• Tidak ada hasil yang ditemukan

5.1 Kesimpulan

Analisa simulasi model FLLS di ruas Jl. M.H. Thamrin menunjukkan, nilai emisi maksimum CO terjadi pada hari kerja, yaitu pada pukul 08:00-09:00 sebesar 53.65 mg/m.s dengan nilai konsentrasi CO maksimum terjadi pada tanggal 24 Maret 2008 pukul 06:00-07:00 sebesar 3.19 mg/m3. Nilai konsentrasi CO tersebut secara umum masih dibawah nilai baku mutu udara ambien untuk pengukuran 24 jam (9 mg/m3). Hal ini mengindikasikan bahwa konsentrasi CO dalam waktu paparan 24 jam masih dalam kondisi yang aman bagi kesehatan manusia. Sedangkan untuk nilai emisi maksimum NOx, terjadi pada hari kerja sebesar 3.87 mg/m.s dengan nilai konsentrasi NOx maksimum terjadi pada tanggal 24 Maret 2008 pukul 06:00-07:00, sebesar 235.31 µg/m3. Nilai konsentrasi NOx tersebut secara umum sudah berada di atas nilai baku mutu udara ambien untuk pengukuran 24 jam (92.5 µg/m3). Hal ini mengindikasikan bahwa konsentrasi NOx

dalam waktu paparan 24 jam sudah dalam kondisi yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

Pengujian dan analisa validasi akurasi melalui perbandingan hasil pemodelan dengan data pemantauan menjabarkan sebanyak 55 % hasil pemodelan ≤ kali dari hasil pemantauan roadside dengan nilai rata-rata konsentrasi CO hasil pemodelan sebesar 0.81 mg/m3 dan pemantauan sebesar 1.83 mg/m3. Sedangkan perbandingan yang lebih rendah diperoleh dari polutan NOx, yaitu sebanyak 45 % hasil pemodelan ≤ 2 kali dari hasil pemantauan dengan nilai rata-rata

konsentrasi NOx hasil pemodelan sebesar 57.16 µg/m3 dan pemantauan sebesar 29.09 µg/m3. Sehingga penggunaan validasi perbandingan lebih cocok diterapkan pada polutan inert seperti CO.

Pada kondisi stabilitas atmosfer yang sama, semakin tinggi kecepatan angin berhembus maka konsentrasi polutan CO yang dihasilkan semakin rendah. Didapat untuk kecepatan angin 0.81 m/s; 2.11 m/s; dan 3.41 m/s pada stabilitas sangat tidak kuat, konsentrasi maksimum yang terukur pada masing-masing kecepatan angin sebesar 0.0989 mg/m3; 0.0380 mg/m3; dan 0.0235 mg/m3. Sedangkan pada nilai kecepatan angin yang sama, semakin stabil kondisi stabilitas atmosfer maka downwind konsentrasi maksimum yang dicapai semakin jauh. Didapat pada kondisi atmosfer sangat tidak stabil, downwind konsentrasi maksimum terjadi pada jarak 443 m disusul kondisi tidak stabil sedang dan sedikit tidak stabil masing-masing sebesar 919 m dan 1720 m.

5.2 Saran

1. Pada pengembangan model sumber garis selanjutnya perlu dipertimbangkan reaksi kimia untuk polutan yang bersifat tidak stabil secara kimia (non-inert).

2. Validasi konsentrasi polutan dapat lebih representatif bila menambahkan beberapa titik reseptor dari segmen jalan dalam pemantauan dan pengukuran langsung di lapangan.

3. Penerapan Mass Rapid Transport (MRT) mutlak diperlukan untuk mengurangi laju pertumbuhan kendaraan bermotor di Jakarta dan pencemaran udara yang ditimbulkannya.

45

DAFTAR PUSTAKA

Arya, S.P. 1999. Air Pollution Meteorology and Dispersion. Oxford University. New York.

Asmawi, A.D. 1996. Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor: Suatu Eksperimen Penggunaan Bahan Bakar Minyak Solar dan Substitusi Bahan Bakar Minyak Solar-Gas. [Tesis]. Program Studi Ilmu Lingkungan, Universitas Indonesia, Jakarta.

Benson, P.E. 1979. CALINE3 - A Versatile Dispersion Model for Predicting Air Pollutant Levels Near Highways and Arterial Streets. California Department of Transportation. Report No. FHWA/CA/TL-79/23.

Benson, P.E., 1992. A Review of the Development and Application of the CALINE-3 and CALINE-4 Models. Atmospheric Environment 26B (3), 379-390.

Botkin, D.B. dan Keller E.A. 2005. Environmental Science: Earth as a Living Planet. John Wiley & Sons. USA.

[BPLHD] Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup DKI Jakarta. 2006. Pemantauan Kualitas Udara Ambien Tahun 2006.

Brimblecombe, P. 1986. Air Compotition and Chemistry. Cambridge University Press. Great Britain.

Broderick, B., Budd, U., Misstear, B., Jennings, G., dan Ceburnis, D. 2006. Air Pollution – analysis of Air Dispersion Models for Irish Road Conditions. Synthesis Report. Ireland.

Calder, K.L., 1973. On Estimating Air Pollution Concentrations From a Highway in an Oblique Wind. Atmospheric Environment 7, 863-868. Connel, D.W. 2005. Basic Concepts of

Environmental Chemistry, 2nd ed. Taylor and Francis. USA. 253-275 pp Cooper, D.C. dan Alley F.C. 1994. Air

Pollution Control. Waveland Press, Inc. Illinois.

de Nevers, N. 1995. Air Pollution Control Engineering. McGraw-Hill, Inc. New York. 507 pp.

Dilley, J.F. dan Yen, K.T. 1971. Effect of Mesoscale Type Wind on the Pollutant Distribution From a Line Source. Atmospheric Environment 5. 843-851.

Forsdyke. 1970. Meteorological Factors in Air Pollution. Technical note No. 114. WMO. Geneva. Switzerland. 3-5 pp. Hakiki, M. 2008. Pendugaan Konsentrasi SO2

Permukaaan menggunakan model Gaussian (Studi Kasus PT. YIMM, Jakarta). [Skripsi]. Departemen Geofisika dan Meteorologi, FMIPA, Institut pertanian Bogor.

Handoko. 1993. Klimatologi Dasar. Bab IV Suhu Udara. Dalam Handoko, editor. Balai Pustaka. Jakarta. 37-50 pp. Hesketh, H.E. 1979. Air Pollution Control.

Ann Arbor Science Publishers Inc. Michgian. USA. 24-75 pp

Hill, M.K. 2006. Understanding Environmental Pollution, 2nd ed. Cambridge University Press. United Kingdom.

Irwin, J.S. Estimating Plume Dispersion- A Comparison of Several Sigma Schemes. Journal of Climate and Apllied Meteorology. 22. 92 – 114. Jin, H. dan Raman, S. 1995. Dipersion of an

Elevated Release in a Coastal Region. J. Appl. Meteor. 35. 1611-1624 pp. Karakitsios, S.P., Dellis V.K., Kassomenos

P.A, dan Pilidis G.A. 2006. Contribution to ambient Benzene Concentrations in the Vicinity of Petrol Stations: Estimation of the Associated Health Risk. Elsevier. Karppinen, A., Joffre, S. M., dan Kukkonen, J.

2000a. The Refinement of a Meteorological Preprocessor fot the urban Environment. Atmospheric Environmental. 14. 1 – 6.

Karppinen, A., Kukkonen, J., Elolähde, T., Konttinen, M., Koskentalo, T., dan Rantakrans, E. 2000b. A modelling System for Predicting Urban Air [Pollution: Comparison of Model Predictions with the Data of an Urban Measurement Network Helsinki. Atmospheric Environmental. 34. 3735-3743.

[KLH Indonesia] Kantor Lingkungan Hidup Indonesia. Status Lingkungan Hidup Indonesia. 2002. Bab III Udara dan Atmosfer. 32-55 pp.

[KLH Indonesia] Kantor Lingkungan Hidup Indonesia. 2006. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 5 Tahun 2006 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor. Jakarta.

46 [KLH Indonesia] Kantor Lingkungan Hidup

Indonesia. Pedoman Faktor Emisi Kendaraan. 2007. Jakarta.

Liu dan Lipták. 2000. Air Pollution. Lewis Publisher. New York. 41-47 pp. Madany, I.M. dan Danish, S. 1993. Spatial

and Temporal Patterns in Nitrogen Dioxide Concentrations in a Hot Desert Region. Atmospheric Environment. 27A. 2385-2391. Modern Pollution Control Technology, Vol. 1.

1980. Research and Education Association. Madison Avenue. New York. 1.1 – 8.2 pp.

Nagendra, S.M.S dan Khare, M. 2002. Line Source Emission Modelling. Department of Civil Engineering. India Institute of Technology. Hauz Khas. New Delhi. India

Nasstrom, J.S, Sugiyama, G., Leone, J.M., dan Ermak, D.L. 1999. A Real-Time Atmospheric Dispersion Modelling System. U.S Department of Energy. USA.

Oke, T.R. 1987. Boundary Layer Climates. Routhledge. London.

Pasquill, F. 1974. Atmospheric Diffusion, 2nd ed. Ellis Horwood Ltd. Chichester. England. 365 – 380 pp.

Paumier, J.O, Steven G. Perry, dan Dona J. Burns. 1992. CTDMPLUS: A Dispersion Model for Sources Near Complex Topography. Part II: Performance Characteristics. J. Apll. Meteor. 31. 646-660.

[PDAT] Pusat Data dan Analisis Tempo. 2004.

Transportasi Kota.

[12 Maret 2008].

Purwanto, E. 2001. The Cost Benefit Analysis Air Pollution Control Program for Vehicle in Indonesia Case Study. [Thesis]. University Environmental Engineering and Management. Technische Universität Graz.

Pusparini, M. 2002. Evaluasi Tingkat Pencemaran Udara Berdasarkan Konsentrasi Udara Ambien di DKI Jakarta. [Skripsi]. Departemen Geofisika dan Meteorologi, FMIPA, Institut pertanian Bogor.

[PPPPL] Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkotaan dan Lingkungan, DKI Jakarta. 1990. Studi Pola Penyebaran Udara di DKI Jakarta. 30-32 pp. Qin, Y. dan Chan L.Y . 1993. Traffic Source

Emission and Street Level Air

Pollution in Urban Areas of Guangzhou, South China (P.R.C). Atmospheric Environment. 27B. 275-282.

Satria, N. 2006. Pendugaan Konsentrasi Karbonmonoksida (CO) dari Sumber Garis (Transportasi) Menggunakan Box-Model “Street Canyon”. [Skripsi]. Departemen Geofisika dan Meteorologi, FMIPA, Institut pertanian Bogor.

Seinfeld, J.H. 1986. Atmospheric Chemistry and Physics, 1st ed. John Wiley & Sons. USA.

Seinfeld, J.H. dan Pandis, S.N. 2006. Atmospheric Chemistry and Physics: From Air Pollution to Climate Change, 2nd ed. John Wiley & Sons. USA. Septiyanzar, R.A. 2008. Analisia Trayektori

Polutan Udara dari Sumber Garis di Kota Jakarta Menggunakan The Air Polution Model (TAPM). [Skripsi]. Departemen Geofisika dan Meteorologi, FMIPA, Institut pertanian Bogor.

Sharan, M., Yadav, A. K., Singh, M. P., Agarwal, P., dan Nigam, S. 1995. A Mathematical Model for The Dispertion of Air Pollutants in Low Wind Conditions. Center for Atmospheric Sciences. Indian Institute Technology. New Delhi. India. Shir, C.C. dan Shieh L.J. 1974. A generalized

Urban Air Pollution Model and Its Application to the Study of SO2

Distributions in the St. Louis Metropolitan Area. J. Appl. Meteor. 13. 185-204.

Stull, R. dan Ainslie, B. 2006. A Simple Model for Pollution Dispersion in a Convective Boundary Layer. J. Appl. Climate and Meteor. 45. 1727-1743. Sumaryati. 2007. Penetapan Beban Emisi

Maksimum CO di Kawasan Industri Dayeuh Kolot. [Tesis]. Program Studi Teknik Lingkungan, Institut Teknologi Bandung.

Visconti, G. 2001. Fundamentals of Physics and Chemistry of the Atmosphere. Springer-Verlag. Germany.

Waco, D. 1970. A Statistical Analysis of Wind and Temperature Variables Associated with High Altitude Clear Air Turbulance. J. Appl. Meteor. 9. 300-320.

Wardhana, W.A. 2004. Dampak Pencemaran Lingkungan. Penerbit Andi. Yogyakarta.

47 Lampiran 1. Aplikasi dan batasan model pada model sumber garis terpilih berdasarkan tahun

perkembangannya

No. Model Aplikasi Batasan Model

Tipe Polutan Lokasi Reseptor; Tipe Lalu Lintas 1. California Line Source Model (1972) CO, NOx, SPM Roadside; Homogen Kecenderungan memprediksi konsentrasi polutan tinggi searah angin; Tidak diukur efek kepulan polutan akibat suhu tinggi pada gas buangan kendaraan.

2. HIWAY-1 (1975)

CO Roadside;

Homogen

Prediksi lemah pada kecepatan angin lemah; Over-estimates konsentrasi polutan pada kondisi atmosfer stabil dan searah angin; Tidak diukur efek kepulan polutan akibat suhu tinggi pada gas buangan kendaraan. 3. CALINE-2

(1977)

CO, NOx, SPM Roadside; Homogen

Prediksi lemah pada stabilitas netral dan tidak stabil; Over-predicts konsentrasi polutan pada kasus searah angin dan dibawah prediksi untuk kondisi angin sembarang. 4. GM Model

(1978)

CO Roadside;

Homogen

Kecenderungan over-predicts konsentrasi pada kondisi searah angin; Prediksi lemah pada kecepatan angin lemah.

5. CALINE-3 (1979) CO, NOx, SPM Roadside; Homogen Kecenderungan memprediksi konsentrasi tinggi pada kondisi searah angin; Tidak diperhitungkannya turbulensi termal

dan mekanik akibat gas buangan kendaraan.

6. HIWAY-2 (1980)

CO Roadside;

Homogen

Parameter dispersi yang tidak mencukupi; Tidak diukur efek kepulan polutan akibat suhu tinggi pada gas buangan kendaraan. 7. HIWAY-3

(1980)

CO Roadside;

Homogen

Prediksi lemah pada kecepatan angin lemah; Kecenderungan memprediksi konsentrasi tinggi pada kondisi searah angin; Tidak diukur efek kepulan polutan akibat suhu tinggi pada gas buangan kendaraan. 8. HIWAY-4

(1980)

CO Roadside;

Homogen

Kecenderungan memprediksi konsentrasi tinggi pada kondisi searah angin; Tidak diukur efek kepulan polutan akibat suhu tinggi pada gas buangan kendaraan. 9. CALINE-4 (1989) CO, NOx, Aerosol Roadside; Homogen Kecenderungan memprediksi konsentrasi tinggi pada kondisi searah angin. 10. ISCST-2 (1992) CO, NOx, SPM Roadside; Homogen

Tidak diperhitungan turbulensi akibat panas dari gas buangan

48 Lampiran 2. Volume lalu lintas Jl. M.H. Thamrin

Lokasi pengamatan: Depan Gedung ESDM (Jl. M.H. Thamrin)

Volume lalu lintas hari kerja

Jenis Kendaraan Total 10 menit Total 1 Jam Pukul Motor 2 tak Motor 4 tak Mobil (Bensin) Mobil (Solar) Bus/Truk Besar Bus/Truk Sedang 06:00‐07:00  0  336  199  90  3  8  636  3816 07:00‐08:00  0  1020  218  85  17  22  1362  8172 08:00‐09:00  0  1099  401  156  19  15  1690  10140 09:00‐10:00  0  853  363  169  14  13  1412  8472 10:00‐11:00  0  792  455  211  9  14  1481  8886 11:00‐12:00  0  693  416  198  2  2  1311  7866 12:00‐13:00  0  530  366  183  4  5  1088  6528 13:00‐14:00  0  802  227  107  4  3  1143  6858 14:00‐15:00  0  678  484  213  16  11  1402  8412

Volume lalu lintas hari libur

Jenis Kendaraan Total 10 menit Total 1 Jam Pukul Motor 2 tak Motor 4 tak Mobil (Bensin) Mobil (Solar) Bus/Truk Besar Bus/Truk Sedang 06:00‐07:00  0  108  119  63  21  1  312  1872 07:00‐08:00  0  155  108  61  22  0  346  2076 08:00‐09:00  0  235  191  84  24  7  541  3246 09:00‐10:00  0  240  291  161  35  11  738  4428 10:00‐11:00  0  269  218  98  25  8  618  3708 11:00‐12:00  0  193  273  145  4  4  619  3714 12:00‐13:00  0  229  343  183  4  4  763  4578 13:00‐14:00  0  260  440  241  7  4  952  5712 14:00‐15:00  0  210  461  239  5  8  923  5538

49 Lampiran 3. Data kualitas roadside dan fixed station

Tanggal Pukul Fixed monitoring (JAF 5) Roadside

CO (mg/m3) NOx (µg/m3) CO (mg/m3) NOx (µg/m3) 24 Des. 2007 06:00-07:00 0.52 25.58 0.85 30.97 07:00-08:00 0.65 33.85 1.74 62.66   08:00-09:00 0.55 25.92 2.33 71.73   09:00-10:00 0.48 32.22 1.97 46.37   10:00-11:00 0.48 11.26 1.26 31.17   11:00-12:00 0.42 14.16 1.29 44.93   12:00-13:00 0.36 18.41 1.29 50.05   13:00-14:00 0.37 17.3 1.18 44.96 21 Jan. 2008 06:00-07:00 1.76 39.45 1.92 53.6   07:00-08:00 0.53 40.72 2.27 49.04   08:00-09:00 0.41 26.38 2.31 20.82   09:00-10:00 0.59 12.86 1.49 15.73   10:00-11:00 0.57 6.89 1.13 30.16   11:00-12:00 0.46 4.49 1.17 30.52   12:00-13:00 0.34 7.59 0.83 22.3   13:00-14:00 0.34 10.58 0.19 5.28 18 Feb. 2008 06:00-07:00 0.68 43.87 0.84 19.51   07:00-08:00 0.78 36.45 2.4 39.7   08:00-09:00 0.62 19.17 3.01 42.14   09:00-10:00 0.43 11.25 2.39 29.12   10:00-11:00 0.32 7.79 2.01 30.64   11:00-12:00 0.27 3.27 1.64 29.2   12:00-13:00 0.31 3.74 1.16 15.02   13:00-14:00 0.59 5.56 1.13 15.02 24 Mar. 2008 06:00-07:00 1.13 20.63 3.66 2.86   07:00-08:00 1.14 22.31 4.39 4.59   08:00-09:00 1.62 12.42 4.16 11.88   09:00-10:00 1.75 9.72 3.5 17.33   10:00-11:00 1.68 5.65 2.49 14.04   11:00-12:00 1.93 3.68 2.15 11.04   12:00-13:00 1.37 5.29 0.95 5.93   13:00-14:00 1.04 12.5 1.21 4.52 21 Apr. 2008 06:00-07:00 1.07 28.51 2.89 68.29   07:00-08:00 1.43 31.57 2.12 46.63   08:00-09:00 1.51 27.45 1.57 26.19   09:00-10:00 1.21 11.92 2.36 33.3   10:00-11:00 1.03 6.07 1.94 37.73   11:00-12:00 0.89 5.14 0.97 30.8   12:00-13:00 0.7 5.3 0.59 9.99   13:00-14:00 0.62 7.86 0.48 7.9

50 Lampiran 4. Data meteorologi pada hari kerja di ruas Jl. M.H. Thamrin

Tanggal Pukul Parameter Meteorologi

Radiasi (W/m2) Suhu Udara (0C) RH (%) Kec. Angin (m/s) Arah Angin (0) 24 Des. 2007 06:00-07:00 8.9 25.28 86.39 1.85 260.57 07:00-08:00 34.37 25.21 85.91 2.24 263.80   08:00-09:00 87.56 25 90.19 2.27 254.62   09:00-10:00 135.61 24.81 92.92 1.57 261.12   10:00-11:00 178.75 24.98 90.62 1.77 266.72   11:00-12:00 216.16 25.68 83.12 1.86 258.20   12:00-13:00 217.77 26.02 79.67 1.89 256.39   13:00-14:00 203.82 26.24 77.67 1.97 259.79 21 Jan. 2008 06:00-07:00 30.23 26.18 87.11 0.80 148.39 07:00-08:00 169.81 27.28 80.15 0.90 146.45   08:00-09:00 310.8 28.91 66.64 0.67 125.69   09:00-10:00 414.63 30.03 58.42 0.58 84.85   10:00-11:00 433.46 30.40 56.56 1.67 20.84   11:00-12:00 502.91 30.64 59.18 1.92 18.04   12:00-13:00 472.07 31.19 56.71 2.29 20.70   13:00-14:00 480.82 30.70 61.09 3.34 24.19 18 Feb. 2008 06:00-07:00 8.31 24.07 93.93 1.47 230.6 07:00-08:00 45.7 24.45 91.97 1.26 227.77   08:00-09:00 132.47 25.55 84.47 1.07 250.52   09:00-10:00 312.77 27.23 72.54 1.17 258.36   10:00-11:00 360.84 28.45 65.98 0.9 262.78   11:00-12:00 375.35 28.81 64.84 0.93 311.73   12:00-13:00 436.73 29.19 61.78 1.59 354.40   13:00-14:00 369.46 29.76 59.98 2.14 238.00 24 Mar. 2008 06:00-07:00 18.46 24.86 86.50 0.08 253.71 07:00-08:00 140.46 26.44 73.09 0.26 244.74   08:00-09:00 345.07 28.63 58.75 0.45 278.11   09:00-10:00 476.68 30.31 51.41 0.42 302.13   10:00-11:00 554.86 31.64 45.59 0.61 223.26   11:00-12:00 498.78 32.09 43.87 1.3 127.90   12:00-13:00 642.12 31.68 45.17 2.29 29.08   13:00-14:00 677.79 31.79 45.92 2.38 22.28 21 Apr. 2008 06:00-07:00 22.65 26.76 89.80 0.11 119.59 07:00-08:00 85.92 27.87 81.53 0.46 150.12   08:00-09:00 164.16 29.34 69.33 0.42 142.2   09:00-10:00 162.49 30.30 61.07 0.44 218.86   10:00-11:00 252.97 30.61 61.03 1.26 134.2   11:00-12:00 541.74 31.23 57.56 2.1 24.24   12:00-13:00 569.27 31.20 56.68 2.74 29.22   13:00-14:00 387.53 30.78 58.08 2.71 30.51

51 Lampiran 5. Beban wmisi CO dan NOx pada skenario hari kerja dan hari libur di ruas Jl. M.H.

Thamrin

Skenario Hari Kerja

PUKUL MOTOR 2TAK (mg/ms) MOTOR 4TAK (mg/m s) MOBIL BENSIN (mg/m s) MOBIL SOLAR (mg/m s) BUS/TRUK BESAR (mg/m s) BUS/TRUK SEDANG (mg/m s) EMISI CO (mg/m s) 06:00‐07:00  11.2000  7.9600  0.7800  0.0125  0.0707  20.0232  07:00‐08:00  34.0000  8.7200  0.7367  0.0708  0.1943  43.7218  08:00‐09:00  36.6333  16.040  1.3520  0.0792  0.1325  54.2370  09:00‐10:00  28.4333  14.520  1.4647  0.0583  0.1148  44.5912  10:00‐11:00  26.4000  18.200  1.8287  0.0375  0.1237  46.5898  11:00‐12:00  23.1000  16.640  1.7160  0.0083  0.0177  41.4820  12:00‐13:00  17.6667  14.640  1.5860  0.0167  0.0442  33.9535  13:00‐14:00  26.7333  9.0800  0.9273  0.0167  0.0265  36.7838  14:00‐15:00  22.6000  19.360  1.8460  0.0667  0.0972  43.9699 

Skenario Hari Kerja 

PUKUL MOTOR 2TAK (µg/m s) MOTOR 4TAK (µg/m s) MOBIL BENSIN (µg/m s) MOBIL SOLAR (µg/m s) BUS/TRUK BESAR (µg/m s) BUS/TRUK SEDANG (µg/m s) EMISI NOx (µg/m s) 06:00‐07:00  84.0000  2288.50  195.000  55.0000  20.0000  2645.50  07:00‐08:00  255.000  2507.00  184.167  311.670  55.0000  3312.83  08:00‐09:00  274.750  4611.50  338.000  348.330  37.5000  5610.08  09:00‐10:00  213.250  4174.50  366.167  256.670  32.5000  5043.08  10:00‐11:00  198.000  5232.50  457.167  165.000  35.0000  6087.66  11:00‐12:00  173.250  4784.00  429.000  36.6700  5.00000  5427.91  12:00‐13:00  132.500  4209.00  396.500  73.3300  12.5000  4823.83  13:00‐14:00  200.500  2610.50  231.833  73.3300  7.50000  3123.67  14:00‐15:00  169.500  5566.00  461.500  293.330  27.5000  6517.83  Skenario Hari Libur

PUKUL MOTOR 2TAK (mg/ms) MOTOR 4TAK (mg/m s) MOBIL BENSIN (mg/m s) MOBIL SOLAR (mg/m s) BUS/TRUK BESAR (mg/m s) BUS/TRUK SEDANG (mg/m s) EMISI CO (mg/m s) 06:00‐07:00  3,60000  4,76000  0,54600  0,08750  0,00883  9,00233  07:00‐08:00  5,16667  4,32000  0,52867  0,09167  10,1070  08:00‐09:00  7,83333  7,64000  0,72800  0,10000  0,06183  16,3633  09:00‐10:00  8,00000  11,6400  1,39533  0,14583  0,09717  21,2783  10:00‐11:00  8,96700  8,72000  0,84933  0,10417  0,07067  18,7108  11:00‐12:00  6,43300  10,9200  1,25667  0,01667  0,03533  18,6620  12:00‐13:00  7,63300  13,7200  1,58600  0,01667  0,03533  22,9913  13:00‐14:00  8,66670  17,6000  2,05867  0,02917  0,03533  28,4198  14:00‐15:00  7,00000  18,4400  2,07133  0,02083  0,07067  27,6028 

Skenario Hari Libur 

PUKUL MOTOR 2TAK (µg/m s) MOTOR 4TAK (µg/m s) MOBIL BENSIN (µg/m s) MOBIL SOLAR (µg/m s) BUS/TRUK BESAR (µg/m s) BUS/TRUK SEDANG (µg/m s) EMISI NOx (µg/m s) 06:00‐07:00  27.000  1368.5  136.50  385.00  2.500  1919.50  07:00‐08:00  38.750  1242.0  132.16  403.33  1816.25  08:00‐09:00  58.750  2196.5  182.00  440.00  17.50  2894.75  09:00‐10:00  60.000  3346.5  348.83  641.67  27.50  4424.50  10:00‐11:00  67.250  2507.0  212.33  458.33  20.00  3264.92  11:00‐12:00  48.250  3139.5  314.17  73.333  10.00  3585.25  12:00‐13:00  57.250  3944.5  396.50  73.333  10.00  4481.58  13:00‐14:00  65.000  5060.0  522.17  128.33  10.00  5785.50  14:00‐15:00  52.500  5301.5  517.83  91.667  20.00  5983.50 

52 Lampiran 6. Windrose Jl. M.H. Thamrin

24 Desember 2007 21 Januari 2008 18 Februari 2008 24 Maret 2008 21 April 2008 Kecepatan (m/s) Kecepatan (m/s) Kecepatan (m/s) Kecepatan (m/s) Kecepatan (m/s)

53 Lampiran 7. Baku mutu udara ambien

SK. GUBERNUR DKI JAKARTA NOMOR 551 TAHUN 2001

Parameter Waktu Pengukuran

1 Jam 3 Jam 24 Jam 1 Tahun Satuan Karbon Moksida 26000 - 9000 - µg/m3 Nitrogen Dioksida 400 - 92.5 60 µg/m3 Sulfur Dioksida 900 - 260 60 µg/m3 Oksidan 200 - 30 - µg/m3 Hidrokarbon - 160 - - µg/m3 Partikel < 10 µm - - 150 - µg/m3 Partikel < 2.5 µm - - 65 15 µg/m3 Debu - - 230 90 µg/m3 Timah Hitam - - 2 1 µg/m3

54 Lampiran 8. Pendugaan konsentrasi CO dan NOx Jl. M.H. Thamrin

Hari Kerja 24 Desember 2007

Pukul Kec.Angin Aktual (m/s) Jarak Reseptor-Sumber (m) Sigma Z (m) Konsentrasi CO (mg/m3) NOx (µg/m3) 06:00-07:00 1.83 59.19 14.62 0.12 16.37 07:00-08:00 2.23 59.19 11.84 0.27 20.78 08:00-09:00 2.19 59.19 11.84 0.35 35.79 09:00-10:00 1.55 59.19 14.62 0.33 36.76 10:00-11:00 1.77 59.19 14.62 0.30 38.96 11:00-12:00 1.82 59.19 14.62 0.26 33.71 12:00-13:00 1.84 59.19 14.62 0.21 29.70 13:00-14:00 1.94 59.19 14.62 0.21 18.22

Hari Kerja 21 Januari 2007

Pukul Kec.Angin Aktual (m/s) Jarak Reseptor-Sumber (m) Sigma Z (m) Konsentrasi CO (mg/m3) NOx (µg/m3) 06:00-07:00 0.42 59.19 14.62 0.54 70.94 07:00-08:00 0.50 59.19 14.62 1.00 75.07 08:00-09:00 0.54 59.19 14.62 1.13 116.58 09:00-10:00 0.58 59.19 14.62 0.87 98.72 10:00-11:00 0.59 59.19 14.62 0.89 115.87 11:00-12:00 0.59 59.19 14.62 0.79 103.23 12:00-13:00 0.81 59.19 14.62 0.47 67.42 13:00-14:00 1.37 59.19 14.62 0.30 25.81

Hari Kerja 18 Februari 2007

Pukul Kec.Angin Aktual (m/s) Jarak Reseptor-Sumber (m) Sigma Z (m) Konsentrasi CO (mg/m3) NOx (µg/m3) 06:00-07:00 1.14 59.19 14.62 0.20 26.31 07:00-08:00 0.93 59.19 14.62 0.53 40.15 08:00-09:00 1.01 59.19 14.62 0.61 62.89 09:00-10:00 1.14 59.19 14.62 0.44 49.76 10:00-11:00 0.89 59.19 14.62 0.59 77.10 11:00-12:00 0.93 59.19 14.62 0.50 66.03 12:00-13:00 1.53 59.19 14.62 0.25 35.62 13:00-14:00 1.82 59.19 14.62 0.23 19.46

Hari Kerja 24 Maret 2007

Pukul Kec.Angin Aktual (m/s) Jarak Reseptor-Sumber (m) Sigma Z (m) Konsentrasi CO (mg/m3) NOx (µg/m3) 06:00-07:00 0.08 59.19 14.62 2.95 389.14 07:00-08:00 0.24 59.19 14.62 2.10 159.32 08:00-09:00 0.45 59.19 14.62 1.38 142.40 09:00-10:00 0.36 59.19 14.62 1.42 160.34 10:00-11:00 0.42 59.19 14.62 1.26 164.67 11:00-12:00 1.03 59.19 14.62 0.46 59.83 12:00-13:00 1.11 59.19 14.62 0.34 49.01 13:00-14:00 0.90 59.19 14.62 0.46 39.15

55 Lampiran 8. (Lanjutan)

Hari Kerja 21 April 2007

Pukul Kec.Angin Aktual (m/s) Jarak Reseptor-Sumber (m) Sigma Z (m) Konsentrasi CO (mg/m3) NOx (µg/m3) 06:00-07:00 0.10 59.19 14.62 2.37 312.39 07:00-08:00 0.23 59.19 14.62 2.16 163.47 08:00-09:00 0.26 59.19 14.62 2.38 246.44 09:00-10:00 0.28 59.19 14.62 1.83 206.57 10:00-11:00 0.90 59.19 14.62 0.58 76.21 11:00-12:00 0.86 59.19 14.62 0.54 71.19 12:00-13:00 1.34 59.19 14.62 0.29 40.78 13:00-14:00 1.38 59.19 14.62 0.30 25.67

56

Lampiran 9. Perbandingan faktor emisi CO dan NO

x

pada berbagai kecepatan

Faktor Emisi CO (gr/km) Faktor Emisi NO

x

(gr/km)

Jenis

Kendaraan

Kecepatan (km/jam) Kecepatan (km/jam)

5-10 10-15 15-25 25-40 40-60 60-80

Rata-rata

5-10 10-15 15-25 25-40 40-60 60-80

Rata-rata

Sepeda

Motor

19.59 15.15 13.18 11.06 0 0 14.86 0.09 0.08 0.09 0.10 0 0 0.09

Mobil

penumpang

41.68 26.98 18.71 13.42 10.45 8.87 20.02 2.78 2.77 2.24 2.25 2.22 3.39 2.61

Taxi 29.11 18.85 30.07 9.38 7.31 6.20 16.82 2.67 2.37 2.00 1.98 1.94 2.72 2.28

Bus Kecil 55.75 40.52 30.31 21.52 14.54 14.36 29.50 4.78 6.69 6.21 5.97 8.06 7.45 6.53

Bus 33.22 24.46 18.65 13.70 9.79 9.26 18.18 16.79 14.25 11.73 10 10.77 10.30 12.31

Van 34.91 25.36 19.98 16.53 14.61 13.58 20.83 3.45 3.10 2.95 3.10 3.38 4.40 3.40

Truk-Pick

up

31.41 22.82 17.98 14.87 13.15 12.23 18.74 3.40 3.01 2.83 2.93 3.17 4.09 3.24

Truck 2

Axle

5.04 3.92 3.22 2.66 2.24 1.89 3.16 11.97 9.10 7.21 5.88 5.67 5.53 7.56

Truck 3

Axle

10.80 8.40 6.90 5.77 4.80 4.05 6.79 25.65 19.50 15.45 12.60 12.15 11.85 16.20

57 Lampiran 10. Fluktuasi perbandingan nilai konsentrasi CO pemodelan FLLS dan pemantauan

(roadside)

c d

b

e a

58 Lampiran 11. Fluktuasi perbandingan nilai konsentrasi NOx pemodelan FLLS dan pemantauan

(roadside)

a b

c d

59 Lampiran 12. Fluktuasi perbandingan nilai konsentrasi CO stasiun JAF 5 dan roadside

a b

d c

60 Lampiran 13. Fluktuasi perbandingan nilai konsentrasi NOx stasiun JAF 5 dan roadside

a b

c d

PENERAPAN MODEL FINITE LENGTH LINE SOURCE

UNTUK MENDUGA KONSENTRASI POLUTAN DARI SUMBER GARIS

(STUDI KASUS: JL. M.H. THAMRIN, DKI JAKARTA)

EKO SUPRIYADI

DEPARTEMEN GEOFISIKA DAN METEOROLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

PENERAPAN MODEL FINITE LENGTH LINE SOURCE

UNTUK MENDUGA KONSENTRASI POLUTAN DARI SUMBER GARIS

(STUDI KASUS: JL. M.H. THAMRIN, DKI JAKARTA)

EKO SUPRIYADI

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Sarjana Sains

pada Departemen Geofisika dan Meteorologi

DEPARTEMEN GEOFISIKA DAN METEOROLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Karya kecil ini kudedikasikan untuk kemajuan

Ilmu pengetahuan di Indonesia

LEMBAR PENGESAHAN

Judul

 

Penelitian

  : 

Penerapan Model Finite Length Line Source untuk

Menduga Konsentrasi Polutan Sumber Garis

(Studi Kasus: Jl. M.H. Thamrin, DKI Jakarta)

Nama : Eko Supriyadi

NIM : G24104005

Menyetujui:

Pembimbing I, Pembimbing II,

Dr. Ir. Imam Santosa, MS Ana Turyanti, S.Si, MT

NIP. 130804894 NIP. 132215102

Mengetahui:

Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Institut Pertanian Bogor

Dr. Drh. Hasim, DEA

NIP. 131578806

1

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan Kota DKI Jakarta yang semakin pesat, ditambah dengan perkembangan kota-kota penyangga di sekitarnya seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi telah membuat sistem transportasi jalan raya mengalami tingkat kompleksitas yang tinggi. Jumlah kendaraan yang semakin hari terus bertambah, sementara pembangunan infrastruktur berupa jalan dan fasilitasnya seperti terminal, persimpangan, petunjuk-pengatur lalu lintas, dan pengembangan jaringan jalan tidak bisa mengimbanginya, ditambah mobilitas warga yang semakin tinggi, menjadikan banyak persoalan dalam sistem transportasi. Persoalan transportasi ini selanjutnya menimbulkan masalah berupa tidak terpeliharanya ketertiban, keamanan, dan kesehatan.

Di Jakarta, lalu lintas di jalan-jalan utama pada jam sibuk pagi dan sore hari hanya bergerak 12 km/jam. Dampak yang ditimbulkan fantastis, kerugian sosial yang diderita masyarakat lebih dari 17,2 triliun rupiah per tahun akibat pemborosan nilai waktu dan biaya operasi kendaraan (terutama bahan bakar). Belum lagi emisi gas buang diperkirakan sekitar 25.000 ton per tahun (PDAT, 2004). Dampak pada tahap selanjutnya adalah menurunnya produktivitas ekonomi kota dan merosotnya kualitas hidup warga kota akibat emisi transportasi kendaraan bermotor.

Pemantauan kualitas udara yang telah dilakukan oleh KLH di Jakarta menunjukkan 70% dari total emisi yang dibuang ke udara berasal dari gas buang kendaraan bermotor (KLH, 2002). Hal tersebut menjadi wajar jika melihat jumlah kendaraan bermotor di DKI Jakarta sampai akhir tahun 2007 mencapai 5,798,002 unit yang terdiri dari 1,547,336 unit mobil penumpang; 256,766 unit bus; 414,278 unit truk beban; dan 3,579,622 unit sepeda motor (Polda Metro Jaya, 2008). Kenaikan jumlah kendaraan tersebut tidak hanya menimbulkan permasalahan lalu lintas yang serius, tetapi menambah intensitas emisi bahan pencemar ke udara.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah berupaya untuk mengurangi laju pencemaran udara yang ditimbulkan akibat transportasi kendaraan bermotor di Jakarta. Upaya-upaya tersebut antara lain penerapan hari bebas kendaraan bermotor sekali dalam

setiap bulan dan pelaksanaan proyek koridor Trans-Jakarta yang tertuang sebagai usulan pola transportasi makro 2010.

Sebagai upaya untuk mengetahui penyebaran konsentrasi polutan dari sektor transportasi, maka diperlukan analisa lebih lanjut mengenai tingkat emisi pencemar dari kendaraan bermotor. Salah satu metode yang digunakan dalam penentuan penyebaran konsentrasi polutan adalah melalui model matematika. Pemodelan jenis ini menggunakan pendekatan teori berdasarkan pengamatan di lapang. Sehingga model matematis dinilai lebih baik dalam menjelaskan dan memisahkan proses dinamika atmosfer berdasarkan skala spasial dan temporal (Seinfeld dan Pandis, 2006). Salah satu pemodelan matematis penyebaran polutan sumber garis (transportasi) adalah model Finite Length Line Source (FLLS).

1.2 Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk:

1. Memprediksi kualitas udara ambien menggunakan model FLLS.

2. Membandingkan konsentrasi pencemar hasil permodelan terhadap pemantauan kualitas udara roadside.

3. Mengidentifikasi konsentrasi polutan sumber garis pada berbagai kondisi stabilitas dan kecepatan angin menggunakan solusi analitik persamaan dispersi bentuk Gaussian.

1.4 Ruang lingkup

Penelitian ini membatasi persoalan dengan ruang lingkup:

1. Studi kasus pemodelan dispersi polutan dilakukan sepanjang Jl. M.H. Thamrin 2. Parameter pencemar yang digunakan

dalam pemodelan dan pemantauan adalah CO dan NOx.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Pencemaran Udara

Seinfeld (1986) mendefinisikan pencemaran udara sebagai kondisi atmosfer ketika suatu substansi konsentrasi pencemar melebihi batas konsentrasi udara ambien normal yang menyebabkan dampak terukur pada manusia, hewan, tumbuhan dan material. Lebih lanjut, substansi tersebut dapat berasal dari sifat alami atau aktivitas manusia maupun campuran diantara keduanya. Arya (1999) menambahkan bahwa pencemaran udara selain berdampak

1

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan Kota DKI Jakarta yang semakin pesat, ditambah dengan perkembangan kota-kota penyangga di sekitarnya seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi telah membuat sistem transportasi jalan raya mengalami tingkat kompleksitas yang tinggi. Jumlah kendaraan yang semakin hari terus bertambah, sementara pembangunan infrastruktur berupa jalan dan fasilitasnya seperti terminal, persimpangan, petunjuk-pengatur lalu lintas, dan pengembangan jaringan jalan tidak bisa mengimbanginya, ditambah mobilitas warga yang semakin tinggi, menjadikan banyak persoalan dalam sistem transportasi. Persoalan transportasi ini selanjutnya menimbulkan masalah berupa tidak terpeliharanya ketertiban, keamanan, dan kesehatan.

Di Jakarta, lalu lintas di jalan-jalan utama pada jam sibuk pagi dan sore hari hanya bergerak 12 km/jam. Dampak yang ditimbulkan fantastis, kerugian sosial yang diderita masyarakat lebih dari 17,2 triliun rupiah per tahun akibat pemborosan nilai waktu dan biaya operasi kendaraan (terutama bahan bakar). Belum lagi emisi gas buang diperkirakan sekitar 25.000 ton per tahun (PDAT, 2004). Dampak pada tahap selanjutnya adalah menurunnya produktivitas ekonomi kota dan merosotnya kualitas hidup warga kota akibat emisi transportasi kendaraan bermotor.

Pemantauan kualitas udara yang telah dilakukan oleh KLH di Jakarta menunjukkan 70% dari total emisi yang dibuang ke udara berasal dari gas buang kendaraan bermotor (KLH, 2002). Hal tersebut menjadi wajar jika melihat jumlah kendaraan bermotor di DKI Jakarta sampai akhir tahun 2007 mencapai 5,798,002 unit yang terdiri dari 1,547,336 unit mobil penumpang; 256,766 unit bus; 414,278 unit truk beban; dan 3,579,622 unit sepeda motor (Polda Metro Jaya, 2008). Kenaikan jumlah kendaraan tersebut tidak hanya menimbulkan permasalahan lalu lintas yang serius, tetapi menambah intensitas emisi bahan pencemar ke udara.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah berupaya untuk mengurangi laju pencemaran udara yang ditimbulkan akibat transportasi kendaraan bermotor di Jakarta. Upaya-upaya tersebut antara lain penerapan hari bebas kendaraan bermotor sekali dalam

setiap bulan dan pelaksanaan proyek koridor Trans-Jakarta yang tertuang sebagai usulan pola transportasi makro 2010.

Sebagai upaya untuk mengetahui penyebaran konsentrasi polutan dari sektor transportasi, maka diperlukan analisa lebih lanjut mengenai tingkat emisi pencemar dari kendaraan bermotor. Salah satu metode yang digunakan dalam penentuan penyebaran konsentrasi polutan adalah melalui model matematika. Pemodelan jenis ini menggunakan pendekatan teori berdasarkan pengamatan di lapang. Sehingga model matematis dinilai lebih baik dalam menjelaskan dan memisahkan proses dinamika atmosfer berdasarkan skala spasial dan temporal (Seinfeld dan Pandis, 2006). Salah satu pemodelan matematis penyebaran polutan sumber garis (transportasi) adalah model Finite Length Line Source (FLLS).

1.2 Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk:

1. Memprediksi kualitas udara ambien menggunakan model FLLS.

2. Membandingkan konsentrasi pencemar hasil permodelan terhadap pemantauan kualitas udara roadside.

3. Mengidentifikasi konsentrasi polutan sumber garis pada berbagai kondisi stabilitas dan kecepatan angin menggunakan solusi analitik persamaan dispersi bentuk Gaussian.

1.4 Ruang lingkup

Penelitian ini membatasi persoalan dengan ruang lingkup:

1. Studi kasus pemodelan dispersi polutan dilakukan sepanjang Jl. M.H. Thamrin 2. Parameter pencemar yang digunakan

dalam pemodelan dan pemantauan adalah CO dan NOx.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Pencemaran Udara

Seinfeld (1986) mendefinisikan pencemaran udara sebagai kondisi atmosfer ketika suatu substansi konsentrasi pencemar melebihi batas konsentrasi udara ambien normal yang menyebabkan dampak terukur pada manusia, hewan, tumbuhan dan material. Lebih lanjut, substansi tersebut dapat berasal dari sifat alami atau aktivitas manusia maupun campuran diantara keduanya. Arya (1999) menambahkan bahwa pencemaran udara selain berdampak

2 pada manusia, tanaman, hewan, dan material

juga berdampak pada atmosfer.

Mengacu pada Undang-undang No.23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup Pasal 1 ayat 12, polusi udara diartikan sebagai masuknya atau dimasukannya makhluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain ke udara dan atau berubahnya tatanan udara oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam, sehingga kualitas udara turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan udara menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai

Dokumen terkait