Kuadran I antara lain sektor industri pengolahan, sektor perdagangan besar dan eceran, Sektor Informasi dan Komunikasi, Sektor
2.3 Aspek Pelayanan Umum
2.3.1 Urusan Pemerintah Wajib Pelayanan Dasar .1 Pendidikan
2.3.1.5 Ketenteraman, Ketertiban Umum dan Perlindungan Masyarakat
Penyelenggaraan urusan ketenteraman, ketertiban umum dan perlindungan masyarakat merupakan sebuah harapan yang diinginkan dari setiap pemerintah daerah, keadaan masyarakat yang tenteram, kondusif sesuai dengan pengertian dari tantribum itu sendiri. Terdapat beberapa indikator yang digunakan sebagai tolak ukur keberhasilan pemerintah
Pemerintah Kabupaten Lamongan pada ketenteraman, ketertiban umum dan perlindungan masyarakat:
2.3.1.5.1 Konflik Sosial
Konflik sosial merupakan suatu hal yang dapat terjadi sewaktu-waktu dan tidak dapat diprediksi, akan tetapi dapat dilakukan pencegahan dan penanganan untuk menghindarinya. Begitu halnya dengan konflik sosial yang terjadi di Kabupaten Lamongan. Badan Kesatuan Bangsa dan Politik melakukan penanganan konflik sosial dengan cara deteksi dini dan pendalaman terhadap latar belakang serta para pihak yang terlibat dalam konflik yang terjadi. Tindakan selanjutnya yakni melakukan mediasi.
Melalui dua tindakan tersebut selama 5 (lima) tahun berturut-turut Pemerintah Kabupaten Lamongan berhasil melakukan penanganan konflik sosial yang terjadi dalam ruang lingkup wilayahnya dalam persentase capaian sebesar 100%. Berikut perkembangan jumlah konflik sosial di Kabupaten Lamongan selama periode tahun 2016-2020:
Gambar II.36 Jumlah Konflik Sosial Tahun 2016-2020
Sumber: Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Lamongan, 2020
2.3.1.5.2 Penegakan Pelanggaran Perda
Penegakan pelanggaran Perda dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Lamongan dengan capaiannya selama periode tahun 2016-2020 adalah sebagai berikut:
Gambar II.37 Jumlah Penegakan Pelanggaran Perda Tahun 2016-2020 Sumber: Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Lamongan, 2020
2016 2017 2018 2019 2020
11
12
15 15
12
2016 2017 2018 2019 2020
342 312
282
252
43
Berdasarkan grafik di atas dapat menunjukkan bahwa jumlah pelanggaran Perda yang dilakukan masyarakat selama periode tahun 2016-2020 mengalami penurunan secara signifikan. Jika di tahun 2016 terjadi sebanyak 342 pelanggaran Perda, pada tahun 2020 hanya 43 pelanggaran Perda. Selama 5 (lima) tahun berturut-turut Kabupaten Lamongan berhasil melakukan penegakan pelanggaran Perda yang ditangani dalam ruang lingkup wilayahnya dalam persentase capaian sebesar 100%. Pada tahun 2020 walaupun masa pandemi Covid-19, Satuan Polisi Pamong Praja tetap menjalankan tugas patroli penegakan Perda di wilayah Kabupaten Lamongan bersama dengan Tim Satgas Covid-19 Kabupaten Lamongan.
2.3.1.5.3 Gangguan Trantibum
Selama periode tahun 2016-2020 jumlah gangguan trantibum yang terjadi di Kabupaten Lamongan dalam kondisi yang fluktuatif seperti pada grafik berikut:
Gambar II.38 Jumlah Gangguan Trantibum Kabupaten Lamongan Tahun 2016-2020
Sumber: Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Lamongan, 2020
Pada tahun 2016 terdapat sebanyak 185 gangguan trantibum, kemudian menurun menjadi 47 gangguan trantibum pada tahun 2020.
Selama 5 (lima) tahun berturut-turut Kabupaten Lamongan berhasil melakukan penanganan terhadap gangguan trantibum dalam ruang lingkup wilayahnya dengan persentase capaian sebesar 100%.
2.3.1.5.4 Desa Tangguh Bencana
Desa tangguh bencana merupakan representasi kinerja pemerintah Kabupaten Lamongan dalam rangka mitigasi bencana. Selama periode tahun 2016-2020, jumlah desa tangguh bencana yang ada di Kabupaten Lamongan mengalami kenaikan yang signifikan seperti pada tabel berikut:
Tabel II.35 Jumlah dan Persentase Desa Tangguh Bencana Tahun 2016-2020
Capaian Tahun Jumlah Desa Tangguh Bencana
Persentase Desa Tangguh Bencana
2016 4 7,04%
2017 16 23,94%
2018 28 40,85%
2016 2017 2018 2019 2020
185
160
145
220
47
Persentase desa tangguh bencana di Kabupaten Lamongan dihitung berdasarkan pada jumlah desa tangguh bencana yang terbentuk di tahun terkait, kemudian dibagi dengan jumlah target desa tangguh bencana di Kabupaten Lamongan, yaitu sebanyak 71 desa tangguh bencana selama 5 tahun. Tahun 2016 terdapat 4 desa tangguh bencana atau sebesar 7,04%, kemudian bertambah menjadi menjadi 54 desa tangguh bencana dengan persentase sebesar 76,05% pada tahun 2020. Penambahan desa tangguh bencana setiap tahunnya karena adanya sinergitas antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah dalam rangka pembentukan desa tangguh bencana. Wilayah Kabupaten Lamongan yang memiliki desa tangguh bencana yakni Kecamatan Babat, Sekaran, Maduran, Kalitengah, Turi, Karangbinangun, Glagah, Karanggeneng dan Laren yang disesuaikan dengan peta kerawanan bencana.
2.3.1.5.5 Warga Negara yang Memperoleh Layanan Pencegahan dan Kesiapsiagaan Terhadap Bencana
Layanan pencegahan dan kesiapsiagaan bencana menjadi salah satu bentuk layanan yang perlu didapatkan oleh masyarakat terutama yang berada di daerah rawan bencana. Layanan ini dapat menjadi informasi penting untuk masyarakat agar selalu waspada jika sewaktu-waktu terjadi bencana di daerahnya. Pemerintah Kabupaten Lamongan memberikan pelayanan pencegahan dan kesiapsiagaan terhadap bencana untuk para masyarakatnya dalam setiap tahun. Berikut gambaran jumlah warga negara yang memperoleh layanan pencegahan dan kesiapsiagaan terhadap bencana di Kabupaten Lamongan selama periode tahun 2016-2020:
Gambar II.39 Jumlah Warga Negara yang Memperoleh Layanan Pencegahan dan Kesiapsiagaan terhadap Bencana Kabupaten Lamongan
Tahun 2016-2020
Sumber: Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Lamongan, 2020
Grafik di atas menunjukkan jika jumlah warga negara yang memperoleh layanan pencegahan dan kesiapsiagaan terhadap bencana di Kabupaten Lamongan selama periode tahun 2016-2020 mengalami kenaikan signifikan setiap tahunnya dan menyesuaikan dengan jumlah penduduk di Kabupaten Lamongan. Capaian persentase jumlah warga negara yang memperoleh layanan pencegahan dan kesiapsiagaan terhadap
1.149.710 1.153.803 1.157.500 1.160.677
1.280.512
2016 2017 2018 2019 2020
bencana di Kabupaten Lamongan mulai tahun 2016 hingga tahun 2020 berturut-turut dalam angka 100%.
2.3.1.5.7 Warga Negara yang Memperoleh Layanan Penyelamatan dan Evakuasi Korban Bencana
Bencana merupakan kejadian atau peristiwa yang dapat terjadi sewaktu-waktu dan tidak terduga. Hal ini yang membuat timbulnya korban jiwa maupun harta benda setelah terjadinya bencana. Pemerintah daerah Kabupaten Lamongan selama ini telah memberikan pelayanan penyelamatan dan evakuasi korban pada saat pra, kejadian dan pasca bencana. Selama periode tahun 2016-2020 banyaknya warga negara yang memperoleh layanan penyelamatan dan evakuasi korban bencana di Kabupaten Lamongan dapat dilihat pada grafik di bawah ini:
Gambar II.40 Jumlah Warga Negara yang Memperoleh Layanan Penyelamatan dan Evakuasi Korban Bencana Tahun 2016-2020 Sumber: Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Lamongan, 2020
Berdasarkan gambar grafik di atas dapat diketahui jika banyaknya warga negara yang memperoleh layanan penyelamatan dan evakuasi korban bencana Kabupaten Lamongan selama periode tahun 2016-2020 dalam kondisi fluktuatif. Secara persentase jumlah warga negara yang memperoleh layanan penyelamatan dan evakuasi korban bencana Kabupaten Lamongan selama 5 (lima) tahun berturut-turut yakni 100%.
2.3.1.5.8 Capaian Indikator Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Ketenteraman, Ketertiban Umum dan Perlindungan Masyarakat
Urusan Ketenteraman, Ketertiban Umum dan Perlindungan Masyarakat merupakan urusan wajib dasar yang harus dilaksanakan oleh pemerintah daerah sebagaimana yang telah diamanatkan di dalam Undang-Undang No 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Salah satu aspek yang dijadikan indikator kinerja penyelenggaraan urusan wajib dasar oleh pemerintah daerah yakni capaian pelaksanaan SPM. Adapun capaian indikator SPM urusan Ketenteraman, Ketertiban Umum dan Perlindungan
170
50
95 100 114
2016 2017 2018 2019 2020
Tabel II.36 Capaian Standar Pelayanan Minimal Bidang Ketenteraman, Ketertiban Umum dan Perlindungan Masyarakat Tahun 2020
No. Indikator 2020
Target Capaian
1. Persentase penanganan kebakaran di Kabupaten
Lamongan 100% 100%
2. Jumlah dan jenis layanan penyelamatan dan evakuasi pada kondisi membahayakan manusia
(operasi darurat non kebakaran) 50 kasus 14 kasus
3. Jumlah dan kualitas barang/jasa 10 kasus 10 kasus
4. Jumlah dan kualitas personil/sumber daya manusia 220 anggota 224 anggota 5. Jumlah dan kualitas personil sumber daya manusia 66 anggota 66 anggota 6. Jumlah dan kualitas personil/sumber daya manusia 268 anggota 268 anggota
7. Persentase warga negara yang memperoleh layanan
informasi rawan bencana 100% 100%
8. Persentase pelayanan pencegahan dan kesiapsiagaan
terhadap bencana 100% 100%
9. Persentase masyarakat yang memperoleh pelayanan
pencegahan dan kesiapsiagaan terhadap bencana 100% 100%
Sumber: Badan Kesatuan Bangsa dan Politik, Satuan Polisi Pamong Praja dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Lamongan, 2020
Berdasarkan data di atas, menunjukkan bahwa capaian dari indikator SPM pada urusan Ketenteraman, Ketertiban Umum dan Perlindungan Masyarakat mayoritas telah mencapai target yang telah ditetapkan. Bahkan terdapat indikator yang telah melebihi target. Akan tetapi masih terdapat beberapa indikator yang belum memenuhi target yakni indikator jumlah dan jenis layanan penyelamatan dan evakuasi pada kondisi membahayakan manusia (operasi darurat non kebakaran). Oleh karena itu perlu komitmen pemerintah daerah dan dukungan semua stakeholder agar pada tahun yang akan datang semua indikator SPM di atas bisa memenuhi target yang telah ditetapkan.
2.3.1.5.9 Capaian Sustainable Development Goals (SDG’s) Bidang Ketenteraman, Ketertiban Umum dan Perlindungan Masyarakat
Capaian indikator SDG’s pada urusan Ketenteraman, Ketertiban Umum dan Perlindungan Masyarakat di Kabupaten Lamongan tahun 2016-2020 dapat diilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel II.37 Capaian Indikator SDG’s Bidang Ketenteraman, Ketertiban Umum dan Perlindungan Masyarakat Tahun 2016-2020
Indikator Capaian
2016 2017 2018 2019 2020
Indeks risiko bencana pada pusat-pusat pertumbuhan yang berisiko
tinggi n/a 167,36 139,55 125,33 n/a
Indikator Capaian
2016 2017 2018 2019 2020
Jumlah kerugian ekonomi langsung
akibat bencana 13.834.078
.000 2.225.164.
758 89.414.517
.213 44.426.464
.050 n/a
Dokumen strategi pengurangan risiko bencana (PRB) tingkat
nasional dan daerah Ada Ada Ada Ada Ada
Dokumen strategi pengurangan
risiko bencana (PRB) tingkat daerah n/a 12
dokumen 12
dokumen 15
dokumen 10 dokumen Indeks Risiko Bencana Indonesia
(IRBI) n/a 6,64% 27,81% 14,22% n/a
Jumlah sistem peringatan dini cuaca dan iklim serta kebencanaan
n/a n/a 1 buah 2 buah 2 buah
Jumlah korban meninggal, hilang dan terkena dampak bencana per
100.000 orang n/a n/a n/a 2528,56 n/a
Jumlah kasus kejahatan pembunuhan pada 1 tahun
terakhir n/a 5 kasus n/a n/a n/a
Kematian disebabkan konflik per
100.000 penduduk - - - - -
Proporsi penduduk yang menjadi korban kejahatan kekerasan dalam
12 bulan terakhir n/a 158 kasus n/a n/a n/a
Proporsi penduduk yang merasa aman berjalan sendirian di area
tempat tinggalnya - - - - -
Sumber: KLHS RPJMD Kabupaten Lamongan, 2020
Berdasarkan data di atas, menunjukkan bahwa masih terdapat beberapa indikator yang perlu perhatian dari pemerintah daerah pada tahun yang akan datang karena belum mencapai target nasional, yakni indikator Dokumen strategi pengurangan risiko bencana (PRB) tingkat nasional dan daerah, Dokumen strategi pengurangan risiko bencana (PRB) tingkat daerah, dan Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) merupakan indikator yang sudah memenuhi target. Selanjutnya untuk indikator Indeks risiko bencana pada pusat-pusat pertumbuhan yang berisiko tinggi, Jumlah kerugian ekonomi langsung akibat bencana, Jumlah sistem peringatan dini cuaca dan iklim serta kebencanaan, Jumlah korban meninggal, hilang dan terkena dampak bencana per 100.000 orang, Jumlah kasus kejahatan pembunuhan pada 1 tahun terakhir, dan Proporsi penduduk yang menjadi korban kejahatan kekerasan dalam 12 bulan terakhir termasuk pada
2.3.1.6 Sosial
Terdapat 2 indikator sebagai tolak ukur keberhasilan pemerintah daerah Kabupaten Lamongan pada aspek sosial. Berikut tabel yang menunjukkan kinerja Kabupaten Lamongan pada dua indikator tersebut:
Tabel II.38 Kinerja Pemerintah Kabupaten Lamongan pada Aspek Sosial Tahun 2016-2020
No
Aspek/Fokus/Bidang Urusan/Indikator
Kinerja
Realisasi
2016 2017 2018 2019 2020
1
Jumlah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS)
146.177 142.500 138.799 134.295 129.419
2
Presentase PMKS yang mendapat bantuan sosial
2.37 2.52 2.60 3.24 3.63
Sumber: Dinas Sosial Kabupaten Lamongan, 2020
Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) merupakan masalah yang menghambat seseorang untuk melaksanakan fungsi sosial, sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup secara wajar. Hambatan tersebut dapat berupa kemiskinan, ketelantaran, kecacatan, ketunaan sosial, keterbelakangan, keterasingan dan perubahan lingkungan seperti terjadinya bencana dan lain sebagainya. Jumlah PMKS di Kabupaten Lamongan pada tahun 2016-2020 mengalamai penurunan. Pada tahun 2016 ada 146.177 jiwa yang mengalami masalah kesejahteraan sosial kemudian pada tahun 2020 menurun menjadi 129.419 jiwa. Terjadinya penurunan jumlah PMKS yang tajam pada tahun 2020 dikarenakan pada masa Pandemi Covid-19 pemerintah Kabupaten Lamongan memperluas sasaran dan jumlah penerima bantuan sosial. Dengan adanya penurunan secara jumlah PMKS pada setiap tahunnya menunjukkan bahwa kinerja pemerintah Kabupaten Lamongan dalam penanganan PMKS sudah efektif dan harus dioptimalkan lagi pada tahun kedepannya supaya tren penurunan jumlah PMKS terus terjadi.
Jika dilihat dari Persentase PMKS yang memperoleh bantuan sosial atau meningkat kapasitasnya pertumbuhan persentasenya mengalami kecenderungan peningkatan. Pada tahun 2016 presentase PMKS yang memperoleh bantuan sosial sebesar 2,37% mengalami peningkatan pada tahun 2020 menjadi 3,63%. Upaya yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Lamongan dalam penanganan PMKS agar meningkat kapasitasnya yakni memberikan bantuan Kube Fakmis dan Kube Paca untuk penyandang disabilitas. Pemerintah daerah harus meneruskan tren positif ini ditahun selanjutnya supaya kenaikan presentase PMKS yang memperoleh bantuan terus meningkat.
2.3.1.6.3 Capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Sosial
Urusan Sosial merupakan urusan wajib dasar yang harus dilaksanakan oleh pemerintah daerah sebagaimana yang telah diamanatkan
di dalam Undang-Undang No 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.
Salah satu aspek yang dijadikan indikator kinerja penyelenggaraan urusan wajib dasar oleh pemerintah daerah yakni capaian pelaksanaan SPM.
Adapun capaian indikator SPM urusan Sosial di Kabupaten Lamongan adalah sebagai berikut:
Tabel II.39 Capaian SPM Urusan Sosial di Kabupaten Lamongan Tahun 2020
No Sasaran Indikator Spm Bidang Sosial 2020 Target Capaian 1. Persentase (%) Penyandang Disabilitas Terlantar
yang Terpenuhi Kebutuhan Dasarnya di Luar Panti 100 100 2. Persentase (%) Anak Terlantar yang Terpenuhi
Kebutuhan Dasarnya di Luar Panti 100 100 3 Persentase (%) Lanjut Usia Terlantar yang
Terpenuhi Kebutuhan Dasarnya di Luar Panti 100 100 4 Persentase (%) Gelandangan Pengemis yang
Terpenuhi Kebutuhan Dasarnya di Luar Panti 100 100
5
Persentase (%) Korban Bencana Alam dan Sosial yang Terpenuhi Kebutuhan Dasarnya Pada Saat dan Setelah Tanggap Darurat Bencana daerah kabupaten
100 100
Sumber : Dinas Sosial Kabupaten Lamongan, 2020
Berdasarkan data di atas pemerintah Kabupaten Lamongan telah berhasil mencapai target pada semua indikator Standar Pelayanan Minimum (SPM) di bidang sosial yakni 100%. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah sangat konsen dan maksimal dalam menjalankan SPM pada bidang sosial dan dampaknya tentu telah dirasakan dengan baik oleh masyarakat.
2.3.1.6.4 Capaian Sustainable Development Goals (SDG’s) Bidang Sosial
Capaian indikator SDG’s pada urusan Sosial di Kabupaten Lamongan tahun 2016-2020 dapat diilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel II.40 Capaian Indikator SDG’s Bidang Sosial Kabupaten Lamongan Tahun 2016-2020
No Indikator Capaian
2016 2017 2018 2019 2020
1
Persentase penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan nasional, menurut jenis kelamin dan kelompok umur.
9,97% 9,88% 9,80% 9,72% 8,94%
2
Persentase penyandang disabilitas yang miskin dan rentan yang terpenuhi hak dasarnya dan inklusivitas.
0,97% 7,46% 11,51% 10,98% 10.48%
No Indikator Capaian
2016 2017 2018 2019 2020 nasional, menurut jenis kelamin
dan kelompok
4
Proporsi penduduk yang hidup di bawah 50 persen dari median pendapatan, menurut jenis kelamin dan penyandang difabilitas.
n/a n/a n/a n/a n/a
Sumber : KLHS RPJMD Kabupaten Lamongan, 2020
Berdasarkan data di atas secara umum kinerja pemerintah kabupaten Lamongan sudah cukup bagus, walaupun jika dilihat realisasi masing-masing indikator setia tahunnya masih fluktuasi. Pemerintah perlu meningkatkan kembali capaian pada beberapa indikator agar bisa mencapai target pembangunan berkelanjutan yang telah ditetapkan secara nasional.