5.1Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh melalui pengolahan data Portrait Value Questionnaire dan data penunjang dari 250 orang masyarakat suku Batak Toba usia Dewasa Awal di Kota Medan, dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut :
1. Kesepuluh region Schwartz’s Value hanya dapat dikelompokkan ke dalam tujuh region, yaitu power, hedonism, universalism, security, achievement, conformity, tradition dan sedangkan dua single value lainnya yaitu self direcyion, benevolence dan stimulation bergabung dengan region single value
yang lain. Hal ini kurang sesuai dengan teori dasar value dari Schwartz namun berdasarkan artikel Basic Human Values yang ditulis oleh Schwartz (2006) bahwa ditemukan di beberapa negara tidak semua region value dapat teridentifikasi atau region value yang teridentifikasi kurang dari sepuluh. 2. Teridentifikasi hubungan yang compatibilities antar values, yaitu values
dengan hubungan positif dan letak region bersebelahan atau berada dalam satu
region, kedua single value dengan hubungan compatibility ada yang berada pada satu SOVT yang sama namun ada pula yang tidak berada pada satu SOVT yang sama. Tidak teridentifikasi hubungan yang conflict karena values
109
Universitas Kristen Maranatha yaitu Conformity dan Security, Stimulation dan Self Direction, serta
Benevolence dan Universalism, hal ini karena terjadi strategi akulturasi integrasi pada masyarakat suku Batak Toba usia dewasa awal di kota Medan. 3. Kesepuluh Schwartz’s values masyarakat suku Batak Toba usia dewasa awal
di kota Medan dari posisi teratas sampai posisi terbawah secara berurutan adalah benevolence value, conformity value, universalism value, security value, self direction value, achievement value, stimulation value, tradition value, hedonism value, dan power value.
4. Terdapat perbedaan hierarchy value berdasarkan jenis kelamin, yang mana laki-laki memiliki peringkat lebih tinggi dalam conformity value lebih dibandingkan pada responden perempuan. Hal ini dikarenakan laki-laki dewasa awal lebih merasa penting untuk patuh pada aturan dan menjalankan adat/tradisi (tradition value) dibandingkan dengan dewasa awal perempuan. Laki –laki dewasa awal memiliki nilai mean yang lebih tinggi dari perempuan dewasa awal dalam power value yang menggambarkan bahwa budaya Batak Toba menganut sistem patrilineal.
5. Terdapat perbedaan hierarchy value berdasarkan wilayah tempat tinggal (alamat), yang mana pada responden yang tinggal di wilayah Medan Selatan, Medan Utara dan Medan Timur memiliki peringkat lebih tinggi dalam
conformity value dibandingkan dengan responden yang tinggal di wilayah Medan. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat suku Batak Toba di wilayah Barat lebih berusaha mengendalikan tindakan dan perilaku mereka, kerena suku Batak Toba di wilayah Medan Barat adalah suku pendatang. Mereka
110
Universitas Kristen Maranatha menyadari bahwa penting bagi mereka untuk mengikuti aturan di wilayah Barat ini dan tidak melakukan perbuatan yang dapat membahayakan orang lain di wilayah tersebut.
6. Terdapat perbedaan hierarchy value berdasarkan pendidikan terakhir, yang mana responden dengan pendidikan terakhir SMA memiliki peringkat lebih tinggi dalam self direction value dibandingkan dengan responden dengan pendidikan terakhir dan S1. Hal ini menggambarkan bahwa dewasa awal yang berlatar pendidikan SMA lebih terdorong untuk mengembangkan rasa ingin tahu dan kreativitas mereka mengeksplor sesuatu hal, khususnya mengenai budaya Batak Toba dibandingkan dengan responden yang berlatar belakang pendidikan Diploma dan S1.
7. Terdapat perbedaan hierarchy value berdasarkan penghasilan keluarga, yang mana responden dengan penghasilan keluarga menengah ke atas dan rata-rata memiliki peringkat lebih tinggi dalam achievement value dibandingkan dengan responden yang memiliki penghasilan menengah bawah. Hal ini menunjukkan bahwa dewasa awal yang memiliki penghasilan menengah atas dan rata-rata berusaha menggunakan kemampuan berpikir yang mereka miliki untuk mencapai kesuksesan berdasarkan standar sosial di lingkungan sekitar mereka.
111
Universitas Kristen Maranatha 5.2Saran
Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah dikemukakan sebelumnya, peneliti mengajukan beberapa saran, yaitu :
5.2.1 Saran Teoretis
Penelitian selanjutnya dapat dilakukan pada responden dengan tahapan perkembangan yang lain, misalnya pada kelompok usia remaja atau dewasa madya.
Penelitian berikutnya dapat berupa studi komparatif antara dewasa awal suku Batak Toba dengan dewasa awal suku lainnya yang ada di kota Medan.
5.2.2 Saran Praktis
Kepada masyarakat suku Batak Toba dengan cara memberikan gambaran
values pada masyarakat dewasa awal suku Batak Toba di kota Medan agar lebih mudah beradaptasi, memahami serta menyikapi masalah yang timbul akibat akulturasi dengan budaya setempat.
Memberikan informasi kepada Perkumpulan Pemuda-Pemudi Gereja Suku Batak Toba mengenai gambaran values yang mereka miliki yang berguna sesuai dengan keadaan zaman sekarang misalnya dengan membuat program kerja yang berkaitan dengan kegiatan adat Batak Toba yang bertujuan untuk melestarikan budaya Batak Toba tersebut.
Universitas Kristen Maranatha DAFTAR PUSTAKA
Berry, J. W., Poortinga. Y, H., Segall, M. H., Dasen, P. R. 1992. Cross-cultural Psychology. New York: Cambridge University Press.
Berry, J. W., Poortinga. Y, H., Segall, M. H., Dasen, P. R. 1999. Psikologi Lintas Budaya: Riset dan Aplikasi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Koentjaraningrat, Prof., Dr. 1979. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. : Djembatan.
Santrock, John W. 2004. Life Span Development. New York : McGraw Hill inc. Schwartz, S. H. 2001. Value hierarchies across culture taking a similar
perspective. Journal of cross-cultural psychology Vol. 32. no. 32. May 2001, 268-290.
Schwartz, Shalom H. 1990. Universal in the Content and Strusture of values: Theoretical Advances and Empirical Test in 20 Countries. In Zanna. M.P.Ed. Advance in experimental social psychology Vol.25, 1-65. Oralando, FL : Academic Press.
Schwartz, Shalom H., M., Owens, V., & Burgess, S. 2001. Extending The Cross- Cultural validity of The Theory of basic Human Value with A Different Method of Measurament. Journal of Cross Cultural Psychology. Vol 32. No.5. September 2001.
Sihombing, T. M. 1989. Jambar Hata Dongan Tu Ulaon Adat. Tapanuli Utara: CV. Tulus Jaya.
Singarimbun, Marsrin dan Sofian Effendi. Metode Penelitian Survai edisi kedua. Jakarta : Pustaka.
Snedecor GW & Cochran WG, Statistical Methods 6thed, Ames, IA : Iowa State University Press, 1967.
Tim Dosen. 2009. Pedoman Skripsi Sarjana. Fakultas Psikologi. Universitas Kristen Maranatha.
Tambunan, E. H. 1982. Sekelumit Mengenai Masyarakat Batak Toba dan Kebudayaannya Sebagai Sarana Pembangunan. Bandung : Tarsito
Universitas Kristen Maranatha DAFTAR RUJUKAN
Nababan, Agnes Setiaty. 2006. Studi Deskriptif mengenai Schwartz’s Values pada
Mahasiswa dengan Latar Belakang Budaya Suku Batak Toba di
Universitas “X” Bandung. Metodologi Penelitian Lanjutan : Universitas
Kristen Maranatha.
Vivekananda, Ni Luh Ayu. 2007. Studi Deskriptif Mengenai Value Schwartz pada Masyarakat Hindu Bali Usia Dewasa Madya di Kota Bandung. Skripsi. Bandung : Universitas Kristen Maranatha.
http://www.anycities.com/user2/bataksejermanselatan/batakmeeting2003%20.htm diakses 04 Oktober 2010.
http://www.library.usu.ac.id diakses pada tanggal 04 Oktober 2010.
http ://www.wisatanet.com diakses tanggal 04 Oktober 2010 tentang Batak Toba.
http ://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Medan, diakses pada tanggal 15 Oktober 2011
tentang kota Medan
http ://www.pemkomedan.go.id/selayang_informasi.php#gambaran, diakses pada