Memaparkan kesimpulan dan saran berdasarkan judul yang telah dibahas.
DAFTAR PUSTAKA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
10 BAB II
URAIAN TEORITIS
2.1 Pengertian Museum
Benda cagar budaya bergerak atau benda cagar budaya tertentu baik yang dimiliki oleh negara maupun perorangan dapat disimpan dan dirawat di museum (Psl.
22. (1). UU. RI. No. 5 Tahun 1992). Museum adalah lembaga, tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan, dan pemanfaatan benda-benda bukti materiil hasil budaya manusia serta alam dan lingkungannya, guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa (Psl. 1. (1). PP. No. 19 Tahun 1995).
Pernyataan diatas adalah museum dalam kaitannya dengan cagar benda budaya. Namun museum dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan dan kebudayaan pada umumnya mempunyai arti yang sangat luas. Koleksi museum merupakan bahan atau objek penelitian ilmiah. Museum bertugas mengadakan, melengkapi dan mengembangkan tersedianya objek penelitian ilmiah itu bagi siapa pun yang membutuhkan. Selain itu museum bertugas menyediakan sarana untuk kegiatan penelitian tersebut bagi siapapun, dan museum bertugas pula melaksanakan kegiatan penelitian itu dan menyebarluaskan hasil penelitian tersebut untuk pengembangan ilmu pengetahuan pada umumnya (Direktorat Permuseuman, 1998).
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Kata museum berasal dari mouseion, yang berarti kuil untuk sembilan Dewi Muses, anak-anak Dewa Zeus, yang melambangkan ilmu dan kesenian. Kata museum mulai banyak digunakan pada masa Renaissance, sekitar abad ke-16 dan ke-17. Kata museum itu, dikaitkan dengan ciri ilmiah, disamping bersenang-senang (Direktori Museum Indonesia, 2012).
Sebelum tahun 1945, Indonesia dikuasai oleh Kolonial Belanda. Kekayaan alam yang melimpah dan budaya yang beraneka ragam sangat mempengaruhi perilaku kolonial. Perilaku itu berhubungan erat dengan usaha menggali kekayaan tersebut dan mempertahankan kekuasaan di Indonesia. Usaha itu harus melakukan peneltian alamnya dan segala segi kehidupan masyarakatnya. Untuk melakukan Penelitian perlu sarana seperti stasiun-stasiun percobaan penelitian dan museum.
Setelah Indonesia Merdeka, maka keberadaan museum diabdikan pada pembangunan bangsa di Indonesia. Para ahli bangsa Belanda yang aktif dalam lembaga atau museum yang berdiri sebelum tahun 1945 masih diizinkan tinggal di Indonesia dan menjalankan tugasnya. Banyak ahli bangsa Indonesia yang aktif dalam lembaga-lembaga dan museum yang berdiri sebelum 1945. Kemampuan mereka tidak kalah dengan ahli bangsa Belanda (Direktorat Permuseuman, 1998).
Jenis Museum
Direktorat Permuseuman pada tahun 1971 mengelompokkan museum-museum menurut jenis koleksinya menjadi 3, yaitu museum-museum umum, museum-museum khusus, dan museum lokal. Pengelompokan itu diubah pada tahun 1975 menjadi museum umum, museum khusus, dan museum pendidikan.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
12
Selanjutnya pada tahun 1980 pengelompokan itu di sederhanakan menjadi museum umum dan museum khusus. Museum umum dan museum khusus itu, berdasarkan tingkat kedudukannya dijabarkan menjadi museum tingkat regional (Provinsi), dan museum tingkat lokal (Kotamadya/Kabupaten) (Direktori Museum Indonesia, 2012).
2.2 Pengertian Pariwisata
Kata pariwisata baru populer pada tahun 1958. Sebelum itu digunakan kata turisme, serapan Bahasa Belanda “tourisme”. Sejak 1958 resmilah kata pariwisata
sebagai padanan tourisme (Bld) atau tourism (Ing) (Suwardjoko, 2007).
Berdasarkan kutipan Yoeti (2003) dapat disimpulkan bahwa pariwisata adalah meninggalkan tempat kediamannya sehari-hari pergi ketempat lain untuk tinggal sementara waktu, tidak lain untuk bersenang-senang, bukan untuk mencari nafkah.
Namun, pendapat Soekadijo (1996), mengatakan bahwa pariwisata ialah segala kegiatan dalam masyarakat yang berhubungan dengan wisatawan.
Banyak pendapat yang terus dikemukakan oleh pakar-pakar pariwisata, salah satu diantaranya mengatakan bahwa pariwisata merupakan bagian dari budaya masyarakat, yaitu berkaitan dengan cara penggunaan waktu senggang/leisure time yang dimiliki seseorang. Sebagai sebuah konsep, pariwisata telah mengalami proses perkembangan yang panjang dari pemahaman yang sempit dan sederhana sampai pada pemahaman yang luas dan komplek (Wardiyanto, 2011).
Secara umum pariwisata dapat disimpulkan berdasarkan terjemahan kata [KBIK, 1991], yakni pariwisata adalah berbagai bentuk kegiatan wisata sebagai
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
kebutuhan dasar manusia yang diwujudkan dalam berbagai macam kegiatan yang dilakukan oleh wisatawan, didukung berbagai fasilitas dan pelayanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, dan pemerintah.
Sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, kepariwisataan adalah segala ihwal yang berkaitan dengan pariwisata. Kepariwisataan adalah fenomena politik-sosial-ekonomi-budaya fisik yang muncul sebagai wujud kebutuhan manusia dan negara serta interaksi antara wisatawan dengan masyarakat tuan rumah, sesama wisatawan, pemerintah, dan pengusaha berbagai jenis barang dan jasa yang diperlukan oleh wisatawan (Suwardjoko P. Warpani, 2007). Oleh karena itu, elemen-elemen tersebut menjadi nilai penting dalam penerapan kepariwisataan yang baik, dengan beragam pendapat mengenai definisi pariwisata dan segala aspek yang menjadi faktor-faktornya.
2.3 Pengertian Wisata
Wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara (Psl. 1.UU. RI. No. 10 Tahun 2009).
2.4 Pengertian Wisata Edukasi
Wisata Edukasi adalah suatu perjalanan wisata yang memiliki nilai tambah edukasi, tidak sekedar berwisata, tetapi juga memiliki tujuan untuk menambah nilai-nilai edukasi atau pendidikan bagi wisatawan. Wisata edukasi sebuah kegiatan yang umumnya dilakukan oleh institusi pendidikan, seperti sekolah-sekolah maupun
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
14
institusi pendidikan lainnnya. Wisata edukasi atau wisata pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan dan kreatifitas peserta kegiatan wisata, biasanya tujuan wisata edukasi adalah tempat-tempat yang memiliki nilai tambah sebagai sebuah area wisata, seperti kawasan perkebunan, kebun binatang, tempat penangkaran hewan langka, pusat-pusat penelitian dan lain sebagainya (Wikipedia, 2017).
2.5 Pengertian Wisatawan
Wisatawan adalah orang yang melakukan wisata (Psl. 1.UU. RI. No. 10 Tahun 2009). Secara universal wisatawan didefinisikan sesorang/sekelompok yang melakukan perjalanan wisata dengan menggunakan jasa industri pariwisata, meninggalkan tempat tinggal sehari-hari dan pergi kesuatu tempat dengan kurun waktu lebih dari 24 jam, tidak menetap dan tidak untuk bekerja melainkan untuk bersenang-senang.
2.6 Pengertian Daya Tarik Wisata
Daya Tarik Wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan (Psl. 1.UU. RI. No.
10 Tahun 2009). Daya tarik wisata merupakan sesuatu yang harus dimiliki sebuah objek wisata, karena daya tarik merupakan nilai jual yang mampu menarik perhatian orang melakukan wisata dan mengunjungi objek yang memiliki daya tarik tersebut.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2.7 Pengertian Pengunjung
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pengertian dari pangunjung adalah orang yang mengunjungi. Maka dari itu pengunjung belum tentu bisa disebut sebagai wisatawan, sebab definisi dari keduanya jelas berbeda, karena perbedaan kurun waktu, jarak, dan asal tempat sebelum melakukan perjalanan. Pengunjung memiliki arti secara luas dan universal, sedangkan wisatawan adalah kata yang sudah di spesifikkan.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
16 BAB III
GAMBARAN UMUM
MUSEUM NEGERI PROVINSI SUMATERA UTARA
3.1 Sejarah Singkat Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara diresmikan tanggal 19 April 1982 oleh Menteri Pendidikan dan kebudayaan, Dr. Daoed Joensoef. Namun peletakan koleksi pertama berupa sepasang Makara dilakukan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1954. Makara adalah hewan mitos berkepala gajah dan memiliki ekor ikan yang dalam mitologi Hindu dianggap sebagai tunggangan Dewi Gangga. Pada bangunan candi, Makara diletakkan pada kedua ujung pipi tangga berfungsi sebagai penjaga. Makara yang menjadi koleksi pertama museum ini berasal dari Situs Percandian Padang Lawas. Sejak itu museum juga dikenal dengan nama Gedung Arca.
Sedari awal diresmikan hingga tahun 1999, Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara merupakan unit pelaksana teknis yang dikelola dibawah naungan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Setelah diberlakukannya Otonomi Daerah pada tahun 2000, pengelolaan museum diserahkan sepenuhnya kepada Pemerintah Provinsi sebagai Unit Pelaksana Teknis Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Utara. Berdasarkan peraturan
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Gubernur Sumatera Utara nomor 3 tahun 2011, Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara mempunyai tugas membantu Kepala Dinas dalam menyelenggarakan urusan pemerintah dibidang ketatausahaan serta pengembangan dan pengelolaan museum.
Gambar 1. Papan Nama Gedung Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara.
(Koleksi Pribadi)
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
18
3.2 Struktur Kepengurusan Museum
*Jumlah seluruh staff tetap adalah 38 orang.
Kepala Museum Martina Silaban, SH
Kepala Tata Usaha Purnama Ginting
Staff Staff
Staff Staff Staff Staff Staff Staff
Kepala Konservasi dan Reparasi Afrida Lubis
Kepala Bimbingan, Edukasi, dan Koleksi
Biliater Situngkir, ST
Staff Fungsional (13 orang) Staff
(6 orang)
Staff (9 orang)
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Tugas dan Fungsi
1. Kepala Museum
Memimpin dan mengatur pengelolaan museum sesuai AD/ART organisasi dan kebijakan pemerintah terkait.
2. Kepala Tata Usaha
Memimpin bidang tata usaha. Bidang ini bertanggung jawab melaksanakan pengelolaan ketatausahaan, dibantu 6 staff tetap dengan pembagian tugas masing-masing, yakni melaksanakan pengelolaan surat menyurat, urusan rumah tangga, kehumasan, dan kearsipan, melaksanakan pengelolaan adsminitrasi kepegawaian, melaksanakan pengelolaan adsminitrasi keuangan, dan bertugas menerima tamu serta penjualan tiket masuk dibagian depan gedung museum.
3. Kepala Konservasi dan Reparasi
Memimpin bidang konservasi dan reparasi koleksi museum. Bidang ini bertanggung jawab dalam penerimaan benda yang akan menjadi koleksi di museum, mengkonservasi koleksi, pengadaan koleksi yang dibutuhkan untuk mengikuti konsep tata letak pameran, pemeliharaan, dan reparasi koleksi yang mengalami kerusakan Kepala Bimbingan, Edukasi, dan Koleksi.
4. Kepala Bimbingan, Edukasi, dan Koleksi
Memimpin di bidang bimbingan, edukasi, dan koleksi. Bidang yang dikepalai oleh Biliatur Situngkir, ST ini merupakan salah satu bidang yang
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
20
sangat berpengaruh dalam kepengurusan museum. Ada 9 staff yang terbagi dalam beberapa cakupan tugas, yakni pencarian ruangan, penerima tamu, pemandu pengunjung/wisatawan. Bidang ini mengatur tata letak koleksi setelah dinyatakan layak untuk dipamerkan oleh pihak observator. Setelah koleksi tertata rapi sesuai klasifikasinya, bidang ini bertugas mempublikasikan dan memberi edukasi kepada pengunjung mengenai koleksi tersebut.
Setiap hari selalu ada rombongan yang datang mengunjungi museum ini. Baik dari pihak, instansi, sekolah, komunitas, dan kelompok belajar.
“gak ada kesulitan kok dalam menjalankan tugas. Yah, memang sih ada aja pengunjung yang kurang tertib dengan peraturan yang dibuat, tapi sejauh ini kami masih bisa menanganinya” ujar Pak Iwan, salah satu staff di bidang ini.
3.3 Profil Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara adalah salah satu objek wisata yang wajib dikunjungi. Terletak di Jalan H.M. Jhoni No. 51 Medan, Sumatera Utara.
Museum ini menyimpan benda-benda peninggalan sejarah dan kebudayaan dari dalam serta luar Provinsi Sumatera Utara.
Kompleks museum berdiri diatas lahan seluas 10.468 m2. Bangunan induk terdiri dari dua lantai dan difungsikan untuk ruang pameran tetap, ruang pameran temporer, ruang audio visual, ruang ceramah, ruang kepala museum, ruang tata usaha, ruang seksi bimbingan dan edukasi, perpustakaan, dan ruang penyimpanan koleksi.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Arsitektur bentuk bangunan induk ini menggambarkan rumah tradisional Sumatera Utara, bagian atap depan depenuhi dengan ornamen dari etnis Melayu, Batak Toba, Simalungun, Karo, Angkola/Mandailing, Pakpak, dan Nias. Pada kedua dinding depan bangunan terdapat relief yang menggambarkan potensi sejarah dan budaya Sumatera Utara, antara lain relief rumah tradisional serta relief para tokoh dan pahlawan, seperti Sisingamangaraja XII, komponis Djaga Depari dan Lili Suheri, sastrawan Tengku Amir Hamzah, pencipta lagu Nahum Situmorang, dan tokoh pendidikan Willem Iskandar. Bangunan lain diluar bangunan induk adalah bangunan untuk ruang seksi koleksi, seksi konservasi dan reparasi, laboratorium, mess, tempat penjualan tiket dan pos keamanan.
Gambar 2. Tampak Depan Gedung Museum.
(Koleksi Pribadi)
Berdasarkan jenis koleksi yang dimiliki, Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara dikategorikan sebagai museum umum, yaitu museum yang memamerkan koleksi dari beragam jenis. Sebagian besar koleksi berasal dari daerah Sumatera Utara namun juga ada koleksi yang berasal dari beberapa daerah lain di Indonesia, bahkan dari luar negeri. Museum ini memiliki kurang lebih tujuh ribu koleksi yang
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
22
meliputi benda-benda sejarah dan budaya mulai dari masa prasejarah, Hindu, Buddha, Islam, Kolonial, hingga masa kini.
Untuk dapat melihat dan menikmati seluruh pameran koleksi museum, pengunjung dikenakan tiket masuk dengan harga yang berbeda sesuai klasifikasi usia dan status. Harga Tiket Masuk (HTM) untuk pengunjung umum dikenakan Rp.
2000,-, pelajar dan anak-anak dibawah umur dikenakan Rp. 500,-, sedangkan untuk Wisatawan Mancanegara (Wisman/Turis) dikenakan Rp. 10.000,-.
Gambar 3. Loket Penjualan Tiket Masuk ke Museum.
(Koleksi Pribadi) 3.4 Tata Klasifikasi Pameran
Ruang pameran tetap pada lantai I diisi dengan ruang pameran koleksi Prasejarah, Sumatera Utara Kuno, Masa Hindu-Buddha, Masa Islam, Masa Kolonial, Sejarah Perjuangan, Gubernur Sumatera Utara dan Pahlawan Nasional, serta Taman Purbakala. Kemudian pada lantai II terdapat ruang pameran koleksi Etnografi, Kesenian Tradisional, dan Koleksi Khusus.
1. Ruang Koleksi Masa Prasejarah
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Rentang waktu masa prasejarah cukup panjang, cukup dari awal mula keberadaan manusia hingga mulai dikenalnya. Koleksi ruang prasejarah yang dipamerkan diantaranya kapak genggam Sumatera serta kulit kerang dan tanduk rusa yang ditemukan di situs bukit kerang di Kabupaten Langkat.
Koleksi lainnya berupa kapak persegi, manik-manik, mata pancing, gelang perunggu, bandul jala, replika fosil manusia purba (Homo Erectus dan Homo Sapiens), serta diorama kehidupan masa prasejarah.
Gambar 4. Papan Keterangan Ruang Koleksi Masa Prasejarah.
(Koleksi Pribadi) 2. Ruang Koleksi Sumatera Utara Kuno
Ruang ini menampilkan jejak peradaban awal masyarakat Sumatera Utara yang berhubungan dengan kepercayaan (benda-benda religi) antara lain berupa peti mati kayu (Nias), adu atau arca kayu (Nias), pangulubalang (Batak Toba) dari batu yang dianggap sebagai penjaga, Tunggal Panaluan (Batak) yakni tongkat kayu yang dianggap mistis milik datu, Ingan Tambar (Karo) sebagai wadah ramuan, Sahan (Batak Toba) untuk wadah pupuk yang berfungsi sebagai pagar atau pelindung kampung, Pagar Jabu untuk wadah ramuan yang diyakini dapat menjaga rumah dari ancaman magis, Patung
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
24
Pohung (Batak Toba) untuk wadah ramuan magis yang ditancapkan ditengah ladang, Mejan (Pakpak) atau arca batu bentuk manusia dalam posisi menunggang binatang seperti kuda yang berfungsi sebagai penjaga, serta Pustaha Laklak (Batak) yaitu naskah kayu yang ditulis dalam aksara dan bahasa batak. Umumnya naskah berisi tentang mantra, ramalan hari baik dan buruk serta cara membuat ramuan untuk keselamatan dan menjaga kampung.
Gambar 5. Papan Keterangan Ruang Koleksi Kebudayaan Sumatera Utara.
(Koleksi Pribadi)
Gambar 6. Ruang Koleksi Masa Sumatera Utara Kuno.
(Koleksi Pribadi) 3. Ruang Koleksi Masa Hindu-Buddha
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Peninggalan masa pengaruh Hindu Buddha sekitar abad ke 10 hingga ke 14 dapat ditemukan di pedalaman Sumatera Utara, tepatnya di daerah aliran Sungai Batang Pane dan Barumun yang termasuk dalam kawasan Padang Lawas. Selain candi atau disebut biara, ditemukan juga artefak baik yang berbahan batu maupun perunggu. Para ahli menghubungkan peninggalan tersebut dengan Kerajaan Pannai/Pane.
Beberapa koleksi yang ditemukan Padang Lawas disajikan di ruang ini antara lain Arca Gajasimha Vyala yang berbadan singa dan berkepala gajah, serta arca-arca berbahan perunggu antara lain arca Buddha, replika Arca Lokanatha yang pada bagian lapik tertulis angka tahun 96 Caka, Arca Bodhisatwa Padmapani, landasan Arca Garuda, dan Pilar Relung (Prabha).
Jejak peninggalan Hindu Buddha yang lain juga ditemukan di situs Kota Cina yang terletak di Kecamatan Medan Labuhan, Kota Medan. Koleksi yang ditemukan di situs Kota Cina berupa arca Dhyani Buddha Amitabbha, Arca Wisnu, dan Arca Laksmi yang semuanya berbahan batu. Selain itu ditampilkan juga keramik yang ditemukan di situs Kota Cina yang berasal dari abad ke 11-14 M.
4. Ruang Koleksi Masa Islam
Jejak fisik sebagai bukti adanya perkembangan budaya Islam di Sumatera Utara pada abad 9 hingga ke 11, salah satunya adalah ditemukannya sejumlah artefak berupa tembikar dan kaca dari Timur Tengah di Barus, sebuah kota di pesisir pantai Barat Sumatera. Bukti lebih kuat lagi adalah
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
26
keberadaan nisan-nisan kuno di sejumlah kawasan di Barus yang berasal dari kurun waktu abad ke 13 hingga ke 15 M.
Selain itu, bukti lain juga ditemukan di pantai timur, yakni berupa nisan-nisan kuna di situs Kota Rentang, Medan Labuhan dan Klumpang.
Dilihat dari kaligrafinya ada kemungkinan benda ini setipe dengan nisan-nisan Aceh yang bertatikh awal abad ke 15 M. Perkembangan lebih lanjut Islam di Sumatera Utara ini ditandai oleh berdirinya sejumlah Kesultanan Melayu di pesisir timur Sumatera. Beberapa bukti diantaranya yang masih dapat dilihat adalah kompleks bangunan istana beserta beragam komponen pelengkapnya dan bangunan mesjid yang megah.
Koleksi yang ditampilkan dalam Ruang Islam antara lain berupa nisan-nisan yang ditemukan di Situs Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, nisan-nisan dari Klumpang, naskah-naskah Islam tua yang ditulis tangan, serta replika Masjid Azizi yang berada di Kabupaten Langkat.
5. Ruang Koleksi Masa Kolonial
Sebelum Pemerintah Hindia Belanda memerintah di wilayah Sumatera, para pengusaha dari Eropa telah datang dan membuka perkebunan. Pada awalnya perkebunan dirintis di Deli (Medan) oleh Jacob NienHuys tahun 1863 dengan tembakau sebagai komoditas utamanya. Perkebunan di Sumatera Timur mengalami perkembangan yang cukup pesat pada tahun 1870-1880, menjadi momentum awal perkembangan teritorial Sumatera Timur.
Koleksi yang ditampilkan dalam Ruang Kolonial antara lain adalah komoditas perdagangan di masa kolonial (kayu manis, pala, cengkeh, lada
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
hitam, lada putih, tembakau, dan kopi), demografi penduduk Sumatera Utara di masa kolonial yakni model figur buruh jawa, kuli Tionghoa, kuli India, pedagang Tionghoa, tuan tanah Eropa, bangsawan Melayu, tentara KNIL, dan centeng karo. Koleksi lainnya berupa perlengkapan perkebunan yakni mesin penggiling lakets licin, mesin penggiling lateks kembang, alat-alat perkebunan, mata uang perkebunan dan diorama kehidupan kota Medan tempo dulu.
6. Ruang Koleksi Sejarah Perjuangan
Seperti halnya daerah lain di Indonesia, di Sumatera Utara telah tumbuh benih-benih perlawanan terhadap penjajah jauh sebelum kemerdekaan. Kemerdekaan Indonesia yang diraih pada 17 Agustus 1945 kemudian baru berkumandang di Medan, Sumatera Utara pada 6 Oktober 1945 di Lapangan Fukuraido (kini Lapangan Merdeka). Pernyataan proklamasi ini dibacakan oleh Mr. T. Mohamad Hasan dan Dr. M. Amir yang memperoleh mandat dari presiden RI. Namun walaupun telah merdeka, masih banyak hambatan yang harus dihadapi. Ketika pasukan NICA masuk kembali beberapa wilayah di Indonesia, hal ini telah menimbulkan pertempuran di daerah-daerah di Sumatera Utara. Salah satu yang terkenal adalah pertempuran Medan Area yang terus menerus dilakukan dari Oktober 1945-Juli 1947.
Ruang Sejarah Perjuangan menceritakan perjuangan masyarakat Sumatera Utara sejak sebelum tahun 1908 sampai masa revolusi fisik
1945-UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
28
1949. Juga ditampilkan sejarah perjuangan pers di Sumatera Utara. Koleksi yang dipamerkan meliputi senjata tradisional dan modern, obat-obatan tradisional, peralatan komunikasi yang digunakan melawan penjajah, lukisan kepahlawanan dan peristiwa sejarah, serta poster peristiwa perang.
7. Ruang Koleksi Gubernur Sumatera Utara dan Pahlawan Nasional Di ruang ini terpajang foto maupun lukisan sejumlah pahlawan nasional yang berasal dari wilayah Sumatera Utara, juga para gubernur yang pernah memerintah wilayah Sumatera Utara dan telah berjasa membangun dan memajukan Provinsi Sumatera Utara. Koleksi yang ditampilkan di ruang ini meliputi:
1. Pahlawan Nasional (National heroes)
1) Sisingamangaraja XII (berdasarkan Keputusan Presiden no. 590 tahun 1961).
2) Ferdinan Lumban Tobing (berdasarkan Keputusan Presiden no. 361 tahun 1962).
3) Tengku Amir Hamzah (berdasarkan Keputusan Presiden no. 20 tahun 1973).
4) H. Adam Malik (berdasarkan Keputusan Presiden no. 107 tahun 1998) 5) Abdul Haris Nasution (berdasarkan Keputusan Presiden no. 073 tahun
2002).
6) Kiras Bangun (berdasarkan Keputusan Presiden no. 082 tahun 2005) 7) Dr. Mr. Teuku Moehammad Hasan (berdasarkan Keputusan Presiden
no. 072 tahun 2006).
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
8) Letnan Jenderal (Purn) Djamin Ginting (berdasarkan Keputusan Presiden no. 115/TK/tahun 2014).
2. Gubernur Sumatera Utara (The former governors of North Sumatra) 1) Mr. Moehammad Hasan (Gubernur Sumatera, 1945-1947).
2) Dr. Ferdinand L. Tobing (Gubernur Militer Tapanuli-Sumatera Utara, 1 Desember 1984-31 Januari 1950).
3) Sarimin Reksodiharjo (Pelaksana Gubernur KDH Sumatera Utara, 14 Agustus 1950-25 Januari 1951).
4) Abdul Hakim (Gubernur Provinsi Sumatera Utara, 25 Januari 1951-23 Oktober 1953).
5) Mr. Mhd. Amin (Gubernur Muda/ Gubernur Provinsi Sumatera Utara, 23 Oktober 1953-12 Maret 1956).
6) St. Komala Pontas (Gubernur Provinsi Sumatera Utara, 18 Maret 1956-1 April 1960).
7) Raja Junjungan Lubis (Gubernur KDH Sumatera Utara, 1 April 1960-5 April 1963).
13) Raja Inal Siregar (Gubernur Provinsi Sumatera Utara, 13 Juni 1988-13 Juni 1998).
14) T.Rizal Nurdin (Gubernur Provinsi Sumatera Utara, 14 Juni 1998-5 September 2005).
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
30
15) Drs. Rudolf M. Pardede (Gubernur Provinsi Sumatera Utara, 8 Februari 2006-15 Juni 2008).
16) H. Syamsul Arifin, SE (Gubernur Provinsi Sumatera Utara, 16 Juni 2008-2011).
17) Gatot Pujo Nugroho, ST (Plt. Gubernur Sumatera Utara, 21 Maret 2011-14 Maret 2013).
Gambar 7. Ruang Koleksi Foto-foto Gubernur yang Pernah Menjabat di Sumatera Utara Pada Lantai Satu.
(Koleksi Pribadi)
8. Ruang Koleksi Etnografi
Provinsi Sumatera Utara dihuni oleh berbagai suku yang tersebar di wilayahnya seluas 72,981 km2. Setiap suku memiliki tradisi, cara hidup dan budaya mereka sendiri yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Penduduk asli termasuk Melayu, Batak Toba, Angkola/Mandailing, Simalungun, Karo, Pakpak, Nias, dan masyarakat pesisir Tapanuli Tengah
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
dan Sibolga. Sedangkan suku pendatang diantaranya suku jawa, Tionghoa, India, dan kemudian mengikuti orang Minangkabau, Aceh, Ambon, dan Bugis. Semuanya berkontribusi memperkaya khasanah budaya Sumatera Utara.
Pada ruang ini ditampilkan latar belakang dan keseharian dari delapan kelompok etnis asli dari Sumatera Utara. Koleksi yang ditampilkan meliputi foto-foto dan alat-alat kehidupan sehari-hari, diantaranya: Makan Sirih,
Pada ruang ini ditampilkan latar belakang dan keseharian dari delapan kelompok etnis asli dari Sumatera Utara. Koleksi yang ditampilkan meliputi foto-foto dan alat-alat kehidupan sehari-hari, diantaranya: Makan Sirih,