Bab ini berisikan kesimpulan logis berdasarkan analisa data, temuan dan bukti yang
disajikan sebelumnya yang menjadi dasar untuk menyusun suatu saran sebagai suatu
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 TATA GUNA LAHAN
Tata guna lahan sebagai salah satu alasan yang utama dari pergerakan dan aktivitas.
Aktivitas ini dikenal sebagai trip Generation, yang akan mempengaruhi fasilitas
transportasi, seperti jalan dan sistem bus, yang diperlukan untuk pergerakan lalu-lintas.
Ketika penambahan fasilitas disediakan,sistem dengan sendirinya akan menambah
aksesibilitas (Khisty and Lall, 1998). Kota dapat dianggap sebagai lokasi pengaturan dari
banyaknya aktivitas atau pengaturan kegunaan lahan.Interaksi antar kegiatan ditunjukkan
dengan pergerakan manusia,barang dan informasi. Perubahan aksesibilitas akan
menentukan perubahan nilai suatu lahan, dan akan mempengaruhi bagaimana lahan itu
akan digunakan. Jika suatu perubahan terjadi (contohnya sebuah lokasi pemukiman
menjadi daerah perniagaan), angka Trip Generation (contohnya jumlah perjalanan per
hektar lahan) akan berubah dan siklus perubahan itu akan berlanjut.
2.2 JARINGAN TRANSPORTASI
Sistem transportasi memiliki satu kesatuan definisi yang terdiri atas: sistem, yakni
bentuk keterikatan dan keterkaitan antara satu variabel dengan variabel lain dalam tatanan
yang terstruktur, serta transportasi, yakni kegiatan pemindahan penumpang dan barang dari
satu tempat ke tempat lain. Dari dua pengertian di atas, sistem transportasi dapat diartikan
sebagai bentuk keterkaitan dan keterikatan yang integral antara berbagai variabel dalam
suatu kegiatan pemindahan penumpang dan barang dari satu tempat ke tempat lain.Maksud
adanya sistem transportasi adalah untuk mengatur dan mengkoordinasikan pergerakan
penumpang dan barang yang bertujuan untuk memberikan optimalisasi proses pergerakan
Dalam sistem transportasi terdapat dua aspek yang sangat penting,yakni aspek sarana
dan aspek prasarana. Aspek sarana berhubungan dengan jenis atau piranti yang digunakan
dalam hal pergerakan manusia dan barang, seperti mobil, kapal, kereta api (KA) dan
pesawat terbang. Aspek sarana ini sering disebut dengan moda atau jenis angkutan. Aspek
prasarana berhubungan dengan wadah atau alat lain yang digunakan untuk mendukung
sarana,seperti jalan raya, jalan rel, dermaga, terminal, bandara, dan stasiun kereta api.
Dalam hal pergerakan barang,transportasi diperlukan karena sumber kebutuhan
manusia tidak terdapat di sembarang tempat. Selain itu, sumber yang masih berbahan baku
harus diproses melalui tahapan produksi yang lokasinya juga tidak selalu ada di lokasi
manusia sebagai konsumennya. Kesenjangan antara jarak lokasi sumber, lokasi produksi
dan lokasi konsumsi inilah yang melahirkan adanya kebutuhan transportasi, dalam hal ini
transportasi barang atau logistik. Karena itu dalam sistem transportasi juga terdapat lima
unsur pokok, yaitu:
1. orang yang membutuhkan
2. barang yang dibutuhkan
3. kendaraan sebagai alat angkut
4. jalan sebagai prasarana angkutan
5. organisasi yaitu pengelola angkutan.
Pada umumnya jenis sarana atau jenis/moda angkutan dapat digolongkan sebagai
berikut ini.
1. Udara, dengan moda pesawat dan prasarana bandara
2. Air, dengan moda kapal dan prasarana dermaga, pelabuhan
3. Darat, yaitu:
a. jalan raya: mobil, bus, sepeda motor,
c. lain-lain: kabel, pipa, belt conveyor
Objek dasar kajian perencanaan transportasi adalah pergerakan manusia atau barang
yang pasti melibatkan banyak moda transportasi. Pemilihan moda transportasi oleh
pengguna adalah waktu perjalanan, biaya, kenyamanan, keselamatan, tingkat kepopuleran
suatu moda, maksud perjalanan dan kelaziman menggunakan suatu moda. Perilaku pelaku
perjalanan dalam memilih moda angkutan ditentukan oleh beberapa faktor, diantaranya:
karakteristik pelaku perjalanan (the characteristic of trip maker), karakteristik perjalanan
(the characteristic of trip) dan karakteristik sistem transportasi (the characteristic of
transportation system).
Faktor-faktor yang berpengaruh dalam pemilihan moda angkutan dapat dibagi tiga
faktor yaitu:
1. Karakteristik pelaku perjalanan, meliputi: pemilihan kendaraan, pendapatan dan
tingkat sosial.
2. Karakteristik perjalanan, meliputi: tujuan, waktu dan jarak.
3. Karakteristik fasilitas transportasi, yaitu:
- secara kuantitatif, meliputi waktu tunggu, waktu yang diperlukan untuk
mengakses pada moda transportasi lainnya, tarif dan ketersediaan tempat
parkir.
- secara kualitatif meliputi kenyamanan, kepercayaan dan keamanan.
2.2.1 Pelayanan Jaringan Transportasi
Arah pengembangan jaringan transportasi adalah pelayanan transportasi antar moda
yang mampu memberikan pelayanan yang berkesinambungan (seamless services), tepat
waktu (just in time services), dan dapat memberikan pelayanan dari pintu ke pintu (door to
sarana dan fasilitas yang ada pada prasarana moda-moda transportasi yang terlibat,
kesetaraan tingkat pelayanan (level of service) sesuai dengan standar yang dibakukan,
sinkronisasi dan keterpaduan jadwal pelayanan, efektivitas dan efisiensi aktivitas alih
moda yang didukung dengan sistem tiketing dan dokumen angkutan serta teknologi
informasi yang memadai.
Perwujudan pelayanan jaringan transportasi antar moda juga harus di integrasikan antar
trayek atau rute-rute angkutan jalan, kereta api, sungai dan danau, penyeberangan, laut dan
udara, dengan memperhatikan keunggulan moda berdasarkan kesesuaian teknologi dan
karakteristik wilayah pelayanan.
Prinsip dasar penataan dan pembangunan jaringan transportasi adalah sebagai berikut
ini:
1. Fungsional, yakni jaringan yang dikelompokkan dalam berbagai tatanan dengan
karakteristik funsional yang berbeda.
2. Struktural, yakni pada masing-masing tatanan dirumuskan susunan yang saling
terkait, namun dapat diklasifikasikan berdasarkan intensitasnya.
3. Keunggulan karakteristik moda dan keterpaduan, yakni dalam menentukan
peran masing-masing moda pada setiap tataran dilakukan dengan memanfaatkan
secara maksimal keunggulan masing-masing moda, sedangkan kelemahannya
dapat diantisipasi dengan cara pemaduan antar moda.
4. Optimalisasi, yakni pilihan terhadap suatu tatanan dikaitkan dengan faktor
pembatas sumber daya dalam upaya pemanfaatan maksimal dengan
pengorbanan minimal, serta memberikan kontribusi maksimal dalam upaya
Indikator output pangembangan jaringan transportasi adalah meliputi: keselamatan,
aksesibilitas yang tinggi, terpadu, kapasitas mencukupi, teratur, lancar dan cepat, mudah
dicapai, tepat waktu, nyaman, tarif terjangkau, tertib, aman, rendah polusi dan efisien.
2.3 ANGKUTAN
Angkutan adalah perpindahan orang dan atau barang dari satu tempat ke tempat
lain dengan menggunakan kendaraan.Kendaraan adalah suatu alat yang dapat bergerak di
jalan,terdiri dari kendaraan bermotor atau kendaraan tidak bermotor.Kendaraan bermotor
merupakan kendaraan yang di gerakkan oleh peralatan teknik yang berada pada kendaraan
tersebut.
2.4 ANGKUTAN UMUM PENUMPANG
Wilayah yang melingkupi beroperasinya angkutan umum dapat disebut
dengan wilayah trayek, sedangkan kumpulan trayek yang menjadi satu kesatuan pelayanan
angkutan orang disebut dengan jaringan trayek. Sedangkan biaya yang dibebankan kepada
penumpang kendaraan angkutan penumpang umum disebut dengan tarif, dan dinyatakan
dalam rupiah.
Kendaraan umum bermotor adalah setiap kendaraan bermotor yang disediakan
untuk dipergunakan oleh umum dengan dipungut bayaran.Kendaraan umum dapat berupa
mobil penumpang,bus kecil,bus sedang,dan bus besar.
Angkutan umum penumpang merupakan bagian dari sistem transportasi yang
berfungsi sebagai salah satu kebutuhan pokok masyarakat dan merupakan bagian yang
tidak dapat terpisahkan.Prnsip dasar untuk memahami pengertian mengenai angkutan
umum penumpang yaitu manusia yang pada dasarnya tidak ingin bepergian dengan
angkutan umum melainkan lebih memilih menggunakan angkutan pribadi.Maka angkutan
umum penumpang dapat diartikan sebagai angkutan penumpang yang dilakukan dengan
kota,angkutan pedesaan ( bus,mini bus,dan sebagainya ),kereta api,angkutan air,dan
angkutan udara.Keberadaan angkutan umum sangat dibutuhkan tetapi apabila tidak
ditangani secara baik dan benar akan menjadi masalah yang cukup berarti bagi kita.
Tujuan utama dari keberadaan angkutan umum penumpang adalah
menyelenggarakan angkutan umum baik dan layak bagi masyarakat.Pengadaan pelayanan
angkutan umum penumpang memang secara langsung mengurangi banyaknya kendaraan
pribadi.Pelayanan angkutan umum penumpang akan berjalan dengan baik apabila tercipta
keseimbangan antara ketersediaan dan permintaan.Dalam hal ini pemerintah perlu campur
tangan dengan tujuan antara lain : menjamin sistem operasi yan g aman bagi kepentingan
masyarakat pengguna jasa angkutan,petugas pengelola angkutan dan pengusaha jasa
angkutan umum; mengarah agar kegiatan angkutan tidak mengganggu
lingkungan;menciptakan persaingan yang sehat;membantu perkembangan dan
pembangunan nasional maupun daerah dengan meningkatkan pelayanan jasa
angkutan;menjamin pemerataan jasa angkutan sehingga tidak adapihak yang dirugikan;
dan mengendalikan operasi pelayanan jasa angkutan.
Untuk melakukan perjalanan maka manusia memerlukan angkutan umum.
Adapun alasan-alasan yang menyebabkan orang melakukan perjalanan antara lain:
1. Perjalanan untuk bekerja
Untuk perjalanan jenis ini,pelayanan angkutan umum hendaknya memenuhi
syarat,yaitu dapat meminimumkan waktu.Jadi angkutan umum tersebut harus cepat
dan tepat waktu,menjamin martabat pengguna angkutan umum,khususnya
perjalanan jarak jauh mampu menyediakan pelayanan makan dan ruang kerjayang
layak.Oleh karena orang-orang mulai bekerja pada waktu yang hampir bersamaan
kebutuhan ini tidak begitu tinggi apabila orang-orang mengakhiri pekerjaan pada
waktu yang berbeda.
2. Perjalanan untuk kesekolah atau kuliah
Sektor pendidikan adalah salah satu sektor yang sangat penting,karena ini
menyangkut seluruh lapisan masyarakat.Oleh karena itu kebutuhan angkutan umum
sangat besar untuk melakukan kegiatan ini,dikarenakan jumlah pelakunya yang
sangat besar.Saat ini adalah hal yang sangat baik apabila sekolah-sekolah
menyediakan fasilitas bus sekolah,hal ini guna mengurangi kemacetan pada saat
jam puncak sekolah yaitu pada saat masuk dan keluar sekolah.Dengan adanya bus
tersebut pengguna bus pribadi dapat berkurang,sehingga kemacetan dapat sedikit
terkurangi.
3. Perjalanan untuk berbelanja
Perkembangan pusat-pusat perbelanjaan, membangkitkan kebutuhan akan
angkutan, terlebih jika orang mulai berbelanja jauh dari tempat tinggalnya.
4. Perjalanan untuk rekreasi
Masing-masing orang yang tidak mempunyai angkutan sendiri akan memerlukan
angkutan umum untuk mengadakan rekreasi seperti mengunjungi teman, dan sanak
saudara, pergi menonton pertandingan olah raga dan sebagainya.
5. Perjalanan dengan alasan sosial
Beberapa perjalanan penumpang yang dilakukan adalah untuk alasan sosial.
Contohnya untuk mengunjungi teman/kerabat yang sakit, menghadiri pemakaman
dan sebagainya. Walaupun jumlah perjalanan ini biasanya hanya merupakan bagian
kecil dari seluruh kegiatan perjalanan yang meggunakan angkutan umum, ini tetap
Tarif angkutan umum adalah biaya yang dibayarkan oleh pengguna jasa
angkutan umum per satuan berat atau penumpang per km. Penetapan tarif dimaksudkan
untuk mendorong terciptanya pengguna pra sarana dan sarana perangkutan secara optimum
dengan mempertimbangkan lintas yang bersangkutan. Guna melindungi konsumen,
pemerintah menetapkan tarif maksimum, dan bila sianggap perlu untuk menjaga
persaingan sehat, pemerintah juga menerapkan tarif minimum. Sementara itu tarif harus
ditetapkan sedemikian rupa sehingga masih memberikan keuntungan wajar kepada
pengusaha angkutan umum penumpang.
2.5 TRANSPORTASI DAN PERANANNYA
Peranan transportasi merupakan bagian integral dan suatu fungsi
masyarakat.Transportasi menunjukkan hubungan yang erat dengan gaya
hidup,jangkauan,lokasi dan kegiatan yang produktif dan selingan serta barang-barang dan
pelayanan yang tersedia untuk di konsumsi.
Perpindahan penduduk dan barang-barang sudah seusia dengan sejarah manusia
itu sendiri.Manusia zaman batu berpindah dari satu tempat ketempat yang lain dalam
mencari makanan,sambil membawa milik mereka yang relatif sedikit.Perpindahan yang
terbatas pada zaman primitif itu merupakan suatu awal dari cara hidup sekarang dimana
kita berpergian dan melakukan perjalanan ketempat tujuan.
Pengenalan terhadap teknologi transportasi baru atau yang dikembangkan sangat
berkorelasi dengan pengembangan masyarakat modern.Walaupun banyak ahli sejarah dan
lainnya cenderung beranggapan bahwa ini hanya disebabkan oleh hubungan sebab akibat
yang sederhana yaitu bahwa pengembangan suatu teknologi transportasi baru tidak hanya
teknologi ini,namun anggapan seperti ini terlalu sederhana.Dalam banyak hal,permintaan
baru akan transportasi telah membawa kepada pengembangan teknologi baru yang dapat
memenuhi kebutuhan yang meningkat.Transportasi adalah suatu bagian integral dari
hampir semua kegiatan manusia,sehingga secara prinsip tidak mungkin membedakan
secara jelas antara sebab akibat.Malahan kemajuan-kemajuan dalam bidang transportasi
telah memungkinkan perubahan-perubahan dalam cara hidup kita dan masyarakat
diatur,dengan demikian mempengaruhi pengembangan peradaban manusia.
Peranan transportasi dapat ditinjau dari:
1.Peranan Ekonomi
Peranan ekonomi dari transportasi adalah sebagai berikut:
1. Transportasi memperbesar jangkauan terhadap sumber yang dibutuhkan suatu
daerah, dan memungkinkan digunakannya sumber yang lebih murah ataupun
lebih tinggi mutunya serta barang yang tidak bisa diperoleh di daerah setempat
dapat tersedia.
2. Pemakaian sumber yang lebih efisien mengakibatkan timbulnya kekhususan
setiap daerah ataupun pembagian tenaga kerja yang sesuai, yang mengakibatkan
penambahan jumlah barang yang dapat dikonsumsi.
3. Penyaluran barang tidak lagi terbatas pada daerah setempat saja tapi dapat
disalurkan dari sumber-sumber alternatif lainnya apabila sumber yang biasa
dipakai tidak dapat memenuhi semua kebutuhan.
Dari perspektif ekonomi, transportasi memungkinkan berpindahnya barang-barang dari
suatu tempat ke tempat yang lain, di mana barang-barang tadi mungkin lebih berguna atau
bernilai. Konsep utamanya ialah kegunaan (utilitas) tempat, kegunaan waktu dan kegunaan
kualitas.
Peranan sosial dari transportasi telah memungkinkan penduduk berubah dari
makhluk hidup yang nomaden menjadi penghuni pemukiman permanen. Dengan
bertambah mudahnya sarana transportasi, pemukiman menjadi bertambah luas dan tidak
terlalu bergantung pada sumber-sumber lokal untuk mendukungnya.
Transportasi juga sangat membantu dalam menyediakan berbagai kemudahan
seperti :
1. Pelayanan untuk perorangan maupun kelompok
2. Pertukaran untuk penyampaian informasi
3. Perjalanan untuk bersantai
4. Perluasan jangkauan perjalanan sosial
5. Pemendekan jarak antara rumah dan tempat kerja
6. Bantuan dalam memperluas kota atau memencarkan penduduk menjadi
kelompok yang lebih kecil (Warpani, 1990).
3. Peranan Politik
Transportasi mempunyai pengaruh yang cukup penting terhadap karakteristik
politis suatu masyarakat, memungkinkan suatu wilayah yang luas untuk diatur satu pusat,
dan memungkinkan pemerintahan dari suatu negara yang besar.
4. Peranan Lingkungan
Pengaruh transportasi terhadap lingkungan pada umumnya dianggap negatif, yaitu
menghasilkan polusi udara dan kebisingan. Untuk memperkecil aspek negatif tersebut
sambil tetap menikmati suatu standar kehidupan yang dikehendaki, kesadaran untuk
menjaga dan memajukan lingkungan alamiah dalam perencanaan sistem transportasi
2.6 TATA GUNA LAHAN DAN TRANSPORTASI
Pergerakan manusia dan barang dalam kota menunjukan arus lalu-lintas sebagi akibat
dari aktivitas (permintaan) dan kapabilitas (kemampuan) sistem transportasi dalam
mengatasi arus transportasi (penyediaan). Tentu saja, ada hubungan langsung antara tipe
dan intesintas tata guna lahan serta penyediaan fasilitas transportasi. Salah satu obyek
utama dalam perencanaan tata guna lahan dan sistem transportasi adalah untuk
memastikan keseimbangan yang efisien antara tata guna lahan dan kapabilitas transportasi
(Blunden and Black, 1984).
Potensi tata guna lahan diukur dengan skala aktivitas sosial ekonomi pada sebuah
lahan. Sifat khusus dari tata guna lahan adalah kemampuannya atau potensinya untuk
“membangkitkan’ lalu lintas.
Jika tata guna lahan sebuah daerah di suatu kota di ketahui, maka kemungkinan dapt
diukur bangkitannya (Blunden and Black, 1984).
hubungan tata guna lahan yang penting yang menunjukan variable adalah sumber
finansial, aktivitas industri, biaya bahan baker, konsumsi dan penyediaan, struktur bisnis,
kesempatan kerja dan pertambahan penduduk. Sermua variabel ini dan hubungan mereka
menunjukan fakta bahwa struktur kota adalah sistem yang paling rumit di dunia (Khisty
and Lall, 1998).
Suatu tempat dikatakan ‘aksesibel’ jika sangat dekat dengan tempat lainnya, dan
‘tidak aksesibel’ jika berjauhan. Ini adalah konsep yang paling sederhana; hubungan
transportasi (aksesibilitas) dinyatakan dalam bentuk ’jarak’ (km). Namun ada kalanya jarak
merupakan peubah yang tidak begitu cocok dan di ragukan. Jika sistem transportasi antara
kedua buah tempat diperbaiki (disediakan jalan baru atau pelayanan bus baru), maka
hubungan transportasi dapat dikatakan akan lebih baik karena waktu tempuh nya akan
tersebut. Oleh karena itu, ‘waktu tempuh’ menjadi ukuran yang lebih baik dan sering di
gunakan untuk aksesibilitas. Selanjutnya, misalkan terdapat pelayanan bus yang baik
antara dua tempat dalam suatu daerah pedesaan mapun perkotaan.Akan tetapi, bagi orang
miskin yang tidak mampu membeli karcis, aksesibilitas antara kedua lokasi tersebut tetap
rendah. Jadi, biaya perjalanan (Rp) menjadi ukuran yang lebih baik untuk aksesibilitas
dibandingkan dengan jarak dan waktu tempuh. Mobil pribadi hanya akan dapat
memperbaiki aksesibilitas dalam hal waktu bagi orang yang mampu membeli atau
menggunakan mobil. Dengan alasan di atas, moda dan jumlah transportasi yang tersedia
dalam suatu desa atau kota merupakan hal yang penting untuk menerangkan aksesibilitas.
Beberapa moda transportasi lebih cepat (waktu tempuh berkurang) dibandingkan dengan
moda lain, dan mungkin juga ada yang lebih mahal.
Hubungan transportasi dapat dinyatakan sebagai ukuran untuk memperlihatkan mudah
atau sukarnya suatu tempat di capai, dinyatakan dalam bentuk hambatan perjalanan.
Semuanya selanjutnya dinyatakan dalam bentuk jarak, waktu, atau biaya. Untuk
meningkatkan aksesibilitas tata guna lahan yang akan terhubungkan oleh sistem jaringan
transportasi, dilakukanlah investasi pembangunan sistem jaringan transportasi.
2.7 AKSESIBILITAS
Ada yang menyatakan bahwa aksesibilitas dapat dinyatakan dengan jarak. Jika
suatu tempat berdekatan dengan tempat lainnya, dikatakan aksesibilitas antara kedua
tempat tersebut tinggi. Sebaliknya, jika kedua tempat itu sangat berjauhan, aksesibilitas
antara keduanya rendah. Jadi, tata guna lahan yang berbeda pasti mempunyai aksesibilitas
yang berbeda pula karena aktivitas tata guna lahan tersebut tersebar dalam ruang secara
Akan tetapi, peruntukan lahan tertentu seperti misalnya bandara, lokasinya tidak bisa
sembarangan dan biasanya terletak jauh di luar kota (karena ada batasan dari segi
keamanan, pengembangan wilayah, dan lain-lain). Dikatakan aksesibilitas ke bandara
tersebut pasti akan selalu rendah karena letaknya yang jauh di luar kota. Namun, meskipun
letaknya jauh, aksesibilitas ke bandara dapat ditingkatkan dengan menyediakan sistem
jaringan transportasi yang dapat dilalui dengan kecepatan tinggi sehingga waktu
tempuhnya menjadi pendek.
Oleh sebab itu, penggunaan ‘jarak’ sebagai ukuran aksesibilitas mulai diragukan orang
dan mulai dirasakan bahwa penggunaan ‘waktu tempuh’ merupakan kinerja yang lebih
baik dibandingkan dengan jarak dalam menyatakan aksesibilitas. Dapat disimpulkan
bahwa suatu tempat yang berjarak jauh belum tentu dapat dikatakan mempunyai
aksesibilitas rendah atau suatu tempat yang berjarak dekat mempunyai aksesibilitas tinggi
karena terdapat faktor lain dalam menentukan aksesibilitas yaitu waktu tempuh.
Aksesibilitas adalah alat untuk mengukur potensial dalam melakukan perjalanan, selain
juga menghitung jumlah perjalanan itu sendiri. Ukuran ini menggabungkan sebaran
geografis tata guna lahan dengan kualitas sistem jaringan transportasi yang
menghubungkannya. Dengan demikian, aksesibilitas dapat digunakan untuk menyatakan
kemudahan suatu tempat untuk di capai.
Sedangkan menurut Black Aksesibilitas adalah suatu ukuran kenyamanan atau
kemudahan mengenai cara lokasi tata guna lahan berinteraksi satu sama lain dan ‘mudah’
atau ‘susah’nya lokasi tersebut dicapai melalui sistem jaringan transportasi.
Pernyataan ‘mudah’ atau ‘susah’ merupakan hal yang sangat ‘subjektif’ dan
‘kualitatif’. Mudah bagi seseorang belum tentu mudah bagi orang lain,begitu juga dengan
pernyataan susah. Oleh karena itu, diperlukan kinerja kuantitatif (terukur) yang dapat
2.8 AKSESIBILITAS PEDESAAN
Setiap orang menginginkan aksesibilitas yang baik dan ini digunakan dalam
beberapa model penentuan lokasi tata guna lahan di daerah perkotaan atau pedesaan.
Model yang terakhir yang banyak digunakan adalah model lowry (Lowry, 1964). Model ini
mengasumsikan bahwa lokasi pusat perekonomian utama di daerah pedesaan harus
ditentukan terlebih dahulu. Setelah itu jumlah keluarga dapat diperkirakan dan lokasinya
ditentukan berdasarkan aksesibilitas lokasi perekonomian tersebut. Jumlah sektor
pelayanan kemudian dapat diperkirakan dari jumlah keluarga dan model tersebut, yang
selanjutnya ditentukan lokasinya berdasarkan aksesibilitasnya terhadap lokasi tempat
tinggal. Dengan kata lain, dengan menentukan lokasi pusat perekononomian, lokasi
lainnya (tempat tinggal dan fasilitas pelayanan lainnya) dapat ditentukan oleh model
dengan kriteria dasar aksesibilitas.
2.8.1 Ukuran Aksesibilitas Pedesaan
Ukuran untuk menentukan besarnya hambatan pergerakan yang dapat digunakan
untuk mengukur aksesibilitas telah didiskusikan. Black & Conroy (1977) membuat
ringkasan tentang cara mengukur aksesibilitas didalam daerah pedesaan. Yang paling
mudah adalah mengasumsikan bahwa daerah pedesaan dipecah menjadi N zona, dan
semua aktivitas terjadi dipusat zona. Aktivitas diberi notasi A. Aksesibilitas K untuk suatu
zona adalah ukuran intensitas dilokasi tata guna lahan pada setiap zona didalam desa
tersebut dan kemudahan untuk mencapai zona tersebut melalui sistem jaringan
transportasi.
Adapun rumus yang mendukung dalam menghitung aksesibilitas dalam bentuk zona
adalah
∑
= Ed A0
di mana: =
0
A Aksesibilitas zona aktual
d
E = Jumlah pekerjaan di zona d
todb = Fungsi waktu tempuh
Aksesibilitas perorangan biasanya diukur dengan menghitung jumlah lokasi kegiatan
(disebut juga peluang-opportunity) yang tersedia pada jarak tertentu dari rumah orang
tersebut dan memfaktorkan jumlah tersebut dengan jarak di antaranya. Perhitungan
aksesibilitas dapat dilakukan untuk berbagai jenis peluang, seperti belanja atau bekerja.
Salah satu perhitungan tersebut diberikan oleh:
b ij j j i O d A =
∑
− di mana: = i A Aksesibilitas orang i = iO Jumlah peluang pada jarak d dari rumah orang i =
ij
d Beberapa ukuran rentang antara i dan j (seperti waktu tempuh, biaya perjalanan, atau
hanya jarak saja)
=
b Sebuah konstanta
Indeks aksesibilitas seperti ini merupakan ukuran dari seberapa banyak tujuan
potensial yang tersedia bagi seseorang dan semudah orang tersebut dapat mencapainya.