BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
dengan riset survey, yaitu dengan menyebarkan kuesioner/angket pada
siswa Sekolah Menengah Atas di seluruh Kabupaten Nias Barat dengan
kuesioner yang digunakan adalah Chek List.
G. Metode Analisis Data
Kuesioner chek list terdiri dari 29 pertanyaan dan jawaban yang
diisi oleh siswa yang telah dikategorikan kedalam pertanyaan positif dan
negatif dianalisis dengan penskoran sebagai berikut:
1. Jawaban dari pernyataan yang positif.
Skor 4 untuk jawaban sangat setuju.
Skor 3 untuk jawaban setuju.
Skor 2 untuk jawaban tidak setuju.
Skor 1 untuk jawaban sangat tidak setuju.
2. Jawaban dari pertanyaan yang negatif.
Skor 4 untuk jawaban sangat tidak setuju.
Skor 3 untuk jawaban tidak setuju.
Skor 2 untuk jawaban setuju.
Skor 1 untuk jawaban sangat setuju.
Skor yang diperoleh siswa dalam kuesioner tersebut diolah dengan
kebiasaan menjumlahkan skor masing-masing variabel kebiasaan belajar
siswa. Dari hasil penjumlahan skor tersebut kemudian jumlah skor itu
dibagi dengan jumlah skor maksimum dari kuesioner dan dikalikan dengan
100%. Hasil perhitungan tersebut diperoleh skor keseluruhan kuesioner
kebiasaan belajar siswa dalam bentuk persentase.
Berdasarkan hasil perhitungan skor item keseluruhan kuesioner
kebiasaan belajar siswa, peneliti menginterprestasikan rerata dari skor
keseluruhan ke dalam skala yang dikategorikan menjadi 3 sebagai berikut:
Interval 25% – 50% berarti siswa memiliki kebiasaan belajar yang
kurang.
Interval 51– 75 berarti siswa memiliki kebiasaan belajar yang cukup.
Interval 76 – 100 berarti siswa memiliki kebiasaan belajar yang baik.
BAB IV
DATA, ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Sekolah Menengah Atas se-Kabupaten
Nias Barat. Kabupaten Nias Barat merupakan salah satu kabupaten yang
terletak di dalam wilayah Pulau Nias yang memiliki delapan kecamatan.
Delapan kecamatan tersebut adalah: Kecamatan Lolofitu Moi, Kecamatan
Mandrehe Utara, Kecamatan Lahomi, Kecamatan Sirombu, Kecamatan
Mandrehe, Kecamatan Ulu Moro’o, Kecamatan Moro’o, dan Kecamatan
Mandrehe Barat.
Kabupaten Nias Barat memiliki 12 Sekolah Menengah Atas
dimana terdiri dari 9 Sekolah Menengah Atas Negeri dan 3 Sekolah
Menengah Atas Swasta. Peneliti dalam pengambilan data menggunakan 11
SMA dikarenakan SMAS Permata yang ada di Kecamatan Mandrehe
Utara tidak memiliki Jurusan IPA kelas IX.
Dalam penelitian ini sampel data untuk kuesioner kebiasaan
belajar siswa diambil di kelas XI IPA yang terdiri 11 SMA dengan jumlah
keseluruhan 506 siswa, seperti pada tabel berikut ini:
Tabel 3. Data Sebaran Sampel Siswa Kelas XI Jurusan IPA di Kabupaten
Nias Barat
No Nama Sekolah Jumlah Siswa
1 SMAN 1 Lolofitu Moi 51
2 SMAN 1 Mandrehe Utara 16
3 SMAN 1 Lahomi 25
4 SMAS Kristen Arastamar 7
5 SMAN 1 Sirombu 72
6 SMAS BNKP Karamel 44
7 SMAN 1 Mandrehe 84
8 SMAN 1 Ulu Moro'o 42
9 SMAN 2 Mandrehe 47
10 SMAN 2 Lolofitu Moi 48
11 SMAN 1 Moro'o 70
Jumlah……… 506
Penelitian di 11 SMA yang ada di Kabupaten Nias Barat
dilaksanakan pada tanggal 9-20 Februari 2016. Penelitian ini terdiri dari
dua tahap yaitu observasi kesekolah (mengkomunikasikan jadwal kepada
kepala sekolah dan guru pengampu fisika kelas IX untuk waktu
pengambilan data, dan wawancara), dan tahap yang kedua yaitu
membagikan kuesioner kepada siswa.
Selama melaksanakan penelitian, peneliti mendapat beberapa
kendala yang dihadapi, yaitu ada beberapa siswa yang mengikuti
bimbingan belajar persiapan mengikuti OSN (Olimpiade Sains Nasional)
sehingga beberapa siswa tidak mengisi kuesioner yang peneliti berikan.
Selain hal itu, waktu pengambilan data yang sangat terbatas, sehingga
dalam pengambilan data di beberapa sekolah dilaksanakan dalam satu hari
disertai dengan wawancara dengan kepala sekolah dan guru pengampu
mata pelajaran bidang fisika. Berikut jadwal penelitian yang telah
dilakukan pada tabel 4 dibawah ini.
Tabel 4. Jadwal Penelitian
No Nama Sekolah Tanggal Pelaksanaan Penelitian
1 SMAN 1 Mandrehe 10, 12 Februari 2016
2 SMAS BNKP Karamel 10, 13 Februari 2016
3 SMAS Kristen Arastamar 12 Februari 2016
4 SMAN 1 Ulu Moro'o 13 Februari 2016
5 SMAN 2 Mandrehe 13 Februari 2016
6 SMAN 1 Lahomi 15 Februari 2016
7 SMAN 1 Moro'o 16 Februari 2016
8 SMAN 2 Lolofitu Moi 17 Februari 2016
9 SMAN 1 Lolofitu Moi 19 Februari 2016
10 SMAN 1 Sirombu 18 Februari 2016
11 SMAN 1 Mandrehe Utara 20 Februari 2016
Dari hasil wawancara di 11 SMA kepada guru yang mengampu
mata pelajaran fisika diketahui bahwa sebagain guru bukan dari lulusan
(bidang) fisika. Hal tersebut dikarenakan minimnya guru lulusan bidang
fisika di Kabupaten Nias Barat. Guru dengan lulusan fisika mengajar di
sekolah SMAN 1 Mandrehe, SMAN 1 Sirombu, SMAN 1 Mandrehe
Utara, SMAN 1 Lahomi, SMAS BNKP Karmel, SMAN 1 Moro’o, SMAS
Arastamar dan SMAN 2 Mandrehe. Sedangkan SMAN Lolofitu Moi,
SMAN 2 Lolofitu Moi, dan SMAN 1 Ulu Moro’o guru.
Penelitian yang telah dilakukan secara keseluruhan terlaksana
dengan baik. (Berita acara pelaksanaan penelitian dapat dilihat pada
lampiran 1).
B. Data Penelitian
Kuesioner kebiasaan belajar siswa diukur dengan instrument
berupa kuesioner kebiasaan belajar siswa. Kuesioner kebiasaan belajar
siswa terbagi menjadi 2 bagian yaitu kuesioner chek list dan kuesioner
pilihan ganda yang bertujuan agar hasilnya saling mendukung.
1. Kuesioner Chek List
Pada kuesioner chek list, data yang diperoleh diolah dengan cara
menjumlahkan skor masing-masing aspek kebiasaan belajar siswa.
Dari analisis secara keseluruhan menggunakan SPSS diperoleh data
sebagai berikut:
Tabel 5. Analiss Rerata Persentase Kebiasaan Belajar Siswa Sekolah
Menengah Atas Kelas XI Jurusan IPA Pada Pelajaran Fisika
Se-Kabupaten Nias Barat
N Minimum Maximum Mean Std.
Deviation
Skor 506 50.00 137.00 100.86 11.80
Valid N
(listwise) 506
(Analisis pada lampiran 5)
Berdasarkan tabel 5 diperoleh rerata persentase dari
masing-masing variabel kebiasaan belajar siswa yaitu 100.86 ± 11.80, untuk
variable kebiasaan dengan persentase minimum sampai maksimum
sebesar 50.00 sampai dengan 137.00. Dari data tersebut secara
keseluruhan dapat disimpulkan bahwa kebiasaan belajar siswa SMA
Jurusan IPA Kelas XI Se-Kabupaten Nias Barat memiliki persentase
yang baik (positif).
Selaras dengan hasil diatas, maka dibuat tabel skor setiap untuk
setiap sekolah, seperti pada tabel 6.
Tabel 6. Skor kebiasaan belajar siswa setiap sekolah
No Nama Sekolah Jumlah
Sampel Rata-Rata
1 SMAN 1 Lolofitu Moi 51 64.08
2 SMAN 1 Mandrehe Utara 16 70.73
3 SMAN 1 Lahomi 25 71.61
4 SMAS Kristen Arastamar 7 73.30
5 SMAN 1 Sirombu 72 69.33
6 SMAS BNKP Karamel 44 70.31
7 SMAN 1 Mandrehe 84 70.99
8 SMAN 1 Ulu Moro'o 42 69.68
9 SMAN 2 Mandrehe 47 70.18
10 SMAN 2 Lolofitu Moi 48 67.75
11 SMAN 1 Moro'o 70 71.10
Jumlah rata-rata keseluruhan….. 69.91
(Analisis pada lampiran 6)
Dari data pada tabel 6 diketahui siswa memilki nilai rata-rata
secara keseluruhan 69.91% atau berada pada kategori B (Baik) atau
hampir seluruh siswa SMA Kabupaten Nias Barat merasa bahwa
memiliki kebiasaan positif terhadap Fisika. Kebiasaan belajar tersebut
merupakan persepsi siswa, bukan keadaan faktual atau yang
sebenarnya.
Dilihat dari skor setiap sekolah SMAS Kristen Arastamar adalah
sekolah yang mempunyai nilai tertinggi dengan memperoleh 73.30%,
sedangkan untuk nilai paling rendah dari sekolah SMAN 1 Lolofitu
Moi dengan skor 64.08%.
Untuk mengetahuinya nilai kebiasaan belajar siswa pada setiap
indikator, dibuat tabel seperti ditunjukkan pada tabel 7.
Tabel 7. Kebiasaaan Siswa Pada Setiap Indikator
No Aspek Kebiasaan Kategori Jumlah
Sampel
A B C D
1 Sarana Prasarana
Belajar Siswa
148 263 87 8 506
2 Cara Belajar Siswa 31 400 74 1 506
3 Waktu Belajar Siswa 77 220 178 31 506
4 Tempat Belajar Siswa 158 201 119 28 506
(Analisis pada lampiran 7)
Dari tabel 7 diketahui bahwa:
a. Aspek sarana dan prasarana belajar siswa diketahui 148 atau
29.24% merasa sarana prasarana belajar yang dirasakan sangat
baik, 263 atau 51.97% yang merasa sarana prasarana belajar yang
dirasakan baik, 87 atau 17.19% yang merasa sarana prasarana
belajar yang dirasakan kurang baik dan 8 atau 1.58% yang merasa
sarana prasarana belajar yang dirasakan tidak baik. Data tersebut
tersebut merupakan persepsi siswa, bukan keadaan faktual.
Pernyataan kuesioner yang didasari teori bahwa yang mencakup
sarana prasarana belajar siswa disekolah adalah ketersediaan
sumber belajar, seperti perpustakaan, laboratorium, internet tidak
ada masalah/hambatan. Berdasarkan data di atas dapat dinyatakan
bahwa sebagian besar (81,21%) siswa kelas XI Jurusan IPA di Nias
Barat merasakan bahwa sarana dan prasarana sebagai penunjang
untuk belajar fisika baik, atau dapat dikatakan para siswa tidak ada
masalah dalam hal sarana dan prasarana pembelajaran.
Data diatas merupakan persepsi siswa terhadap ketersediaan
sarana prasarana disekolah sudah memadai, tetapi secara faktual
tidak demikian. Dilihat dari sarana prasarana belajar siswa saat
melakukan penelitian yang masih belum memadai dapat dikatakan
tidak ada. Dari hasil observasi saat melakukan penelitian di semua
sekolah hampit tidak ada laboratorium sebagai tempat
pembelajaran siswa setelah ruangan kelas. Begitu juga
perpustakaan yang terbilang masih belum memadai sumber belajar
didalamnya (buku-buku pelajaran). Begitu juga sumber belajar
internet masih belum tersedia. Dari data siswa merasa sudah
tercukupi atau tidak ada masalah soal sarana prasarana di
karenakan siswa belum mengerti dan memahami apa itu
perpustakaan, laboratorium dan sumber belajar internet. Siswa
merasa buku yang digunakan selama ini sudah cukup ( 1 buku
paket yang dipinjamkan dari sekolah) dan pembelajaran yang
dilakukan disekolah. Dari hasil observasi yang dilakukan, guru
hampir tidak pernah melakukan percobaan/praktikum di setiap
pembelajaran karena kurangnya alat laboratorium, ruangan, dan
karena guru tersebut bukan ahli dibidang fisika tetapi mengajar
fisika.
b. Aspek cara belajar siswa diperoleh 31 atau 6.12% termasuk
kualifikasi A, 400 atau 79.05% termasuk kualifikasi B, 74 atau
14.62% termasuk kualifikasi C, dan 1 atau 0.19% termasuk
kualifikasi D. Secara keseluruhan nilai siswa berada pada kategori
B (baik), artinya siswa tidak mempunyai kesulitan dalam
memahami fisika lewat percobaan, diskusi, menyelesaikan
soal-soal. Begitu juga untuk siswa yang senang belajar dalam keadaan
sunyi, ataupun belajar sambil mendengarkan musik.
c. Aspek ketiga tentang waktu belajar siswa didapat untuk yang
kualifikasi A adalah 77 atau 15.21%, 220 atau 43.47% termasuk
kualifikasi B, 178 atau 35.17% termasuk kualifikasi C, dan 31 atau
6.21% termasuk kualifikasi D. Data membuktikan bahwa ada
sebagian besar nilai siswa berada pada kategori B dan sebagian
berada pada kategori C. Dari data ada 206 siswa dalam
menggunakan waktu untuk belajar masih kurang.
d. Aspek tempat belajar siswa diperoleh data 158 atau 31.22% yang
memiliki kualifikasi A, 201 atau 39.72% yang memiliki kualifikasi
B, 119 atau 23.51% yang memiliki kualifikasi C, dan 28 atau
5.53% yang memiliki kualifikasi D. Berdasarkan presentase
tersebut, menunjukkan bahwa tempat belajar siswa (lingkungan
sekolah, keluarga dan masyarakat) sebagian besar sangat
berpengaruh dalam menunjang belajar siswa.
Selaras dengan hasil dari aspek sarana prasarana, cara
belajar, waktu belajar, dan tempat belajar tersebut diatas diketahui
bahwa mempunyai pengaruh positif terhadap kebiasaaan belajar
siswa, artinya hal ini mendukung teori yang diungkapkan oleh
Henry Clay Lindgren (dalam The Liang Gie, 1995: 194) bahwa
dengan semakin baik kebiasaan belajar maka prestasi dapat
meningkat.
Untuk mengetahui nilai kebiasaan siswa pada setiap indikator di
setiap sekolah, dibuat tabel sebagai berikut:
Tabel 8. Indikator Sarana Prasarana untuk setiap Sekolah
No Nama Sekolah Sarana Prasarana (%)
1 SMAN 1 Lolofitu Moi 64.39
2 SMAN 1 Mandrehe Utara 75.25
3 SMAN 1 Lahomi 75.2
4 SMAS Kristen Arastamar 70.85
5 SMAN 1 Sirombu 74.88
6 SMAS BNKP Karamel 76.54
7 SMAN 1 Mandrehe 76.61
8 SMAN 1 Ulu Moro'o 73.04
9 SMAN 2 Mandrehe 74.04
10 SMAN 2 Lolofitu Moi 73.5
11 SMAN 1 Moro'o 73.48
Dari tabel 8 berdasarkan aspek sarana prasarana secara keseluruhan
nilai siswa berada pada kategori B dengan nilai yang berbeda-beda.
Siswa di setiap sekolah tidak mengalami kesulitan dalam fasilitas
sarana prasarana, baik dari perpustakaan, internet, laboratorium. Skor
tertinggi terdapat di SMAN 1 Mandrehe dengan memperoleh skor
76.61%, sedangkan untuk nilai terendah dari SMAN 1 Lolofitu Moi
64.39%.
Berikut pada tabel 9 dipaparkan kebiasaan belajar siswa pada aspek
cara belajar siswa.
Tabel 9. Indikator Cara Belajar untuk setiap Sekolah
No Nama Sekolah Cara Belajar (%)
1 SMAN 1 Lolofitu Moi 63.99
2 SMAN 1 Mandrehe Utara 69.7
3 SMAN 1 Lahomi 69.36
4 SMAS Kristen Arastamar 72.77
5 SMAN 1 Sirombu 68.51
6 SMAS BNKP Karamel 68.34
7 SMAN 1 Mandrehe 69.7
8 SMAN 1 Ulu Moro'o 68.12
9 SMAN 2 Mandrehe 67.98
10 SMAN 2 Lolofitu Moi 67.4
11 SMAN 1 Moro'o 70.42
Dari tabel 9 aspek cara belajar secara keseluruhan skor siswa
berada pada kategori B dengan nilai yang berbeda-beda, atau dapat
dikatakan siswa tidak mengalami kesulitan dalam belajar. Skor
tertinggi terdapat di SMAS Kristen Arastamar dengan memperoleh
skor 72.77%, sedangkan untuk nilai terendah dari SMAN 1 Lolofitu
Moi dengan memperoleh skor 63.99%.
Berikut pada tabel kebiasaan belajar siswa pada aspek cara belajar
siswa.
Tabel 10. Indikator Waktu Belajar untuk setiap Sekolah
No Nama Sekolah Waktu Belajar (%)
1 SMAN 1 Lolofitu Moi 63.82
2 SMAN 1 Mandrehe Utara 67.18
3 SMAN 1 Lahomi 68.8
4 SMAS Kristen Arastamar 81.42
5 SMAN 1 Sirombu 64.79
No Nama Sekolah Waktu Belajar (%)
6 SMAS BNKP Karamel 68.52
7 SMAN 1 Mandrehe 68.45
8 SMAN 1 Ulu Moro'o 68.81
9 SMAN 2 Mandrehe 69.04
10 SMAN 2 Lolofitu Moi 60.83
11 SMAN 1 Moro'o 67.57
Dari tabel aspek tentang waktu belajar siswa secara keseluruhan
berada pada kategori positif dengan nilai yang berbeda-beda. Skor
tertinggi terdapat di SMAS Kristen Arastamar dengan memperoleh
skor 81.42%, sedangkan untuk nilai terendah dari SMAN 2 Lolofitu
Moi dengan memperoleh skor 60.83%.
Berikut untuk tabel kebiasaan belajar siswa pada aspek cara belajar
siswa.
Tabel 11. Indikator Tempat Belajar untuk setiap Sekolah
No Nama Sekolah Tempat Belajar (%)
1 SMAN 1 Lolofitu Moi 66.27
2 SMAN 1 Mandrehe Utara 73.75
3 SMAN 1 Lahomi 74.4
4 SMAS Kristen Arastamar 69.52
5 SMAN 1 Sirombu 70.83
6 SMAS BNKP Karamel 73.48
7 SMAN 1 Mandrehe 72.3
8 SMAN 1 Ulu Moro'o 74.12
9 SMAN 2 Mandrehe 77.73
10 SMAN 2 Lolofitu Moi 69.44
11 SMAN 1 Moro'o 75.71
(Analisis tabel 8 – 11 pada lampiran 8)
Dari tabel diatas berdasarkan aspek tempat belajar siswa secara
keseluruhan skor siswa berada pada kategori B, dimana siswa di setiap
sekolah tidak mengalami kesulitan di lingkungan tempat belajarnya.
Skor tertinggi terdapat di SMAS Kristen Arastamar dengan
memperoleh skor 77.73%, sedangkan untuk nilai terendah dari SMAN
1 Lolofitu Moi dengan memperoleh skor 66.27%.
2. Kuesioner Pilihan Ganda
Pernyataan soal nomor 30 “Ketika menghadapi kesulitan
mempelajari fisika diluar sekolah, saya menanyakan kepada ?”
pilihan jawaban adalah “teman, orangtua, saudara, dan guru”. Dari
pernyataan tersebut diperoleh data 64.82% atau dapat diartikan bahwa
sebagian besar siswa memilih teman sebagai pilihan untuk
menanyakan pelajaran yang sulit setelah pulang sekolah.
Pernyataan soal nomor 31 “Ketika menghadapi kesulitan
mempelajari fisika disekolah, saya menanyakan kepada:” dengan
pilihan jawaban adalah “teman, dan guru”. Siswa 77.07% memilih
guru sebagai pilihan paling pertama. Dapat diartikan bahwa sebagian
besar siswa sangat mempercayai guru sebagai sumber belajar yang
utama saat menghadapi kesulitan belajar.
Pernyataan soal nomor 32 “Berapa lama waktu yang saya gunakan
belajar belajar fisika di luar sekolah?” dengan pilihan jawaban adalah
“ kurang 1 jam, antara 1-2 jam, lebih dari 2 jam”. Dari pernyataan
tersebut 54.15% waktu belajar siswa kurang dari satu jam. Artinya
bahwa pada aspek ini sebagian waktu belajar yang siswa gunakan
untuk belajar setelah pulang sekolah masih kurang. Hal ini dibuktikan
dari hasil kuesinoner chek list yang diberikan nilai siswa berada pada
kategori C dan D. Dari hasil pada tabel 7 diketahui bahwa nilai siswa
dominan berada pada kategori B dan C atau masih ada sebagian besar
siswa belum mempunyai kebiasaan yang baik dalam mengatur waktu
untuk belajar. Siswa masih sebagian besar mengalami kesulitan dalam
mengatur waktu belajarnya.
Pernyataan soal nomor 33 “Sumber untuk belajar fisika yang
tersedia di sekolah adalah?” dengan pilihan jawaban adalah “ Tersedia
lebih dari satu buku pelajaran untuk setiap murid, tersedia satu buku
pelajaran setiap murid, satu buku pelajaran dipergunakan untuk
beberapa murid ”. 52.56% siswa memilih tersedia lebih dari satu buku
pelajaran setiap murid.
Pernyataan soal nomor 34 “Sumber belajar fisika yang tersedia
dirumah adalah:” dengan pilihan jawaban “Buku pelajaran yang
diberikan/dipinjamkan oleh sekolah, buku pelajaran dari sekolah dan
buku yang dibeli sendiri, hanya satu buku”. Sebanyak 42.09% siswa
mempunyai sumber belajar (buku) dirumah yang dipinjam dari
sekolah.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis pada bab IV, maka kesimpulan yang
dapat dirumuskan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Hasil pengolahan data penelitian menunjukkan bahwa siswa kelas XI
Jurusan IPA se-Kabupaten Nias Barat merasa bahwa sarana prasarana
sebagai penunjang belajarnya seudah memadai, tetapi hal demikian
tidak secara faktual.
2. Rata-rata cara belajar siswa berada pada kategori baik dengan skor
85.17%, artinya bahwa siswa siswa merasa bahwa tidak mengalami
kesulitan dengan cara belajarnya.
3. Siswa yang mengalami kesulitan mempelajari fisika di lingkungan
sekolah, sebagian besar memilih menanyakan kepada guru. Tetapi jika
berada diluar sekolah (setelah pulang sekolah), siswa memilih
menanyakan kepada kepada teman.
4. Waktu yang digunakan siswa dalam belajar masih kurang. Artinya
bahwa siswa sebagian besar mengalami kesulitan dalam mengatur
waktu belajar.
5. Sebanyak 42.09% siswa mempunyai sumber belajar (buku) dirumah
yang dipinjam dari sekolah.
Dalam dokumen
Kebiasaan belajar Fisika siswa jurusan IPA kelas XI Sekolah Menengah Atas Kabupaten Nias Barat
(Halaman 36-53)