• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III GAMBARAN OBYEK PENELITIAN BAB IV PENYAJIAN DAN PEMBAHASAN

PETUNJUK PRAKTIS TEKNIK PENULISAN

B. Hal-hal yang tidak boleh dilakukan

7. Ketentuan Khusus

Ketentuan khusus meliputi: penulisan judul, bab, subbab, sub dari subbab, penulisan huruf tebal dan huruf miring; tabel dan gambar; catatan kaki; kutipan;

daftar pustaka; dan transliterasi.

1. Penulisan judul bab, sub, subbab, dan sub dari subbab ketentuan ini meliputi:

a. Penulisan judul bab, semua menggunakan huruf besar.

b. Penulisan huruf subbab yang menggunakan huruf besar hanya awal setiap kata, kecuali untuk kata sambung atau kata depan. Contoh A. Latar Belakang Masalah.

c. Penulisan sub dari subbab, menggunakan huruf kecil, kecuali awal kalimat dan penggunaan huruf besar berdasarkan Ejaan Yang Disempurnakan (misalnya nama kota).

2. Penulisan huruf tebal dan miring Ketentuan ini meliputi:

a. Penulisan huruf tebal digunakan untuk menulis bab dan subbab.

b. Penulisan huruf miring digunakan kata nama ilmiah atau ungkapan asing (Inggris, Arab) kecuali yang telah disesuaikan ejaannya. Sedapat mungkin dihindari penggunaan kata asing, kecuali kata yang mempunyai arti khas.

3. Tabel dan gambar

Ketentuan ini meliputi:

a. Pembuatan tabel dilakukan dengan cara sebagai berikut:

i. Nomor dan judul tabel ditulis di atas tabel, sedangkan sumber data ditulis di bawah tabel. Cara penulisan tabel adalah nomor bab dengan angka arab, titik, nomor urut tabel, titik

Contoh:

Tabel pada bab II nomor urut tabel 1, maka cara menulisnya adalah 2.1.

ii. Jika judul tabel lebih dari dua baris maka menggunakan satu spasi

iii. Tabel tidak boleh terpotong, dan jika kertas kwarto tidak mencukupi ( misalnya struktur, kurikulum, dan lain-lain) dapat digunakan kertas yang

memanjang dan bisa dilipat.

b. Pembuatan gambar dilakukan dengan cara sebagai berikut:

i. Nomor dan judul gambar ditulis di bawah gambar. Cara penulisan nomor gambar adalah nomor bab dengan angka arab, titik, nomor urut gambar, titik.

Contoh: gambarpada bab II nomor urut tabel 2,maka cara menulisnya adalah 2.2

ii. Jika judul gambar lebih dari dua baris maka jarak antar baris adalah satu spasi.

4. Catatan kaki/rujukan

a. Untuk menulis catatan kaki berupa kutipan, nama penulis buku (dengan tidak mendahulukan nama akhir, dan tidak menyertakan gelar akademik), koma, judul buku yang dicetak miring atau digaris bawah kurung buka, kota penerbitan, titik dua, nama penerbit, koma, tahun penerbitan, kurung tutup, koma, nomor halaman, dan titik.

Contoh:

1Abdullah Idi, Sosiologi Pendididikan: Individu, Masyarakat, dan Pendidikan (Jakarta: Rajawali Pers, 2010), 47.

b. Jika kutipannya diambil dari buku yang telah pernah diikuti, tetapi diselingi oleh sumber lain, maka penulisannya hanya menyebut nama akhir (last name) pengarang, koma, judul buku (cetak miring), koma, nomor halaman, titik.

Contoh:

1Mamat Supriatna, Bimbingan dan Konseling Berbasis Kompetensi (Jakarta:

Rajawali Pers, 2010), 111.

2Muslimin Ibrahim, Pembelajaran Kooperatif, (Surabaya: University Press, 2000),78.

3Supriatna, Bimbingan dan Konseling, 126.

c. Jika kutipan kedua langsung mengikuti kutipan pertama dan tidak diselingi dengan kutipan sumber lain maka ditulis kata ibid ( ditulis biasa tidak di cetak miring atau huruf tebal) titik, koma, nomor halaman, titik. Dan jika nomor yang di kutip sama dengan kutipan pertama hanya di tulis kata ibid, titik.

Contoh:

1Mamat Supriatna, Bimbingan dan Konseling Berbasis Kompetensi (Jakarta:

Rajawali Pers, 2010), 111 2Ibid., 50.

d. Jika pengarang memiliki dua karya tulis atau lebih dan disebutkan untuk pertama kali secara berurutan dalam satu nomor catatan kaki, maka nama penulis diganti dengan idem dan untuk memisahkan antara keduanya digunakan titik koma (;).

Contoh:

1Abdullah Idi, Sosiologi Pendididikan: Individu, Masyarakat, dan Pendidikan (Jakarta: Rajawali Pers, 2010), 47; idem, The Conditions for Learning at University: A Comparison Between Indonesia and Tasmania, Australia (Palembang: Unsri Press, 2001), 98.

e. Kutipan yang diambil dari artikel dari jurnal ilmiah menyebutkan nama penulis sesuai dengan aslinya, koma, tanda kutip buka, judul artikel, (ditulis biasa, tidak miring atau garis bawah), koma, tanda kutip tutup, nama jurnal, (ditulis miring atau digaris bawah), nomor jurnal (dengan angka huruf, bukan angka romawi), kurung buka, koma, nomor halaman, dan titik.

Contoh:

Ahmad Syafi’i Ma’arif, “Islam Indonesia dan Pusat-Pusat Studi Islam di Barat”, Inovasi, Edisi 1 (Juli, 2004), 120.

f. Jika artikel yang dikutip dimuat dalam sebuah buku, maka ketentuannya adalah menyebut nama penulis sesuai dengan aslinya, koma, tanda kutip buka, judul artikel ( ditulis biasa, tidak miring atau garis bawah), koma, tanda kutip tutup, dalam judul buku (ditulis miring), koma, ed. (editor), nama editor, kurung buka, tempat penerbitan, titik dua, nama penerbit, koma, tahun penerbitan, kurung tutup, koma, nomor halaman, titik.

Contoh:

Mu’adz, “Dari Sunnah ke Hadist atau Sebaliknya?” dalam Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah, ed. Budi Munawar Rahman (Jakarta:

Paramadina, 2004), 223.

g. Jika sumber adalah sumber yang diterjemahkan dari bahasa asing, maka cara penulisannya sama dengan point (a), dengan menambah kata ter. (singkatan dari terjemahan).

Contoh:

Robert T Slavin, Psikologi Pendidikan, ter. Drs. Budi Jatmiko (Jakarta:

Rajawali Pers, 2004), 150.

h. Jika kutipan diambil dari ensiclopedia caranya adalah nama penulis entri, koma, tanda kutip buka, judul entry, koma, tanda kutip tutup, nama ensiclopedia, vol (singkatan dari volume jika ada), ed. (singkatan dari editor di tambah et. al jika lebih satu orang ), kurung buka, tempat penerbit, titik dua, nama penerbit, koma, tahun penerbitan, tutup kurung, koma, nomor halaman, dan titik.

Contoh:

A.J. Wenshick, “Kufr”, the First Ensiclopedia of Islam, vol. 7, ed.M. Th, Houtma, et.al (Bairut: E.J. Brill, 2004), 202.

i. Jika sebuah buku ditulis, diedit atau diterjemahkan oleh dua orang, maka kedua penulis tersebut harus disebutkan. Tetapi jika ditulis, diedit,diterjemahkan oleh lebih dari dua orang penulis, editor penterjemah pertama saja yang disebutkan kemudian diikuti dengan et. al.

Contoh:

1Fachry Ali dan Bactiar Effendi, merambah Jalan Baru Islam (Bandung:

Mizan, 2005), 75.

2A.M. Saefuddin et. al., Desekularisasi Pemikiran. Landasan Islamisasi (Bandung: Mizan, 2004) 15.

j. Kutipan yang diambil dari skripsi, yang tidak diterbitkan cara pengutipannya adalah nama penulis, koma dan kutip buka, judul skripsi, (ditulis biasa tidak

miring atau garis bawah), koma, tanda kutip tutup, kurung buka, skripsi S-1, koma, nama penulisan skripsi, kurung tutup, koma, nomor, halaman, titik.

Contoh:

Billa R. Maulana, “Pengajaran Bahasa Arab untuk Orang Asing dengan Metode Jawa: Studi Pengajaran Bahasa Arab di Pondok Pesantren Jabal Nur Sidoarjo”, (Skripsi S-1, Fakultas Tarbiyah UMSIDA, 2005), 23.

k. Jika sumber identitas ada yang hilang, maka harus diberi keterangan t.t (tanpa tempat penerbitan), (?) jika sumber diragukan.

Contoh:

Ibn Rusyd, Bidayah al-Mujtahid wa Nihaya al-Maktasid (Beirut: Darr al-Fikr, tt), 200.

l. Kutipan dari al-Qur’an dengan cara menuliskan kata al-Qur’an (ditulis biasa tidak miring atau garis bawah), koma, nomor surat, titik dua, nomor Ayat, titik.

Contoh:

al-Qur’an, 4:2 Ibid., 5:9

m. Penomoran catatan kaki dimulai dengan nomor baru pada setiap bab-nya.

n. Jika kutipan diambil dari buku berupa kumpulan artikel (ada editornya) ditulis nama pengarang artikel, koma, tahun, koma judul artikel (tidak miring/tebal), koma, nama editor, titik dua, nama penerbit, koma, tahun, kurung tutup), koma, nomor halaman.

Contoh:

Nabhan, 2003, Mencermati Sistim Pendidikan Islam dalam Sisdiknas, Zuhdi.ed, Pendidikan Islam Menjelang Abad 21,(Jakarta: Rosda Karya, 2004), 202.

o. Kutipan dari dokumen resmi pemerintah yang diterbitkan oleh suatu penerbit tanpa pengarang dan tanpa lembaga ditulis judul, koma, nama dokumen,

(dicetak miring), koma, kurung buka, tempat penerbitan, titik dua, nama penerbit, koma, tahun, kurung tutup, koma, nomor halaman.

Contoh:

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional, (Jakarta: Arta Mas, 2003), 20.

p. Kutipan dari internet berupa karya individu, cara penulisannya adalah, nama penulis, koma, judul karya (ditulis miring), koma, kurung buka, alamat sumber rujukan di internet, koma, dan tanggal mengakses, kurung tutup, koma, halaman (jika ada).

Contoh:

Mohammad, Pentingnya Pendidikan Moral Bagi Remaja, (http//www.edu-ed.or.id , diakses 20 Januari 2012), 12.

5. Kutipan dari bacaan terdiri dari dua jenis yaitu kutipan langsung dan kutipan tidak langsung.

a. Kutipan langsung yaitu kutipan yang dinukil sama persis seperti bunyi yang dinyatakan dalam teks aslinya.

Cara penulisan kutipan langsung ada dua macam:

i. Jika kutipan dari kurang enam baris, maka cara penulisannya digabung dengan teks yang lain dalam satu alenia, dan untuk membedakan itu digunakan tanda kutip (“).

Contoh:

Sejarah masuknya Islam di Indonesia telah menghasilkan perdebatan panjang di antara para ahli sejarah. Tetapi menurut Azzumardi Azra, “Teori yang cukup valid mendukung tentang datangnya Islam di Indonesia ialah teori yang dikemukakan oleh Arnald”.

ii. Jika kutipan langsung terdiri dari enam baris atau lebih maka ditulis tersendiri dengan spasi satu, margin kiri masuk empat ketukan ke kanan, dan tidak menggunakan tanda kutip.

Contoh:

a) Istilah Ulul Albab ternyata memiliki banyak padanan sebagaimana dikemukakan oleh Nur Cholis Madjid Istilah Ulul Albab terdiri dari dua kata, yakni ulu dan al-bab, kata ulu sering dipakai dalam al-Qur’an dengan kombinasi lain. Di antara kata yang paling dikenal adalah kata ulul al-amr yang artinya “orang yang memiliki atau memegang kekuasaan” seperti tercantum dalam ayat 59 surat an-Nisa’. Ini menunjukkan bahwa kata ulul al-bab memiliki padanan kata yang lain.

b) Kutipan tak langsung yaitu kutipan dari buku yang diolah sendiri oleh penulis skripsi dengan memakai istilah dan gaya bahasa yang dikehendaki. Kutipan ini meskipun redaksinya tidak sama, namun isi atau hakikat kutipan itu ada dan seperti teks aslinya, untuk kutipan ini seperti tidak ada tanda yang harus dipatuhi, meskipun demikian sumber-sumber rujukan harus tetap ditulis.

c) Kutipan yang berasal dari bahasa asing, ayat-ayat al-Qur an, dan hadits ditulis teks aslinya, kemudian diartikan ke dalam Bahasa Indonesia dengan menggunakan spasi satu.

BAB VI

Dokumen terkait