Sasaran peningkatan ketahanan pangan tahun 2011, adalah:
a) terpeliharanya dan meningkatnya tingkat pencapaian swasembada bahan pangan pokok;
b) terbangunnya dan meningkatnya luas layanan infrastruktur sumberdaya air dan irigasi;
c) menurunnya jumlah dan persentase penduduk dan daerah yang rentan terhadap rawan pangan;
d) terjaganya stabilitas harga bahan pangan dalam negeri;
e) meningkatnya kualitas pola konsumsi pangan masyarakat dengan skor pola pangan harapan (PPH) menjadi sekitar 88,1;
f) meningkatnya PDB sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan dengan pertumbuhan sekitar 3,7 persen; serta
g) tercapainya indeks Nilai Tukar Petani (NTP) di atas 105 dan Nilai Tukar Nelayan menjadi 107.
Untuk mencapai sasaran tersebut maka arah kebijakan pembangunan ketahanan pangan pada tahun 2011 ditekankan pada: (1) persiapan dan pelaksanaan perluasan lahan pertanian, perikanan, dan kehutanan; (2) perbaikan dan pembangunan infrastruktur pertanian, perikanan, dan kehutanan; (3) penyediaan benih/bibit unggul dan dukungan terhadap pengembangan industri hilir pertanian dari kegiatan penelitian dan pengembangan; (4) pemantapan cadangan pangan pemerintah dan percepatan penganekaragaman konsumsi pangan masyarakat; (5) stabilisasi harga bahan pangan dalam negeri; serta (6) jaminan ketersediaan pupuk dan pengembangan pupuk organik melalui perbaikan mekanisme subsidi pupuk.
Dukungan pertanahan dan tataruang untuk ketahanan pangan dilaksanakan dengan mengembangkan Peraturan Perundang-undangan bidang Pertanahan dan Hubungan Masyarakat untuk mendukung pelaksanaan Undang-undang Perlindungan Lahan Pangan Berkelanjutan.
Prioritas 6: Infrastruktur
Sasaran pembangunan untuk tataruang adalah: (1) terselesaikannya Perda RTRW Provinsi dan Kab/Kota sebagai acuan pembangunan di daerah, yaitu sebanyak 14 Perda RTRW Provinsi, 287 Kabupaten, dan 66 Kota, dan KSN; serta (2) terbentuknya prosedur dan mekanisme integrasi RTRW dan rencana pembangunan melalui bantek dan bintek
penataan ruang. Dengan arah kebijakan: Pemantapan instrumen pelaksanaan penataan ruang untuk mendukung sinergi pembangunan pusat dan daerah.
Sedangkan sasran pembangunan pertanahan adalah: (1) terlaksananya pengaturan dan penataan, penguasaan dan pemilikan tanah, serta pemanfaatan dan penggunaan tanah secara optimal; dan (2) terlaksananya pengembangan peraturan perundang-undangan bidang pertanahan dan Hubungan Masyarakat. Dengan arah kebijakan: pengelolaan Pertanahan Propinsi serta pengembangan peraturan perundang-undangan bidang pertanahan dan hubungan masyarakat, melalui penyusunan neraca penatagunaan tanah di 100 kab/kota, inventarisasi P4T sebanyak 335.665 bidang dan penyusunan peraturan perundangan pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum.
Sasaran pembangunan jalan dan perhubungan tahun 2011 mencakup:
1. Dalam rangka pembangunan Lintas Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Papua akan diselesaikan jalan sepanjang 3.549 kilometer;
2. Dalam rangka pembangunan jaringan prasarana dan penyediaan sarana transportasi antar-moda dan antar-pulau yang terintegrasi sesuai dengan Sistem Transportasi Nasional dan Cetak Biru Transportasi Multimoda maka sasarannya adalah:
a. Meningkatnya kapasitas sarana dan prasarana transportasi untuk mengurangi backlog maupun bottleneck kapasitas prasarana transportasi dan sarana transportasi antarmoda dan antarpulau yang terintegrasi sesuai dengan sistem transportasi nasional dan cetak biru transportasi multimoda b. Terbangunnya sistem jaringan transportasi perkotaan dan perdesaan di wilayah terpencil, pedalaman, perbatasan dan pulau terdepan yang dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat yang juga didorong melalui pelayanan perintis, Public Service Obligation (PSO), dan DAK bidang transportasi perdesaan;
c. Meningkatnya aksesibilitas masyarakat terhadap pelayanan sarana dan prasarana transportasi.
d. Meningkatnya keselamatan masyarakat terhadap pelayanan sarana dan prasarana transportasi
3. Dalam rangka perbaikan sistem dan jaringan transportasi di 4 kota besar (Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Medan) maka sasaran tahun 2011 adalah:
a. penyelesaian detail engineering design untuk MRT Jakarta dan penilaian proyek monorail
b. penyelesaian Bandung Urban Transport Master Plan c. penyusunan Surabaya Urban Transport Master Plan
Arah kebijakan dalam rangka meningkatkan pelayanan sarana dan prasarana transportasi sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM) adalah meningkatkan keselamatan, keamanan dan kualitas pelayanan transportasi yang memadai dan merata guna mewujudkan sistem logistik nasional yang menjamin distribusi bahan pokok, bahan strategis dan nonstrategis untuk seluruh masyarakat. Prioritas penanganan dilakukan melalui : (1) rehabilitasi dan pemeliharaan sarana dan prasarana transportasi untuk menjamin keberlanjutan dan tingkat pelayanan transportasi kepada seluruh lapisan masyarakat; (2) penyediaan fasilitas keselamatan transportasi yang memenuhi standar keselamatan internasional, guna mendukung penurunan tingkat kecelakaan sebesar 50
persen dari kondisi saat ini, yangdidorong melalui pendanaan Dana Alokasi Khusus (DAK); (3) penyediaan pelayanan transportasi perintis di wilayah terpencil, pedalaman dan perbatasan dan public service obligation (PSO) untuk angkutan penumpang kelas ekonomi perkeretaapian dan angkutan laut; (4) meningkatkan profesionalisme SDM transportasi (petugas, operator dan pengguna), melalui pendidikan dan pelatihan, penelitian dan pengembangan, serta pembinaan teknis tentang pelayanan operasional transportasi; (5) pengembangan transportasi yang ramah lingkungan dalam rangka mitigasi dan adaptasi perubahan iklim; (6) penyediaan dan penambahan fasilitas dan peralatan pencarian dan penyelamatan (SAR) untuk meningkatkan kemampuan dan kecepatan tindak awal SAR dalam operasi penanganan kecelakaan transportasi dan bantuan SAR dalam penanggulangan bencana dan musibah lainnya.
Arah kebijakan dalam rangka mendukung peningkatan daya saing sektor riil diprioritaskan pada pembangunan infrastruktur transportasi yang mampu menciptakan keterhubungan antarwilayah (domestic connectivity) dan menjamin kelancaran distribusi barang di seluruh wilayah Indonesia. Prioritas penanganan dilakukan melalui: (1) pembangunan jalan lintas strategis nasional dan terintegrasi dalam suatu sistem transportasi nasional dan regional yang mampu menghubungkan wilayah-wilayah strategis dan kawasan cepat tumbuh, serta oulet-outlet (pelabuhan dan bandara) untuk meningkatkan perekonomian nasional; (2) pengembangan sarana dan prasarana transportasi yang mendukung pengembangan daerah pariwisata dan sentra-sentra produksi pertanian dan industri; (3) pengembangan sarana dan prasarana penghubung antar-pulau dan antarmoda yang terintegrasi sesuai dengan sistem transportasi nasional dan cetak biru transportasi multimoda; (4) pengembangan transportasi umum massal di wilayah perkotaan yang terjangkau dan efisien sesuai dengan cetak biru transportasi perkotaan; (5) memenuhi tuntuan kompatibilitas global yang menempatkan jaringan transportasi nasional sebagai subsistem dari jaringan global dan regional, sehingga standar sistem operasi, standar keselamatan, dan kualitas pelayanan dituntut memenuhi standar internasional; (6) mendorong efisiensi transportasi barang dan penumpang terutama dari aspek penegakan hukum, deregulasi pungutan dan retribusi di jalan, dan penataan jaringan dan ijin trayek.
Sasaran dan arah kebijakan pembangunan perumahan dan permukiman tahun 2011 adalah meningkatkan pelayanan sarana dan prasarana sesuai dengan standar pelayanan minimal (SPM) melalui penyediaan rumah susun sederhana sewa sebanyak 100 twinblok dan 7.041 unit, fasilitasi pembangunan prasarana, sarana, dan utilitas kawasan perumahan dan permukiman bagi 117.010 unit, fasilitasi dan stimulasi pembangunan baru perumahan swadaya sebanyak 50.000 unit, serta fasilitasi dan stimulasi peningkatan kualitas perumahan swadaya sebanyak 75.000 unit.
Meningkatnya kawasan yang dapat dilindungi dari bahaya banjir, lahar/sedimen, dan abrasi pantai dengan indikator sebagai berikut:
► Diselesaikannya bangunan pelengkap Banjir Kanal Timur yang terdiri atas bangunan akhir/jetty, jalan inspeksi, perkuatan tebing, normalisasi Kali Blencong, Inlet Cakung, Saluran Gendong, Utilitas (PGN Jaktim, PLN Jaktim, TPJ), Jembatan penyeberangan orang (BKT 226), Jembatan BKT 207, drain inlet, perkuatan bronjong, jalan oprit, pekerjaan galian dan timbunan hulu Kali Sunter, dan pemasangan Grass Block
► Diselesaikannya pembangunan 12 km, direhabilitasinya 153 km, beroperasi dan terpeliharanya 1.000 km sarana/prasarana pengendali banjir,
► Diselesaikannya pembangunan 40 km*), direhabilitasinya 10 km, beroperasi dan terpeliharanya 5 km sarana/prasarana pengaman pantai
► Diselesaikannya pembangunan 15 unit, direhabilitasinya 13 unit, beroperasi dan terpeliharanya 20 unit sarana/prasarana pengendali lahar/sedimen
Dalam rangka upaya penanganan DAS Bengawan Solo secara terpadu, maka sasaran pembangunan adalah sebagai berikut:
► Terlaksananya konservasi Kali Tirtomoyo & Kali Asin,
► Dimulainya pelaksanaan pembangunan Waduk Kendang (Blora), pembangunan Tanggul Kiri Bengawan Solo Rengel-Centini
► Dilaksanakannya pembangunan Waduk Bendo, Waduk Gondang, Waduk Kresek, Wasuk Kedung Bendo, Waduk Pidekso, penanganan sedimen Waduk Wonogiri, dan Konservasi DAS Keduang, rehabilitasi 7 waduk, operasi dan pemeliharaan infrastruktur Sumber Daya Air di Bengawan Solo, pembangunan kawasan retensi di 3 Sungai di Ponorogo, pembangunan 1 bendung gerak Sembayat, pembangunan tanggul kota Ngawi, pengaturan kawasan rawan banjir Bojonegoro, rehabilitasi pintu air Demangan, normalisasi 3 sungai, perbaikan dan pengaturan Kali Madiun, remaining works LSRIP-phase I, normalisasi Kali Lamong, dan perbaikan Sungai Bengawan Solo Hulu (Jurug – Sragen)
Untuk peningkatan kapasitas layanan prasarana air baku maka sasaran pembangunan adalah sebagai berikut:
► Meningkatnya kapasitas prasarana air baku sebesar 9 m3/det ► Diselesaikannya rehabilitasi prasarana air baku sebesar 2,6 m3/det
► Beroperasi dan terjaganya kapasitas prasarana air baku sebesar 9,3 m3/det
Dalam upaya mendukung tercapainya sasaran pembangunan prioritas nasional bidang infrastruktur, khususnya pengendalian banjir, lahar gunung berapi, dan pengamanan pantai, arah kebijakan pembangunan infrastruktur sumber daya air tahun 2011 diarahkan untuk:
Percepatan penyelesaian pembangunan sarana dan prasarana pengendali banjir, terutama pada daerah perkotaan dan pusat-pusat perekonomian melalui: 1) percepatan penyelesaian pembangunan bangunan pelengkap Kanal Banjir Timur untuk melindungi kawasan Jakarta dan sekitarnya dari bahaya banjir; 2) mempercepat pelaksanaan penanganan Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo secara terpadu sesuai dengan tahapan yang direncanakan; 3) memprioritaskan pelaksanaan rehabilitasi sarana dan prasarana pengendali banjir; 4) mengoptimalkan dan mengefektifkan pelaksanaan operasi dan pemeliharaan sarana dan prasarana pengendali banjir; 5) meningkatkan pembangunan sarana/prasarana pengamanan pantai dan optimalisasi fungsi sarana/prasarana pengamanan pantai yang telah ada; 6) merencanakan dan melaksanakan kegiatan- kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim guna mengoptimalkan upaya pengendalian banjir dan pengamanan pantai.
Untuk mendukung sasaran pembangunan komunikasi dan informatika pada RPJMN 2010-2014 yaitu memperkuat virtual domestic interconnectivity (Indonesia
connected), pembangunan tahun 2011 diarahkan untuk (1) melanjutkan upaya pengurangan blank spot di antaranya melalui program USO (Desa Berdering dan Pusat Layanan Internet Kecamatan); (2) memfasilitasi pembangunan infrastruktur komunikasi dan informatika yang modern melalui pembangunan jaringan backbone serat optik Palapa Ring, fasilitasi pengembangan jaringan broadband, dan pengembangan TV digital; serta (3) meningkatkan kualitas penyediaan dan pemanfaatan informasi, serta penggunaan TIK secara efektif di antaranya melalui e-government.
Arah kebijakan pembangunan komunikasi dan informatika tahun 2011 terkait dengan fokus Peningkatan Pelayanan Sarana dan Prasarana sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM) adalah (1) pemerataan penyediaan infrastruktur dan layanan komunikasi dan informatika ke wilayah perbatasan, perdesaan, terpencil, dan wilayah non komersial lain; dan (2) pemberdayaan informasi untuk menciptakan nilai tambah pada layanan untuk mendukung produktivitas masyarakat.
Arah kebijakan terkait dengan fokus Dukungan Sarana dan Prasarana bagi Peningkatan Daya Saing Sektor Riil adalah (1) restrukturisasi penyelenggaraan ke arah konvergensi; (2) optimalisasi sumber daya (resources) dalam pengembangan infrastruktur dan layanan komunikasi dan informatika; (3) pengembangan infrastruktur broadband termasuk ke perdesaan sebagai bentuk universal service; (4) penyelenggaraan sistem elektronik instansi pemerintah pusat dan daerah (e-government); (5) menjamin keterhubungan (interoperabilitas/interkoneksitas) sistem, jaringan, dan layanan; (6) mendorong inovasi di bidang TIK untuk mendorong berkembangnya industri penunjang TIK dalam negeri; (7) peningkatan kualitas sumber daya manusia TIK untuk meningkatkan e-literasi; (8) mendorong pemanfaatan TIK untuk bisnis (e-bisnis); dan (9) peningkatan koordinasi dengan para pemangku kepentingan untuk menjamin keberhasilan implementasi kebijakan dan peraturan terutama yang bersifat lintas sektor atau terkait dengan pemerintah daerah, serta untuk menciptakan sinergi kegiatan dengan menggunakan sumber daya secara efisien.