Bab ini merupakan bagian terakhir dari seluruh rangkaian tulisan hasil kegiatan penelitian yang telah dilaksanakan. Dalam bab ini akan disampaikan beberapa hal mengenai kesimpulan terhadap temuan-temuan yang telah dibahas di bab sebelumnya. Selain kesimpulan, dalam bab ini juga disampaikan beberapa saran yang dapat menjadi pertimbangan dalam menggunakan pendekatan bimbingan kelompok melalui teknik bermain untuk membantu anak autistik mengembangkan kemampuan interaksi sosialnya.
A.Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang diuraikan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh bimbingan kelompok melalui teknik bermain terhadap kemampuan mengikuti instruksi saat bermain dalam permainan kelompok. Namun, hubungan sebab akibat yang ideal antara variabel bebas dan variabel terikat dalam penelitian ini tidak dapat disimpulkan.
Pada hasil analisis data juga memberikan informasi bahwa kecenderungan arah antara fase baseline 1 (A1) dengan fase intervensi (B) mengalami perubahan dari arahnya relatif ke atas menjadi relatif menetap. Lalu kecenderungan arah antara fase intervensi (B) dengan fase baseline 2 (A2) mengalami perubahan dari arahnya relatif menetap.
Dan persentase stabilitas yang diperoleh pada fase baseline 1 (A1), fase Intervensi (B), fase baseline 2 (A2) masing-masing 85,7%, 85,2%, 87,5%. Walaupun skor persentase stabilitas yang diperoleh ini bervariasi, namun dari skor ini diperoleh kecenderungan stabilitasnya tidak ada data yang kondisinya tidak stabil semuanya berada dalam rentang kestabilan yang dipersyaratkan (85%-90%).
Kemudian dari hasil analisis data juga diperoleh perubahan level data di fase baseline 1 (A1) yakni (+2) yang bermakna bahwa fase baseline kondisinya
Wahyu Firmansyah, 2013
Pengaruh Penggunaan Pendekatan Bimbingan Kelompok Terhadap Kemampuan Interaksi Sosial Anak Autistik
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
membaik dengan selisih perubahan data yang besar ke data yang kecil sebesar 2. Di fase intervensi (B) perubahan level datanya yakni (=2) yang bermakna bahwa kondisinya menetap dengan selisih perubahan data yang besar ke data yang kecilnya sebesar 2. Dan di fase baseline 2 (A2) perubahan level datanya yakni (+1) yang artinya bahwa kondisinya membaik dengan selisih data yang besar ke data yang kecil sebesar 1.
Selanjutnya persentase overlap pada pasangan kondisi intervensi (B) – baseline 1 (A1) dan pasangan kondisi intervensi (B) – baseline 2 (A2) masing-masing 11,11% dan 12,5 %. Kecilnya skor overlap yang diperoleh dari hasil analisis tersebut mengindikasikan bahwa bimbingan kelompok melalui teknik bermain yang diterapkan berpengaruh baik terhadap kemampuan mengikuti instruksi saat bermain bersama dalam permainan kelompok.
Terakhir dari hasil analisis data, diperoleh informasi bahwa selisih rerata frekuensi indikator di fase intervensi (B) lebih tinggi dibandingkan dengan rerata frekuensi indikator di fase baseline 1 (A1). Namun, pada hasil analisis data di fase baseline 2 (A2) rerata frekuensi indikatornya lebih tinggi dibandingkan dengan di fase intervensi (B).
B.Saran
Saran yang dapat dikemukakan adalah sebagai berikut :
1. Bagi peneliti berikutnya, proses mengumpulkan data frekuensi dan mendeskripsikan perilaku subyek saat bimbingan kelompok dilaksanakan, akan lebih maksimal bila melibatkan banyak pihak serta gunakanlah beberapa perekam gambar yang dipasang di berbagai sudut pandang.
2. Dalam penelitian ini, peningkatan frekuensi tampak sangat minim sehingga bagi pihak-pihak yang ingin menggunakan bimbingan kelompok untuk mengakomodasi kebutuhan belajar sosial anak autistik. Misalnya : pendidik, konselor dan praktisi lainnya, pemberian bimbingan kelompok melalui teknik
60
Wahyu Firmansyah, 2013
Pengaruh Penggunaan Pendekatan Bimbingan Kelompok Terhadap Kemampuan Interaksi Sosial Anak Autistik
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
bermain untuk meningkatkan kemampuan interaksi sosial anak autistik perlu dimaksimalkan diantaranya dengan cara :
a. Menyiapkan tempat bimbingan kelompok yang mudah dikontrol. b. Menyiapkan waktu yang lebih saat melakukan bimbingan kelompok.
c. Menjalankan proses bimbingan kelompok sesuai dengan panduan pelaksanaan yang telah disusun.
Wahyu Firmansyah, 2013
Pengaruh Penggunaan Pendekatan Bimbingan Kelompok Terhadap Kemampuan Interaksi Sosial Anak Autistik
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR PUSTAKA
Amti. (1992). Bimbingandan Konseling. Jakarta: Dep.Dik.Bud: PT. Proyek Pembinaan Pendidikan.
Bonner (2002). Definisi interaksi sosial [online]. Tersedia: http://carapedia.com/pengertian_definisi_interaksi_sosial_menurut_para_ahli _info965. html. [23 januari 2011]
Christie. et.al.(2011). Langkah Awal Berinteraksi Dengan Anak Autis. Terjemahan oleh Yana Shanti Manipuspika. 2011. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama Danuatmaja. (2003). Terapi Anak Autis di Rumah. Jakarta: Puspa Swara.
Delphi. (2006). Terapi Permainan 1. Bandung: Rizqi Press. ……....(2006). Terapi Permainan II. Bandung: Rizqi Press.
Depdiknas. (2002). Pendidikan Anak Autis Modul seri pendidikan keluarga. Jakarta: Ditjend Diklusepora Depdiknas RI
Fitriyah. (2010). Meningkatkan Kemampuan Interaksi Sosial Siswa Autis Melalui Permainan “Gobak Sodor” Dalam Bimbingan Kelompok. Surabaya. Jurnal PPB Unesa.
Ginanjar. (2008). Menjadi Orang Tua Istimewa, Panduan Praktis Mendidik Anak Autis. Jakarta : Dian Rakyat
Hardiono. (2003). Kapan Terapi Anak Autis Dapat Disebut “Mengalami
Kemajuan”?. [online]. Tersedia
http://www.puterakembara.org/artikel/00000021.shtml.[20juli 2012]. Maryati, & Suryawati, (2003).Sosiologi 1. Jakarta: Erlangga.
Masitoh. (2005). Pembelajaran Pada Anak Prasekolah.Jakarta :Bumi Aksara.
Mawuntu, (2002). Efektifitas Latihan Modivikasi Perilaku Terhadap Perilaku Anak Autisme. Skripsi. Tidak diterbitkan. Makassar: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar.
Mugiarso. Dkk. (2004). Bimbingan dan Konseling. Semarang: UPT MKK Universitas Negeri Semarang
Murdiyatmoko & Handayani. (2004). Sosiologi 1. Jakarta: Grafindo Media Pratama Nandang. (2009). Bimbingan dan Konseling Kelompok di Sekolah (Teori dan
62
Wahyu Firmansyah, 2013
Pengaruh Penggunaan Pendekatan Bimbingan Kelompok Terhadap Kemampuan Interaksi Sosial Anak Autistik
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Peeters. Tanpa Tahun. Panduan Autisme Terlengkap. Terjemahan oleh Oscar H. Simbolon dan Yayasan Suryakanti-Bandung. 2009. Jakarta : PT. Dian Rakyat.
Prayitno.(1999). Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: PT. Rineka Cipta. ……….. (1995). Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok (Dasar dan Profil).
Jakarta: Ghalia Indonesia.
Priyono. (2006). Sosiologi Untuk Tingkat SMA Kelas X. Jakarta: PT. Ghalia Indonesia Printing.
Rachmaniar. (2009). Pengetahuan, Sikap, Perlakuan Guru dan Orang Tua Dalam Pengembangan Interaksi Sosial Anak Autis di TK Pertiwi DWP Setda Provinsi Sulawesi Selatan. Tesis. UNM
Romlah. (2001). Teori dan Praktek Bimbingan Kelompok. Malang: Universitas Negeri Malang.
Sri. (2005). Konseling dan Terapi dengan Anak dan Orang Tua. Jakarta : PT. Grasindo
Sugiyono. (2011). Metode penelitian Kuntitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta
Sujarwanto. (2005). Terapi Okupasi Untuk Anak Berkebutuhan Khusus. Depdiknas. Dirjendikti. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi. Jakarta 2005
Sukmadinata. (2007). Bimbingan & Konseling dalam Praktek Mengembangkan Potensi dan Kepribadian Siswa. Bandung: Maestro
Sunanto. (2012). Pendidikan Inklusi Dalam Realitas. Diffa (14 Februari 2012) Sunanto. (2006). Penelitian dengan Subjek Tunggal. Bandung : UPI PRESS Suparno. (2001). Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget. Yogyakarta: Kanisius Tarsidi dan Alimin (2009) Definisi Autisme. [online]. Tersedia:
http;//www.z-alimin.blogspot. [28 januari 2013]
Tanpa Nama (TanpaTahun). Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Universitas Pendidikan Indonesia 2012. Bandung: Tanpa Penerbit
Tim Sosiologi. (2002). Interaksi Sosial Sebagai Kebutuhan Pokok Manusia. [online]. Tersedia: http://vidyvirgo-virgo.blogspot.com /2010/03/interaksi-sosial.html. [28 januari 2010]
Wahyu Firmansyah, 2013
Pengaruh Penggunaan Pendekatan Bimbingan Kelompok Terhadap Kemampuan Interaksi Sosial Anak Autistik
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Tim Sosiologi. (2002) Peran Interaksi Sosial dalam Masyarakat [online]. Tersedia: http://nabilahfairest.multiply.com/journal/item/47/sosiologi_interaksi_sosial. html. [28 oktober 2012]
Winkel. (1991). Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Jakarta: PT. Grasindo.
Yunus. (2009). Bermain. Pengantar bagi penerapan pendekatan Beyond Centers