BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dikemukakan diatas, maka dapat
ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Organisasi
Struktur Organisasi di PT. INKA (Persero) secara umum telah dapat
menjalankan perusahaan dengan baik. Jajaran Pimpinan perusahaan berusaha
secara optimal untuk mencapai tujuan perusahaan melalui koordinasi dengan
seluruh pihak yang ada di perusahaan dan guna menciptakan suatu Struktur
Organisasi yang fungsional dan efektif maka PT. INKA (Persero) akan terus
berusaha membenahi Stuktur Organisasinya sesuai kondisi yang dialami
perusahaan.
2. Proses Produksi
Proses produksi di PT. INKA (Persero) dilakukan secara bertahap oleh :
Bagian Pengerjaan Plat/Welding, Bagian Perakitan, Bagian Pengecatan, Bagian
Pemasangan Komponen, Bagian Permesinan, Bagian Interior, dan didukung oleh
Bagian Quality Control, Bagian Perencanaan dan Pengendalian Produksi serta
Bagian Quality Assurance.
3. Utilitas
Sarana penunjang kelancaran produksi di PT. INKA (Persero) berupa
penyediaan air dari sumur artesis dan PDAM, penyediaan udara dari kompresor
commit to user
dengan tenaga disel, penyediaan bahan bakar berupa bensin atau solar dan
penyediaan tenaga listrik dari PLN dengan daya 20.000 KVA.
4. Uji Kualitas
Uji kualitas terhadap hasil produksi PT. INKA (Persero) dilakukan dengan
tes statis dan tes dinamis oleh bagian Quality Assurance. Tes statis terdiri dari ; uji
beban, uji kelayakan las, uji kualitas desain interior, water test, tes kelistrikan, dan
tes pengereman. Tes dinamis terdiri dari ; tes kelengkungan (curve test) dan tes
jalan (run test).
5. Potensi Bahaya
Adapun potensi bahaya yang dapat timbul di tempat kerja yang ada di PT.
INKA (Persero) meliputi :
a. Bahaya listrik/tersengat listrik.
b. Terpeleset dan terjatuh.
c. Terluka/tergores, terpotong, terbentur, terjepit dan tertimpa.
d. Bahaya tabrakan atau tertabrak.
e. Bahaya kebakaran dan peledakan.
PT. INKA (Persero) telah mengantisipasi potensi bahaya tersebut dengan
menyediakan peralatan dan bahan yang berkualitas dan berstandar, penyususna
cara kerja yang aman, memberi tanda peringatan atau garis batas pada area kerja,
commit to user
6. Faktor-Faktor Bahaya
a. Kebisingan
Intensitas kebisingan yang dibawah NAB di ruangan ; PPL Bag. Barat
(83,61 dB), Grid Blasting (84,75 dB), Moonting (81,02 dB) dan Interior Timur
(84,1 dB). Sedangkan intensitas kebisingan yang melebihi NAB di ruangan ; PPL
Bag. Timur (87,98 dB), PRKB (86,85 dB), PRKT (97,55), Part Painting (128,8
dB), Bogie Machining (135,8), Bogie Perakitan (120,6 dB), Piping (88,1 dB) dan
GE (96,5 dB) harus terus dipantau dan dikendalikan. Pemaparan intensitas
kebisingan terhadap pekerja harus diminimalisir baik dengan rekayasa teknik
maupun administrastif, misalnya dengan pengaturan jam kerja dan penggunaan
APD berupa Ear plug atau Ear muff.
b. Penerangan
Ruangan yang intensitas penerangan umumnya masih dibawah standar
seperti ruangan PPL Bag. Barat(138,4 Lux), PPL Bag. Timur(192,6 Lux), Part
Painting(97 Lux), Bogie Assembling (138 Lux), Bogie Perakitan (129,75 Lux),
Final (62,67 Lux), Dapur (31,25 Lux) dan Gudang (36,37 Lux) selain
menggunakan sumber penerangan alami juga harus dibantu dengan sumber
penerangan buatan dengan jumlah lampu yang cukup agar intensitas cahaya yang
dibutuhkan untuk bekerja secara nyaman tanpa membutuhkan kerja indera
penglihatan yang berlebih.
c. Tekanan Panas
PT. INKA (Persero) belum melakukan pengukuran tekanan panas yang
commit to user
suhu nikmat yang dianjurkan yaitu di unit PPL (Bag. Barat), PPL (Bag. Timur),
PRKB, PRKT, Painting (Cat I), Bogie Assembling, Bogie Perakitan, Interior
Timur, Piping, Final, GE, Dapur, Ruang Makan dan Gudang melebihi suhu
nikmat yang dianjurkan. Kelembaban relatif di unit PRKT, Painting (Cat I), Bogie
Assembling, Bogie Perakitan, Ruang Makan dan Gudang belum sesuai yang
dianjurkan dan yang lain sudah cukup.
d. Debu
Kadar debu yang paling tinggi ada di unit Grid Blasting (0,0315 mg/ m3)
dan Painting/Cat I (0,0264 mg/ m3). Kadar debu yang berlebih ini disebabkan
karena adanya penyemprotan pasir besi menggunakan kompresor bertekanan dan
proses pengecatan. Untuk mengantisipasinya dilakukan pemasangan Cyclone dan
Dust Collector, sarung tangan, pemakaian masker, kaca mata dan safety shoes.
e. Limbah
Limbah padat dan cair yang dihasilkan PT. INKA (Persero), ditampung
untuk kemudian dijual, sedangkan limbah gas dan debu ditangani dengan
pemasangan Cyclone dan Dust Collector, serta adanya upaya penghijauan dan
pemakaian APD (Masker atau Respirator).
7. Pelayanan Kesehatan Kerja
a. Sarana kesehatan yang diberikan PT. INKA (Persero) kepada karyawannya
meliputi pengadaan kotak PPPK dan Poliklinik (Polinka).
b. Polinka dikelola oleh seorang dokter dan perawat yang didatangkan dari
commit to user
c. Pelayanan kesehatan yang diberikan oleh PT. INKA (Persero) berupa ;
pemeriksaan kesehatan sebelum kerja, pemeriksaan kesehatan khusus,
penyediaan dokter keluarga dan rumah sakit rujukan.
d. PT. INKA (Persero) telah menyediakan satu unit mobil ambulance untuk
mengangkut pasien yang perlu di rujuk ke rumah sakit.
e. PT. INKA (Persero) juga telah meyediakan pelayanan kesehatan diluar jam
kerja dengan adanya dokter keluarga.
f. Pembinaan dan pengawasan atas penyesuaian pekerjaan terhadap tenaga kerja,
lingkungan kerja, perlengkapan sanitasi dan perlengkapan kesehatan tenaga
kerja telah dilakukan oleh PT. INKA (Persero).
g. Pencegahan dan pengobatan terhadap penyakit umum dan penyakit akibat
kerja telah dilakukan juga oleh PT. INKA (Persero).
h. Memberikan nasehat mengenai perencanaan dan pembuatan tempat kerja,
pemilihan alat pelindung diri yang diperlukan dan gizi serta penyelenggaraan
makanan di tempat kerja telah dilakukan oleh PT. INKA (Persero).
i. Membantu usaha rehabilitasi akibat kecelakaan atau penyakit akibat kerja
telah dilakukan oleh PT. INKA (Persero).
j. Memberikan laporan berkala tentang Pelayanan Kesehatan Kerja kepada
pengurus telah dilakukan juga oleh PT. INKA (Persero).
8. Kesejahteraan Karyawan
Kesejahteraan karyawan PT. INKA (Persero) telah mendapat perhatian
dari pihak perusahaan dengan adanya berbagai fasilitas perusahaan yang diberikan
commit to user
9. Gizi Kerja
Pemenuhan gizi kerja dilakukan dengan penyediaan makan siang di kantin
perusahaan dan penyediaan air minum di setiap unit kerja. Kondisi kantin dan
dapur cukup baik. Penyajian menu makan cukup bervariasi, akan tetapi belum ada
tenaga ahli gizi yang bertugas menganalisis gizi sesuai dengan kebutuhan kalori
tenaga kerja. Penyajian menu makanan selama satu bulan bervariasi dari minggu
I, II, III, dan IV dapat diputar untuk bulan berikutnya, hal ini bertujuan agar
tenaga kerja tidak bosan dan juga untuk menghindari terjadinya kelebihan zat
tertentu atau kekurangan zat gizi yang lain pada tenaga kerja.
10.Ergonomi
a. Hari efektif bekerja adalah 5 hari kerja, sistem kerja 8 jam kerja perhari
dengan istirahat selama 45 menit setelah 4 jam bekerja.
b. Sikap kerja karyawan PT. INKA (Persero) adalah sikap kerja duduk yang
sebagian besar dilakukan oleh tenaga kerja di perkantoran, sedangkan tenaga
kerja bagian produksi sikap kerjanya berdiri, jongkok, dan berpindah-pindah
diberi kesempatan duduk.
c. Kondisi lingkungan kerja secara umum baik, kondisi lantai cukup bersih dan
kondisi mesin tertata rapi, akan tetapi penempatan material perlu ditingkatkan
lagi keteraturannya.
d. Untuk pekerjaan mengangkat dan mengangkut telah disediakan alat bantu
commit to user
11.Sistem Keselamatan Kerja
a. Perusahaan telah menyediakan Alat Pelindung Diri yang sesuai dengan jenis
dan potensi bahaya yang ada di tempat kerja.
b. Usaha penanggulangan kebakaran telah dilakukan PT. INKA (Persero)
melalui penyediaan APAR dan pembentukan regu Damkar.
c. PT. INKA (Persero) telah melaksanakan sistem pengaman kelistrikan
menggunakan sistem hubung bagi dengan perangkat MCB (Mini Circuit
Breaker), MCCB (Main Change Circuit Breaker), pemasangan pagar
pengaman, penempatan dan pemasangan transformator pada tempat khusus
dan pembuatan sistem grounding.
d. Pelaksanaan sosialisasi K3 telah dilaksanakan PT. INKA (Pesero) untuk
memberi informasi dan pengetahuan yang berkaitan dengan K3 dan
meningkatkan kesadaran tenaga kerja. Penerapannya dengan pemasangan
papan informasi, petunjuk pemakaian alat, poster-poster tentang K3 dan
rambu-rambu peringatan pada setiap unit produksi terutama yang banyak
mengandung faktor bahaya, training K3 yang dilaksanakan baik secara umum
untuk setiap karyawan baru dan penyegaran bagi karyawan lama maupun
secara khusus yang membahas tentang K3, dan juga pembuatan Buku
Pedoman Keselamatan Kerja dan Lingkungan Hidup.
e. PT. INKA (Persero) telah memasukkan SMK3 dalam program kerja dan
kebijakan pengelolaan KLH yang dilaksanakan oleh K3LH. Penerapan SMK3
terintegrasi dalam Sistem Manajemen Mutu perusahaan yang mengacu pada,
commit to user
f. PT. INKA (Persero) telah mempunyai tim dan prosedur emergency planning.
g. Inspeksi K3 di PT. INKA (Persero) dilaksanakan oleh masing-masing unit
kerja, sehingga pelaporan inspeksi kadang tidak tersampaikan kepada pihak
K3LH. Inspeksi K3 selama ini dilakukan hanya sebatas terhadap kondisi
lingkungan kerja yang mana cheklist belum digunakan dalam pelaksanaannya
dan pelaksanaannya belum rutin.
h. PT. INKA (Persero) telah melaksanakan sistem pelaporan, investigasi atau
penyelidikan, dan pencatatan terhadap kejadian kecelakaan kerja.
i. PT. INKA (Persero) telah melaksanakan audit secara internal maupun
eksternal sebagai evaluasi terhadap pelaksanaan SMK3.