• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ketentuan Divestasi Saham dalam Kontrak Karya

BAB IV KEWAJIBAN DIVESTASI PADA PENANAMAN MODAL

B. Ketentuan Divestasi Saham dalam Kontrak Karya

1) Prinsip prinsip Perjanjian Kontrak Karya Dalam Bidang Pertambangan Umum

Suatu perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seorang berjanji untuk melaksanakan suatu hal.104

104 Subekti, Hukum Perjanjian, cetakan XX, (Jakarta : PT Intermasa, 2004)hal 1

Akibat peristiwa suatu hubungan antara dua orang yang mengadakan perjanjian timbulah suatu perikatan. Perjanjian itu menerbitkan

suatu perikatan antara dua orang yang membuatnya. Dalam bentuknya perjanjian merupakan suatu rangkaian perkataan yang mengandung janji-janji suatu kesanggupan yang diucapkan atau ditulis. Hubungan antara perikatan dan perjanjian adalah bahwa perjanjian itu menimbulkan perikatan. Kontrak adalah perjanjian atau persetujuan tertulis.

Perjanjian merupakan sumber terpenting yang menerbitkan perikatan. Selain perjanjian, ada juga sumber lain yang melahirkan perikatan yaitu undang-undang. Perikatan yang lahir dari perjanjian memang dikehendaki oleh kedua belah pihak yang membuat suatu perjanjian, sedangkan perikatan yang lahir dari undang-undang diadakan oleh undang-undang itu di luar kemauan para pihak yang berssangkutan. Perjanjian yang dibuat oleh para pihak dimaksudkan agar diantara merekarkait suatu perikatan hukum dan mereka terikat satu sama lain karena janji yang mereka berikan.105

Kontrak adalah keseluruhan dari kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan hukum antara dua pihak atau lebih berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum.

Pengertian perjanjian berdasarkan ketentuan Pasal 1313 KUHperdata, adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkian dirinya terhadap satu orang atau lebih. Sedangkan menurut Prof. Subekti adalah suatu peristiwa dimana seorang berjanji kepada orang lain atau di mana dua orang itu saling berjanji untuk melakukan suatu hal.

106

105

Ibid

106

Ibid

dituangkan dalam tulisan atau perjanjian tertulis. Dari definisi diatas, dapat dikemukakan unsur-unsur yang terdapat dalam hukum kontrak, yaitu:107

Prestasi asalah apa yang menjadi hak dan kewajiban para pihak. Prestasi terdiri dari memberikan sesuatu,berbuat sesuatu,dan tidak berbuat sesuatu

a. Adanya kaidah hukum

Kaidah hukum kontrak dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu:

1. kaidah hukum kontrak tertulis, adalah kaidah-kaidah hukum yang terdapat di dalam peraturan perundang-undangan, traktat, dan yurisprudensi.

2. kaidah hukum kontrak tidak tertulis, adalah kaidah-kaidah yang dibuat oleh para pihak sejauh tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. b. Subyek hukum

Subyek hukum adalah pendukung hak dan kewajiban c. Adanya prestasi

108

Sistem pengaturan hukum kontrak adalah sistem terbuka, artinya bahwa setiap orang bebas untuk mengadakan perjanjian, baik yang sudah diatur dalam undang-undang maupun yang belum diatur dalam undang-undang. Hal ini dapat d. Kata Sepakat

Kata sepakat merupakan salah satu syarat sahnya perjanjian. Kesepakatan adalah persesuaian penyertaan kehendak antara para pihak.

e. Akibat hukum

Setiap perjanjian yang dibuat oleh para pihak akan menimbulkan akibat hukum. Akibat hukum adalah timbulnya hak dan kewajiban para pihak.

107

Ibid

disimpulkan dari ketentuan yang didapat dalam Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata, semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.

Ketentuan Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata memberikan kebebasan kepada para pihak untuk:

a. Membuat atau tidak membuat perjanjian; b. Mengadakan perjanjian dengan siapapun;

c. Menentukan isi perjanjian pelaksanaan, dan persyaratannya; d. Menentukan bentuknya perjanjian.

Didalam hukum kontrak dikenal lima asas penting. Asas-asas tersebut adalah: a. Asas kebebasan berkontrak

Asas kebebasan berkontrak adalah suatub asas yang mmeberikan kebebasan kepada para pihak untuk membuat atau tidak membuat suatu perjanjian, mengadakan perjanjian dengan siapapun, menentukan isi perjanjian, pelaksanaan dan persyaratannya, dan menentukan bentuknya perjanjian. Dalam Pasal 1338 KUHPerdata ayat (1) dikatakan bahwa semua perjanjian, berarti perjanjian apa saja, baik itu perjanjian yang telah ada dan diatur dalam KUHPerdata maupun perjanjian yang baru muncul dengan suatu nama yang mungkin belum diatur dalam undang atau tidak dikenal oleh Undang-undang. Asas kebebasan berkontrak merupakan asas yang paling penting dalm hukum perjanjian.

b. Asas Konsesualisme

Asas Konsesualisme dpat disimpulkan dalam Pasal 1320 ayat (1) KUHperdata. Dalam pasal ini ditentukan bahwa salah satu syarat sahnya perjanjian yaitu adanya kesepakatan kedua belah pihak. Suatu perjanjian itu sudah sah apabila sudah sepakat mengenai hal-hal pokok dan tidaklah diperlukan suatu formalitas. Perjanjian sudah mengikat apabila sudah tercapai kesepakatan mengenai hal-hal pokok dari perjanjian tersebut.

c. Asas pacta sunt servanda

Asas pacta sunt servanda dapat disimpulkan dalam Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata. Asas ini disebut juga asas kepastian hukum yang berhubungan dengan akibat perjanjian. Asas ini merupakan asas bahwa hakim atau pihak ketiga harus menghormati substansi kontrak yang dibuat oleh para pihak.

d. Asas itikad baik

Asas itikad baik dapat disimpulakan dalam Pasal 1338 ayat (3) KUHPerdata, “suatu perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik”. Asas itikad baik merupakan asas bahwa para pihak harus melaksanakan isi kontrak berdasarkan kepercayaan atau keyakinan yang teguh atau berkemauan baik dari para pihak. Asas itikad baik dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

1. Itikad baik nisbi, orang memperhatikan sikap dan tingkah laku yang nyata dari subyek;

2. Itikad baik mutlak, perilakunya terletak pada akal sehat dan keadilan, dibuat ukuran yang obyektif untuk menilai keadaan (penilaian tidak memihak) menurut norma-norma yang obyektif.

e. Asas kepribadian atau asas personalitas

Asas kepribadian merupakan asas yang menetukan bahwa seseorang yang akan melakukan dan atau membuat kontrak hanya untuk kepentingan perseorangan saja. Hal ini dapat dilihat dalam Pasal 1315 dan 1340 KUHPerdata. Pasal 1315 KUHperdata, pada umumnya tak seorang dapat mengikat diri atas nama sendiri atau meminta ditetapkannya suatu janji dari pada untuk dirinya sendiri. Sedangkan PPasal 1340 KUHPerdata menyatakan Suatu perjanjian yang hanya berlaku antara pihak-pihak yang membuatnya. Bunyi dari Pasal 1340 KUHPerdata tersebut diartikan bahwa perjanjian yang dibuat oleh para pihak hanya berlaku bagi mereka yang membuatnya.

Asas-asas inilah yang menjadi dasar dari pijakan para pihak dalam menentukan dan membuat kontrak. Salah satu dari asas-asas ini merupakan asas yang menentukan saat dan tempat lahirnya perjanjian. Menurut asas konsesualisme, suatu perjanjian lahir pada detik tercapainya kesepakatan atau persetujuan antara kedua belah pihak mengenai obyek yang diperjanjikan. Menurut ajaran yang lazim dianut sekarang, perjanjian harus dianggap lahir pada saat pihak ynag melakukan penawaran menerima surat jawaban dari penerima tawaran, sebab detik itulah yang dianggap sebagai detik lahirnya kesepakatan. Sedangkan tempat lahirnya perjanjian adalah tempat tinggal pihak yang mengadakan penawaran, juga sebagai tempat ditutupnya perjanjian. Tempat inipun penting untuk menetapkan hukum manakah yang akan berlaku apabila

kedua belah pihak berada di tempat yangberlainan di dalam negeri ataupun negara yang berlainan adapt kebiasaannya.109

Syarat sahnya kontrak dapat dikaji berdasarkan hukum kontrak menurut Pasal 1320 KUHPerdata,110

Kecapan bertindak adalah kecakapan atas kemampuan untuk melakukan perbuatan hukum. Perbuatan hukum adalah perbuatan yang akan menimbulkan

menyatakan untuk sahnya perjanjian diperlukan empat syarat, yaitu:

a. Kesepakatan mereka yang mengikatkan diri (agreement/consensus)

syarat yang pertama sahnya kontrak adalah adanya kesepakatan para pihak. Kesepakatan itu diatur pada Pasal 1320 ayat (1) KUHPerdata. Kesepakatan adalah persesuaian pernyataan kehendak, yaitu dengan:

1. Bahasa yang sempurna dan tertulis 2. Bahasa yang sempurna secaraa lisan

3. Bahasa yang tidak sempurna asal dapat diterima oleh pihak. 4. Bahasa isyarat asal dapat diterima oleh pihak lawan.

5. Diam atau membisu, tetapi asal dipahami aatau diterima oleh pihak lawan. Cara yang paling banyak dilakukan oleh para pihak adalah dengan bahasa yang sempurna secara lisan dan secara tertulis.

Tujuan pembuatan perjanjian secara tertulis agar memberikan kepastian hukum bagi para pihak dan sebagai alat bukti yang sempurna jika terjadi sengketa di kemudian hari.

b. Kecapakan ( capacity )

109

Subekti, op cit, hal 28. 110

akaibat hukum. Orang-orang yang akan mengadakan perjanjian haruslah orang-orang yang cakap dan mempunyai wewenang untuk melakukan perbuatan hukum, yakni orang dewasa. Ukuran kedewasaan adalah telah berumur 21 tahun dan atau sudah kawin. Orang-orang yang tidak berwenang untuk melakukan perbuatan hukum berdasarkan pasal 1330 KUHPerdata adalah:

1. Orang yang belum dewasa;

2. Orang yang ditaruh dibawah pengampuan; 3. Istri

c. Hal tertentu ( certainty of terms )/ Objek yang diperjanjikan

Yang menjadi objek perjanjian adalah prestasi (pokok perjanjian). Prestasi berdasarkan Pasal 1234 KUHPerdata terdiri atas:

1. Memberikan sesuatu 2. Berbuat sesuatu 3. Tidak berbuat sesuatu

Prestasi itu harus ditentukan, dibolehkan, dimungkinkan, dan dapat dinilai dengan uang. Dapat ditentukan artinya di dalam mengadakan perjanjian, isi perjanjian harus dipastikan dalam arti dapat ditentukan secara cukup.

d. Sebab yang halal ( consideration )

Dalam Pasal 1320 KUHPerdata tidak dijelaskan pengertian kausa yang halal. Di dalam Pasal 1337 KUHPerdata hanya disebutkan kuasa yang terlarang. Suatu sebab adalah terlarang apabila bertentangan dengan undang-undang, kesusilaan, dan ketertiban umum.

Keempat syarat ini merupakan syarat pokok bagi setiap perjanjian. Artinya, setiap perjanjian harus memenuhi keempat syarat ini bila ingin menjadi perjanjian yang sah.

Syarat yang pertama dan kedua disebut syarat subyektif, karena menyangkut pihak-pihak yang mengadakan perjanjian. Apabila syarat yang pertama dan kedua tidak terpenuhi maka perjanjian itu dapat dibatalkan. Artinya, bahwa salah satu pihak dapat mengajukan ke pengadilan untuk membatalkan perjanjian yang disepakatinya. Tetapi apabila para pihak tidak ada yang keberatan maka perjanjian itu tetap dianggap sah. Sedangkan syarat ketiga dan keempat disebut syarat objektif, karena menyangkut objek perjanjian. Apabila syarat ketiga dan keempat tidak terpenuhi maka perjanjian itu batal demi hukum. Artinya, bahwa dari semula perjanjian dianggap tidak ada.

Syarat sahnya kontrak harus dipenuhi agar kontrak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Fungsi kontrak dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

a. Fungsi yuridis

Fungsi yuridis suatu kontrak adalah dapat memberikan kepastian hukum bagi para pihak;

b. Fungsi ekonomiss

Fungsi ekonomis suatu kontrak adalah menggerakkan sumber daya dari nilai penggunaan yang lebih rendah menjadi nilai yang lebih tinggi.

Syarat-syarat di atas merupakan syarat umum bagi terjadinya sebuah kontrak. Di dalam pertambangan umum kontrak yang digunakan bagi perjanjian

kerja sama pihak asing dengan pemrintah adalah kontrak karya. Di dalam kontrak karya ada beberapa hal khusus yang diatur yakni mengnai subjek dan objek kontrak karya dan juga hak dan kewajiban para pihak. Yang menjadi subjek hukum dalam kontrak karya pemrintah pusat, diwakili oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral dengan penanam modal asing yang disebut dengan kontraktor. Akan tetapi setelah bergulirnya otonomi daerah para pihak dalam kontrak karya tidak lagi hanya pemerintah pusat dengan kontraktor, tetapi juga telah diberikan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk menjadi salah satu pihak dalam kontrak karya.111

Dalam kontrak karya harus dicantumkan secara tegas apa yang menjadi hak dan kewajiban para pihak. Secara umum yang yang menjadi hak dan kewajiban para pihak yang dicantumkan dalam kontrak karya, hak pemerintah sebagai Pihak Indonesia adalah hak menerima royalty, pajak-pajak dan lain-lain. Sedangkan kewajibannya ialah menjaga keamanan serta menjaga dan melindungi investasi yang ditanamkan oleh kontraktor.

Yang menjadi objek dari kontrak karya adalah pemanfaatan dan pengembangan potensi pertambangan di Indonesia.

112

Yang menjadi hak dari kontraktor ialah hak tunggal untuk mencari dan melakukan eksplorasi mineral di dalam wilayah kontrak karya; mengembangkan dan menambang secara baik setiap endapan mineral yang ditemukan dalam wilayah pertambangan; mengolah dan memurnikan, menyimpan dan mengangkut dengan cara apapun semua mineral yang dihasilkan; memasarkan, menjual atau melepaskan semua produksi di dalam maupun luar negeri. Sedangkan yang

111

Salim, Op Cit, hal 157. 112 Ibid, hal 162.

menjadi kewajibannya adalah menyetor iuran tetap untuk wilayah kontrak karya; menyetor iuran eksploitasi/produksi (royalti) untuk mineral yang diproduksi perusahaan; menyetor pajak penghasilan atas segala jenis keuntungan atau yang diperoleh dari perusahaan; menyetorkan pajak penghasilan perorangan.113

Mengenai hal-hal lainnya yang dianggap penting oleh para pihak bisa diatur secara spesifik sepanjag tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Namun ada satu hal yang sangat penting diperhatikan ketika akan membuat perjanjian kontrak karya, bahwa isi dari kontrak karya tersebut harus lebih mengutamakan kepentingan nasional.114

2) Hal – hal Pokok dalam Perjanjian Kontrak Karya Dalam Bidang Pertambangan Umum

Dalam perjanjian kerja sama joint venture berupa kontrak karya antara pemerintah dengan kontraktor, perlu diketahui bahwa ada beberapa hal pokok yang harus tercantum di dalamnya. Hal ini sejalan dengan berakhirnya Indische Minjwet dan digantikan oleh Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan Umum, sekarang ini satu-satunya bentuk kerja sama di bidang pertambangan dibuat dengan perjanjian kontrak karya, bukan lagi konsesi seperti pada saat berlakunya Indische Minjwet.

Kontrak karya sedikitnya memuat lima hal pokok, sebagai berikut:

113

Ibid

2. setiap perusahaan asing harus bertindak menjadi salah satu kontraktor perusahaan negara; kontraktor yang sebelumnya tunduk pada system konsesi harus melepaskan hak konsesinya;

3. perusahaan yang beroperasi sebelumnya diberikan masa kontrak dua puluh tahun untuk melanjutkan eksploitasi di daerah konsesi yang lama. Mereka juga diberikan ijin untuk menyelidiki dan mengembangkan daerah konsesi yang lama, dengan jangka waktu kontrak tiga puluh tahun;

4. Fasilitas pemasaran dan distribusi diserahkan kepada perusahaan negara yang mengontrak dalam jangka waktu lima tahun dengan harga yang telah disetujui bersama;

5. Fasilitas kilang akan diserahkan kepada Indonesia dalam waktu sepuluh sampai lima belas tahun dengan nilai yang disetujui bersama;

6. Split antara Pemerintah dan kontraktor asing sebesar 60;40. Pemerintah akan menerima minimal 20 % dari pendapatan kotor pertambangan yang dihasilkan setiap tahun oleh kontraktor asing.115

Dokumen terkait