• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

A. TEORI MEDIS 1. KEHAMILAN

5. KESPRO DAN KB

a) Kesehatan Reproduksi

1. Konsep Kesehatan Reproduksi a. Devinisi kesehatan reproduksi

Kesehatan Reproduksi adalah keadaan kesejahteraan fisik, mental, dan sosial yang utuh dan bukan hanya tidak adanya penyakit dan kelemahan, dalam segala hal yang berhubungan dengan sistem reproduksi dan fungsi – fungsi serta proses –

137

prosesnya(ICDP, Cairo, 1994 dalam Romauli dan Vindari, 2009).

b. Ruang Lingkup Kesehatan Reproduksi 1) Gangguan Sistem Reproduksi

a) Gangguan kesehatan berkaitan dengan kehamilan. b) Kendali sosial budaya terhadap kesehatan reproduksi. c) Kebijakan pemerintah terhadap kesehatan reproduksi (UU). d) Tersedianya pelayanan (esensial dan menyeluruh).

e) Dampak industrialisasi dan perubahan lingkungan terhadap kesehatan reproduksi.

2) Gender dan seksualitas

a) Kebijakan pemerintah terhadap masalah gender dan seksualitas.

b) Pengenalan sosial/norma sosial budaya. c) Seks dan remaja.

d) Perlindungaan terhadap perempuan. 3) Kehamilan tidak diinginkan

Salah satu resiko dari seks pranikah atau seks bebas adalah kehamilan seperti yang tidak diharapkan. Ada dua hal yang dlakukan jika mengalami kehamilan yang tidak diinginkan : a) Bila kehamilan dipertahankan :

(1) Risiko fisik

Kehamilan pada usia dini bisa menimbulkan kesulitan dalam persalinan seperti perdarahan, bahkan kematian. (2) Risiko psikis atau psikologi

Ada kemungkinan pihak perempuan menjadi ibu tunggal karena pasangan tidak mau menikahinya atau tidak mempertanggungjawabkan perbuatannya.

138

Salah satu risiko sosial adalah berhenti/putus sekolah atas kemauan sendiri dikarenakan rasa malu atau cuti melahirkan.

(4) Risiko ekonomi

Merawat kehamilan, melahirkan dan membesarkan bayi atau anak membutuhkan biaya besar.

b) Bila kehamilan diakhiri (aborsi) (1). Risiko fisik

Perdarahan dan komplikasi lain merupakan salah satu resiko aborsi. Aborsi yang berulang selain bisa menyebabkan komplikasi juga bisa menyebabkan kemandulan. Aborsi yang dilakukan tidak aman akan menyebabkan kematian.

(2). Resiko psikologi

Pelaku aborsi seringkali mengalami perasaan – perasaan takut, panik, tertekan atau stres, trauma mengingat proses aborsi dan kesakitan.

(3). Risiko sosial

Ketergantungan pada pasangan seringkali lebih besar karena perempuan merasa sudah tidak perawan, pernah mengalami kehamilan tidak diinginkan dan aborsi. (4). Risiko ekonomi

Biaya aborsi cukup tinggi. Bila terjadi komplikasi maka biaya semakin tinggi.

(5). Kekerasan dan perkosaan terhadap perempuan

Kekerasan terhadap perempuan adalah segala bentuk kekerasan berbasis gender yang berakibat atau mungkin berakibat menyakiti secara fisik, seksual, mental atau penderitaan terhadap perempuan, termasuk ancaman dari tindakan tersebut pemaksaan atau perampasan semena – mena kebebasan baik yang terjadi di

139

lingkungan masyarakat maupun dalam kehidupan pribadi.

C. Hak – hak Reproduksi

Hak reproduksi adalah hak asasi yang telah diakui dalam hukum internasional dan dokumen asasi internasional untuk meningkatkan sikap saling menghormati secara setara dalam hubungan perempuan dan laki – laki.

Hak reproduksi :

1) Hak mendapatkan informasi dan pendidikan kesehatan reproduksi.

2) Hak mendapatkan pelayanan kesehatan seksual dan kesehatanreproduksi yang berkualitas.

3) Hak untuk bebas membuat keputusan tentang hal yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi tanpa paksaan, diskriminasi serta kesehatan.

4) Hak kebebasan dan tanggung jawab dalam menetukan jumlah dan jarak waktu memiliki anak.

5) Hak untuk hidup (hak untuk dilindungi dari kematian karena kehamilan dan proses melahirkan).

6) Hak atas kebebasan dan keamanan berkaitan dengan kehidupan reproduksi.

7) Hak untuk bebas dari penganiayaan dan perlakuan buruk termasuk perlindungan dari perkosaan, kekerasan, penyiksaan dan pelecehan seksual.

8) Hak mendapatkan manfaat dari kemajuan ilmu pengetahuan yang terkait dengan kesehatan reproduksi.

9) Hak atas kerahasiaan pribadi dengan kehidupsn reproduksinya.

10) Hak membangun dan merencanakan keluarga.

11) Hak kebebasan berkumpul dan berpartisipasi dalam politik yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi.

140

12) Hak untuk bebas dari segala bentuk diskriminasi dalam kehidupan berkeluarga dan kehidupan reproduksi.

b) Keluarga Berencana  Suntik a) Pengertian

Suntikan progestin merupakan kontrasepsi suntik yang berisi hormon progesteron.

b) Jenis

(1) Depo medroksiprogesteron asetat (depoprovera) mengandung 150 g DMPA yang diberikan setiap 3 bulan dengan cara disuntik IM

(2) Depo noretisteron enantat (depo noristerat) yang mengandung 200 mg noritindron enantat, diberikan setiap 2 bulan dengan cara suntik IM

c) Cara kerja

(1) Menghambat kerja ovulasi

(2) Mengentalkan lendir serviks sehingga menurunkan kemampuan penetrasi sperma

(3) Menjadikan selaput lendir rahim tipis dan atrofi (4) Menghambat transportasi gamet oleh tuba d) Keuntungan

(1) Sangat efektif

(2) Pencegahan kehamilan jangka panjang

(3) Tidak berpengaruh terhadap hubungan suami istri (4) Tidak mengandung estrogen sehingga tidak berdampak

serius terhadap penyakit jantung dan gangguan pembekuan darah

(5) Tidak memiliki pengaruh terhadap ASI (6) Sedikit efek samping

(7) Klien tidak perlu menyimpan obat suntik

(8) Dapat digunakan oleh perempuan usia > 35 tahun sampai premenopause

141 e) Kerugian

(1) Siklus haid yang memendek atau memanjang (2) Perdarahan yang banyak atau sedikit

(3) Perdarahan tidak teratur atau perdarahan bercak (4) Tidak haid sama sekali

(5) Klien sangat bergantung pada tempat sarana pelayanan kesehtan (harus kembali untuk suntik)

(6) Tidak dapat dihentikan sewaktu-waktu sebelum suntikan berikut

(7) Tidak menjamin perlindungan terhadap penularan infeksi menular seksual, hepatitis B virus atau infeksi virus HIV (8) Terlambat kembalinya kesuburan setelah penghentian

pemakaian

(9) Pada penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan kekeringan pada vagina menurunkan libido, gangguan emosi, sakit kepala, jerawat.

f) Efek samping (1) Amenorhoe

(2) Perdarahan hebat atau tidak teratur

(3) Pertambahan atau kehilangan berat badan (perubahan nafsu makan)

g) Penanganan efek samping

(1) Bila tidak hamil, pengobatan apapun tidak perlu. Jelaskan bahwa darah haid tida terkumpul dalam rahim. Bila telah terjadi kehamilan, rujuk klien dan hentikan penyuntikan. Bila terjadi kehamilan ektopik, rujuk klien segara. Jangan beri terapi hormonal untuk menimbulkan perdarahan karena tidak akan berhasil. Tunggu 3-6 bulan kemudian, bila tidak terjadi perdarahan juga, rujuk ke klinik.

(2) Informasikan bahwa perdarahan ringan sering dijumpai, tetapi hal ini bukanlah masalah serius dan biasanya

142

tidak memerlukan pengobatan. Bila klien tidak dapat menerima perdarahan tersebut dan ingin melanjutkan suntikan, maka disarankan 2 pilihan pengobatan 1 siklus pil kontrasepsi kombinasi (30-35 mg etinilestradiol), ibuprofen (sampai 800 mg, 3 xhari untuk 5 hari) atau obat sejenis lain. Jeaskan bahwa selesai pemberian pil kontrasepsi kombinasi dapat terjadi perdarahan. Bila terjadi perdarahan banyak selama pemebrian suntikan, ditangani denga pemberian 2 tablet pil kontrasepsi kombinasi/hari selama 3-7 hari dilanjutkan dengan 1 siklus pil konrasepsi hormonal atau diberi 50 mg etilestradiol atau 1,25 mg estrogen equin konjugasi untuk 14-21 hari.

(3) Informasikan bahwa kenaikan/penurunan berat dan sebanyak 1-2 kg dapat saja terjadi. Perhatikanlah diet klien bila perubahan berat badan terlalu mencolok. Bila berat badan berlebihan, hentikan suntikan dan anjurkan metode kontrasepsi lain.

Dokumen terkait