8.1. Kesimpulan
Berikut merupakan beberapa kesimpulan yang didapatkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti :
1. Tingkat kebisingan di area PT. PGE Area Kamojang berkisar antara 42,5-128,7 dBA. Area kerja yang memiliki tingkat kebisingan lebih dari NAB adalah area sumur mencapai 104,8 dBA, area lokal PLTP Unit IV mencapai 99,6 dBA, WPS Cikaro mencapai 86 dBA, area sumur saat uji datar 90,8-103,9 dBA dan area sumur saat uji tegak 126,2-128,7 dBA.
2. Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel yang memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian penurunan pendengaran adalah variabel usia pekerja.
3. Faktor risiko utama yang kemungkinan besar menyebabkan penurunan pendengaran pada pekerja yang terpajan kebisingan adalah tingkat kebisingan yang sangat tinggi yang berasal dari kegiatan uji produksi, khususnya uji tegak. Kegiatan uji tegak memiliki tingkat kebisingan maksimal hingga mencapai 129,5 dBA (dosis=2.818.382,9%), dengan bantuan pemakaian APT secara double yaitu earplug dan earmuff tingkat kebisingan yang diterima pekerja pun masih tinggi yaitu sebesar 109,5 dBA (dosis=28.184%) yang artinya pekerja hanya boleh terpajan selama 1,5 menit. Namun, kenyataan dilapangan pekerja berada di area tersebut selama ±2 jam, bahkan dapat lebih dari 2 jam tergantung pada situasi dan kondisi yang terjadi di lapangan.
4. Peneliti tidak dapat melakukan analisis hubungan antara pemakaian APT dan kejadian penurunan pendengaran karena data pemakaian APT yang didapatkan oleh peneliti bersifat homogen, yaitu semua pekerja pemakaian APT nya baik.
5. Masih cukup banyak jumlah pekerja yang merasa telinganya berdengung (tinnitus) pada saat atau setelah bekerja di area bising, terutama pekerja yang berasal dari fungsi kerja yang memiliki bahaya kebisingan yaitu PLTP Unit IV dan Operasi & Produksi. Hal ini perlu menjadi perhatian penting mengingat
bahwa telinga berdengung merupakan salah satu gejala awal terjadinya penurunan pendengaran yang lama kelamaan nantinya dapat berkembang menjadi penurunan pendengaran yang sebenarnya.
8.2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah didapatkan dan observasi peneliti selama dilakukannya penelitian, maka peneliti memberikan saran sebagai berikut : 1. Sebaiknya lakukan pengukuran tingkat pajanan kebisingan yang diterima pekerja, khususnya pekerja yang berpotensi untuk terkena pajanan kebisingan, menggunakan alat noise dosimeter agar tingkat pajanan kebisingan yang didapat lebih valid dan menggambarkan tingkat pajanan yang sebenarnya.
2. Pekerja dengan usia yang sudah cukup tua atau dikategorikan sensitifitas pendengarannya sudah mulai menurun karena faktor usia, sebaiknya frekuensi untuk terpajan bising dari pekerja tersebut lebih diringankan dibandingkan pekerja lainnya agar tidak memperparah kondisi pendengarannya. Ini bukan berarti bahwa pekerja yang muda boleh lebih sering terpajan bising, namun yang sensitifitas pendengarannya sudah menurun harus lebih dijaga. Pada intinya, baik yang sudah cukup usia maupun yang masih muda pendengarannya harus tetap terlindungi saat mereka bekerja di area bising.
3. Pihak perusahaan sudah melakukan pengendalian bahaya kebisingan dan menerapakan program konservasi pendengaran dengan baik, namun terdapat beberapa aspek yang belum ada ataupun harus ditingkatkan lagi penerapannya, antara lain :
a. Pengendalian engineering
Sebaiknya pasang alat peredam kebisingan di sekitar area ejector PLTP Unit IV, misalnya dengan cara menutup atau meng-enclosure ejector tersebut dengan bahan yang dapat meredam kebisingan.
Walaupun ejector ini terletak di ruangan yang terbuka, namun pekerja cukup sering bekerja atau hanya sekedar melintasi area tersebut.
Sebaiknya pada saat dilakukan kegiatan uji tegak, pipa uji tegak yang menghasilkan kebisingan yang sangat tinggi tersebut diberikan casing peredam kebisingan. Berikut merupakan gambaran pemasangan casing peredam kebisingan pada pipa uji tegak.
Gambar 8.1. Rangkaian Fasilitas Uji Tegak Sumber : PT. PGE
Gambar 8.2. Pemasangan Casing Peredam Bising Pipa Uji Tegak Tampak Depan
Gambar 8.3. Casing Peredam Bising Pipa Uji Tegak Tampak Bawah dan Samping
b. Pengendalian personal (APT)
Pada saat bekerja di area dengan kebisingan yang sangat tinggi seperti kegiatan uji tegak sebaiknya pekerja diharuskan untuk memakai APT secara double (earplug dan earmuff), karena masih terdapat pekerja yang memakai APT jenis earplug saja. Dengan pemakaian double saja tingkat pajanan kebisingan yang diterima pekerja masih sangat tinggi, apalagi apabila pekerja hanya memakai earplug saja, kondisi ini akan lebih menambah risiko bagi pekerja yang bersangkutan. Setidaknya dengan kondisi kebisingan yang sangat tinggi seperti ini, kita sudah berusaha untuk mengurangi tingkat pajanan kebisingan yang diterima pekerja semaksimal mungkin.
Pada saat dilakukan kegiatan SWAT dan observasi-intervensi, selain mengobservasi tingkat kedisiplinan pekerja dalam pemakaaian APT, sebaiknya dilakukan juga penilaian kesesuaian cara pemakaian APT yang dipakai oleh pekerja, sudah fit atau sudah maksimal atau belum cara pemakaiannya.
c. Pemeriksaan audiometri
Sebaiknya pihak manajemen memastikan apakah prosedur pelaksanaan pemeriksaan audiometri yang dilaksanakan oleh vendor-vendor rumah sakit yang bekerja sama sudah sesuai atau belum dengan standar prosedur pemeriksaan audiometri yang seharusnya.
Saat ini baseline data audiogram disimpan terpusat oleh pihak Pertamina Geothermal, pihak Area Geothermal Kamojang tidak menyimpan atau memilikinya. Sebaiknya pihak Area Geothermal Kamojang juga menyimpan atau memiliki data tersebut agar dapat membandingkan kondisi pendengaran pekerja saat ini dengan pada saat awal masuk kerja.
Sebaiknya koordinasi fungsi K3LL dalam program MCU yang termasuk di dalamnya pemeriksaan audiometri pekerja lebih ditingkatkan lagi agar fungsi K3LL dapat mengetahui apakah kondisi pendengaran yang terjadi pada pekerja saat ini memiliki hubungan dengan faktor kebisingan di tempat kerja atau tidak. Apabila terdapat indikasi hubungan antara kebisingan di tempat kerja dan gangguan/penurunan pendengaran pekerja, maka fungsi K3LL harus dengan segera menganalisis atau menginvestigasi kejadian tersebut untuk membuktikan apakah memang gangguan pendengaran tersebut benar-benar terjadi dikarenakan faktor kebisingan di tempat kerja atau tidak.
Bila memungkinkan sebaiknya dapat ditambahkan point mengenai persyaratan pemeriksaan audiometri atau audiometri awal bagi para pekarya yang bekerja di area bising yang dilakukan oleh pihak kontraktor penyalur pekarya-pekarya tersebut. Hal ini dilakukan karena bila dibandingkan dengan pekerja, pekarya lebih banyak menghabiskan waktu kerjanya di lapangan, terlebih lagi pekarya pada fungsi kerja yang kegiatan rutin sehari-harinya di area kerja yang bising.
Sebaiknya lakukan survei awal untuk mengidentifikasi gejala awal ataupun keluhan sebjektif yang mengindikasikan terjadinya penurunan pendengaran pada pekerja dan pekarya sehingga pihak perusahaan tahu individu mana saja yang harus diberikan perlindungan lebih untuk mencegah atau mengurangi risiko terjadinya penurunan pendengaran.
d. Pelatihan dan pendidikan
Sebaiknya lakukan kembali pelatihan cara menggunakan SLM kepada para pekarya fungsi K3LL, karena SLM yang digunakan saat ini merupakan jenis SLM yang masih terhitung baru digunakan dan sistem operasi penggunaannya pun berbeda dengan SLM yang biasa mereka gunakan sebelumnya.
Sebaiknya lakukan refreshment training atau pelatihan ulang kepada para pekerja mengenai cara pemakaian APT yang sesuai agar pekerja selalu mengingat dan mempraktikkannya saat bekerja sehari-hari di area bising.
e. Evaluation and record keeping
Sebaiknya lakukan kegiatan evaluasi untuk menilai apakah program-program terkait dengan bahaya kebisingan sudah terlaksana dengan baik atau masih memerlukan perbaikan.
Data hasil pengukuran kebisingan dan pemeriksan audiometri sudah tersimpan dan terjaga dengan baik, namun yang perlu ditingkatkan adalah upaya penukaran data atau informasi (data or information sharing) antara fungsi K3LL dan bagian Kesehatan Unit SDM. Hal ini berguna untuk meningkatkan koordinasi kedua fungsi kerja tersebut agar data yang ada dapat digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan program kerja bagi masing-masing fungsi terkait.