• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan hasil penelitian yang diurakan pada Bab IV maka dapat disimpulkan bahwa proses perumusan kebijakan sertifikasi pendidik bagi guru dalam jabatan mengikuti model rasional legal dengan preferensi nilai utama yakni peningkatan kesejahteraan guru. Proses perumusan kebijakan tersebut berjalan melalui proses-proses politik/publik, legislasi/yurisdiksi, administratif/ birokratis-manajerial dan mobilisasi/sosialisasi sehingga menghasilkan keputusan kebijakan yang bersifat strategis dalam bentuk undang-undang dan peraturan pemerintah, dan kebijakan spesifik dalam bentuk peraturan menteri. Dalam proses perumusan kebijakan yang melibatkan aktor formal (struktural) dan non-formal (non-struktural) itu telah diperhitungkan sumberdaya pendukung dan mengantisipasi konsekuensinya meskipun kurang komprehensif.

Deskripsi secara rinci dari kesimpulan pokok tersebut dapat disajikan dalam uraian ringkas seperti berikut ini.

1. Penyebab kontroversi kebijakan sertifikasi pendidik

Sumber permasalahan atau kontroversi dari kebijakan sertifikasi pendidik pada dasarnya dikarenakan pengambil kebijakan belum taat hukum atau belum mampu menjalankan tertib hukum. Kondisi tersebut dapat dijelaskan dari rincian penyebab kontroversi berikut ini:

(a)Sertifikasi pendidik pada awalnya dirancang untuk diberlakukan bagi calon guru atau guru baru, bukan bagi guru dalam jabatan.

(b)Proses perumusan kebijakan sertifikasi pendidik berjalan lamban, tidak sesuai dengan tenggat waktu yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. (c) Terdapat loncatan tata urut peraturan perundang-undangan, meskipun

dipandang masih sejalan dengan asas kepatuhan hukum (rechmatigheid) dan kebermanfaatan (doelmatigheid) dalam penyelenggaraan negara.

(d)Terdapat ketidak-konsistenan (inconsistencies) aturan pelaksanaan sertifikasi dengan maksud pokok untuk meningkatkan kesejahteraan guru.

(e) Penyediaan dana atau anggaran, bentuk dan mekanisme penyaluran tunjangan profesi dalam bentuk bantuan sosial bertentangan dengan sistem keuangan negara, dan hak profesional guru.

(f) Kemauan politik (political will) penyelenggara negara dalam mengalokasikan anggaran sertifikasi, dan komitmen dan kapasitas birokrasi belum dapat meyakinkan bahwa anggaran yang besar untuk sektor pendidikan dapat memberikan kembalian (rate of return) yang sepadan, dan sekaligus dapat mendukung kemajuan sektor-sektor lain.

2. Proses perumusan kebijakan sertifikasi pendidik

Kebijakan sertifikasi pendidik, termasuk kebijakan sertifikasi bagi guru dalam jabatan merupakan bagian dari kebijakan pendidikan yang didisain dalam bentuk peraturan perundang-undangan, dengan tata urut: undang-undang, peraturan pemerintah, dan peraturan menteri. Perumusan kebijakan sertifikasi pendidik itu berjalan sesuai dengan mekanisme penyusunan peraturan perundang- undangan yang berlaku, melalui proses-proses politik atau publik, legislasi atau yurisdiksi, administratif atau birokratis-manajerial, dan sosialisasi atau mobilisasi.

Dengan demikian proses perumusan kebijakan sertifikasi pendidik tersebut menggunakan model rasional legal.

3. Bentuk dan isi kebijakan sertifikasi pendidik

Kebijakan sertifikasi bagi guru dalam jabatan memiliki legalitas yang sangat kuat dan mengikat bagi pihak-pihak yang bersangkutan. Legalitas tersebut dalam bentuk peraturan perundang-undangan yang meliputi UU No.20/2003 tentang Sisdiknas, UU No.14/2005 tentang Guru dan Dosen, PP No.19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, dan PP No.74/2008 tentang Guru, serta Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) tentang Sertifikasi bagi Guru Dalam Jabatan yang setiap tahun diperbaharui. Kebijakan-kebijakan yang bersifat strategis dan spesifik tersebut sangat penting guna menghindari gugatan dan/atau kerawanan terjadinya pelanggaran-pelanggaran beberapa pihak atas kesepakatan yang telah dicapai dalam proses kebijakan publik.

Adapun isi kebijakan sertifikasi pendidik itu mencakup ketentuan-ketentuan tentang: pengertian pendidik dan sertifikasi pendidik; lembaga penyelenggara sertifikasi, dan penyusun standar kualifikasi akademik pendidik; tujuan kebijakan sertifikasi; prinsip dan mekanisme untuk mendapatkan sertifikat pendidik, termasuk persyaratan dan waktu mulai pelaksanaan sertifikasi pendidik; waktu pemberlakuan dan/atau masa transisi; dan anggaran sertifikasi.

4. Preferensi nilai kebijakan sertifikasi pendidik

Kebijakan sertifikasi bagi guru dalam jabatan memuat hampir semua kriteria kebijakan publik yang baik, seperti nilai ekonomis (efisiensi), kesejahteraan, mutu, keadilan atau kesetaraan, etis atau moral, kelayakan hukum, kelayakan teknis atau administratif, dan kebertahanan politis. Dari berbagai nilai itu, yang

menjadi pertimbangan paling dominan adalah nilai kesejahteraan. Nilai-nilai tersebut tertuang secara eksplisit dan implisit dalam keputusan kebijakan dalam bentuk undang-undang, peraturan pemerintah, dan peraturan menteri sebagaimana telah disebutkan di muka.

5. Antisipasi konsekuensi dalam perumusan kebijakan sertifikasi pendidik Proses perumusan kebijakan sertifikasi pendidik telah mengantisipasi berbagai kemungkinan atau konsekuensi, yakni terhadap peningkatan kesejahteraan guru, peningkatan kualitas pendidikan (secara tidak langsung dan dalam jangka panjang), dan peningkatan efektivitas dan efisiensi manajemen guru. Selain itu dari aspek moral, sudah diantisipasi kemungkinan terjadi kenakalan atau ketidak-jujuran guru dalam penyiapan dokumen portofolio. Adapun konsekuensi yang tidak diperhitungkan adalah timbulnya kecemburuan sosial dan multi friksi di lingkungan guru terkait dengan antrian untuk mengikuti sertifikasi dan mendapatkan tunjangan profesi.

6. Pertimbangan sumberdaya pendukung kebijakan sertifikasi pendidik Proses perumusan kebijakan sertifikasi pendidik telah mempertimbangkan sumberdaya pendukung seperti: perangkat peraturan pelaksanaan, dana atau anggaran, personil, dan sarana prasarana. Namun pertimbangan yang dilakukan kurang komprehensif, seperti dari sisi perangkat peraturan, kebijakan sertifikasi pendidik kurang memperhatikan peraturan lain yang relevan (antara lain peraturan keuangan negara, perimbangan keuangan antara Pusat dan Pemerintah Daerah, dan otonomi daerah).

Kekurang-komprehensifan dalam mempertimbangkan perangkat peraturan tersebut, juga tampak dalam mengalokasikan anggaran tunjangan profesi yang

seharusnya menjadi hak profesonal bagi guru bersertifikat pendidik namun dialokasikan di Pusat sebagai bantuan sosial. Selain itu keberadaan asesor portofolio tidak diatur dalam keputusan strategis maupun spesifik, padahal kinerja asesor menyangkut nasib guru, dan berarti juga masa depan pendidikan. Ketidak- komprehensifan juga tampak dalam memperhitungkan kebutuhan sarana prasarana, khususnya untuk mengelola mobilitas dokumen portofolio.

7. Peran dan fungsi aktor kebijakan sertifikasi pendidik

Proses perumusan kebijakan sertifikasi bagi guru dalam jabatan, dilakukan oleh aktor utama (resmi, struktural) yaitu: DPR dan Pemerintah, dan aktor non- utama (tidak resmi, non-struktural) yaitu PGRI, guru, pakar, yayasan/pengelola pendidikan swasta, LSM, dan partai politik. Intensitas peran dan fungsi aktor kebijakan tersebut bervariasi sesuai dengan tugas kelembagaan dan/atau kepentingan, serta kultur politik yang berkembang.

Dalam perumusan kebijakan sertifikasi pendidik, DPR mempunyai fungsi legislasi, penganggaran dan pengawasan, serta berperan dominan dalam proses politik dan legislasi. Selanjutnya, Pemerintah memiliki fungsi administrasi atau birokratis manajerial, melakukan pembahasan rancangan kebijakan sertifikasi pendidik bersama-sama DPR, dan menjabarkan operasionalisasi kebijakan sertifikasi pendidik tersebut. Adapun PGRI berfungsi sebagai kelompok kepentingan yang menjadi inisiator awal dan kelompok penekan sampai kebijakan sertifikasi pendidik disahkan dan diundangkan oleh Pemerintah. Sementara itu aktor non-struktural lain --seperti guru, pakar, tokoh masyarakat, LSM, dan partai politik-- berfungsi sebagai kontributor penyempurnaan rancangan kebijakan sertifikasi pendidik.

Dokumen terkait