A. Kesimpulan
Keberhasilan suatu sekolah dalam menyelenggarakan layanan inklusif dipengaruhi oleh banyak faktor. Menurut Tarsidi (2005) terdapat delapan faktor pendukung dalam implementasi penyelenggaraan pendidikan inklusif di Sekolah. Kedelapan faktor tersebut antara lain: (1) Sikap dan layanan yang positif, (2) Ketersediaan program untuk memenuhi kebutuhan spesifik siswa disabilitas, (3) Ketersediaan peralatan khusus dan teknologi asistif untuk mengakses program kulikuler, (4) Lingkungan fisik yang aksesibel bagi siswa disabilitas, (5) Dukungan sistem, (6) Kolaborasi, (7) Metode pengajaran, dan (8) Dukungan masyarakat. Kedelapan faktor tersebut menjadi dasar teori penelitian ini.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pemahaman dan penerimaan kepala sekolah beserta guru mengenai pendidikan inklusif dan anak berkebutuhan khusus, bagaimana layanan pendidikan inklusif berlangsung, sehingga dapat ditemukan hal-hal apa saja yang secara tidak disadari menjadi kendala dalam melaksanakan praktik pendidikan inklusif, sehingga pada akhirnya merumuskan program yang diharapkan dapat mengembangkan layanan pendidikan inklusif di sekolah X.
Penelitian dilaksanakan dengan pendekatan kualitatif terhadap kepala sekolah dan 16 orang guru. Subyek penelitian datang dari latar belakang pendidikan, dan lama kerja yang berbeda pula. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara, observasi, dan studi dokumentasi.
Penelitian ini menghasilkan temuan-temuan utama yang sifatnya saling berhubungan antara satu dengan lainnya. Berikut ini penjelasan temuan-temuan yang berhasil dihimpun:
Pertama, pemahaman kepala sekolah dan guru terhadap pendidikan inklusif dan anak berkebutuhan khusus secara umum dinilai cukup baik. Namun meskipun demikian, tingkat pemahaman antara guru satu dengan guru lainnya belum merata, sebagian guru sudah memahami pendidikan inklusif dan anak
berkebutuhan khusus. Kepala sekolah dan guru mampu menjelaskan konsep dari pendidikan inklusif: menjelaskan definisi pendidikan inklusif, menjelaskan perbedaan pendidikan inklusif dengan model segregasi, menjelaskan bentuk layanan pendidikan (perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran), serta menjelaskan layanan dan bantuan tambahan dalam setting inklusif. Sedangkan lainnya belum mampu menjelaskan dengan baik. Tingkat pemahaman terhadap pendidikan inklusif dan anak berkebutuhan khusus ini akan berimplikasi pada cara guru memperlakukan siswa serta pemberian layanan yang diberikan.
Kedua, penerimaan kepala sekolah, guru, dan siswa terhadap anak berkebutuhan khusus dinilai sudah baik. Penerimaan yang positif dari semua elemen di sekolah melahirkan lingkungan belajar yang nyaman dan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi semua siswa. Seluruh warga sekolah menghargai dan dapat menerima keberagaman sebagai salah satu bentuk nilai pluralitas. Seluruh warga sekolah sudah menunjukan sikap-sikap penerimaannya melalui (1) Sikap menerima ditunjukkan dengan keterlibatan secara aktif dari orang yang menerima terhadap aktifitas-aktifitas yangg dapat memberikan kebahagiaan bagi orang yang menerimanya. (2) Turut serta memikirkan hal yang dapat mengembangkan dan membuat anak semakin maju serta menjadi lebih baik. (3) Menunjukan kasih sayang yaitu adanya upaya untuk bisa memenuhi kebutuhan baik fisik maupun psikis. (4) Berdialog secara baik dengan anak, bertutur kata dengan baik dan bijak adalah cermin bahwa ia ingin menerima dan menghargai orang lain. (5) Menerima anak sebagai seorang individu, tidak ada satu individu yang sama untuk karena itu, harus menerima kekurangan dan kelebihan secara lapang dada sehingga tidak membandingkan satu anak dengan anak lain. (6) Memberikan bimbingan dan semangat motivasi: memberikan bimbingan dan semangat motivasi untuk maju dan lebih baik tidak cukup dari dalam diri, dibutuhkan motivasi eksternal untuk memompa motivasi orang yang bisa menerima orang lain secara ikhlas akan dapat memotivasi, membimbing dan memberi semangat sebab kemajuan orang yang di bimbing adalah bagian dari kebahagiaannya. (7) Memberi teladan: Memberikan contoh perilaku-perilaku yang baik pada anak. (8) Tidak menuntut berlebihan: dapat menerima keadaan
anak dan tidak memaksakan keinginannya agar anak menjadi seperti keinginan orangtua.
Ketiga, layanan pendidikan inklusif termasuk didalamnya proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi dilaksanakan secara inklusif dengan adanya penyesuaian kurikulum berdasarkan kebutuhan dan potensi setiap siswa. Namun terdapat perbedaan kualitas pembelajaran bagi siswa pada umumnya dengan siswa yang memerlukan layanan khusus dalam pendidikan meskipun secara fisik mereka belajar bersama-sama dalam kelas yang sama. Perbedaan kualitas proses pembelajaran secara keseluruhan, antara siswa pada umumnya dan siswa berkebutuhan khusus terletak pada perbedaan kompetensi yang dimiliki oleh guru yang merancang program pembelajaran tersebut. Proses pembelajaran bagi siswa pada umumnya, dimulai dari proses perencanaan hingga evaluasi, dilaksanakan oleh guru yang memiliki berkompeten dan berpengalaman pada bidangnya. Sedangkan pada siswa yang berkebutuhan khusus proses perencanaan pembelajaran hingga evaluasi banyak ditagani oleh guru pendamping (shadow
teacher) yang secara kompetensi dan pengalaman belum memenuhi kriteria.
Kompetensi guru pendamping yang belum memenuhi kriteria ini, kurang lebih disebabkan oleh proses rekrutmen yang mudah untuk dilalui. Syarat utama untuk menjadi seorang guru pendamping (shadow teacher) di sekolah ini adalah sudah selesai menempuh pendidikan minimal diploma 3. Selain itu tidak terdapat syarat khusus, baik dalam latar belakang pendidikan, pengalaman, maupun keterampilan khusus. Setelah itu, tidak ada tidak ada pelatihan khusus atau training yang difasilitasi oleh Tim IEP sebelum menangani siswa berkebutuhan khusus. Jika dilihat dari prosesnya, guru pendamping disini lebih mengarah kepada shadow
teacher. Mengingat tidak adanya tuntutan khusus dari segi disiplin ilmu dan
keterampilan.
Namun, ketika menelusuri tugas apa saja yang menjadi tanggung jawab guru pendamping, peran guru pendamping (shadow teacher) di sekolah ini, lebih tepat disebut sebagai guru pendidikan khusus atau special education teacher dimana tugas-tugas yang dibebankan diantaranya (1) bertugas menyiapkan lesson
plan, work sheet, dan berkoordinasi dengan guru kelas serta guru bidang studi, (2)
sesuai saran dari tim IEP, (3) Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang menunjang penanganan anak berkebutuhan khusus selama pendampingan. Pada praktik ideal, tugas-tugas tersebut bukan merupakan tugas dari seorang guru pendamping (shadow teacher). Menurut Direktorat PLB (2004) Guru pendidikan khusus adalah guru yang mempunyai latar belakang pendidikan luar biasa atau yang pernah mendapat pelatihan khusus tentang pendidikan luar biasa.
Hal yang membedakan tugas antara guru pendidikan khusus dengan guru pada umumnya terletak pada perencanaan, pelaksanaan dan penilaian tugas yang disesuaikan dengan karakteristik, potensi, dan kebutuhan peserta didik yang memiliki kebutuhan khusus dalam pendidikan. Selain itu tugas pokok guru pendidikan khusus selain mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik yang memilki kebutuhan khusus, juga dalam hal program pelayanan pendidikan khusus, atau program khusus, perencana, pelaksana, dan penilaian program.
Secara singkat dapat disimpulkan bahwa pihak sekolah melakukan proses rekrutmen untuk guru pendamping (shadow teacher), namun pada praktiknya tugas-tugas guru pendidikan khusus dibebankan kepada guru-guru ini. Ketiadaan guru pendidikan khusus dalam formasi Tim IEP merupakan penyebab terjadinya pemberian tanggung jawab sebagai guru pendidikan khusus kepada guru pendamping (shadow teacher).
Selain hal tersebut, sekolah sering kali mengalami kekurangan tenaga
shadow teacher, karena para guru mudah untuk diterima dan berhenti.
Dikarenakan hal tersebut, pada beberapa kasus siswa berkebutuhan khusus sering mengalami pergantian guru pendamping yang berimbas pada terganggungnya proses pembelajaran. Selain hal tersebut, dalam layanan pendidikan inklusif di sekolah ini, belum ditemukan adanya kolaborasi antara Tim IEP dengan guru reguler dalam hal ini wali kelas dan guru mata pelajaran. Guru reguler sering kali kebingungan memberikan metode yang sesuai bagi siswa berkebutuhan khusus yang sifatnya temporer atau sementara, seperti anak-anak yang mengalami kesulitan belajar namun dapat ditangani secara klasikal. Guru reguler tidak mendapatkan bimbingan secara khusus dari Tim IEP.
Keempat, rancangan program pengembangan layanan pendidikan inklusif di Sekolah X disusun berdasarkan data dan kondisi faktual sekolah seputar pemahaman kepala sekolah dan guru terhadap pendidikan inklusif dan anak berkebutuhan khusus, penerimaan kepala sekolah, guru, dan siswa terhadap pendidikan inklusif dan anak berkebutuhan khusus, serta praktik layanan pendidikan inklusif di sekolah X. Berdasarkan analisis terhadap kendala yang dihadapi berdasarkan kondisi di lapangan kemudian dirancang program pengembangan layanan inklusf. Selanjutnya rancangan program pengembangan layanan inklusif divalidasi melalui expert judgement kepada dua orang praktisi pendidikan inklusif dari dua sekolah berbeda. Berdasarkan hasil validasi, program yang telah dirancang disarankan untuk diperbaiki dalam format penulisan program agar lebih rinci dan mudah dipahami. Sedangkan, dari segi konten sudah sesuai dengan kondisi faktual sekolah, baik itu dari aspek pemahaman dan penerimaan terhadap pendidikan inklusif dan anak berkebutuhan khusus, serta praktik layanan pendidikan inklusif di Sekolah X.
B. Rekomendasi
Program pengembangan layanan pendidikan inklusif di Sekolah X diharapkan dapat diterapkan demi peningkatan layanan pendidikan inklusif di Sekolah X. Program pengembangan layanan pendidikan inklusif ini direkomendasikan kepada pihak-pihak yang secara langsung berperan dalam pelaksanaan layanan pendidikan inklusif, antara lain:
a. Bagi Kepala sekolah yang berperan sebagai manager, administrator,
educator, leader, innovator, motivator, dan supervisor di sekolah,
menjadikan program pengembangan layanan pendidikan inklusif ini sebagai pedoman dalam mengupayakan pengembangan praktik layanan pendidikan inklusif di sekolah.
b. Bagi Guru kelas dan guru pendidikan khusus (Special Needs Teacher) yang langsung berhubungan dengan peserta didik, menjadikan program pengembangan layanan pendidikan inklusif ini menjadi pedoman dalam upaya untuk meningkatkan layanan pendidikan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran.
c. Bagi tim IEP yang berfungsi sebagai tim khusus yang merumuskan program pembelajaran individual bagi siswa yang memerlukan layanan khusus dalam pendidikan, menjadikan program ini sebagai pedoman dalam memetakan tugas kerja dan memperbaiki alur koordinasi dengan guru kelas dan guru mata pelajaran.
d. Bagi sekolah-sekolah lain yang menyelenggarakan layanan pendidikan inklusif dan dalam perjalanannya menghadapi kendala serupa Sekolah X dalam praktik pelaksanaan layanan pendidikan inklusif, menjadikan program ini sebagai pedoman dalam upaya meningkatkan layanan pendidikan inklusif disekolah dan memberikan layanan terbaik untuk semua peserta didiknya
Alimin, Z. (2008). Anak Berkebutuhan Khusus, PKKH UPI: Bandung.
Alimin, Z. (2005). Penilaian Hasil Belajar Dalam Setting Pendidikan Inklusif. Bandung: Sekolah Pascasarjana UPI.
Alimin, Z. (2008). Tantangan Dalam Mengimplementasikan Pendidikan Inklusif Dan Solusinya. Bandung: Sekolah Pascasarjana UPI.
Allan, J. (1999). Actively Seeking Inclusion: Pupils with Special Needs in Mainstream Schools. Taylor & Francis e-Library.
Arikunto, S. (2007). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara Creswell, John. W. (2009). Research Design Qualitative Quantitative and mixed
methods approaches.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (2014). Lokakarya Menuju Inklusi. Bandung: Depdikbud.
Fitria, R. (2012). Proses Pembelajaran Dalam Setting Inklusi di Sekolah Dasar: E-JUPEKhu, vol. 1 no. 1. Hlm. 90-101.
Garnida, D. (2009). Sistem Dukungan (Supporting System) Dalam Penyelenggaraan Pendidikan Inklusi, Jurnal Inklusi PPPP TK dan
PLB 1(1), 1- 10.
Ilahi, M. Takdir. (2013). Pendidikan Inklusif: Konsep & Aplikasi. Malang: Ar-Ruzz Media.
Leskey, J & Waldron, N (2000). Inclusive Schools in Action : Making Differences Ordinary.
Sapon-Shevin, M. (1999). Because we can change the world: A practical guide to building cooperative, inclusive classroom communities: Kata, vol. 2 no.1. hlm. 44-46
Sidiq, Z (2007). Pendidikan inklusif suatu strategi menuju Pendidikan untuk semua. Jurnal PLB FIP-UPI.
Skjorten, MD. (2001). Towards Inclusion, Education-Special Needs Education An
Introduction. Oslo: Unipub forlag.
Smith, J. D. (2012). Sekolah Inklusif: Konsep dan Penerapan Pembelajaran. Bandung: Nuansa.
Suryana. (2007). Tahapan-tahapan penelitian kualitatif. Bandung: Fakultas Ilmu Pendidikan UPI
Sugiarmin,M. (2007). Mengelola Kelas Inklusif Dengan Pembelajaran yang Ramah. Bandung : Sekolah Pascasarjana UPI.
Sugiyono. (2012). Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta
Sunaryo. (2009). Manajemen Pendidikan Inkusif (Konsep, Kebijakan, dan Implementasinya dalam Perspektif Pendidikan Luar Biasa), Jurnal
PLB FIP-UPI, 1-15.
Stubbs, S. (2002). Inclusive Education Where There Are Few Resources. Oslo: The Atlas Alliance.
Sudjana, N. (2009). Penilain Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya
Sugiarmin, M. (2011). Pengembangan Model Pembelajaran dalam Kelas Inklusif untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Peserta Didik, Jurnal
Praktik-praktik Terbaik Pendidikan Untuk Semua : Isu-isu Pendidikan Khusus di Indonesia dan Malaysia. 41-49.
Sukinah. (2009). Manajemen Strategik Implementasi Pedidikan Inklusif, Jurnal
Pendidikan Khusus 7(2), 40-51.
Sumariah, S. (2012). Manajemen Pendidikan Suatu Tinjauan enyelenggaraan Pendidikan Bagi Anak yang Kreatif. Jurnal Inklusi PPPP TK dan
PLB 1(1), 73-77.
Sunanto, D. (2011). Profil Implementasi Pendidikan Inklusif di Sekolah Dasar di Kota Bandung, Jurnal Praktik-praktik Terbaik Pendidikan Untuk
Semua: Isu-isu Pendidikan Khusus di Indonesia dan Malaysia. 16-22.
Stainback,W. & Stainback,S. (1990) Support Networks for Inclusive Schooling: Independent Integrated Education. Baltimore: Paul H.Brooks.
Tahar, et al. (2011). Kesediaan Guru Melaksanakan Proses Pengajaran dan Pembelajaran Dalam Kelas Dengan Kepelbagaian Pelajar. Jurnal
Praktik-praktik Terbaik Pendidikan Untuk Semua : Isu-isu Pendidikan Khusus di Indonesia dan Malaysia. 8-15.
Tarsidi, D.(2007). Pendidikan Inklusif Sebagai Satu Inovasi Kependidikan Untuk Mewujudkan Pendidikan Untuk Semua. Bandung: Sekolah Pascasarjana UPI
Trimo. (2012). JMP Volume 1 Nomor 2 agustus 2012. Manajemen Sekolah Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif: Kajian Aplikatif Pentingnya Menghargai Keberagaman Bagi Anak-Anak Berkebutuhan Khusus: JMP, Vol.1 No.2, 224-239.
Ummah, U. (2011). Manajemen Penyelenggara Pendidikan Inklusif (Studi Kasus Terhadap Sebuah SD Penyelenggara Pendidikan Inklusif di Kota Bandung dan Sidoarjo). (Tesis). Sekolah Pascasarjana, Universitas Pendidikan Indonesia.
Yasin et al. (2011). Kemudahan Infrastruktur Program Integrasi Pendidikan Khas di Malaysia. Jurnal Praktik-praktik Terbaik Pendidikan Untuk Semua :