• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

5.3 Saran

Berdasarkan analisis data dan pembahasan yang telah dikemukakan dalam penelitian ini masih terdapat banyak kekurangan dan keterbatasan. Adapun saran yang dapat diberikan oleh penulis adalah sebagai berikut :

1. Bagi manajemen perusahaan hendaknya melakukan analisis terhadap laporan keuangan perusahaan dan lebih mencermati kemungkinan-kemungkinan terjadinya kecurangan dalam laporan keuangan seperti

manajemen laba, hal ini tentu juga akan membantu auditor dalam menghasilkan integritas laporan keuangan yang tinggi.

2. Bagi peneliti selanjutnya hendaknya mencari atau menambah variabel-variabel yang dapat mempengaruhi integritas laporan keuangan, hal ini berkaitan dengan hasil uji koefisien determinasi (R2) pada bab 4 dimana dalam penelitian ini hanya 13,4%, sehingga masih terdapat 86,6% faktor lain yang mempengaruhi integritas laporan keuangan. Sehingga dapat diketahui variabel-variabel apa saja yang dapat mempengaruhi integritas laporan keuangan.

3. Hendaknya pada penelitian selanjutnya meneliti jenis perusahaan yang berbeda dari penelitian ini serta periode pengamatan yang lebih panjang sehingga hasil penelitian dapat digeneralisasi dan menggambarkan kondisi dalam jangka panjang.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teoritis

2.1.1 Integritas Laporan Keuangan (Y)

Laporan keuangan tersebut merupakan suatu bentuk pertanggungjawaban pihak manajer terhadap para pemilik modal khususnya dan kepada publik umumnya, yang harus dilaporkan secara berkala sebagai media informasi keadaan keuangan perusahaan. Perusahaan biasanya melaporkan laporan keuangan setiap periode tahun buku, baik secara kuartalan, semesteran ataupun tahunan. Sebelum digunakan, laporan keuangan diperiksa oleh auditor untuk memberi kepastian atau jaminan bagi pengguna bahwa laporan keuangan yang digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan dapat diandalkan.

Laporan keuangan merupakan media informasi dan komunikasi antara perusahaan dan stakeholder-nya. Mengingat berbagai keputusuan penting yang mempengaruhi perusahaan ada di tangan stakeholder, maka perusahaan harus mampu memenuhi ekspektasi stakeholder, tidak terkecuali dalam hal pelaporan keuangan yag harus disajikan dengan kualitas yang baik sehingga dapat memberikan gambaran kondisi perusahaan. Untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan publik maka dibutuhkan laporan keuangan yang memiliki integritas yang tinggi.

Integritas adalah suatu elemen karakter yang mendasari timbulnya pengakuan profesional. Dalam Kamus Besar Bahasa Indeonesia (KBBI) integritas merupakan mutu, sifat, dan keadaan yang menunjukkan suatu kesatuan yang utuh yang memiliki potensi dan kemampuan memancarkan kejujuran. Integritas merupakan kualitas yang mendasari kepercayaan publik dan merupakan patokan bagi anggota akuntan dalam menguji semua keputusan yang diambilnya. Integritas mengharuskan seluruh akuntan untuk antara lain, bersikap jujur, dan berterus terang akan keadaan atau fakta yang sebenarnya tanpa harus mengorbankan rahasia penerima jasa, pelayanan dan kepercayaan publik tidak boleh dikalahkan oleh keuntungan pribadi. Integritas dapat menerima kesalahan yang tidak disengaja dan perbedaan pendapat yang jujur, tetapi tidak dapat menerima kecurangan dan peniadaan prinsip (Mulyadi, 2002)

Ikatan Akuntan Indonesia (IAI, 2002) dalam PSAK NO.1 mengemukakan bahwa tujuan laporan keuangan adalah untuk memberikan informasi tentang posisi keuangan, kinerja dan arus kas yang bermanfaat bagisebagian besar kalangan pengguna dalam rangka membuat keputusan-keputusan ekonomi serta menunjukkan pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber-sumber daya yang dipercayakan kepadanya. Laporan keuangan harus disajikan sesuai prinsip moral yang tidak memihak, jujur, seseorang yang berintegritas tinggi memandang fakta seperti apa adanya dan mengemukakan fakta tersebut seperti apa adanya (Mulyadi, 2004).

Integritas informasi laporan keuangan menyangkut keandalan informasi akuntansi yang dihasilkan yaitu kejujuran dalam penyajian, dapat dipercaya, dan netralitas. Laporan keuangan dikatakan berintegritas apabila laporan keuangan tersebut memenuhi kualitas reliability (Kieso, 2001) dan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berterima umum. Reliability memiliki kualitas sebagai berikut:

a. Verifiability

Laporan keuangan suatu entitas yang mempunyai kondisi yang sama dengan laporan keuangan entitas lain, akan mendapat opini yang sama jika diaudit oleh auditor yang berbeda.

b. Representational faithfullness

Angka dan keterangan yang disajikan sesuai dengan apa yang ada dan benar-benar terjadi.

c. Neutrality

Informasi dari laporan keuangan harus diarahkan pada kebutuhan umum pemakai, dan tidak bergantung pada kebutuhan dan keinginan pihak tertentu. Tidak boleh ada usaha untuk menyajikan informasi yang menguntungkan beberapa pihak, sementara hal tersebut akan merugikan pihak lain yang mempunyai kepentingan berlawanan.Informasi yang dituangkan di dalam laporan keuangan harus memiliki integritas sehingga

dapat digunakan sebagai acuan atau bahan pertimbangan yang akurat untuk melakukan suatu keputusan ekonomi.

Pemakai laporan keuangan menggunakan laporan keuangan untuk memenuhi kebutuhan informasi yang berbeda, tergantung jenis keputusan yang hendak diambil. Para pengguna informasi akuntansi ini terdiri dari : 1. Investor

Investor atau penanam modal merupakan pihak yang menjadi penanggung risiko dari suatu bisnis. Investor dapat dibagi menjadi 2 yaitu investor sekarang dan juga investor potensial. Investor akan menggunakan informasi dalam laporan keuangan dalam menentukan pengambilan suatu keputusan menanamkan modal dalam suatu perusahaan. Sebagai pemegang saham, investor pasar modal yang berinvestasi pada ekuitas yang dimiliki perusahaan akan menghadapi risiko dalam bisnis tersebut, risiko yang dihadapi dapat terjadi apabila perusahaan mengalami kerugian. Namun penanam modal juga akan mendapatkan hasil dari modal yang ditanamkan dalam bentuk dividen yang merupakan bagi hasil dari keuntungan perusahaan tersebut.

Selain investor sekarang, laporan keuangan juga dibutuhkan oleh investor potensial yang dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk melakukan keputusan ekonomi berupa penanaman modal dalam perusahaan tersebut yang tentunya akan dapat meningkatkan performa perusahaan ke depannya dengan adanya tambahan kucuran dana.

2. Karyawan

Sebagai salah satu pemakai laporan keuangan, karyawan menganilis manfaat dari keakuratan dan kebenaran atas kinerja yang dihasilkan perusahaan. Walaupun kandungan dan prosedur spesifikasi yang digunakan berbeda-beda antar analis, merekan menggunakan data yang diungkapkan secara publik dalam rangka membuat keputusan-keputusan yang lebih baik. Selain itu karyawan membutuhkan informasi tentang kondisi profitabilitas dan stabilitas perusahaan untuk menilai kinerja dan juga kemampuan perusahaan dalam memberikan balas jasa. 3. Pemberi Kredit

Para kreditur menganilisis laporan keuangan untuk menetapkan profitabilitas atas pembayaran pokok maupun bunga pinjaman yang telah diberikan. Kreditur memberikan pinjaman baik jangka pendek maupun jangka panjang. Informasi yang disajkan dalam laporan keungan dapat dijadikan penilaian terhadap kondisi keuangan dan kemampuan perusahaan dalam membayar pinjamannya. Keputusan yang dilakukan oleh kreditur berkenaan dengan pinjaman yang diberikan kepada perusahaan, informasi yang tertuang dalam laporan keuangan dapat menjadi acuan dan pertimbangan kreditor akan keputusan yang akan diambil berupa pemberian kredit.

4. Pelanggan

Dengan informasi yang tersaji dalam laporan keuangan, pelanggan dapat mengetahui bagaimana kelangsungan hidup perusahaan, apalagi yang memiliki kontrak atau ketergantungan yang tinggi dengan perusahaan terkait.

5. Pemerintah

Berbagai lembaga pemerintahan menganalisis laporan keuangan sebagai bagian tugas regulator pemerintah. Dalam hal ini fungsi pemerintah sebagai pemberi jaminan akan keamanan proses perekonomian di Indonesia, selain itu pemerintah memiliki kepentingan dalam akivitas perusahaan dan mengetahui bagaiamana kondisi finansial perusahaan terkait dengan pembayaran pajak dan juga regulasi yang ditetapkan pemerintah yang harus dijalankan oleh perusahaan.

6. Masyarakat

Masyarakat juga membutuhkan informasi terkait kondisi perusahaan, karena perusahaan memiliki pengaruh terhadap masyarakat seperti pemberian kontribusi berupa Corporate Social Responsibality kepada masyarakat ataupun kontrol terhadap aktivitas operasi perusahaan.

2.1.1.1 Konservatisme Akuntansi

Konservatisme merupakan prinsip penting dalam pelaporan keuangan yang dimaksudkan agar pengakuan aktiva serta laba

dilakukan dengan penuh kehati-hatian yang disebabkan oleh adanya ketidakpastian dalam aktiva ekonomi dan bisnis (Widya, 2005). Adanya kesempatan memilih metode akuntansi yang digunakan oleh perusahaan dapat membuka celah bagi manajer untuk melakukan manipulasi dalam laporan keuangan yang disajikan. Tiap metode akuntansi mempunyai tingkat konservatisme yang berbeda, pilihan metode akuntansi akan berpengaruh terhadap angka-angka yang disajikan dalam laporan keuangan. Hal ini dapat digunakan manajer perusahaan untuk menyajikan laba yang overstated dan pengakuan biaya yang understated, hal ini dilakukan manajer perusahaan karena laba mencerminkan kinerja manajer perusahaan yang menjadi perhatian pemilik modal sekaligus mempengaruhi harga saham perusahaan tersebut.

Untuk mencegah manipulasi yang dilakukan manajer perusahaan dapat dilakuka dengan cara menggunakan metode akuntansi konservatisme. Konservatisme akuntansi adalah prinsip dalam pelaporan keuangan yang dimaksudkan untuk mengakui dan mengukur aktiva dan laba dilakukan dengan penuh kehati-hatian oleh karena aktivitas ekonomi dan bisnis yang dilingkupi ketidakpastian (Wibowo, 2002). Juanda (2007) menyatakan bahwa konservatisme merupakan prinsip akuntansi yang jika diterapkan akan menghasilkan angka-angka laba dan aset cenderung rendah,

serta angka-angka biaya dan hutang cenderung tinggi. Kecenderungan ini akan terjadi karena konservatisme menganut prinsip memperlambat pengakuan pendapatan serta mempercepat pengakuan biaya. Akibatnya, laba akan cenderung lebih rendah (understatement) dan biaya cenderung lebih tinggi (overstatement)

Ketika terdapat dua atau lebih alternatif akuntansi yang memiliki kemampuan sama dalam memenuhi objektivitas dari laporan keuangan, dalam prinsip konservatisme maka yang dipilih adalah alternatif yang memiliki dampak yang paling tidak menguntungkan terhadap ekuitas pemegang saham. Dengan demikian konsep ini mengakui biaya dan rugi lebih cepat, mengakui pendapatan dan untung lebih lambat, menilai aktiva dengan nilai yang terendah dan kewajiban dengan nilai yang tertinggi. Lafond dan Watts (2006) berpendapat bahwa laporan keuangan yang menerapkan prinsip konservatisme dapat mengurangi kemungkinan manajer melakukan manipulasi laporan keuangan serta mengurangi biaya agensi yang muncul sebagai akibat dari asimetri informasi.

Pengukuran integritas laporan keuangan yang diprosikan dengan konservatisme dimana ditentukan menggunakan asumsi metode perusahaan yang digunakan yaitu metode persediaan, penyusutan, amortisasi dan pengakuan biaya riset (Widya, 2005). Asumsi pertama yaitu perusahaan yang menggunakan metode

persediaan rata-rata akan lebih konservatif dibandingkan dengan mengguakan metode FIFO (First In First Out). Dalam neraca fiskal hanya mengakui dua metode penilaian persediaan, yaitu FIFO dan metode rata-rata tertimbang. Diantara kedua metode tersebut, metode rata-rata tertimbang dinilai sebagai metode yang paling konservatif karena menghasilkan biaya persediaan akhir yang lebih kecil sehingga harga pokok penjualan menjadi lebih besar dan laba menjadi lebih kecil.

Asumsi kedua yaitu perusahaan yang menggunakan metode penyusutan saldo menurun relatif lebih konservatif dibandingkan dengan perusahaan yang menggunakan metode garis lurus. Berdasarkan waktunya, jika periode penyusutan suatu perusahaan semakin pendek, maka akan lebih konservatif, dan sebaliknya (Dewi, 2004). Hal tersebut dikarenakan jika periode penyusutan semakin pendek, maka biaya penyusutan tiap periode menjadi lebih besar sehingga laba yang dihasilkan menjadi lebih kecil.

Asumsi ketiga yaitu perusahaan yang menggunakan metode amortisasi saldo menurun relatif lebih konservatif dibanding dengan dengan perusahaan yang menggunakan metode garis lurus. Sama halnya dengan penyusutan, semakin pendek periode amortisasi maka akan semakin konservatif dan sebaliknya (Dewi, 2004). Metode amortisasi saldo menurun relatif lebih konservatif karena metode ini menghasilkan laba yang lebih kecil.

Asumsi yang keempat yaitu perusahaan yang mengakui biaya riset dan pengembangan sebagai aktiva. Biaya riset dan pengembangan memungkinkan perusahaan untuk memilih metode yang lebih sesuai dengan keadaan perusahaan. Laporan keuangan akan menjadi lebih konservatif jika biaya riset dan pengembangan sebagai beban daripada sebagai aktiva. Biaya riset dan pengembangan yang diakui sebagai beban mengakibatkan laba yang dihasilkan menjadi lebih kecil sedangkan apabila diakui sebagai aktiva akan memperbesar laba yang dihasilkan.

Watts (1990) mengklasifikasikan pengukuran konservatisme sebagai berikut:

a) Model Basu

Basu (1997) menyatakan bahwa konservatisme menyebabkan kejadian-kejadian yang merupakan kabar buruk atau kabar baik terefleksi dalam laba yang tidak sama (asimetri waktu pengakuan). Hal ini dikarenakan kejadian yang diperkirakan akan menyebabkan kerugian bagi perusahaan harus segera diakui sehingga mengakibatkan bad news lebih cepat terefleksi dalam laba dibandingkan good news.

b) Model Zhang

Pengukuran konservatisme lainnya adalah dengan menggunakan conv_accrual yang diperoleh dengan membagi akrual non operasi dengan total aset. Akrual non operasi

memperlihatkan pencatatan kejadian buruk yang terjadi dalam perusahaan, contohnya biaya restrukturisasi dan penghapusan aset. Conv_accrual dikalikan dengan -1 yang bertujuan untuk mempermudah analisa. Semakin tinggi nilai conv_accrual menunjukkan penerapan konservatisme yang semakin tinggi juga. c) Model Givoly dan Hayn (2000)

Givoly dan Hayn (2000) memfokuskan efek konservatisme pada laporan laba rugi selama beberapa tahun dengan argumen bahwa konservatisme menghasilkan akrual negatif yang terus menerus. Akrual yang dimaksud adalah perbedaan antara laba bersih sebelum depresiasi/amortisasi dan arus kas kegiatan operasi. Semakin besar akrual negatif maka akan semakin konservatif akuntansi yang diterapkan. Hal ini dilandasi oleh teori bahwa konservatisme menunda pengakuan pendapatan dan mempercepat penggunaan biaya.

d) Model Beaver dan Ryan

Tingkat konservatisme dalam laporan keuangan di mana nilai aset understatement dan kewajiban overstatement dapat diketahui dengan menggunakan market to book ratio. Market to book ratio yang mencerminkan nilai pasar relatif terhadap nilai buku perusahaan. Rasio yang bernilai lebih dari 1 mengindikasikan penerapan akuntansi yang konservatif karena perusahaan mencatat

nilai perusahaan lebih rendah dari nilai pasarnya (Wahyuni dan Fitriany, 2010)

Rasio market to book value yang bernilai lebih dari 1 yang berarti bahwa investor bersedia membayar saham lebih besar dari nilai bukuakuntansinya terjadi terutama karena nilai aset yang dilaporkan dalam laporan posisi keuangan tidak mencerminkan baik itu inflasi maupun goodwill. Aset yang telah dibeli beberapa tahun yang lalu dicatat berdasarkan harga perolehan awal meskipun inflasi telah menyebabkan nilai aset mengalami kenaikan signifikan.

2.1.2 Teori Keagenan (Agency Theory)

Teori keagenan menjelaskan hubungan prinsipal dan agen. Dalam teori keagenan, agensi muncul ketika prinsipal dalam hal ini pemilik modal perusahaan mempekerjakan agen untuk memberikan suatu jasa. Jensen dan Meckling (1976) juga menyatakan bahwa terdapat dua macam bentuk hubungan keagenan, yaitu antara manajer dan pemegang saham (shareholders) dan antara manajer dan pemberi pinjaman (bondholders).

Hubungan kerja sama antara prinsipal dan agen dalam perjanjian kontraktual menjelaskan sebuah kesepakatan mengenai tanggung jawab meliputi hak dan kewajiban yang harus dipatuhi dan dijalankan oleh agen dalam hal ini adalah manajer yang diberikan wewenang untuk menjalankan kegiatan operasional perusahaan oleh prinsipal yaitu pemegang saham.

Pemisahan antara kepemilikan dan pengendalian perusahaan merupakan salah satu faktor yang memicu timbulnya konflik kepentingan yang disebut dengan konflik keagenan. Konflik ini dipicu oleh ketidaklengkapan informasi, yaitu saat tidak semua kondisi diketahui oleh kedua belah pihak atau biasa disebut dengan informasi asimetris. Anthony dan Govindarajan (2005) menyatakan teori agensi mengutamakan kepentingannya masing-masing. Teori agensi menggunakan tiga asumsi sifat manusia yang dikemukakan Eisenhardt (1989) yaitu manusia pada umumnya mementingkan diri sendiri (self interest), manusia memiliki daya pikir terbatas mengenai persepsi masa yang akan datang (bounded rationality), dan manusia selalu menghindari risiko (risk adverse).

Sebagai pengelola perusahaan yang ditunjuk oleh pemilik modal, tentunya manajer memiliki informasi yang banyak mengenai kondisi internal perusahaan baik secara finansial dan juga prospek perusahaan ke depannya dibandingkan pemilik modal. Sebagai pengelola harusnya manajer memberikan informasi yang sebenarnya melalui laporan keuangan perusahaan.

Scott (2000) menyatakan apabila beberapa pihak yang terkait dalam transaksi bisnis lebih memiliki informasi daripada pihak lainnya, maka kondisi tersebut dikatakan sebagai asimetri informasi. Asimetri informasi dapat diartikan sebagai informasi yang terdistribusi dengan tidak merata diantara agen dan pemilik, serta tidak mungkinnya pemilik untuk mengamati secara langsung usaha yang dilakukan oleh agen. Hal ini

menyebabkan agen cenderung melakukan perilaku yang tidak semestinya (disfunctional behaviour). Dengan adanya ketidakseimbangan penguasaan informasi akan memicu suatu kondisi yang disebut asimetris informasi (information asymmetry).

Ketidakseimbangan informasi yang dimiliki akan dapat membuka celah bagi manajer untuk melakukan tindakan manipulatif dalam rangka mengelabuhi pemilik modal, manajer mungkin memiliki ketakutan apabila mengungkap tentang adanya informasi yang tidak diharapkan oleh pemilik modal.

Scott (2000) mengelompokkan informasi asimetri ke dalam dua jenis, antara lain :

1. Adverse Selection

Keadaan ini terjadi karena beberapa orang atau dalam hal ini manajer perusahaan lebih mengetahui kondisi sekarang dan prospek di masa mendatang dibanding investor luar, dengan adanya informsi asimetri ini sehingga membuka peluang untuk satu pihak yang memiliki informasi lebih untuk melakukan transaksi bisnis yang oppurtunies.

2. Moral Hazard

Merupakan tindakan yang dilakukan manajer yang tidak sepebuhnya diketahui oleh pemegang saham, tindakan ini dilakukan manajer melanggar kontrak perjanjian yang harusnya dijalankan. Moral Hazard dapat terjadi karena adanya pemisahan kepemilikan dengan pengendalian perusahaan. Hal ini diakibatkan ketidakmampuan

pemilik/pemegang saham melakukan observasi kinerja manajer dalam menjalankan kegiatan operasiona perusahaan.

Menurut Masdupi (2005) terdapat berbagai cara yang digunakan untuk mengurangi konflik kepentingan, yaitu :

a. Meningkatkan kepemilikan saham oleh manajemen (insider ownership). Perusahaan meningkatkan bagian kepemilikan manajemen untuk mensejajarkan kedudukan manajer dengan pemegang saham sehingga bertindak sesuai dengan keinginan pemegang saham. Dengan meningkatnya proporsi saham yang dimiliki akan meningkatkan motivasi memperbaiki kinerja.

b. Institutional Investor sebagai monitoring agent.

Moh’d et all (1998) menyatakan bahwa bentuk distribusi saham dari luar (outside sharehoders) yaitu institutional investor dan shareholders dispersion dapat mengurangi biaya keagenan. Hal ini disebabkan karena kepemilikan merupakan sumber kekuasaan yang dapat digunakan untuk mendukung atau menantang keberadaan manajemen, maka konsentrasi atau penyebaran kekuasaan suatu hal yang relevan dalam perusahaan.

c. Meningkatkan sumber pendanaan melalui hutang.

Penambahan hutang dalam struktur modal dapat mengurangi penggunaan saham sehingga meminimalisir biaya keagenan ekuitas. Akan tetapi, perusahaan memiliki kewajiban untuk mengembalikan pinjaman dan membayarkan beban bunga secara periodik. Selain itu penggunaan hutang

yang terlalu besar juga akan menimbulkan konflik keagenan antara shareholders dan debtholders sehingga memunculkan biya keagenan hutang

Munculnya masalah agensi yang disebabkan konflik kepentingan dan asimetris informasi tersebut dapat membuat perusahaan menanggung biaya keagenan (agency cost). Berdasarkan asumsi tersebut dibutuhkan pihak ketiga yang bersifat independen untuk menilai secara objektif tentang laporan keuangan dalam hal ini akuntan publik (auditor). Auditor bertugas memberikan jasa untuk menilai laporan keuangan yang telah disajikan manajer apakah telah sesuai dengan prinsip akuntnsi yang berlaku dan kondisi yang sebenarnya, dengan hasil akhir pemberian opini audit.

Jasa Kantor Akuntan Publik memberikan manfaat informasi yang akurat dan dapat dipercaya dalam pengambilan keputusan. Laporan keuangan yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik lebih dapat dipertanggungjawabkan dibandingkan laporan keuangan yang belum diaudit. Oleh sebab itu keandalan auditor dapat menentukan keandalan penyajian laporan keuangan sebagai penengah kepentingan antara pihak ekstenal dan internal perusahaan.

2.1.3 Spesialisasi Auditor (X1)

Pengetahuan yang dimiliki auditor tidak cukup hanya pengetahuan akuntansi dan audit, namun juga jenis industri perusahaan klien. Dengan semakin kompetitifnya Kantor Akuntan Publik menuntut auditor memiliki nilai jual lebih, salah satunya adalah spesialisasi. Gul (2007) menyatakan

spesialisasi auditor merupakan salah satu pengukuran kualitas audit. Namun menurut Craswell et all (1995) menunjukkan bahwa spesialisasi auditor pada bidang tertentu merupakan dimensi lain dari kualitas audit. Spesialisasi industri KAP menggambarkan keahlian dan pengetahuan audit seorang auditor yang merupakan proses yang ekstensif dalam mengauditi industri tertentu (Fernando, 2007). Salomon et all (1999) menyatakan bahwa auditor dapat dikatakan spesialisasi industri apabila telah melakukan pelatihan-pelatihan yang berfokus pada suatu industri.

Kemampuan auditor untuk melaksanakan audit yang efektif dan efisien tergantung dari kemampuan auditor di dalam industri klien.Auditor spesialis menggambarkan keahlian dan pengalaman audit seorang auditor pada bidang industri tertentu. Auditor yang memiliki spesialisasi akan memberikan jasa yag lebih baik atas industri yang dikuasainya. Auditor dengan spesialisasi tertentu memiliki pemahaman dan pengalaman yang baik akan suatu industri tertentu. Dengan pemahaman dan pengalaman yang baik maka auditor akan memiliki pengetahuan akan risiko khas dari industri klien yang dapat memudahkan auditor untuk menemukan kesalahan-kesalahan dalam laporan keuangan yang disajikan.

Arrens, Elder, dan Beasley (2006) mengemukakan ada tiga alasan pentingnya pemahaman yang memadai mengenai industri klien dan lingkungannya, antara lain:

a. Risiko yang berkaitan dengan industri tertentu yang dapat mempengaruhi penilaian auditor atas risiko bisnis klien dan risiko audit

yang dapat diterima dan bahkan dapat mempengaruhi penerimaan auditor untuk perusahaan yang lebih berisiko seperti usaha simpan pinjam dan asuransi kesehatan.

b. Risiko inheren atau bawaan yang dimiliki oleh masing-masing industri. Pengalaman auditor dalam mengaudit suatu industri tertentu akan menjadikan auditor familiar dengan risiko industri tersebut sehingga membantu penilaian relevansi bagi klien tersebut.

c. Banyak industri yang memiliki persyaratan akuntansi yang unik yang harus dipahami auditor untuk menilai apakah laporan keuangan perusahaan tersebut telah sesuai dengan standar yang ditetapkan.

Auditor yang dikatakan memiliki spesialisasi industri apabila telah mempunyai pengalaman akan perusahaan pada industri tertentu. Semakin sering KAP melaukan pemeriksaan terhadap perusahaan dengan industri sejenis, maka KAP tersebut akan spesialis dalam kelompok industri perusahaan tersebut. Spesialisasi industri mengacu pada pengetahuan industri spesifik dan keahlian seorang auditor yang diperoleh dari audit yang luas dalam industri siapa pun (Fernando, 2007) Sehingga auditor yang memiliki spesialiasi akan memberikan jasa yang lebih baik yang akan menunjukkan integritas laporan keuangan yang disajikan.

Menurut Jamaan (2008), spesialisasi industri adalah banyaknya

Dokumen terkait