5. 1. Kesimpulan
Dalam pelaksanaan transparansi dana desa dalam pembangunan di desa Pelita berdasarkan 4 indikator transparansi anggaran pemerintah(Kristianten, 2006:73), Desa Pelita belum bisa dikatakan transparan terkait penggunaa dana desa dalam pembangunannya. Hal ini dikarenakan beberapa masalah yang tidak selaras dengan rujukan teori yang dipakai peneliti, hasil observasi dan penelusuran dokumen yang diperoleh didesa Pelita. Berikut kesimpulan berdasarkan 4 Indikator transparansi Kristianten:
5. 1. 1. Ketersediaan dan Aksebilitas Dokumen
Pelaksanaan transparansi dana desa dalam pembangunan di desa Pelita melalui kelengkapan dan akses dokumen tidak mencerminkan prinsip keterbukaan. Hasil wawancara dengan informan utama dan informan tambahan di desa Pelita diperoleh tidak adanya keterbukaan dokumen dan akses yang mudah bagi masyarakat, peran masyarakat hanya sampe tahap perencanaan (musrembang), tidak ada komunikasi antar pemerintahan desa dan manajeman pelayanan publik yang buruk. Hal ini bertentangan dengan teori keterbukaan yang digunakan penulis, termasuk indikator transparansi Kristianten dan poin 10 UU No 6 Tahun 2014 tentang Desa ditambah dengan pasal 93 PP No 43 Tahun 2014 terkait kerjasama aparat pemerintah desa dan masyarakat dalam
penyusunan dokumen pembangunan desa. Dalam hal ini pemerintah desa Pelita gagal menciptakan transparansi dana desa melalui ketersediaan dan aksebilitas dokumen.
5. 1. 2. Penyediaan Informasi yang Jelas Tentang Prosedur dan Biaya
Pelaksanaan transparansi dana desa dalam pembangunan di desa Pelita melalui penyediaan informasi yang jelas tentang prosedur dan biaya pelayanan tidak mencapai kata transparan. Dalam penelitian yang dilakukan, penulis menemukan prosedur pelayanan yang dilakukan secara lisan dan tidak memiliki format pelayanan di kantor desa Pelita. Kemudian dalam prosedur pelaksanaan pembangunan, peran masyarakat hanya sampai pada tahap musrembang.Dalam hal ini prosedur pelaksanaan pembangunan mulai dari perencanaan dan laporan pertanggungjawaban tidak terlaksana dan bertolak belakang dengan teori yang dipakai penulis dalam menciptakan transparansi di desa Pelita.
5. 1. 3. Kemudahan Akses Informasi
Pelaksanaan transparansi dana desa dalam pembangunan apabila dilihat dari kemudahan akses informasi di desa Pelita belum berjalan baik. Sekalipun terdapat keterbukaan informasi melalui sarana dan prasana seperti selebaran, penggunaan TOA dan papan informasi tentang biaya pembangunan sebagai keterbukaan informasi dan pelayanan belum sejalan dengan teori transparansi yang dipakai penulis salah satunya adalah indikator transparansi menurut Kristianten dalam transparansi anggaran pemerintah. Kemudahan akses informasi dalam penggunaan dana desa tersebut hanya terlaksana pada informasi perencanaan dan laporan pertanggungjawaban lewat papan informasi sementara prosedur pelaksanaan tidak memiliki kejelasan informasi.
5. 1. 4. Menyusun Suatu Mekanisme Pengaduan Jika Terjadi Pelanggaran
Pelaksanaan transparansi dana desa dalam pembangunan di desa pelita melalui mekanisme pengaduan jika terjadi pelanggaran tidak menciptakan kondisi yang transparan. Peneliti menemukan tidak adanya mekanisme pengaduan secara administrasi seperti format pengaduan dan tempat pengaduan yang jelas, sebab desa Pelita tidak memiliki khusus kantor desa. Pelaporan pelanggaran secara lisan dan tidak adanya tempat pengaduan yang pasti bertentangan dengan teori yang dipakai oleh penulis dalam melihat pelaksanan transparansi di desa Pelita.
5. 2. Saran
Saran yang dapat diberikan peneliti berdasarkan penelitian ini adalah pentingnya pemahaman tentang transparansi bagi masyarakat desa Pelita sebagai penggerak ide kekritisan bagi masyarakat desa Pelita.Keikusertaan masyarakat dalam membuat dan menyusun dokumen pembangunan desa,bukan hanya aparat pemerintah desa, pentingnya penyediaan prosedur dan biaya dalam pelayanan aparat pemerintah desa, peningkatan Sumber Daya Manusia pada aparat pemerintah desa Pelita untuk memahami tugas pokok dan fungsi jabatannya serta modernisasi pelayanan melalui penguasaan teknologi didesa, melibatkan masyarakat dalam membuat kemudahan akses informasi, menyusun mekanisme pengaduan jika terjadi pelanggaran pembangunan didesa Pelita, kerjasama antara sesama aparat pemerintah desa Pelita untuk memperbaiki efektivitas dan efisiensi pelayanan dan pembangunan didesa Pelita, keterbukaan dokumen pada masing-masing aparat pemerintah desa Pelita
danmenjadikan masyarakat desa Pelita sebagai objek dan subjek dalam penggunaan dana desa yang transparan.
A. Ubaedillah dan Abdul Rozak. 2002. Pancasila, Demokrasi, HAM, dan Masyarakat Madani. Jakarta. Indonesia Center For Civic Education (ICCE).
Daftar Pustaka
Cernea, M. Michael. 1998. Mengutamakan Manusia didalam Pembangunan Pedesaan. Jakarta. UI Press.
Eko, Sutoro. 2006. Membangun Good Governance Di Desa.Yogyakarta.IRE Press.
Hadi, Sudharto. 2001. Dimensi Lingkungan Perencanaan Pembangunan.
Yogyakarta.Gadjah Mada University Press.
Hamdi, Muchlis. 2001. Good Governance dan kebijakan Otonomi Daerah. Jurnal Otonomi Daerah
Kristianten. 2006. Transparansi Anggaran Pemerintah. Jakarta. Rineka Cipta
Monteiro, Josef Mario, SH., M.H. 2016.Hukum Pemerintahan Daerah. Yogyakarta.
Pustaka Yustisia.
Mustopadidjaya, Bintoro Tjokroaminoto. 1998. Kebijakan dan Administrasi Pembangunan. Jakarta. PT Pustaka LP3ES Indonesia.
Ratminto dan Atik Septi Winarsih. 2005. Manajemen Pelayanan: Pengembangan Model. Jakarta. UI Press.
Riswandha, Imawan. 2003. Desentralisasi, Demokratisasi, dan Pembentukan Good Governance. Jurnal Otonomi Daerah.
Robert Cambers. 1987. Pembanguna Desa Mulai Dari Belakang. Jakarta. LP3ES Rosyada, Dede. 2003. Demokrasi Hak Asasi Manusia dan Masyarakat. Jakarta Rustiadi. 2006. Konsep Pembangunan Kawasan.Jakarta. Penerbiat Erlangga
Slamet, M. 2003. Membentuk Pola Perilaku Manusia Pembangunan. Bogor. IPB Press Sudirman. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta. Yayasan Obor Indonesia.
Smith, Rex Deighton. 2004. Regulatory Transparency in OECD Countries: Overview, Trends a,d Challenges. Australian, Journal Of Publik Administration.
Syafri, Wirman. 2012. Studi Tentang Administrasi Publik. Jakarta. Penerbit Erlangga.
Santoso, Yussy. 2013. Organization Design and Job Analysis. Jakarta. PT Gramedia.
Tahir, Arifin. 2014. Kebijakan Publik dan Transparansi Penyelenggaraan Pemerintah Daerah. Bandung. Alfabeta Bandung.
Tjokroaminoto, H. Bintoro. 2003. Reformasi Nasional dan Penyelenggaraan good governance dan perwujudan Masyarakat Madani.Jakrta. LP3ES.
Peter, Hagul. 1992. Pembangunan Desa dan Lembaga Swadaya Masyarakat.Yogyakarta. Yayasan Dian Desa.
Winarno, Budi. 2014. Dinamika Isu-Isu Global Kontemporer.Yogyakarta. CAPS (Center of academica publishing service).
Winarno, Budi. 2013. Etika Pembangunan. Jakarta. CAPS (center for academica publishing service.
Winarno, Budi. 2016. Kebijakan Publik Era Globalisasi.Yogyakarta. CAPS (center of academic publishing service.
Sumber Undang-Undang
Undang-Undang Nomor. 6 Tahun 2014 Tentang Desa
UndangUndang Nomor. 8 Tahun 2014 Tentang Keterbukaan Informasi Publik PP Nomor. 60 Tahun 2014 Tentang Dana Desa
Permendes Nomor 21 Tahun 2015 Tentang Penetapa Prioritas Penggunaan Dana Desa.
Sumber Internet
Antarasumut.com-04-01-2017. Penyelewangan ADD Di Simalugun.
https:/www. Bappenas.go.id. Evaluasi Program PNPM Mandiri. Pdf Kompas.com-24-11-2016. OTT Di Pamekasan korupsi Dana Desa.
Kompas.com-03-06-2016. Komisi Informasi Publik Ingatkan Kepala Desa Untuk Transparan
Kompas.com-21-06-2013. Korupsi Terdesentralisasi Kedaerah.
Kompas.com-03-08-2017.regional.kompas.11/24/16073021/infrastruktur minim warga 13 desa di Sumut ancam pindah provinsi.
Paparan kemenkeu-pdf-2016, diakses pada 5 Agustus 2017.
LAMPIRAN