Kesimpulan merupakan pernyataan singkat yang diambil dari hasil analisis dan pembahasan penelitian.
Saran merupakan sumbangan pikiran yang operasional yang didapat dari hasil penelitian.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Pompa
Pompa adalah suatu mesin yang digunakan untuk memindahkan fluida dari suatu tempat ke tempat lainnya, melalui suatu media saluran (pipa) dengan cara menambahkan energi pada cairan yang dipindahkan dan berlangsung secara kontinyu. Pompa beroperasi dengan mengadakan perbedaan tekanan antara bagian masuk dan bagian keluar. Dengan kata lain pompa berfungsi mengubah tenaga dari suatu tenaga (penggerak) menjadi tenaga tekanan dari fluida, dimana tenaga ini dibutuhkan untuk mengalirkan fluida dan mengatasi hambatan yang ada sepanjang saluran pengalir.
2.2 Klasifikasi Pompa Menurut Jenis Impeler (1) Pompa sentrifugal
Pompa sentrifugal adalah salah satu jenis pompa dimana fluida memasuki impeller secara aksial didekat poros pompa dan mempunyai energi, baik energi potensial maupun energi kinetik yang diberikan oleh sudu-sudu. Di dalam impeller fluida mengalami percepatan, setelah itu fluida memasuki rumah pompa atau satu seri laluan diffuser yang mentransformasikan energi kinetic menjadi tinggi tekanan (head) diikuti dengan penurunan kecepatan.
(2) Pompa Aliran Campur
Pompa aliran campur digunakan untuk head yang sedikit lebih rendah dan pompa ini umumnya menggunakan rumah diffuser dengan sudu antar. Jika pompa menggunakan rumah volut untuk menampung langsung aliran yang keluar dari impeller juga disebut juga pompa aliran campur jenis volut.
Gambar 2.2 Pompa Aliran Campur Mendatar
(3) Pompa Aliran Aksial
Pompa jenis aksial dipakai untuk head yang lebih rendah lagi, karena aliran di dalam pompa ini mempunyai arah aksial (sejajar poros) yang berguna untuk mengubah head kecepatan menjadi head tekanan. Pompa jenis ini dipakai sudu antar yang berfungsi sebagai difuser.
Gambar 2.3 Pompa Aliran Aksial Mendatar
2.3 Klasifikasi Menurut Bentuk Rumah
Pompa memiliki bentuk rumah yang berbeda-beda yang dapat kita klasifikasikan sebagai berikut :
Sebuah pompa sentrifugal dimana zat cair dari impeller secara langsung dibawa ke rumah volut.
(2) Pompa diffuser
Pompa ini adalah pompa sentrifugal yang dilengkapi dengan sudu difuser di kelilingi luar impelernya. Konstruksi bagian-bagian lain pompa ini adalah sama dengan pompa volut, karena sudu-sudu difuser maka pompa ini disamping memperbaiki efisiensi pompa, juga menambah kokoh rumah, maka konstruksi ini sering dipakai pada pompa besar dengan head tinggi. Pompa ini juga sering dipakai sebagai pompa bertingkat banyak karena aliran diri satu tingkat ke tingkat berikutnya dapat dilakukan tanpa menggunakan rumah volut.
(3) Pompa aliran campur jenis volut
Pada pompa ini mempunyai impeller jenis aliran campur dan sebuah rumah volut, di sini tidak dipergunakan sudu-sudu difuser melainkan dipakai saluran yang lebar untuk mengalirkan zat cair. Dengan demikian pompa tidak mudah tersumbat oleh benda asing yang terisap, sehingga pompa ini sangat sesuia untuk air limbah.
Gambar 2.4 Pompa Aliran Campur Jenis Volut & Impeler
Adapun impeler yang digunakan di sini adalah jenis setengah terbuka yaitu tidak mempunyai tutup depan. Keunggulan yang dimiliki konstruksi seperti ini tidak mudah tersumbat benda padat dibandingkan dengan impeler tertutup, sehingga sesuai untuk memompakan air buangan.
2.4 Klasifikasi Menurut Letak Poros
Klasifikasi pompa menurut letak poros yaitu : (1) Pompa jenis poros mendatar
Pompa ini mempunyai poros dengan posisi mendatar (2) Pompa jenis poros tegak
Pompa ini mempunyai poros dengan posisi tegak, pompa aliran campuran dan pompa aksial sering dibuat dengan poros tegak dimana rumah pompa semacam ini digantung pada lantai oleh pipa kolom yang menyalurkan zat cair dari pompa ke atas. Poros pompa yang menggerakan impeler dipasang sepanjang sumbu pipa kolom dan dihubungkan dengan motor penggerak pada lantai. Poros ini dipegang di beberapa tempat sepanjang pipa kolom oleh bantalan yang terbuat dari karet. Selain itu poros ini dapat diselubungi oleh pipa selubung yang berfungsi sebagai penyalur air pelumas.
Gambar 2.5 Pompa Aliran Campur Tegak
2.5 Klasifikasi Menurut Belahan Rumah (1) Pompa jenis belahan mendatar
Pompa jenis ini mempunyai rumah yang dapat dibelah dua menjadi bawah dan bagian atas oleh bidang mendatar yang melalui sumbu poros. Jadi bagian yang berputar dapat diangkat setelah rumah belahan atas dibuka. Pompa jenis rumahan sering dipakai pada pompa menengah dan besar dengan poros mendatar.
Gambar 2.6 Pompa Jenis Belah Mendatar
(2) Pompa jenis belahan radial
Rumah pompa jenis ini terbagi oleh sebuah bidang yang tegak lurus poros. Pompa ini mempunyai konstruksi yang relatip sederhana serta menguntungkan sebagai bejana bertekanan karena bidang belahan tidak mudah bocor. Jenis ini juga sesuai untuk pompa berporos tegak di mana bagian-bagian yang berputar dapat dibongkar ke atas sepanjang poros.
(3) Pompa jenis deret
Jenis ini terdapat pada pompa bertingkat banyak yang dimana rumah pompa terbagi oleh bidang-bidang tegak lurus sesuai dengan jumlah tingkat yang ada. Tiap bagian rumah ini berbentuk cincin, konstruksi seperti ini pada dasarnya mirip jenis belahan radial yang tidak mudah bocor oleh tekanan dari dalam. Masing-masing tingkat biasanya dibuat dengan bentuk dan ukuran yang sama sehingga dapat disusun dalam jumlah yang sesuai untuk mendapatkan head total pompa yang dikehendaki.
2.6 Klasifikasi Menurut Sisi Masuk Impeler (1) Pompa isapan tunggal
Pada pompa ini zat cair masuk dari satu sisi impeler, konstruksinya sangat sederhana sehingga banyak dipakai. Tekanan yang bekerja pada masing-masing sisi impeler tidak sama sehingga akan timbul gaya aksial kea rah sisi isap. Gaya ini dapat ditahan oleh bantalan aksial jika ukuran pompa cukup kecil. Namun untuk pompa besar harus dicari cara untuk mengurangi gaya aksial.
(2) Pompa isapan ganda
Pompa ini memasukan air melalui kedua sisi impeler, di sini poros yang menggerakan impeler dipasang menembus kedua sisi rumah dan impeler dan ditumpu oleh bantalan di luar rumah. Karena itu poros menjadi lebih panjang dari pada pompa jenis lain.
2.7 Pompa Jenis Khusus
(1) Pompa dengan motor benam (submersible-motor)
Pompa dengan motor benam adalah pompa jenis khusus yang merupakan satu unit dengan motor penggeraknya, di mana keduanya dipasang terbenam di bawah permukaan cairan fluida. Pompa ini dipasangan dengan posisi digantung pada pipa penyalur dimana diameter pompa dibuat sekecil mungkin. Sedangkan sistem kerjanya cairan fluida ke dalam pompa melalui saringan yang terdapat di antara motor dan pompa, selanjutnya air dialirkan ke atas memalui pipa kolom yang berfungsi juga sebagai penggantung unit pompa.
Gambar 2.7 Pompa dengan motor benam
2.8 Prinsip Kerja Pompa Penyalur Bahan Bakar Minyak
Pompa penyalur bahan bakar minyak banyak di jumpai baik di stasiun pengisian bahan bakar umum maupun di dalam kalangan industri. Di dalam penyaluran bahan bakar minyak untuk kendaraan operasional di industri banyak menggunakan system transfer pump sebagai alat penyalur fluida minyak yang
kemudian di hubungkan dengan flow meter untuk mengetahui kapasitas atau volume yang di kehendaki.
Namun di dalam stasiun pengisian bahan bakar umum, pompa atau lebih dikenal dengan dispenser yang di gunakan dalam menyalurkan fluida minyak dibedakan menjadi 2 macam yaitu pompa hisap dan pompa dorong. Di mana kedua sistem tersebut mempunyai beberapa perbedaan dan keunggulan, perbedaan antara kedua pompa tersebut pada letak motor penggeraknya.
Gambar 2.8 Petroleum Submersible Pump
2.8.1 Sistem Pompa Hisap
Sudah dijelaskan bahwa pompa hisap masih banyak digunakan di beberapa SPBU di Indonesia sebagai pompa penyalur BBM. Sistem pompa hisap motor harus dilengkapi dengan Elbow Check Valve pada pipa distribusi BBM di tangki pendam dan letak motor penggeraknya merupakan satu kesatuan didalam dispenser. Pada prinsipnya pompa ini mempunyai sistem kerja sebagai berikut :
1. BBM masuk melalui Inlet pompa kemudian melewati Strainer Check Valve. 2. Bila tekanan melampaui batas, Bypass valve akan terbuka sehingga BBM
3. BBM di dalam pump unit yang mengandung udara akan dialirkan menuju sump untuk dipisahkan antara udara dan BBM.
4. Setelah Udara dipisahkan dari BBM, BBM murni dialirkan kembali ke pump unit melalui sump return.
5. BBM murni dialirkan menuju Filter melalui outlet Pump Unit.
6. Setelah melalui penyaringan, BBM mengalir melalui Solenoid valve, yang terdiri dari slow down valve dan main valve.
7. Selanjutnya aliran BBM menuju badan ukur dengan terlebih dahulu menekan meter check valve kit, yang berfungsi untuk menjaga agar BBM dalam badan ukur selalu penuh.
8. Badan ukur / meter mengukur volume yang dikeluarkan, dengan metode pengukuran volume ruang gerak piston pada meter.
9. BBM keluar melalui nozzle sesuai dengan volume yang sudah ditera.
Pompa ini sudah banyak ditinggalkan karena disebabkan biaya perawatan yang terlalu mahal dan sering terjadi kerusakan pada motornya maupun komponen lainnya.
2.8.2 Sistem Pompa Dorong
Pompa dorong adalah pompa untuk meyalurkan fluida minyak yang tersimpan dalam tangki pendam yang dialirkan melalui pipa fleksible menuju dispenser dengan letak motor penggeraknya dicelupkan atau dibenam pada tangki pendam. Prinsip kerja dari pompa dorong tersebut adalah :
1. Pada system pompa dorong aliran BBM dimulai dari Submersible Turbine. 2. Pump yang mendorong BBM menuju Dispenser melalui Shear valve / Emergency
Valve.
3. Kemudian BBM mengalir melalui filter.
4. Setelah melalui filter BBM mengalir melalui Solenoid Valve yang terdiri dari Slow Down Valve dan Main Valve.
5. Dari Solenoid Valve BBM mengalir ke Meter dengan terlebih dahulu menekan meter check valve kit.
6. Badan ukur / meter mengukur volume yang dikeluarkan, dengan metode pengukuran volume ruang gerak piston pada meter.
7. BBM dikeluarkan melali nozzle sesuai dengan volume yang sudah diukur.
Pompa ini mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan dengan pompa hisap dimana perawatan yang disebabkan kerusakan sangat kecil, karena posisi pompa terpisah dengan dispenser. Pompa dan dynamo tercelup didalam tangki bahan bakar minyak sehingga dynamo tidak mudah panas dan tahan lama. Dalam pelaksanaannya pompa ini mempunyai beberapa keuntungan di antaranya :
1. Hemat biaya listrik, 1 unit pompa dapat melayani sampai dengan 4 selang nozzle.
2. Hemat pemipaan, 1 unit dapat melayani sampai dengan 2 unit pompa twin. 3. dapat diparalel sampai dengan 3 tangki untuk jenis BBM yang sma
(Syphon System).
Gambar 2.10 Pompa dengan Sistem Dorong
2.9 Type atau Model Dispenser
Dispenser adalah pompa yang menyalurkan fluida bahan bakar minyak ke kendaraan pada stasiun pengisian bahan bakar umum. Dan mempunyai beberapa type dari beberapa merk yang sering di gunakan, dalam hal ini di ambil beberapa type yang terdapat pada Gilbarco Dispenser Pump. Dari beberapa type tersebut mempunyai kegunaan dan keunggulan masing sesuai dengan sistem pompa yang digunakan. Di bawah ini beberapa model pompa merk Gilbarco :
(1) Highline = Legacy Electronics
Semua tipe Highline menggunakan elektronik komputer dan dilengkapi preset.
No Type Legacy Hose Spesifikasi
Model
1 AC.1921A JH 1000 1 Standard capacity & system pompa Hi sap
2 AC.3921A JH 1200 2 Standard capacity & system pompa hisap
3 AC.4921A JHA 000 1 High capacity & system pompa hisap 4 AC.6921A JHA 200 2 Standard capacity & system pompa
Dorong
Dorong
6 AC.6942A JHA 500 2 High capacity & system pompa Dorong
7 AC.6992D JHA 800 2 Ultrahigh capacity & system pompa Dorong
Spesifikasi :
a. Elektronik Counter
b. Kapasitas aliran antara 40 - 50 liter per menit. c. Preset Programmable
d. System pompa hisap dan dorong.
(2) Advantage Series
Model dengan kanopi tinggi ( high hose models ), semua type mempunyai spesifikasi yang sama hanya dibedakan oleh jumlah Hoses (Selang). Pompa dengan jumlah Selang diatas 2 bh disebut Multi Product Dispenser (MPD) karena 1 (satu) unit pompa dapat digunakan untuk menyalurkan beberapa macam BBM.
No. Type Jumlah Hoses Display Counter System
1 B21 2 2 Dorong 2 B31 2. 2 Hisap 3 B43 4 2 Dorong 4 BB3 4 4 Dorong 5 BC3 4 4 Hisap 6 BOS 6 2 Dorong 7 B05R 6 4 Dorong Spesifikasi: a. Elektronik Counter
b. Kapasitas aliran antara 40 - 50 liter per menit. c. Body rangka canopy tinggi.
d. Preset Programmable
e. System pompa hisap dan dorong. (3) Endeavor
Pompa Endeavor terdiri dan beberapa tipe sebagai berikut :
No. Type Jumlah
Hoses
Display Counter System
1 JT.1000 1 2 Hisap 2 JT.1200 2 4 Hisap 3 JTA.OOO 1 2 Dorong 4 JTA.200 2 4 Dorong Spesifikasi : a. Elektronik Counter
b. Kapasitas aliran antara 40 - 60 liter per menit. d. Preset Programmable
e. System pompa hisap dan dorong.
2.10 Dasar-dasar Komponen Dispenser
Badan Hitung atau Counter adalah komponen yang melakukan fungsi perkalian antara jumlah BBM yang dikeluarkan dengan harga satuan BBM. Badan hitung juga menunjukan jumlah volume BBM yang dikeluarkan, Harga satuan dan total rupiah yang harus di bayar oleh konsumen. Badan hitung terdiri dari 2 jenis, yaitu : 1. Mechanical Counter
Seluruh komponen ini digerakan oleh suatu sistem roda gigi yang dirancang sedemikian rupa dan dikonversikan dari volume yang dikeluarkan, sehingga dapat menunjukan angka dan volume tersebut.
2. Electronic Counter
Adalah suatu system hitung yang mengkonversikan putaran dari assymeter/ badan ukur menjadi bentuk pulsa, yang kemudian diolah secara elektronik dan menghasilkan penunjukan dalam bentuk digital. Untuk menghasilkan penunjukan dalam bentuk digital, dibutuhkan beberapa komponen seperti, pulser, Pump Interface, Pump Control dan Display.
2.11 Komponen Mekanik
(1) Badan Ukur/Meter
Adalah sebagai alat penera jumlah BBM yang dikeluarkan. Besar kecilnya volume BBM yang sebenarnya keluar dari nozzle dapat diatur pada komponen ini. Oleh karena itu badan ukur/meter dilindungi oleh Departemen Perdagangan Direktorat bidang Metrologi dengan mencantumkan segel pada juster.
(2) Meter Check Valve Kit
Katup untuk menjaga agar BBM pada meter tetap penuh, dengan demikian meter tidak cepat aus.
(3) Selenoid Valve
Berfungsi sebagai katup pembuka / penutup aliran BBM, juga untuk mengatur aliran pada system pompa hisap dan dorong.
(4) Filter
Berfungsi un tu k menyaring kotoran-kotoran pada BBM yang akan masuk ke badan ukur / meter, sehingga akan mempengaruhi umur dari meter tersebut.
(5) S u m p / filter udara
Berfungsi un t u k memisahkan BBM dengan udara. supaya BBM yang diterima oleh konsurnen adalah BBM murni atau BBM tanpa udara. Komponen ini hanya diperlukan pada pompa dengan system hisap.
(6) Elektromotor
Salah satu komponen sebagai penggerak pompa (pump unit). Pada pompa hisap electromotor dihubungkan ke pump unit dengan mengunakan V-Belt. Pada pompa celup antara electromotor dan turbine terkopel dalam satu kesatuan.
(7) Pump unit
Pump Unit berfungsi untuk menghisap BBM dan tangki pendam, digerakkan oleh Elektromotor. Digunakan pada pompa system hisap (Pump). Ada dua macam Pump Unit yang digunakan oleh pompa Gilbarco yaitu:
1. Bleed Pump
2. G-rotor Pump
(8) Submersible turbine pump
Sebuah pompa Centrifugal dengan Turbine Impeller pada sebuah shaft vertical yang menggantung pada Prime Mover (pengarah utama). Komponen ini dicelupkan pada BBM ditangki pendam, digunakan pada pompa system dorong (Dispenser). Dilengkapi dengan leak detector yang berfungsi untuk mendeteksi kebocoran pada pipa distribusi BBM yang menhubungkan antara STP dengan dispenser, apabila leak detector mendeteksi adanya kebocoran minimal 3 gph atau 0,19 lpm maka leak detector secara otomatis akan menutup saluran BBM yang menuju ke dispenser. (9) Emergency Valve / Shear Valves
Katup pengaman pada system pompa dorong (dispenser), dipasang pada inlet dispenser. Katup ini akan menutup secara otomatis apabila terjadi benturan pada dispenser.
2.12 Sistem Perpipaan
Sistem perpipaan dapat ditemukan hampir pada semua jenis industri, dari sistem tunggal yang sederhana sampai sistem pipa bercabang yang sangat kompleks.
Sistem perpipaan sering di gunakan pada sistem distribusi air minum pada gedung atau kota, sistem pengangkutan minyak dari sumur bor ke tandon atau tangki penyimpan, sistem distribusi udara pendingin pada suatu gedung, sistem distribusi uap pada proses pengeringan dan lain sebagainya.
Sistem perpipaan meliputi semua komponen dari lokasi awal sampai dengan lokasi tujuan antara lain, saringan (strainer), katup atau kran, sambungan, nosel dan sebagainya. Untuk sistem perpipaan yang fluidanya liquid, umumnya dari lokasi awal fluida, dipasang saringan untuk kotoran agar tidak menyumbat aliran fluida. Saringan di lengkapi dengan katup searah (foot valve) yang berfungsi mencegah aliran kembali ke lokasi awal atau tandon. Sedangkan sambungan dapat berupa sambungan penampang tetap, sambungan penampang berubah, belokan (elbow) atau sambungan bentuk T (Tee).
Dalam merencanakan sistem perpipaan harus memperhatikan kaidah-kaidang perencanaan sebagai berikut :
1) Hindari terjadinya penyimpangan aliran atau pusaran pada nosel
2) Usahakan pipa harus sependek mungkin dan jumlah belokan harus sedikit mungkin agar kerugian head dapat diperkecil.
3) Hindari terjadinya kantong udara di dalam pipa dengan membuat bagian pipa yang mendatar agar menanjak ke arah pompa dengan kemiringan 1/100 sampai 1/50. Jika terjadi kantong udara tak dapat dihindari sama sekali, perlu disediakan cara untuk membuang udara.
4) Karena tekanan di dalam pipa biasanya lebih rendah dari pada tekanan atmosfir, perlu dipakai cara menyambung pipa yang tidak dapat menyebabkan kebocoran udara dari luar ke dalam pipa isap.
5) Bila sebuah saringan atau katup isap akan dipasang maka perlu disediakan cara untuk membersihkan kotoran yang menyumbat.
Perencanaan maupun perhitungan desain sistem perpipaan melibatkan persamaan energi dan perhitungan loss serta analisa tanpa dimensi yang telah dibahas pada bab sebelumnya. Perhitungan head loss untuk pipa tunggal adalah Darcy-Weisbach yang mengandalkan Diagram Moody untuk penentuan koefisien
geseknya. Untuk keperluan analisis jaringan perpipaan pada umumnya dipergunakan persamaan Hazen-Williams.
2.12.1 Sistem Pipa Tunggal
Penurunan tekanan (pressure drop) pada sistem pipa tunggal adalah merupakan fungsi dari laju aliran, perubahan ketinggian, dan total head loss, sedangkan head loss merupakan fungsi dari factor gesekan, perubahan penampang, dan lain-lain dapat dinyatakan dengan persamaan :
Δp = f ( L,Q, D, e, Δz, konfigurasi sistem, ρ, μ)
Untuk aliran tak mampu mampat, sifat fluida diasumsikan tetap. Pada saat sistem telah ditentukan, maka konfigurasi sistem, kekasaran permukaan pipa, perubahan elevasi dan kekentalan fluida bukan lagi merupakan variable bebas.
Δp = f ( L,Q, D)
2.12.2 Sistem Pipa Majemuk (Multipath)
Pada kenyataannya kebanyakan sistem perpipaan adalah sistem pipa majemuk, yaitu rangkaian seri, paralel maupun berupa jaringan perpipaan. Untuk rangkaian pipa seri atau paralel, penyelesaianya adalah serupa dengan perhitungan tegangan dan tahanan pada Hukum Ohm. Penurunan tekanan dan laju aliran identik dengan tegangan dan arus pada listrik. Namun persamaannya tidak identik seperti hokum Ohm, karena penurunan tekanan sebanding dengan kuadarat dari laju aliran. Semua sistem pipa majemuk lebih mudah diselesaikan dengan persamaan empiris.
Q1 = Q2 = Q3 = . . . = Qn
atau V1 A1 = V2 A2 = V3 A3 =. . . = Vn An
Σhl = hl1 + hl2 hl3 +. . . + hln
Pada sistem pipa paralel maka total laju aliran adalah sama dengan jumlah aljabar kapasitas masing-masing aliran dalam setiap pipa dan rugi atau head loss pada sebuah cabang adalah sama dengan rugi pada pipa cabang yang lain. Persamaannya adalah :
atau V. A = V1 A1 + V2 A2 + V3 A3 +. . . + Vn An hl1 = hl2 = hl3 =. . . = hln
Dengan menyatakan head loss sebagai persamaan Darcy-Weisbach maka persamaan akan menjadi :
f L D k V g f L D k V g f L D k V g 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 2 2 2 + ⎛ ⎝ ⎜ ⎞ ⎠ ⎟ =⎛ + ⎝ ⎜ ⎞ ⎠ ⎟ =⎛ + ⎝ ⎜ ⎞ ⎠ ⎟ =
∑ ∑ ∑
. . . 2( )
V V f L D k f L D k 2 1 1 1 1 1 2 2 2 2 = + +∑
∑
/ /Perbandingan kecepatan yang lain juga bisa ditentukan untuk dimasukkan ke persamaan menjadi : Q V A V V V A V V V A = 1 1+ 2 + + 1 1 2 3 1 1 3 . .. 2.13 Putaran Spesifik
Putaran spesifik adalah putaran pompa model yang secara geometris sama walaupun ukuran dan putarannya berbeda, bekerja pada satu satuan jumlah aliran (debit) dan satu satuan tinggi (head) pompa
4 / 3 s
n
H Q n = (2.1)dimana : n = putaran poros rpm Q = jumlah putaran m³/det H = tinggi/head m
2.1) Fritz Deitzel, Turbin Pompa dan Kompresor, hal. 248
2.14 Head
Head/tinggi energi adalah energi yang terkandung dalam fluida untuk melakukan kerja yang dinyatakan dalam meter tinggi tekanan fluida yang mengalir. Ada tiga bentuk tekanan yang terkandung dalam fluida yang mengalir, yaitu :
2.14.1 Tinggi Energi Potensial (Z)
Tinggi energi ini didasarkan pada ketinggian fluida atas bidang pembanding. Jadi fluida tersebut mempunyai energi sebesar Z meter karena posisinya.
2.14.2 Tinggi Energi Kinetik
Tinggi energi ini adalah suatu ukuran energi kinetik yang terkandung dalam satu satuan bobot fluida yang disebabkan oleh kecepatannya dan dinyatakan dalam persamaan V2/2g.
2.14.3 Tinggi Energi Tekanan
Tinggi energi ini adalah energi yang terkandung oleh fluida akibat tekanan dan sama dengan P/γ. Jadi tinggi energi (Head) total yang terkandung dalam satu aliran fluida, sesuai teori Bernoulli adalah jumlah ketiga energi tersebut, yaitu :
konstan Z 2 H 2 = + + = g V p γ (2.2)
2.2) Austin H Church, Pompa dan Blower Sentrifugal, hal 10
Hal ini disebut juga dengan tinggi teoritis. Pada kenyataannya tinggi kerja pompa selalu lebih besar dari tinggi teoritis ini disebabkan adanya rugi-rugi pada saluran. Sehingga tinggi kerja pompa atau Head Total Pompa adalah jumlah tinggi energi keseluruhan ditambah dengan tinggi rugi-rugi sepanjang saluran, yaitu :
g V hp 2 hl ha H 2 + + ∇ + = (2.3)
dimana : ha = head statis m hp = head tekanan m = γ p 10 P = tekanan kgf/m² γ = kerapatan fluida kgf/m3
g = percepatan gravitasi m/det hl = head rugi-rugi m
2.3) Sularso, Pompa dan Kompresor, hal 27
2.15 Kavitasi
Bila tekanan pada sembarang titik di dalam pompa turun menjadi lebih rendah dari tekanan uap pada temperature cairannya. Cairan itu akan menguap dan membentuk suatu rongga uap. Gelembung-gelembung akan mengalir bersama-sama dengan aliran sampai pada daerah yang mempunyai tekanan lebih tinggi dicapai dimana gelembung-gelembung itu akan mengecil lagi secara