• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Panti Werdha Majapahit Mojokerto pada

bulan Agustus 2016. Jumlah Lansia yang tinggal di Panti Werdha Mojopahit

Mojokerto sejumlah 70 orang, yang terdiri dari 56 orang (80%) wanita dan 14

orang (20%) laki-laki dengan usia lansia yaitu usia 45-59 sejulah 44 orang (%),

usia 60-74 sejumlah 25 orang (%) dan usia > 80 sejumlah 1 orang (%). Jumlah

penderita hipertensi di Panti Werdha Majapahit Mojokerto sebanyak 53 penderita

hipertensi.

1. Analisis Univariat Karakteristik Responden

Analisis univariat terhadap masing-masing variabel ditampilkan dalam bentuk distribusi frekuensi untuk data kategorik yaitu umur, tingkat pendidikan, frekuensi merokok, jenis kelamin, diet rendah garam. Data ini ditampilkan dalam bentuk mean, median, minimum-maksimum dan standar deviasi dengan convidence interval 95%. Hasil analisis univariat yang diperoleh adalah sebagai berikut:

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden dan Homogenitas Responden di Panti Werdha Majapahit Mojokerto Bulan Agustus 2016 (n=45)

Karakteristik

Kelompok

X2 Ρ Value I

Σ(%) Σ(%)II Σ(%)III Total(%) 95%CI Usia 1,358 0,50 1,21-1,50 45-55 tahun 8 (53,3) 10(66,7) 11(73,3) 29(64,4) 56-65 tahun 7(46,7) 5(33,3) 4(26,7) 16(35,6) Jenis Kelamin 5,806 0,06 1,55-183 Laki-laki 8(53,3) 2(13,3) 4(26,7) 14(31,1) Perempuan 7(46,7) 13(86,7) 11(73,3) 31(68,9) Pendidikan < SLTP (SD,SLTP) 11(73,3) 11(73,3) 9(60) 31(68,9) 0,829 0,661 1,17-1,83 > SLTP (SLTA, D3,Sarjana) 4(26,7) 4(26,7) 6(40) 14(31,1) Frekuensi Merokok 7,971 0,02 1,65 -190 Ya 7(46,7) 1(6,7) 2(13,3) 10(22,2) Tidak 8(53,3) 14(93,3) 13(86,7) 35(77,8) Diet Rendah garam

1,358 1,00 1,13-1,40 Tidak 1(66,7) 11(73,3) 8(53,3) 29(64,4)

Ya 5(33,3) 4(26,7) 7(46,7) 16(35.6) Riwayat Keluraga Hipertensi

2,522 0,283 1,50-1,79 Ya 7(46,7) 3(20) 6(40) 16(35,6) Tidak 8(53,3) 12(80) 9(60) 29(64,4) Terapi Pengobatan 3,750 0,153 1,32-1,62 Ya 10(66,7) 9(60) 5(33,3) 24(53,3) Tidak 5(33,3) 6(40) 10(66,7) 21(46,7)

*1 (intervensi music 2x seminggu), II (terapi tawa 2x seminggu), III (kontrol) Berdasarkan tabel 4.1 diatas diketahui bahwa karaktristik responden berdasarkan usia, jenis kelamin, pendidikan, diit rendah garam, riwayat keluarga hipertensi, terapi pengobatan memiliki distribusi yang sama dilihat dari nilai p value > 0,05. Sedangkan karakteristik responden dari frekuensi merokok memiliki distribusi yang berbeda dengan nilai p value 0,02

Tabel 4.2 Rata-rata tekanan darah sebelum pemberian intervensi terapi music dan terapi tawa di Panti Werdha Majapahit Mojokerto Bulan Agustus 2016 (n=45)

Kelompok Sistole mean + SD Diastole mean + SD Ρ value CI 95% I 164,00 (8,494) 98,33 (6,986) 0,000 II 164,67 (7,898) 98,33 (6,986) 160,2-169,0 I 164,00 (8,494) 98,33 (6,986) 0,000 III 159,33 (5,936) 99,67 (7,188) 159,3-168,7 II 164,67 (7,898) 98,33 (6,986) 0,000 III 159,33 (5,936) 99,67 (7,188) 156,02-162,6

1 (intervensi music 2x seminggu), II (terapi tawa 2x seminggu), III (kontrol)

Berdasarkan hasil pada tabel 4.2 menunjukkan bahwa hasil uji one sampel

t test pre test tekanan darah sistolik dan diastolik pada kelompok terapi intervensi

dan kelompok kontrol menunjukkan nilai ρ = 0,000. Hal ini berarti terdapat perbedaan tekanan darah sistolik dan diastolik saat pre test masing-masing

kelompok sampel.

Tabel 4.3 Rata-rata tekanan darah sesudah pemberian intervensi terapi music dan terapi tawa di Panti Werdha Majapahit Mojokerto Bulan Agustus 2016 (n=45)

Kelompok Sistole mean + SD Diastole mean + SD Ρ value CI 95% I 149,33 (7,528) 84,33 (6,230) 0,000 II 149,00 (8,701) 84,67 (5,815) 145,1-153,5 I 149,33 (7,528) 84,33 (6,230) 0,000 III 155,33 (8,550) 87,67 (5,936) 150,6-160,0 II 149,00 (8,701) 84,67 (5,815) 0,000 III 155,33 (8,550) 87,67 (5,936) 81,45-87,89

1 (intervensi music 2x seminggu), II (terapi tawa 2x seminggu), III (kontrol)

Berdasarkan hasil pada tabel 4.3 menunjukkan bahwa hasil uji one sampel

t test post test tekanan darah sistolik dan diastolik pada kelompok terapi musik

0,000. Hal ini berarti terdapat perbedaan tekanan darah sistolik dan diastolik yang

signifikan antara masing-masing kelompok sampel setelah pemberian intervensi.

Tabel 4.4 Selisih tekanan darah sistolik sebelum dan sesudah pemberian terapi musik tradisional dan terapi tertawa pada kedua kelompok di Panti Werdha Majapahit Mojokerto Bulan Agustus 2016 (n=45)

Kelompok Nilai Delta

Kunjungan Selisih nilai Mean Rank ρ Value

I Pre Test –Post test

(I&IV) 15 7,333 0,000 II Pre Test –Post test

(I&IV) 5 11,333 0,000 III Pre Test –Post test

(I&IV) 5 4,867 0,000

ρ < 0,05 signifikan hasil uji paired T Test

1 (intervensi music 2x seminggu), II (terapi tawa 2x seminggu), III (kontrol)

Berdasarkan tabel 4.4 di atas sesuai dengan hasil uji paired T t test

menunjukkan bahwa kelompok intervensi menunjukkan nilai ρ < α = 0,005 maka

hal ini berarti bahwa terdapat perbedaan penurunan tekanan darah pada kelompok

music tradisional dan kelompok terapi tertawa di Panti Werdha Mojopahit

Tabel 4.5 Selisih tekanan darah diastolic sebelum dan sesudah pemberian terapi musik tradisional dan terapi tertawa pada kedua kelompok di Panti Werdha Majapahit Mojokerto Bulan Agustus 2016 (n=45)

Kelompok Nilai Delta

Kunjungan Selisih nilai Mean Rank ρ Value

I Pre Test –Post test

(I&IV) 10 4,667 0,000 II Pre Test –Post test

(I&IV) 10 8,667 0,008 III Pre Test –Post test

(I&IV) 10 7,333 0,007

ρ < 0,05 signifikan hasil uji paired T Test

1 (intervensi music 2x seminggu), II (terapi tawa 2x seminggu), III (kontrol)

Berdasarkan tabel 4.4 di atas sesuai dengan hasil uji paired T test

menunjukkan bahwa kelompok intervensi menunjukkan nilai ρ < α = 0,005 maka

hal ini berarti bahwa terdapat perbedaan penurunan tekanan darah pada kelompok

music tradisional dan kelompok terapi tertawa di Panti Werdha Mojopahit

Mojokerto.

Tabel 4.6 Selisih tekanan darah sistolik sebelum dan sesudah pemberian terapi musik tradisional dan kelompok kontrol di Panti Werdha Majapahit Mojokerto Bulan Agustus 2016

Kelompok Nilai Delta

Kunjungan

Selisih nilai

Mean

Rank Z score ρ Value

I Pre Test –Post test 15 7,333 1,746 0,031 III Pre Test –Post test 5 4,867 1,282 0,200

*ρ < 0,05 signifikan hasil wilcoxon

Berdasarkan tabel 4.5 di atas sesuai dengan hasil uji Wilcoxon

hal ini berarti bahwa terdapat perbedaan penurunan tekanan darah pada kelompok

music tradisional dan kelompok terapi tertawa di Panti Werdha Mojopahit

Mojokerto.

Tabel 4.7 Selisih tekanan darah sistolik sebelum dan sesudah pemberian terapi tawa dan kelompok kontrol di Panti Werdha Majapahit Mojokerto Bulan Agustus 2016

Kelompok Nilai Delta

Kunjungan

Selisih

nilai Mean Rank Z Score ρ Value

II Pre Test –Post test 10 8,667 2,323 0,021 III Pre Test –Post test 5 4,333 2,634 0,010

ρ < 0,05 signifikan hasil Wilcoxon

1 (intervensi music 2x seminggu), II (terapi tawa 2x seminggu), III (kontrol)

Berdasarkan tabel 4.6 di atas sesuai dengan hasil uji Wilcoxon

menunjukkan bahwa kelompok intervensi menunjukkan nilai ρ < α = 0,005 maka hal ini berarti bahwa terdapat perbedaan penurunan tekanan darah pada kelompok

music tradisional dan kelompok terapi tertawa di Panti Werdha Mojopahit

Mojokerto

Tabel 4.8 Hasil uji oneway anova pengaruh pemberian terapi musik dan terapi tawa terhadap perubahan tekanan darah di Panti Werdha Majapahit Mojokerto Bulan Agustus 2016

Kelompok Mean Square F ρ

I Between Groups 403,333 4,067 ,033

Within Groups 99,167

II Between Groups 963,333 6,239 ,019

Within Groups 154,405

III Between Groups 177,633 1,794 ,191

Within Groups 99,038

1 (intervensi music 2x seminggu), II (terapi tawa 2x seminggu), III (kontrol)

Berdasarkan tabel 4.7 diatas menunjukkan bahwa dari nilai ρ kelompok I = 0,033, dan nilai ρ kelompok II = 0,019 serta nilai ρ kelompok III = 0,191. Hasil

perbandingan nilai ρ diatas menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tekanan darah

sebelum dan sesudah diberikan terapi musik dan terapi tawa.

B.Pembahasan

1. Karakteristik responden

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata usia responden pada

kelompok intervensi dan kelompok kontrol tidak jauh berbeda. Hasil analisis

didapatkan P-value 0,84 (>0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada

perbedaan karakteristik usia antara kelompok intervensi dan kelompok

kontrol. Hasil ini menunjukkan bahwa responden dalam penelitian ini

homogen.

Umur termasuk dalam salah satu faktor yang dapat mempengaruhi

kesehatan seseorang. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Anggraini,

Waren, Situmorang, Asputra, dan Siahaan (2009) yang menyatakan penderita

hipertensi mayoritas berada di rentang usia ≥45 tahun dengan persentase sebesar 89%. Hal ini dihubungkan dengan bertambahnya usia maka kelenturan

dan elastisitas pembuluh dinding arteri berkurang. Kekakuan pada pembuluh

darah diakibatkan oleh berkurangnya elastisitas pembuluh darah,

menyebabkan tahanan vaskular perifer dan jantung akan memompa melewati

tahanan yang lebih ebsar secara kontinu.

Kejadian hipertensi akan semakin bertambah dengan bertambahnya

usia kondisi ini diakibatkan karena pada tahap proses penuaan akan mengubah

pembuluh darah atau lapisan sel terdalam dari struktur pembuluh darah ini

akan meningkatkan produksi endotelin (ET) yang merupakan vasokostriktor

kuat pada saat proses penuaan, kondisi ini berperan terhadap proses terjadinya

arterosklerosis, fragmentasi elastin arterial, peningkatan deposit kolagen dan

perubahan vasodilatasi yang berdampak pada hilangnya kelenturannya dan

tidak dapat mengembang saat jantung memompa darah akibatnya terjadi

peningkatan tahanan perifer dan penurunan curah jantung yang berkontribusi

terhadap peningkatan tekanan darah (Smeltzer, et al. 2008). Hal ini sering

terlihat peningkatan secara bertahap tekanan sistolik sesuai dengan

peningkatan usia (Ramlan, 2007)

Umur termasuk dalam salah satu faktor yang tidak terkontrol yang

dapat menyebabkan terjadinya hipertensi, semakin tua umur seseorang dapat

mempengaruhi penurunan elastisitas pembuluh darah dan baroreseptor yang

berperan dalam regulasi tekanan darah. Arteri menjadi kurang elastis

(mengerut) dikarenakan perangsangan saraf atau hormone di dalam darah,

maka semua itu akan menjadi faktor pemicu kenaikan tekanan darah.

Peningkatan usia juga berperan dalam degenerasi sel nefron pada glomerulus

ginjal yang berdampak pada menurunnya filtrasi natrium sehingga

menyebabkan retensi natrium yang berdampak pada reensi air sehingga terjadi

peningkatan volume cairan ekstraseluler. Kondisi ini mengakibatkan aliran

balik vena ke jantung dan menyebabkan peningkatan strok volume,

berperan dalam mempertahankan homeostasis tekanan darah dengan

meregulasi volume darah (Mutaqin, 2012).

Data yang diperoleh dari responden pada kedua kelompok

menunjukkan sebagian besar 68,9% responden berjenis kelamin perempuan.

Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan karakteristik jenis

kelamin antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol dengan p value

0,09 (< 0,05).

Hasil ini didukung oleh penelitian Kuswardhani (2006) yang

menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi meningkat sesuai dengan umur dan

jenis kelamin lebih banyak pada perempuan yaitu 39% dan laki-laki 31%.

Pada kondisi menopouse terjadi penurunan hormone estrogen dan progerteron

sehingga fungsi proteksi terhadap tonus pembuluh darah menurun. Hal ini

akan menyebabkan peningkatan resistensi vaskuler yang berdampak pada

peningkatan tekanan darah (Amilawati, 2007; Potter & Perry, 2005). Menurut

Miller (2010) perubahan hormonal yang sering terjadi pada wanita

menyebabkan wanita lebih cenderung memiliki tekanan darah tinggi. Hal ini

juga menyebabkan resiko wanita untuk terkena penyakit jantung menjadi lebih

tinggi.

Perempuan lebih cenderung memiliki perasaan yang sulit untuk di

kontrol sehingga berdampak pada psikologisnya, mningkatkan kecemasan,

mudah stress dan memiliki perasaan yang labil dalam kehidupan sehari-hari,

emosi negatif seperti; marah cemas dan depresi termasuk dalam stimulus

thalamus, dan hipothalamus ini berperan sangat penting dan berhubungan

langsung dengan sisem otonom maupun bagian otak penting lainnya dan

merangsang pengeluaran hormon. Bila ada stimulus emosi negatif yang masuk

dan diterima oleh sistem limbik dapat menyebabkan homeostasis tubuh

terganggu yang salah satunya berdampak pada peningkatan tekanan darah.

Konsumsi garam yang tinggi juga menjadi faktor pemicu terjadinya

hipertensi dimana pada penelitian ini sebagian besar responden lebih senang

mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung garam. Konsumsi tinggi

natrium sering berhubungan dengan retensi cairan. Konsumsi garam tinggi

sering menjadi faktor penting dalam perkembangan hipertensi primer. Diet

tinggi garam dapat menginduksi pelepasan hormon natriuretik yang secara

tidak langsung meningkatkan tekanan darah. Natrium juga menstimulasi

mekanisme vasopresor melalui sistem saraf pusat (Gray et al, 2002). Hasil

penelitian ini menunjukkan bahwa konsumsi garam yang cukup tinggi akan

mempengaruhi peningkatan tekanan darah. Natrium yang terkandung di dalam

garam akan penignkatan kadar natrium dalam darah sehingga hal ini memicu

pelepasan homon natrutretik yang dapat mempengaruhi viskositas pembuluh

daran dan dapat meningkatkan tekanan darah seseorang.

Responden pada kelompok intervensi dan kontrol sebagian besar tidak

merokok. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan karakteristik

riwayat merokok antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol dengan

p-value 0,076 (>0,05). Hal ini karena sebagian besar responden adalah

dengan penelitian suselo (2010) tentang efektivitas terapi musik terhadap

penurunan tanda-tanda vital pada pasien hipertensi menunjukkan dari seluruh

sampel yang merokok 63,3% dan yang tidak merokok 36,7%

Penelitian yang terkait hubungan merokok dengan kejadian hipertensi

oleh Shofa, et al. (2006) menunjukkan bahwa faktor yang berhubugan dengan

hipertensi dalah riwayat merokok. Pada orang yang merokok lebih besar resiko

terkena penyakit koroner atau pembuluh darah yang berperan meningkatkan

tekanan darah. Rokok mengandung beberapa bahan kimia antara lain nikotin,

tar dan komponen gas termasuk karbon monoksida (CO). Nikotin mempunyai

efek akut dan kronik dalam meningkatkan aktivitas simpatis. Mekanisme

utama karbon monoksida juga berkontribusi terhadap terjadinya arterisklerosis

akibat kerusakan endotel pembuluh darah. Selain itu merokok dapat

meningkatkan interaksi platelet dengan dinding pembuluh darah, menurunkan

produksi prostasiklin, meningkatkan kadar koleserol yang teroksidasi dalam

sirkulasi dan jaringan dapat meningkatkan stres oksidatif pada endotel yang

dapat menurunkan efek vasodilatasi (Gray, et al.2002).

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kandungan yang terdapat di

dalam rokok akan mempengaruhi tekanan darah sehingga jika seseorang

mempunyai frekuensi merokok yang tinggi kandungan nikotin akan semakin

menumpuk di dalam tubuh. Penumpukan nikotin di dalam tubuh akan

menyebabkan penigkatan kerja jantung dan peningkatan kebutuhan oksigen.

Responden pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol sebagian

menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan karakteristik riwayat keluarga

penderita hipertensi antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol dengan

p-value 0,28 (>0,05).

Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sepdianto (2008)

tentang latihan tentang latihan slow deep breathing terhadap penurunan

tekanan darah penderita hipertensi primer menunjukkan 64,3% responden

memiliki riwayat keluarga menderita hipertensi dan penelitian oleh Pius (2010)

menunjukkan sebagian besar 57,4% responden mempunyai riwayat keluarga

menderita hipertensi.

Penelitian yang dilakukan oleh Wang, et al. (2008) yang menemukan

bahwa pada individu dengan kedua orang tua menderita hipertensi, memiliki

kemungkinan sangat besar untuk menderita hipertensi. Studi ini dilakukan pada

1160 orang dan diikuti perkembangannya selama 52 tahun. Hasil penelitian

menunjukkan bahwa rata-rata tekanan darah sistole dan diastole meningkat

secara signifikan diaas borderline untuk responden yang telah memiliki orang

tua dengan hipertensi. Peningkatan yang bermakna terlihat pada tekanan darah

sistole, yaitu meningkat sebesar 0,03 mmHg (p-value =0,04).

Faktor genetik sangat berperan untuk terjadi hipertensi walaupun belum

diketahui gen penyebab meningkatnya tekanan darah tersebut, namun diyakini

herediter mempunyai hubungan yang sangat erat dengan hipertens. Riwayat

keluarga dengan hipertensi mewarisi nilai tekanan sistole dan diastole kurang

simpatis-parasimpatis, hormonal dan struktur pembuluh darah yang berpengaruh kepada

regulasi tekanan darah sehingga menjadi faktor predisposisi hipertensi primer.

Responden pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol hampir

seluruh responden pada umumnya mengkonsumsi satu terapi standar dari

puskesmas. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan

karakteristik terapi pengobatan antara kelompok intervnsi dan kelompok

kontrol dengan P-value 0,15 (>0,05). Penelitian ini seseuai dengan penelitian

Sepdianto (2008) tentang terapi slow deep breathing terhadap tekanan darah,

ditemukan 71,4% responden mengkonsumsi satu jenis obat standar

antihipertensi.

Terapi farmakologi berupa obat-obatan antihipertensi dapat diberikan

sebagai obat tunggal (single dosis) sebagai tahap awal dengan tetap

memperhatikan dan menjalankan pola hidup sehat terutama pada pasien

hipertensi primer.jenis terapi standar antihipertensi yang sering dianjurkan

terutama di tempat penelitian Panti Wherda Mojopahit Mojokerto adalah

captopril (capoten). Captopril merupakan golongan penghambat enzim

pengubah angiotensi (ACE) yang nantinya akan menghambat pembentukan

angiotensin II (vasokontriktor) dan menghambat pelaporan aldosteron. Peran

dari aldosteron akan mengurangi retensi natrium dan dikeluarkan

bersama-sama dengan air (Muttaqin, 2012). Pemilihan jenis obat juga disesuaikan

dengan beberapa pertimbangan terutama faktor resiko penyakit kardiovaskuler,

2. Rata-rata tekanan darah sistole dan diastole sebelum dan sesudah pemberian

terapi musik tradisional, terapi tawa dan kelompok kontrol di Panti Werdha

Mojopahit Mojokerto

Hasil penelitian menunjukkan distribusi data tidak normal berdasarkan

hasil uji statistik dengan Wilcoxon didapatkan perubahan tekan darah sebelum

dan sesudah pemberian terapi musik tradisional dan terapi tawa pada

kelompok intervensi setiap kali kunjungan dan setelah dua minggu terdapat

penurunan tekanan darah sitole dan diastole pada pasien hipertensi primer

secara signifikan, dan setelah dua minggu menunjukkan ada penurunan

tekanan darah sistole dan diastole sebelum dan sesudah diberikan terapi musik

tradisional dan terapi tawa pada kelompok intervensi lebih besar dibandingkan

pada kelompok kontrol.

Sedangkan hasil analisis untuk membandingkan ketiga kelompok

dengan Man-Whiney terdapat perbedaan selisih tekanan darah antara

kelompok intervensi dengan tekan darah pada kelompok kontrol secara

signifikan. Perbedaan tekanan darah antara kelompok kontrol.

Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan di Italia dalam

Turana (2008) mengatakan bahwa pasien yang sedang minum obat anti

hipertensi dan diikuti mendengarkan musik klasik secara relaksasi selama 30

menit/hari dapat menurunkan tekanan darah bermakna yaitu 80%, sedangkan

yang hanya menggunakan obat antihipertensi menurunkan tekanan darah

Rangsangan musik ternyata dapat menghambat dan menyeimbangkan

gelombang otak, mampu mengaktivasi sistem limbik yang berhubungan

dengan emosi, saat sistem limbik teraktivasi otak menjadi rileks. Kondisi

relaksasi pada tubuh secara otomatis dapat mengurangi ketegangan dari

otot-otot termasuk otot-otot jantung dan pembuluh darah. Fungsi kerja jantung akan

kembali normal dan pembuluh darah mengalami vasodilatasi sehingga tekanan

darah yang tinggi akan kembali normal. Alunan musik juga dapat

mempengaruhi aktivasi simpatoadrenergik yang berperan dalam kosentrasi

katekolaminplasma dan juga mempengaruhi dalam pelepasan stress-released

hormone serta mengstimulasi tubuh memproduksi mulekul nitric oxide (NO)

yang bekerja pada tonus pembuluh darah yang dapat mengurangi tekanan

darah. Dengan melakukan terapi musik tradisional dan terapi tawa dari kedua

terapi ini dapat memberikan kondisi relaksasi yang lebih baik. (Saing, 2007;

Denise, 2007; Downey, 2009; Heather et al. 2012; Turankar et al. 2013).

Mendengarkan musik yang sesuai secara teratur memberikan efek

ketenangan pada tubuh baik fisik dan psikis. Apabila tubuh merasa nyaman

sistem kerja tubuh akan sesuai, jantung berdenyut secara normal, trasport

oksigen pada sel tubuh terpenuhi, metabolisme tubuh sesuai kebuthan,

homeostasis tubuh seimbang dan tidak memicu timbulnya stresor. Kondisi ini

akan mengoptimalkan tubuh dalam mengatasi terjadinya kompliksi penyakit

hipertensi (Anderson, et al. 2011; Nilsson, 2010)

Penelitian yang dilakukan oleh Schein, et al. (2001). Penelitian

lambat dan dalam dengan kontrol musik dan 29 pasien sebagai kelompok

kontrol dijelaskan musik. Penelitian dilakukan selama 10 menit/hari dalam

waktu 8 minggu. Hasil penelitian menunjukkan p-value <0,05, yang berarti

terdapat perbedaan signifikan pada kedua kelompok.

Penelitian yang dialkukan oleh Pietro AM, et al. (2010), responden

dibagi menjadi 3 kelompok yaitu 29 responden kelompok intervensi diajarkan

pernafasan dalam dengan mendengarkan musik klasik ritme dan tempo yang

lambat, 26 responden kelompok kontrol-M mendengarkan musik dan 31

responden kelompok kontrol-R membaca (buka atau majalah) semua

responden melakukannya 30 menit setiap hari selama 6 bulan di rumah. Hasil

penelitian menunjukkan penurunan rata-rata tekanan darah sistole dalam waktu

24 jam sebesar 4,6 mmhg dan hasil yang signifika, sedangkan kedua kelompok

kontrol tekanan darah cenderung tetap.

Tekanan darah merupakan salah satu parameter hemodinamik yang

sederhana dan mudah dilakukan pengukurannya. Tekanan darah

menggambarkan situasi hemodinamik seseorang saat itu. Hemodinamik

adalah suatu keadaan dimana tekanan dan aliran darah dapat mempertahankan

perfusi atau pertukaran zat di jaringan (Muttaqin, 2012). Penanganan

hipertensi dilakukan dengan dua cara yaitu secara farmakologis dan

nonfarmakologis. Beberapa terapi nonfarmakologis yang dapat menurunkan

tekanan darah melalui penelitian adalah terapi musik dan slow deep breathing

Terapi musik adalah salah satu terapi nonfarmakologis yang bertujuan

untuk meningkatkan kualitas fisik dan mental melalui rangsangan suara yang

terdiri dari melodi, ritme, harmoni, timbre, bentuk dan gaya yang diorganisir

sedemikian rupa sehingga tercipta musik yang bermanfaat untuk kesehatan

fisik dan mental. Selain terapi musik terapi lain yang efektif berupa terapi

relaksasi nafas dalam (slow deep breathing) (Izzo, 2008). Bernafas lambat

adalah mengurangi frekuensi pernafasan dari 16-19 kali permenit menjadi

10 kali permenit atau kurang (Anderson, 2008). Efek relaksasi dari terapi

musik dan slow deep breathing dapat memperlebar dan melenturkan

pembuluh darah, mengaktivkan impuls aferen dari baroreseptor sehingga

mencapai pusat jantung yang akan merangsang aktivitas saraf parasimpatis

dan menghambat pusat simpatis (kardioakseleator), sehingga menyebabkan

vasodilatasi sistemik yang dapat memperlancar peredaran darah di seluruh

tubuh, penurunan denyut dan daya kontraksi jantung (Muttaqin, 2012). Musik

secara langsung bisa mempengaruhi kerja otot kita. Detak jantung dan

pernafasan bisa meningkat atau normal secara otomatis tergantung alunan

musik yang dilakukan pada pasien dalam keadaan koma memberikan respon

terhadap musik dimana denyut jantung dan tekanan darahnya terkontrol saat

diberikan musik dan baik pada saat musik dimatikan. Fakta ini juga

bermanfaat untuk penderita hipertensi karena musik bia mengontrol tekanan

darah (Tuner, 2010).

Pemberian terapi musik tradisional dengan alunan lembut dapat

hati menjadi lebih tenang dan nyaman. Sebelum dilakukan intervensi,

beberapa responden mengeluhkan pusing, tengkuk terasa berat, dan memiliki

masalah tidur serta sering terjaga saat malam hari. Musik tradisional memiliki

nada-nada dengan frekuensi tinggi, rentang nada begitu luas, dan tempo yang

dinamis. Rangsangan musik ini ditangkap oleh reseptor vestibulocochlearis

(mekanoreseptor) yang mengaktivasi jalur-jalur spesifik di beberapa area otak,

seperti sistem limbik yang berhubungan dengan perilaku emosional. Sistem

limbik yang teraktivasi ini menyebabkan penurunan produksi dari katekolamin

yaitu epinefrin dan norepinefrin yang merupakan vasokontriktor utama

pembuluh darah, sehingga dapat mempengarui penurnan tekanan darah pada

lansia. Selain itu hal ini juga berpengaruh terhadap penurunan respon

saraf simpatis yang menurunkan tanda-tanda vital seperti denyut jantung,

pernafasan, kebutuhan oksigen, dan tekanan darah. Selama proses ini,

penurunan hormon noradrenalin dalam sirkulasi tubuh dipercaya dapat

meningkatkan istirahat dan ketenangan sehingga dapat memperbaiki kualitas

tidur.

Berdasarkan hasil penelitian Tage (2010) dapat diketahui bahwa

tekanan darah sistolik sebelum diberikan terapi tawa dari 19 responden yang

tertinggi adalah 192 mmHg dan tekanan darah sistolik terendah adalah 163

mmHg. Sedangkan tekanan darah sistolik sesudah diberikan terapi tawa dari

19 responden yang tertinggi adalah 184 mmHg dan tekanan darah sistolik

terendah adalah 149 mmHg. Berdasarkan tekanan darah diastolic 19

Dokumen terkait