• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Kesimpulan

Hasil analisa proksimat menunjukkan bahwa kangkung, kacang panjang, dan wortel mengalami penurunan nilai kadar abu (0.69% pada kangkung, 0.06% pada kacang panjang, dan 0.46% pada wortel), kadar protein (0.19% pada kangkung, 0.09% pada kacang panjang, dan 0.22% pada wortel), kadar serat kasar (1.07% pada kangkung, 1.73% pada kacang panjang, dan 1.03% pada wortel), dan kadar lemak kasar (0.32% pada kangkung, 2.18% pada kacang panjang, dan 1,04% pada wortel) sebagai akibat kerusakan selama penyimpanan. Pada kangkung, penyimpanan bertahan selama 11 hari, sedangkan pada kacang panjang dan wortel dapat bertahan sampai 14 hari. Selama penyimpanan terjadi peningkatan nilai kadar air, baik pada kangkung, kacang panjang, maupun wortel pada setiap perlakuan karena masih melakukan kegiatan respirasi yang akan mengaktifkan enzim dalam sel sayuran sehingga meningkatkan proses hidrolisis yang menghasilkan air. Berdasarkan persen perubahan mutu selama penyimpanan, penurunan nilai total gula, kenaikan kadar air, dan peningkatan nilai kelunakan pada kangkung, kacang panjang, dan wortel yang disimpan di dalam plastik

polypropylene rigid kedap udara dengan sirkulasi terbuka lebih kecil

dibandingkan dengan pp rigid kedap udara dengan sirkulasi tertutup, setengah terbuka dan plastik HDPE Perforated. Untuk perubahan nilai warna, ketiga jenis sayuran yang disimpan dalam plastik polypropylene rigid kedap udara dengan sirkulasi terbuka lebih kecil dibanding dengan ketiga perlakuan yang lain. Hal ini disebabkan oleh permeabilitas dari pp rigid kedap udara yang kecil sehingga dapat mejadi kemasan yang baik dalam melindungi sayuran terhadap gas dan air dibandingkan HDPE Perforated.

Perubahan nilai total asam, pH, aw, kadar pati, dan Vitamin C pada kangkung, kacang panjang, dan wortel relatif lebih kecil menggunakan kemasan pp rigid kedap udara dengan sirkulasi terbuka dibandingkan dengan

pp rigid kedap udara sirkulasi tertutup, setengah terbuka dan plastik HDPE Perforated. Nilai TPC sayuran yang disimpan dalam polypropylene rigid

kedap udara dengan sirkulasi terbuka lebih kecil dibanding pp rigid kedap udara sirkulasi tertutup, setengah terbuka dan plastik HDPE Perforated. Perubahan nilai organoleptik kangkung, kacang panjang, dan wortel selama penyimpanan dingin mengalami penurunan. Penurunan nilai organoleptik terhadap warna, kesegaran, kekerasan, dan penerimaan umum sayuran tidak terlalu besar pada plastik polypropylene rigid kedap udara dengan sirkulasi terbuka dibandingkan dengan pp rigid kedap udara sirkulasi tertutup, setengah terbuka dan plastik HDPE Perforated sehingga kemasan pp rigid dengan sirkulasi terbuka dapat mampertahankam mutu sayuran selama penyimpanan. Berdasarkan perubahan mutu selama penyimpanan maupun uji organoleptik, perubahan kualitas kangkung, kacang panjang, dan wortel yang disimpan dalam plastik polypropylene rigid kedap udara dengan sirkulasi terbuka lebih kecil. Oleh karena itu, kemasan polypropylene rigid kedap udara dengan sirkulasi terbuka lebih efektif mengurangi perubahan kualitas kangkung, kacang panjang, dan wortel selama penyimpanan dingin dibanding

HDPE perforated, pp rigid kedap udara dengan sirkulasi tertutup dan sirkulasi

setengah terbuka.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian, saran yang dapat diberikan yaitu sebelum dilakukan pengemasan dan penyimpanan, sayuran sebaiknya dicuci dan dilakukan penghilangan bagian yang tidak dapat dikonsumsi. Selain itu, pengemasan sayuran segar dalam penyimpanan dingin sebaiknya menggunakan lubang sirkulasi udara.

DAFTAR PUSTAKA

AOAC. 1995. Official Methods of Analysis of The Association of Official

Analytical Chemist. AOAC Inc., Washington.

Apriyantono, A, D. Fardiaz, N.L.Puspitasari, Sedarnawati, dan S. Budiyanto.1989.

Analisa Pangan. Petunjuk Laboratorium. PAU Pangan dan Gizi. IPB.

Bogor.

Briston, J H., dan L L.Katan.1974. Plastic in Contact with Food. The Anchor Press Ltd., Great Britain.

Buckle KA, RA Edward , GH Fleet, M Wooton. 1987. Ilmu Pangan. Terjemahan: Hari Purnomo dan Adiono. UI Press, Jakarta.

Burn, J. K. 1995. Lightly Processed Fruits and Vegetables. Introductions to The Colloqium. J. Hort. Sci. 30 (1):14-17.

Desrosier, N. W. 1988. Teknologi Pengawetan Pangan. UI Press, Jakarta.

Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI. 1980. Daftar Komposisi Bahan

Makanan. Direktorat Gizi Departemen Kesehatan Ri., Jakarta.

Elliot, R.P. 1980. Principles of Food Processing Sanitation. Foof Processors Inst. Washington.D.C.

Eskin NAM, Henderson, Townsend RJ. 1971. Biochemistry of Food. Academic Press, New York.

Indirayuvi, N. 1995. Pengaruh Media Tanaman Terhadap Kadar Timah Putih (Pb) dalam Sayuran Bayam (Amaranthus tricolor), Kangkung Darat (Ipomea

reptans poir), dan Caisin (Brassica chinensis). Skipsi Jurusan Teknologi

Pangan dan Gizi. Fakultas Teknologi Pertanian. IPB.

Jenie, B. S. L dan S. Fardiaz. 1989. Petunjuk Laboratorium : Uji Sanitasi dalam

Industri Pangan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat

Jenderal Pendidikan Tinggi, Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi, Institut Pertanian Bogor.

Joseph FH. 1984. Package Engineering. Ed-ke 2. Mc. Graw Hill, Kogahusha Ltd, Tokyo.

Kantor Menteri Negara Urusan Pangan. 1996. Undang-Undang Republik

Marriott, N. G. 1989. Principles of Food Sanitation (2nd

ed). Van Nostrand

Reinhold, New York.

Muchtadi, T. R. 2000. Sayur-Sayuran Sumber Serat dan Antioksidan : Mencegah

Penyakit Degeneratif. Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi. FATETA. IPB,

Bogor.

Nazaruddin. 2003. Budidaya dan Pengaturan Panen Sayuran Dataran Rendah. Penebar Swadaya. Jakarta.

Pantastico. Er. B. 1989. Postharvest Phsicology, Handling and utilization of

Tropical and Subtropical Fruits and Vegetables. Penerjemah :

Kamariyani. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Phan , C.T., E.B. Pantastico, K. Ogata dan K. Chachin. 1986. Respirasi dan

Puncak Respirasi. Di Dalam E.B. Pantastico (ed.). Fisilogi pasca Panen.

Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

Rahayu E, E. Haryanto, dan Tina Suhartini. 2003. Budi Daya Kacang Panjang. Penebar Swadaya. Jakarta.

Ryall, A.L dan W.A. Lipton. 1983. Handling, Transportation and Storage of

Fruits and Vegetables. AVI Publishing Company Inc., Westpoert,

Connecticut.

Schlimme DW. 1995. Marketing Lightly Processed Fruits and Vegetables. Hort. Science 30 (1) : 15-17.

Singh, R.P. 1994. Scientific Principles of Shelf Life Evaluation. Di dalam Man C.M.D. dan A.A. Jones (eds.). Shelf Life Evaluation of Foods. Blackie Academic and Professional, London.

Sumoprastowo, R.M. 2004. Memilih Dan Menyimpan Sayur-Mayur,

Buah-Buahan Dan Bahan Makanan. Bumi Aksara. Jakarta.

Sunarjono, H. 1984. Kunci bercocok Tanam Sayur-sayuran Penting di Indonesia. Sinar Baru, Bandung.

Sunarjono, H, dan Irfan. 2002. Bertanam Kacang Sayur. Penebar Swadaya. Jakarta.

Syarief, R, S. Santausa dan S. Isyana. 1989. Teknologi Pengemasan Pangan. Laboratorium Rekayasa Bioproses Pangan. PAU IPB : Bogor.

Thompson AK. 1998. Controlled Atmosphere Storage of Fruits and Vegetables. Cab International, Wallingford, Oxon.

Tindall, H.d. 1987. Vegetable Product in The Tropics. Mac Millan Education Ltd., London.

Wills, RBH, TH Lee , D Graham, WBM Glasson, EG Hall. 1981. Postharvest

intoduction to the physiology and handling of fruits and vegetables. The

AVI Pub Co. Inc. Westport, Connecticut.

Winarno, F.G. 1987. Kimia Pangan. Penerbit Gramedia. Jakarta.

Zagory D, AA Kader . 1988. Modified Atmosphere Packaging of Fresh Produce. J. Food Technology. 42 (8) : 70.

Lampiran 1. Metode analisa mutu

A. Analisis Proksimat

1. Kadar Air (AOAC, 1995)

Cawan aluminium dikeringkan di dalam oven selama 20 menit dan didinginkan dalam desikator. Cawan aluminium yang telah dingin kemudian ditimbang. Sebanyak 5 gram contoh sayuran yang telah dihaluskan dan dimasukkan ke dalam cawan. Contoh sayuran dikeringkan di dalam oven bersuhu 100-105ºC sampai berat konstan. Sebelum ditimbang, cawan didinginkan dalam desikator selama 15 menit. Kadar air dihitung berdasarkan kehilangan berat contoh selama pengeringan terhadap berat awal contoh.

% Kadar Air = a – b x 100 % a

Dimana a = berat awal contoh (gram) b = berat akhir contoh (gram)

2. Kadar Abu (AOAC, 1995)

Cawan porselen dibakar di dalam desikator selama 1 jam dan didinginkan dalam desikator. Sebanyak 5 gram contoh sayuran yang telah dihaluskan dimasukkan ke dalam cawan porselen yang telah diketahui beratnya. Cawan dibakar sampai tidak berasap lagi, kemudian dimasukkan dalam tanur bersuhu 600ºC sampai berat konstan. Sebelum ditimbang, cawan didinginkan dalam desikator selama 30 menit. Kadar abu dihitung dengan rumus :

% Kadar Abu = berat abu (gram) x 100 % berat contoh (gram)

3. Kadar Serat Kasar (AOAC, 1995)

Sebanyak 1 gram sayuran dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer

500 ml dan tambahkan 100 ml H2SO4 0.325 N. Bahan selanjutnya

didiinginkan, kemudian ditambahkan 50 ml NaOH 1.25 N. Bahan dihidrolisis kembali di dalam autoklaf bersuhu 105ºC selama 15 menit. Setelah itu, bahan disaring menggunakan kertas saring yang telah dikeringkan (diketahui beratnya). Kertas saring dicuci berturut-turut dengan air panas + 25 ml H2SO4 0.325 N dan air panas + 25 ml aceton/alkohol. Angkat dan keringkan kertas saring + bahan dalam oven bersuhu 110 ºC selama ± 1-2 jam.

Kadar Serat (%) = (berat kertas saring + bahan) – berat kertas saring x 100 %

berat awal bahan

4. Kadar Lemak Kasar (AOAC, 1995)

Bahan yang akan diukur kadar lemak kasarnya mula-mula

ditimbang sebanyak 5 gram. Kemudian dibungkus dengan kertas saring yang dibentuk seperti kantong dan ditutup dengan kapas tidak berlemak. Bungkusan ini kemudian diletakkan pada soxlet apparatus dan diekstrak dengan heksan. Pelarut dapat dipisahkan dengan cara penyulingan, sampai pelarut terlihat jernih. Labu yang berisi minyak kemudian dikeringkan dengan alat pengering pada suhu 105-110°C kemudian didinginkan dalam desikator dan ditimbang. Pengeringan dan penimbangan dilakukan sampai diperoleh berat yang tetap.

Kadar Lemak Kasar (%) = (berat labu + minyak) – berat labu awal x 100 % bobot contoh (gram)

5. Kadar Protein (Metode Semi Mikro Kjeldahl) (AOAC, 1995)

Sebanyak 0,1 gram bahan ditimbang dan dimasukkan dalam labu

Kjeldahl, kemudian ditambahkan katalis (CuSO4 dan Na2SO4) dengan perbandingan 1 : 1.2 dan 2.5 ml H2SO4 pekat. Setelah itu, didestruksi sampai cairan berwarna hijau jernih dan pendidihan diteruskan selama 30 menit. Kemudian didinginkan pada suhu kamar dan ditambahkan sedikit akuades lalu dikocok. Selanjutnya didistilasi dan dilakukan penambahan NaOH 50 % sebanyak 15 ml (sampai seluruh larutan menjadi basa). Hasil distilasi (distilat) ditampung ke dalam tabung Erlenmeyer 200 ml yang berisi 25 ml

HCl 0.02 N. Proses distilasi dihentikan apabila volume distilat telah mencapai dua kali volume sebelum distilasi. Hasil distilasi tersebut kemudian dititrasi dengan NaOH 0.02 N dengan sebelumnya ditambahkan lima tetes indikator mensel yang merupakan campuran dari metil red dan metil blue.

% Total N = (ml titrasi (blangko – bahan)) x N NaOH x 14 x 100 % gram bahan x 1000

% Total Protein = % Total N x Faktor Koreksi (6.25) B. Analisis Mutu

1. Kadar Air (AOAC, 1995)

Cawan aluminium dikeringkan di dalam oven selama 20 menit dan didinginkan dalam desikator. Cawan aluminium yang telah dingin kemudian ditimbang. Sebanyak 5 gram contoh sayuran yang telah dihaluskan dan dimasukkan ke dalam cawan. Contoh sayuran dikeringkan di dalam oven bersuhu 100-105ºC sampai berat konstan. Sebelum ditimbang, cawan didinginkan dalam desikator selama 15 menit. Kadar air dihitung berdasarkan kehilangan berat contoh selama pengeringan terhadap berat awal contoh.

% Kadar Air = a – b x 100 % a

Dimana a = berat awal contoh (gram) b = berat akhir contoh (gram)

2. Analisis Mikrobiologi/Uji Total Plate Count (AOAC, 1995)

Penentuan TPC dilakukan dengan menggunakan metode tuang (pour plate). Sebanyak 1 ml sampel hasil pengenceran (pengenceran

dilakukan sampai P-8) diambil dengan menggunakan pipet steril dan

dipindahkan ke dalam cawan petri steril. Selanjutnya dituangkan medium PCA ke dalam cawan petri yang telah berisi sampel hasil pengenceran dan dihomogenkan dengan cara cawan diputar membentuk angka delapan. Pemupukan dilakukan dengan metode tuang single layer. Setelah campuran agar beserta sampel membeku, cawan petri diinkubasi pada suhu 37°C selama

24-48 jam dengan posisi terbalik. Hasil analisis jumlah bakteri dilaporkan dengan metode Standard Plate Count (SPC).

3. Water Activity (aw) (Apriyantono et al., 1989)

Pengukuran aw sayuran dilakukan dengan alat aw meter. Alat aw

meter mula-mula dikalibrasi dengan standar aw 11.3 % dan 90.1 %.

Sebanyak 5 gram sayuran yang telah dihaluskan dengan menggunakan cooper dimasukkan ke dalam tempat sampel. Setelah itu, dilakukan pengukuran aw dan nilai aw sampel dapat dibaca pada layar aw meter.

4. Analisa Total Gula (Apriyantono et al., 1989)

Bahan yang akan diukur diperas dan cairan tersebut diteteskan pada prisma pengukur (refpraktometer) dan kandungan total gulanya terlihat pada alat dengan satuan 0brix.

5. Kekerasan (Apriyantono et al., 1989)

Uji kekerasan sayuran diukur secara objektif dengan menggunakan alat Penetrometer dan menggunakan jarum Penetrometer serta pemberat jika diperlukan. Kekerasan adalah jarak penembusan jarum Penetrometer dalam milimeter per 10 detik atau milimeter per 50 gram pemberat per 10 detik jika menggunakan pemberat ukuran 50 gram.

6. Analisa Total Asam (AOAC, 1995)

Bahan ditimbang sebanyak 10 gram kemudian dihaluskan. Setelah itu dimasukkan ke dalam labu ukur 250 ml, kemudian ditepatkan hingga tanda tera dengan menambahkan air suling. Selanjutnya dilakukan penyaringan dengan kapas. Filtrat yang diperoleh sebanyak 25 ml dititrasi dengan larutan NaOH 0.01 N dengan indikator PP hingga timbul warna merah muda pada akhir titrasi. Perhitungan total asam tertitrasi dilakukan dengan menggunakan rumus :

Total asam = V x N x P x 100 B

Dimana, V = volume NaOH 0.1 N yang terpakai (liter) N = normalitas NaOH setelah distandarisasi P = pengenceran

7. Uji pH (AOAC, 1995)

Pengukuran pH sayuran dilakukan dengan alat pH meter. Alat pH meter mula-mula dikalibrasi dengan larutan buffer pada pH 4 dan 7. Elektroda dibilas menggunakan akuades dan dikeringkan. Sebanyak 10 gram sayuran dihaluskan dengan menggunakan cooper dengan menambahkan akuades sebanyak 100 ml sampai homogen selama satu menit. Kemudian dituang ke dalam gelas ukur. Setelah itu, elektroda dicelupkan ke dalam sampel dan nilai pH dapat dibaca pada layar pH meter. 8. Analisa Kadar Vitamin C (AOAC, 1995)

Kandungan vitamin C sayuran dapat ditentukan secara titrasi. Sebanyak 10 gram sampel yang telah dihancurkan, dimasukkan ke dalam labu takar 100 ml dan diencerkan sampai tanda tera. Campuran ini dikocok dan kemudian disaring. Filtrat sebanyak 25 ml ditambahkan dengan beberapa tetes indikator kanji, lalu dititrasi dengan cepat menggunakan larutan iod 0,01N hingga timbul warna biru. Kandungan vitamin C dapat dihitung dengan rumus :

Vitamin C (mg/100g) = V x 0.88 x P x 10 Berat (g) dimana, V = ml larutan Iod 0.01N

p = pengenceran

9. Warna (Apriyantono et al., 1989)

Intensitas warna sayuran diukur dengan menggunakan Colortex.

Nilai yang terbaca pada alat antara lain nilai A, B, dan L (tingkat kecerahan). Diagram warna dapat dilihat pada Lampiran 3 dan warna produk berdasarkan nilai ˚Hue dapat dilihat pada Tabel 9. Intensitas warna ditunjukkan melalui nilai Chroma yang dihitung dengan rumus sebagai berikut :

(

b

)

b a C = 2+ H = tan-1 (b/a)

Keterangan : C = Chroma, menunjukan intensitas warna sampel H = oHue, menunjukkan stabilitas warna sampel

L = Tingkat kecerahan

A = positif, cenderung berwarna merah

negatif, cenderung hijau

B = positif, cenderung kuning negatif, cenderung biru

Tabel 9. Warna produk

˚Hue Warna Produk

18˚-54˚ Red (R)

54˚-90˚ Yellow Red (YR)

90˚-126˚ Yellow (Y)

126˚-162˚ Yellow Green (YG)

162˚-198˚ Green (G) 198˚-234˚ Blue Green (BG) 234˚-270˚ Blue (B) 270˚-306˚ Blue Purple (BP) 306˚-342˚ Purple (P) 342˚-18˚ Red Purple (RP)

10. Kadar Pati (Metode Luff Schroll) (AOAC, 1995)

Timbang kurang lebih 1 g bahan. Masukkan sampel ke dalam erlenmeyer 500 ml dan tambahkan 200 ml HCl 3 %. Sampel kemudian dihidrolisis selama 1-3 jam di dalam otoklaf dengan suhu 105oC. Setelah terhidrolisis, sampel selanjutnya dinetralkan dengan NaOH 40 %. Tetapi sebelumnya sampel harus didinginkan terlebih dahulu. Masukkan sampel ke dalam labu takar 250 ml dan tambahkan air destilata sampai mencapai tanda tera. Pipet sampel sebanyak 10 ml kemudian masukkan ke dalam erlenmeyer 250 ml dan tambahkan 25 ml larutan Luff Schroll. Didihkan larutan selama 10 menit pada pendingin tegak. Setelah itu, dinginkan sampel di bawah air mengalir (jangan dikocok). Kemudian tambahkan 20 ml H2SO4

25 %. Titrasi larutan dengan Na2S2O3 0,1 N dengan indikator kanji (3-5 tetes) sampai hilang warnanya. Buat blanko dengan sampel berupa 25 ml air destilata dan 25 ml larutan Luff Schroll.

Kadar Pati (%) = a x 0,9 x p x 100 % mg contoh

Keterangan :

a : jumlah mg glukosa, fruktosa, gula invert (C6H12O6)

p : Faktor pengenceran

(jumlah mg C6H12O6 ditentukan berdasarkan selisih titrasi larutan tiosulfat antara blanko dan contoh pada tabel berikut)

ml selisih titrasi tiosulfat 0,1 N Jumlah mg C6H12O6 ml selisih titrasi tiosulfat 0,1 N Jumlah mg C6H12O6 1 2,4 13 33,0 2 4,8 14 35,7 3 7,2 15 38,5 4 9,7 16 41,3 5 12,2 17 44,2 6 14,7 18 47,1 7 17,2 19 50,0 8 19,8 20 53,0 9 22,4 21 56,0

10 25,0 22 59,1

11 27,6 23 62,2

12 30,3 24 -

C. Uji Organoleptik (Apriyantono et al., 1989)

Uji organoleptik dilakukan terhadap penampakan sayuran secara umum, yaitu warna, kekerasan, kesegaran, dan penerimaan umum panelis selama penyimpanan. Uji organoleptik dilakukan dengan uji hedonik pada skala 1-10, dimana kriteria penilaiannya maksimum 10 dan minimum bernilai 1. Batas penerimaan panelis terhadap produk adalah 5. Jumlah panelis yang dibutuhkan dalam melakukan uji organoleptik minimal 10 orang.

Lampiran 2. Perbandingan Nilai Slope, Intercept, dan Regresi

Y= aX+b

Hasil Analisa Perubahan Mutu Sayuran Segar selama penyimpanan

Parameter Perlakauan kangkung Kacang panjang Wotel

a b R² a b R² a b R² Kadar Air K.1 0.18 92.462 0.936 0.075 91.426 0.823 0.081 90.979 0.846 K.2 0.197 91.96 0.901 0.063 91.37 0.926 0.078 90.992 0.71 K.3 0.223 91.64 0.965 0.064 91.389 0.873 0.043 90.697 0.839 K.4 0.196 91.851 0.953 0.107 90.849 0.945 0.135 90.959 0.928 Total Asam K.1 0.007 0.029 0.99 0.004 0.042 0.989 0.004 0.027 0.994 K.2 0.006 0.039 0.993 0.003 0.044 0.985 0.004 0.03 0.984 K.3 0.005 0.037 0.979 0.003 0.041 0.985 0.003 0.028 0.988 K.4 0.006 0.04 0.982 0.003 0.046 0.981 0.004 0.029 0.982 Derajat asam (pH) K.1 -0.045 6.608 0.853 -0.134 6.331 0.929 -0.058 6.353 0.979 K.2 -0.055 6.6 0.923 -0.137 6.367 0.922 -0.072 6.429 0.98 K.3 -0.035 6.553 0.927 -0.124 6.382 0.932 -0.04 6.307 0.967 K.4 -0.053 6.583 0.959 -0.136 6.39 0.945 -0.052 6.317 0.98 Total Gula K.1 -0.404 6.048 0.977 -0.289 5.742 0.989 -0.291 7.569 0.985 K.2 -0.363 5.603 0.985 -0.281 5.652 0.989 -0.288 7.516 0.99 K.3 -0.352 5.858 0.98 -0.26 5.783 0.987 -0.26 7.703 0.982 K.4 -0.364 5.635 0.985 -0.291 5.791 0.987 -0.284 7.531 0.995 aw K.1 0.008 0.818 0.939 0.003 0.846 0.957 0.004 0.843 0.974 K.2 0.007 0.829 0.93 0.003 0.844 0.963 0.004 0.842 0.974 K.3 0.005 0.827 0.95 0.002 0.841 0.991 0.003 0.84 0.991 K.4 0.007 0.834 0.927 0.003 0.843 0.949 0.003 0.844 0.975 Vitamin C K.1 -0.034 0.436 0.987 -0.026 0.442 0.993 -0.009 0.143 0.973 K.2 -0.035 0.43 0.982 -0.024 0.432 0.989 -0.008 0.137 0.972 K.3 -0.03 0.443 0.981 -0.023 0.469 0.988 -0.006 0.157 0.888 K.4 -0.032 0.405 0.986 -0.024 0.427 0.984 -0.008 0.132 0.949 Kekerasan K.1 0.178 1.786 0.935 0.111 1.408 0.958 K.2 0.159 1.835 0.913 0.127 1.443 0.974 K.3 0.117 1.803 0.91 0.108 1.393 0.95 K.4 0.189 1.762 0.931 0.142 1.605 0.978 Warna Chroma K.1 -0.868 46.097 0.927 -58.72 10432.9 0.856 -62.907 12217.51 0.827

K.2 -0.824 44.727 0.972 -53.992 10354.86 0.825 -32.176 11903.74 0.868 K.3 -0.576 43.131 0.976 -41.85 9976.833 0.818 -42.104 12142.96 0.901 K.4 -0.734 44.454 0.986 -68.88 10612.42 0.877 -74.747 11979.29 0.909 Derajat Hue K.1 -0.343 68.085 0.932 -0.314 79.658 0.83 -0.1 74.137 0.848 K.2 -0.281 67.753 0.931 -0.338 79.739 0.946 -0.16 74.77 0.973 K.3 -0.33 67.649 0.957 -0.232 78.831 0.828 -0.179 74.83 0.916 K.4 -0.259 67.691 0.928 -0.266 79.117 0.865 -0.152 75.022 0.904

Hasil Analisa Perubahan Organoleptik Sayuran selama penyimpanan

Parameter Perlakauan kangkung Kacang panjang Wotel

a b R² a b R² a b R² Warna K.1 -0.442 7.125 0.964 -0.309 8.34 0.935 -0.229 9.067 0.913 K.2 -0.412 7.404 0.938 -0.246 7.479 0.943 -0.218 9.182 0.923 K.3 -0.286 8.289 0.968 -0.208 7.563 0.912 -0.1503 8.985 0.911 K.4 -0.386 7.553 0.94 -0.331 8.102 0.916 -0.22 9.002 0.913 Kesegaran K.1 -0.413 6.32 0.9 -0.248 8.913 0.932 -0.232 9.257 0.924 K.2 -0.403 6.97 0.96 -0.273 8.877 0.931 -0.198 9.031 0.906 K.3 -0.388 7.74 0.959 -0.21 8.845 0.903 -0.174 9.209 0.916 K.4 -0.423 7.57 0.967 -0.24 8.604 0.913 -0.231 9.223 0.95 Kekerasan K.1 -0.183 8.438 0.92 -0.167 9.463 0.946 K.2 -0.204 8.698 0.915 -0.173 9.39 0.945 K.3 -0.191 8.962 0.908 -0.153 9.416 0.935 K.4 -0.293 8.704 0.946 -0.151 9.25 0.948 Penerimaan Umum K.1 -0.16 5.99 0.905 -0.247 8.565 0.945 -0.193 9.253 0.927 K.2 -0.35 6.706 0.934 -0.246 8.729 0.942 -0.206 9.415 0.957 K.3 -0.356 7.697 0.924 -0.188 9.126 0.924 -0.168 9.543 0.976 K.4 -0.389 7.666 0.948 -0.292 8.906 0.916 -0.172 9.126 0.954

Lampiran 4. Form Organoleptik

Form Organoleptik

Nama :

Tanggal : Komoditi :

Amati bahan, beri penilaian pada skala 1-10 dengan memberikan tanda silang pada garis K1: Warna : 1 10 Kesegaran : 1 10 Tekstur/Kekerasan : 1 10 Penerimaan umum : 1 10 K2: Warna : 1 10 Kesegaran : 1 10 Tekstur/Kekerasan : 1 10 Penerimaan umum : 1 10 K3: Warna : 1 10 Kesegaran : 1 10 Tekstur/Kekerasan : 1 10 Penerimaan umum : 1 10 K4: Warna : 1 10 Kesegaran : 1 10 Tekstur/Kekerasan : 1 10 Penerimaan umum : 1 10 TERIMA KASIH

Lampiran 5. Perhitungan karakteristik kemasan

Tabel 10. Koefisien permeabilitas P (cm3 cm cm-2 s-1 Pa-1) polimer terhadap gas dan air Polimer Permean T˚C P x 10-13 Polipropilen Densitas 0.907 g cm-3 O2 30 1.7 Kristalinitas 50 % CO2 30 6.9 H2O 30 51.0

Sumber : Piringer dan Baner (2000)

1. Gramatur

Gramatur (g/m2) = bobot contoh (g) x 10.000 cm2

luas contoh (cm2) 1 m2

Gramatur plastik polipropilen rigid kedap udara = 167.4 g x 10000 cm2 345.04 cm2 1 m2 = 4851.6 g/m2

Gramatur plastik HDPE perforated = 3.89 g x 10000 cm2 1905 cm2 1 m2 = 20.42 g/m2

2. Densitas

Densitas (kg/m3) = gramatur (g/m2) tebal plastik (m) x 1000

Densitas plastik polipropilen rigid kedap udara = 4851.6 g/m2 0.00189 m x 1000 = 2567 kg/m3 Densitas plastik HDPE perforated = 20.42 g/m2

0.00033 m x 1000 = 61.88 kg/m3

3. Oxygen Transmission Rate (O2TR) O2TR (cm3/hari) = Ai x Ji = Ai x Px ΔP d PPP = 1.7 x 10-13 cm3 cm cm-2 s-1 Pa-1 x 8.75 x 1013 cm3 cm m-2 hari-1 atm-1 1 cm3 cm cm-2 s-1 Pa-1 = 14.875 cm3 cm m-2 hari-1 atm-1 x m2 10000 cm2 = 1.4875 x 10-3 cm3 cm cm-2 hari-1 atm-1

O2TR plastik polipropilen rigid kedap udara

= 345.04 cm2 x 1.4875 x 10-3 cm3 cm cm-2 hari-1 atm-1x 0.21 atm – 0

0.189 cm

= 0.57 cm3/hari

4. Carbon Dioxyde Transmission Rate (CO2TR) CO2TR (cm3/hari) = Ai x Ji = Ai x Px ΔP d PPP = 6.9 x 10-13 cm3 cm cm-2 s-1 Pa-1 x 8.75 x 1013 cm3 cm m-2 hari-1 atm-1 1 cm3 cm cm-2 s-1 Pa-1 = 60.375 cm3 cm m-2 hari-1 atm-1 x m2 10000 cm2 = 6.0375 x 10-3 cm3 cm cm-2 hari-1 atm-1 CO2TR plastik polipropilen rigid kedap udara

= 345.04 cm2 x 6.0375 x 10-3 cm3 cm cm-2 hari-1 atm-1x 0.21 atm – 0

0.189 cm

= 2.31 cm3/hari

5. Water Vapor Transmission Rate (WVTR) WVTR (cm3/hari) = Ai x Ji = Ai x Px ΔP d PPP = 51 x 10-13 cm3 cm cm-2 s-1 Pa-1 x 8.75 x 1013 cm3 cm m-2 hari-1 atm-1 1 cm3 cm cm-2 s-1 Pa-1 = 446.25 cm3 cm m-2 hari-1 atm-1 x m2 10000 cm2 = 4.4625 x 10-2 cm3 cm cm-2 hari-1 atm-1 WVTR plastik polipropilen rigid kedap udara

= 345.04 cm2 x 4.4625 x 10-2 cm3 cm cm-2 hari-1 atm-1x 0.21 atm – 0

0.189 cm

= 17.11 cm3/hari

Lampiran 6. Nilai TPC

Tabel 11. Nilai total plate count Kangkung

H0 H3 H6 H9 H11 H14 K.1 <3.0*103 (2.0*10) 5.0*102 3.3*103 8.6*105 - - K.2 <3.0*103 (2.0*10) 3.1*104 4.1*103 1.3*105 2.3*106 - K.3 <3.0*103 (2.0*10) <3.0*103 (2.0*10) 3.1*103 3.3*105 1.7*106 - K.4 <3.0*103 (2.0*10) 1.1*104 3.8*104 8.7*105 2.1*106 -

Tabel 12. Nilai total plate count Kacang Panjang

H0 H3 H6 H9 H12 H14

K.1 4.8*102 7.2*103 4.5*105 5.7*105 7.8*105 7.6*105

K.2 4.8*102 7.1*104 5.2*105 4.1*105 3.2*106 5.7*107

K.3 4.8*102 3.6*103 3.8*105 1.8*105 6.8*104 4.8*106

K.4 4.8*102 5.6*103 3.2*104 5.1*105 3.3*106 3.0*105

Tabel 13. Nilai total plate count Wortel

H0 H3 H6 H9 H12 H14

K.1 4.6*103 5.3*104 3.6*105 4.1*106 6.7*106 6.8*106

K.2 4.6*103 4.8*104 4.1*105 8.1*105 3.4*106 7.2*106

K.3 4.6*103 4.8*104 3.1*104 8.5*104 4.1*105 4.5*105

K.4 4.6*103 2.1*104 3.8*105 6.3*105 4.1*106 4.3*106

Keterangan : K.1 = Polypropylene rigid kedap udara Sirkulasi tertutup

K.2 = Polypropylene rigid kedap udara Sirkulasi setengah terbuka K.3= Polypropylene rigid kedap udara Sirkulasi terbuka

Dokumen terkait