5.1 Kesimpulan
Pemberian kotoran sapi pada tanah memberi efek perubahan C-organik dan N-tersedia. Kenaikan C-organik pada perlakuan 20 ton ha-1 kotoran sapi adalah karena proses dekomposisi kotoran sapi yang melepaskan C-organik dan pelepasan eksudat akar oleh tanaman. Kadar C-organik pada lahan perlakuan 20 ton ha-1 kotoran sapi dan kontrol tanpa perlakuan berkesetimbangan pada minggu ke 14.
Kadar amonium petak perlakuan 20 ton ha-1 selalu lebih tinggi dibandingkan kontrol, nilai kadar amonium plot perlakuan 20 ton ha-1 sama dengan kontrol terjadi pada minggu ke 14 setelah tanam. Kadar nitrat selalu lebih tinggi dibandingkan dengan amonium. Hubungan antara kadar amonium dan waktu pengambilan sampel tidak dapat disimulasikan dengan menggunakan persamaan first order kinetic karena bentuk kurvanya yang tidak memenuhi syarat first order kinetic. Hal ini mungkin karena amonium bukan hasil akhir dari mineralisasi nitrogen.
Persamaan first order kinetic dengan sangat baik dapat mensimulasikan proses mineralisasi N menjadi nitrat dan N-tersedia pada tanah Ultisol Gunung sindur. N yang berpotensi termineralisasi menjadi nitrat di bawah pertanaman jagung pada tanah tanpa perlakuan di Gunung Sindur adalah 494 mg kg-1 dengan konstanta kecepatan 0.61 minggu-1 sementara pada perlakuan kotoran sapi 20 ton ha-1 adalah sebesar 620 mg kg-1 dengan konstanta kecepatan 0.41 minggu-1.
Untuk N-tersedia, N yang berpotensi termineralisasi di bawah pertanaman jagung pada tanah tanpa perlakuan adalah 538 mg kg-1 dengan konstanta kecepatan 0.63 minggu-1 sementara pada perlakuan kotoran sapi 20 ton ha-1 adalah 665 mg kg-1 dengan konstanta kecepatan 0.46 minggu-1.
Hasil ini menyebutkan kesetimbangan Ultisol Gunung Sindur dengan pemberian 20 ton ha-1 kotoran sapi pada pertanaman jagung untuk karbon organik, nitrat, dan nitrogen tersedia tercapai pada minggu ke-14. Mineralisasi N-organik menjadi nitrat dan N-tersedia dapat dengan baik disimulasikan dengan persamaan first order kinetic.
5.2 Saran
Perlu dilakukan penelitian lanjutan pada tanah yang berbeda untuk mendapatkan faktor-faktor tanah yang berpengaruh terhadap N potensial yang dapat dimineralisasi dan konstanta kecepatan mineralisasi. Kemudian perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang mobilitas bentuk N yang tersedia hasil mineralisasi.
DAFTAR PUSTAKA
Adistia, L. 2010. Pemberian Kotoran Sapi pada Pertanaman Jagung (Zea mays): Dinamika Perubahan Kadar C-organik dan N-tersedia pada Andosol Lembang. Skripsi. Sarjana Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Akinyemi, O. 2001. Effect of co-applied cowdung and inorganic nitrogen on
microbial respiration in soil under laboratory conditions.Commun. Soil Sci. Plant Anal, 32:3229-3242.
Awodun, M. A. 2008. Effect of nitrogen released from rumen digesta and cow dung on soil and leaf nutrient content of Gboma (Solanum Marcocarpon L.). Journal of Applied Biosciences, 7:202-206.
Brady, C. N. 1990. The Nature and Properties of Soils. Tenth Edition. Macmillan Publishing Company. New York.
Funakawa, S., M. Makhrawie, and H. B. Pulunggono. 2009. Soil fertility status under shifting cultivation in East Kalimantan with special reference to mineralization patterns of labile organic matter. Plant Soil, 319: 57-66. Gale, E. S., M. Sullivan, C. G. Cogger, A. I. Bary, D. D. Hemphill, and E.A.
Myhre. 2006. estimating plant-available nitrogen release from manures, compost, and specialty products. J. environ. Qual, 35 : 2321-2332.
Gana, A. K. 2009. Evaluation of the residual effect of cattle manure combinations with inorganic fertilizer and chemical weed control on the sustainability of chewing sugarcane production at Badeggi Southern Guinea Savanna of Nigeria. Middle-East Journal of Scientific Research, 4:282-287.
Hardjowigeno, S. 2003. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Akademika Pressindo. Jakarta.
Hardjowigeno, S. 2007. Ilmu Tanah. Akademika Pressindo. Jakarta.
Hartono, A., S. Funakawa, and T. Kosaki. 2005. Phosporus sorption-desortion characteristics of selected acid upland soils in Indonesia. Soil Sci. and Plant Nutr., 51: 787-799.
Inoko, A. 1982. The Composting of Organic Materials and Associated Maturity Problems. Food and Fertilizer Technology Center. Departement of soils and Fertilizers. National Institute of Agriculture Sciences, Japan. Tech. Bul, 71:4.
Miranda, F. S., H. Eckersten, and M. Wivstad. 2008. Net N mineralization of an Andosol influenced by chicken and cow manure applications in a maize-bean rotation in nicaragua. Sci. Resear. and Ess, 3(7) : 280-286.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. 2002. Teknologi Pengelolaan Lahan Kering. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor.
Pusat Penelitian Tanah. 1981. Jenis dan macam Tanah di Indonesia untuk Leperluan Survai dan Pemetaan Tanah Daerah Transmigrasi. Terms Of Reference. Type A. No. 28/1981 P3MT-PPT. Bogor. Indonesia.
Simanjuntak, R. H.2005. Pengaruh Pemberian Bahan Organik, Kapur, dan Belerang terhadap Produksi Biomassa, Kadar dan Serapan Belerang pada Tanaman Jagung(Zea mays) di Tanah Podsolik (Typic Hapludults) Jasinga. Skripsi. Sarjana Fakultas Pertanian Institut Pertania Bogor.
Soepardi, G. 1983. Sifat dan Ciri Tanah. Jurusan Tanah. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Soepraptohardjo. 1961. Jenis-jenis Tanah di Indonesia. Lembaga Penelitian Tanah. Bogor.
Suhardjo, H., Soepartini, dan Kurnia. 1993. Bahan Organik Tanah dalam Informasi Penelitian Tanah,Air, Pupuk, dan Lahan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor.
Syukur, A., dan Harsono. 2008. pengaruh pemberian pupuk kandang dan NPK terhadap beberapa sifat kimia dan fisika tanah pasir pantai samas bantul. J. Tanah lingk., Bogor. 8:143.
Tan, K. H. 1984. Principles of Soil Chemistry. Van Nostrand Reinhold Company. New York.
Tisdale SL, Nelson WL, and Beaton JD. 1990. Soil Fertility and Fertilizers, 4th ed.Macmillan Publishing Company. New York.
Lampiran 1. Prosedur Analisis pH H2O dengan pH Meter
1. Timbang 10 gram tanah, masukkan ke dalam botol kocok. 2. Tambahkan air destilata 10 ml.
3. Kocok selama 30 menit dengan mesin pengocok. 4. Ukur nilai pH dengan menggunakan pH meter.
Lampiran 2. Prosedur Penetapan NH4+ dengan Metode Destilasi-Titrasi
1. Timbang 10 gram tanah yang lolos saringan 0.05 mm. 2. Tempatkan pada botol kocok berukuran 200 ml.
3. Tambahkan 50 ml larutan KCl+HCl 1 N, kemudian kocok selama 30 menit.
4. Saring larutan dengan menggunakan kertas saring kemudian tamping pada botol penampung.
5. Pipet 10 ml larutan ekstrak ke dalam labu destilasi.
6. Tambahkan MgO sebanyak ± satu sudip kemudian tambahkan 100 ml air destilata.
7. Untuk penampungnya, pipet 10 ml H3BO3 1 % pada labu Erlenmeyer 250 ml, kemudian tambahkan 5 tetes indicator Conway.
8. Destilasi dilakukan hingga ekstrak yang tertampung mencapai 75 ml. 9. Hasil destilasi kemudian di titrasi dengan HCl 0.05 N. Titik akhir titrasi
dicapai ketika warna berubah menjadi merah anggur.
10. Lakukan juga untuk penetapan blanko dengan cara yang sama tetapi tanpa menggunakan contoh tanah.
11. Hitung kadar NH4+ dengan menggunakan rumus :
(ppm)=
Lampiran 3. Prosedur Penetapan NO3- dengan Metode Destilasi-Titrasi
1. Larutan ekstrak dipipet 10 ml dari larutan ekstrak yang telah dilakukan untuk menetapkan NH4+ (dari langkah 1-4) ke dalam labu destilasi.
2. Tambahkan devarda sebanyak satu sudip.
3. Tambahkan 1 ml etanol, kemudian langsung ditambahkan 100 ml air destilata.
4. Tambahkan 5 ml NaOH 50 % ke dalam labu destilasi.
5. Untuk penampungnya, pipet 10 ml H3BO3 1 % pada labu Erlenmeyer 250 ml, kemudian tambahkan 5 tetes indicator Conway.
6. Destilasi dilakukan hingga ekstrak yang tertampung mencapai 75 ml. 7. Hasil destilasi kemudian di titrasi dengan HCl 0.05 N. Titik akhir titrasi
dicapai ketika warna berubah menjadi merah anggur.
8. Lakukan juga untuk penetapan blanko dengan cara yang sama tetapi tanpa menggunakan contoh tanah.
9. Hitung kadar NO3- dengan menggunakan rumus :
(ppm)=
Lampiran 4. Prosedur Penetapan C-organik dengan Metode Walkley dan Black
1. Timbang tanah 0.5 gram yang lolos saringan 0.05 mm. 2. Tempatkan tanah dalam labu Erlenmeyer 500 ml.
3. Pipet 10 ml K2Cr2O7 1 N ke dalam erlenmeyer, goyang secara perlahan hingga tanah terdispersi dalam larutan.
4. Tambahkan 20 ml H2SO4 pekat ke dalam Erlenmeyer. Goyang dengan cepat. Usahakan agar tidak ada partikel tanah yang terlempar ke dinding labu Erlenmeyer. Diamkan campuran tersebut selama 30 menit.
5. Tambahkan 100 ml air destilata ke dalam erlenmeyer. Diamkan 30 menit hingga dingin.
7. Titrasi dengan FeSO4 0.5 N. titik akhir titrasi dicapai jika larutan berubah warna menjadi merah anggur.
8. Buat titrasi untuk blanko juga dengan cara yang sama tetapi tidak dengan contoh tanah.
9. Hitung kadar C-organik dengan rumus :
C-organik(%)= !
Lampiran 5. Prosedur Penetapan C-organik Kotoran Sapi dengan Metode Pengabuan Kering
1. Timbang cawan yang akan digunakan untuk sampel yang akan di oven. Catat beratnya (A).
2. Timbang cawan (1) bersama dengan sampel kotoran sapi. Sampel kotoran sapi yang digunakan timbang sekitar 5 gram (B).
3. Oven selama 24 jam dengan suhu 105˚C.
4. Setelah 24 jam, timbang lagi berat cawan dan sampel tersebut. Catat nilainya (C).
5. Masukkan ke dalam tanur dengan suhu 700˚C untuk proses pembakaran selama 2 jam.
6. Diamkan selama ± 1 hari, buka tanurnya. Timbang beratnya (D). 7. Hitung kadar bahan organik dan kadar abunya dengan rumus :
Organik(%)= " # ! $ % Kadar abu(%)=" # # %
Lampiran 6. Prosedur Penetapan total Kotoran Sapi dengan Metode N-Kjeldahl
1. Timbang 0.5 gram kotoran sapi
2. Masukkan sampel tersebut ke dalam labu digestion
4. Tambahkan H2SO4 pekat 5 ml
5. Digestion selama 1 jam atau hingga sampel berubah warna menjadi kehijauan.
6. Lanjutkan digestion hingga ± 15 menit. Matikan alat digestion. Tunggu hingga agak dingin.
7. Masukkan sampel ke dalam labu destilasi.
8. Tambahkan air destilata ± 100 ml ke dalam labu destilasi 9. Kemudian tambahkan NaOH 50% sebanyak 20 ml
10. Untuk penampungnya, pipet 10 ml H3BO3 1 % pada labu Erlenmeyer 250 ml, kemudian tambahkan 5 tetes indicator Conway.
11. Destilasi dilakukan hingga ekstrak yang tertampung mencapai 75 ml. 12. Hasil destilasi kemudian di titrasi dengan HCl 0.05 N. Titik akhir titrasi
dicapai ketika warna berubah menjadi merah anggur.
13. Lakukan juga untuk penetapan blanko dengan cara yang sama tetapi tanpa menggunakan contoh kotoran sapi.
14. Hitung kadar N-totaldengan menggunakan rumus
N-total(%)=
Lampiran 7. Parameter Sifat Kimia Tanah
Parameter tanah Nilai
Sangat rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat tinggi
C (%) <1 1-2 2-3 3-5 >5 N (%) <0.1 0.1-0.2 0.21-0.5 0.51-0.75 >0.75 P2O5 HCl 25% (mg/100g) <5 5-10 11-15 16-25 >25 P2O5 Bray (ppm P) <4 5-7 8-10 11-15 >15 KTK (cmol (+)/100g) <5 5-16 17-24 25-40 >40 susunan kation Ca (cmol(+)/kg) <2 2-5 6-10 11-20 >20 Mg (cmol(+)/kg) <0.3 0.4-1 1.1-2.0 2.1-8.0 >8 K (cmol(+)/kg) <0.1 0.1-0.3 0.4-0.5 0.6-1.0 >1 Na (cmol(+)/kg) <0.1 0.1-0.3 0.4-0.7 0.8-1.0 >1 KB (%) <20 20-40 41-60 61-80 >80 kejenuhan Al (%) <5 5-10 11-20 20-40 >40
(Balai Penelitian Tanah,2005)
Parameter Kemasaman Tanah
sangat masam masam agak masam netral agak alkalis alkalis pH H2O <4.5 4.5-5.5 5.5-6.5 6.5-7.5 7.6-8.5 >8.5 (Balai Penelitian Tanah,2005)