BAB II
LANDASAN TEORI
Perancangan tekhnik (Enginering Design) merupakan usaha untuk membuat suatu alat dengan hasil yang terbaik. Keinginan mewujudkan alat tersebut dapat diwujudkan dengan berbagai macam cara dan metode perancangan. Pada metode perancangan, mendesain berarti menjabarkan ide yang dimiliki untuk menyelesaikan suatu masalah. Dengan diperolehnya ide diperlukan suatu metode yang dapat dipergunakan untuk mewujudkan ide tersebut hingga menghasilkan sebuah karya yang riil dan dapat dipertangggung jawabkan secara ilmiah.
Hal ini mendorong persatuan insinyur jerman (Verein Deutscher Ingenieure / VDI) membuat suatu metode perancangan produk yang disebut metode VDI 2221. Metode tersebut adalah “ Pendekatan Sistematik terhadap Design untuk Sistem Tekhnik dan Produk Tekhnik ” (Systematic Approach To The Design Of Technical System And Product) yang dijabarkan oleh G. Pahl dan W. Beitz.
Dalam skripsi ini penulis mencoba menjelaskan dan menjabarkan mnetode VDI 2221 agar lebih mudah dimengerti, kemudian menerapkannya dalam proses
perancangan alat pemeras kelapa. Langkah umum yang digunakan dalam
Langkah Kerja Hasil Kerja Fase
Gambar 2.1 Langkah Umum Menurut VDI 2221
Fase 4 1. Perjelas & Pertepat Tugas
2. Menentukan Fungis & Strukturnya
3. Mencari Prinsip Solusi
4. Menguraikan menjadi modul yang dapat direalisasi
5. Memberi Bentuk pada Modul
6. Memberi bentuk pada Seluruh Produk
7. Merinci Pembuatan dan cara Pembuatan Tugas Daftar Kehendak Struktur Fungsi Prinsip Solusi Struktur Modul Susunan Awal Susunan Keseluruhan Dokumentasi Produk Realisasi selanjutnya Fase 1 Fase 2 Fase 3
Proses perancangan dalam metode VDI 2221 dibagi dalam beberapa tahapan yaitu :
• Klasifikasi Tugas (Clasification of the task )
• Perancangan Konsep (Conseptual Design)
• Perancangan Wujud (Embodiment Design)
• Perancangan Detail (Detail Design)
2.1 Klasifikasi Tugas (Clasification of the task)
Klasifikasi tugas meliputi pengumpulan informasi tentang permasalahan serta mengidentifikasi kendala-kendala yang dihadapi untuk mencapai solusi akhir. Informasi ini merupakan acuan penyusunan spesifikasi.
Spesifikasi adalah daftar yang berisi persyaratan yang diharapkan dipenuhi oleh konsep yang sedang dibuat. Hal ini yang perlu diperhatikan adalah membedakan sebuah persyaratan merupakan sebagai suatu tuntutan (demand) atau keingninan (wishes).
Demand adalah persyaratan yang harus dipenuhi pada setiap kondisi, dengan kata lain apabila syarat ini tidak dipenuhi, maka perancangan dianggap tidak benar. Wishes adalah persyaratan yang diinginkan apabila memungkinkan.
Untuk mempermudah penyusunan spesifikasi, dapat dilakukan dengan meninjau aspek-aspek tertentu, seperti aspek geometri, kinematika, gaya, energi, dan aspek yang lainnya. Selanjutnya dari aspek tersebut dapat diuraikan syarat-syarat yang bersangkutan untuk kemudian dibuat daftar spesifikasinya.
2.2 Perancangan Konsep (Conseptual Design)
Adapun yang dibahas dalam perancangan konsep ini meliputi gambaran perancangan, pembuatan struktur fungsi, pencarian dan kombinasi prinsip solusi, pemilihan kombinasi yang sesuai, pembuatan varian konsep, serta evaluasi. Perancangan konsep (Conseptual Design) mencakup tahap-tahap seperti yang ditunjukkan pada tabel 2.2
2.2.1 Gambaran Perancangan
Tujuan gambaran perancangan adalah mengetahui masalah utama yang dihadapi dalam perancangan. Prinsipnya adalah mengabaikan hal-hal yang bersifat khusus danmemberikan penekanan pada hal- hal yang bersifat umum dan esensial. Dengan demikian daftar spesifikasi yang sudah dibuat dianalisa dan dihubungkan dengan fungsi yang diinginkan serta kendala yang ada.
Abstarksi dapat dilakukan dengan langkah- langkah :
• Menghilangkan pilihan diri sendiri (personal preference)
• Mengesampingkan syarat-syarat yang tidak mempunyai pengaruh besar
terhadap produk
• Mengubah data kuantitatif dan kualitatif
• Realisasi langkah sebelumnya
Spesifikasi
Mengidentifikasi masalah yang penting
Membuat struktur fungsi utama dan sub fungsi
Buat kombinasi dari prinsip solusi agar fungsi utama bisa terjawab
Pilih kombinasi yang baik
Kembangkan dalam Variaso konsep
Evaluasi
Tahapan berikutnya Konsep
2.2.2 Pembuatan Struktur Fungsi
2.2.2.1 Struktur Fungsi Keseluruhan (Overalle Function)
Setelah masalah utama diketahui, kemudian dibuat struktur fungsi secara keseluruhan. Struktur fungsi ini digambarkan dengan balik diagram yang menghubungkan antara input dan output berupa aliran energi material atau sinyal.
2.2.2.2 Sub Fungsi
Bila fungsi keseluruhan cukup rumit, maka cara untuk mengantisipasinya adalah membagi menjadi beberapa sub fungsi. Tujuannya adalah memudahkan untuk melakukan pencarian solusi lebih lanjut dan memberikan beberapa alternatif solusi.
Pada saat pembuatan struktur fungsi, harus dibedakan antara perancangan murni (original design) dengan perancangan ulang (adaptive design). Pada perancangan murni, yang menjadi dasar struktur fungsi adalah spesifikasi dan masalah utama, pekerjaan dimilai dari struktur fungsi yang kemudian dianalisa. Analisa ini akan memberikan pengembangan variasi solusi sehingga diperoleh solusi baru.
2.2.3 Pencarian dan Kombinasi Prinsip Solusi
Dasar-dasar pemecahan masalah diperoleh dengan mencari prinsip-prinsip solusi dari masing- masing sub fungsi. Dalam tahap ini dicari sebanyak mungkin variasi solusi. Metode pencarian prinsip pemecahan masalah menurut Pahl-eits dibagi dalam tiga kategori yaitu :
a. Metode Konvensional
Metede ini melakukan pencarian dalam literatur, text book, jurnal- jurnal tekhnik dan brosur yang dikeluarkan oleh suatu perusahaan. Menganalisa gejala alam atau tingkah laku makhluk hidup dengan membuat analogi atau dibuat suatu model yang dapat mewakili karakteristik dari produk.
b. Metode intuitif
Solusi dengan intuitif ini datang setelah periode pencarian dan pemikiran panjang, soluisi ini kemudian dikembangkan dan diperbaiki. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kemampuan intuisi antara lain dengan banyak melakukan diskusi dengan orang lain.
c. Metode kombinasi
Metode ini mengkombinasikan kemungkinan solusi yang ada. Metode yang dapat digunakan adalah metode bentuk matriks, dimana sub fungsi dan prinsip solusi dimasukkan dalam klom dan baris.
2.2.4 Pemilihan Kombinasi yang Sesuai
Apabila kombinasi yang ada terlalu banyak maka untuk memilih kombinasi terbaik menjadi lama. Agar tidak terjadi hal tersebut, maka apabila memungkinkan jumlah kombinasi harus dikurangi. Prosedur yang dilakukan adalah dengan mengeliminasi dan memilih yang terbaik. Dibawah ini ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan diantaranya :
• Kesesuian dengan fungsi keseluruhan
• Dapat dibuat atau diwujudkan
• Pengetahuan tentang informasi konsep yang bersangkuatan memadai
• Kebaikan dalam kinerja dan kemudahan produksi
• Faktor biaya
Bila komunikasi yang ada masih cukup banyak, maka usaha selanjutnya adalah pemilihan kombminasi terbaik dengan memeperhatikan :
• Segi keamanan dan kenyamanan
• Kemungkinan pengembangan lebih lanjut
2.2.5 Pembuatan Varian Konsep
Sebuah konsep haruslah memenuhi beberapa persyaratan seperti keamanan, kenyamanan, kemudahan dalam proses produksi dan perakitan, serta kemudahan dalam proses perawatan. Informasi ini dapat diperoleh dari :
• Gambaran atau sketsa untuk melihat kemungkinan keserasian
• Perhitungan kasar berdasarkan asumsi yang dipakai
• Pengujian awal berupa pengujian model untuk menentukan sifat umum
• Konstruksi model untuk visualisasi dan analisa
• Analogi model dan simulasi yang dapat dilakukan dengan komputer
• Penelitian lebih lanjut dari literatur
2.2.6 Evaluasi
Evaluasi berarti menentuikan nilai, kegunaan dan kekuatan yang kemudian dibandingkan dengan sesuatu yang dianggap ideal. Dalam proses perancangan,
metode yang dipakai adalah metode VDI 2221. Secara garis besar langkah yang ditempuh adalah sebagi berikut :
a. Menentukan kriteria evaluasi (Identification of Evaluation Criteria). b. Pemberian bobot kriteria evaluasi (Weight of Evaluation Criteria).
Dimana evaluasi yang dipilih mempunyai tingkat pengaruh yang berbeda terhadap varian konsep. Sebaiknya evaluasi dititik beratkan pada sifat utama yang diinginkan dari solusi akhir.
c. Menentukan parameter kriteria evaluasi (Compiling Parameter). Agar perbandingan setiap variasi konsepdapat dengan jelas, maka dipilih suatu parameter atau besaran yang dipakai oleh setiap varian.
d. Memasukan nilai penaksiran (Assesing Value).
e. Menentukan nilai keseluruhan varian konsep (Determining Overall
Weighted Value / OW ).
f. Nilai keseluruhan atau sub total untuk varian konsep dapat dihitung dengan rumus :
OWV f = ∑ Wi x Vi Dimana
Wi = Bobot kriteria evaluasi ke i
Vi = Nilai kriteria evaluasi ke i
g. Memperkirakan ketidakpastian evaluasi yang bisa disebabkan oleh kesalahan subyektif, seperti kurangnya informasi dan kesalahan perhitungan parameter.
h. Apabila terdapat nilai OWV ya ng berdekatan dari dua varian konsep, maka akan dilakukan evaluasi titik lemah (Weak Spot).
Dengan menggunakan metode evaluasi diatas, maka diharapkan akan diperoleh solusi yang cukup memuaskan.
2.3 Perancangan Wujud (Embodiment Design)
Tahap perancangan ini meliputi beberapa langkah yaitu penguraian menjadi modul- modul (Modul Structur), pembentukan lay-out awal (Preeliminary
Lay-Out), dan penentuan lay-out jadi (Definitive Lay-Out).
Perancangan wujud dari konsep produk teknik dengan menggunakan kriteria tekhnik dan ekonomi kemudian dikembangkan dengan cara menguraikan struktur fungsi kedalam struktur modal untuk memperoleh elemen-elemen pembangunan struktur fungsi. Hasil dari berupa lay-out yaitu penggambaran dengan jelas rangkaian dan bentuk elemen dari suatu produk.
Hasil ini kemudian dianalisa untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang hasil dari perancangan.
2.4 Perancangan Detail (Detail Design)
Tahan ini merupakan tahap akhir perancangan. Perancangan detail ini dipresentasikan dalam bentuk gambar lengkap diantaranya meliputi daftar komponen, spesifikasi bahan, perlakuan panas dan uji kekuatan permukaan/material jika bahan tersebut mengalaminya, yang secara keseluruhan merupakan satu kesatuan dalam perbuatan mesin atau sistem.
Pada tahap ini, dilakukan evaluasi kembali untuk melihat apakah produk tersebut benar-benar sudah memenuhi spesifikasi yang diberikan.
BAB III
METODE PERANCANGAN
3.1 Daftar Kehendak (spesifikasi)
Spesifikasi adalah daftar persyaratan kemampuan (performa) dan sifat-sifat yang harus dimiliki oleh alat yang akan dirancang. Dalam mempersiapkan daftar spesifikasi ini tindakan yang dilakukan adalah menerima semua hal yang termasuk dalam permintaan (demand) dan keinginan (wishes). Kemudian demand dan wishes tadi akan dikelompokan dan dipisah-pisahkan dalam klasifikasi perancangan. Berikut ini daftar kehendak dalam pembuatan alat pemeras kelapa :
1. Menghasilkan alat pemeras kelapa yang dapat memberikan hasil maksimal
(santan yang maksimal).
2. Pengoperasian dapat dilakukan oleh satu orang saja.
3. Penggunaan material yang mudah di dapatkan di pasaran seperti (st 37 / st 42, stainless steel& plastik).
4. Design simple dan mudah dirakit (bias di bonkar pasang) 5. Biaya pembuatan yang relative murah.
6. Proses fabrikasi mudah.
7. Proses fabrikasi cukup dengan konvensional machine tidak perlu special machine.
8. Aman dan mudah dalam pengoperasian.
9. Tidak perlu skill khusus dalam pengoperasiannya .
10. Dalam pengoperasiannya tidak menggunakan bahan baker dgn kata lain bersifat manual (dioperasikan dengan tenaga manusia yang kecil). 11. Mudah dipindah tempat.
12. Aman dan nyaman.
14. Tidak menimbulkan polusi dan ramah lingkungan. 15. Tidak memerluklan tempat yang luas
16. Dimensi alat 800 x 185 x 1250 mm 17. Kapasitas tekan mencapai 10-20 ton.
18. Kapasitas kelapa yang akan diperas bisa mencapai 50 kelapa yang sudah diparut.
3.2 Klasifikasi Perancangan
Dalam perancangan biasanya banyak mengalami kendala-kendala atau kesulitan dalam menggambarkan spesifikasi dari suatu perancangan. Untuk memudahkan dalam penyusunan spesifikasi perlu dibuat klasifikasi perancangan. Klasifikasi perancangan mel;iputi parameter yang ada pada suatu produk tekhnik. klasifikasi perancangan berfungsi sebagai pembantu untuk mendefinisikan persyaratan-persyaratan fungsi atau sifat yang harus dimiliki oleh alat yang dirancang.
Adapun aspek-aspek yang harus ada dalam proses mengklasifikasi perancangan suatru alat antar lain meliputi aspek geometri, kinematika, energi, material, sinyal, ergonomi, keselamatan, produksi, transportasi, kemampan operasi, perawatan, estetika, peralatan dan pemakaian. Pada tabel 3.1 dapat dilihat klasifikasi dari perancangan alat pemeras kelapa.
Tabel 3.1 Klasifikasi Perancangan Alat Pemeras Kelapa
No PERUBAHAN D
W
PERSYARATAN RESP REMARKS
W W W GEOMETRI 1. Ukuran Rangka a. Panjang 800 mm b. Lebar 185 mm c. Tinggi 1250 mm
W 2. Ukuran Batang pemutar
(Handwheel) 800 mm.
W 3. Ukuran ulir Ø 36 x 350 mm
Ukuran nut Ø 135 x 65 mm
W 4. Ukurang Punch (penekan)
Ø 335 x 10 mm Ukurang Dies Ø 368 x 10 mm
Ukurang Pipa pengarah Ø 73 x 280 mm
Ukurang Plat pengarah 205 x 140 x 10 mm Ukurang Pegas Ø 28 x 130 mm
W 5. Ukuran Dies
Ø 368 x 10 mm
W 6. Ukuran Hoper (saringan)
Ø 350 x 335 mm
D 7. Mudah dalam setting dan
D
KINEMATIK
1. Suaian antara Punch dan Hopper harus longgar. D 2. Kapasitas rangka harus kuat
menahan beban 10 ton.
W ENERGI 1. Menggunakan energi manusia. D 2. Hemat energi. W MATERIAL 1. Menggunakan St 37 untuk rangka W 2. Menggunakan bahan
Stainless stell untuk Hopper.
W 3. Material yang banyak
dipasaran.
D 4. Material yang kuat dan
kokoh.
D
SINYAL
1. Punch tidak akan bisa masuk ke hopper pada saat pengoperasian jika posisi hopper dan punch tidak pas.
D 2. Loading dan Unloading Part mudah.
D D
ERGONOMI
1. Mudah dioperasikan dan tidak perlu skill khusus. D 2. Bisa dioperasikan laki- laki
maupun wanita.
D 3. Safety.
D 4. Assembling mudah dan
cepat.
D 5. Simple dan Presisi
D
KESELAMATAN
1. Bagian yang berbahaya diberi pengaman.
D 2. Aman dalam pengoperasian.
D 3. Mudah dalam perawatan.
D
PRODUKSI
1. Suaian anatara punch dan hopper longgar.
D 2. Welding locator harus kuat.
D 3. Kepresisian machining
sesuai toleransi.
W 4. Mudah dalam fabrikasi dan
presisi.
W
TRANSPORTASI
1. Alat tersebut mudah dipindah tempat.
W
KEMAMPUAN OPERASI
1. Mampu memeras 5 – 50 kelapa dalam sekali proses.
W 2. Waktu pengoperasian
singkat dan hasil maksimal.
D
PERAWATAN
1. Mudah perawatannya.
D 2. Part mudah didapat dan
dibuat.
D 3. Mudah dibersihkan.
W
ESTETIKA
1. Mempunyai bentuk atau design yang indah. W
W
2. Bentuk pengelasan bagus dan kuat.
3. Hasill machining rapi.
D
PERALATAN
D 2. Mudah dirakit ulang.
D
PEMAKAIN
1. Digunakan untuk industri dodol.
W 2. Digunakan untuk tukang
pemeras kelapa di pasar dan rumah makan/restoran. D 3. Tidak ada efek negative
terhadap lingkungan.
Note :
D = Demans / Keharusan
W = Wishes / Keinginan
Reasp = Responsibole / Penanggung jawab
3.3 Struktur Fungsi
Struktur fungsi didefinisikan sebagai hubungan secara umum antara input dan output suatu system teknik yang akan menjalankan suatu tugas tertentu.
Fungsi dari alat pemeras kelapa ini adalah digunakan untuk menghasilkan santan yang semaksimal mungkin dalam waktu yang singkat (efektif dan efisien).
Berikut ini struktur fungsi berdasarkan unsur utama dalam alat pemeras kelapa 1. Rangka
2. Handwheel atau batang pemutar 3. Ulir
4. Nut.
5. Punch atau penekan 6. Dies dan Pipa Pengarah 7. Pelat Pengarah
8. Hopper atau penyaring 9. Dongkrak
10. Pegas
1. Fungsi bagian ditinjau dari rangka
E i E o
Rangka Rangka sebagai tempat
dudukan komponen
S I S o
Perlu dicari prinsip solusi bahwa rangka harus kuat dan kokoh. Hasil pengelasan harus kuat.
Material yang digunakan adalah material yang tahan karat yaitu St-42
2. Fungsi bagian ditinjau dari Handwheel
E i E o
Handwheel Handwheel sebagai
transmisi gaya
S i S o
Perlu dicari prinsip solusi bahwa transmisi gaya memberikan hasil yang maksimal.
Penempatan handwheel harus aman. Dudukan alat pemeras kelapa
Sebagai transmisi gaya
Material yang digunakan adalah material yang tahan karat yaitu St-42
3. Fungsi bagian ditinjau dari Ulir
E i E o
Ulir Ulir digunakan utk menaikkan/
menurunkan Punch
M i M o
Perlu dicari prinsip solusi bahwa proses pembuatan harus presisi anatar ulir dan nut.
Penempatan pada rangka harus tepat.
Material yang digunakan adalah material yang tahan karat yaitu St-42
4. Fungsi bagian ditinjau dari Nut
E i E o
Ulir Ulir digunakan utk menaikkan/
menurunkan Punch
M i M o
Perlu dicari prinsip solusi bahwa proses pembuatan harus presisi anatar ulir dan nut.
Penempatan pada rangka harus tepat.
Material yang digunakan adalah material yang tahan karat yaitu St-42 Untuk menaikan /
menurunkan Punch
Untuk menaikan / menurunkan Punch
5. Fungsi bagian ditinjau dari Punch
E i E o
Punch Punch sebagai pemeras
kelapa
S i S o
Perlu dicari prinsip solusi bahwa punch harus kuat untuk menekan. Suaian antara punch dan hopper yang dipakai adalah suaian longgar.
Material yang digunakan adalah material yang tahan karat yaitu Stainless Steel
6. Fungsi bagian ditinjau dari Dies dan Pipa mengarah
E i E o
Dies Dies sebagai dudukan
punch
S i S o
Perlu dicari prinsip solusi bahwa dies dan pipa pengarah harus kuat menahan tekanan dari punch pada saat proses pemerasan.
Material yang digunakan adalah material yang tahan karat yaitu St-42
7. Fungsi bagian ditinjau dari Plat pengarah
E i E o
Punch Plat sebagai pengarah
dies
S i S o
Perlu dicari prinsip solusi bahwa pelat pengarah harus tepat dalam mengarahkan dies pada saat prose penekanan atau pemerasan berlangsung .
Material yang digunakan adalah material yang tahan karat yaitu St-42 Sebagai pemeras kelapa Sebagai dudukan punch Sebagai pengarah dies
8. Fungsi bagian ditinjau dari Hopper
E i E o
Hopper Hopper sebagai tempat pemeras
kelapa
S i S o
Perlu dicari prinsip solusi bahwa hopper harus kuat menahan tekanan dari punch dan dongkrak.
Pemasangan Punch dan hopper harus tepat.
Material yang digunakan adalah material yang tahan karat yaitu Stainless steel.
9.Fungsi bagian ditinjau dari Dongkrak
E i E o
Dongrak Dongkrak berfungsi untuk
membantu punch dalam memeras kelapa
S i S o
Perlu dicari prinsip solusi bahwa dongkrak dapat meberikan energi yang besar dalam proses pemerasan kelapa.
Kapasitas dongkrak yang digunakan 5 sampai 15 ton.
10.Fungsi bagian ditinjau dari Pegas
E i E o
Pegas Pegas berfungsi untuk
mengembalikan handle dongkrak. S i S o Tempat pemeras kelapa Membantu Punch dalam memeras kelapa Membantu Punch dalam memeras kelapa
Perlu dicari prinsip solusi bahwa pegas harus tidak mudah lelah,sehingga tuas/handle dongkrak kembali tepat ke posisi semula
Material yang digunakan adalah St-42
3.4 Prinsip Solusi Untuk Sub Fungsi
Setelah dibua t struktur fungsi kesuluruhan dan beserta sub fungsinya, maka selanjutnya dicari prinsip-prinsip solusi untuk memenuhi sub fungsi tersebut. Metode yang akan digunakan untuk mencari prinsip solusi adalah metode kombinasi, yaitu mengkombinasikan semua solusi yang ada dalam bentuk matrik.
Prinsip solusi diusahakan sebanyak mungkin, akan tetapi prinsip-prinsip solusi tersebut dianalisis lagi, dimana prinsip solusi yang kurang bermanfaat dapat dihilangkan atau diabaikan dengan tujuan agar dalam tahap perancangan konsep selanjutnya tidak terlalu banyak konsep yang harus dievaluasi lagi. Pada tabel 3.2 dapat dilihat prinsip solusi untuk sub fungsi alat pemeras kelapa.
NO BAGIAN UNSUR MESIN PERSYARAT AN FUNGSI BAGIAN/ SOLUSI UNTUK 1 2 3 4 5 A. Material Rangka - Dari bahan yang kuat - Bisa diproses pengelasan Bahan dan bentuk yang digunakan untuk Rangka plat St 37 Kanal u St 37 Kanal c St 37 Plat St 42 Kanal u St 42 B Material Hand-wheel - Dari bahan yang kuat - Bisa diproses pengelasan Bahan yang digunakan untuk Handwheel
Squre bar Hex bar Flat bar Squre
tube Pipa C Sinyal Ulir - Dari bahan yang kuat - Bisa diproses machining Bahan yang digunakan untuk ulir dan
nut. Segitiga St 37 Segiempat St 37 Segitiga St42 Segiemp at St42 Segitiga SS42
D Sinyal Nut - Dari bahan yang kuat - Bisa diproses machining Bahan yang digunakan untuk ulir dan nut. Segitiga St 37 Segiempat St 37 Segitiga St42 Segiemp at St42 Segitiga SS42 E Material Punch - Dari bahan yang kuat - Bisa diproses machining - Tahan karat Bahan yang digunakan
untuk punch Al St-37 Stainles
Steel Galvanis St-42 F Material Dies dan Pipa Pengarah - Dari bahan yang kuat - Bisa diproses machining - Pipa tidak mudah bengkok Bahan yang digunakan untuk punch Al St-37 Stainles Steel Galvanis St-42
G Material Plat Pengarah - Presisi dan tepat dalam mengarahkan -Suain harus longgar Bahan yang digunakan untuk plat pengarah St-37 Galvanis St-42 Al Stainles Steel H Material Hopper - Dari bahan yang kuat - Bisa diproses machining Bahan yang digunakan Untuk hopper
Al Stainles Kuningan Plastik
I Material Dongkrak - Kuat untuk
menahan beban tekanan
Kapasitas yang digunakan
J Material Pegas
- Bahan pegas harus kuat dan elastis
Bahan dan jenis yang digunakan
3.5 Variasi Prinsip Solusi
Setelah prinsip solusi subfungsi dibuat, maka perlu dilakukan variasi prinsip solusi. Disini prinsip solusi tadi akan dilihat apakah memenuhi beberapa aspek yang telah ditentukan, jika memenuhi dibari tanda ( + ) dan jika tidak diberi tanda ( - ),sehingga terbentuk suatu jalur kombinasi. Pada tabel 3.3 akan ditunjukkan variasi prinsip solusi dari alat pemeras kelapa.
3.6 Jalur Variasi Prinsip Solusi
Stelah dilakukan variasi prinsip solusi maka akan didapatkan beberapa jalur variasi prinsip solusi. Pada jalur variasi prinsip solusi akan didapatkan beberapa kombinasi dimana nantinya kombinasi yang terbaik akan digunakan untuk membuat alat pemeras kelapa. Jalur variasi prinsip solusi dapat dilihat pada tabel 3.4.
Tabel 3.3 Variasi Prinsip Solusi Alat Pemeras Kelapa
FTI PKSM UMB TEKNIK MESIN
Tabel Pemilihan Variasi Struktur Fungsi
Alat Pemeras Kelapa
Kriteria Pemilihan Keputusan
+ Ya ( + ) Solusi yang dicari - Tidak ( - ) Hapuskan Solusi ? Kurang Informasi ( ? ) Kumpulkan Informasi ! Periksa Spesifikasi ( ! ) Lihat Spesifikasi Sesuai dengan fungsi keseluruhan
Sesuai dengan daftar kehendak Dalam batas biaya produksi
Pengetahuan tentang konsep memadai Sesuai keinginan perancang
VARIAN PRINSIP SOLUSI
Memenuhi syarat keamanan
A B C D E F PENJELASAN
A1 + + + + - + +
A2 + + + - - + +
A3 + - + - - - -
A4 + + + + + + Bahan mudah didapat +
A5 + + + + - + +
B1 + - + - + + +
B2 + - + - + + +
B3 + - - - - + -
B4 + + + + - + +
B5 + + + + + + Rimgan dan Kuat +
C1 + - + + - + +
C2 + + + + + + +
C3 + - + + - + +
C4 + + + + + + Mudah di dapat +
FTI PKSM UMB TEKNIK MESIN
Tabel Pemilihan Variasi Struktur Fungsi
Alat Pemeras Kelapa
Kriteria Pemilihan Keputusan
+ Ya ( + ) Solusi yang dicari - Tidak ( - ) Hapuskan Solusi ? Kurang Informasi ( ? ) Kumpulkan Informasi ! Periksa Spesifikasi ( ! ) Lihat Spesifikasi Sesuai dengan fungsi keseluruhan
Sesuai dengan daftar kehendak Dalam batas biaya produksi
Pengetahuan tentang konsep memadai Sesuai keinginan perancang
VARIAN PRINSIP SOLUSI
Memenuhi syarat keamanan
A B C D E F PENJELASAN D1 + - + + - + + D2 + + + + + + + D3 + - + + - + + D4 + + + + + + Mudah di dapat + D5 + - - + - + - E1 - - + + - - - E2 - - + + - - -
E3 + + + + + + Bahan Anti karat + Kuat +
E4 - - + - - - - E5 - - + + - - - F1 - + + - - - - F2 + + + + - + + F3 + + - - - + - F4 + + + + - + + F5 + + + + + + + G1 + + + + + + + G2 + + - - + + + G3 + + + + + + +
FTI PKSM UMB TEKNIK MESIN
Tabel Pemilihan Variasi Struktur Fungsi
Alat Pemeras Kelapa
Kriteria Pemilihan Keputusan
+ Ya ( + ) Solusi yang dicari - Tidak ( - ) Hapuskan Solusi ? Kurang Informasi ( ? ) Kumpulkan Informasi ! Periksa Spesifikasi ( ! ) Lihat Spesifikasi Sesuai dengan fungsi keseluruhan
Sesuai dengan daftar kehendak Dalam batas biaya produksi
Pengetahuan tentang konsep memadai Sesuai keinginan perancang
VARIAN PRINSIP
SOLUSI
Memenuhi syarat keamanan
A B C D E F PENJELASAN G4 - - + + - - - G5 - - - + - + - H1 - - + + - - - H2 + + + + + + Anti karat + H3 - - + + - - - H4 - - + + - - - H5 - - + + - - - I1 + + + + + + + I2 + + + + + + + I3 + + + + + + + I4 + + + + + + + J1 + + - - + - - J2 + + + + + + + J3 + - + - - - - J4 + + - - - + - J5 + + + + + + +
NO BAGIAN UNSUR MESIN PERSYARAT AN FUNGSI BAGIAN/ SOLUSI UNTUK 1 2 3 4 5 A. Material Rangka - Dari bahan yang kuat - Bisa diproses pengelasan Bahan dan bentuk yang digunakan untuk Rangka plat St 37 Kanal u St 37 Kanal c St 37 Plat St 42 Kanal u St 42 B Material Hand-wheel - Dari bahan yang kuat - Bisa diproses pengelasan Bahan yang digunakan untuk Handwheel
Squre bar Hex bar Flat bar Squre
tube Pipa C Sinyal Ulir - Dari bahan yang kuat - Bisa diproses machining Bahan yang digunakan untuk ulir dan
nut. Segitiga St 37 Segiempat St 37 Segitiga St42