• Tidak ada hasil yang ditemukan

KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN KETERBATASAN PENELITIAN Kesimpulan

Kesimpulan

Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh work stressors pada perilaku cyberloafing dan pengaruh work stressors dengan conscientiousness sebagai variabel moderasi pada perilaku cyberloafing. Cyberloafing itu sendiri merupakan perilaku menyimpang yang dilakukan oleh pegawai dengan menggunakan akses internet kantor untuk keperluan yang tidak terkait dengan pekerjaan kantor. Berdasarkan dari hasil analisis yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa pertama, work stressors berpengaruh positif pada perilaku cyberloafing. Artinya, semakin tinggi tingkat work stressors maka kecenderungan untuk melakukan cyberloafing semakin besar. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa sumbangan pengaruh variabel work stressors terhadap cyberloafing yaitu sebesar 35,6%, sedangkan 64,4% dipengaruhi oleh variabel lain.

Kedua, work stressors berpengaruh pada perilaku cyberloafing dimoderasi oleh conscientiousness. Hasil analisis menunjukkan bahwa conscientiousness bisa menjadi

26 variabel yang memoderasi pengaruh antara work stressors dan cyberloafing. Selain itu, hasil pengujian ini sekaligus juga menunjukkan bahwa conscientiousness dapat memperkuat pengaruh antara work stressors dan cyberloafing. Hal ini dimungkinkan terjadi karena cyberloafing merupakan salah satu cara agar para PNS bisa melarikan diri atau menghindari stres karena tekanan kerja (work stressors).

Implikasi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua hipotesis yang diajukan diterima. Hasil uji hipotesis pertama menunjukkan bahwa work stressors berpengaruh positif pada perilaku cyberloafing. Artinya pegawai yang merasakan work stressors yang tinggi akan cenderung melakukan cyberloafing yang tinggi pula. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Henle dan Blanchard (2008). Selain itu, hasil uji hipotesis kedua juga menunjukkan bahwa work stressors berpengaruh pada perilaku cyberloafing dengan dimoderasi oleh conscientiousness. Hasil ini juga berarti menunjukkan bahwa conscientiousness mampu menjadi variabel moderasi dalam menjelaskan pengaruh work stressors terhadap perilaku cyberloafing. Namun dalam kasus ini, conscientiousness menjadi variabel moderasi yang memperkuat pengaruh antara work stressors dan cyberloafing, yang seharusnya menurut teori conscientiousness dapat memperlemah kecenderungan seseorang untuk melakukan perilaku menyimpang.

Temuan-temuan dalam penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk dasar penelitian selanjutnya, khususnya untuk mengetahui lebih pasti mengenai pengaruh conscientiousness dalam memoderatori interaksi antara work stressors dan cyberloafing.

Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa adanya work stressors di tempat kerja sehingga memungkinkan para PNS melakukan cyberloafing. Selain itu hasil yang ada menunjukkan bahwa pada variabel work stressors pada pernyataan “Ada kalanya saya tidak dapat memenuhi harapan setiap orang” dan “Saya membutuhkan lebih banyak waktu dalam sehari untuk melakukan semua pekerjaan yang diharapkan pada saya” memiliki nilai di atas rata-rata, hasil tersebut menunjukkan bahwa beberapa karyawan mengalami work stressors dalam hal ini yaitu role overload. Sehingga perlu diperbaiki dengan beberapa cara yaitu, pihak instansi PNS sebaiknya memberikan perhatian yang lebih bagi para PNS dalam melakukan pekerjaan mereka, terlebih khusus dalam hal pemberian tugas, sebaiknya para pegawai diberikan tugas sesuai dengan kemampuan dan secara terstruktur agar para pegawai tidak merasa memiliki beban kerja yang besar. Selain itu sebaiknya para pegawai juga diberikan pelatihan dan arahan sehingga mampu menjalankan tugas tanpa merasa terbebani. Bagi para

27 pegawai sendiri, ketika menghadapi masalah tentang pekerjaan ataupun masalah yang datang dalam diri sendiri sebaiknya melakukan konsultasi kepada atasan sehingga dapat mengurangi beban pikiran yang akhirnya berdampak pada pelaksanaan kerja.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa di Kantor Bupati di Bolaang Mongondow terdapat kegiatan cyberloafing. Cyberloafing yang dilakukan oleh para PNS tergolong sedang. Oleh karena itu, untuk menjaga agar kegiatan cyberloafing yang dilakukan oleh para PNS tidak meningkat, pihak dari instansi PNS mungkin dapat melakukan kebijakan-kebijakan mengenai penggunaan internet di Kantor Bupati misalnya membatasi penggunaan internet untuk situs-situs tertentu atau membatasi waktu-waktu dalam penggunaan internet yang tidak terkait dengan pekerjaan.

Keterbatasan Penelitian dan Saran Penelitian Selanjutnya

Keterbatasan dari penelitian ini adalah penelitian ini tidak ada batasan yang dimaksud dengan cyberloafing itu apakah hanya menggunakan komputer kantor ataupun menggunakan laptop/smartphone pribadi. Penelitian lanjutan masih perlu dilakukan karena masih terdapat perbedaan hasil penelitian dengan penelitian sebelumnya dan juga teori yang ada khususnya untuk variabel conscientiousness. Untuk penelitian selanjutnya disarankan peneliti untuk meneliti kembali dengan jenis penelitian kualitatif yaitu melalui wawancara serta observasi untuk melihat lebih pasti apa yang sebenarnya terjadi, dengan demikian mampu mengurangi hasil penelitian yang bias dari keadaan sebenarnya. Jika pada penelitian selanjutnya menggunakan kuesioner, sebaiknya untuk memberikan kejelasan bahwa yang dimaksud dengan cyberloafing itu bukan hanya menggunakan komputer kantor tapi juga menggunakan laptop maupun smartphone pribadi yang memiliki akses internet.

28 DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Adnan, and Shah Saud. 2016. "The Effect of Role Overload on Employee Anxiety and Organization Citizenship Behavior." Journal of Managerial Sciences Vol. 10, No. 1:45-54.

Andreassen, Cecilie Schou, Torbjorn Torsheim, and Stale Pallesen. 2014. "Predictors of Use of Social Network Sites at Work - A Specific Type of Cyberloafing." Journal of Computer-Mediated Communication:906-921. doi: 10.1111/jcc4.12085.

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). Hasil Survey 2016.

http://www.apjii.or.id/survei2016. (diakses 23 Mei 2017).

Block, Walter. 2001. "Cyberslacking, Business Ethics and Managerial Economics." Journal of Business Ethics:225-231.

Bozkurt, Veysel, Serpil Aytac, Jules Bondy, and B. Faik Emirgil. 2011. "Job Satisfaction, Role Overload and Gender in Turkey." Sosyoloji Konferanslari:49-68.

Brice, William, and Deborah E. Rupp. 2016. "The Psychology of Workplace Deviant &

Criminal Behavior." The Journal of Criminal Law & Criminology Vol. 105, No.

2:533-548.

Celik, Kazim. 2013. "The Effect of Role Ambiguity and Role Conflict on Performance of Vice Principals: The Mediating Role of Burnout." Eurasian Journal of Educational Research (51):195-214.

Corgnet, Brice, Roberto Hernan Gonzalez, and Ricardo Mateo. 2015. "Cognitive Reflection and the Diligent Worker: An Experimental Study of Millennials." Plos ONE:1-13.

Costa, Paul T., Robert R. McCrae, and David A. Dye. 1991. "Facet scales for agreeableness and conscientiousness: A revision of the NEO Personality Inventory." Personality and individual Differences Vol. 12, No. 9:887-898.

Dale, Kathleen, and Marilyn L. Fox. 2008. "Leadership Style and Organizational Commitment: Mediating Effect of Role Stress." Journal of Managerial Issues Vol.

20, No.1:109-130.

Danny., dan Wijaya. 2013. Analisis pengaruh e-service quality, customer satisfaction terhadap customer loyalty pada toko buku Gramedia online di Surabaya. Available at http://repository.wima.ac.id/310/

Darmawan, Deni. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif. Edited by 1st Edition. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

29 Data & Statistik Kementerian Komunikasi dan Informatika RI (KOMINFO).

https://statistik.kominfo.go.id/site/data?idtree=424&iddoc=1521 (diakses 12 Juni 2017).

Eberspach, Lars, Georg Fenske, Sarah Christina Groten, Laura Elena Neufeldt, Vsevolod Scherrer, and Franzis Preckel. 2016. "Why do Larks Perform Better at School tha Owls? The Mediating Effect of Conscientiousness." International Online Journal of Educational Sciences:4-16.

Folmer. 2015. "PNS Golongan Rendah Rentan Stres." Berita Jakarta, October 21.

http://www.beritajakarta.id/read/18481/pns-golongan-rendah-rentan-stres#.WcsFIMZt_IV.

Friedman, Howard S., and Miriam W. Schustack. 2008. Kepribadian: Teori Klasik dan Riset Modern. Edited by 3rd Edition: Penerbit Erlangga.

Fuadiah, Lu'lu'ul, Hemy Heryati Anward, and Neka Erlyani. 2016. "Peranan Conscientiousness Terhadap Perilaku Cyberloafing pada Mahasiswa." Jurnal Ecopsy:1-4.

Ghozali, Imam. 2006. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Edited by 4th Edition. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Henle, Christine A., and Anita L. Blanchard. 2008. "The Interaction of Work Stressors and Organizational Sanctions on Cyberloafing." Journal of Managerial Issues Vol. 20, No. 3:383-400.

Http://personality-testing.info/printable/big-five-personality-test.pdf (diakses 20 Juli 2017).

Hussain, Saddam, Farida Saleem, and Muhammad Imran Malik. 2016. "Cyberloafing Behavior at Work." Abasyn Journal of Social Sciences Vol. 9 (2):409-425.

Johnson, Pamela R., and Julie Indvik. 2004. "The Organizational Benefits of Reducing Cyberslacking in the Workplace." Journal of Organizational Culture, Communications and Conflict Vol. 8, No. 2:55-62.

Kahn, Robert L., Donald M. Wolfe, Robert P. Quinn, J. Diedrick Snoek, and Robert A.

Rosenthal. 1964. Organizational Stress. Studies in Role Conflict and Ambiguity: New York.

Kreitner, Robert, and Angelo Kinicki. 2005. Perilaku Organisasi. Edited by 5th Edition.

Jakarta: Salemba Empat.

Liana, Lie. 2009. "Penggunaan MRA dengan SPSS untuk Menguji Pegaruh Variabel Moderating terhadap Hubungan antara Variabel Independen dan Variabel Dependen."

Jurnal Teknologi Informasi Dinamik Vol. 14, No. 2:90-97.

30 Lim, Vivien K.G. 2002. "The IT Way of Loafing on the Job: Cyberloafing, Neutralizing and

Organizational Justice." Journal of Organizational Behavior:675-694. doi:

10.1002/job.161.

Lim, Vivien K.G., and Don J.Q. Chen. 2012. "Cyberloafing at the Workplace: Gain or Drain on Work?" Behaviour & Information Technology Vol. 31, No. 4:343-353.

Onyemah, Vincent. 2008. "Role Ambiguity, Role Conflict, and Performance: Empirical Evidence of an Inverted-U Relationship." Journal of Personal Selling & Sales Management Vol. 28, No. 3:299-313.

Ozler, Derya Ergun, and Gulcin Polat. 2012. "Cyberloafing Phenomenon In Organizations:

Determinants and Impacts." International Journal of E-business and E-government Studies Vol. 4, No. 2:1-15.

Priyatno, Duwi. 2014. SPSS 22: Pengolahan Data Terpraktis. Edited by 1st Edition.

Yogyakarta: ANDI.

Reilly, Michael D. 1982. "Working Wives and Convenience Consumption." Journal of Consumer Research Vol. 8 (4):407-418.

Riduwan. 2010. Skala Pengukuran Variabel-variabel Penelitian. Edited by 7th Edition.

Bandung: Alfabeta.

Rizzo, John R., Robert J. House, and Sidney I. Lirtzman. 1970. "Role Conflict and Ambiguity in Complex Organizations." Administrative Science Quarterly:150-163.

Robbins, Stephen P., and Timothy A. Judge. 2015. Organizational Behavior. Edited by 16th Edition: Pearson Education.

Sawitri, Hunik Sri Runing. 2012. "Interaksi Tekanan Pekerjaan dan Komitmen pada Perilaku Cyberloafing Karyawan." Media Riset Bisnis & Manajemen Vol. 12, No. 2:91-107.

Seckin-Celik, Tutku, and Ayse Coban. 2016. "The Effect of Work Stress and Coping on Organizational Justice: An Empirical Investigation of Turkish Telecommunications and Banking Industries." Management Vol. 11, No. 4:271-287.

Staff Monitoring Software Solutions. http://www.staffmonitoring.com/P32/productivity.htm (diakses 12 Juni 2017).

Sumardjono, and Yustinus Windrawanto. 2013. Teori Kepribadian. Edited by 1st Edition.

Salatiga: Griya Media.

Ugrin, Joseph C., J. Michael Pearson, and Marcus D. Odom. 2007. "Profiling Cyber-Slackers in the Workplace: Demographic, Cultural, and Workplace Factors." Journal of Internet Commerce Vol. 6, No. 3:75-89.

31 Wang, Jijie, Jun Tian, and Zhen Shen. 2013. "The Effects and Moderators of Cybe-loafing

Controls: An Empirical Study of Chinese Public Servants." Information Technology

& Management Vol. 14:269-282. doi: 10.1007/s10799-013-0164-y.

Yildiz, Harun, Bora Yildiz, Cemal Sehir, Erkut Altindag, Vedat Mologlu, and Hakan Kitapci.

2017. "Impact on Presenteeism of the Conscientiousness Trait: A Health Sector Case Study." Social Behavior and Personality:399-412.

Young, Kimberly S., and Carl J. Case. 2004. "Internet Abuse in the Workplace: New Trends in Risk Management." Cyberpsychology & Behavior Vol. 7, No. 4:105-111.

Zoghbi-Manrique-de-Lara, Pablo. 2012. "Reconsidering the Boundaries of the Cyberloafing Activity: The Case of a University." Behaviour & Information Technology Vol. 31, No. 5:469-479.

32

1a. Saya merasa yakin dengan kewenangan yang saya miliki.

1b. Rencana tujuan dan tujuan dari pekerjaan saya jelas.

1c. Kurangnya kebijakan dan panduan untuk membantu saya.

1d. Saya tahu bahwa saya telah membagi waktu dengan benar.

1e. Saya tahu apa tanggung jawab saya.

1f. Saya tahu persis apa yang diharapkan dari saya.

1g. Saya diberitahu seberapa baik saya melakukan pekerjaan saya.

1h. Penjelasannya jelas tentang apa yang harus dilakukan.

1i. Saya harus bekerja dibawah arahan atau perintah.

1j. Saya tidak tahu apakah pekerjaan saya bisa diterima atasan saya.

1k. Saya dikoreksi atau diberi penghargaan saat saya benar-benar tidak mengharapkannya.

1l. Saya merasa yakin bagaimana saya akan dievaluasi untuk kenaikan gaji atau promosi.

2a. Saya punya cukup waktu untuk menyelesaikan pekerjaan saya.

2b. Saya melakukan tugas yang terlalu mudah dan membosankan.

2c. Saya harus melakukan hal-hal yang harus dilakukan secara berbeda.

2d. Saya bekerja berdasarkan kebijakan dan pedoman yang tidak sesuai.

2e. Saya menerima tugas yang sesuai dengan kemampuan dan pelatihan saya.

2f. Saya bekerja dengan dua atau lebih kelompok yang beroperasi dengan cara yang berbeda.

2g. Saya menerima permintaan yang tidak sesuai dari dua orang atau lebih.

2h. Saya melakukan hal-hal yang cenderung bisa diterima oleh satu orang dan tidak diterima oleh orang lain.

2i. Saya menerima sebuah tugas tanpa sumber daya dan materi yang memadai untuk menjalankannya.

33

Konsep Definisi

Operasional

Dimensi Indikator Empirik

2j. Saya mengerjakan hal-hal yang tidak perlu.

2k. Saya melakukan pekerjaan yang sesuai dengan nilai saya.

2l. Saya mampu bertindak sama di tempat atau kelompok apapun.

3a. Saya harus melakukan hal-hal dimana saya tidak memiliki waktu dan tenaga.

3b. Terlalu banyak tuntutan pada waktu kerja saya.

3c. Saya membutuhkan lebih banyak waktu dalam sehari untuk melakukan semua hal yang diharapkan pada saya.

3d. Saya sepertinya tidak pernah punya waktu untuk diri sendiri.

3e. Ada kalanya saya tidak dapat memenuhi harapan setiap orang.

3f. Terkadang saya merasa seolah-olah tidak ada cukup waktu dalam sehari.

3g. Sering kali saya harus membatalkan janji.

3h. Sepertinya saya harus terlalu memaksakan diri agar bisa menyelesaikan semua yang harus saya lakukan.

3i. Saya mendapati diri saya harus menyiapkan daftar prioritas (daftar yang memberi tahu hal mana yang harus saya lakukan terlebih dahulu) untuk menyelesaikan semua hal yang harus saya lakukan. Jika tidak, saya lupa karena saya memiliki banyak hal yang harus dilakukan.

3j. Saya merasa harus melakukan sesuatu dengan tergesa-gesa dan mungkin kurang hati-hati untuk menyelesaikan semuanya.

3k. Saya tidak dapat menemukan energi dalam diri saya untuk melakukan semua hal yang saya harapkan dari diri saya.

(Reilly 1982, Rizzo, House, and Lirtzman 1970) Cyberloafing Cyberloafing

3a. Tidak mengganggu pekerjaan jika kadang-kadang mengunjungi situs jaringan sosial selama jam kerja.

34

5. Jika saya memiliki kesempatan, saya suka mengunjungi situs online shop untuk belanja barang pribadi selama jam kerja.

6a. Tidak apa-apa menghabiskan waktu di tempat kerja sambil menerima atau mengirim pesan pribadi.

6b. Saya sering chat di situs jaringan sosial selama jam kerja.

7. Tidak apa-apa menghabiskan waktu di tempat kerja sambil bermain permainan online.

8. Saya sering men-download lagu selama jam kerja.

9. Saya mengunjungi atau melihat situs web yang berorientasi pada orang dewasa.

10. Menurut saya, tidak apa-apa bagi saya untuk menggunakan internet untuk alasan yang tidak berhubungan dengan pekerjaan jika saya harus bekerja ekstra karena saya tidak menerima cukup bantuan dan peralatan.

11. Menurut saya, tidak apa-apa bagi saya untuk menggunakan internet untuk alasan yang tidak berhubungan dengan pekerjaan jika saya diminta untuk melakukan pekerjaan dengan jumlah yang berlebihan.

12. Menurut saya, tidak apa-apa bagi saya untuk menggunakan internet untuk alasan yang tidak berhubungan dengan pekerjaan jika saya harus menambah waktu ekstra di tempat kerja untuk menyelesaikan pekerjaan.

(Andreassen, Torsheim, and Pallesen 2014, Lim 2002)

35

Konsep Definisi

Operasional

Dimensi Indikator Empirik

Conscientio-usness

Conscientiousness adalah ciri kepribadian yang jujur dan pekerja keras.

(ipip.ori.org)

1. Competence (efficient) 2. Order

(organized) 3. Dutifulness

(not careless) 4. Achievement

striving (thorough) 5. Self Discipline

(not lazy) 6. Deliberation

(not impulsive)

(ipip.ori.org)

1. Saya selalu siap.

2. Saya membuat sesuatu menjadi berantakan.

3a. Saya meninggalkan barang-barang saya disekitar.

3b. Saya sering lupa untuk meletakkan barang kembali di tempat yang tepat.

3c. Saya melalaikan tugas saya.

4a. Saya memperhatikan hal dengan detail.

4b. Saya menuntut pekerjaan saya.

5. Saya mengerjakan tugas dengan segera.

6. Saya mengikuti jadwal.

(ipip.ori.org)

36 Lampiran 2

Dokumen terkait