• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Kesimpulan

Dari pembahasan yang telah dipaparkan, penulis mengambil kesimpulan bahwa:

Harian Berita Kota Makassar yang berskala besar belum sepenuhnya memfasilitasi wartawannya untuk mempelajari dasar-dasar jurnalistik khususnya Kode Etik Jurnalistik, walaupun sudah diadakan sosialisasi Kode Etik Jurnalistik dalam bentuk mengadakan program pembekalan wartawan namun itu dirasa kurang oleh penulis.

Meskipun masi ada wartawan yang belum sepenuhnya memahami Kode Etik Jurnalistik dalam menjalankan tugas jurnalisnya di lapangan, namun menurut hasil pengamatan dan wawancara penulis dengan wartawan yang menjadi informan dalam penelitian ini secara keseluruhan harian Berita Kota Makassar telah menyajikan berita kepada masyarakat, sudah sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik.

Kesalahan dalam Kode Etik Jurnalistik Memang sulit dihapuskan. yang bisa dilakukan adalah meminimalkannya kesalahan dan pelanggaran termasuk pelanggaran Kode Etik Jurnalistik.

B. Saran

Jika kita sepakat bahwa media massa ikut andil dalam menyulut tindak penyelewengan Kode Etik Jurnalistik maka media massa juga harus mampumempertanggung jawabkannya, ada beberapa hal yang bisa direkomendasikan untuk mengurangi kesalahan dan pelanggaran Kode Etik Jurnalistik:

Pertamameskipun terbilang klasik, jurnalisme cover both sides(meliputi dua sisi yang berbeda secara seimbang) dan peliputan secara adil masih menjadi salah satu cara yang baik. Kesulitan yang kadang dihadapi oleh para jumalis adalah mereka kesulitan untuk mendapatkan sumber dari dua belah pihak secara adil. Ketidakseimbankan yang terpaksa diambil inilah pada akhirnya membuat masyarakat marah, menuding media melakukan pelanggaran Kode Etik Jurnalistik.

Kedua, memberikan ruang gerak yang bebas kepada wartawan untuk meliput tanpa ketertekanan. Ini juga masih dilematis. Sebab, masa efouria memberi kecenderungan jumalis meliput apa saja dan di mana saja serta pada siapa saja. Kondisi ini akan memunculkan sikap mau menang sendiri dalam meliput suatu kejadian.

Kepada harian Berita Kota Makassar yang merupakan koran yang ada di Makassar diharapkan lebih memberikan perhatian khusus kepada para wartawannya untuk dapat mengetahui dasar-dasar jurnalistik terutama Kode Etik Jurnalistik sehingga berita-berita yang disampaikan dapat bersifat berimbang dan tidak merugikan banyak pihak, karena harian Berita Kota Makassar adalah perusahaan

pers yang senantiasa memberikan informasi kepada masyarakat khususnya masyarakat kota Makassar dan sekitarnya, perlu diadakannya pelatihan-pelatihan guna menambah pengetahuan wartawan mengenai Kode Etik Jurnalistik sehingga berita-berita yang disajikan oleh harian Berita Kota Makassar senantiasa mendapat kepercayaan yang pasti dari masyarakat luas yang membacanya.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Y. Samantho,Jurnalistik Islam (Panduaqn Praktis bagi para Aktivis Muslim), Jakarta: Harakah, 2002

Astramadja Kusuma Atma, Problematika Penegakan etika Jurnalistik.Edisi.33, oktober 2009,http://www.news letter.com/kolom news (Diakses 23 November 20012).

Berlo,wiryanto,Teori Komunikasi Massa, Jakarta: Erlangga, 2005

Crump , Spencer.Journalisms Dimensions: The Past and Future, Mc. Graw-Hiil: United States of America, 1974

Departemen Agama RI. ,Al-Quran dan Terjemahnya, Jakarta: Depertemen Agama RI, 1982

Departemen Pendidikan Nasional.Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2003

Dewan Pers2006.Organisasi Pers Indonesia Sahkan Kode Etik Jurnalistik Baru.

Djan Amar, M. Hukum Komunikasi Jurnalistik(Bandung: Alumni,1984)

Effendy, Uchjana ,Onong. Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi.Bandung. PT Citra Aditya Bakti1993.

Hadi,Sutrisno, Metodelogi Research II, Yogyakarta: 1994

James P. Spradley,Metode Etnografi. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2007 Kurniawan, Junaedhie,Ensiklopedi Pers Indonesia,Jakarta: Gramedia Pustaka

Utama, 1991

Kriyantono, Rachmat,Teknik Praktis Riset Komunikasi,Jakarta: Kencana, 2008 M. Djan Amar,Hukum Komunikasi Jurnalistik, Bandung: Alumni,1984

Muhtadi, Asep Saeful, Jurnalistik: Pendekatan Teori dan Praktek, Jakrta:: Logos Wacana Ilmu, 1999

McQuail,Teori Komunikasi Massa ed. 2, Jakarta: Erlangga, 1987

Media Indonesia. Jurnalisme Infotaiment Abaikan Etika Jurnalistik.Jakarta : Selasa 30 agustus 2005.(Diakses 27 November 2009).

Oeman Jahja, Toha, MA. Ilmu Dakwah, Jakarta: Wijaya, 1971

Palapah, M.O. dan Syamsuddin,Atang,Studi Ilmu Publisistik, Bandung : Fakultas Publisistik UNPAD Bandung, 1975

Pawito,Penelitian komunikasi Kualitatif, Yogyakarta: LKIS, 2007

Ridwan, M. Objektifitas pemberitaan pada surat kabar Indonesia, Makassar: Unhas University, 1992

Sardaar ,Ziauddin. Tantangan Dunia Islam Abad 21, Bandung: Mizan, 1993

Siregar,Ashadi. Etika Komunikasi, Seksi Penerbitan Badan Penelitian dan Pengembangan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Yogyakarta, 1983 Suyanto, Bagong. (2005).Metode Penelitian Sosial: Bergabai Alternatif Pendekatan.

Jakarta : Prenada Media

Sukardi Wina Armada, Cara Mudah Memahami Kode Etik Jurnalistik Dan Dewan Pers. Cet. I, Jakarta: Perpustakaan Nasional RI: Katalog Dalam Terbitan, 2008.

Qadir Gassing HT,MS, Wahyudin Halim, Uneversitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Pedoman Penulisan Karya Tulis Ilmiah. Makassar: Alauddin Press, 2009

William L. Rivers dan Cleve Mathews, Ethic for The Media diterjemahkan oleh Arwah Setiawan dan Danan Priyatmokop, dengan judul Etika Media, Jakarta: Gramedia,1994

Wiranto ,Paulus. How to Handle the Journalist (Beraliansi dengan Pers Menuju Sukses),Jakarta: PT. Gramedia, 2003

Wahyudi,J.W.Komunikasi Jurnalistik (Pengetahuan Praktis Bidang Kewartawanan , Suratkabar-Majalah, Radio dan Televisi ), Bandung:: Alumni, 1991

memperoleh informasi dan berkomunikasi, guna memenuhi kebutuhan hakiki dan meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Dalam mewujudkan kemerdekaan pers itu, wartawan Indonesia juga menyadari adanya kepentingan bangsa, tanggung jawab sosial, keberagaman masyarakat, dan norma-norma agama.

Dalam melaksanakan fungsi, hak, kewajiban dan peranannya, pers menghormati hak asasi setiap orang, karena itu pers dituntut profesional dan terbuka untuk dikontrol oleh masyarakat.

Untuk menjamin kemerdekaan pers dan memenuhi hak publik untuk memperoleh informasi yang benar, wartawan Indonesia memerlukan landasan moral dan etika profesi sebagai pedoman operasional dalam menjaga kepercayaan publik dan menegakkan integritas serta profesionalisme. Atas dasar itu, wartawan Indonesia menetapkan dan menaati Kode Etik Jurnalistik:

Pasal 1

Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.

Penafsiran

1. Independen berarti memberitakan peristiwa atau fakta sesuai dengan suara hati nurani tanpa campur tangan, paksaan, dan intervensi dari pihak lain termasuk pemilik perusahaan pers.

2. Akurat berarti dipercaya benar sesuai keadaan objektif ketika peristiwa terjadi.

3. Berimbang berarti semua pihak mendapat kesempatan setara.

4. Tidak beritikad buruk berarti tidak ada niat secara sengaja dan semata-mata untuk menimbulkan kerugian pihak lain.

Pasal 2

Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik.

Penafsiran Cara-cara yang profesional adalah:

1. menunjukkan identitas diri kepada narasumber; 2. menghormati hak privasi;

foto, suara;

7. tidak melakukan plagiat, termasuk menyatakan hasil liputan wartawan lain sebagai karya sendiri;

8. penggunaan cara-cara tertentu dapat dipertimbangkan untuk peliputan berita investigasi bagi kepentingan publik.

Pasal 3

Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.

Penafsiran

1. Menguji informasi berarti melakukan check and recheck tentang kebenaran informasi itu.

2. Berimbang adalah memberikan ruang atau waktu pemberitaan kepada masing-masing pihak secara proporsional.

3. Opini yang menghakimi adalah pendapat pribadi wartawan. Hal ini berbeda dengan opini interpretatif, yaitu pendapat yang berupa interpretasi wartawan atas fakta.

4. Asas praduga tak bersalah adalah prinsip tidak menghakimi seseorang. Pasal 4

Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul.

Penafsiran

1. Bohong berarti sesuatu yang sudah diketahui sebelumnya oleh wartawan sebagai hal yang tidak sesuai dengan fakta yang terjadi.

2. Fitnah berarti tuduhan tanpa dasar yang dilakukan secara sengaja dengan niat buruk.

3. Sadis berarti kejam dan tidak mengenal belas kasihan.

4. Cabul berarti penggambaran tingkah laku secara erotis dengan foto, gambar, suara, grafis atau tulisan yang semata-mata untuk membangkitkan nafsu birahi.

5. Dalam penyiaran gambar dan suara dari arsip, wartawan mencantumkan waktu pengambilan gambar dan suara.

1. Identitas adalah semua data dan informasi yang menyangkut diri seseorang yang memudahkan orang lain untuk melacak.

2. Anak adalah seorang yang berusia kurang dari 16 tahun dan belum menikah.

Pasal 6

Wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap.

Penafsiran

1. Menyalahgunakan profesi adalah segala tindakan yang mengambil keuntungan pribadi atas informasi yang diperoleh saat bertugas sebelum informasi tersebut menjadi pengetahuan umum.

2. Suap adalah segala pemberian dalam bentuk uang, benda atau fasilitas dari pihak lain yang mempengaruhi independensi.

Pasal 7

Wartawan Indonesia memiliki hak tolak untuk melindungi narasumber yang tidak bersedia diketahui identitas maupun keberadaannya, menghargai ketentuan embargo, informasi latar belakang, dan “off the record” sesuai dengan kesepakatan.

Penafsiran

1. Hak tolak adalak hak untuk tidak mengungkapkan identitas dan keberadaan narasumber demi keamanan narasumber dan keluarganya. 2. Embargo adalah penundaan pemuatan atau penyiaran berita sesuai dengan

permintaan narasumber.

3. Informasi latar belakang adalah segala informasi atau data dari narasumber yang disiarkan atau diberitakan tanpa menyebutkan narasumbernya.

4. “Off the record” adalah segala informasi atau data dari narasumber yang

tidak boleh disiarkan atau diberitakan. Pasal 8

Wartawan Indonesia tidak menulis atau menyiarkan berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang atas dasar perbedaan suku,

1. Prasangka adalah anggapan yang kurang baik mengenai sesuatu sebelum mengetahui secara jelas.

2. Diskriminasi adalah pembedaan perlakuan. Pasal 9

Wartawan Indonesia menghormati hak narasumber tentang kehidupan pribadinya, kecuali untuk kepentingan publik.

Penafsiran

1. Menghormati hak narasumber adalah sikap menahan diri dan berhati-hati. 2. Kehidupan pribadi adalah segala segi kehidupan seseorang dan

keluarganya selain yang terkait dengan kepentingan publik.

Pasal 10

Wartawan Indonesia segera mencabut, meralat, dan memperbaiki berita yang keliru dan tidak akurat disertai dengan permintaan maaf kepada pembaca, pendengar, dan atau pemirsa.

Penafsiran

1. Segera berarti tindakan dalam waktu secepat mungkin, baik karena ada maupun tidak ada teguran dari pihak luar.

2. Permintaan maaf disampaikan apabila kesalahan terkait dengan substansi pokok.

Pasal 11

Wartawan Indonesia melayani hak jawab dan hak koreksi secara proporsional.

Penafsiran

1. Hak jawab adalah hak seseorang atau sekelompok orang untuk memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap pemberitaan berupa fakta yang merugikan nama baiknya.

Penilaian akhir atas pelanggaran kode etik jurnalistik dilakukan Dewan Pers. Sanksi atas pelanggaran kode etik jurnalistik dilakukan oleh organisasi wartawan dan atau perusahaan pers.

Jakarta, Selasa, 14 Maret 2006

(Kode Etik Jurnalistik ditetapkan Dewan Pers melalui Peraturan Dewan Pers Nomor: 6/Peraturan-DP/V/2008 Tentang Pengesahan Surat Keputusan Dewan Pers Nomor 03/SK-DP/III/2006 tentang Kode Etik Jurnalistik Sebagai Peraturan Dewan Pers)

kelengkapan data skripsi di Koran Harian Berita Kota Makassar (BKM). Adapun judul skripsi ini adalah“Penerapan Kode Etik Jurnalistik Pada koran Harian Berita Kota Makassar.Berikut Daftar Wawancara dengan Narasumber

1. Bagaimana pemahaman anda tentang Kode Etik Jurnalistik ?

2. Apakah harian Berita Kota Makassar tidak pernah melakukan pelatihan jurnalistik terkait Kode Etik Jurnalistik?

3. Kenapa wartawan Berita Kota Makassar Harus Menaati Kode Etik Jurnalistik

4. Adakah kesulitan apabila membuat pemberitaan yang sesuai dengan kode etik

5. Seberapa besar Kode Etik Jurnalistik mempengaruhi pembuatan berita yang dilakukan oleh wartawan?

6. Apakah harian Berita Kota Makassar perna memuat berita yang melanggar Kode Etik Jurnalistik

7. Bagaimana Penerapan KEJ oleh wartawan harian?

a) Bagaimana menurut anda pemberitaan wartawan Bandung Ekspres terkait KEJ?

b) Apakah wartawan BKM terhindar dari kelompok tertentu?

8. Apa yang anda lakukan, Seandainya para wartawan suatu saat mendapat tuduhan/gugatan terhadap tulisan yang mereka buat?.

Penulis bernama Kasim, lahir 19 April 1987 di Wakonawe Desa Lambelu Kecamatan Pasikolaga Muna Sulawesi Tenggara, anak ke dua (2) dari empat bersaudara.

Penulis mulai mendapat pendidikan formal dari tingkat kanak-kanak (TK), kemudian lanjut ke Sekolah Dasar Negeri (SDN) pada Tahun 1996 yakni SDN Wakonawe sampai pada Tahun 2001, kemudian pada Tahun 2001 Penulis melanjutkan jenjang studi di Madrasah Tsanawiah (MTs.S) Almuhajirin Lambelu Kecamatan Pasikolaga, lalu pindah ke Pondok Pesantren Raudlatul Jannah Kecamatan Kusambi dan tamat Tahun 2003, kemudian Tahun 2003 penulis melanjutkan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Nasional Kota Makassar, Sulawesi Selatan, lalu pindah ke SMK YPUP Makassar dan tamat Tahun 2006. Pada Tahun 2006 penulis melanjutkan pendidikan ke tingkat perguruan tinggi tepatnya di STKIP YPUP Makassar 2006-2007, namun hanya berjalan 2 semester Lalu PindahUniversitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar Fakultas Dakwah dan Komunikasi Jurusan Jurnalistik (Ilmu Komunikasi).

Kemudian selama menjadi mahasiswa penulis banyak aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan, baik di organisasi Intra seperti: Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Jurnalistik pada Tahun 2008-2009, aktif menulis di Majalah Jurnal Dakwah, Majalah Jurnalistika, Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar, Lembaga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Koperasi Mahasiswa (KOPMA) UIN Alauddin Makassar dan di Lembaga Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM-F) Fakultas Dakwah Dakwah Komunikasi UIN Alauddin Makassar serta Penulis juga terlibat sebagai jurnalis di Tabloid Ikatan Alumni IKA FDK UIN. Kemudian penulis juga banyak aktif di organisasi Ekstra diantaranya adalah: Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar 2007-2008 serta di Cabang Gowa Raya (CAGORA),

Organisasi Daerah (ORGANDA) di Kesatuan Pelajar Mahasiswa Muna Indonesia (KEPMI MUNA), Lembaga Studi Insan Cita (LSIC) Makassar, Pemberdayaan Anak Jalanan Kota Makassar dll. Sehubungan dengan hal tersebut, saat-Nyalah penulis menyusun karya ilmiah sebagai syarat memperoleh gelar sarjana dengan judul skripsi “ Penerapan Kode Etik Jurnalistik Pada Harian Berita Kota Makassar.

Dokumen terkait