Model Akhir (Prototype)
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
A. Kesimpulan Umum
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diperoleh kesimpulan secara umum sebagai berikut.
1. Kreativitas siswa SMP Banjarmasin
Tingkat kreativitas siswa SMP Banjarmasin sebagian besar berada pada level cukup kreatif dari komponen kognitif dan berada pada level mulai terlihat dari komponen afektif. Pencapaian level kreatif ini didukung oleh sudah adanya upaya implementasi pembelajaran matematika yang berusaha mengaktifkan siswa melalui pembelajaran kooperatif. Dalam proses pembelajaran kooperatif dimungkinkan siswa memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan guru dan siswa lainnya dengan lebih terarah. Siswa memperoleh kesempatan melatih nalarnya melalui belajar mandiri dalam kelompok, melatih menghargai ide siswa lainnya, melatih keberanian mengambil resiko dalam memecahkan masalah, serta melatih rasa ingin tahu melalui kerjasama kelompok. Nilai-nilai kreativitas pada siswa belum berkembang maksimal dikarenakan guru belum merencanakan pembelajaran secara baik untuk mengembangkan potensi kreatif siswa. Meskipun guru telah mengikuti pelatihan-pelatihan tentang model-model pembelajaran dan
juga integrasi pendidikan karakter ke mata pelajaran matematika, tetapi implementasinya masih mereka-reka. Ini terlihat dari RPP yang guru buat di mana sudah terdapat penulisan tujuan-tujuan afektif atau unsur-unsur pendidikan karakter, tetapi guru belum mengetahui persis bagaimana melakukannya di kelas termasuk mengembangkan nilai-nilai kreativitas siswa.
2. Model Pengembangan Nilai-nilai Kreativitas
Model pembelajaran yang dikembangkan, yaitu model pembelajaran Problem Solving Bermuatan Nilai Kreatif terdiri enam langkah (fase), yaitu (1) menyampaikan tujuan pembelajaran, (2) mengorientasikan siswa pada masalah melalui problem solving, (3) mengorganisasi siswa untuk belajar, (4) membimbing penyelesaian secara individual maupun kelompok, (5) menyajikan hasil penyelesaian/pemecahan masalah, dan (6) memeriksa pemahaman dan memberikan umpan balik. Pada setiap pergantian antar fase ada ruang di mana siswa - atas dorongan guru – dapat mengembangkan pengarahan diri. Model ini mengawinkan langkah-langkah pemecahan masalah dari Polya yang mengedepankan pengembangan kognitif namun masih berisi tujuan-tujuan afektif dengan tahapan-tahapan perkembangan nilai moral dari Lickona yang mengedepankan pengembangan nilai moral anak. Melalui model ini siswa berkesempatan mengembangkan potensi kreativitas diri yang tidak hanya pada komponen-komponen kognitif saja tetapi juga komponen-komponen afektif dari kreativitas. Untuk mendukung model pembelajaran PSBNK diperlukan persiapan-persiapan oleh guru, di antaranya menyiapkan bahan problem solving yang
bertingkat dan bermuatan nilai-nilai/karakter. Semakin siap dan bagus bahan problem solving yang disiapkan semakin baik proses pembelajaran yang dapat dilaksanakan. Pada proses pembelajaran, di mana siswa mengikuti alur proses menemukan penyelesaian/pemecahan masalah, setiap langkahnya mengedepankan pengembangan pola berpikir siswa sehingga menjadi lancar, fleksibel, asli, dan rinci. Pada setiap tahapan pemecahan masalah diperlukan penekanan oleh guru tentang nilai-nilai kreativitas yang harus selalu dibiasakan oleh siswa. Kebiasaan terus-menerus melakukan sikap-sikap kreatif ini akan membentuk pribadi siswa yang kreatif. Pembiasaan inilah yang menjadi perhatian utama guru selama proses pembelajaran berlangsung. Penguasaan materi matematika tetap menjadi tujuan (instructional effect), tetapi pembentukan pribadi siswa yang sesuai dengan nilai-nilai yang dikembangkan menjadi tujuan jangka panjang (nurturant effect). Di samping itu, dalam prosesnya dengan bantuan dan fasiltiasi guru yang selalu memberitahukan, mengingatkan, dan membiasakan sikap-sikap kreatif akan memberikan kesempatan terinternalisasinya nilai-nilai kreatif seperti rasa ingin tahu, bersifat imajinatif, merasa tertantang oleh kemajemukan, berani mengambil resiko, dan sifat menghargai.
3. Tingkat Kreativitas PSBNK versus Pembelajaran Konvensional
Proses pembelajaran matematika oleh guru dengan menggunakan model PSBNK menghasilkan perubahan pada siswa dalam berpikir kreatif dan bersikap kreatif. Perubahan ini terlihat lebih tinggi bila dibandingkan dengan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran matematika konvensional. Perubahan
terlihat lebih tinggi lagi bila ditinjau berdasarkan level SMP. Pada SMP level rendah di mana input siswa juga lebih rendah ada kecenderungan perubahan yang lebih cepat terutama dari sisi afektif. Perubahan ini terjadi perlahan dari pertemuan ke pertemuan berikutnya, namun menunjukkan kepastian akan adanya peningkatan terus menerus. Uji statistik pun menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan dalam peningkatan level kreatif siswa yang dibelajarkan dengan model PSBNK bila dibandingkan dengan peningkatan level kreatif siswa yang dibelajarkan dengan model konvensional.
4. Faktor-faktor pendukung kreativitas
Proses internalisasi nilai-nilai karakter terjadi tidak hanya di sekolah melalui pembelajaran di kelas atau melalui pembentukan budaya sekolah, tetapi juga di rumah dan lingkungan siswa di mana siswa berinteraksi sosial. Lingkungan rumah atau latar belakang keluarga siswa menjadi tempat pertama internalisasi nilai-nilai karakter, karena di rumahlah pertama kali siswa melihat, mempelajari, merasakan, dan melakukan segala sesuatu. Dengan demikian latar belakang keluarga menjadi sangat mempengaruhi pembentukan karakter siswa. Berdasarkan data penelitian ini latar belakang siswa mengenai jenis kelamin, urutan kelahiran, jumlah saudara, pernah atau tidak pernah bersekolah di TK, pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, dan penghasilan orang tua menghasilkan level kreativita yang beragam. Anak laki-laki lebih kreatif bila dibandingkan dengan anak perempuan. Ini biasa karena memang anak laki-laki memiliki keberanian dalam mencoba hal-hal baru. Siswa yang tidak pernah bersekolah TK sedikit lebih kreatif dibandingkan dengan siswa
yang pernah bersekolah di TK. Hal ini bukan berarti bersekolah di TK tidak baik, tetapi lebih disebabkan anak yang tidak mengikuti TK menghadapi tantangan yang lebih besar ketika di SD. Meski demikian seara keseluruhan tidak ada pengaruh yang signifikan latar belakang siswa terhadap perolehan level kreatifnya. Berdasarkan analisis statistik diperoleh bahwa latar belakang pendidikan ayah, urutan anak dalam keluarga, dan pengalaman bersekolah di TK cenderung berdampak positif terhadap pencapaian level kreativitas. Hal ini memperlihatkan bahwa dengan pendidikan yang lebih baik, memberikan pembentukan kesadaran pada orang tua akan pendidikan anak. Kesadaran orang tua ini berpotensi memberikan pengaruh terhadap kreativitas anak.