BAMBU KOMPOSIT SEBAGAI MATERIAL ALTERNATIF PENSUBSTITUSI
E. Keteguhan Tekan
Keteguhan tekan bambu komposit yang dibuat dengan variasi bahan penyusun, komposisi lapisan, jenis perekat yang digunakan dan waktu kempa yang diterapkan, berkisar 278–701 kg/cm2 (Tabel 1). Papan bambu lamina 3 lapis dari bambu andong maupun bambu mayan yang dibuat dengan variasi jenis perekat dan waktu pengempaan, memiliki keteguhan tekan setara dengan kayu kelas kuat II karena nilainya tidak kurang dari 425 kg/cm2, kecuali papan bambu lamina andong 3 lapis yang dibuat dengan perekat urea formaldehida dengan waktu kempa 3 jam memiliki keteguhan tekan setara dengan kayu kelas kuat I karena nilainya tidak kurang dari 650 kg/cm2. Keteguhan tekan papan bambu lamina susun tegak baik dari bambu andong maupun bambu mayan setara dengan kayu kelas kuat I kecuali papan dari bambu mayan yang bilahnya diputihkan setara dengan kayu kelas kuat II.
Keteguhan tekan balok bambu komposit (10 lapis) yang direkat dengan perekat isosianat dan waktu kempa 1 jam adalah 527 kg/cm2 (andong) dan 555 kg/cm2 (mayan). Dibandingkan dengan klasifikasi kelas kuat kayu Indonesia, maka balok bambu komposit tersebut setara dengan kayu kelas kuat II karena nilainya tidak kurang dari 425 kg/cm2. Keteguhan tekan balok bambu komposit dengan lapisan tengah kayu manii atau kayu jabon dan lapisan luar bambu andong atau bambu mayan, setara dengan kayu kelas kuat III karena nilainya tidak kurang dari 300 kg/cm2.
IV. PENUTUP
Produk bambu komposit berupa papan bambu lamina 3 lapis dan papan bambu lamina susun tegak baik dari bambu andong maupun bambu mayan, dengan kerapatan papan bambu lamina lebih rendah (0,70–0,80 g/cm3) dibandingkan dengan klasifikasi kelas kuat kayu Indonesia, pada umumnya memiliki keteguhan lentur setara dengan kayu kelas kuat I, sedangkan keteguhan tekannya setara dengan kayu kelas kuat II.
Produk bambu komposit berupa balok bambu lamina yang semua lapisannya dari bambu andong atau bambu mayan memiliki keteguhan lentur setara dengan kayu kelas kuat III dan keteguhan tekannya setara dengan kayu kelas kuat II. Sementara produk bambu komposit berupa balok bambu lamina dengan lapisan tengah jenis kayu cepat tumbuh memiliki keteguhan lentur dan keteguhan tekan setara dengan kayu kelas kuat III.
Sumber daya bambu yang cukup potensial di Indonesia khususnya bambu yang berdiameter besar dan dindingnya tebal perlu ditingkatkan pemanfaatannya agar dapat memberi sumbangan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Diversifikasi produk pengolahan bambu perlu ditingkatkan khususnya produk bambu yang dapat digunakan sebagai substitusi kayu pertukangan.
Pengembangan industri pengolahan bambu khususnya bambu komposit di Indonesia, jika dilakukan dengan sungguh- sungguh dapat mengurangi tekanan terhadap hutan alam sebagai sumber bahan baku kayu untuk industri pengolahan kayu. Kebijakan tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat karena mereka dapat ambil bagian dalam proses produksi serta memperoleh nilai tambah yang tinggi dari tanaman bambu yang mereka miliki atau mereka kelola. Pengembangan industri bambu lamina harus didukung oleh kebijakan pemerintah, tersedianya pasokan bambu secara berkesinambungan, sosialisasi budi daya bambu kepada masyarakat luas khususnya bambu yang berdiameter besar dan dindingnya tebal, alokasi lahan untuk tanaman bambu, mesin pengolahan bambu yang murah, dan kegiatan penelitian diarahkan untuk meningkatkan teknologi pembuatan bambu lamina.
Prosiding Ekspose Hasil Penelitian
Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan
73
Tema: “Teknologi Peningkatan Nilai Tambah Hasil Hutan”
DAFTAR PUSTAKA
FAO, INBAR. 2005. Global Forest Resources Assessment Update 2005. Indonesia. Country Report on Bamboo Resources. Forest Resources Assessment Programme Working Paper (Bamboo). Food and Agriculture Organization of the United Nation (FAO), Forestry Department and International Network for Bamboo and Rattan (INBAR), Jakarta, May, 2005.
Lee AWC, Liu Y. 2003. Selected physical properties of commercial bambu flooring. Forest Products Journal. 53(6): 23–26.
Maloney TM. 1977. Modern Particleboard & Dry-Process Fibreboard Manufacturing. California, USA: Miller Freeman Publication, San Francisco.
Mardikanto TR, L Karlinasari, ET Bahtiar. 2009. Sifat Mekanis Kayu. Bogor:. Fakultas Kehutanan IPB.
Nugroho N, N Ando. 2001. Development of structural composite products made from bambu II: fundamental properties of laminated bambu board. Journal of Wood Science. 47(3): 237–242.
Oey Djoen Seng. 1964. Berat Jenis dari Jenis-Jenis Kayu Indonesia dan Pengertian Beratnya Kayu untuk Keperluan Praktik. Pengumuman LPHH No 1. Bogor.
Sastrapraja S, EA Widjaja, S Prawiroatmodjo, S Soenarko. 1977. Beberapa Jenis Bambu. Bogor: Lembaga Biologi Nasional. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
Sulastiningsih IM, N Hdjib, A Santoso. 2005. Pengaruh lapisan kayu terhadap sifat bambu lamina. Jurnal Penelitian Hasil Hutan. 23(1): 15–22. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan. Bogor. Indonesia.
Sulastiningsih. 2008b. Beberapa Sifat Bambu Lamina yang terbuat dari tiga jenis bambu. Jurnal Penelitian Hasil Hutan. 26(3):277–287. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan, Bogor.
Sulastiningsih IM, N Hadjib. 2008. Beberapa sifat kayu lamina yang terbuat dari kayu manii dengan lapisan luar bambu andong. Prosiding Seminar
Nasional Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia (MAPEKI) XI tanggal 8-10 Agustus 2008 di Palangka Raya. Hlm. 532–537. Kerjasama Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia (MAPEKI) dengan Jurusan Teknologi Hasil Hutan Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya.
Sulastiningsih IM, Nurwati. 2009. Physical and mechanical properties of laminated bamboo board. Journal of Tropical Forest Science. 21(3): 246–251.
Sulastiningsih IM, A Santoso. 2010. Karakteristik jenis bambu sebagai bahan baku bambu komposit. Laporan Hasil Penelitian 2012. Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan. Bogor. Indonesia. Tidak terbit.
Sulastiningsih IM, A Santoso, Barly, MI Iskandar. 2012. Pengaruh kadar ekstender dan perlakuan pendahuluan bilah bambu terhadap sifat bambu lamina. Proceeding Simposium Nasional Rekayasa dan Budidaya Bambu I. 30 Januari 2012, Yogyakarta, Indonesia. Hlm. 53– 59. Kerjasama Jurusan Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada dengan Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada dan Persatuan Pecinta Bambu Indonesia (PERBINDO).
Sulastiningsih IM, A Santoso, M Iqbal. 2012. Pembuatan Produk Bambu Komposit. Laporan Hasil Penelitian 2012. Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan. Bogor. Indonesia. Tidak terbit.
Sulastiningsih IM, A Santoso. 2012. Pengaruh jenis bambu, waktu kempa dan perlakuan pendahuluan bilah bambu terhadap sifat papan bambu lamina. Jurnal Penelitian Hasil Hutan. 3(3):198–206. Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan. Bogor. Indonesia.
Widjaya EA. 2012. The Utilization of Bamboo: At present and for The Future. Proceedings of International Seminar Strategies and Challenges on Bamboo and Potential Non Timber Forest Products (NTFP) Management and Utilization. 23–24 November 2011, Bogor, Indonesia 79–85. Center for Forest Productivity Improvement Research and Development. Bogor. Indonesia.