• Tidak ada hasil yang ditemukan

Setelah menguraikan hasil penelitian, maka pada bab ini akan disimpulkan beberapa hal penting, serta saran-saran dalam kaitannya dengan perubahan sikap terhadap perilaku berpacaran sebelum dan setelah pemberian informasi mengenai seksualitas pada siswa kelas XI SMA “X” di Bandung.

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan bahwa:

1. Informasi mengenai seksualitas dapat mengubah sikap responden terhadap sebagian besar perilaku berpacaran – yaitu perilaku berpeganga tangan, lip kiss, berpelukan, sexual intercourse, jalan-jalan, mencium pipi, ngobrol bersama, kencan, curhat, meraba-raba tubuh pasangan, mencium kening, membelai rambut, SMS / telepon, dan bercanda bersama – namun tidak menunjukkan perubahan yang signifikan.

2. Informasi yang diberikan dapat mengubah komponen kognisi, afeksi dan konasi pada sikap terhadap perilaku berpacaran pada siswa kelas XI SMA ”X” di Bandung menjadi lebih negatif adalah perilaku lip kiss, berpelukan, sexual intercourse, membelai rambut dan bercanda bersama.

91

3. Informasi yang diberikan dapat mengubah komponen kognisi dan afeksi menjadi lebih negatif, sedangkan komponen konasi menjadi lebih positif pada sikap terhadap perilaku berpacaran pada siswa kelas XI SMA ”X” di Bandung adalah perilaku berpegangan tangan.

4. Informasi yang diberikan dapat mengubah komponen kognisi dan konasi menjadi lebih negatif, sedangkan komponen afeksi menjadi lebih positif pada sikap terhadap perilaku berpacaran pada siswa kelas XI SMA ”X” di Bandung adalah perilaku mencium kening.

5. Informasi yang diberikan dapat mengubah komponen kognisi menjadi lebih negatif, sedangkan komponen afeksi dan konasi menjadi lebih positif pada sikap terhadap perilaku berpacaran pada siswa kelas XI SMA ”X” di Bandung adalah perilaku ngobrol bersama dan merangkul bahu.

6. Informasi yang diberikan dapat mengubah komponen kognisi, afeksi dan konasi pada sikap terhadap perilaku berpacaran pada siswa kelas XI SMA ”X” di Bandung, menjadi lebih positif, adalah perilaku kencan.

7. Informasi yang diberikan dapat mengubah komponen kognisi dan afeksi menjadi lebih positif, sedangkan komponen konasi menjadi lebih negatif pada sikap terhadap perilaku berpacaran pada siswa kelas XI SMA ”X” di Bandung adalah perilaku jalan-jalan.

8. Informasi yang diberikan dapat mengubah komponen kognisi dan afeksi yang semakin negatif, sedangkan komponen konasi tetap positif pada sikap terhadap perilaku berpacaran pada siswa kelas XI SMA ”X” di Bandung adalah perilaku curhat.

92

9. Informasi yang diberikan dapat mengubah komponen kognisi menjadi semakin positif, komponen afeksi menjadi semakin negatif, dan komponen konasi tetap positif pada sikap terhadap perilaku berpacaran pada siswa kelas XI SMA ”X” XI di Bandung adalah perilaku mencium pipi.

10. Informasi yang diberikan dapat mengubah komponen kognisi dan afeksi menjadi lebih positif, sedangkan komponen konasi tetap positif pada sikap terhadap perilaku berpacaran pada siswa kelas XI SMA ”X” di Bandung adalah perilaku SMS / telepon.

11. Informasi yang diberikan tidak mengubah komponen kognisi (tetap negatif), sedangkan komponen afeksi dan konasi berubah menjadi lebih negatif, pada sikap terhadap perilaku berpacaran pada siswa kelas XI SMA ”X” di Bandung adalah meraba-raba tubuh pasangan.

12. Informasi yang diberikan tidak mengubah komponen kognisi (tetap positif), sedangkan komponen afeksi berubah menjadi lebih positif, dan komponen konasi berubah menjadi lebih negatif, pada sikap terhadap perilaku berpacaran pada siswa kelas XI SMA ”X” di Bandung adalah perilaku menyayangi.

13. Informasi yang diberikan tidak mengubah komponen kognisi dan konasi (tetap positif), sedangkan komponen afeksi berubah menjadi lebih positif pada sikap terhadap perilaku berpacaran pada siswa kelas XI SMA ”X” di Bandung adalah perilaku makan bersama.

14. Keyakinan religius yang kuat dapat menjadi penyebab munculnya sikap yang negatif terhadap perilaku petting dan sexual intercourse, sehingga pada

93

saat informasi mengenai seksual diberikan kepada responden, mereka cenderung mempertahankan sikap awal mereka karena komunikator pun mendukung sikap yang negatif terhadap perilaku tersebut.

5.2. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang dipaparkan, beberapa saran yang dapat diberikan peneliti:

1. Saran untuk kegunaan praktis

• Para remaja perlu memperkuat dasar iman kepada Tuhan Yang Maha Esa,

dengan mengikuti kegiatan-kegiatan religius yang dilakukan oleh rumah ibadah, sesuai dengan kepercayaan masing-masing. Dengan demikian, diharapkan nilai religius yang mereka pegang dapat menjadikan sikap yang negatif terhadap perilaku-perilaku petting maupun sexual intercourse.

• Pihak sekolah perlu memperkuat dasar kepercayaan dalam diri para siswa

terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dengan memberikan kelas khusus untuk membahas hal-hal yang bersifat religius. Dengan demikian, diharapkan dapat membantu para siswa untuk memiliki nilai religius yang dapat mendukung sikap yang negatif terhadap perilaku-perilaku petting maupun sexual intercourse.

• Orangtua tetap mendukung dan mendorong remaja untuk terlibat dalam

kegiatan religius yang dilakukan oleh rumah ibadah, sesuai dengan kepercayaan masing-masing. Dengan demikian, diharapkan dapat

94

membantu para siswa untuk memiiki nilai religius yang dapat mendukung sikap yang negatif terhadap perilaku-perilaku petting maupun sexual intercourse.

2. Saran untuk penelitian lebih lanjut

• Untuk selanjutnya dapat dilakukan penelitian mengenai hubungan

keimanan dan sikap terhadap perilaku berpacaran.

• Alat ukur yang digunakan pada pre-test dan post-test lebih baik

menyebutkan perilaku berpacaran secara eksplisit, sehingga dapat memudahkan pengolahan data.

• Penelitian lebih lanjut yang dapat dilakukan adalah mengenai pengaruh

pemberian informasi mengenai seksualitas pada sikap terhadap perilaku berpacaran pada siswa-siswi yang bersekolah di sekolah yang tidak berbasis agama.

DAFTAR PUSTAKA

Bandura, Albert., 1977. Social Learning Theory. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.

Baron, Robert A., 1982. Exploring Social Psychology, 2nd Edition. Boston: Allyn and Bacon, Inc.

Chaplin, J.P., 1979. Dictionary of Psychology. New York: A Laurel Original

Christensen, Larry B., 1988. Experimental Methodology. Toronto: Allyn and Bacon, Inc.

Feldman, Robert S., 1985. Social Psychology: Theories, Research and Application. New York: McGraw-Hill, Inc.

Hughes, Richard L, Robert C. Ginnett, & Gordon J. Curphy., 2002. Leadership:

Enhancing The Lesson Of Experience. Toronto: McGraw Hill

Mueller, Daniel J., 1991. Measuring Social Attitudes: A Handbook for Researchers and Practitioner. New York: Collage Press

Santrock, John W., 1998. Adolescence. Boston: McGraw Hill

Sianiwati S. Hidayat & Katherine Komalasari, 1997. Pengantar Psikologi:

Konsep-konsep Dasar Dalam Psikologi Sosial. Bandung: Fakultas

Psikologi Universitas Kristen Maranatha

Smith, Eliot R., Diane M. Mackie, 2000. Social Psychology. USA: Psychology Press

Steinberg, Laurence., 2002. Adolescence. New York: McGraw Hill

Thornburg, Harshel D., 1982. Development In Adolescence. California: Brooks/Cole Publishing Company

DAFTAR RUJUKAN

Encarta Dictionary Tools 2004

Intisari: Edisi Kumpulan Artikel-artikel Psikologi, 2001

http://www.dnet.net.id/kesehatan/seputarsex/detail.php?id=7148

Majalah Kosmopolitan edisi Februari 2005

Tan Ming Kuang, SE., MSi., Modul Pelatihan W2M 2006, Study Skill

Yuhana, Pince., S. Psi., 2005. Studi Deskriptif Mengenai Prasangka Pelajar Etnis Tionghoa Terhadap Pelajar Etnis Pribumi di SMU ”X” Kota Tebing Tinggi. Skripsi. Bandung: Fakultas Psikologi Universita Kristen Maranatha

www.ceritaremajaIndonesia.com

Dokumen terkait