• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Kesimpulan

Pencak Silat gaya Bojong merupakan salah satu pencak silat yang masih dipelajari di Paguron Medalsari saja, dengan proses pembelajarannya hampir sama dengan proses pembelajaran di tingkat sekolah formal mulai dari tahapan pelaksanaan sampai dengan tahapan evaluasi. Proses pembelajaran di Paguron Medalsari meliputi beberapa tahapan-tahapan yakni: 1) Tahap Musyawarah; 2) Tahap Olah Tubuh (pernafasan, gerak kepala, gerak tangan); 3) Proses Latihan Pencak Silat gaya Bojong; 4) Tahap Evaluasi. Dengan materi latihan Pencak Silat gaya Bojong adalah “Jurus Lima” yaitu patuh terhadap aturan-aturan yang terkandung pada rukun islam, maka ada 5 hal yang perlu diperhatikan, yaitu: (1) Jurus 1, Pandangan lurus ke depan, berarti kita harus mempunyai tujuan kemasa depan.; (2) Jurus 2,Pandangan kepala menengadah ke atas, berarti kita harus tahu betapa agungnya kekuasaan Tuhan yang menciptakan alam semesta.; (3) Jurus 3,Pandangan kepala menunduk ke bawah, kita menghormati harus sadar dan memohon ampun apa yang telah kita perbuat.; (4) Jurus 4,Memalingkan kepala ke kiri dan ke kanan, berarti hidup kita harus selalu dijalan yang benar karena amal dan perbuatan kita yang baik dan jelek ditulis oleh malaikat Allah.; (5) Jurus 5,Melebarkan dada dengan kedua tangan terbuka, berarti kita harus berjiwa sportif, berjiwa luhur dan berjiwa ksatria untuk menerima apa yang dikoreksi oleh orang lain; (6) Jurus Keplos/ Jurus Penuntung, Kita harus menyadari dan mengetahui kemana kita pulang, tidak ada ilmu penutup maka kita harus berserah diri kepada Tuhan yaitu Allah.Fungsi dari Pencak Silat gaya Bojong ini merupakan kepentingan aspek bela diri.

62

Neneng Nurhayati,2013

PENCAK SILAT GAYA BOJONG PADA PAGURON MEDALSARI DESA BOJONG KECAMATAN KARANG TENGAH DI KABUPATEN CIANJUR

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Alasan pemilihan Pencak Silat gaya Bojong yang dipelajari di Paguron Medalsari adalah keinginan untuk melestarikan warisan budaya turun temurun. Selain itu, disebabkan ingin mengetahui materi yang dicapai pada paguron Medalsari yang materinya lebih mengarahkan terhadap perubahan perilaku seseorang, sehingga dalam dimensi ruang dan waktu akan senantiasa berupaya untuk melestarikan dan mengembangkan sesuai dengan kemampuan serta panggilan sebagai pesilat sejati.

B. SARAN

Berdasarkan kepada temuan-temuan yang didapat peneliti temukan dalam penelitian ini, Pencak Silat Gaya Bojong di Paguron Pencak Silat Medalsari sebagai hasil pewarisan leluhur, dan memupuk nilai-nilai kehidupan yang terkandung didalamnya, maka terdapat beberapa hal yang ingin peneliti implikasi atau menyarankan, yaitu sebagai berikut:

1. Bagi Paguron Medalsari

Paguron Pencak Silat Medalsari “MESA” merupakan wadah pelestarian Pencak Silat dari hasil pewarisan leluhur, hendaknya terus mempertahankan keaslian Pencak Silat gaya Bojong dengan jurus-jurus didalamnya serta eksistensinya, sehingga dapat menjadi kebanggaan masyarakat Cianjur tentunya oleh masyarakat luas.

2. Bagi Lembaga

Untuk Jurusan Pendidikan Seni Tari harus lebih mengembangkan pengenalan tarian yang ada di Indonesia, sehingga mahasiswa dalam terjun ke lapangan mendapatkan bekal yang cukup.

3. Bagi Masyarakat Luas

Masyarakat harus lebih mencintai budaya kesenian bangsa sendiri khususnya kesenian tradisional Jawa Barat.

63

Neneng Nurhayati,2013

PENCAK SILAT GAYA BOJONG PADA PAGURON MEDALSARI DESA BOJONG KECAMATAN KARANG TENGAH DI KABUPATEN CIANJUR

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

4. Bagi Peneliti Lapangan

Diharapkan bagi mereka yang ingin meneliti lebih dalam lagi mengenai Pencak Silat Gaya Bojong Pada Paguron Medalsari Desa Bojong Kecamatan Karang Tengan di Kabupaten Cianjur yang lainnya selain latar belakang berdirinya Paguron Medalsari, faktor pendukung keberadaan pencak silat gaya bojong, dan proses pembelajaran pencak silat gaya bojong pada paguron Medalsari.

5. Bagi Pemerintah

Perlu adanya dukungan dari unsur pemerintah berupa bantuan dana maupun bantuan kemudahan lainnya termasuk dorongan dan motivasi agar proses aktivitas paguron-paguron yang ada di Kabupaten Cianjur dapat terus berjalan sebagaimana mestinya.

64

Neneng Nurhayati,2013

PENCAK SILAT GAYA BOJONG PADA PAGURON MEDALSARI DESA BOJONG KECAMATAN KARANG TENGAH DI KABUPATEN CIANJUR

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. (2002). Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Arliani, Soya. (2009). “Ibing Pencak Gaya Cikalong Pada Paguron Benteng

Ksatria Di Kabupaten Cianjur”. Skripsi Sarjana pada FPBS UPI.

Bandung: tidak diterbitkan.

Basrowi. Dkk. (2008). Memahami Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rineka Cipta. Caturwati, Endang. (2007). Tari Di Tatar Sunda. Bandung: Sunan Ambu Press. Fitriawan, Akbar. (2011). Pencak Silat Paguron Paledang Putra Malih Warna.

Makalah pada Mata Kuliah Pencak Silat di UNSUR Cianjur.

Kasmahidayat, Yuliawan dan Isus Sumiaty. (2008). Ibing Pencak Sebagai Materi

Pembelajaran. Bandung: CV. Bintang Warli Artika.

Kurniawati, Iis. (2005). “Pengembangan Jurus Pada Ibing Pencak Silat oleh Ibu

Eem di Paguron Geras Putra Domas Bandung”. Skripsi Sarjana pada

FPBS UPI. Bandung: tidak diterbitkan.

Lala, Andi. (2011). Penelitian Paguron Pencak Silat Pancer Bumi Cikalong. Makalah pada Mata Kuliah Pencak Silat di UNSUR Cianjur.

Meleong, L. (2004). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Maryono, O’ong. (2000). Pencak Silat Merentang Waktu. Yogyakarta: Galang

Press.

Nazir, M. (2011). Metode Penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia.

Universitas Pendidikan Indonesia. (2012). Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Bandung: UPI.

Patriasena, E. Fitri. Et al. (2000). R. Tjetje Somantri Tokoh Pembaharu Tari

Sunda. Yogyakarta: Tarawang.

Sukardi. (2003). Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

65

Neneng Nurhayati,2013

PENCAK SILAT GAYA BOJONG PADA PAGURON MEDALSARI DESA BOJONG KECAMATAN KARANG TENGAH DI KABUPATEN CIANJUR

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Sopandi, A. Dkk. (1992). Proyek Pelestarian dan Pengembangan Kesenian

Tradisional Betawi. Jakarta: Dinas Kebudayaan.

Septiani, Jellina. (2007). “Perbandingan Ibing Penca Gaya Cikalong Paguron Benteng Ksatria di Daerah Cianjur dengan Paguron Cahya Gumelar di

Daerah Purwakarta”. Skripsi Sarjana pada FPBS UPI. Bandung: tidak

diterbitkan.

Setiawan, Tedhy. (2009). Tepak Saroja Dalam Ibing Jurus Penca Gaya Cikalong

Di Paguron Paledang Putra Desa Sukagalih Kecamatan Cikalongkulon Kabupaten Cianjur. Skripsi Sarjana STSI. Bandung: tidak diterbitkan.

Sumber Lain: http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2009/08/22/804/pencak-silat-seni-bela-diri-asli-melayu/ http://silat.blogsome.com/2006/03/23/riwayat-singkat-pencak-silat-cikalong/trackback/ http://wisbenbae.blogspot.com/2011/04/asal-mula-seni-bela-diri-pencak-silat.html

Galba, Sindu. (2007). Kesenian Tradisional Masyarakat Cianjur. [Online]. Tersedia: http://cianjurkab.go.id

Dokumen terkait