mempermudah terwujudnya penggunaan data bersama maupun pertukaran data antara produsen dan pengguna data spasial. Katalog fitur terdiri dari 12 kategori yaitu Batas Wilayah, Dataset Khusus, Geologi, Hidrografi, Hipsografi, Kadaster, Lingkungan Terbangun, Referensi Spasial, Tanah, Tematik, Toponimi, Transportasi, Utilitas, dan Vegetasi (Badan Informasi Geospasial, 2013).

2. 4 Data Warehouse

Data dan informasi memiliki peranan penting dalam suatu organisasi. Semakin besar organisasi tersebut, maka data dan informasi yang dimiliki pun semakin berkembang, sehingga basisdata operasional yang dimiliki akan semakin besar dan kompleks. Sejalan dengan hal tersebut juga semakin meningkat kompleksitas kebutuhan informasi yang dibutuhkan, maka akan semakin kesulitan untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan dalam basisdata operasional. Untuk menjawab hal tersebut, diperlukan fasilitas penyimpanan data baru yang dinamakan Data Warehouse. Menurut Inmon (2005), data warehouse adalah kumpulan data yang subject-oriented,

integrated, time-variant, nonvolatile untuk mendukung pihak manajemen dalam proses pengambilan keputusan.

2.4.1 Karakteristik Data Warehouse

Karakteristik data warehouse dijelaskan sebagai berikut: 1) Subject-oriented

Pada sistem operasional, data disimpan berdasarkan aplikasi individual, sedangkan pada data warehouse, data disimpan berdasarkan subjek bisnis. Data dalam data warehouse diatur sedemikian sehingga kumpulan data mendekati subjek bisnis di dunia nyata. Data diatur dan dioptimalkan untuk dapat memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang berasal dari area fungsional yang berbeda dalam suatu organisasi. Contoh pada perusahaan asuransi, aplikasi yang dibuat adalah asuransi mobil (auto), asuransi jiwa (life), asuransi kesehatan (health), dan asuransi kecelakaan (casualty). Subjek area dari asuransi adalah

customer, kebijakan (policy), premi (premium), klaim (claim). Kondisi tersebut diilustrasikan pada Gambar 2.9.

Gambar 2. 9 Subject-oriented pada data warehouse (Inmon, 2005) 2) Integrated

Data dalam data warehouse berasal dari berbagai sumber data dengan memiliki format data yang berbeda-beda. Sebelum disimpan ke dalam data warehouse, inkonsistensi data harus dihilangkan terlebih dahulu. Standar data diperlukan untuk memastikan arti data dari masing-masing sumber. Menurut Ponniah (2010), beberapa hal yang harus distandarkan untuk membuat data konsisten, yaitu naming convention, kode-kode, atribut data, dan pengukuran.

3) Time-variant

Data dalam data warehouse akurat dan valid hanya pada saat data tersebut dibuat atau pada interval waktu tertentu, sehingga data yang disimpan adalah data historis yang memilki elemen waktu. Data yang bersifat time-variant memiliki karakteristik, yaitu dapat melakukan analisis kejadian masa lalu, dapat

mengkaitkan informasi saat ini, serta dapat memprediksi untuk masa yang akan datang (Ponniah, 2010).

4) Nonvolatile

Pada saat data disimpan dalam data warehouse, maka data tersebut tidak akan dapat dihapus ataupun diperbaharui, pengguna hanya dapat membaca data. Data tidak pernah dihapus, akan tetapi data yang baru akan selalu ditambahkan, sehingga jumlah data akan terus berkembang. Perubahan data hanya dapat dilakukan pada basisdata operasional.

2.4.2 Data Mart

Menurut Rob dan Coronel (2009), data mart adalah subset dari

data warehouse yang kecil dengan subjek tunggal yang menyediakan dukungan keputusan untuk kelompok kecil dari organisasi. Menurut Ponniah (2010), perbedaan data warehouse

dengan data mart ditunjukkan pada Tabel 2.2.

Tabel 2. 1 Perbedaan data warehouse dengan data mart

Data Warehouse Data Mart

Cakupannya organisasi

Integrasi dari semua data mart

Data didapatkan dari staging

area

Query pada level presentasi

Struktur untuk melihat data

korporat

Diatur dalam model E-R

Cakupannya untuk

departemen

Proses bisnis tunggal

STAR join (fakta dan

dimensi)

Teknologi optimal pada akses

data dan analisis

Struktur untuk melihat data

departemen

2.4.3 Pemodelan Data Warehouse

Dalam memodelkan data, terdapat dua pendekatan yaitu

relational model dan multidimensional model. Pada relational model, perancangan dimulai dengan mengorganisasikan data ke dalam tabel. Setiap tabel relasional, memiliki informasi yang berbeda-beda. Setiap kolom dari data memiliki karakteristik fisik yang berbeda-beda, dapat diindeks dan berlaku sebagai identifier.

Semua kolom didefinisikan dalam bentuk Data Definition Language

(DDL). Pada multidimensional model terdiri dari satu tabel dengan

composite primary key yang disebut tabel fakta (fact table), dan satu kelompok tabel-tabel kecil yang disebut tabel dimensional

dimensional table). Menurut Inmon (2005), terdapat dua pendekatan model multidimensional, yaitu:

1) Star Join Approach

Bentuk model yang menyerupai bintang, dimana tabel fakta berada di tengah dan tabel dimensi mengelilinginya, diilustrasikan pada Gambar 2.10.

Gambar 2. 10 Star Join Approach (Inmon, 2005) 2) Snowflake Approach

Pada pendekatan ini, tabel fakta yang dimiliki lebih dari satu untuk membuat struktur composite, diilustrasikan pada Gambar 2.11.

Gambar 2. 11 Snowflake Approach (Inmon, 2005) 2.4.4 Multidimensional Model

Multidimensional model menyediakan pemahaman data untuk

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA Perancangan dan Im (Halaman 23-200)

Dokumen terkait