KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Pemberian latihan pada pasien stroke stadium recovery ini sangat bermanfaat karena dapat membantu dalam proses penyembuhan sehingga pemberian latihan harus diberikan sedini mungkin agar tujuan dapat tercapai lebih optimal. Penanganan fisioterapi yang diberikan yaitu deep breathing exercise, positioning, serta mobilisasi dini.
Pada pasien ini, selain mendapatkan terapi latihan dari fisioterapi juga mendapatkan terapi medika mentosa dari dokter. Sehingga tidak disimpulkan bahwa terapi latihan yang diberikan oleh fisioterapi aja yang mempunyai andil. Selain itu dari diri pasien sendiri juga ikut menentukan keberhasilan terapi latihan ini, dimana motivasi untuk berlatih juga ikut berperan.
Penatalaksanaan terapi latihan dengan : a) gerak pasif dan posisioning karena adanya peningkatan tonus/spastisitas, sehingga diharapkan dapat mengurangi spastisitas. Sehingga meningkatkan voluntary movement, selain itu juga dapat mencegah terjadinya kontraktur dan decubitus. Setelah dilakukan terapi sebanyak 6 kali didapatkan penurunan spastisitas dan tidak terjadi kontraktur dan decubitus, b) latihan gerak aktif pada pola gerak fungsional akan memperbaiki gerak dan fungsi, setelah dilakukan terap sebanyak 6 kali didapatkan perubahan
88
fungsional pasien dapat duduk kemudian berdiri walaupun dengan bantuan terapis, c) edukasi yang diberikan kepada pasien untuk sering menggerakan anggota gerak yang sakit memberikan hasil peningkatan kekuatan otot, d) dengan terapi latihan berupa breathing exercise bermanfaat untuk menjaga mobilitas sangkar thorak, sehingga kapasitas paru juga tetap terjaga selain itu juga breathing
exercise berguna untuk mencegah penumpukan cairan mukus akibat tirah baring
lama.
Ada beberapa faktor yang mendukung keberhasilan terapi yang diberikan, antara lain (1) derajat kerusakan area yang terkena, makin besar derajat area yang terkena maka prognosis kesembuhannya juga cukup lama, (2) lokasi atau area yang terkena, akan menyebabkan gangguan neurologis yang berbedassuai fungsinya, (3) usia penderita, makin muda usianya prognosis kesembuhan semakin tinggi karena neuron-neuron masih bekerja dengan baik, (4) pemberian terapi awal dan intensitas latihan rutin akan membanu terbentuknya lintasn penghubung baru dan fungsi yang lebih aktif dari neuron-neuron yang semula pasif akan memacu perbaikan-perbaikan fungsional di otak dengan latihan pencegahan disuded athropy sehingga terjadi keselarasan antara perbaikan di tingkat pusat dan terpeliharanya kondisi otot-otot penggerak (Junaidi, 2003).
89
B. SARAN
Dalam menangani permasalahan yang cukup komplek pada pasien pasca stroke stadium recovery ini, sangat diperlukan kerjasama dari berbagai pihak (tim medis, keluarga pasien serta pasien itu sendiri) agar dapat tercapai hasil yang optimal dalam proses penyembuhannya. Dalam hal ini pasien disarankan untuk tetap semangat melakukan latihan secara rutin seperti yang diajarkan terapis serta menghindari faktor-faktor resiko agar tidak terjadi serangan stroke berulang seperti DM, hipertensi, kolestrol. Kepada keluarga pasien disarankan untuk tetap memberikan dukungan dan motivasi kepada pasien.
Peran fisioterapi pada pasien pasca stroke sangat penting untuk mencegah terjadinya penurunan kapasitas fisik dan kemampuan fungsional sehingga dalam memberikan terapi latihan perlu diberikan secara efektif dan efisien baik intensitas maupun frekuensi pemberian terapi. Untuk itu sebagai fisioterapis disarankan memiliki ilmu dan pengetahuan yang memadai, memberikan pelayanan dengan sebaik mungkin dan meningkatkan kerjasama dengan tenaga medis yang lain, keluarga pasien maupun pasien itu sendiri serta selalu memberikan motivasi kepada pasien.
Dengan memperhatikan hal-hal tersebut diatas, maka diharapkan nantinya dapat memberikan hasil yang lebih baik bagi penyembuhan penderita stroke haemoragik.
DAFTAR PUSTAKA
Auryn, V, 2007; Mengenal & Memahami Stroke, Kata Hati, Ar-Ruzz Media, Sleman, Yogyakarta.
Chusid, JG 1993; Neuroanatomi Korelatif Dan Neurologi Fungsional, cetakan ke empat, Gajah Mada University Press, Yogyakarta.
Duus, Peter .1996; Diagnosis Topik Neurologi: Anatomi, Fisiologi, Tanda,
Gejala, cetakan pertama, EGC, Jakarta.
Feigin, V, 2006; Stroke , Bhuana Ilmu Populer Jakarta.
Garrizon, 1995; Dasar-dasar Terapi dan Rehabilitasi Medik, alih bahasa Anton C. Widjaya, Hipokrates, Jakarta.
Hamid, 1992; Rehabilitasi Fisik/Medik Penderita Stroke, Unit Rehabilitasi Medik,
RSUD Dr. Soetomo/FK Unair, Surabaya.
Harsono, 2000; Kapita Selekta Neurologi, Gadjah Mada University, Yogyakarta.
Junaidi, Iskandar, 2006; Stroke A-Z, PT Buana Ilmu Popular, Jakarta.
Johnstone, 1987; The Stroke Patient: A Team Approach, Churchill Livingstone, London.
Johnstone, 1991; Therapy for Stroke, Churchill Livingstone, London.
Kisner, Carolyn, and Lynn, Colby, 1996; Therapeutic Exercise Foundation and Technique, Third edition, F.A Davis Company. Philadelphia.
Kuntono, Heru P, 2002; Penatalaksanaan Stimulasi Elektris Pada Penderita
Stroke; Surakarta.
Levenson, C.R, 1992; Breathing Exercise, in Zadai, C.C; Pulmonary Management
in Physical Therapy, Churchill Livingstone, New York.
Lumbantobing, 2004; Bencana Peredaran Darah di Otak, Balai Penerbit Fakultas
Margono, 2007; Stroke, Diakses tanggal 6/11/2007, dari http://klikharry.wordpress.com/category/science/
Muslihuddin, Adji, dkk, 1996 ; Standar Profesi Fisioterapi di Rumah Sakit,
Depkes RI, Jakarta.
Price & Wilson, 1995; Fisiologi Proses-proses Penyakit,Edisi IV, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Setiawan, 2002; Assesment pada Penderita Stroke; Pelatihan FT IV: Optimalisasi
Fungsi Senso-Motorik pada Penderita Stroke; Jakarta
Setiawan, 2007; Teori Plastisitas; Workshop Dimensi Baru Penatalaksanaan Fisioterapi pada Kasus Stroke Secara Paripurna, IKM Prodi D iv Fisioterapi, Surakarta.
Sidharta, Priguna, 1995; Neurologi Klinis Dalam Praktek Umum, Cetakan kelima,
Jakarta Dian Rakyat.
Sidharta, Priguna, 1999 ; Tata Pemeriksaan Klinis dalam Neurologi, cetakan ketiga, Dian Rakyat, Jakarta.
Snell, Richard, 2007; Neuroanatomi Klinik, edisi kedua., EGC, Jakarta.
Soehardi, 1992; Fisioterapi pada Stroke dengan Pendekatan M. Johnstone,
Jakarta: IKAFI & YASTROKI.
Soeparman, 2004; Panduan Senam Stroke, Puspa Swara, Jakarta.
Sukadarwanto, 2002; Pelatihan Konsep Maju Fisioterapi Pada Tumbuh
Kembang, Sasana Husada Pro Fisio, Jakarta.
Suyono, A., 1992; Gangguan Sensori Motor pada Penderita Hemiplegi Pasca
Stroke, Workshop Fisioterapi pada Stroke, IKAFI Jakarta.
VitaHealth, 2003; Stroke, Edisi kedua, PT Gramedia, Jakarta.
YASTROKI, 2007; Stroke Pembunuh no.3 di Indonesia, Diakses tanggal